Sulit Salut Sang Kopral Koprol

Sendiri tegak berdiri, membisu

Hitam kelam batang, kering ranting yang kerontang

tidak menjadikan sang cemara patah semangat

Di balik keringkihan, tertanam api yang tak pernah padam

…..

Saya lebih suka menyebut pohon cemara yang sudah mengering itu “Pohon Kejujuran”.  Pohon cemara, satu-satunya yang tersisa.  Tak lagi berdaun, bahkan ranting tersisa pun tinggal beberapa saja. Tampak sangat kontras, dengan hijau perkebunan teh yang tersebar di punggung gunung Papandayan sebelah selatan.

Pohon itu ibaratnya, personifikasi orang-orang yang jujur di negeri ini.  Orang jujur, disingkirkan. Disikut, diinjak, bahkan diasingkan.  Tubuhnya kurus kering, tak berteman. Apatah handai taulan.  Semuanya menjauh, karena kejujuran dianggap hal yang tabu.  Benteng kekokohan dan kekukuhan semangat mempertahankan idealisme prinsip kebenaran. Musnah tergerus tipisnya keimanan dan kehausan akan kehidupan fana.

Tak bosan, rasa ini menatap jati diri tubuh pohon cemara yang telah mengering. Setiap kali mengayuh pedal ke arah perkebunan Cisaruni.  Dipastikan saya akan berkata: “Pohon itu personifikasi orang yang jujur om!”.  Bagi orang lain, mungkin pohon itu biasa-biasa saja. Tak berarti apa-apa.  Tapi dibalik, kehampaan dan kekelaman bentuk dan warna tubuh sang cemara.  Tersimpan semangat untuk tetap mempertahankan jati diri.  Sebagai mahluk Tuhan, yang senantiasa untuk terus bertahan dan berjuang hidup.  Meskipun bagi tumbuhan lain, mungkin dia tidak dipandang sebelah mata.

13 September 2012, mengantar group GOWEL- GULAT-16 (menurut kang Mumuh, GOWEL singkatan dari Goweser Bawel. Tapi beliau tidak menyebut kepanjangan dari GULAT.  Yang jelas pasti bukan, karena mereka atlit gulat).  Bersama mereka kembali ke Perkebunan Cisaruni, afdelling Papandayan. Tiba di Desa Sumbadra sekitar jam 09.30. Nama yang unik,karena mengingatkan kita pada istri Arjuna, Dewi Sumbadra.  Di sekeliling Papandayan sebelah selatan.  Semua bukit, hutan dan desanya dinamai dengan nama-nama dari dunia pewayangan.  Pasir Tumaritis, Gunung Semar, Gunung Arjuna serta nama-nama lain dari dunia Pandawa ada di sana.  Kalau mau, itu bisa kita telusuri sekaligus sambil gowes.  Yaitu mulai dari Pintu Angin, Kawah Papandayan, tembus ke Cileuleuy. Putar balik ke Stam Platt, masih afdeling PTP VIII.  Sejauh 130 km! Mau?

Agar otot kaki tidak mengalami keram.  Berdasarkan pengalaman, maka unloading dilakukan lebih kurang 5 km sebelum pintu Sumbadra.  Sepertinya itu kurang membantu juga, karena jalannya berupa turunan dan hotmix mulus.  Jadi walaupun tidak digowes, sepeda akan melaju.  Tapi, minimal telah berusaha :p

Menapaki tanjakan awal, saya sudah wanti-wanti untuk menghemat tenaga.  “Jangan dipaksakan,  treknya masih sangat jauh.  Dorong ajalah!”, ujar saya kepada grup Gowel yang berjumlah 7 orang.  Jujur, sebagai RC.  Saya agak, degdegan.  Karena Kang Mumuh, sudah SMS bahwa salah seorang dari mereka ada yang menderita kencing manis.  Hampir 8 tahun saya juga berjibaku, mengurus almarhum Sang Bunda, yang semasa hidup juga menderita hal yang sama.  Makanya, cukup faham dengan berbagai kelainan, resiko dan gejala yang dialami bila kelebihan atau kekuranga gula darah yang dialami penderitanya.

Pada awalnya, sama sekali tidak disangka. Penderita DM itu adalah, Kang Gifnie.  Yang selama gowes, selalu berada di belakang saya. Otomatis dia selalu berada di depan teman-temannya.  Tidak ditanjakan, tidak diturunan bahkan 85% jalan datar harus rolling beliau terlihat sangat fit.  Saya baru “ngeh” setelah memberanikan diri bertanya kepada Kang Nu’man Djakartaria, eh Djakaria, yang selalu berada di belakang Kang Gifnie. Hal itu saya lakukan, karena teramat khawatir, setelah perjalanan yang cukup lama dengan jarak yang cukup panjang serta kontur medan yang turun naik.

“Kang, ari nu gaduh DM teh saha nya?”, ujar saya setengah ragu.  Karena takut salah ucap.  Tapi lebih baik salah ucap, daripada salah langkah.

“Muhun, Abdi…!”, jawabnya.  Hah??? Namun tanda tanya itu hanya tersimpan di dalam hati.  Yang timbul, malah rasa kagum yang teramat besar.  “Gila, dalam kondisi punya DM.  Tapi kondisi tubuh bisa full dan fit menjelajah trek Cisaruni.  Ternyata orang itu adalah, gegedug alias ketua suku dari Group Gowes-Gulat16.  Rasa hormat dan salut, yang tidak tergambarkan mengalir begitu saja dalam diri.  Saya ingat betul, almarhum Bunda saya akan pingsan. Bahkan mengalami comma, saat gula darahnya terlalu rendah atauh saat gula darahnya terlalu tinggi.  Tapi Kang Gifnie, bisa mengatur dan mengukur kondisi dengan tepat.  Sehingga kondisinya prima.

Beberapa kali, ritme gowesan yang biasanya cepat. Saya atur sedemikian rupa sehingga, mungkin tidak disadari oleh rekan-rekan waktu itu.  Bahwa, sesungguhnya saya mencoba mengatur jarak dan kondisi agar tidak terlalu terkuras.  Pada waktu rolling, cadence diperlambat.  Atau bila terlalu cepat, dan rombongan tertinggal saya berhenti.  Memberi komando, “regrouping” atau bila tidak sambil gowes berteriak ke belakang “rapat!”.

Cisaruni adalah medan yang unik.  Konturnya turun naik dengan permukaan makadam khas perkebunan, rumput tebal, single trek tanah.  Tanjakan dan turunan yang curam dengan segala rintangannya.  Dipastikan akan cukup membuat fisik terkuras

Terbukti.  Kang Danke alias Daboy, selama di dalam L300 yang me-loading sepeda.  Mengutarakan keraguan dan kekhawatirannya.  Sebelum berangkat, Kang Asep Sutiana dari Cilegon yang juga pernah menikmat buaian dari Desi Ratna Sari alias Cisaruni ini. Sempat bertanya, “Maneh, bener milu Dang?  Teu salah?”

Kang Danke, sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.  Mulanya, saya menyangka beliau yang punya penyakit DM.  Kepasrahan dan fostur tubuhnya yang ceking serta gowesannya, lemah gemulai.  Kemayu.  Mirip si Olga Syahputra…Oke, no problem kalau begitu.  Dipastikan dia akan di asuh oleh Kang Asep Tebe, si Tuur Kuda, sang sweeper bersertifikat dari KGC.  Keyakinan saya, bertambah saat ditanjakan awal.  Om Danke, sudah mendorong sepedanya.  Padahal yang lain masih mampu sampati setengah dari tanjakan.

Sebenarnya, melihat mental dan cara gowes group Gowel ini. Saya yakin, mereka dipastikan akan bisa menaklukkan tanjakan awal “Apanya Dong” Euis Darliah.  Demi menjaga kondisi agar tidak terkuras. Setengah melarang, selaku RC, tak segan mengingatkan,  “Jangan dipaksakan, dorong aja…perjalanan masih jauh!”, teriak saya berkali-kali.  Tapi, acungan jempol patut di berikan.  Beberapa dari mereka, berhasil mencumbu si Euis Darliah dengan digowes.  Bukan main!  Kalau, si Tuur Kuda alias Asep Tebe mah gak usah disebut hehehe…

Baca Ayat Kursi

Tiba di puncak tanjakan sekitar jam 10.30.  Hampir satu jam mencumbu tanjakan pertama.  Satud demi satu muncul dengan mulut mangap atau megap-megap kehabisan oksigen. Kang Cecep yang saya tanya, bahkan teramat sombong untuk menjawab.

Aneh, naha nya fisik jeung nafas bet beak?” Kang Gifnie, Kang Cecep, Kang Nu’man, Kang Mumuh yang juga datang belakangan saling melontarkan pertanyaan yang sama.  Mungkin karena tidak pemanasan, mungkin karena ketinggian (1300 mdpl), mungkin karena cuaca yang panas, serta berbagai analisa muncul.  Dalam hati, saya mulai menghawatirkan kondisi Kang Dadang (yang saya sangka DM), belum juga muncul.  Tapi selama ada baby sitter sekelas master Asep Tebe saya tidak khawatir.

Tidak lama, mereka berdua kemudian muncul dari balik tanjakan. Kang Dadang, dengan nafas ngos-ngosan, mulut terbuka. Mangap! Langsung ngedumel,  “Aneh euy…sapedah teh tadi asa beurat.  Ceuk Kang Asep, kudu maca Ayat Kursi bisi aya nu nangkod dina sapeda. Jadi beurat! Urang maca ayat kursi. Angger we sapedah teh beurat!!!“.  Yang punya saran, malah ketawa!

“Heueuh sarua euy…aneh sapedah urang oge asa beurat!”, kang Cecep menimpali.  Ternyata setelah dicek, rante sepedanya kering. Ya, iyalah… :p  “Engke we, di warunglah. Minta minyak jalantah!“, ujar saya.  Terserah mau dipake minyak rambut boleh, mau dipake minum juga boleh🙂

Pasca tanjakan pertama, perjalanan dilanjut menuju tower “aneh”.  Disebut aneh, karena kemanapun kita gowes.  Sepertinya tower itu mengikuti dengan jarak yang tidak juga menjauh. Tanjakan ringan cukup membuat fisik kembali terkuras.  Tiba di tower Kang Gifni, tetap finish kedua. “Silakan nanti, foto2 dulu di sini Kang.  Viewnya cukup bagus!” Ujar saya. Pemandangan di Cisaruni memang keren, walaupun sedikit berkabut.  Kalau, dalam cuaca cerah, ombak pantai Ranca Buaya bisa terlihat.  Bahkan puncak Papandayan seperti bisa diraih dengan tangan.

Satu demi satu, rombongan tiba. “Kang, ini teh jalannya lurus terus?”, begitulah ucapan yang keluar dari mulut mereka.  Setiap goweser yang tiba di bawah tower. Dipastikan bertanya begitu.  Karena, tanjakan makadam, tanjakan lurus.  Sangat panjang, terbentang di depan!

“Sebenarnya bisa, tapi akan terlalu panjang waktunya.   Kita ambil pintas ke kanan.  Turunan!”, jawab saya.

Setelah beberapa kali foto keluarga dan melakukan aksi narsisme.  Perjalanan dilanjut.  Turunan, lumayan cukup menghibur.  Tapi langsung nanjak lagi, tanjakan ringanlah.  Namun, diakhir tanjakan.   Kembali, harus TTB. Karena single trek berupa tanjakan sampai di rumpun bambu.  Dari rumpun bambu, masih single trek tanjakan ringan di tengah perkebunan teh. “Anu lasut dina tanjakan ieu, Burut!

Tanjakan ringan yang sekitar 500 meter itu persis di belakang tower, dimana tadi rehat sambil foto-foto.  Kesimpulannya, tower itu selalu mengikuti🙂

Akhir dari tanjakan adalah, good view.  Tampak “Pohon Kejujuran” semakin habis rantingnya.  Sepi, sendiri…diantara hijaunya perkebunan teh.  Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh.  Nun jauh di atas sana, langit biru dan arakan awan menemani sang jiwa untuk berdzikir ke hadiratnya.  Kelokan jalan raya, yang tadi terlewati mirip liukan ular.  Panjang menghitam, diantara perumahan penduduk yang masih jarang.

Koprol sang Kopral

Perjalanan dari Pohon Kejujuran menuju pit stop pertama lebih kurang akan memakan waktu 30 menit. Pit Stop tersebut adalah kampung Cisaruni, tepatnya di sebuh mesjid.  Single trek di tengah perkebunan.  Ditepi barisan bukit kecil. Turunan dan tanjakan ringan, dengan kondisi rumput tebal silih berganti.  Cukup membuat semangat para GOWEL-ers kembali terpompa. Pak Hifni yang membawa kamera, disarankan untuk mengambil gambar saat rombongan melewati single trek ini.  Karena sangat bagus untuk diabadikan. Di Tanjakan Tabah yang sebenarnya pendek.  Tapi karena ditutupi rumput yang cukup tebal.  Gowesan menjadi sangat berat. Alhamdulillah, semua GOWEL-ers menamatkan tanpa masalah.  Kembali Kang Gifnie masih finish di belakang kedua.  (Suwer, sampai di sini pun gak menyangka seujung rambut pun. Kalau yang menderita DM itu Kang Hifni! ).

Tapi bagi, kang Dadang tanjakan seperti ini pun tetap dijalani dengan penuh istiqomah melakukan Matador! alias manggih tanjakan dorong binti DH (Disurung Heula).  Istilahnya, tawadhu, berjalan sambil menunduk tanda tak sombong.  Sekaligus, tadabur alam. mensyukur kehidupan sambil berdzikir…ya katipu, ya katipu, ya katipu…ya leuleus euy!

Tiba di mesjid pukul 12.05 sedikit meleset dari perkiraan. Tapi tidak apa, cukuplah.  Untuk rehat. Makan siang dan solat dhuhur.  Di lantai mesjid. Seperti biasa, tampak sang “merebot” yang sudah udzur dengan baju lusuhnya sedang duduk.  Melihat ke arah saya.  Wajahnya yang sudah keriput, tidak jauh lusuhnya dengan kondisi bajunya.  “Assalamu’laikum…bade ngiring leleson sareng netepan Pak!”, ujar saya memberi salam.
“Muhun…mung caina garing, kedah ka lebak!” ujarnya.  Saya sudah mafhum, karena sudah hampir 6 kali sholat di mesjid ini.  Anehnya, di rumah yang dijadikan tempat berwudhu itu.  Selang air segede pohon pisang, mengalirkan air dengan derasnya.  Bahkan air jernih dari mata air itu, dibiarkan terbuang sia-sia!

Tidak lama, satu demi satu rombongan muncul.  Yang aneh, tampak seorang yang berbadan tegap dengan potongan rambut ala tentara.  Jersey putih, helm dan bagian bahunya penuh dengan tanah kering! “Tadi mah, sanes geubis. Tapi latihan koprol…!” Ujar si Kopral menceritakan alasannya melakukan koprol sehingga bajunya kotor.😛 ditimpali dengan ledekan dan  ledakan tawa para Gowelers…

Medan Sulit, Salut ditaklukan…

Setelah minum kopi dan beristirahat serta foto bersama di depan pabrik teh Cisaruni.  Perjalanan dilanjut, diingatkan turunan tajam. Makadam, kemudian langsung belokan tanjakan curam makadam juga. Alhamdulillah, semuanya lulus di tanjakan ini.  Tapi, di puncak tanjakan kembali harus menunggu. Kang Danboy…alias Dadang Geboy, bersama soulmate sang pengasuh.  Setelah regrouping, langsung menghajar turunan tajam.  Single trek tanah, lebih kurang 500 meter. Belok kiri, tanjakan single trek tanah. Turunan tajam. Nanjak lagi, single trek tanah dengan debu yang tebal.  Sekuat apapun digowes, ngesot juga.

Turunan makadam, cukup panjang.  Dilahap tanpa hambatan. Kecuali, bagi Kang Cecep dan temannya yang masih menggunakan sepedah HT.  Dipastikan tangan kesemutan, karena getaran ban serta pantat yang serasa jadi daging cincang.  Tinggal diberi bumbu cabe dan kecap dipastikan jadi sarden pantat! (Kang Cecep, jangan kecil hati.  Selama langit masih biru. HT pasti akan kuat…kuat ka genjur awak!)

Diturunan makadam yang berakhir di kantor kecamatan, salah seorang nyeletuk:

Sapedah meni ledeg kieu euy!”

Enya, kudu langsung dimandian…diservis!” jawab goweler yang lain

“Pake T2M, kalau ingin bersih mah.  Gampang tinggal disemprotin.  Langsung bersih!” Ujar saya menimpali.

“Naon ari T2M teh kang?” ujar goweler lain.

Tai 2 Ember!” timpal saya, serius.  Semua tertawa…sambil nunjuk ke Kang Cecep (lagi).

Turunan dan tanjakan single trek di tengah perkebunan saling berganti.  Bahkan, tanjakan Aura Kasih 1, bisa ditaklukan oleh para gowelers dengan baik.  Seperti yang dijanjikan setelah rehat di Pit Stop 2 sebuah warung kecil.  Menu selanjutnya adalah, ketahanan mental, ketahanan putaran kaki dan keseimbangan badan. Salah satu dari ketiganya tidak lengkap.  Pasti terjatuh atau terpeleset.  Karena single trek ini, hanya sebesar pematang sawah. Di sebelah kiri irigasi, sebelah kanan jurang 2-3 meter!

Selama gowes di depan, saya selalu mengontrol kondisi Kang Gifnie. Waktu di jalur ini, sudah “ngeh” justru sang maestro yang DM.  Saat, beliau berhenti dan menyuruh Kang Numan Djakaria menggantikan posisinya ke depan.  Saya mulai khawatir.  Tapi, saat ditanyakan pada penggantinya.  Tidak masalah, Pak Giffnie cuma keder dengan kondisi medan.  Sepanjang trek ini, mata, pikiran dan gowesan kaki harus mantap.  Meleng sedikit, dipastikan terjatuh.

Pada saat berhenti, menunggu rombongan tiba. Sesekali saya menggoda, memanggil nama2 mereka.  Tapi, tak satupun yang berani menoleh.  Semuanya gowes sambil tafakur, khusu!  Coba kalau sholat, khusu seperti waktu  gowes seperti ini ya! Niscaya Inna sholata tanha, ‘anil fahsyai wal munkar, akan terbukti. Negeri ini akan gemah ripah loh jinawi…

Trek segera berakhir setelah melewati, hutan bambu. Sepeda kembali harus didorong. Tembus di sebuah jalan beton. Tanda-tandak fisik mulai melemah, tampak dari Kang Muhdi.  Yang entah kenapa, kudu terjatuh dua kali di tempat yang sama! Padahal jalan datar😛 Sepertinya, dia ingin punya adik lagi hehehe…

“Masih jauh Kang?” itulah pertanyaan yang sama, yang selalu keluar di saat tiba di turunan berupa beton ini.  “Sebentar lagi, paling setengah jam lagi tiba!” kata saya.  “Alah, mun si kang Deny nu ngomong moal percaya.  Berarti tilu jaman deuilah…” celetuk mereka :p

Dibanting Aura Kasih

Tanjakan terakhir single trek adalah, berupa tanjakan pendek tetapi sangat curam dan berdebu tebal sehingga sulit untuk ditaklukkan.  Saking penasaran, setelah melihat Kang Gifnie berhasil dalam sekali kayuhan tiba di atas.  Para gowelers bergantian, dua tiga kali mencumbu tanjakan Aura Kasih itu.  Jauh dari berhasil, bahkan dua orang dibanting KO oleh Aura Kasih! Saya mah, cari aman saja…saat ngesot.  Ya dorong ajalah. Rasional…wkwkwk…!

Alhamdulillah, tidak jauh dari perkiraan. Finish di Alun-alun Cisurupan jam 16.30 tepat!  Saya dan Asep Tebe langsung pamit, untuk gowes ke Garut.  “Hah? digowes lagi?” tanya Kang Dadang.

“Iyalah, sebentar koq cuma 19 km turunan. Paling setengah jam sudah tiba di Garut!”  Setelah pamitan dan bersalaman dan bertukar nomor hape.  Langsung meluncur.  Tiba di rumah tepat jam 17.00 berarti kurang dari setengah jam! Maklum ngebut, karena langit teramat gelap. Tanda hujan lebat segera tiba!  Alhamdulillah sampai di rumah tidak hujan🙂

(salam salut untuk Kang Muhammad Gifnie, yang walaupun menderita Diabetes Melitus, tapi mempunya kondisi fisik yang prima. Mengingatkan saya pada cerita ini http://travel.kompas.com/read/2012/09/25/10192030/Ayo.Bersepeda.ke.Ujung.Kulon )

4 thoughts on “Sulit Salut Sang Kopral Koprol”

  1. Ternyata anda punya bakat juga menulis cerita,saya merasa terhanyut suasana goesan .cerita yg tak membosankan dgn istilah* lucu .Sangat menghibur.nuhun sudah berbagi cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s