Berteman dengan “Teman” Tanjakan Sadahurip

“Don’t walk in front of me, I may not follow.
Don’t walk behind me, I may not lead.
Walk beside me and be my friend.”
(Albert Camus)

Mungkin kalimat-kalimat seperti itu yang senantiasa keluar dari “hati sanubari sebuah tanjakan” bila kita mengayuh pedal di atas “tubuh” sebuah tanjakan.  Mayoritas dari kita, mungkin akan langsung terperangah dan mengeluh serta menari nafas tertahan saat melihat sebuah tanjakan.   Apalagi bila tanjakan yang akan dilalui itu, sangat curam kemiringan dan panjangnya.  Sifat dan bentuk dari sebuah tanjakan, seringkali kita memberikan julukan yang aneh-aneh, dan lucu terhadap “teman” kita itu. Misalnya : Tanjakan Setan, Tanjakan Jahanam, Tanjakan Beureum Beungeut (Merah Muka) , Tanjakan Panjang Geuleuh (menjijikan), Tanjakan Aura Kasih dan lain-lain.

Julukan tersebut diberikan sesuai dengan karakteristik tanjakan, menurut perasaan hati nurani  si pemberi istilah. Yang tentunya para pecinta sepeda dan pecinta tanjakan alias uphiller.  Tingkat kecuraman, mulus tidaknya kontur, panjang pendeknya tanjakan serta bentuknya yang menikung.  Memunculkan aneka julukan seperti itu. Tanjakan Randu Kurung di Gunung Kamojang, sering disebut Tanjakan Panjang Hideung Geuleuh yang berasosiasi dengan anu.  Kontus aspal hotmix, tikungan dan tanjakan yang curam dan panjang mengakibatkan munculnya istilah itu. Di Gunung Waspada, kaki gunung Cikuray sebelah selatan ada tanjakan “Beureum Beungeut”, tanjakan yang mungkin hanya bisa dicumbu oleh segelintir orang. Tanjakan Toblong di kaki Gunung Darajat, disebut Tanjakan Pasir Anjing; mengingatkan bentuknya pada bentuk leher kepala seekor anjing.

Pada, Sabtu 14 Januari 2012 bersama dengan THCC-ers (Tahu Cocol Cyclist)  Pamulang dan KGC-ers (Kompas Gramedia Cyclist), Kgc Garut-ers melakukan “pendakian” bersepeda ria dari Garut kota ke Gunung Sadahurip.  Gunung yang sedang dihebohkan karena kemungkinan adanya sebuah bangunan bentuk piramida di bawahnya.  Bukan tanpa alasan, memang bentuknya sangat mirip piramid, dengan kontur tanah seperti “kosong”, serta tidak ada pepohonan besar yang lebat.  Anehnya, tidak longsor.

Rombongan gowes yang berjumlah total 27 orang, berangkat dari Garut kota sekitar pukul 08.20 WIB.  Onroad menyusuri aspal hotmix, menuju kecamatan Sukawening yang berjarak 14 km.  Perjalanan sedikit terhambat karena ada salah seorang peserta newbie  yang bermasalah dengan gearing sepedanya.  Tidak memakan waktu lama, sekitar 45 menit telah tiba di Pesanggrahan, Kecamatan Sukawening.

Aspal hotmix, berubah langsung dengan aspal tipis setengah rusak.  Pelan tapi pasti mulai menanjak. Menanjak dan Menanjak.  Untuk beberapa peserta tanjakan sepertinya itu tidak masalah, karena mereka biasa “berteman” dengan tanjakan.  Tapi bagi beberapa orang hal itu adalah “musuh” yang harus ditaklukan dengan susah payah.  Bagi yang sudah beberapa kali bercumbu dengan tanjakan itu, akan mengambil jalan bijak.  Gowes pelan tapi pasti, dengan mengatur tempo kayuhan.  Tanjakan ke Gunung Sadahurip tidak terlalu panjang, sampai ke kakinya hanya 8 km. Tepatnya sebuah desa yang disebut Cicapar, Sukahurip.

Kontur tanjakan berupa aspal, makadam, beton PNPM dan tanah. Sekitar 3 km memasuk desa Cicapar, tanjakan mulai curam. Bahkan sangat curam dengan kontur beton.  Diperlukan ketabahan, kesabaran dan ketekunan serta kekuatan untuk menaklukkan diri sendiri. Tidak salah tanjakan ini kemudian disebut “Tanjakan Ajaib”oleh beberapa peserta THCC dan KGC Jakarta.  Bahkan, sempat terlontar sebutan “Tanjakan Baling-baling Bambu” karena selama mencumbu tanjakan itu, pikiran kita akan berkhayal mempunyai baling-baling di kepala kita seperti Dora Emon dan Nobita. Sehingga bisa terbang melewati tanjakan itu.

Tanjakan yang “hanya” 8 km itu bisa ditempuh sekitar 2,5 jam.  Itupun dengan kondisi peserta gowes yang tercecer dan harus regrouping.  Tiga orang peserta dievakuasi menggunakan ojeg dan sebuah mobil.  Satu orang dievakuasi ojeg mulai dari pasar Sukawening dengan ongkos 15 ribu rupiah. Satu orang, nekad. Mencegat sebuah mio amatir alias bukan tukang ojeg sungguhan.  Tapi pengendara motor yang sedang lewat, mungkin karena menyerah. Si peserta nekad berhenti di tengah jalan dan meminta si pengemudi membawanya ke atas. Sepedanya sendiri, ditinggalkan dan dibawa oleh rekan dari sweeper.  Salut buat pa Asep Tebe, Pa Dodi, Pa Wawan, Pa Agus dan Pak Tedi yang dengan murah hati, tanpa mengeluh dan penuh senyuman (pahit :p).  Bergantian mereka membawa sepeda yang ditinggalkan suaminya!

Pada pukul 12.10 rombongan telah tiba di SD Sukahurip.  Langsung membuka ransum masing-masing.  Tidak sampai 30 menit, sesudah makan siang. Tiga orang peserta dari Pamulang, dengan diwakili Pak Edi. Memberi salam takjim. Menjura, menempelkan lengannya di dada ala pendekar Wong Fei Hung sambil berkata: “Mohon diijinkan untuk kembali Suhu! Karena kami tidak kuat lagi, dan menyerah kalah…untuk kembali ke kota Garut sekarang juga!”

Langsung, melaju lagi di atas makadam jahanam.  Hanya bisa digowes beberapa meter, kemudian kita semua menjadi anggota kelompok jamaah TTB-iyah alias Matador (Manggih Tanjakan Dorong). Hal itu pantas dilakukan, karena kontur jalan berbatu lepas. Sehingga ban tidak mungkin melakukan traksi untuk melaju.  Lebih kurang 300 meter, semua peserta harus menguras energi dari makan sian yang mungkin belum dibentuk energi oleh mitokondria di dalam sel tubuhnya :p

Peluh mengucur deras, dengan omelah dan mulut ngedumel, serta pertanyaan seragam dari beberapa peserta. Kapan nyampenya, masih jauh gak? Gak salah jalan nih? Mau tidak mau, mereka terus mendorong sepedanya :p

Tiba di sebuah pertigaan, rombongan berbelok kiri. Menyusuri jalan tanah/kebun palawija.  Bagi beberapa orang single trek itu cukup menyulitkan.  Sempit, terkadang menurun, terkadang menanjak. Dengan bibir jurang atau jembatan bambu yang membelah sungai kecil. Tidak salah, tiga orang peserta harus akrobat mencium tanah.  Bahkan,  Om Niko, Si Giant dari Papua sakin cintanya pada bumi pertiwi. Sampai 5 kali sujud dan mencium tanah dengan posisi jungkir balik!

Suasana, single trek di Sadahurip jauh berbeda dengan dua minggu lalu.  Saat itu terkesan masih tandus, karena tanaman padi ladang (huma) dan jagung belum setinggi sekarang.  Sehingga, salah-salah seperti masuk ke dalam labirin. Berputar-putar di tengah ladang jagung!  Untunglah tidak terlalu lama kemudia semua bisa berkumpul lebih kurang 200 meter dari puncak gunung Sadahurip.

Sepeda diparkir di bawah, pemiliknya sebagian besar naik ke puncaknya. Sebagian lagi menjaga sepeda sambil beristirahat.  Kabut mulai turun, jarak pandang mungkin hanya 2 meteran.  Sedikit khawatir dengan teman-teman yang masih di puncak Sadahurip.  Soalnya, kalau hujan, bisa dipastikan akan sangat sulit untuk turun.  Karena jalan turuna yang bisa 60-70 derajat sehingga harus merayap.  Jangankan bila tanahnya ditimpa hujan, pada masa kering pun sangat sulit didaki/dituruni. Tapi, Alhamdulillah, 14.30 semua sudah kemb ali memegang sepedanya masing-masing dan bersiap untuk kembali.

Single trek dengan turuan cukup tajam kontur tanah, jembatan, jurang dan sawah.  Cukup membuat sebagian besar peserta gowes kerepotan.  Syukurlah, tidak ada kejadian yang parah. Jatuh, terjatuh ke kebun jagun atau sawah. Itu mah biasalah hehehe…

Berangkat Menikmati Turunan Cemberut, Pulang Menikmati Tanjakan Menangis

Mungkin mayoritas teman-teman goweser sangat excited saat meluncur di sebuah turunan atau downhill. Bahkan, saking senangnya banyak yang spontan menjerit dan berteriak seperti sedang menaiki roller coaster. Sesekali tertawa, dan saling ledek dengan sesama teman yang sama sedang meluncur. Adrenalin kadangkala muncrat saat, menemukan lompatan. Tertawa dan berteriak puas.

Namun semua perasaan suka dan senang pada waktu menikmat turunan itu tidak akan terasa pada saat Anda melakukan touring dari Batu Tumpang sampai dengan Pantai Sayang Heulang Pameungpeuk. Padahal turunan tersebut sangat panjang, dan jalanan rata alias hotmix. Kita bisa ngebut sampai kecepatan 50-60 km/jam. Tapi entah kenapa.  Pada saat melewati turunan yang berjarak sekitar 63 km itu, semua peserta Touring Garut- Pameungpeuk (Pantai Sayang Heulang) rata-rata seragam.  Wajah tegang, mulut cemberut. Semua diam. Padahal mereka meluncur dengan sepedanya masing-masing dengan kecepatan sangat tinggi. Apa masalahnya? Apakah mereka sedang berduka? Atau mungkin salah satu dari mereka baru cerai dari istri? Atau mereka sedang menghormati salah seorang rekan yang sakit?

“Siap gowes to Pameungpeuk?” SMS dari pa Asep Tebe,  pada Jum’at 23 Desember 2011, Jam 19.  Alis sempat berkerut.  Karena sehari sebelumnya sudah sepakat, touring ke Pameungpeuk dibatalkan dengan alasan karena selama di sana tidak akan menikmati suasana pantai yang damai. Mengingat, bersamaan dengan libur bersama Natal 2011 selamai 3 hari. Dipastikan pantai akan penuh, berisik dan tidak nyaman.  Namun entah kenapa,  pa Asep Tebe malah mengirim SMS seperti itu.

“Siap…!” jawaban saya, walaupun masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Karena pada saat menerima SMS itu, tubuh sedang tidak fit.  Masih terasa ringsek, pegal linu dan perut yang mual mules.  Seharian hanya bisa tiduran di tempat tidur. Diinformasikan pula, oleh Pa Asep Tebe, siap-siapa yang akan ikut touring itu.

Sabtu, 24 Desember 2011. Jam menunjukkan 07.30, matahari cukup cerah pada saat kami  berangkat mengawali touring yang cukup panjang menuju Pameungpeuk. Semua yang ikut touring mengganti ban sepedanya dengan ban yang kecil. Mungkin yang paling kecil ban si Heisty yang berukuran 700 c. Kecuali, Pak H. Muchsin yang memakai sepeda Adrenalin xc-nya.

Pada saat mencapai desa Salakuray, Bayongbong. Pak Wawan, yang gowes di depan saya. Tiba-tiba gowesannya melambat.  Tampaknya dia sangat kepayahan.  Mukanya pucat.  Lalu saya anjurkan untuk balik kanan saja. Khawatir terjadi sesuatu di tengah perjalanan.  Namun, sepertinya dia tidak mau menyerah. Tetap melanjutkan perjalanan, dengan ringkih.

Pelan tapi pasti, rombongan goweser yang berjumlah 18 orang akhirnya tiba juga di pit stop pertama, Batu Tumpang. Yaitu, sebuah tempat rekreasi yang view-nya sangat indah. Dengan panorama perkebunan teh, udara segar dan sangat sejuk. Satu demi satu, berdatangan. Terakhir adalah pak Wawan yang dikawal oleh Dani Gasheba.

Setelah menikmat sarapan kedua, untuk mengganti tenaga yang cukup terkuras oleh tanjakan Garut – Cikajang sejauh 37 km.  Masing-masing goweser langsung menikmati aneka makanan ringan atau berat di rumah makan di Batu Tumpang. Sepakat untuk makan siang dan sholat dhuhur di mesjid Cihideung. Sebuah desa yang terletak 4 km sebelum Gunung Gelap. Dengan alasan, mesjidnya besar, teduh dan bisa makan siang dengan tenang.

Menikmati Turunan, Cemberut 

Satu demi satu meluncur dengan ucapan dan senyuman penuh misteri dari beberapa orang yang telah berpengalaman menikmati jalur ini.  Saya, baru memahami arti ucapan dan senyuman misteri mereka setelah meluncur sekitar 6 km. Jalannya memang hotmix, dan kita dapat meluncur dengan deras. Tapi di balik semua itu.  Kita juga, mau tidak mau harus merenungkan gowes nanjak pada waktu pulang!!!! Turunan yang tajam, dengan luncuran sepeda yang cepat. Di otak kita juga terbayang sebuah perjalanan yang pasti akan samat melelahkan pada waktu pulang!!!

Ternyata apa yang ada dalam pemikiran saya, tidak berbeda dengan pemikiran teman-teman yang lain.  Akhirnya, selama menikmat turunan itu.  Semua peserta touring bungkam. Mulut bahkan cenderung cemberut.  Mata wasapada agar tidak terjebak oleh perangkap lubang yang sesekali muncul. Atau bahakn harus menghindar dari serempetan motor dan kendaraan roda empat yang seringkali seperti binatang buas yang siap mencaplok kami :(

Turunan, turunan dan turunan yang dilewati oleh kami. Praktis dari 65 km jalur Batu Tumpang-Pameungpeuk berupa turunan tajam, tanjakan hanya lebih kurang 4 km saja pada saat akan melewati Gunung Gelap.  Lebih kurang 3 jam meluncur melewati turunan itu.  Praktis tidak ada canda tawa atau ledekan yang kerap terjadi pada waktu menikmat turunan seperti biasanya. Dalam benak masing-masing, sudah terbayang siksaan yang akan dirasakan pada waktu pulang nanti: 65 km nanjak!!!

Diganggu Setan Gak Bisa Tidur 

Alhamdulillah, tiba di Pameungpeuk sekitar puku 15.00-an sore hari. Berarti jarak Garut Pameungpeuk, digowes lebih kurang  7 jam.  Tidak seperti yang direncanakan yang akan menginap di penginapan. Ternyata harus menginap di sebuah warung, dengan bale-bale beralaskan tikar di tempat terbuka tapi teduh. Tepatnya halaman warung yang ditutup genting dengan dinding bilik setengah badan.

Sambil menunggu keringat turun, beberapa dari kami berjalan-jalan di tepi pantai yang cukup indah. Pantainya memang tidak selandai di Pangandaran. Tetapi Pantai Sayang Heulang dan Santolo cukup membuat kami tertarik untuk mengeksplorasinya.  Lumayan ada yang mendapatkan sendal jepit butut yang saling berbeda warna, ada yang dapat makanan burung, ada yang dapat umang (molusca), dan ada juga yang mendapatkan pemandangan sepasang “monyet” yang sedang memadu cinta.

Malam menjelang, kita membayangkan tidur nyenyak. Bahkan teramat nyenyak, Mengingat kelelahan mengayuh sejauh 105 km. Tentunya dengan kembang tidur mimpi yang indah.   Tapi, setan berkehendak lain.  Persis di samping “penginapan”, tiba-tiba sebuh mobil pick up yang memuat peralatan sound system untuk karaokean tiba.  Gusti! Ternyata, jangankan mimpi bahkan untuk memicinkan mata sekejap saja tidak bisa.  Suara penyanyi elektunan yang bersuara sember, dan suara bas yang membuat kaca bergetar cukup keras.  Bahkan saat, mencoba tidur terasa bale-bale bergetar juga.  Alih-alih bisa tertidur, akhirnya kami hanya bisa menerima nasib. Tidak bisa protes. Hanya merutuki dan mengutuk mereka yang berkaraokean malam itu tanpa mengindahkan perasaan tetangganya!

“Ini tidur2 ayam, mencoba merem tapi otak dan pikiran serta panca indra terus bangun gara2 setan yang karaokean”

Beberapa dari kami akhirnya keluar dari pemondokan, dengan  membawa senter. Berburu umang-umang!

Sampai pagi, tak bisa tidur sama sekali. Benar-benar orang yang karaokean itu, tetangga jahanam. Sampai pukul 4 mereka elektunan sambil karaokean. Denan mata setengah mengantuk dan badan teramat letih. Memaksakan diri untuk sekedar menghibur diri. Berkeliling dengan sepeda, di seputar pondokan. Sambil menunggu kepulangan.

Menikmati Tanjakan Sambil “Menangis” 

Tanpa sarapan pagi, serentak gowes dari pantai Sayang Heulang menuju Pameungpeuk. Beberapa rekan, berkelakar siap untuk diloading. Bila tidak kuat menanjak. Tapi dari kebiasaan yang berlaku, kami pantang untung diloading.  Mending DH alias TTB ajalah. Tiba di kota kecamatan Pameungpeuk langsung mencari rumah makan. Sarapan seadanya. Lalu melanjutkan gowes menuju Cisompet sejauh lebih kurang 30 km, fully nanjak :(

Begitulah, nanjak, nanjak dan terus menanjak tanpa ada turunan sama sekali. Diperlukan keterampilan dan pengamatan yang jeli untuk memindahkan gigi sepeda. Gearing diperlukan, agar tubuh tidak terkuras pada waktu menyantap tanjakan yang sangat panjang. 63 km kami harus menanjak tanpa henti.

Memasuk kota kecamatan Cisompet rombongan mulai tercecer. Tercecer karena ketidak kompakan dan perbedaan ketahanan fisik serta sangat variatifnya anggota rombongan. Karena yang ikut gowes touring ini terdiri dari 4 klub gowes.  Yang bertahan dalam rombongan tinggal saya, Pak Asep TB, Pa Wawan Surabi, Pak Camat Pelung,  Pak Nanang Herang, Pak Dodi Bulumata, dan  Pak Tedi Bear . Sambil beristirahat, menikmati buah pisang dan manggis di warung dimana kita rehat.

Tapi alam berkehendak lain, dan terkadang sangat kejam. Saat harus menanjak, hujan turun dengan derasnya. Rombongan berhasil regrouping di depan polsek Cisompet. Tapi itu pun hanya sekitar 2 km, karena curam dan panjangnya tanjakan. Rombongan pun kembali tercecer. Saya dan Dani ecek, tanpa sadar terus meninggalkan rombongan. Hujan semakin deras, tubuh mulai basah kuyup. Dingin menggigit. Gowes dan perasan keringat, tak mampu menahan gigilan tubuh akibat rasa dingin air hujan. Saya hampir menyerah dan akan menepi di sebuah warung kopi. Tapi Dani terus memberikan semangat dan memberikan nasihat, kalau beristirahat. Dipastikan akan keram, dan akan semakin dingin. Karena tubuh basah kuyup dan kita tidak bergerak. Setengah dipaksakan, pedal digowes. Dani mencoba menghibur dengan cerita diri dan keluarganya. Usianya memang masih muda 28 tahun, tapi harus menjadi tulang punggung keluarga yang terdiri dari 8 jiwa. Ibu-Bapak serta 6 saudaranya.

Dengan segala cara Dani terus memberikan semangat pada saya agar lupa pada tanjakan yang sedang ditempuh. Namun, karena rasa dingin, serta kelelahan ditambah tidak tidur semalaman. Tanpa menghiraukan Dani, saya menepi sendiri. Beristirahat dengan alasan lapar! Tak ada nasi di warung itu hanya makanan ringan dan mie rebus. Tanpa, bertanya harga. Saya langsung pesan mie rebus dua porsi. Tak lama kemudian Dani akhirnya berhenti juga. Mengingat hutan Gunung Gelap yang lebat yang persis harus dilewati di jalan raya itu. Sambil menggigil, mie yang masih panas tersebut. Tanpa dikunyah langsung masuk perut dengan cepat.  Seruputan teh hangat manis, lumayan sedikit menghangatkan perut.  Tubuh kembali bertenaga setelah didoping mie rebus dan segelas teh hangat. Tapi, tidak cukup untuk menghilangkan rasa dingin dan menggigilnya tubuh.  Tangan kanan saya mulai kebas, tidak bisa merasakan apa-apa. Karena saking dinginnya. Tapi masih bisa dipaksa memegang handlebar.

Saat itu tampak, Pak Camat Pelung dan Pak Dedi Ecek ngicik lewat di depan mata.  Mereka juga tak jauh berbeda nasibnya sepertinya sama kedinginan. Mencoba menghilangkan rasa dingin dengan terus menggowes. Mencoba mengejar mereka tapi tidak bisa. Tidak lama kemudian, muncul Pak Haris. Mendahului kita di tanjakan Gunung Gelap.

Saya dan Dani terus ngicik juga gowes, dengan putaran yang konstan walaupun melemah.   Hujan tidak juga berhenti, dan malah bertambah deras.  Situasi di Gunung Gelap mulai temaram, padahal waktu baru menunjukkan pukul 13.00.  Di sebuah mesjid kecil saya ingin melakukan sholat dhuhur dulu. Tapi, Dani lagi-lagi mengingatkan, bahwa keadaan tubuh akan semakin buruk. Bila berhenti gowes. Lebih baik nanti sholat di Mesjid Cihideung, sesudah hutan Gunung Gelap. Dasar Dani, setelah tiba di mesjid Cihideung, saya hanya diijinkan untuk buang air kecil. Karena, takut hari akan semakin gelap, katanya. Pak Haris yang tersusul di mesjid itu, mengiyakan.  Akhirnya bertiga melanjutkan perjalanan.

Tanjakan, tanjakan dan tanjakan. Turunan hanya kami temukan beberapa ratus meter saja di Gunung Gelap. Sisanya adalah tanjakan. Apatah, sekitar 10 km menuju Batu Tumpang. Tanjakan semakin curam dan berkelak-kelok. Hujanmasih terus setia menemani setiap kayuhan pedal. Deras dan sedikit berangin.  Ketika tengadah di kejauhan, tampak sebuah mobil di atas sana sedang turun.  Bisa gak ya, melewati tanjakan ini, batin saya berbisik.

Sesekali, batin ini terusik.   Sudah sampai manakah, teman-teman yang di belakang sana?  Saya tidak tahu cerita mereka, dan baru tahu setelah mendengar cerita dari Asep Tebe, seminggu sesudahnya pada waktu gowes ke Cibeureum.

Kolaps di Rumah Makan 

Menurut cerita Pak Asep, di belakang jauh tercecer Pak Wawan, Pak Dodi Bulumata, Pak Yaya Mio, Pak Haris  Gulawing, dan Pak Camat Pelung.  Di tengah hujan deras, Pak Asep harus berjibaku sendiri. Mengevakuasi dan mendorong semangat dan fisik rekan-rekan yang sudah teramat rapuh. Bahkan, Pak Dodi dan Pak Haris sampai “pingsan” dan ditolong oleh penjaga warung nasi, katanya.  Untunglah di belakang, ada tim sweeper yaitu Pak Agus Taher dan Koh Iong yang setia mengawal menggunakan motor.  Karena tubuh yang sudah teramat kelelahan dan kedinginan akhirnya Pak Wawan Surabi dan Pak Yaya Mio dievakuasi dengan diderek sampai Batu Tumpang.

Saya sendiri tiba di Batu Tumpang pada pukul 14.00 tepat. Saat tiba di sana, tampak Pak Dedi Ecek dan Gashebaers sedang menunggu dengan wajah pucat dan bibir membiru kedinginan.  Menunggu yang lain dari jam 12 siang, ujar mereka.  Angin yang bertiup keras serta hujan yang makin deras menambah parah kondisi kami.  Akhirnya, saya putuskan.  Semua pulang saja, karena teman yang di belakang terlalu jauh. Hal itu dilakukan karena dalam pikiran saya muncul ide.  Saat tiba di rumah, langsung akan balik kanan.  Kembali ke Batu Tumpang untuk menjemput teman-teman yang tertinggal di belakang.

Gasheba-ers, Pa Dedi Ecek dan saya akhirnya meluncur turun dari Batu Tumpang langsung menuju Garut, saat melewati sebuah rumah makan tampak pula Ansetong yang juga sedang menunggu.  Saat melihat kami, Ansetong langsung meluncur bergabung.   Tapi, saya ingatkan, yang lain masih di bawah jauh, paling baru nyampe jam 4. Jadi bagusnya ditunggu aja kasihan. Ternyata tidak jauh berbeda dengan Gashebaers, Ansetong juga sudah menggigil kedinginan, karena kehujanan dan sudah menunggu lebih kurang satu jam katanya.  Akhirnya Anseton ikut pula turun bareng.

Tapi, kenyataan berkehendak lain. Selama turun dari Batu Tumpang Cikajang – Garut yang berjarak 36 km. Hujan tidak juga berhenti bahkan ditambah angin yang menerpa semakin keras. Tubuh semakin menggigil. Terus mencoba bertahan dengan gowesan yang dipercepat dengan sisa tenaga yang ada.

Alhamdulillah, akhirnya tiba di rumah jam 16.00.  Tubuh benar-benar mengalami hipotermia. Tangan kanan kebas, tidak bisa merasakan apapun.  Seluruh pakaian dibuka, masuk kamar mandi dan membersihkan kotoran lumpur di tubuh. Ganti baju kering, tidur di atas karpet. Sambil berteriak ke anak-anak saya agar mengambilkan selimut tebal, air panas, balsam geliga dan teh hangat panas.  Seperti dikomando mereka langsung memijat tangan kanan yang kebas. Sambil telungkup yang lain menginjak-injak kaki dan tubuh agar darah kembali lancar. Sehingga tubuh kembali hangat.

Sekitar 30 menit, akhirnya tertidur.   Saat bangun, waktu menunjukkan pukul 18.30.  Ide untuk menjemput teman yang tertinggal di belakang. Terhapus oleh hipotermia.  Mencoba sms ke Pak Asep Tebe dan Pak Wawan tapi tidak ada jawaban. Tapi dalam hati saya yakin mereka pasti telah tiba dengan selamat.  Pukul 19.15 Pak Agus Taher sms, bahwa semua sudah tiba di rumah masing-masing dengan selamat :p

Gunung Sadahurip, Piramid Tertua yang Terpendam (?)

Gunung Sadahurip, minggu-minggu ini ramai jadi pemberitaan di media massa cetak dan elektronik. Menurut informasi, gunung tersebut sebenarnya adalah piramida yang terpendam. Usianya lebih tua daripada piramida mesir. Sebenarnya sudah sering melewati gunung tersebut. Setiap kali melewati atau mendekat gunung tersebut, tersembul pertanyaan aneh. Kenapa koq bentukanya aneh, dan terpisah dari gunung yang lain. Tidak seperti gunung-gunung lainnya, selalu tersambung dengan gunung di sebelahnya.  Pertanyaan tersebut sedikit terjawab saat ada pemberitaan tentang bentuk sebenarnya dari gunung Sadahurip tersebut.

Tapi disarankan di negara kita, yang pemerintahnya cenderung dengan percaya dengan wangsit alias gosip dari leluhur maka JANGAN PERCAYA dulu deh sebelum terbukti.  Masih ingat kasus kecelenya Presiden Megawati, oleh Menteri Agamannya dengan kasus harta karus Soekarno di Rancamaya Bogor? Atau kasus Blu Energy Presiden SBY yang tidak tahu kasus kelanjutannya sampai sekarang? hehehe….

Minggu 4 Desember 2011, dengan rekan-rekan KGC yang berjumlah 20 orang. Kami gowes dari kota Garut, menuju Sukawening yang berjarak sekitar 20 km. Jarak tersebut dapat ditempuh lebih kurang 30 menit. Tidak ada halangan yang berarti selama perjalanan. Trek yang menanjak curam. Memang terkadang sedikit mempersulit rekan-rekan yang kondisi tubuh atau kondisi sepedanya kurang sehat.

Mendekati desa Cicapar, tanjakan semakin lama semakin curam. Bahkan, kendaraan bermotor seperti sepeda motor atau mobil truk dan pick up praktis hanya bisa menggunakan gigi satu. Rata-rata kendaraan tersebut harus menginjak gas maksimal. Sehingga, terdengar raungan  yang cukup memekakan telinga.

Beberapa kali berpapasan dengan para pengendara motor dan rombongan, yang sepertinya juga akan melihat piramida. Sepasang suami istri, merelakan diri. Untuk naik kendaraan bermotor. Menanyakan pada penulis letak tepatnya gunung Sadahurip, yang katanya piramida. Suami istri tersebut, datang ke lokasi setelah menonton berita di trans dan rcti yang memberitakan pagi harinya. Penulis memberikan arahan, cukup ikuti jalan beton ke Desa Cicapar.

Tanjakan demi tanjakan yang berupa aspal rusak, atau beton berhasil terlewati. Koh Iong, Pak Tarom, Pak Haris dan Pak Yaya tampak sangat tersiksa oleh kondisi tanjakan yang sangat curam tersebut. Membuat kelima orang tersebut praktis harus melakukan aksi DHDM alias Didorong Heula Dengan Termehek-mehek…

Tiba di puncak pas Cidatar, semua peserta gowes menikmati makan siang di sebuah saung di tengah sawah. Sekaligus, beristirahat setelah lebih kurang 2 jam harus berjuang dengan paha yang sangat panas. Karena harus menaklukan tanjakan demi tanjakan. Kalori di tubuh masing-masing benar-benar seperti dibakar habis. Baju jersey, manset, serta kaos kaki…basa oleh keringat.  Bahkan, Pak Dedi lauk sampai terheran-heran, karena saat membuka helm sepeda. Dari talinya menetes keringat! Saking basahnya tali tersebut oleh keringat.  Untunglah cuaca tidak begitu terik. Mendung, berawan tapi tidak hujan. Tidak terbayangkan, seandainya gowes menanjak seperti itu, di tengah matahari yang terik.

Selesai melahap makan siang. Kami kemudian harus cuci mulut, kembali harus melahap tanjakan yang “naudzubillah”! Hanya beberapa orang yang sanggup untuk melewati tanjakan itu dengan cara digowes. Selebihnya harus TTB alias Tungtun Bike :p

Sambil melaksanakan sholat dhuhur di sebuah mesjid yang cukup besar, yang terletak persih di puncak tanjakan itu. Seluruh peserta gowes, kembali harus rehat! Karena, setelah mesjid itu. Jalanan beton yang masih menanjak kembali harus dilahap! Gusti!

Perjalanan dilanjut, masih tetap tentunya…nanjak .  Jalan beton mulai berganti menjadi makadam ringan. Di sebuah pertigaan kecil, langsung belok kiri. Trek langsung berubah menjadi tanah.

Protektor pun dipasang, mengantisipasi keadaan. Trek hanya muat untuk satu orang pejalan kaki, karena berupa pematang sawah. Ketinggian antara pematang dengan sawah di bawah bervariasi antara 1-2 meter. Cukup lumayan kalau terjatuh.

Jalan di tengah pematang sawah yang kecil, dengan ketinggian yang lumayan tersebut. Menuntut kehati-hatian dan keterampilan serta kontrol diri yang tinggi.  Salah-salah, bisa terjun bebas ke sawah. Yang walaupun kering, tapi bila terjatuh akan sangat riskan untuk cedera. Korban pertama tidak lama kemudian jatuh. Persis di depan saya Pak Tarom, harus melompat ke bawah. Melepaskan sepedanya tetap di atas pematang, sedangkan dirinya harus terjun ke sawah kering.  Semua, bersorak dan cepat-cepat mengambil kamera atau hape masing-masing untuk mengabadikan.

Ketinggian yang lumayan, antara pematang dengan sawah. Mengakibatkan Pak Tarom harus mencoba berulang kali untuk kembali naik ke atas. Baru berhasil naik, setelah dibantu oleh salah seorang rekan. Untunglah tidak terjadi cedera apapun tampaknya. Belakangan, setelah tiba di rumah. Konon, Pak Tarom harus dibawa ke tukan urut karena lehernya tertarik!

Gunung Sadahurip, tampak semakin dekat. Seperti ada panggilan yang menjadikan kami tidak merasa lelah. Istirahat sebentar kemudian mendorong sepeda lagi ke atas. Karena kondisi pematang yang benar-benar sempit dan curam.  Sempat merasakan terjungkal. Untung masih kontrol, sehingga tidak menjadi bahan tertawaan yang lain.  Anehnya, Pak Muksin alias Pak Camat, nekad untuk gowes melewati jalan sempit dan sudah terambil oleh si Spezy. Dia gowes terus, pantang mundur. Akibatnya, diapun terguling. Tubuhnya terimpit antara si Spezy dengan sepedanya. Mencoba beberapa kali berdiri gagal. Akhirnya, dibantu oleh Dede Gasheba dan Saya. Baru berhasil. Ternyata paha Pak Muksin tertindih oleh sepeda!

Menurut kabar dari teman-teman lain. Ternyata korban terus berjatuhan Pak Yaya, Pak Haris, Dedi Lauk, dan Pak Tarom harus berkali-kali tersungkur. Dimaklumi, selain newbie. Medan yang sulit dan baru dikenal…

Tergiur oleh kecantikan pemandangan Gunung Sadahurip yang semakin dekat. Kamipun mengambil foto bersama beberapa kali. Narsis berulang-ulang, dari mulai jari tangan mengepal, membentuk hurup V sampai tangan terangkat keduanya!

Saat mendorong sepeda di pematang yang sempit, tidak jarang harus mengalah oleh para petani yang baru kembali dari kebun. Salah satu harus mengalah. Mereka atau kami :p

Tiba di puncak, pemandangan sangat indah. Tebing atau Batu Rahong yang terdapat persis di lembah Sadahurip sesaat mengingatkan kenangan tebing granit di Bolzano, Italia beberapa tahun 2004 lalu. Udara yang sejuk dan view yang teramat indah mengakibatkan tangan tidak mau menyia-nyiakannya. Terus mengambil gambar dengan kamera saku.

Si Spezy saya simpan, kemudian sendirian menuju ke tengah Gunung Sadahurip. Tampak di puncak, tigak orang sedang turun. Kalau tidak ingat hari sudah terlalu sore. Saya pasti naik sendiri ke puncak Gunung itu.

Tak lamaa Pak Asep Tebe tiba dan memberitahukan bahwa trek untuk turun itu di bawah. Jadi kami harus kembali turun. Padahal menurut petani yang bertemu tadi, katanya dari Batu Rahong bisa langsung turun ke Sukawening.  Tapi, karena Pak Asep Tebe lebih yakin. Akhirnya kami turun kembali.

Single trek offroad yang baru pertama kali rasakan di Gunung Sadahurip. Maknyos…! Mantap…single trek tanah, yang masih perawan. Sepertinya hanya dipergunakan oleh para petani untuk pulang atau pergi ke ladang. Sangat teduh, karena berupa hutan bambu dan ladang palawija yang meenghijau. Di punggung bukit, keinginan untuk memacu si Spezy, terkalahkan keinginan untuk mengambil gambar pemandangan yang sangat cantik!

Single treknya sangat renyah, garing dengan sedikit tikungan dan jembatan bambu. Rem dan kontrol handling sangat dituntut di medan ini. Ragu-ragu lebih baik turun dan selamatkan diri sendiri. Bila tidak, menurut ceirta teman-teman beberapa orang ternyata menjadi korban keperawanan single trek Sadahurip ini. Pak Dedi lauk, tulang keringnya mengucurkan darah yang tidak sedikit :p. Matanya sampai merah, entah karena lelah atau tensi yang meningkat tinggi. Atau menurut saya, mungkin beliau sudah lama tidak memakan daging manusia whuakakakak…..

Bonus single trek Sadahurip, ternyata berakhir di tanjakan tercuram yang tadi siang kami lewati. Tepatnya di dekat kantor desa Cicapar! Di situ untuk beberapa saat rehat kembali, sambil regrouping. Minum kopi yang diberikan atas keramahan penduduk setempat. Bercanda dan saling mengingatkan untuk checking rem karena jalanan dipastikan akan turun tajam tanpa tikungan!

Setelah dirasa cukup, perjalanan pulang dilanjut langsung menuju kecamatan Sukawening yang berupa beton dan makadam. Silakan, di trek ini sepeda bisa dipacu secepat mungkin. Tergantung keberanian Anda :p namun jangan sampai lengah, makadam yang tidak seberapa batu-batunya sangat tajam. Ban luar dan ban dalam atau rim/pelek bisa-bisa robek!

Tiba di Sukawening sekitar pukul 15.30 sore. Selanjutnya langsung balik kanan, kembali menuju garut melalui jalan aspal hotmix. Gashebaers, yang terkenal tukang ngicik. Sepertinya sudah ingin cepat sampai di Garut. Mereka, langsung mengambil jalur patas berombongan! Saya mencoba mengikuti kecepatan ngicik mereka. Tapi haya bertahan sampai Sadang. Akhirnya jauh tertinggal :p

Seperti juga pada waktu berangkat, jarak 20 km hanya dilahap dalam waktu 40 menit !

Ban dari Rumput dan Ilalang Basah

Saat kita gowes di hutan atau di tempat yang terpencil sehingga jauh dari perkampungan atau tempat tambal ban. Apa yang akan dilakukan? Seandainya ban dalam kita bocor. Jangankan mengganti dengan ban cadangan, kita lupa untuk membawa kit untuk tambal ban. Teman-teman yang biasa membawa cadangan ban dalam dan kit untuk nambal pun terlupa. Bahkan pompa pun tidak ada. Mungkin kita akan langsung memutuskan akan menuntun sepeda dan menuruni perbukitan di hutan tersebut menuju kampung terdekat. Mungkin hal itu tidak menjadi masalah bila jaraknya hanya 1 atau 2 km dari perkampungan, tapi bila 5 km atau lebih? Sebenarnya ada cara yang mungkin tidak terpikirkan oleh om dan tante, bila kita dihadapkan pada keadaan tersebut. Kejadian seperti itu pernah dialami oleh teman-teman saya. Saat mereka gowes ke gunung, memasuki hutan dan ternyata ban salah seorang teman bocor. Sedangkan yang lain tidak membawa apapun untuk menambal atau mengganti ban dalamnya. Jarak ke kampung terdekat sekitar 5 km lebih. Pak Wawan, yang kebetulan bannya bocor tersebut berpikir keras. Akhirnya, dia menemukan ide. Ban dalam yang bocor tersebut dikeluarkan. Ban Luarnya kembali dia pasang. Kemudian, dia mencabuti rumput dan ilalang yang banyak terdapat di sana. Rumput dan ilalang yang diambilnya adalah rumput yang masih hijau dan cukup panjang. Setelah terkumpul cukup banyak. Rumput tersebut oleh Pak Wawan dimasukkan ke dalam ban luar yang semestinya diisi ban dalam yang diisi udara. Sejumput demi sejumput dia masukkan sedemikian rupa sehingga ban luar jadi sangat keras terisi oleh rumput dan ilalang tersebut. Memang memerlukan ekstra tenaga untuk menjejalkan rumput dan ilalang ke dalam ban yang sudah cukup penuh tapi belum cukup keras untuk dikendarai. Akhirnya setelah dicukup keras, ban yang terisi rumput tersebut kembali dipasang. Bisa dinaiki dan digowes. Memang kurang nyaman, tapi lumayan bisa menuruni single trek dan turunan menuju perkampungan terdekat untuk mencari tukang tambal ban. Ternyata cukup ampuh. Ban Rumput hasil kreasinya telah menyelamatkan Pak Wawan dan bisa tiba di kampung terdekat. Tiba di tukang tambal ban. Saat ban luar dibongkar. Rumput dan Ilalang yang tadi di hutan dimasukkan dalam keadaan utuh, telah menjadi potongan-potongan halus dan empuk. Tapi bagaimana pun, rumput dan ilalang tersebut telah menyelamatkan si empu sepeda tanpa kurang suatu apa! Tentunya, pengalaman tersebut cukup sensasional…karena pertama kali mengendari ban rumput/ilalang yang tidak dijual di toko! :P Selamat mencoba…psst tapi ini kalau dalam keadaan yang sangat darurat ya! Don’t do this at home

Nambal Alternatif dan Darurat, Gunakan Tensoplast!

Pada waktu gowes ke Gunung Talagabodas, minggu kemarin (16 oktober 2011). Dikarenakan trek makadam jahanam segede-gede semangka dan buah melon serta tajam-tajam. Seorang rekan goweser menjadi korbannya. Ban luar maxis mark-cross nya robek, tembus sampai ke ban dalamnya. Padahal waktu itu langit sudah sangat gelap, jam 17.40 WIB.

Sialnya, saat ban cadangan dipakai dan dipompa. Entah karena panik atau karena gelap sehingga tidak kelihatan. Ban cadangan pun, saat dipompa kembali gembos!!! Selidik punya selidik, ternyata kawat halus yang terdapat di dalam ban luar maxis terputus dan menancap. Sehingga membocorkan ban cadangan tersebut. Setelah kawat halus itu dicabut, ban cadangan punya rekan lain pun di pasang. Namun, baru 500 meter kembali gembos!!! Saat dicek ban luarnya, kalau-kalau masih ada kawat halus yang menancap dan tertinggal. Nihil! Saya langsung mengambil kesimpulan, pasti diakibatkan oleh lubang pentil yang masih tajam akibat dibor waktu gembos ban cadangan pertama (rekan saya ban dalamnya menggunakan pentil fresta, sementara ban cadangan pentil besar/biasa). Setelah diraba, ternyata benar. Permukaan dalam bekas bor masih sangat kasar, dan membocorkan “bunglon” pentilnya.

Dengan alat seadanya, lubang bekas mata bor yang masih kasar tersebut dihaluskan dengan alat seadanya. Ban cadangan keempat pun dipasang. Baru menggembung sedikit ternyata kembali bocor!!! Sedikit panik, saya pun mulai tanya-tanya kepada penduduk setempat yang lewat malam itu. Kira-kira berapa ongkos ojeg dari kampung itu ke kota kecamatan Sukawening, Garut. Namun, tanpa putus asa rekan yang lain terus berusaha dan berpikir! Karena tidak ada ban cadangan lain, terpaksa ban cadangan yang bocor tertusuk kawat ban luar tadi dipergunakan. Lubang bocorannya (snakebite) ditambal dengan tensoplas yang dibeli dari warung kecil di kampung tersebut. Dicoba dipompa, dan…BERHASIL! Ban bertambah tekanannya dan tanpa mengalami kebocoran lagi. Ban langsung dipasang. Dan kembali di genjot.

Mau tidak mau jadi Nite Ride, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20 malam. Mungkin karena masih was-was, dan shock. Rekan yang bannya bocor tersebut belum berani menggowes sepedanya secara maksimal. Kendalanya, masih sama. Jalanan masih makadam! Tapi, Alhamdulillah berkat tensoplas tersebut. Seluruh anggota rombongan selamat sampai di kota Garut pada pukul 21.30 WIB.

KESIMPULAN: SELALU SIAPKAN TENSOPLAS ATAU SALONPAS BILA GOWES KE HUTAN ATAU GUNUNG! SELAIN TOOLKITS, BAN CADANGAN, POMPA DAN ALAT TAMBAL ITU SENDIRI!

Dengan catatan: tensoplas atau salonpas itu bukan hanya untuk luka pengendara sepedanya, tapi juga jaga-jaga kalau-kalau terjadi hal yang tidak diduga seperti yang dialami rekan di atas :P Semoga bermanfaat!

Back to Cirorek Track

Setelah lama tidak melakuan offroad di Perkebunan Pinus Cirorek, Cilawu. Akhirnya, Minggu, 31 Oktober 2011 back to Cirorek.  Perjanjian dengan teman-teman akan bertemu jam 8 di warung nasi seperti biasa. Tetapi, ternyata mengalami keterlambatan akibat ada beberapa rekan dari Group SPBU yang belum selesai bekerja. Jadi harus menunda keberangkatan.

Berangkat dari rumah, langsung potong kompas, tidak turun dulu ke kota Garut kemudian melambung ke Bukit Ngamplang. Tapi, langsung  menuju Pasir Cimaung yang berjarak lebih kurang 7 km. Tanjakan Cimaung cukup dikenal oleh para goweser di Garut. Karena cukup curam, ada  tanjakan di sana yang biasa dipake untuk latihan nanjak yang berakhir di lapangan golf  Ngamplang. Selama Nanjak krincingan kuda di Neng Spezy cukup menemani selama ngos-ngosan.  Sesekali, disalip motor yang bolor karena kita harus selalu mengalah menepi. Sebuah delman terdengar pula di belakang, seolah-olah ingin mengejar. Tanjakan demi tanjakan dapat dilalui dengan ngicik. Alon-alon asal kelakon dan tidak TTB itu yang penting :)

Tiba di pertigaan Genteng-Cilawu-Garut, langsung belok kanan. Menuju rumah makan yang biasa dijadikan tempat rehat pertama, sekalian beli nasi bungkus untuk makan siang. Ternyata, kawan-kawan yang ditunggu. Lama tidak muncul juga. Untuk membuang rasa kesal, gowes perlahan menuju Cirorek. Mata dan telinga harus tetap awas. Karena jalur ini adalah jalur alternatif Bandung-Tasik. Kendaraan besar, bis, truk, dan elf serta angkot cukup ramai. Beberapa kali harus menahan diri, karena kendaraan yang menyalip seenak udel tanpa memperhitungkan sepeda. Terpaksa harus menepi. Ingin rasanya meludahi, muka pengemudi kendaraan itu :(

Pertigaan Cirorek, kembali berhenti menanti para gembala sepeda yang juga belum tiba. Sekitar 15 menit tidak juga muncul. Gowes dilanjut perlahan, dan berhenti beberapa kali supaya bisa nanjak dan memasuki hutan Cirorek bersama-sama. Tetapi ternyata tidak ada juga. Terpikir, udah gowes sendiri sampai ke tengah hutan atau pondok penyadap getah pinus. Ada kejutan! Ternyata jalan, yang dulu hancur dengan batu-batu sebesar kepala bayi dan teramat sempit oleh tumbuhan liar di pinggir jalan. Sekarang, jalannya cukup rata, kiri kanan jalan  sangat bersih. Tampak masih baru. Sebuah stoomwals tampak diparkir di pinggir jalan di tengah hutan.

Gowes sendirian di tengah hutan, ternyata lebih khusu. Menikmati tanjakan demi tanjakan, dengan iringan gemerincing bel delman di handlebar serta nyanyian burung-burung hutan ternyata terasa lebih bermakna. Dikarenakan jalan tidak terlalu parah seperti dulu, nafas pun tidak terlalu memburu. Sesekali berhenti untuk menikmat udara segar hutan pinus. Deru halus angin serta bergeseknya daun-daun pinus menambah kenikmat tersendiri. Para penyadap getah pinus dan para peladang membalas salam dan senyuman. Seorang nenek, dengan simpatik menyapa. Menanyakan kenapa gowes sendiri, padahal di atas banyak goweser yang sudah tiba.

Tanjakan yang dulu terasa cukup berat, ternyata pasca jalan diratakan dan dibersihkan menjadi tidak terasa. Bahkan, sempat terkejut. Karena, tidak terasa sudah tiba di tempat yang biasanya dijadikan tempat istirahat kedua! Neng Spezy langsung disandarkan di dinding bambu pondok penyadap. Ransel Deuter, sarung tangan, helm dan protektor serta kaca mata di buka. Berputar-putar, berkeliling sendirian di tengah hutan. Beberapa kali berpapasan dengan para penyabit rumput, pengambil kayu bakar dan penyadap getah pinus.

Beberapa saat ngobrol dengan penyadap getah pinus. Penyadap itu bercerita kalau dia hanya pekerja lepas harian, getah pinus yang disadapnya, dijemput setiap satu minggu sekali dengan upah 2 ribu rupiah per kilo gram saja! Padahal hutan pinus yang harus disadapnya, hektaran! Dia juga bercerita sudah jarang anak muda yang mau menyadap getah pinus. Jadi dia harus bekerja sendirian. Tapi lumayan, upahnya jadi cukup besar, katanya.

Tak lama kemudian, rombongan para penggembala sepeda tiba. Tampak Asep Peuyeum diikuti Wendi Ireng. Kemudian Pak Ubas, Pak Wawan, Pak Yaya, Ansetong dan Pak Asep serta Pak Haris. Serta dua OB (orang baru) yang ikut gabung di jalan yaitu Asep dan Yayan yang adik kakak. Banyak yang absen, kata Pak Wawan.

Setelah beristirahat sejenak. Mulailah menyantap single trek Cirorek. Langsung meluncur, lancar. Beberapa kali jumping karena trek yang cukup tinggi. Tiga jemari kiri yang memegang grip dan dua grip yang memegang handle brake, terasa cukup kesemutan. Mengingat medan yang curam dan licin. Kontrol dan konsentrasi tinggi sangat diperlukan. Salah-salah, malah terpeleset dan masuk semak-semak. Semuanya sangat menikmat single trek, di hutan pinus dengan suasana yang teramat teduh dan sejuk. Bahkan, keringatpun tidak terasa karena dinginnya udara waktu itu.  Tiba di sebuah dataran. Semua setuju, makan siang. Makan berjamaah dengan lauk pauk seadanya. Saling berbagi dan saling ledek. Kadang sesekali menjahili. Lagi-lagi Pak Haris harus ngomel-ngomel, karena mie yang dimakannya alot. Setelah dicek, ternyata karet gelang! Semua tertawa dan kembali membahas peristiwa saat di rumahnya Andi, selamatan 4 bulan bayinya. Pak Haris waktu itu, harus melotot dengan mata berair dan mulut ternganga, karena dia menguah sambal terasi yang disangkanya bumbu sate!

Selesai makan, kembali ngebut menyantap single trek yang menurun dan menikung sesekali cukup tajam. Namun, harus dihentikan oleh dua buah pohon pinus yang tumbang dan menghalangi jalan :(. Tapi,  justru hal itu menjadi satu keuntungan, karena bisa menunggu teman sambil duduk-duduk di atas batang pohon itu. Cukup lama menunggu yang lain  tiba. Setelah kembali lengkap. Perjalanan dilanjut. Kontrol rem dan konsentrasi harus semakin tinggi. Jalanan teramat curam dan licin.

Bahkan, di sebuah turunan akhirnya harus menggelosor …sambil ngakak. Karena licinnya jalan yang dilewati! Pak Asep yang mengikuti dari belakang,  juga harus terpeleset dan menggelosor. Rem sama sekali tidak berfungsi karena licinnya medan. Sangat berbahaya kalau sepeda dinaiki di sini, selain licin, curam di sebelah kanannya jurang cukup dalam menanti. Akhirnya, TTB. Bisa dinaiki sedikit, tak lama kemudian harus dikejutkan dengan jalan yang tiba-tiba turun tajam dengan ujung jurang dalam. Untung rem berfungsi baik. Tapi efeknya, Pak Ubas yang ada di belakang ikut2an mengerem dan harus terlentang tertimpa sepedanya! :P

Habis sudah turunan dan single trek yang cukup memacu adrenalin. Saatnya untuk “berjualan es” secara berjamaah.  Tanjakan curam dan permukaan tanah merah. Tidak gowesable. Teramat curam tanjakan itu, terik matahari memperparah siksaan di bukit itu! Tanjakan sekitar 500 meter ditempuh dalam waktu 40 menitan, karena sangat susah mendorong sepeda sambil melahap tanjakan seperti itu. Jam 13.10 akhirnya tiba di perkampungan. Sebuah warung telah menanti dipesankan kopi bagi mereka yang ngopi. Yang lain, bergeletakan di lantai warung dari keramik yang bersih. Sebagian, sholat Dzuhur di mushola kecil di belakang warung tersebut. Sesaat beristirahat, menurunkan keringat dan normalisasi nafas setelah melahap tanjakan di bukit tadi.

Perjalanan di lanjut, jalanan makadam di Kecamatan Margawati itu masih gowesable. Namun tetap dengan tanjakan yang tidak masuk akal. Terpikir, orang yang membuat jalan dengan tanjakan seperti itu pasti orangnya iseng! Hanya Asep Tebe yang mampu gowes sampai ke atas, yang lain terpaksa kembali berjualan es. TTB alias DH (didorong heula).

Sehabis tanjakan terakhir, jalanan berubah menjadi aspal mulus dan dapat dipacu. Tidak lebih dari 20 menit sudah tiba di Garut kota!

Pohon Berbuah Ajaib di Talaga Bodas

Seperti telah direncanakan, jam 08.05 WIB semua peserta gowes kali ini yang terdiri dari 19 orang peserta telah berkumpul di Sumber Sari 19 Garut. Beriringan menuju Kecamatan Wanaraja Garut yang berjarak lebih kurang 20 km. Yang ditempuh cukup cepat 30 menit saja. Beristirahat sejenak, sambil menunggu teman yang belum membeli nasi bungkus.

Perjalanan di lanjut, menyusuri jalan aspal hotmix. Gowes dengan tanjakan panjang sejauh 7 km. Tanpa turunan sama sekali. Meskipun masih pagi sekitar jam 9, tapi cuaca teramat sangat panas. Matahari dari atas seperti membakar kami dengan ganas. Ditambah pantulan aspal yang juga tertimpa matahari membuat kami seperti ditampar dari atas bawah sekaligus. Setelah aspal hotmix mulus, sejahu 7 km. Jalan berubah drastis menjadi makadam jahanam ringan. Masih gowesable, tapi itu hanya sekitar 500 meter. Karena jalan selanjutnya tidak mungkin dilalui, saking rusaknya. Akhirnya, potong kompas. Mengambil jalan beton hasil PNPM melalui beberapa rumah penduduk. Kondisinya, sangat-sangat menanjak. Tidak mungkin digowes. Ditambah cuaca yang teramat panas. Membuat semua rombongan melakukan TTB berjamaah. Sesekali berhenti, sambil regrouping di sebuah pohon kapas yang besar di tengah persawahan. Kejam! Satu kata untuk cuaca hari itu. Panas, bibir sampai pecah. Terasa perih, namun berupaya untuk tetap minum. Agar tidak terjadi dehidrasi. Baru mencapai setengah perjalanan, botol air telah diisi 4 kali yang artinya lebih kurang 2 liter. Plus, air di waterbag yang 1,5 liter yang entah telah berkurang berapa liter. Tanjakan berakhir beton berakhir di sebuah warung. Waktu menunjukkan pukul 11.35 WIB. Rombongan semuanya beristirahat. Sambil minum kopi, makan camilan warung kampung yang full pewarna pakaian, pengawet mayat, dan gula biang. Tak satupun dari kami yang menyentuh makanan ringan tersebut. Sebotol “aqua” 500 ml dengan merek yang terasa asing di telinga, empat ribu rupiah. Wajarlah, mengingat tempat yang terpencil.  Tak apalah, yang penting bisa minum dan airnya cukup bening :p

Diperkirakan telah masuk waktu dhuhur, maka kompak. Satu keputusan. Sholat dhuhur di mesjid di depan warung yang dijadikan tempat istirahat tersebut. Air yang ditampung di bak sederhana masjid tersebut berasal dari gunung, yang dialirkan melalui selang. Karena jarang dibersihkan baknya. Air tampak jadi kotor. Tapi apa daya. Tetap harus berwudhu dan sholat sekaligus melanjutkan istirahat menghilangkan sedikit rasa penat pasca terbakar oleh matahari tadi. Di lokasi ini dua orang peserta Ecet Pull dan Asep Peuyeum, harus kembali turun dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Karena harus bertugas nyangkul di SPBU. Rombongan tersisa tinggal 17 orang.

Perjalanan di lanjut, tetap dengan posisi TTB berjamaah. Trek yang dilalui sangat tidak gowesable. Impossible to ride. Makadam, dengan batu granit sebesar kepala bayi hampir merata menutupi seluruh permukaaan jalan. Beberapa orang mencoba untuk gowes, tapi harus terpeleset. Akhirnya TTB juga. Lebih kurang 1,5 km dari mesjid tadi, tiba di bekas mess proyek Karaha Talaga Bodas. Karena tempatnya sangat terpencil dengan fasilitas lumayan lengkap. MCK, Kamar yang dibangun dari peti kontener, serta mesjid yang cukup besar. Waktu menunjukkan puku 13.10 WIB, saatnya makan siang. Tak ada tempat teduh sama sekali. Akhirnya posisi makan berpencar. Ada yang di dalam pos penjagaan yang sudah tidak terawat. Saya bersama 5 orang teman lebih suka memilih makan di bawah bayangan sebuh pohon pinus yang cukup teduh. Makanpun dihabiskan dengan sangat lahap dan cepat. Saking laparnya.

Kembali, melanjutkan TTB bin DH karena makadam, dengan batu-batu segede-gede semangka. Terasa makin berat, karena disamping menanjak terus, juga medan makadam yang sangat jahanam :( Kurang-kurangnya mental kuat, dipastikan akan balik kanan seperti yang dialami Pak Budi. Perut yang baru diisi tadi, walaupun TTB sejauh 3 km terasa kembali meraung-raung minta diisi. Pak Dodi, tampak tidak jauh berbeda. Langkah kakinya setengah diseret. Posisi mendorong sepeda sudah seperti mendorong mobil! Setengah bungkuk. Sementara panas matahari, membakar semua orang tanpa belas kasihan. Jarak 3 km tersebut ditempuh lebih kurang 45 menit.

Untuk menghilangkan rasa penat yang terasa sangat. Sesekali, iseng membuat kaget anak-anak pramuka yang baru pulang dari Telaga Talagabodas. Mereka berteriak kaget dan ketakutan, saat saya kagetkan dengan cara berteriak dan bersikap akan menerkam mereka. Namun, akhirnya mereka tertawa sendiri, mengingat kekagetan mereka yang tidak disangka-sangkat. Kami, yang kelelahan. Sedikit terhibur melihat reaksi anak-anak yang ketakutan tersebut.

Tiba di pertigaan Karaha, Talagabodas dan Garut. Tubuh sudah tidak tertahankan lelahnya. Akhirnya semua berbaring di atas semak-semak, yang cukup empuk. Merasakan panasnya matahari. Wajah ditutup memakai penutup kepala, sekedar mengurangi panas. Tapi tak cukup membantu.

“Paling sekitar jam 4 sore Pak, nyampe di telaga”, begitulah setiap orang yang ditanya, berapa jauh lagi ke lokasi. Untunglah, sedikit terhibur dengan jalan yang mulai mulus berpasir. Bisa digowes namun tanjakan tidak terlalu curam. Lebih kurang setengah jam, akhirnya tiba di pertigaan antara telagabodas dan pemandian sumber air panas. Semua sepakat, untuk menghilangkan pegal-pegal dan penat yang teramat sangat. Menuju ke pemandian sumber air panas. Kembali, jalanan berupa makadam jahanam! Karena sudah terlalu lelah. Jalan makadam yang batunya sebesar semangka itu, dihajar. Terpaksa berdiri, ajrut2an. Tangan bergetar keras. Kesemutan. Tibalah di sebuah dataran, tiga buah bangunan sederhana, setengah gubuk. Dua buah berupa penginapan. Satu buah berupa warung kecil. Kepala sakit sebelah alias migrain. Sudah hampir 2 tahun gak pernah migrain. Karena tersengat panas matahari sambil TTB tadi, akhirnya terserang migrain juga. Langsung pesan kopi susu…untuk mempercepat peredaran darah untuk membawa oksigen ke kepala yang sakit sebelah. Alhamdulillah, migrainnya hilang.

Karena sepeda tidak diperbolehkan di bawa ke lokasi pemandian, akhirnya dititipkan ke tukang warung. Semua beriringan menuju ke pemandian air panas. Waktu menunjukan pukul 15.45 WIB. Lebih kurang 10 menit berjalan kaki, melalui jalanan tanah yang teduh dan hutan yang masih sangat lebat dengan vegetasi khas hutan tropis. Pohon pakis mendominasi hutan itu, pertanda ketinggian sekitar 1300 – 1500 meter dpl.

Tiba di pemandian, suasana sangat sepi. Hening. Berbau magis. Sebuah gubuk bambu yang tampak tua dan kurang terawat berdiri di samping pancuran yang berjumlah 5 buah. Yang aneh, di pepohonan banyak sekali celana dalam aneka warna yang disangkutkan oleh pemiliknya. Konon untuk membuang sial, membuang penyakit, dan mendekatkan jodohnya.  Kolam yang menjadi sumber air panas kelima pancuran itu tampak bening, di dalam kolam tersebut tampak jelas. Beberapa koin yang mungkin dilemparkan oleh pengunjung. Atau dilemparkan seseorang untuk memancing pengunjung, ikut2an membuang koin ke kolam tersebut demi kepentingan pribadi. Di sekitar kolam dan pemandian cukup bersih, dan terawat rapih. Sayang, sampah celana dalam  sangat mengganggu suasana hening dan magis tersebut.

Kami semua, membuka baju dan mandi bergantian di pancuran tersebut. Ketika mencoba berkumur dengan air panas tersebut. Rasanya teramat sangat asam!!!! Berbau belerang. Menandakan air tersebut bersifat asam. Saya tidak berani membasuh muka, sambil menggosokan tangan ke muka atau ke permukaan kulit. Dipastikan akan melepuh dan lecet2. Beberapa rekan, tampak asyik membasuh miliknya masing-masing…mungkin dengan harapan akan menjadi perkasa (kembali wkwkwkwkwk…..)

Hampir satu jam kita bermandi-mandi di situ. Mengambil foto keluarga dahulu, baru kemudian pulang. Tiba kembali di warung. Langsung membayar minuman dan makanan yang sempat tadi dimakan sekalian memberi tips kepada penjaga warung yang merawat pemandian air panas tersebut.

Jam 17.05 hari masih terasa terang. Diperkirakan akan tiba di Cicapar, kampung terdekat jam 18-an. Tapi, cerita berkehendak lain. Melalui handy talky, seorang rekan meminta agar kami yang di depan menunggu karena salah seorang rekan mengalami patah RD yang terhantam makadam. Hampir setengah jam, barulah rombongan belakang tersebut tiba. Perjalanan dilanjut, langit mulai temaram. Jalan makadam masih berlanjut lebih kurang 2 km dari pertigaan Karaha, Talagabodas dan Garut. Langsung masuk ke perkebunan sayuran, trek berubah menjadi tanah kering. Akibatnya, kami harus berjuang dua kali untuk melihat. Melawan mulai gelapnya hari dan debu pekat yang diterbangkan oleh rekan yang gowes di depan.

Terasa asyik…di tengah temaramnya senja dan pekatnya debu. Lampu dinyalakan. Ngebut beramai-ramai, sambil mata dan feeling harus tetap awas. Karena salah-salah akan menabrak teman yang di depan atau terperosok jurang. Beberapa kali harus regrouping, karena tidak semua dari rekan menggunakan sepeda MTB. Ada diantaranya yang menggunakan ban kecil. Sehingga, kami harus saling menunggu agar tetap bersama. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Adzan Magrib terdengar sayup-sayup dari Kampung Cicapar yang mulai dimasuk oleh kami. Seolah berlomba dengan waktu, semua memacu dengan tujuan mesjid di Cicapat. Tetapi, kembali harus dihadapkan pada cerita yang tidak diinginkan. Fadil, yang baru pertama kali ikut. Bannya menghajar batu dan tertusuk bambu. Mungkin, dia lupa untuk sedikit mengempeskan ban pada waktu di turunan. Di samping, bannya Maxis Mark Cross-nya tidak cocok untuk lapangan makadam! Robek, bahkan ban dalamnya tidak bisa ditambal sama sekali. Saat diganti ban cadangan, yang dibawanya.  Ternyata, ban yang digunakan menggunakan pentil fresta. Sedangkan ban cadangan menggunakan pentil besar. Untunglah lokasi kejadian tidak jauh dari tukan tambal ban, yang justru akan tutup.

Untunglah tukan tambal ban, berbaik hati. Meminjamkan alat-alat dan, kompresor bahkan bor untuk memperbesar lubang pentil. Akhirnya, ban terpasang. Tapi…saat dipompa. Ban kembali bocor!!! Dibongkar kembali, saat di cek ban luarnya. Ternyata, kawat dari ban Maxis itu sendiri yang “memakan” ban dalamnya. Kawat halus yang putus akibat terhantam batu, mencuat dan membocori ban dalam cadangan yang baru dipasang. Untung Pak Wawan membawa ban cadangan. Segera dipasang di ban Fadil. Akhirnya perjalanan di lanjut. Namun, baru berjalan lebih kurang 500 meter kembali ban Fadil bocor.

Untunglah ada mushola kecil yang cukup terang sambil melakukan sholat magrib. Membongkar ban dan mencek kenapa bisa bocor. Saat dicek, ban luar tidak ada masalah. Saya terpikir, pasti bocornya di sekitar “bunglon” dan betul. Ternyata, kebocoran diakibatkan oleh permukaan bekas bor untuk membesarkan diameter lubang pentil! Untunglah, Pak Wawan sang mekanik, membawa obeng, dan bisa dipergunakan untuk menghaluskan permukaan kasar dari lubang itu.

Ban cadangan saya giliran dipakai, tapi baru dipasang sebentar. Kembali bocor! What???? Akhirnya, diputuskan memakai ban cadangan milik Fadil yang tadi tertusuk kawat. Ditambal memakai tensoplas yang dibeli dari warung sebelah. Ide kreatif, Pak Asep, Pak Wawan, dan Pak Agus patut diacungi jempol! Jadi HARUS DIINGAT, SELALU MEMBAWA TENSOPLAST ATAU SALONPAS bila gowes ke gunung! Dalam keadaan darurat, bisa dipakai untuk menambal ban. Buktinya, sampai ke Garut yang berjarak lebih kurang 30 km, ban bisa bertahan dengan mulus!

Kembali melanjutkan perjalanan, harus perlahan. Karena sangat gelap. Mengandalkan lampu, dengan kondisi makadam berganti-ganti dengan beton. Salah-salah akan terpeleset. Setelah perjalanan lebih kurang 30 menit. Alhamdulillah, akhirnya tiba di Kecamatan Sukawening. Lampu pun bisa dimatikan, karena lampu dari Jalan Raya Sukawening Garut. Teman-teman yang lain, masih menunggu di sebuah warung goreng2-an. Karena teramat lapar, semua langsung menyerbu bala-bala dan gehu (toge tahu). Yang lain malah, nekad langsung memesan “mie kuah”. Saya tidak berani memesan, melihat bentuk mie dan toge dan kuah yang sedikit aneh. Ternyata benar. Pak Wawan, Pak Asep, dan Pak Dadang yang memesan makanan tersebut. Baru tiga suap, mulutnya langsung terbuka! Matanya berair! Ternyata itu makanan tradisional “seblak” atau “leor” yaitu semacam kerupuk mentah yang dikuah sambal super pedas!  Selamat ….!

Perjalanan selanjutnya, lancar. Karena jalanan Su

Yang Penting Sepedaannya, bukan sepedanya