Dihantui Cedera Lutut

Malam sebelum tidur, sudah direncanakan esok hari akan diloading dikarenakan kondisi lutut kiri yang sudah hampir tidak memungkin untuk jarak jauh. Tidak bengkak, tapi nyeri linunya hampir tidak tertahankan. Berhubung mobil Elf ke Cijayana itu hanya ada dua yaitu pukul 5 pagi dan pukul 8 pagi. Maka, rencana akan naik yang jam 8 pagi. Setelah cukup matang, karena yang akan diloding cukup banyak. Direncanakan akan rental pick up, tapi ternyata mahal minta sampai 1 juta!  Mang Atep, mengusulkan agar kami yang akan diloding sebaiknya gowes dulu semampunya sampai ke daerah Pameungpeuk, karena akan lebih banyak alternatif moda angkutan. Terutama truk dan pick up yang akan ke Garut kota itu biasanya kosong sehingga tidak terlalu mementingkan perkara biaya angkut.

Pukul 06.40 menuju ke pantai Cijayana, viewnya cukup bagus. sayang seperti pada kebanyakan pantai selatan. Ombaknya sangat tinggi dan besar, sehngga tidak mungkin untuk berenang atau bermain di pantai. Kami hanya mengambil foto-foto dan duduk santai menikmati semilir angin pagi dan terbitnya matahari dari saung di tepi pantai.  Sarapan pagi tiba, masih dengan ikan bakar juga. Menunya sama, tapi tidak mengurangi rasa nikmat dan selera makan.

Setelah dirasa cukup, kembali ke rumah penginapan. Langsung persiapan pulang. Rombongan pertama yang mengambil arah Bungbulang sudah merapat minus Mang Ano yang lenyap entah di mana. Belakangan informasi terakhir Mang Ano sudah tiba di rumahnya.  Beriringan menuju pantai Pameungpeuk, menikmat turunan dan tanjakan ala roller coster juga.  Bikin nyeri lutut dan hati ketar ketir dihantui cedera tak berkeputusan.  Tetap merayap, rombongan makin tercecer karena beberapa orang mulai kelelahan sisa perjalanan kemarin.  Tiba di pertigaan pantai Santolo beristirahat. 4 Orang memutuskan untuk diloading dari Santolo. Mereka meninggalkan diri, dengan harapan dapat menemukan truk atau pick up kosong.  Sementara rombongan lainnya dilanjut.  Karena merasa masih kuat, si Heisty dilanjut sampai batas kekuatan maksimal.  Tentunya dengan catatan lutut tidak sampai kembali fatal harus beristirahat sampai tiga bulan.

Perjalanan dari Pameungpeuk menuju Cisompet bahkan sampai Cikajang dipastikan 100% dari 49 km adalah tanjakan.  Masih beriringan, saya di depan dengan gowes ngicik untuk mengurangi cedera dan rasa sakit makin parah.  Fisik sudah sangat lelah, plus hantu cedera lutut yang mengintip tanpa henti. Membuat hati ketar-ketir di setiap kayuhan. Tiba di perbatasan Cisompet, saat rasa sakit sudah pada batas maksimal dan kelelahan sudah pada batas kemampuan.  Daripada merepotkan teman-teman lain, diputuskan akan dievak.  Tepat, pada saat akan berhenti tiba-tiba Mang Haris, Mang Obang, Mang Cepi, berhenti di depan dan menawarkan untuk dievak. Tanpa, ditawari dua kali saya langsung acungkan tangan! Jangankan mengangkat sepeda, untuk naik ke atas pick up pun harus dibantu teman-teman…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s