Touring to Cijayana Beach

Dihantui cedera lutut kiri serta belum pulih sepenuhnya tubuh yang didera tipes sebelum bulan puasa lalu, akhirnya 30 Agustus 2016 pukul 08.16 WIB rombongan yang berjumlah 21 orang berangkat dari dua lokasi yang berbeda. Rombongan pertama berangkat lebih pagi karena akan mengambil jalur ke Bungbulang dengan jarak terpaut sekitar 10 kilometer dengan kondisi medan yang lebih berat. Rombongan kedua mengambil jalur normal via Pameungpeuk langsung menuju Cijayana.

Mengingat cedera lutut yang belum pulih, kayuhan terhitung sangat pelan karena menggunakan gigi ringan yang mungkin bisa meminimalisir kambuhnya cedera.  Kontur yang cenderung menanjak sopan, dari Garut kota menuju Batu Tumpang, Cikajang yang biasanya memakan waktu 2,5 jam dengan jarak 33 km. Ditempuh terpaut 30 menit, diselingi istirahat sekitar 20 menit di pertigaan Papanggungan-Pasar Cikajang.  Rombongan pertama langsung mengambil jalur menuju ke Pakenjeng-Bungbulang-Cijayana-Rancabuaya.  Meskipun sebagian besar menginginkan agar rombongan dijadikan satu, tidak terpisah.  Tapi, untuk mengakomodir keinginan dari yang tetap ingin mengambil jalur tersebut. Akhirnya rombongan tetap di bagi dua.

deny

Tiba di Batu tumpang sekitar pukul 11.15 rehat untuk sekedar minum teh panas atau kopi panas plus, makanan ringan sebelum makan siang sekaligus menunggu teman-teman yang masih ada di belakang. Sesaat sesudah adzan Dhuhur, rombongan kembali berangkat. Mengingat jalanan menurun dan berkelak-kelok sangat tajam.  Semua peserta touring mengambil jarak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.   Kecepatan bisa melaju antara 30 – 50 km/jam.  Jarak 13 kilometer bisa ditempuh lebih kurang 20 menit. Rombongan kembali berhenti di mesjid Cihideung untuk melaksanakan sholat dhuhur. Cihideung adalah satu kampung yang terletak sebelum Hutan Gunung Gelap, cenderung menanjak tapi masih sangat sopan.

yudiranca

Selesai sholat Dhuhur, rombongan kembali melaju melahap tanjakan Gunung Gelap, memburu warung nasi.  Ternyata warung nasi yang biasa digunakan untuk makan siang, tutup!  Walaupun perut sudah amat sangat lapar.  Terpaksa melaju lagi lebih kurang setengah jam sebelum tiba di warung kecil sesudah Gunung Gelap. Memesan goreng ayam kampung, kamipun makan siang dengan lahap.

Dirasa cukup istirahat setelah melahap makan siang, kayuhan dilanjut menuju Pameungpeuk yang berjarak sekitar 35 km dari Neglasari. Masih melahap turunan demi turunan, praktis kaki bisa dibilang tidak mengayuh. Cukup duduk manis dan tetap waspada, arena banyaknya motor yang dikendarai anak-anak ingusan. Memasuki Cisompet perjalanan masih turunan hotmix mulus, perjalanan masih 20 kilometer ke Pameungpeuk. Namun setelah jembatan perbatasan Cisompet dan Pameungpeuk, jalan menanjak halus. Cukup membuat kaki lunglay, karena dimanja turunan terlalu lama. Akhirnya interval pelan.

rudiranca5

Memasuki kota kecamatan Pameungpeuk, kendaraan kembali ramai. Tanpat istirahat langsung menuju ke arah pantai Santolo yang searah dengan pantai Cijayana atau Rancabuaya. Ke pantai Cijayana sekitar 25 km sedangkah ke arah Rancabuaya sekitar 35 kilometer. Kontur jalan relatif datar, tetapi dihiasi roller coaster, naik turun bergantian saat melewati jembatan. Kaki mulai terasa ngilu dan panas, sepertinya luka lama mulai kambuh. Beberapa kali istirahat. Memasuki areal peternakan lobster di Cimari, fisik sudah hampir habis. Kelelahan mendera, plus cedera lutut makin meradang. Kayuhan makin pelan, walaupun tidak sampai dituntun.

deny2

Di sebelah kiri tampak terbentang laut selatan yang memanjang tak terputus dengan biru langit serta pulasan putih awan.  Jalanan turun naik dengan tanjakan yang semakin curam. Paling belakang ditemani mang Haris Akung dan sweeper mang Tebe, kayuhan bisa dibilang sama dengan gerakan keong.  Saat fisik sudah amat sangat habis, jembatan terakhir di Cijayana menghaturkan tanjakan tembok beton yang super curam.  Melihat kemiringannya saja sudah amat sangat jera😦

rudiranca2

Akhirnya tiba di pantai Cijayana, rehat di rumahnya mang Agus Galon. Total perjalanan lebih kurang 8,5  jam. Malamnya pesta ikan kakap dan ikan tongkol yang dibakar, plus sambal pedas khas pantai dengan nasi super pulen ciri pantai!

Memasuki masa rehat, pikiran dan kekalutan melanda teman-teman, laporan dari rombongan pertama Mang Ano hilang tak ketahuan rimbanya! Sampai pukul satu dinihari tak diketahui kabar beritanya.  Namun, Alhamdulillah paginya saat akan berangkat ke pantai. Seorang nenek mengabarkan ada seorang goweser magrib kemarin bulak balik di jalan depan.  Namun karena si nenek tidak mengetahui ada rombongan sepeda, jadi orang kebingungan tersebut dibiarkan lenyap begitu saja. Minimal ada kabar, Mang Ano selamat!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s