Alasan Saya Bersepeda

Tahun 2005, kesehatan tubuh dan fisik saya bisa dibilang sangat buruk. Hampir tiap hari kepala diserang migrain.  Kadang pas bangun tidur, siang hari saat kerja atau bahkan pada waktu akan tidur pun diserang migrain.  Untuk mengurangi rasa sakit, minum paracetamol atau obat warung pengurang rasa sakit.

Selain migrain, perut juga mengalami gangguan lambung parah.  Pagi hari pada saat mandi pagi, sering mual-mual dan muntah-muntah.  Bahkan, pada saat mengajar pun bukan sekali dua kali harus ijin pulang. Karena gangguan lambung yang super parah.  Kalau sudah mual dan muntah, mulut sampai terasa pahit dan asam gak ketulungan.

Keadaan fisik terhitung sangat lemah.  Sedikit-sedikit masuk angin. Dikerok. Atau badan letih dan sering mengantuk pada saat mengajar. Bukan sekali, pada saat menonton  televisi atau didalam angkutan umum tertidur.

Diawali dengan sepeda G*n** yang berbahan besi hadiah dari kakak yang sudah lama melakukan olah raga sepeda.  Mencoba mulai mengayuh. Minggu-minggu pertama sangat terasa tersiksa. Kaki dan paha sakit semua.  Mungkin karena selain sepeda yang berat karena teknik bersepeda yang salah.  Tidak mau menyerah jarak bersepeda yang asalnya paling jauh 6-8 km seminggu dua kali.  Meningkat jadi 13 km saat bersepeda ke Candi Cangkuang.  Itupun dengan didorong di tanjakan yang bahkan tidak curam-curam amat.

Setelah lebih kurang 3 bulan bersepeda.  Migrain di kepala mulai hilang, bahkan mual-mual di pagi hari pun sudah mulai berkurang.  Memang masih terasa sesekali, tapi kondisi mualnya tidak seperti sebelum bersepeda.  Tubuh terasa lebih bugar. Nafas tidak lagi pendek-pendek atau tersengal pada saat nanjak.  Bisa dibilang lebih kurang 2 tahun kemudian semua keluhan migrain, gangguan lambung, mudah sakit dan fisik lemah, semua hilang berkah bersepeda.  Atas pertolongan Allah tentunya. Alhamdulillah.

Karena sudah terasa manfaat bersepeda.  Akhirnya, tahun 2007 ditemani si Cikal membeli sepeda yang bisa dibilang mahal menurut ukuran saya.  Yaitu Specialized hardrock sport disk, di toko N di Bandung.  Itupun dengan uang tabungan lebih kurang 2 tahun.  Bersepeda jadi makin intens.  Bahkan, seperti ketagihan.  Kalau tidak mengayuh sepeda dua tiga hari.  Kaki dan badan seperti kaku.  Pegal. Minta digerakkan.

2007 ditemani si Cikal, sengaja mencoba fisik gowes ke Batujajar pulang pergi.  Waktu itu si Cikal menemani saya bukan karena kuat.  Tapi karena khawatir mungkin kalau saya bersepeda jarak jauh sendirian.  Waktu itu jalur Nagreg baru dibangun.  Waktu itu merasakan tanjakan jalan sebelum terowongan belum hotmix mulus seperti sekarang.  Tapi masih berupa tanah merah.  Itupun kita harus memanggul sepeda di beberapa titik karena ada galian.

Berangkat jam 05.30 waktu itu.  Tiba di Batujajar pukul 12.30.  Istiraha dan tidur sebentar.  Setelah dari makam orang tua tercinta. Langsung pulang balik menuju Garut.  Mengingat waktu yang tidak memungkinkan.  Sepeda waktu itu nebeng di KRD Cicalengka (waktu itu sepeda masih boleh naik kereta) di stasiun Gadobangkong pukul 15.30.  Turun di Cicalengka pukul 17.30 tiba di Cicalengka. Lalu digowes kembali ke Cibatu lebih kurang 25 km.  Mungkin karena fisik sudah habis dan fisik tidak siap. Waktu itu perjalanan dari Cicalengka sampai ke Sasakbeusi lebih kurang 6 jam hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s