“Kesurupan” di Lereng Papandayan

Di Alun-alun, ternyata para jawara Banten telah siap dan baru selesai mengikuti senam manula.  “Iseng dan pemanasan“, ujar Pak Beben dan Pak Kamil. Mohon maaf atas keterlambatan tuan rumah, mohon dimaklumi biasanya kita berangkat jam 08.30an sedangkan menurut Kang Asep, di Cilegon kebiasaan jam 06.00 sudah berangkat. Tadi waktu kang Asep SMS, bahwa sudah tiba di Alun-alun. Cukup membuat perasaan gak enak. Tuan rumah koq terlambat. Akhirnya saya balas:  ” Sambil menunggu, silakan orang Cilegon menikmati hiburan di Alun-alun Garut. Boleh main momoktoran, mamasdaan atau memeksikoan sambil sewa topi sombrero…”

Jam 08.10 Kang Dani Gasheba yang mencarikan truk untuk loading ke Cikajang ditelepon, ternyata masih diperjalanan. Untuk mengurangi rasa bosan karena cukup lama di Alun-alun, rombongan diberangkatkan menuju Maktal yaitu perempatan lampu merah arah Cikajang. Karena Truk dilarang masuk kota.

Cuaca sangat cerah. Alhamdulillah. Di langit yang membiru dengan sapuan awan putih tipis. Tampak, puluhan layang-layang yang bercengkerama dengan angin musim kemarau.

Selama loading dari Garut ke Cikajang tidak mengalami hambatan yang berarti. Total 23 sepeda beserta penumpangnya bisa dinaikkan di atas truk. Tentunya dengan segala ketidaknyamanan, karena ruangan yang lebih banyak dipakai sepeda daripada pemilik sepedanya.  Sekitar 2 km dari Gerbang Curug Orok, truk sengaja diberhentikan. Mengingat, dari titik start offroad, harus langsung nanjak. Bila tidak dilakukan pemanasan dikhawatirkan akan keram.

Petualangan para Portugal alias Persatuan Orang Tua Bengal pun diawali dengan doa yang dipimpin oleh Abah dari Cilegon. Dilanjutkan checking semua komponen sepeda. Foto bersama kemudian langsung gowes menuju lereng Papandayan. Udara sangat sejutk walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10.20 pagi. Wajarlah, karena di dataran tinggi dengan rimbunan pepohonan yang cukup lebat.

“Pendakian” dimulai langsung dengan gowes di makadam sopan lebih kurang 500 meter. Selanjutnya makadam jahanam, dengan tanjakan yang hanya mungkin digowes oleh manusia-manusia tak punya rasa malu :P  karena mayoritas melakukan TTB alias DH (Didorong Habis2an)  lebih kurang 2 km nanjak berjamaah.  Bahkan, sebuah menara sebuah provider pun dari bawah hanya tampak sepertiganya, saking curamnya tanjakan. Pelan tapi pasti. Satu demi satu rombongan tiba di tempat yang agak teduh dan landai. Narsis beberapa adegan ditengah pemandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

TTB dilanjutkan, perkiraan masih 300 meteran sampai ke titik datar. Semuanya, tampak khusu dan syahdu berjalan sambil menundukkan kepala, lengan tak lepas dari lengan istri keduanya masing-masing. Seolah sedang menikmati tanjakan curam full makadam itu dengan cinta. Beuh…poho we, ka anak mertua mah.

Tiba-tiba, semua terkesiap. Tampak Ary anak Pak Budi peserta dari Cilegon, membantingkan sepedanya. Berlari kesana kemari tidak karuan. Tangannya seperti sedang menari, dikibas-kibaskan ke muka, kepala, punggung. Kakinya tak henti melompat-lompat kegelian plus ngeri tampak di wajahnya. Bahkan, terdengar teriakan panik.  Temannya yang berdampingan dengannya tidak bisa memberikan bantuan. Hanya melihat, melongo dan sesekali tampak wajah jerih juga di wajahnya.

“Kenapa tuh orang? Walah, pasti kesurupan…!” ujar Pak Haris, yang berjalan di belakang saya. Kang Engkus Gasheba di belakang tidak memberi komentar hanya tersenyum ditahan. Sayapun, berpikiran yang sama. Iya, pasti kesurupan. Mengingat bukan sekali hal itu terjadi bila sedang gowes. Dialami oleh beberapa orang yang “bisa” melihat yang gaib kemudian yang gaib tersebut melakukan aksi narsis dengan memasuki tubuhnya. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Sembuh dengan sendirinya.

Adegan tersebut, cukup lama terjadi. Kita tidak bisa langsung lari ke tempat kejadian. Mengingat nafas yang masih ngos-ngosan dan tanjakan curam harus dilewati untuk tiba di sana.

Alhamdulillah, aksi kesurupan yang dilakukan Om Ary Cilegon. Tidak berlangsung lama. Tampak dia segera sadar dan mendekati sepedanya. Sekitar satu meter lagi, saat tangan akan meraih setang sepedanya. Kembali, dia melompat-lompat dan bergidik sambil tangannya terus mengibas ke sana kemari seperti ketakutan. Walah, bener ini mah kesurupan. Ujar pak Haris lagi. Namun, ternyata tidak lama. Akhirnya, orang itu kembali mengambil sepedanya dan melanjutkan mendorong ke atas.

Sesaat kemudian, setelah hampir berkumpul dan setelah melakukan aksi foto bersama. Pak Yaya Mio (disebut mio karena tanpa gigi alias ompong) yang sedang melakukan aksi menandari daerah kekusaaan alias buang air kecil. Juga kesurupan. Tiba-tiba dia mengumpat habis-habisan dengan bahasa kebun binatang. “Anjing…goblog…nanaonan sia?’ Tangannya melakukan aksi yang sama denga orang yang kesurupan pertama tadi.

Namun, setelah mengetahui apa yang terjadi. Semua tersenyum bahkan tertawa ngakak. Bukan kesurupan yang terjadi sesungguhnya adalah serang lebah-lebah kecil yang menyerang dan menyengat kedua orang itu! Pantesan, pada heboh tangan menangkis dan mengibas dan kaki sambil melompat-lompat seperti gerakan si Tua Gila dari Andalas dalam Pendekar Naga Geni 212. Ternyata, oh ternyata…serangan lebah yang merasa terganggu karena saat akan mengisap madu di atas bunga teh  (Camelia sinensis) oleh mereka.

Keindahan pemandangan makin menjadi disaat akan mencapai puncak bukit. Hijaunya perkebunan teh, serta warna oranye dari bunga saliara (Lantana camara) serta langit biru yang tertutup awan sirrus yang putih tips menambah dahsyatnya lukisan Sang Maha Pencipta hari itu. Terik matahari pun tidak terasa, terkalahkan oleh sejuk dan dinginnya angin pegunungan. Alam masih benar-benar perawan, tidak terdengar kendaraan satupun. Sunyi senyap kecuali semilir angin serta dengus nafas dari para pencari Tuhan yang bersepeda!

Tiba di sebuah gubuk, sekalian istirahat. Bekal makan siang pun disantap. Sebagian besar jawara Cilegon dan saya lebih suka makan di saung yang cukup tinggi. Sementara yang lain makan di bawah pohon yang rindang. Tapi dimanapun tempatnya, kalau sudah makan di tengah perbukitan seperti ini. Dijamin pasti enak makan!

Si Abah, yang biasanya ceria seperti si Olga tampak agak kurang nafsu makan. Beberapa kali dia mengeluhkembung sambil memukul perutnya kembungnya.Terdengar bunyi, seperti nangka matang!

“Mungkin masuk angin dan kurang tidur Bah!” kata saya. Si Abah hanya mengiakan, dan tak banyak berkomentar. Kalau sudah kalut dan sedih begitu. Tampak jenggot dan kumis si abah jadi makin putih! Kulit wajahnya juga tampak pucat! Untunglah berdekatan dengan si Abah dalam kondisi seperti itu tidak menjadikannya “bau tanah”! Bwuahahaha…! :P (peace Bah ah!)

Selama gowes di trek Cisaruni yang seksi seperti Aura Kasih pun, si Abah tampak kurang enjoy! Beberapa kali, sepedanya harus dibantu evakuasi. Terutama, di single trek yang cukup curam dan kiri kanan jurang sedalam 1 meteran. Dia lebih memilih menuntun kekasih gelapnya. Akibat aksinya ini,  dari belakang saya ledek:”Nanti mah Bah, jangan pake seragam tentara. Ganti pake seragam hansip we Bah!”

Si Abah tampak geram, tapi tak berdaya. “Heu, gandeng siah…mun aing sehat mah dilalab kabeh ku aing siah ah!” katanya. Mendengar kata-kata si Abah, semua yang berada di dekatnya ngakak!

Beda dengan Si Abah, Pak Kamil yang sehat wal afiat, sangat menikmati suguhan trek Cihuni. Beberapa kali, dia mengucap Alhamdulillah dan mengambil gambar untuk diabadikan. Tak segan beliau berhenti, dan mengambil foto para peserta gowes kali itu. Pas lewat di belakangnya, iseng didorong pelan punggungnya. Beliaupun ngakak sambil lompat ke kebuh cabai di bawahnya!

Alhamdulillah, sepertinya mayoritas yang ikut gowes ke Cisaruni hari itu benar-benar sangat menikmatinya. Meter demi meter, kilometer demi kilometer dilahap dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.30 dan kita masih gowes. Walaupun sudah memasuki single trek di perkampungan. Beberapa kali si Abah bertanya masih jauh gak, soalnya belum solat asyar katanya. Beberapa kali pula di jawab sudah dekat bah, paling 10 menitan lagi.

Tapi sepertinya, si Abah takut kehabisan waktu sholat. Saat melihat sebuah mesjid yang cukup besar dan bersih. Bersama Pak Kamil, beliau langsung belok kiri diikuti oleh rombongan lain. Semua menyandarkan sepedanya, beristirat yang sudah sholat. Yang belum langsung berwudhu dan solat asyar. Yang Aneh si Abah, ternyata dia malah mengikuti seorang ibu. Ternyata dia ingin setor dulu mengikuti panggilan alam. Untuk hajat besar.

Selesai buang hajat, ternyata seperti makan buah simalakama katanya. Perut kembung seperti itu, buang angin takut dengan temannya, gak dibuanga menambah kembung perutnya. Kesimpulan, belok kiri tujuan utamanya adalah untuk “menabung” dan menyimpan kenang-kenangan sekedar buang “anak” yang tidak diinginkan!

Jawara Murung, Merenungi Randu Kurung

“Kita acara dua hari Kang, Sabtu dan Minggu. Sabtunya kita ingin yang gowes seharian penuh, Minggunya setengah hari aja jadi puas!”, begitulah SMS dari Kang Asep Cilegon masuk ke HP saya. Semua sudah dikondisikan para jawara gowes dari Cilegon ini akan dipandu ke Cisaruni, Lereng Papandayan. Tapi, alam berkehendak lain. Ternyata hampir semalaman, hujan turun dengan lebat. Bisa dipastikan, sabtu pagi atau siangnya, trek Cisaruni akan jadi ajang neraka siksaan bagi mereka.

Segera, jam 5 pagi diambil keputusan trek dialihkan ke Cibeureum. Walaupun semi ekstrim, tapi Cibeureum adalah trek yang sopan dan bersahabat sekalipun didera hujan lebat. Alasan kedua, adalah memikirkan kondisi tamu yang pasti kelelahan dan kurang tidur karena baru tiba jam 1 malam, berarti tidur baru sekitar jam 2 pagi. Semua sepakat demi keselamatan dan kenyamanan tamu trek dialihkan.

Jam 08.00, tiba di titik kumpul Alun-alun Garut ternyata belum ada satupun yang muncul. Dua puluh menit kemudian Pak Dodi tampak dengan si Putih. Celingukan mencari yang lain. Setelah dipanggil, dia tersenyum lega. Tak lama kemudian muncul rombongan jawara dari Cilegon, total 12 orang. Perkenalan pun dilakukan, tanpa basi-basi atau kaku. Kita langsung berusaha untuk akrab sesuai dengan kodratnya manusia yang tinggal di kota yang terkenal dengan domba dan dodolnya. Mulut domba yang selalu tersenyum lebar, dan dodol yang manis legit. Menjadikan pembawaan orang garut seperti domba yang selalu tersenyum, dan manis seperti dodol.

Sesuai kesepakatan, akhirnya gowes dimulai dari Alun-alun Garut kota. Tentunya didahului dengan ritual berdoa dan berfoto bersama di depan mesjid. Satu demi satu, antri mirip urang baduy. Hanya yang ini bersepeda. Menuju Kecamatan Samarang, tanjakan mulai menjamu para tamu di Melayu. Dengan gagah perkasa, mereka melibas tanjakan demi tanjakan. Salut buat si Abah  dan Pak Kamil yang walaupun usia sudah menginjak 60 tahun lebih tapi masih kuat. Mantap melahap tanjakan.

Tiba di Pasar Samarang, seperti biasa. Mincul alias membeli nasi bungkus untuk santapan siang di hutan. Pak Agung mengalami trouble di rearshock FOX-nya tampak oli berlepotan. Bocor! Tapi masih bisa di lock. Fungsi normal. Jadi masih bisa digowes. Pak Budi, terpaksa harus kembali karena hub-nya ngeloss dan gak bisa digowes. Sementara Pak Wawan mengalami masalah dengan pedal sepedanya, tapi bisa diperbaiki. Bukan, sepeda urang Garut kalau tidak bermasalah mah hehehe…

Di pertigaan menuju ke puncak Kamojang, rombongan Gasheba Bayongbong bergabung. Jadi total 23 orang yang ikut gowes ke Cibeureum kali ini. Para jawara segera melanjutkan, di depan. Si Abah, dengan tenaga dieselnya, mantap mengayuh pedal. Pelan tapi pasti. Tak terdengar nafas memburu. Begitu pasti dan tidak ada keluhan apapun.

Tanjakan Randu Kurung, segera membuat murung para jawara. Kecuali, si Abah, Kang Beben, Pak Kamil dan sang putra Deni. Yang lain mulai keteteran. Radio HT terdengar nafas ngos-ngosan dari Pak Wawan yang meminta bantuan porter untuk turun. Menjemput sepeda yang harus ditinggalkan sang pemiliknya.

Setelah menunggu cukup lama di pertengahan tanjakan Randu Kurung, tampak Pak Asep Tebe menggusur dua sepeda, Pak Wawan dua sepeda. Karena, terlihat sudah keletihan, sepeda milik Pak Asep Stroberi di tangannya saya ambil alih. Didorong sampai warung di puncak tanjakan pertama. Sang pemilik, Asep Stroberi dan Pak Pri tampak sangat kelelahan. Bahkan, Pak Pri memutuskan untuk balik kanan, dengan alasan bahu kanan dan lengannya sudah teramat sakit. Pak Agung, juga terlihat kuyu. Lesu, Lemah, Lunglai, Leuleus, Lieur pokokna semua L ada sepertinya.

Tanjakan Randu Kurung masih sangat panjang, dengan kebersamaan dan saling mensupport. Sisa tenaga yang ada, membuat semua bisa melanjutkan perjalanan. Perlahan, dengan langkah tertatih letih mereka yang kepayahan mendorong sepedanya. Berkali-kali mencoba meminta bantuan porter yang di atas agar turun menjemput. Ternyata, saat akan tiba di pos 1 Warung Pulus, semuanya mengalami kelelahan yang sama. Tanjakan Randu Kurung memang edun!

Pesta minuman Gula Asem pun dimulai, sampai-sampai gelas di warung habis. Saya sendiri lebih memilih minum air putih. Mengingat gelas dan asam di warung sudah habis.  Dua tiga orang tampak beristirahat di emperan mesjid. Rebahan, menikmati sisa siksaan tanjakan Randu Kurung. Cukup lama beristirahat di warung sambil menikmati, lontong, kerupuk, keripik, dan bala-bala.

10.30 perjalanan dilanjut, masih tanjakan curam dan menikung cukup tajam.  Beberapa kali, harus memberikan aba-aba kepada kendaraan yang melaju dari atas. Salah-salah pasti terjadi kecelakaan, karena jalan sempit, menurun dan menikung dengan kondisi pesepeda yang cenderung mengambil jalan kanan untuk mengurangi friksi tanjakan.

Tanjakan terakhir di Cibeureum merupakan gempuran terakhir, walaupun pendek hanya sekitar satu kilometer cukup membuat peserta gowes kali ini  tercecer. Bahkan, si Putih harus diderek ke atas, sementara sang pemilik. Tersenyum pahit, dengan kaki telanjang berkalungkan sepatu dan sarung tangan!

Salut buat Pak Dodi, yang pantang menyerah. Lebih mandi keringat dan menahan rasa sakit yang sangat daripada meninggalkan para tamu! Sekalipun dengan tertatih-tatih karena paha keseleo, tidak menjadikan harus mundur atau balik kanan. Dua jempol buat si Bungsu! Hidup Bungsu! Hidup Nyeker! Hidup Nyengir!

Acara “nyasar” tadinya akan dijadikan ritual wajib untuk trek Cibeureum ini. Tapi urung, mengingat kondisi peserta yang tidak menguntungkan. Akhirnya langsung dilanjut ke trek offroad. Untunglah cuaca sangat mendukung, mendung tapi tidak menangis. Sebentar terjadi hujan, saat akan makan siang. Itupun  urung.

Single trek pun, langsung disantap pasca santap siang itu. Satu demi satu, peserta menjaga jarak. Treknya kering, tapi seperti biasa agak tertutup oleh semak belukar. Tapi hal itu tak mengganggu acara downhill. Sesekali terdengar teriakan exciting dari mereka. Pak Agung, sepertinya kurang doyan makan single trek xc seperti Cibeureum, berkali-kali terkaget-kaget. Berhenti mendadak dan maju perlahan. Tidak berani berjibaku seperti yang lainnya. Harus dimaklumi, mungkin beliau terlalu hati-hati atua memang tidak suka treknya.

Saat tiba di padang usar alias perkebunan akar wangi, tiba-tiba paha seperti ditarik. Sakit dan kejang. Kram! Berusaha tidak panik. Sadar kalau diberdirikan otot makin tertarik dan sakit. Jongkok adalah pemecahan masalahnya. Sebelum makin masif, saat jongkok segera kepalan tangan memukul mukul paha bagian belakang! Alhamdulillah, otot kembali berelaksasi. Sambil menunggu rombongan lain, dan mengambil foto. Paha segera dihangatkan dengan gel geliga.

Menurut informasi di daerah inilah, Kang Asep Cilegon, harus merelakan speedometernya dilahap hutan. Hilang entah dimana. Rombongan terus meluncur, sesekali harus antri, dan estafet mutasi sepeda di sebuah jurang yang cukup terjal dan sempit. Trek terus berlanjut di perkebunan, hutan bambu dan masuk makadam, hutan bambu lagi, tanah, akhirnya makadam lagi dan berakhir di aspal tipis ke arah Cipanas. Kecepatan mencapai 58 km/jam!

Di pertigaan Cipanas-Tarogong, Kang Engkus, Tendi dan Ujang memisahkan diri dan langsung pulang ke Bayongbong. Sementara rombongan meneruskan gowes ke pemandian Cipanas, untuk cuci daki dan merebus telur dan sosis berjamaah!

Trek Cisaruni Lereng Papandayan, Serasa Melayang

Trek yang terindah, terpanjang, tersopan yang akan membuat setiap orang dipastikan akan terpesona. Bila sudah berada ditengah perkebunan di puncak bukit di lereng Papandayan tersebut akan serasa di negeri atas awan, dengan pemandangan yang tidak terlukiskan. Itulah Cisaruni, sebuah perkebunan teh yang terletak di Gunung Papandayan sebelah selatan.

“Siapa bilang Indonesia miskin…” gumaman kalimat itu berulang kali terlontar dari mulut. Tapi sekaligus terbersir kepedihan saat melihat para pemetik teh yang berbaju kumuh, dengan tubuh rata-rata kurus dan tirus menandakan ketidakberdayaan orang-orang pinggiran. Berkubang dengan kesuburan negerinya, tapi tak pernah sedikitpun menikmatinya.

Untuk tiba di perkebunan Cisaruni bisa digowes langsung dari kota Garut yang berjarak lebih kurang 37 km, memakan waktu sekitar 4 jam full tanjakan. Atau diloading dahulu dengan truk, dengan biaya 300 ribu rupiah memakan waktu sekitar 1 jam. Cukup membuat pegal dan ngilu kaki karena berdiri.

Kami memilih untuk gowes langsung dari Garut, memang harus perlahan karena ada satu orang newbie bernama Pak Aom. Tapi tidak masalah yang penting kebersamaan dan senantiasa siap membantu dan memberi semangat kepada pendatang baru. Fisik Pak Aom, benar-benar dikuras habis. Tidak hanya oleh tanjakan yang panjang ke arah Cikajang tetapi juga karena jenis sepedanya yang sangat tidak mendukung. Sepedanya berjenis kelamin dowhill, tercanggih di tahun 1970-an. Suspensi depan full steel dengan rearshock dari pegas, yang tidak bisa dilock. Sepeda itu cukup sepuh, mungkin seusia dengan pengendaranya yaitu Pak Aom. Sehingga pada waktu digowes di tanjakan, beberapa kali harus minum oli saat melewati bengkel sepeda atau motor. Saat digowes terdengar bunyi, ngik ngok…ngik ngok…dari rearshock-nya!

Bergantian Pa Asep Tebe, Pa Dedi Ecek Lodaya, Pa Wawan dan Kang Dani Gasheba mendorong Pak Aom gowes di tanjakan. Tandem bergantian. Pak Aom dan sepedanya seolah menjadi gadis yang diperebutkan oleh keempat pemuda itu saat melahap tanjakan. Lengkap dengan bunyi ngik ngok, ngik ngok-nya! Untunglah saat tiba di Cikajang Pak Aom tidak lantas melahirkan karena beberapa kali berganti pasangan.

Rombongan berjumlah 18 orang yang berangkat dari Garut kota sekitar jam 07.40 ternyata lumayan cepat sudah tiba di Cikajang jam 11.30. Beristirahat sebentar kemudian gowes dilanjut menuju Cibuluh belok kanan dari kota Cikajang. Searah Curug Ciorok. Masih onroad dan menanjak sampai desa Cikandang. Titik start offorad dimulai di kampung ini.

Langsung memasuki perkebunan teh Cisaruni, makadam sopan. Sedikit menanjak, 1 kilo meter kemudian berubah menjadi single trek tanah di tengah perkebunan teh. Udara sangat segar dan dingin. Sehingga terik matahari tidak terlalu terasa. Satu demi satu beriringan menuju ke bukit dimana terletak sebuah Pabrik Teh sisa peninggal penjajahan Jepang.

Di tengah perkebunan inilah Pak Aom mengalami malapetaka. Nafas dan fisiknya benar-benar sudah habis. Sang pacar yang biasanya mendampingi pun jauh meninggalkan di depan dan sudah tiba di lokasi peristirahatan. Sempat beliau menelepon istrinya kalau dia “tepar” dan megap-megap kehabisan nafas. Akibat disiksa oleh istri keduanya sang “ngik ngok”! Saat-saat kritis sudah diujung tanduk. Tapi untunglah, Ansetong, segera balik kanan dan menemani Pa Aom. Meminta bantuan anak-anak yang sedang main layangan untuk membawa Si Ngik Ngok ke atas. Sementara Pa Aom sendiri segera dinaikan ke colt butut yang kebetulan lewat menuju ke atas! Alhamdulillah selamat…beliau langsung sholat dhuhur dan bersujud syukur karena masih diberikan nyawa kedua!

Saat menikmati makan siang, yang lain sangat lahap membawa bekal masing-masing. Pak Aom tampak masih kepayahan, dan mengembalikan harga diri yang dinggut oleh tanjakan dan si Ngikngoknya! Baru makan satu dua suap, beliau langsung berhenti. Nafsu makannya benar-benar hilang…Hal itu cukup membuat kami khawatir dengan kondisi fisiknya mengingat perjalanan baru sepertiganya.

Anehnya, kembali dari warung kecil. Pa Aom, kembali segar dan wajah sumringah: “Ada Desi Ratnasari di warung!” ujarnya sambil mengangkat 2 jempol. Membuat kami penasaran, dan serempak menuju warung. Benar, memang ada Desi Ratnasari, cantik khas gadis kampung, tapi perutnya Bucitreuk alias sedang hamil!

Semua anggota rombongan telah selesai melakukan sholat dhuhur, ada beberapa orang yang tidak sholat atau akan menarik ke jama takhir katanya. Tidak masalah itu urusan masing-masing. Saya sendiri lebih suka sholat dahulu, dalam kondisi apaun walaupun dalam keadaan kotor. Karena belum tentu saya diberi usia sampai Asyar nanti hehehe…

Menapaki trek selanjutnya yang berupa makadam ringan dan single trek tanah dengan kontur menurun. Sangat nikmat, dan terkadang beberapa orang kebablasan. Salah arah, dan terpaksa harus kembali ke atas bukit seperti yang dialami Asep Peuyeum dan Ade Gele Kutil (Gehu Leupeut Kulem Tilu Uihan). Plus, RD Pak Asep Tebe yang kelaparan sehingga memakan rumput dan ranting sehingga kekenyangan dan tubuhnya jadi bengkok. Cukup menghambat yang lain karena harus menunggu mereka.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 dan kita masih berada di atas bukit, perkebunan kentang dan wortel di kaki Gunung Papandayan. Kang Engkus, Dani, Ujang dan Tendi telah tiba di depan. Jauh di puncak bukit. Jam 16.05 barulah anggota rombongan lengkap semua. Tidak menunggu lama, saat personil terkahir tiba, downhill langsung dilanjut.

Entah sial atau lagi apes atau kondisi ban yang sudah tidak layak. Tiga kali saya harus tersungkur cukup telak!

Yang pertama sukses, mencium pohon pisang. Untunglah sepeda segera dilepaskan. Sehingga tidak fatal. Yang kedua, melindas batu di tanah datar, sehingga lagi-lagi harus terjungkal cukup telak! Yang ketiga lebih parah, ban tiba-tiba selip padahal di tempat datar. Tapi karena kecepatan cukup tinggi, akhirnya tubuh terbanting pula di tanah. Tubuh tidak terasa sakit. Tapi dua hari kemudian, baru terasa. Leher terasa tegang tidak bisa nengok kiri kanan, dan paha biru-biru karena dicium sadel sepeda!

Single trek Cisaruni sangat panjang, lebih kurang 40 km! Cukup menguras tenaga tapi sangat enjoy, karena single treknya ditengah hutan bambu dan kadang-kadang mengikuti aliran air irigasi.

Gobar Kgc Garut Mtb – CK (Cacing Keremi) Cyclist Bali

Matahari tersenyum cerah, mengantar embun pagi keperaduan. Selimut dingin udara kemarau memeluk setiap manusia dalam dekapan alam. Minggu pagi, sepuluh pesepeda yang sebagian besar sudah beruban mengangkat sepeda masing-masing satu demi satu dengan penuh semangat. Merapikan, menyusun isteri-isteri kedua mereka ke atas mobil pickup butut demi memenuhi harapan para pecinta sepeda teman mereka dari pulau Dewata yang ingin menjajal keperawan jalur belantara kamojang dan eloknya Telaga Ciharus.

Dua minggu berturut-turut, mengantar para pembawa berkah ke trek Ciharus yang bisa membuat tubuh serasa remek bin ringsek. Tidak menjadikan mereka untuk berkecil hati. Tak ada keluhan, yang ada adalah kepuasan batin untuk berbagi cerita, berbagi tawa. Tak ada tuntutan apapun,  kecuali harapan akan kepuasan  dan membahagiakan tamu mereka. Tak peduli dengan sepedanya yang rata-rata sudah sepuh dengan kondisi seadanya. Tapi mereka menerima apa adanya. Selalu bersyukur, selalu bahagia, selalu ada tawa di mulut mereka.  Prinsip mereka, yang penting dengkul!

Kami ada, karena kami bersepeda. Bukan, kami ada karena sepedanya.

Jam 08.00 meluncur menuju pemandian air Cipanas ke hotel tamu menginap. Ternyata, mereka sudah siap. Sepeda mereka yang rata-rata sepeda all mountain telah tersusun rapi di atas pickup daihatsu grandmax. Mobil satunya lagi avanza yang siap membawa sang empu mendaki puncak Kamojang.

Tegur sapa dan salam hangat, mengawali pertemuan dan pertemanan. Tak ada kecanggungan, tak ada keraguan, tak membedakan ras, agama atau jenis sepeda. Kami berteman apa adanya. Langsung akrab, karena telah memahami, manusia dilihat bukan dari sepedanya, tapi bagaimana melakukan  sepedaannya.

Karena mayoritas tamu, membawa istri keduanya dengan bentuk sepeda downhill, kita menghormati untuk loading sampai titik start offroad.  Padahal biasanya kita selalu digowes. Depend on situation, respect the guest is our motto. Hormati tamu dan tidak boleh egois, bahagiakan tamu dan utamakan tamu.

Tiba di pintu gerbang Puncak Kamojang yang berupa gapura Pertamina. Seluruh peserta turun. Checking sepedanya masing-masing seteah diturunkan dari truk pick up.

Setelah foto keluarga di depang gapura pertamina tersebut, dengan dipimpin Wakil komandan Gasheba, Kang Dani. Beriringingan menuju titik start offroad yang berjarak lebih kurang 2 km. Tim sweeper kali ini adalah Kang Wawan, Kang Asep Tb, dan Komandan Gasheba Kang Engkus merangkap mekanik. Walaupun baru satu kilometer langsung dihadapkan pada tanjakan yang cukup curam dan panjang. Tidak satupun peserta dari 23 orang yang tercecer.

Memasuki trek yang sebenarnya, uphill di tanah yang bercampur pasir. Kering memang, tapi sulit untuk digowes bagi yang tidak biasa. Karena trek yang menanjak, dan kadang-kadang terhalang oleh semak belukar, akar serta batang pohon yang tumbang ke tengah jalan. Satu jam lebih kurang harus berjibaku menaklukan tanjakan single trek tersebut. Sebenarnya uphill ini bisa digowes untuk yang biasa gowes ngicik. Apatah, dengan sepeda yang mumpuni. Dijamin masih tetap bisa ngacir.

Isapan demi isapan mulut perlahan menyedot air dari watter bladder. Makin ke atas terasa makin ringan. Nafas mulai ngos-ngosan. Kaki terasa menjadi berat, ditambah tangan yang harus mendorong sepeda dengan tenaga penuh. Perlahan tapi pasti, satu demi satu tiba di pos satu. Rehat sementara menunggu keringat turun.

Perjalanan dilanjut, menuju pos dua. Masih menanjak tapi cukup ramah untuk digowes. Tapi mata harus awas karena, semak-semak yang rimbung di kiri kanan jalan membentuk “terowongan”. Membuat kita harus hati-hati, dan harus merundukkan badan. Salah-salah, helm akan terkait ranting dan akan Anda akan terpelanting. Tidak terlalu lama, akhirnya semua bisa tiba di pos dua. Berupa dataran kecil dengan sebuah pohon tumbang yang sudah lapuk. Lumayan bisa dipakai untuk tempat duduk.

Menuju pos tiga, jalanan berubah drastis. Menurun tajam, bisa digowes. Tapi harus mahir mengatur tempo rem. Puncaknya, trek menurun dan menikung sangat tajam serta sangat dalam. Saking dalamnya, hanya kepala kita yang muncul di permukaan. Sementara tubuh dan sepeda “tenggelam” di dalam parit. Sekali lagi mata harus awas, karena saat trek cukup ringan dan ramah. Tiba-tiba menikung tajam dan sebuah pohon dengan diameter seukuran perut gajah rubuh. Menghalangi jalan. Sehingga kita harus merundukan badan sangat rendah dengan sepeda dimiringkan. Minggu kemarin, pohon ini masih kokoh berdiri. Walaupun setengah dari batangnya sudah keropos.

Trek yang sangat ekstrim, licing, sempit, dalam serta menikung tajam diakhiri dengan kecuraman yang mengakibat sepeda sama sekali tidak bisa digowes lebih kurang 20 meter. Lumayan, adrenalin terpompa cukup membuat jantung deg deg plas! Akhirnya, tiba di danau Ciharus. Seperti biasanya, sebelum tiba di tepi danau. Ada saja yang terjebak jebakan betmen. Kubangan lumpur yang disangka dangkal, malah membuat setengah dari ban tenggelam!

Alhamdulillah, semua peserta tiba dengan selamat. Langsung mengambil posisi enaknya masing-masing, setelah memarkir sang pacarnya. Ada yang langsung ngopi dan melahap goreng-gorengan di warung darurat dan satu-satunya di danau itu. Ada yang terduduk kelelahan sambil menikmat pemandangan danau. Ada yang potret sana-potret sini. Koh Iong tanpa henti merekam adegan demi adegan kelakuan peserta yang ikut gowes hari itu.

Rehat dilanjutkan dengan makan siang bersama dari bekalnya masing-masing. Pak Iim yang masih terserang penyakit virus E2Rb (Ee Rubak) cukup menikmati bubur sebagai santapan siangnya. Yang lain, makan lahap dengan pete, sambel cibiuk serta pepes peda, rendang, goreng ayam serundeng! Heu, makan mewah…!

Selesai makan dan rehat menunggu sang pengisi perut turung. Beberapa orang melanjutkan aksi foto-foto narsis. Sebagian ada yang menyedot racun nikotin, suka mikir, kenapa mereka gak nyedot asap tungku pemilik warung ya?

Gowes di lanjut, diawali dengan tes keberanian melewati sungai kecil lebar 5 meteran yang diawali dari bukit kecil. Yang ragu-ragu, dengan alasan takut sepatu basah. Akhirnya cukup dituntun. Yang setengah berani, dan kurang nekad, kejebur dan mogok di tengah. Yang anteng dan pengalaman cukup gowes ringan saja…

Trek berubah menjadi hutan tropis dengan kubangan lumpur cukup membuat sepatu dan ban menjadi seperti donat. Salah arah dan salah melangkah dipastikan terperosok ke dalam lumpur yang cukup dalam. Sesekali sepeda harus dipanggul tapi tidak terlalu lama. Selanjutnya gowesable walaupun sedikit menanjak. Tembus hutan pinus dengan single trek yang garing, maknyus…

Downhill dengan melewati single trek yang teduh dan ramah, membuat ingatan kembali ke tahun lampau waktu sering main di Jayagiri lembang :)

Single trek hutan pinus, berganti dengan single trek perkebunan tomat, wortel, kentang dan kol silih berganti. Berakhir di sebuah tanjakan pamungkas sebagi bonus tambahan sebelum trek Ciharus berakhir. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menaklukan tanjakan ini :) saya termasuk orang yang tidak termasuk sayangnya hehehe….

Tips Untuk Menaklukan Tanjakan

Saat pertama kali melihat tanjakan yang panjang dan curam, hati langsung kecut. Keraguan segera merebak. Mental kita bertambah down saat melihat teman gowes kita sudah TTB atau sebaliknya melihat teman kita sepertinya tidak mendapatkan kesulitan dan ngacir menaklukkan tanjakan itu. Bahkan sambil bersiul!

Lalu apa yang harus dilakukan? Tetapkan dan tenangkan hati. Tidak usah kecut, berpikirlah positif. Segera atur nafas, atur strategi. Sesegera mungkin dari awal tanjakan lakukan shifting ke gigi besar.  Jangan malu dan jangan takut untuk melakukan shifting. Lebih baik shifting di awal tanjakan. Daripada shifting di tengah tanjakan. Biasanya shifting yang dilakukan ditengah tanjakan tidak akan smooth. Cenderung kasar. Kasihan gear dan rantai.

Lakukan rolling pedal dengan tempo yang konstan. Lebih baik lambat tapi mantap, daripada cepat tetapi menggunakan power yang besar. Bila tanjakan terlalu curam, angkatlah pantat anda dan tempatkan pada ujung pedal. Bungkukan badan dan tetap pedalling dengan menjaga ritmik dan keseimbangan. Jangan melihat ke atas, perhatiakan saja jalan di depan Anda. Bila Anda tengadah, akan menggoyahkan mental Anda yang sedang bertempur dengan diri sendiri. Jangan sekali-kali melakukan shifting. Lebih baik atur tempo putaran pedalling. Anda pasti berhasil, menaklukan tanjakan securam apapun.

Jangan pernah berpikir, bahwa komponen atau jenis sepeda yang menentukan keberhasil menaklukan tanjakan. Sepeda dan komponen hanyalah alat bantu. Sedangkan faktor utama, tetap pada kemampuan dengkul, fisik, nafas dan mental Anda. Banyak sekali, para penggowes yang berfikiran bahwa sepeda menentukan segalanya. Istilah yang penting sepedaannya bukan sepedanya tetap berlaku. Kecuali faktor mental yang salah :P

Untuk meningkatkan kemampuan ketahanan nafas Anda, lakukan push up setiap pagi. Rutin minimal 20 kali. Bagi umat Islam, lakukanlah setiap selesai sholat 10 kali, berarti satu hari minimal jadi 50 kali push up!

Selamat nanjak dan keep gowes…jangan terlalu sering berfikir untuk selalu up grade sepeda sementara Anda belum membuktikan kemampuan gowesan Anda dengan sepeda yang Ada. Anda akan merasakan sendiri, kapan harus up grade! Ingat up grade dilakukan untuk meningkatkan kinerja gowesan Anda, bukan untuk gengsi! :)

Gobar KGB-KGC Garut MTB

Garut masih berselimut kabut saat Spezy menembus embun di pagi hari. Maklum, baru jam 05.40. Burung-burung pun masih enggan bernyanyi. Apatah matahari masih tersipu malu untuk tersenyum. Tiba di titik kumpul seperti yang direncanakan ternyata baru ada si Bungsu alias Kang Dodi. Yang tengah sibuk telepon sana sini, karena anggota yang lain belum pada hadir. Jam 06.20 rombongan lengkap sudah 19 orang. Sepeda semua telah diloading ke atas truk. Tidak seperti biasanya, hari ini harus loading dulu ke puncak Kamojang. Padahal biasanya digowes dari bawah (Garut) yang berjarak 24 km full tanjakan panjang hideung geuleuh di Randu Kurung!

Loading dilakukan, mengingat waktu start yang teramat pagi yaitu jam 07.00. Jadi kalau digowes seperti biasa, bisa dipastikan jam 8 atau jam 9 baru tiba di puncak Kamojang. Sebagai tuan rumah tentunya, kita tidak ingin mengecewakan tamu. Yaitu para goweser dari Jakarta, Bekasi, Cimahi dan Bandung yang menurut registrasi terakhir mencapai 45 orang. Di tengah perjalanan, tampak para Gasheba-ers mengayuh sepedanya dengan mantap. Mereka pun tersalip oleh rombongan, dan dengan setengah terpaksa (maklum mereka tidak biasa diloading) mereka naik ke atas truk.

Tiba di gerbang Pertamina di perbatasan kabupaten Garut – Bandung, truk dihentikan. Seluruh peserta turun dan segera melakukan checking sepeda dan warming up. Setelah itu semua meluncur ke arah Mess Pertamina yang berjarak lebih kurang 1 km dari Gapura.  Tiba di base camp Pertamina, tampak sepeda telah diparkir. Ternyata dari 45 peserta yang terdaftar, ternyata yang hadir kuran dari setengahnya saja yaitu 23 orang. Tentunya dengan berbagai alasan yang rasional, bukan karena takut buruknya cuaca yang menerpa Garut tiga hari terakhir.

Setelah briefing dan pembagian tugas yang diberikan oleh komandan KGB (kata Pak Budhi Pertamina mah: Kelompok Gondrong Belakangnya), Andre “Gunawan” (Gundul Tapi Menawan). Seluruh peserta Gobar Trip 4 KGB Indonesia ini segera meluncur dengan kawalan penuh dari pihak Pertamina baik berupa ambulan, mobil evakuasi dan kawalan satpam di gerbang. Menyusuri pipa-pipa uap panas bumi. Semua meluncur menuju hutan Kamojang. Tanjakan awal di km 2, dapat dilahap oleh para peserta tanpa ada yang tercecer.

Track offroad pun segera tiba. Berupa single trek, kontur pasir campur tanah merah. Menanjak tapi gowesable. Selanjutnya terserah pada kemampuan dengkul masing-masing. Bagi sebagian orang mungkin masih gowesable dan terus menanjak tanpa memperdulikan jalan yang teramat curam. Tapi bagi sebagian yang lain mungkin harus melakukan TTB (Tungtun Bike) atau DH (Ditungtun Heula) karena terbatasnya kemampuan dengkul :P

Sekitar 1 jam peserta gobar harus menanjak, menembus rimbunnya hutan perawan di Kamojang. Sesekali bisa digowes tapi mata harus awas. Karena, salah-salah kepala pasti terbentur di akar atau cabang pohon yang menjorok ke jalan. Di lain waktu kita harus merundukan tubuh dan menundukan kepala,karena memasuki terowongan yang terbentuk dari kanopi semak-semak!

Tiba di pos satu yang berupa dataran kecil yang tidak terlalu luas. Regrouping, sekaligus menunggu keringat turun. Beberapa orang sudah tidak sanggup melakukan TTB dan membiarkan tim sweeper menjadi porter sepeda mereka. Dimaklum dan sudah menjadi kewajiban sesuai dengan tugasnya. Tanpa pamrih dan penuh tanggung jawab Kang Wawan, Kang Asep, Kang Dani, Kang Tendi, Kang Andre komandan KGB, Kang Jaep, Kang Rully; bolak-balik melakukan tugasnya. Tanpa mengeluh. Dua Jempol buat mereka, mungkin ini yang disebut hidup yang barokah dan bermanfaat buat sesama!

Bahkan, Pak Toni yang baru pertama kali xc menjadi asuhan Kang Wawan yang baik. Penurut dan tidak nakal serta sabar mengikuti instruksi sang pengawal.

Perjalanan dilanjutkan, masih single trek menanjak tapi gowesable (bagi yang mampu). Bagi yang dengkulnya masih manja, ya TTB atau DH ajalah. Bukan sesuatu yang haram melakukan TTB atau DH di trek ini. Maklum, treknya cukup berat. Apalagi di trek pasca pos 2. Single treknya menurun curam dan terkadang menikung sangat tajam. Sangat diharamkan memakai rem depan! Karena selain licin, menurun. Single treknya cukup dalam, bahkan kepala kita seperti tenggelam di parit yang kering. Tapi, bagi sebagian orang masih gowesable koq :p dengan catatan terampil, tetap menjaga stabilitas dan konsentrasi penuh serta mental yang kuat. Kalau ragu-ragu…tungtun sajalah dengan resiko lebih sulit karena jalan sempit. Resiko terjatuh pun semakin besar bila kurang hati-hati. Tidak percaya? Tanya pada Kang Budi, bagaimana nikmatnya terpeleset, berjumpalitan sambil tertimpa sepeda!

Single trek yang berupa turunan curam dan tikungan tajam tersebut. Berakir di single trek yang cukup datar. Sesekali melewati tanah berlumpur, kembali harus nanjak sedikit. Selanjutnya turunan dan belokan-belokan kecil di tengah hutan itu. Kubangan air dan lumpur harus dilalui dengan kemampuan analisa kontur dan teknis yang mumpuni. Salah-salah, disangka air atau lumpurnya dangkal, ternyata pas dilahap cukup dalam. Sampai-sampai ban sepeda tenggelam setengahnya dan sepatupun harus mandi lumpur dengan manisnya :p

Akhirnya, semua rombongan utuh, 45 orang tiba di Telaga Ciharus yang panoramanya sangat indah. Sejuk, sepi dan menjanjikan keheningan tidak terhingga. Langit di atas sanapun sepertinya memberikan warna biru cerah dengan sapuan tipis awan putih. Di tengah danau tampak burung-burung walet yang minum air atau menangkap mangsanya. Beberapa pemancing tampak menunggui kekasihnya dengan setia menunggu tipuannya dilahap ikan.

Sepeda langsung diparkir, sang pemilik pun rebahan di rerumputan. Atau sekedar duduk-duduk di atas tanah sambil mendidihkan air untuk membuat kopi. Yang lain sibuk, bernarsis ria foto sana-sini dengan mimik yang ciamik. Ada yang angkat jempol satu, angkat jempol dua, ada yang mengangkat sepeda, ada yang tersenyum simpul memamerkan gigi ompongnya, ada yang malu-malu, ada juga yang difot ala ABG dengan lidah menjulur, mata dikedipkan atau mulut dimonyongkan dengan jari menunjuk ke pipi! :) dengan background yang sama yaitu Telaga Ciharus.

Pa Opi, sang photographer dari KGB Indonesia merangkap anggota PBK2P (Pasukan Bawa Kulkas Dua Pintu) segera mengeluarkan kamera Canon-nya yang segede Dajal! Semua peserta berbaris rapi, ada yang duduk santai, ada yang sedang posisi disholatkan, ada yang tersenyum genit, ada yang cemberut mirip biji kurma, ada juga yang berusaha untuk memelototkan matanya karena sipit seperti Koh Iong. Karena tidak ingin ketinggalan momen, Pa Opi memasang tripod dan membiarkan kameranya mengambil momen itu secara otomatis.

Tapi kalau difoto oleh Pa Opi jangan berharap banyak, sudah actions begini-begitu dengan segala posisi dan raut muka atau berbagai gaya. Karena dipastikan Anda tidak akan melihat hasilnya. Maklum, Pa Opi kan kerja di sebuah bank pemerintah. Segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan keuntungan bunga berbunga demi keuntungan bersama hehehe…

Setelah dirasa puas dan cukup menikmati Telaga Ciharus. Gowes dilanjut dengan semangat baru. Trek selanjutnya adalah trek idaman. Turunan, single trek, sesekali kubangan lumpur, mengikuti alur sungai kecil,  meluncur ngebut di tengah hutan pinus serta menyapa kebun palawija milik para petani yang tetap sengsara di negeri tercinta :(

Pada musim kemarau trek di Ciharus ini bisa dibilang surganya para penggowes, tapi bila hujan mendadak. Bisa menjadi neraka jahanam. Sangati licin, dan berubah menjadi sangat ekstrim. Apalagi di trek terakhir. Single track terdapat di antara jurang yang sangat dalam dan tebing. Sangat tidak dianjurkan untuk digowes kalau ragu-ragu. Bahkan, untuk menuntun sepedapun sangat sulit. Adrenalin akan terpacu dengan hebat, saat melihat ke sebelah kiri. Jurangnya dalam Bro! hehehe….

Sepanjang trek terakhir ini, 99% bonus turunan single trek yang harus ditempuh dengan keterampilan mengendalikan handle bar yang mumpuni. Tentunya harus diimbangi dengan keterampilan menyeimbangkan sepeda serta teknik yang cukup. Bila tidak bisa, bersiap-siaplah berguru pada Kang Toni yang telah memberikan contoh jatuh yang baik. Berjumpalitan salto tiga ronde tanpa cedera yang berarti. Tapi, kalau traumanya jangan ditanya ya kang? Matak muringkak bulu taeun…(berdiri rambut kemaluan…saking terjalnya kontur yang menjadi medan pertempuran)

Akhirnya, tiba di pos terakhir atau pos 4. Sebuah warung di samping mesjid. Beristirahat, sholat dan makan. Biasanya kita makan di tengah hutan pinus. Berhubung peserta, ransumnya di drop pertamina di desa Pasir wangi ini. Solidaritas mengharuskan Kgc Garut dan Gasheba juga makan di sini. Tidak Kang Agus dan Kang Dani membawa pete, ludes.  Begitupun sambel cibiuk dan sambel tomat buatan mantan pacar. Laris manis…apatah pepes peda. Tinggal daunnya doang tersisa. Diembat cepat oleh Kang Agen Rewog Setiawan.

Selesai makan, dimulailah acara “You Raise Me Up” yaitu membagikan buku dan alat-alat tulis kepada anak-anak kampung di situ. Anak-anak yang berpakaian seadanya dan mungkin sudah tidak layak pakai menurut ukuran orang kota. Berbaris rapi, usia mereka sekitar 3-6 tahun. Menerima satu paket alat tulis dan buku. Sedikit dan kecil memang tapi akan sangat berarti buat mereka.

Namun, tiba-tiba terjadi kegegeran dan ledak “bom” tertawa di depan mesjid. Mas Agus Imam Santoso, dengan sukarela menjadi pelawak dengan tiba-tiba tenggelam di kolam depan mesjid! Dia terpeleset saat mencuci lengan. Tenggelam dalam arti sebenarnya. Basah kuyup, dan bekakakan plus malu serta kaget tak terhingga. Setengah panik, dia mengeluarkan Black Berry dari dalam sakunya. Seorang teman langsung mengambil, dan mengeluarkan baterenya. Alhamdulillah, terima kasih buat Mas Agus yang menjadi relawan untuk bahan tertawaan seluruh peserta gowes trip 4 kali ini! Bravo Mas Agus, Bravo Kelelep!

Tidak lupa juga Bravo Kang Toni! Bravo Tibeubeut, Bravo Tato Dadakan di Sikut, Bravo Buligir!

Bila Hub/Freehub “Ngelos”

By: Deny Suwarja

 

Pada waktu gowes di tepi hutan beberapa waktu lalu. Saat melewati jalan berumput yang cukup tebal. Tiba-tiba, saat crank digowes. Terasa ringan. Hampir terjatuh, karena ternyata ban belakan sama sekali tidak mau berputar. Anehnya, rantai tetap berputar.

Karena sendirian, dan berada di tepi hutan yang cukup lebat. Waktu itu cukup panik, sehingga sempat SMS ke salah seorang teman tentang kondisi tersebut. Waktu itu, teman menyarankan, coba saja diputar balik atau diputar ke depan berulang-ulang. Siapa tahu untuk sementara bisa normal kembali. Ternyata benar. Roda kembali bisa berputar dan sepeda bisa dikendarai seperti biasanya.

Tapi perasaan shock atas kejadian tadi, menjadikan saya tidak berani melakukan shiftin atau apapun. Perjalan dilanjut nanjak ke sebuah bukit. Selamat, bisa sampai puncak.

Anehnya, saat akan pulang dan jalan menurun. Kembali crank ngelos, dan tidak bisa digowes. Bahkan rantai beberapa kali nyangkut karena terlalu kendor dan shifter tidak bisa dilakukan karenanya. Akhirnya, pasrah. Turun dari sepeda dan memindahkan rantai ke gir kecil secara manual. Dilanjutkan mengendarai tanpa berani memutar pedal. Untunglah jalanan menurun.

Sesampainya di rumah, sepeda langsung dimandikan dan dibawa ke bengkel. Saat dicek, ternyata hub/freehubnya terganggu karena penuh dengan air dan berkarat! Kawat yang terdapat di dalamnya putus akibat karat yang terlalu lama.

Waktu itu saya pikir, harus merogoh saku dan “jajan” untuk membeli hub/freehub baru. Tapi ternyata, si mekanik bengkel bisa membersihkan dan mengakali dengan mengganti kawat yang putus dengan kawat pegas bekas ballpoint!

Sampai sekarang, hub/freehub tersebut masih oke performance-nya sekalipun sudah ada komponen yang diganti dengan kawat ballpoint!