Mencicipi Jambore Jelajah Sepeda Kompas di Ranca Upas

Sementara cedera lutut masih mendera. Niat tak kunjung padam, pokoknya harus ikut Jambore Jelajah Sepeda Kompas di Rancabali, Ciwidey.  Praktis, selama dua minggu terakhir tidak berani melakukan aktifitas berat lari atau gowes. Segala macam obat herbal dan ramuan obat Cina dicoba. Karena lutut ingin segera pulih.

Kamis, 26 Februari 2015 rasa ngilu dan nyeri di lutut mulai berkurang.  Tapi, batuk filek malah menyerang😦.  Perasaan makin keder, jangan-jangan gak bisa ikut.  Tubuh bener-bener gak fit!

Nekad ajalah!  Didukung anak mertua, akhirnya Jumat, 27 Februari 2015, jam 15.30 berangkat menuju Batujajar.  Rencana nginep di rumah Mang Asep, subuh baru berangkat ke titik start di Kota Bumi Parahyangan (KBP), Padalarang.  Tiba di gerbang tol Padalarang pukul 19.30 langsung ke KBP untuk registrasi dan ngambil race pack.

Saat memasuki jantung Batujajar, timbul rasa tidak jelas. Nyesak.  Sepanjang jalan yang dilewati terlihat kumuh.  Penuh dengan tenda pedagang serta kendaraan yang bak air tiada henti. Asap dari kendaraan bermotor, serta debu yang berterbangan menambah sumpek dan kumuhnya Batujajar sekarang.  Nyaris tidak ada pepohonan sama sekali😦

Badan yang gerah meminta diguyur air.  Setelah setting sepeda, langsung mandi, kemudian makan malam.  Meski lelah, ternyata tidak menjamin bisa tidur lelap.  Akibat ulah si batuk, yang tidak tahu sopan santun datang hampir tiap menit. Praktis tidak bisa tidur, bolak-balik ke kamar mandi buang reak. Saat mata bener-benar udah ngantuk berat.  Pas mau tertidur. Raungan suara kaset pengajian dari mesjid di belakang rumah langsung membuat sang kantuk kabur! Apes! Praktis jadi tidak tidur semalaman.

Bareng Mang Asep, jam 05.45 ngaboseh langsung menuju KBP yang berjarak 8 km dari Batujajar. Meski masih pagi tapi kami harus gowes dengan sangat hati-hati.  Motor dan mobil yang sudah sangat ramai seringkali mengejutkan dengan bunyi klakson atau knalpot yang memekakan telinga.

Masuk ke jalan arteri KBP masuk bike lane dan langsung menuju pelataran titik kumpul.  Para peserta sudah berdatangan, dengan berbagai aktifitasnya masing-masing. Langsung menukar kupon sarapan. Teman-teman goweser yang kenal baik mulai berdatangan. Senyum sapa pun saling terlontar dengan cair.  Seperti sudah lama sekali tak bersua. Padahal iya :p

Waktu menunjukkan pukul 09.15 setelah acara seremonial.  Rombongan gowes yang berjumlah lebih kurang 350 peserta berangkat dari KBP menuju Rancabali, Ciwidey yang berjarak lebih kurang 50 km dimana para pesepeda harus menanjak sampai pada ketinggian 1760 mdpl.

Tiba di waduk Saguling yang membatasi antara KBP di Padalarang dengan area latihan tempur Pusdikpassus Batujajar.  Para peserta antri menyebrang menggunakan perahu.  Sekali berangkat 7 sepeda plus orangnya bisa diangkut. Penyebrangan tersebut tidak lepas dari pengawalan Pusdikpassus yang menugaskan para personilnya. Menggunakan dua unit perahu karet setiap peserta diwajibkan memakai pelampung dan berangkat berdekatan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Satu demi satu, sepeda didaratkan kembali, dan langsung menikmat makadam sejauh lebih kurang 4 km menuju landasan udara Suparlan.  Menurut kabar semestinya para peserta Jelajah Sepeda bisa sekaligus menikmat latihan terjun payun yang langsung diterjunkan dari pesawat Hercules.  Sangat disayangkan, dikarenakan pemberangkatan mungkin terlalu siang. Kita tidak sempat menyaksikan penerjunan para pelajar PARA beraksi.  Tapi, lumayanlah.  Masih ada tersisa beberapa pelajar yang sedang melipat payung dan berlari-lari kecil di sekitar landasan Suparlan.  Sebagian besar berkumpul di dekat sebuah payung yang dipasang di darat seperti tenda.

Sepanjang Landasan Suparlan, beberapa pesepeda menyempatkan diri untuk bernarsis ria dengan background para pelajar komando/raider yang sepertinya sedang berlatih IMPK (Ilmu Medan dan Peta Kompas).  Hal itu tampak darikompas,  buku dan map yang mereka bawa. Beberapa kali kami pun diberi hormat kepalan tangan kanan “KOMANDO!” oleh para pelajar tersebut.  Tentunya, kita balas dengan lirikan dan senyum juga sambil teriak “KOMANDO!”.  Lumayanlah…kapan lagi bisa dihormatin tentara wkwkwkwk…!

Tiba di Lapangan Hitam dimana biasanya digunakan untuk upacara menyambut tamu khusus kamipun rehat sejenak dan menikmat snack dan minuman dari mobil logistik.  Lalu dipersilakan oleh personil Kopassus untuk berfoto ria di area Lapangan Hitam sepuasnya.  Padahal biasanya, Lapangan Hitam sangat tabu untuk dimasuki oleh masyarakat awam.  Apalagi untuk mengambil gambar atau sekedar menggunakan kamera.

Perjalanan dilanjutkan melewati Gerbang Utama Pusdikpassus yang dijaga oleh patung M. Idjon Djanbi yang asliny bernama Rokus Bernardus Visser adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama sekaligus perintis pasukan elit komando tersebut. Beberapa peserta menyempatkan diri untuk berfoto di depan patung. Begitu keluar dari gerbang utama, seluruh peserta langsung menyusuri jalan raya Batujajar.  Rombongan masih utuh dan “ramai” karena jalur masih sangat datar. Memasuki Soreang sebelum stadiun Si Jalak Harupat rombongan mulai tercecer karena mulai ada tanjakan ringan.  Mungkin bagi para mantan atlit jelajah sepeda hal itu bukan masalah.  Tapi, bagi peserta biasa hal itu luar biasa, termasuk saya.  Lutut kiri, mulai terasa kembali nyut-nyutan.  Sepanjang jalan, tidak berani mengoper gear depan ke gigi dua.  Akhirnya, cuma bisa ngicik.

Regrouping lengkap, pukul 11.30 dari Stadiun Si Jalak Harupat rombongan langsung bergerak menuju ibu kota Soreang. Patut diacungi jempol kesigapan para polisi lalu lintas dan marshall yang tidak lelah menjaga setiap pertigaan atau persilangan jalan sehingga seluruh rombongan diutamakan daripada mobil atau motor. Praktis sepanjang perjalanan, sepertinya sepeda menjadi pengguna jalan yang istimewa.  Setelah persimpangan terakhir dari kota kecamatan Soreang.  Jalan mulai menanjak panjang tapi ringan namun ada beberapa peserta mulai keteteran.

Tiba di rumah makan La Ega berjarak lebih kurang  2 km dari kota kecamatan Soreang.  Seluruh peserta jambore rehat untuk makan siang dan sholat Dhuhur bagi yang beragama Islam sekaligus regrouping.  Menu makan siangnya cukup “wah”.  Masakan Sunda lengkap dengan lalab dan sambel yang menurut saya “aneh” bentuknya.  Gak berani mencicipi.  Ngeliat bentuknya aja udah bikin merinding! Didominasi butiran cabe rawit warna merah, hijau dan kuning  yang pastinya super pedas! Udah bisa dibayangkan dalam keadaan cuaca panas, badan panas, makan sambal pedas terus minum air panas pula!

Entah mungkin mendengar bisik-bisik dari peserta lain, atau sudah memprediksi dari kontur tanjakan yang dialami sebelum rumah makan.  Terlihat rasa enggan dan “dropped” mentalnya melihat tanjakan yang akan dijelang. Seorang peserta yang ada di hadapan saya berbisik kepada “driver” mobil evakuasi.  Bisikan tersebut membuat alis mata si “driver” berkerut. “Hah? Mau dievak Om?”.  Si sopir mungkin kaget karena fisik orang itu masih segar gak keliatan lelah. Tapi mungkin sakit kali ya?  Tapi, sebelum dia minta dievak tadi terdengar teman-temannya saling bisik. Kita masih harus nanjak 29 km lagi!

Udara panas, membuat wajah seperti ditampar dari atas dan dari bawah. Dari atas matahari sedang obral, dari bawah aspal super hot membuat muka menjadi merah meriah.  Cuaca yang seperti itu membuat para goweser sepertinya harus menaklukan 4 musuh sekaligus. Sinar matahari, aspal panas, tanjakan panjang serta mental/fisik yang meminta otak dan perasaan untuk berhenti saat melihat pohon atau warung untuk sekedar berteduh.  Dua botol air 500 ml liter habis hanya untuk jarak 5 km.

Untunglah panitia dan marshall sangat bijak, meminta kami untuk segera beristirahat di sebuah mesjid.  Mengambil minuman, buah-buahan sepuasnya. Tapi sepertinya dahaga tidak hilang juga, karena cuaca yang teramat panas. Lutut kiri yang cedera semakin terasa nyut-nyutan. Wajarlah, sekuat apapun gaya ngicik, bila dilakukan untuk tanjakan yang panjang. Pasti membuat lutut dan paha keteteran :p

Bener juga ternyata di kilometer 18 di tanjakan yang sedang.  Lutut dan kaki hilang koordinasi, disertai rasa nyeri yang sangat. Gejala kram!  Saya segera berhenti, turun dari sepeda.  Cak Kris dan Mang Asep yang menjadi teman setia selama perjalanan pun berhenti. Thanks Cak!

Perlahan otot-otot tungkai diistirahatkan sejenak.  Lanjut stretching dengan menopang pada frame. Lima menit kemudian kembali gowes.  Semakin pelan, tapi dikuatkan tekad dan berdoa terus: JANGAN SAMPAI DIEVAK!

Hujan pun turun dengan derasnya, berhenti di sebuah warung dimana Abah sedang rehat juga. Kita bertiga ikut berhenti untuk melemaskan otot yang terasa tegang tadi.  Kaki diselonjorkan dan digerak-gerakan untuk pelemasan.  Abah menawarkan untuk evakuasi.  Tapi ditolak halus.  Padahal lutut sebenarnya “nyut-nyut”an. Yakin masih bisa, walaupun pelan. Yang penting tidak TTB dan finish sampai akhir!

Tanjakan makin dekat ke tujuan makin curam.  Kemiringannya membuat motor atau mobil melaju dengan gigi satu atau dua.  Bahkan, di beberapa belokan membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Saking curam dan tajamnya tikungan.

Di sebuah mesjid yang terletak di tikungan yang sangat tajam.  Menyempatkan diri sholat asyar. Sambil menunggu Cak Kris yang ternyata tertinggal di belakang.  Dipikir beliau ikut terus mengawal di belakang.  Hujan semakin deras.  Banyak peserta yang mulai TTB berjamaah. Bahkan, dievakuasi oleh mobil panitia, atau oleh kendaraan yang mengawal merekan.  Ada yang terang-terangan, ada yang diam-diam. Liat kiri kanan dulu, sambil pura-pura benerin rantai atau ban seolah-olah bermasalah.

Salut untuk para peserta yang berfederal, bersurli atau berseli ria dengan buntelan segede-gede perut kebo yang masih bisa melaju di tengah hujan deras. Tidak TTB dan anti evakuasi!

Istirahat ketiga kali di sebuah warung kecil.  Cukup minum susu jahe untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan tertimpa air hujan yang serasa air es.  Kemudian perjalanan dilanjut. Masih dengan gowesan pelan. Hampir konstan (belakangan dicek di endomondo hampir 5 km/jam hehehehe).

Saat menikmat tanjakan dengan kayuhan pelan.  Sambil ngebut, tiba-tiba Abah yang bersurli ria. Nyalip sambil bernyanyi ala Ebiet G Ade: “Kau tampak tua dan lelah…” sambil cekikikan! Asem! Kalo lutut gak nyut-nyut an atau sama-sama pake Surli kata Cak Kris mah diajak balaplah! Gkgkgk…

Waktu menunjukan pukul 16.40 saat mendekati kilometer 2 ke titik finish.  Tapi hari sudah sangat terasa gelap.  Karena berada di antara pepohonan yang lebat.  Alhamdulillah, akhirnya tiba di Bumi Perkemahan Rancabali pukul 17.10 dalam keadaan basah kuyup. Plus gelap gulita.  Langsung nyari tenda yang telah ditentukan panitia.  Sempat kelimpungan karena posisi nomor tenda yang tidak berurutan.

Di dalam tenda, sudah ada penghuni yang sudah santai. Dengan kondisi segar. Tiduran sambil bertelepon ria.  Sementara kita berdua masih menggigil, dengan badan basah kuyup!  Langsung menuju toilet untuk mandi. Ternyata antri (Belum tahu kalau di belakang tenda itu ada pemandian dan kolam renang air hangat! Nyesal waktu tahu hal ini pagi-pagi waktu mau mandi pagi).  Air di toilet yang keluar dari keran lebih mirip ekor tikus! Plus keruh! Tapi apa boleh buat. Daripada kedinginan!

Setelah sholat magrib, rebahan di atas terpal dibalut sleeping bag.  Hujan semakin deras. Sempat terpejam tapi kemudian bangun terperanjat! Ternyata, di dalam tenda banjir! Sleeping bag basah! Bahkan celana yang dipakai juga basah.  Untung jaket waterproof jadi baju gak basah. Gak bakalan beres ini mah! Langsung ke luar dari tenda.  Menuju panggung dan nonton dangdutan diselingi menikmat daging kambing guling dan ketupat plus rebus jagung, kacang, bajigur dan bandrek!

Mungkin karena kelelahan penonton dangdutan hanya segelintir saja.  Jadi terkesan “dingin” sang artis dangdut yang berjumlah 4 orang dan sudah berdandan “sataker kebek” habis-habisan tak mampu mengundang para peserta jambore untuk berjoget. Yang ikut berjoget dan menikmati dangdutan bisa dihitung dengan jari.

Kemeriahan acara justru terasa setelah sarapan pagi yang dilanjutkan dengan dancerobik! Hampir semua peserta ikut senam dengan riang dan berkeringat mengikuti arahan dari pemandu di panggung! Hampir satu jam beraerobik ria, dilanjut dengan pengundian door prize untuk jelajah sepeda Kalimantan dan Papua. Peserta dipersilakan mencicipi test drive Collosus N8 dari Polygon atau gowes “ringan” ke situ Patengan di pandu si Master Bersertifikat Kang Coe Waelah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s