Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 3)

Etape Ketiga (113 km) : Tanjung – Batu Kajang

Kang Dede Supriatna, my roommate, yang pinter tidur.  Telah siap untuk melahap tanjakan pegunungan Meratus atau Gunung Halat.  Jam 05.00 sudah membereskan pakaian dan merapikan ke dalam 2 tasnya. Satu tas travel bag, satu lagi tas kardus dari Kompas (dietape berikutnya, jadi kantong plastik. Karena tas kardus jebol).  Setelah tiga hari, mengenal Kang Dede, jadi tahu kalo beliau tidak hanya jago tanjakan.  Tapi juga jagoan tidur.  Dalam kondisi apapun.  Duduk atau terbaring, telentang atau tengkurap. Pegang hape atau Koran.  Bahkan sedang ngobrol.  Sering dibuat mangkel.  Ternyata, saat asyik ngobrol.  Saat ditanya.  Dia terdiam.  Ternyata dia sudah tertidur pulas! Selain “jatan” jago tanjakan, ternyata Kang Dede juga “jahe” jago hees (tidur).

Saat masuk ke ruang makan di hotel Jelita, Tanjung.  Pukul 05.30 ternyata teman-teman senasib sepenanggungan sudah banyak yang sarapan. Senyum sapa saling terlontar dari mulut para peserta.  Wajah-wajah mereka memancarkan semangat membara mencumbu tanjakan dietape ketiga. Sambil mencicipi sarapan dan minuman beraneka ragam.

Para peserta, saat sarapan disuguhi seni tradisional setempat. Entah seni apa namanya, tampak seorang penabuh gendang, pemetik sampek (alat musik berdawai), bedug kecil, biola, serta gong.  Semua pemain musik itu memakai pakaian tradisional melayu bernuansa warna kuning.  Vokalisnya seorang gadis muda.  Usianya sekitar 19 tahunan. Berkebaya ala melayu yang juga berpakaian serba kuning bahan kain sepertinya dari satin, mengkilap. Tubuh penyanyi itu langsing. Kulitnya kuning langsat.  Wajahnya cantik, hidung mancung, matanya berbinar dagunya mendaun sirih, dengan pipi merah merona. Rambutnya yang hitam legam dikonde, ditutupi sejenis topi kecil yang dibalut kerudung hijau yang turun sampai menutup lengan dan dadanya.  Tampak ramah, bibirnya yang merah tipis, tak henti melontarkan senyum, saat beberapa orang ingin berfoto ria dengannya.  Suaranya merdu mendayu-dayu, mengingatkan pada pacar yang pasti sama sekali pasti tidak pernah merasa punya pacar seperti saya yaitu: Siti Nurhaliza!

Sesudah sarapan sekitar pukul 07.00 WITA, beriringan menuju pendopo kabupaten Tabalong yang letaknya tidak jauh dengan penginapan.  Pada acara pelepasan Bupati Tabalong  mengatakan, “Tadi malam katanya ada yang tidak kebagian mencicipi soto ayam bapukah ya? Karena kehabisan?  Andai kawan-kawan di sini sampai siang, kita bisa menikmati nasi paliat, kuliner khas Tabalong,” ujarnya.  Beberapa peserta langsung berteriak, “Betul Pak banyak yang gak kebagian makan!.  Kalo begitu nanti kirim aja ke Batu Kajang Pak!”

Dihajar Tanjakan

Sebelum melahap etape ketiga ini, dibisikin Kang Coe Waelah sang maestro alias RC dan Abah Ush.  “Nanti, dietape ketiga dinikmati aja. Tanjakannya cukup panjang.  Jangan terpancing oleh yang lain.  Ikuti saja ritmik dan cadence kita aja!”.

Ternyata benar, sekitar 15 km selepas Tanjung, langsung dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan bergantian dengan jalan yang menurun, di gugusan Pegunungan Meratus.  Tanjakan dan turunan sambung-menyambung.   Medan itu pun cukup menguras stamina pesepeda, ditambah lagi dengan cuaca cukup terik dengan suhu udara menembus 30 derajat celsius.  Banyak peserta yang mengandalkan power terjebak dengan tanjakan yang panjang dan cukup curam.  Mereka sambil berteriak-teriak, “Awas wanita-wanita! Kasih jalan!” sambil menyalip para peserta yang gowesannya dinilai lambat dan menghalangi lajunya.  Saya yang gowes berdampingan dengan Intan Ungaling sambil tersenyum hanya bisa berkata “Mangga, silakan…duluan!”, sambil tetap ngicik pelan.  Saya camkan nasihat Abah Ush dan Kang Coe Waelah, yang juga sudah melaju di depan menuruti kemauan para peserta yang bernafsu melahap tanjakan.

Untuk mereka yang mempunyai fisik yang baik dan terlatih mungkin tanjakan-tanjakan tersebut bukan hal yang sulit.  Tapi bagi mereka, yang fisiknya kurang baik, dan tidak terlatih.  Bila terpancing dengan mereka yang mempunyai kemampuan fisik mumpuni, justru akan terjebak dan menyiksa diri sendiri.  Belum sepertiga tanjakan yang harus dilahap.  Mereka sudah harus TTB (Tungtun Bike) berjamaah, dengan langkah yang gontai mendorong sepeda. Saya yang ngicik pelan bareng Intan akhirnya bisa mendahului mereka.  Saat mendahului mereka yang dituntun di tanjakan yang tidak terlalu curam, tapi panjang.  Saya bernyanyi lagu Ebit G Ade:  “Kau tampak tua dan lelah…!” sambil ngikik dan terus ngicik.

Di etapi ketiga ini para goweser tidak lagi dalam satu rombongan penuh. Sudah tercerai berai!  Para motoris dan mobil evakuasi sangat sibuk, mendorong mereka yang keteteran.  Kondisi jalan yang menanjak membuat para goweser harus lebih mengerahkan tidak hanya kekuatan fisiknya agar tetap berada bersama rombongan.  Tapi juga teknik gowes dengan putaran kecil tapi cepat dan tetap.  Yang kurang terlatih pasti paha akan panas! Kalau masih menggunakan tenaga fisik, pasti tidak sampai 50 meter langsung TTB lagi. Para marshall tetap setia menggiring para goweser yang berada di bagian belakang rombongan.  Tak kenal lelah dan fisik yang patut diacungi dua jempol.   Mereka bergantian saling mendorong peserta yang kedodoran.  Terutama peserta wanita.  Melewati punggung gunung Halat yang menjadi perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur ini. Medan yang dilewati cenderung bergelombang naik dan turun.

Memasuki tengah hari tim jelajah tiba di perbatasan Kalsel-Kaltim.  Peserta beristirahat untuk makan siang.  Perjalanan yang ditempuh sudah mencapai 72 km kemungkinan sebelum Matahari tenggelam di ufuk barat rombongan sudah masuk penginapan.

Menu makan siang kali ini adalah bebek goreng kaliyo yang dibungkus  dalam kotak. Seumur-umur, jujur saya belum pernah mencicipi daging bebek.  Namun daripada lapar, sedangkan tanjakan masih panjang.  Akhirnya bebek goreng berwarna hitam itu dilahap dibarengi minum teh manis dingin.  Satu suap nasi dan daging bebek, langsung ditelan, didorong dengan air teh.  Perasaan mual karena tidak terbiasa makan daging bebek.  Sebisa mungkin ditahan.  Alhamdulillah, akhirnya tandas juga.   Panitia biasanya menyiapkan makan siang yang sangat berselera.  Biasanya menyiapkan dua pilihan.   Lauknya berupa ikan atau daging.  Mungkin karena daerah perbatasan sangat jauh dari perkotaan sehingga tidak ada rumah makan yang representatif. Alhasil, peserta makan di warung yang ada di perbatasan dengan menu yang ada.

Saat tengah makan, melihat Kang Coe Waelah baru tiba.  Wajahnya yang terbakar matahari, berkeringat. Terlihat sangat lelah.  Ia langsung membuka sepatu cleatnya.  Lalu berkata dengan menggunakan bahasa isyarat.  Sepertinya untuk berbicara pun dia sudah tak sanggup karena penat yang sangat.  Yang punya warung, langsung bisa membaca bahasa isyarat Kang Coe.  Ia berteriak pada anaknya, ada yang mau ikut tidur, dan meminta untuk diberikan bantal.  Kang Coe langsung masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya.Tidur!  Pantas saja, Kang Coe akan sangat terkuras fisiknya.  Beberapa kali dia bolak-balik mendorong tema-teman yang keteteran agar tidak tertinggal rombongan.  Memang ada motoris yang membantu, tapi jumlah tidak cukup banyak.  Sehingga teman-teman marshall harus bekerja keras.

Saat akan sholat Dhuhur, di samping pintu mushola.Tidak jauh dengan keadaan Kang Coe yang kelelahan.  Di sini Om Mega sedang makan siang sambil selonjoran.  Sepertinya dia juga lelah sangat. Disampin Om Mega terbaring Kang Dede yang walaupun bukan marshall mendorong para peserta yang keteteran. “Leungeun kuring asa sengklek euy…!” (Tangan saya seperti patah!) katanya.  Walaupun dia warga keturunan, tapi perilaku dan gaya bicaranya sudah sangat nyunda. Ia bahkan sepertinya sudah sangat sulit untuk berbicara bahasa Indonesia, kalaupun bisa.  Tapi sangat nyunda sekali gaya bahasanya.  Kalau menurut saya, ini gunung salah nama.  Bagi para goweser gunung ini lebih cocok diberi gunung Lahat!  Mengingat tanjakan yang silih berganti dengan turunan.  Nyaris tak ada ujungnya.  Konon saat memasuki Kaltim, jalur tidak jauh berbeda sampai memasuk kota Batu Kajang!

Panasnya sinar matahari yang sedang obral, menjadikan ujian semakin lengkap. Dua kilometer menjelang pintu perbatasan saat makan siang dan regrouping.  Beberapa peserta yang “ngebut” di tanjakan akhirnya dievakuasi. Yaitu Om Rauyani dari B2W Pontianak dan Om Lukman dari Sulawesi.  Banyaknya peserta yang dievak memunculkan celetukan seorang peserta. “Di jalan datar mereka ngebut-ngebut, pecicilan. Eh, pas nanjak langsung keteteran. Ada yang didorong, ada yang kemudian dievak.”  Karakter seseorang terlihat ketika ujian dan kesulitan menimpanya.

Pada waktu berfoto bersama di depan gapura perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur terjadi hal yang tidak diinginkan.  Om Aris, salah seorang marshal yang ganten dan tukang narik rombongan sampai 35 km/jam.  Tiba-tiba melompat ke atas untuk beraksi.  Tidak menyadari, aspal di bawahnya tidak rata. Kaki om Aris mendarat tidak sempurna.  Dia terjatuh.  Lututnya menghantam aspal cukup keras!  Ia terduduk.  Merasakan rasa sakit.  Langsung dirawat oleh dokter.

Salah Oper Gear!

Sebelum memasuki daerah Kalimantan Timur, polisi patwa dan marshall mengingatkan jalan tidak akan semulus seperti di Kalimantan Selatan. Rusak berat.  Selain banyak truk besar yang mengangkut barang.  Seluruh peserta diminta berhati-hati dan diminta untuk beriringan satu-satu.  Setelah gapura, jalanan akan menurun tajam.  Dimohon hati-hati karena jalanan rusak.  Pada awal-awal menikmati turunan rombongan masih menurut. Beriringan satu-satu, dengan menahan kecepatan.  Tapi, mungkin karena kesal dan jalan tidak serusak yang dikatakan.  Akhirnya, mereka yang libas juga jalan yang rusak tersebut.  Pada ngebut, saling salip.  Saya sendiri cukup mawas diri.  Mengingat tanjakan masih sangat panjang, dan baud RD yang bermasalah.  Tetap menjaga kecepatan. Yang penting selamat.  Buat apa jauh-jauh dari Jawa ke Kalimantan untuk gowes tapi hanya untuk dievak dan TTB begitu saya bisikin Intan dan Indah, dua goweser wanita yang tangguh.

Tanjakan demi tanjakan, turunan demi turunan.  Rombongan makin tercecer. Walaupun pelan, karena ngicik.  Berhasil menyusul mereka yang tadi kebut-kebutan di tanjakan.  Saya, bertiga bareng tante Indah dan tante Yunengsih terus menikmati kesunyian dan sesekali teriakan primate di tengah hutan pegunungan Meratus itu.  Tante Yunengsih yang gowes di depan saya, kalau melihat tanjakan yang curam sepertinya gak PD.  Langsung melambat. Untuk dibantu oleh rekan-rekan motoris.  Padahal kalau PD saya yakin dia mampu melewati tanjakan itu.  Memang di jalur ini setiap motoris, bergantian standby di puncak tanjakan.  Untuk mendorong di titik kritis tanjakan, saat goweser mencapai titik kelelahan.  Mereka menawarkan untuk mendorong pesepeda.  Sah-sah saja dalam jelajah seperti ini.  Mengingat jalur masih panjang, dan menguras tenaga.  Saya lebih memilih untuk menolak halus, karena yakin bisa melewati dan tenaga masih mampu.  Tante Indah ikut-ikutan akhirnya menolak didorong juga, setelah dibisikin:”Sayang, udah digowes dari bawah.  Masa hanya tinggal 2-3 meter harus ditamatin dengan bantuan orang lain!”

Saat melahap turunan, dan di depan ada tanjakan yang sangat curam.  Gear belakang dipindah ke gigi paling kecil depan langsung ke tengah. Berharap menggowes sedikit, kemudian mendapatkan momentum agar bisa mendapatkan tenaga dan melewati tanjakan tanpa gowesan.  Tante Yunengsih sudah di depan, dia tidak mengoper gigi sepertinya.  Hanya mengikuti turunan apa adanya.  Jadi saat tenaga dorongan dari sisa turunan habis dia tidak usah over gigi lagi. Saya yang sudah kadung over gigi, ternyata gaya dorong sama saja dengan Tante Yunengsih akibat curamnya tanjakan. Hanya beda sedikit. Paling 2 meter saja di belakang Tante Yun.  Terkejut!  Kalau over gigi pasti akan merusak gigir, dan tidak akan mendapat momentum untuk over gigi yang halus. Akhirnya, terpaksa interval sambil berteriak: “Tante Yuuuuuuuunnnn! Tolong, aku salah over gigi!”  Tante Yun, Cuma bisa ngikik.  Nahan ketawa, karena dia sedang nanjak berat! Alhamdulillah, walaupun paha seperti mau pecah! Tanjakan itu bisa dilewati juga.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 hari mulai gelap. Suara binatang malam mulai ramai. Timbul rasa takut juga.  Tapi karena selama gowes sudah puluhan yang terlewati dan yakin di belakang masih banyak peserta. Kita bertiga terus gowes pelan-pelan. Kang Idham, Kang Baron dan Om Toton tersusul, lalu di depan juga ada Abah Ush yang menunggu rombongan belakang.  Cerita punya cerita, ternyata mereka yang tertinggal di belakang itu sudah dievak semuanya.  Yang tersisa tinggal kita berenam (kalo tidak salah).  Keadaan sudah gelap gulita.  Om Toton menyalakan “petromaks” lampu sepedanya yang terang benderang.  Beriringan menghabiskan sisa trek yang katanya tinggal 5 km saja.

Setelah regrouping peserta jelajah kembali dalam rombongan yang utuh.  Kecuali, Pak Heru sang Kolonel, yang keteteran di tanjakan katanya nebeng ke sebuah mobil pick up pengangkut kayu bakar harus nyasar sampai lebih kurang 35 km!  Saat tiba di hotel, langsung makan malam. Di tengah acara makan malam Amel yang berulang tahun dikerjain oleh panitia.  Yang meminta polisi untuk seolah-olah menginterogasinya.  Saat Amel akan menangis, semua berteriak Happy Birthday! Air teh, sisa makanan, jus, kecap, sambal dan segala jenis sisa minuman mendarat di kepala Amel!

Selesai makan malam, setelah check in tubuh benar-benar habis.  Untuk mengangkat tas saja sampai digusur.  Dokter Monica, yang berjalan tidak jauh menawarkan diri untuk membawakan salah satu tas itu.  Tapi karena sudah dekat kamar, ditolak halus!

Etape tiga, etape yang paling mengesankan.  Karena begitu banyak tanjakan, Alhamdulillah bisa lulus sampai tujuan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s