Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 2)

Etape Kedua (119 km) : Rantau – Tanjung


Walaupun badan kurang segar karena kurang tidur akibat, AC kamar yang rusak.  Jam 04.00 pagi terbangun dan langsung mandi. Sepintas memegang pakaian yang kemarin dicuci. Tidak kering memang tapi cukup untuk dimasukan tas sehingga tidak berbau. Pukul 05.00 sarapan sudah disiapkan berupa nasi bungkus berisi nasi kuning.  Lengkap dengan telur rebus bumbu rendang dan tempe goreng bumbu pedas.  Mengingat perjalanan yang masih jauh.  Tidak berani memakan makanan yang pedas.  Telur rebus hanya dimakan bagian dalamnya saja yang tidak pedas.  Sedangkan tempe gorengnya yang super pedas, tidak disentuh sedikitpun.

Pukul 06.00 rombongan yang menginap di wisma Mecca harus kembali ke jalur kedatangan kemarin sejauh 3 km.  Menjemput rombongan yang menginap di wisma lain. Setelah peregangan dan berdoa bersama.  Kelima puluh goweser bersemangat menuju ke tempat Bupati, Kalimantan Selatan, Arifin Arpan. Tempat dimana kemarin salah tempat finish!

Sambutan Bupati Tapin sangat luar biasa, tidak hanya memasang spanduk selamat datang terhadap para peserta jelajah. Tetapi para goweser dipersilakan untuk sarapan dengan mencicipi makanan khas Tapin. Sangat senang sekali saat tiba di titik start disuguhi sarapan berupa kuliner khas Banjar yaitu Lontong, nasi kuning, pundut nasi dan bubur ayam serta telur jaruk.

Setelah acara seremonial.  Tim jelajah dengan ditemani lebih dari 20 pesepeda dari beberapa komunitas pesepeda di Tapin kembali melaju menuju perbatasan kabupaten. Hawa pagi itu terasa sejuk membuat tim jelajah sangat nyaman melaju di jalan Trans-Kalimantan yang beraspal hotmix mulus. Di depan masih Om Aris ditemani Om Ismet menjadi pembuka angin. Diikuti para Srikandi Teh Gia, Indah, Amel, Endi, Yunengsih, Tika serta goweser pria mengayuh dengan putaran tetap. Kecepatan masih sekitar 28-32 km/jam.  Diantara para Srikandi, tentunya Teh Gia yang paling senior selalu di depan.  Mengingat jam terbangnya jauh di atas Srikandi lainnya! Kalo kata Indah yang orang betawi. Teh Gia mah kan udah Bangkotan!

Sebenarnya pemandangan di sepanjang jalan cukup menyejukan karena berupa hamparan sawah. Tapi karena konsentrasi penuh pada putaran kaki dan kecepatan yang tetap. Sepertinya tidak semua bisa menikmati pemandangan tersebut. Di Kandangan, ibu kota Hulu Sungai Selatan, peserta jelajah rehat sejenak.  Untuk mencicipi dodol asli Kandangan, penganan khas daerah setempat  yang terbuat dari ketan.  Rasanya terlalu amat sangat manis. Jadi kurang suka.

Saat sedang gowes asyik masyuk di jalan mendatar dengan kayuhan yang pasti.  Om Imam sepertinya mulai kelelahan.  Terpaksa disalip, sambil pamit: “Om Imam, aku duluan ya!”.  Tak sampai 30 detik saya menyusul Om Imam tadi.  Tiba-tiba teman di belakang saya. Entah siapa. Berteriak. Ada yang jatuh! Tadinya mau berhenti.  Tapi yang lain berteriak lanjut saja.  Biarkan ada tim medis di belakang! Tim jelajah terus melaju. Perasaan harap-harap cemas, dan tidak nyaman. Menghantui tim jelajah.  Semua terdiam.  Tidak ada celetukan apapun. Khawatir terjadi sesuatu dengan teman yang jatuh tadi.  Menurut informasi yang jatuh Om Imam yang coba didorong oleh Om Putra Daulay.  Entah bagaimana kejadiannya mereka berdua jadi terjatuh.

Sebenarnya di etape kedua ini rombongan sempat dibarengi Bupati dan Wakil Bupati Tapin serta komunitas hingga di perbatasan Kota Tapin. Tapi keikutsertaan Bupadi dan Wakil Bupati justru membuat kecepatan tim jelajah jadi bawah kecepatan rata-rata jelajah  yaitu 25-35 km/jam.  Tuan rumah mengantarkan rombongan hingga km 15. Rombongan lalu rehat sejenak di SPBU untuk member kesempatan buang air kecil, setelah itu perjalaman pun dilanjutkan di tengah udara yang tidak terlalu panas dan jalan yang cukup rata.

Di km 70, Om Heru dan Om Santa menyerah dan masuk mobil evakuasi.  Mungkin karena kelelahan karena kecepatan ditarik oleh Om Aris sampai 32 km/jam (Om Aris bilang bahkan di pedometernya sampai 35 km/jam!). Biar tidak membosankan, ujar Om Aris dan Om Marta lagi. Untuk goweser yang tak terbiasa dengan kecepatan tinggi dan tidak menggunakan cadence atau malah menggunakan power justru akan membuat napas ngos-ngosan. Mangap!

Untuk menghibur dan supaya tidak membosankan di jalur rolling dan flat seperti itu.  Om Marta Mufreni sang pelatih.  Dengan sepeda single gear-nya beberapa kali melakukan aksi akrobat.  Jumping dan interval sambil melakukan aksi bunny hop di samping kiri jalan yang tidak rata dan banyak lubangnya. Aksi Om Marta cukup menghibur, dan membuat tim jelajah bersorak ceria!  Sempat terpikir aksi Sarimin yang pergi ke pasar naik sepeda sambil bawa payung.  Untunglah Om Marta melakukan aksinya tidak sambil bawa payung juga! :p

Cuaca siang yang mendung sangat membantu peserta dalam melahap rolling di sisa rute sebelum makan siang di Wong Solo, Balangan.  Rumah makan yang katanya di Jakarta sudah banyak yang tutup karena diboikot oleh ibu-ibu yang anti poligami tersebut pelayanannya kurang sreg.  Saat tiba, air mati, listrik mati juga.  Bahkan, untuk sholat di mushola tidak ada sarung! Padahal sudah meminta kepada pelayan rumah makan sampai 4 kali!  Untunglah Om Endang, bawa sarung.  Jadi bisa ngerental untuk sholat dhuhur.  Walaupun harus antri cukup panjang.  Untuk wudhu, karena air tidak  mengalir.  Om Endang dengan ikhlas mengangkat botol gallon aqua yang berisi air refill agar yang lain bisa berwudhu.

Setelah melahap menu makan siang, sempat menemui Om Putra yang terjatuh tadi di luar sisi kiri rumah makan.  Om Abeng, sedang menasihati Om Putra agar dioperasi saja, karena menurut hasil rontgen bahu kanan Om Putra patah.  Hanya bisa mengucapkan turut prihatin, dan berdoa semoga lekas sembuh. Om Putra tampak sangat terpukul, mata dan mukanya tampak bengkak. Ada luka gores di matanya.  Bertelanjang, tangan kanannya digendong dengan holder kain biru.  Sepertinya dia menahan rasa sakit.

Setelah menemui Om Putra, langsung menemui Om Imam. Kondisinya tidak jauh berbeda, walaupun tidak separah Om Putra.  Sepertinya Om Imam juga sangat terpukul dengan kejadian tabrakan tadi.  Dadanya dibalut plester. “Sakit di dada”, kata Om Imam.  Sekali lagi hanya bisa berdoa dan memberikan semangat!

Dalam dua hari tiga rute jalur Kabupaten sudah dilewati oleh tim jelajah mulai dari Tapin, Kandangan dan Balangan.  Saat memasuk Balangan, mulai menikmati gowesan karena jalur yang menanjak.  Tetap dengan kayuhan ngicik.  Tidak menggunakan power.  Banyak juga yang ngebut dan menyalib di tanjakan tersebut.  Tapi tidak terpancing, tetap dengan gowesan bawaan dari Garut. Ngicik.  Sesuai saran dan tauziah sang Road Captain Kang Coe dan Abah Ush.  Jangan terpancing di tanjakan! Tetap dalam putaran gaya sendiri.  Alhamdulillah, gak ada masalah.  Cedera lutut yang menghantui dietape pertama. Perlahan mulai hilang. Mulai percaya diri.  Tapi tetap tidak berani mengumbar tenaga.  Harus tahu diri, selain karena lulut pernah cedera juga baud hanger RD yang cuma nempel doang!

Jalur masih menanjak saat tim jelajah menyelesaikan etape dua ini.  Tanjakannya tidak terlalu curam cenderung landai dan tidak terlalu curam seperti di Bandung atau Garut.  Tanjakannya masih relatif mudah bagi tim jelajah yang mayoritas sudah kenyang makan asam garam. Mulusnya jalan mengakibatkan tim jelajah dapat melewati tanjakan itu tanpa mengalami kesulitan sedikitpun. Kecuali untuk beberapa srikandi dan yang berat badannya terlalu maxi mereka kudu didorong oleh para Marshal yang lumayan cukup kerepotan mendorong mereka.  Di etape ini yang dievakuasi tetap dua orang tapi dengan orang yang berbeda. Karena Om Santa kembali gowes selepas makan siang. Digantikan oleh tante Endi yang harus evakuasi karena lecet ….

Setelah hampir 9 jam lebih mengayuh pedal dari Kabupaten Tapin.  Akhirnya kelima puluh tim jelajah tiba di kabupaten terujung Kalsel.  Diiringi goweser dari Barabai dan beberapa goweser dari Tabalong yang menyambut di perbatasan kabupaten. Rombongan tiba di Tabalong sekitar pukul 14.25 wita dan langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tim jelajah mengakhiri etape kedua di Hotel Jelita, Tanjung, Kalimantan Selatan. Tanjung adalah kabupaten perbatasan dengan Kalimantan Timur.

Karena konon malam ini akan ada malam ramah tamah dengan jajaran Pemkab Tabalong, KONI Tabalong, komunitas sepeda Tabalong dan pers. Setelah mencuci jersey dan pakaian dalam.  Setelah sholat Isya.  Kelima puluh orang anggota tim jelajah plus tim pendukung menuju pendopo untuk makan malam dan audisi dengan Bupati Tabalong.

Makan Malam jadi Makan Angin

Sambil menunggu makan malam, saling kirim pesan via SMS dan WA.  Isinya, pokoknya saling PHP kalo malam ini akan makan besar.  Karena akan dijamu bupati.  Pasti disediakan buah-buah lokal, seperti langsat, buah duren, buah lai dan lain-lain.  Pasti ada makanan tradisional yang tentunya akan memuaskan lidah dan perut kita.

Tiba di pendopo ternyata Bupati belum datang, yang hadir baru staf dan ketua KONI (katanya).  Bupati tidak dapat hadir karena harus menghadiri acara yang tidak dapat ditinggalkan, kata stafnya.  Rombongan pun dipersilakan makan malam.  Karena sudah amat sangat lapar.  Tanpa diminta dua kali. Langsung menuju meja parasmanan.  Menunya nasi putih satu termos, soto banjar, dan sate serta buah melon dan semangka. Semua makan dengan lahap dan pasti dengan porsi yang cukup besar.  Tak menyangka seorang pun. Kalau makanan yang ada di meja makan itu adalah yang pertama dan terakhir.  Tidak akan ada tambahan makanan.  Akibatnya, saat peserta yang makan baru sekitar 20an orang. Makanan di atas meja sudah tandas.  Peserta yang belum makan terpaksa makan angin.  Untunglah tim Kompas sangat tanggap.  Dengan berbisik, takut menyinggung tuan rumah.  Yang belum makan, nanti dikirim nasi kotak di hotel ya!

Karena mata sangat mengantuk dan bupati dipastikan tidak akan hadir.  Saat disajikan video profil kabupaten Tabalong.  Mengajak Om Baron dan Tante Endi untuk pulang duluan.  Tapi di pintu dicegat oleh Om Janes. “Mau kemana? Kan acara belum selesai?”.  Om Baron dan Tante Endi, spontan menjawab; “Lapar Om, gak kebagian makanan!”.  Om Janes sepertinya maklum; “Ya, sudah silakan pulang ke hotel.  Nanti di hotel ada nasi kotak ya!” Padahal mah rasa kantuk yang luar biasa yang gak bisa diajak kompromi bukan karena lapar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s