Saat Cemen terkena Jebakan Betmen

Saat telunjuk mengarah ke atas, ke arah lereng Papandayan sebelah selatan. “Itu lokasi gowes kita di  Cisaruni “, ujar saya dari ataskepala truk. Sesaat para Cemen(ers) terdiam, mereka bisik-bisik.  Lalu, tak lama kemudian. Terdengar nyanyian Maju tak Gentar! yang dinyanyikan dengan penuh semangat dan berapi-api.  Saya dengan Asep Tebe hanya tersenyum, geli. Gak ngerti apa maksud mereka menyanyikan lagu perjuangan itu. “Mungkin mereka menenangkan hati, melihat medan Cisaruni …” kata Asep Tebe setengah berteriak, karena kerasnya suara mesin truk dan deru angin.

Tak lama kemudian, nyanyian terhenti. Salah seorang dari Cemen(ers) berteriak:” Kang Deny, truknya bisa langsung naik ke atas gak?!’

“Gak bisa!” ujar saya sambil berteriak juga, sambil memberikan isyarat memakai tangan. Tanda tak bisa. Para Cemen(ers) tertawa getir.  Lalu, mereka kembali bernyanyi Maju tak Gentar sambil berteriak!

Tiba di point start, jam 08.30 persis seperti yang direncanakan.  Setelah ngopi di warung kecil dan checking sepeda serta beberapa orang ada yang buang air kecil atau pemanasan, peregangan. Trek Cisaruni pun segera dicumbu dengan perasaan mereka yang mungkin saya fahami.  Betapa tidak, berulang-ulang mereka mengatakan,”Kita mah, goweser gak suka tanjakan!”

“Kona ya?”, Ujar saya. Maksudnya Komunitas Ogah Nanjak, suatu istilah yang dikenal dalam gowes sepeda.

“Iya…Bener Kang!” jawabnya.  Saya hanya tersenyum. Mafhum.

Sebagai RC saya harus mempertimbangkan kondisi fisik dan mental peserta.  Tidak mudah memang. Bener kata, Om Mahendra pentolan Puncak Explorer yang juga aktif di Cemen Bike.  ” Jadi road captain itu lebih cape, belum fisik yang harus prima. Pikiran juga gak bisa tenang…karena memikirkan peserta di belakang.  Belum mereka yang ngomel-ngomel akibat trek yang tidak sesuai dengan ekspetasi!”

Selama gowes uphill, tersenyum sendiri di tengah nafas yang satu-satu karena jalur makadam yang menanjak.  Gila si Om Dony , ini mah mau inisiasi para Cemen(ers) kayaknya.

Waktu survey bareng Om Mahendra, Asep Tebe dan Om Doni kebetulan sempat mampir di saung. Sempat bingung juga.  Katanya mau survey trek Cisaruni, koq pulang dari Papandayan!  Sesudah itu, Om Mahen ngaplod foto-foto di kawah Papandayan, dan Trek Papandayan yang memang 99% turunan.  Yang pastinya, orang yang melihat akan terbawa aksinya membayangkan meluncur di Papandayan.

Cisaruni adalah trek yang panjang dan semi AM. Bukan trek xc atau downhil seperti di Papandayan.

“Om, bener nih ke Cisaruni? Soalnya treknya panjang!” tanya saya, meyakinkan saat bertemu di base camp.

“Tenang aja, biar mereka tahu trek AM itu seperti apa. Kasihan!” Kata Om Mahen, saat saya menawarkan trek Darajat-Cibeureum-Garut.  Saya tertawa. “Siaplah, kalau begitu hahaha….!”

Tiba di puncak bukit pertama, peserta mulai tercecer.  Karena medan yang cukup menanjak. Bahkan sesekali harus “Bodor” alias boleh dorong.  Rehat sesaat di bawah tower.  Seorang Cemen(er) yang katanya pengantin baru.  Terpaksa kudu, melakukan ritual korek tenggorokan.  Karena perut dan kepala yang pusing.  Maklum pengantin baru.  Biasanya munt*h di malam hari, sekarang kudu munt*h siang hari.

Foto Keluarga sebelum Inisiasi

Sebenarnya 80% tanjakan Matador (Manggih Tanjakan Dorong) itu masih gowesable.  Tapi, mungkin karena terbiasa menikmat turunan dan jarang menikmat tanjakan.  Maka jadi terasa berat, bahkan sangat berat. Anehnya, kalau padahal malam hari dipastikan, para Cemen(ers) ini pasti doyan menikmati tanjakan daripada turunan xixixi…

Sambil regrouping, masih tampak keceriaan. Nafas masih satu-satu, tapi narsis sana sini tetap mode on.  Menikmati panorama perbukitan yang indah.  Ada yang peluk sepeda, ada yang tolak pinggang, ada yang berdua, bertiga dan foto keluarga. Pokoknya aneka perilaku alay bin lebay masih okeh! Bahkan ada foto ala cubi-cubi…telunjuk ke pipi sambil senyum manis ala dorce! Kata peribahasa Sunda mah, imut kanjut! :p

Pasca tanjakan kedua, di tengah perkebunan teh papandayan.  Menurut informasi Asep Tebe si sweeper bersertifikat, malah ada yang gelar tikar dan tiduran.  Kelelahan dan setengah megap-megap, seperti ikan kurang air.  Siapa ya? Hayo ngaku!

Sementara peserta yang di depan.  Asyik berfoto ria, di depan Pohon Kejujuran. Karena lama menunggu gak nyampe juga.  Akhirnya, pindah ke sebuah pohon satu-satunya di sekitar situ.   Jadinya seperti rebutan keteduhan pohon itu.  Sambil bercanda ria, dan merupakan ajang untuk berdialog sesama ahli” jamiatul hisab” alias perokok😛

Cukup lama juga, menunggu rombongan yang tercecer di belakang.  Setelah lebih kurang 20 menit.  Rombongan “De Bodor” pun muncul dari balik kerimbunan teh.  Tampak, kelima orang itu mulutnya mangap! Megap-megap cari oksigen, yang katanya hilang entah di mana.

Penuh Bodor dan Matador

Setelah rehat sejenak, mulai menikmati single trek turunan.  Tidak bisa dibilang mudah juga.  Karena walaupun turunan, tapi konturnya berupa rumput.  Jadi terasa berat juga.  Lumayanlah turunan itu cukup menghibur.  Tapi…langsung dihajar lagi dengan tanjakan ringan.  Bodor lagi deh…

Matador Bodor

Sebelum tiba di kompleks Pabrik Teh Cisaruni, semua peserta seperti mendapat energi baru.  Semua ngebut, karena makadam turunan dan sesekali menerobos perkebunan teh via single trek tanah. Tiba di mesjid pos pertama.  Salah seorang cemen(ers) seperti kesetanan, langsung memanggil anak-anak yang lagi main bola di sekitar masjid. “Heh, sini, sini…! Tolong beliin teh botol, pake es batu ya! Ntar, elo gw kasih duit.  Buruan…cepetan!”

Harapan tinggal harapan. Ternyata yang datang, cuma air aqua botol. Tapi daripada kehausan. Akhirnya, langsung ditenggak juga penuh nafsu.  Seperti, seorang pelaut yang baru pulang dari pelayaran dan berjumpa dengan istrinya! Setelah itu, makan siang ala Padang.  Hampir, tanpa kata-kata. Semua asyik melahap nasi rames ala padang tersebut.

Selesai sholat dhuhur, rehat dan minum kopi.  Perjalanan mencumbu Desi Ratnasari dilanjut. Tak terlewatkan, foto keluarga di depan pabrik teh Cisaruni.  Konon, teh ini yang terbaiknya malah dikirim ke Jepang.  Sedangkan, yang dikonsumsi di Indonesia adalah yang kurang baik :p

Sudah diwanti-wanti, di depan ada turunan tajam. Makadam.  Cukup berbahaya, bagi yang kurang berpengalaman.  Kemudian menanjak lagi.  Masih makadam. Langsung belok kiri tajam, nanjak lagi.  Sangat.  Hanya orang-orang tertentu yang bisa lulus di tanjakan ini. Konturna makadam, batu tajam. Sehingga, kurang-kurangnya kontrol. Pasti gagal.  Pasca tanjakan.  Langsung turunan single trek.  Tapi, jangan riang dulu. Karena di depan, tanjakan lekukan tubuh dari Desi Ratnasari sudah menanti.  Cukup curam, menantang untuk dicumbu.  Tapi, bagi para Cemen(ers) sepertinya, tanjakan itu adalah hal yang tabu untuk digowes.  Mending jadi “matador” (manggih tanjakan dorong) alias nemu tanjakan dorong!🙂 itu pun dengan penuh perjuangan.

Nanjak melulu, kapan turunannya!

Trek mulai ramah, datar. Single trek di perkebunan teh.  Kemudian, langsung single trek tanah berupa turunan. Datar lagi, nanjak sedikit.  Kemudian turunan lagi. Nanjak lagi. Dan….turunan makadam…cukup panjang.  Seperti berlomba, semua memacu sepedanya dengan cepat.  Pasca turunana makadam yang cukup panjang.  Rombongan kudu berhenti dulu.  Karena pedal sepeda salah seorang cemen(ers) ada yang lepas. Setelah diperbaiki secukupnya, sementara pastinya. Perjalanan di lanjut. Kembali turunan makadam. Single trek tanah perkebunana palawija. Langsung berbelok tajam di sebuah jembatan bambu. Kembali, tanjakan curam dari beton.  Para matador pun kembali beraksi dengan cantiknya hehehe….

Masih single trek, tapi berada di antara hutan bambu. Cukup lama dan membosankan.  Datar tapi memerlukan kesabaran dan ketahanan serta keterampilan shifting dan controling handle bar.  Salah-salah, akan keteteran. Terperosok jurang atau kepala nyangkut di ranting bambu.  Mulai terdengar teriakan kembali: Haaaahhhh….Mana warung! Tolong, ada warung gaaaakkkk!!! Gw haus banget euy!!” Teriakan kelelahan dan kehausan. Serta kebosanan, korban terus-terusan rolling dengan cadence yang cukup cepat.

Untunglah, teriakan terdengar hampir di dekat pos 2.  Yaitu warung kecil, tempat dimana biasa minum kopi dan rehat sejenak.  Tapi sialnya. Warung kopi tersebut tutup.  Akhirnya, setelah rehat sejenak. Langsung menghajar turunan makadam lepas, ditengah perkampungan.  Selanjutnya belok kiri. Sepeda kudu dituntun karena tidak mungkin digowes.  Jalan yang sempir, turunan dan sangat curam.  Tiba di bendungan irigasi.  Ketangguhan, kesabaran dan ketahanan kembali dipertaruhkan sebagai anggota Cemen(ers) yang baik.  Betapa tidak.  Di trek ini, kudu melaju dengan hati-hati. Karena di sebelah kiri selokan irigasi, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang yang cukup dalam.  Kurang-kurangnya hati-hati, dipastikan akan terperosok.  Masih mending selokannya kering, karena musim kemarau.  Kalau pas musim hujan, kita dibuat keder juga. Karena air yang mengalir dan cukup dalam.

Cadence, endurance dan kesabaran diperlukan di sini

Lebih kurang 2 jam, terus melakukan rolling di single trek tersebut. Beberapa kampung terlewati.  Beberapa orang peserta mulai protes.  “Hoiii, warung mana! Mana warung!!”.  Saya ngikik, “Bentar lagi di depan!”.  Jam 15.15 tiba di sebuah jalan kecil. Menemui warung kecil.  Langsung menyerbu mizone, aqua, teh gelas dan lain-lain.  “Kang, kalau ada mah langsung ke jalan raya ajalah! Sudah terlalu cape!” begitu kira-kira yang segera ingin selesai. Om Donny, yang punya hajat pun. Tampak wajahnya sendu, pasca mencumbu Desi Ratnasari. “Om, kira-kira truk bisa disuruh datang ke sini gak?”, ujar Om Donny.  Tampak, ada sedikit (sedikit lho!) perasaan bersalah di raut wajahnya yang mirip artis Deri Derajat!

“Bisa sih, Om…tapi kasihan truknya. Bakalan lebih lama. Soalnya jalannya jelak, dan nanjak.  Terus, kalaupun sekarang dilangsungkan ke jalan aspal.  Kasihan, malahan akan menemui tanjakan yang panjang di daerah Tapal Kuda! Udah deket koq, paling sekitar 4 km lagi!” Ujar saya.

Jebakan Betmen!

Entah, dijanjikan cuma lebih kurang 4 km lagi.  Atau karena sudah minuman berenergi.  Semua cemen(ers) kembali bersemangat.  Sesekali, saya mengajak bernyanyi Maju Tak Gentar atau Garuda di Dadaku.  Tapi, sepertinya semua sudah ‘habis”.  Bahkan, tepat di hutan bambu. Menurut informasi yang dapat dipercaya dari si sweeper bersertifikat Asep Tebe. Pssst….ada yang terkapar, terlentang di hutan bambu hehehe…orang tersebut adalah…(gak usah disebutlah, nanti jadi aib nasional.  SBY bisa-bisa langsung menegur kami, seperti waktu menegur anak2 TK tempo hari di Taman Mini. Kan Gak lucu!)

Perjalanan diakhiri di sebuah jalan beton. Langsung turunan tajam.  Jiaah…semua peserta langsung bernafsu ingin segera meghajar turunan mulus tersebut.  “Sabar, tunggu. Regrouping dulu. Masih ada 6 orang di belakang kita!”  Satu demi satu bermunculan. Seorang diantaranya tampak terpincang-pincang. “Kraaam!” katanya.  Setelah disarankan istirahat sebentar. Salah seorang dari mereka, langsung teriak:”Turunkan seatpost! Turunan tajam!”.  Saya cuma tersenyum penuh arti.  Tidak melarang tidak menegaskan.

Pak Hendro, dari RCC malah menatap saya, yang persis ada di sampingnya.  “Kang perlu diturunkan gak seatpost-nya?” tanya Pak Hendro. “Gak usah Pak! Secukupnya aja. Turunannya, soalnya langsung tanjakan!”, kata saya setengah berbisik.

Dan….wush, wush, wush. Seperti lupa pada RC.  Mereka satu demi satu langsung memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi.  Saya menyusul di belakang.  Persis seperti yang diperkirakan.  Habis turunan. Tampak di atas, para matador sedang bodor dengan langkah tertatih-tatih seperti pengantin baru habis malam pertama😛

Sekali lagi, di sini terjadi hal yang mungkin tidak akan terlupakan oleh Om Ihsan.  Menurut informasi Asep Tebe.  Setelah menuruni turunan yang cukup tajam dan mulus tersebut. Om Ihsan, langsung membanting sepedanya. Ia berguling-guling. Menahaan ketawa, sambil teriak-teriak saking gelinya:” Bwuahahaha… Bwuahahaha….Bwuhahahah….karena turunan tajam! Disuruh nurunin seatpost tahunya Jebakan Betmen menghadang! Bwuahahaha….!!!”

Atas kejadian tersebut, si sweeper bersrtifikat sampai tak kuat menahan geli. Ikut tertawa, sampai keluar air mata serta kulit perut yang sakit. Karena menahan tawa, melihat perilaku Om Ihsan, yang berbadan aduhai, ketawa ngakak sambil berguling-guling!

Jam 16.15…perjalanan mencumbu Bukit Desi Ratnasari, akhirnya kelar. Persis di belakang alun-alun masjid Cisurupan.  Semua menarik lega. Saya membaca sholawat tanda bersyukur.  Karena tidak ada kejadian apapun yang mengkhawatirkan. Zero accident.  Salut, buat all Cemen(ers) yang bisa menyelesaikan trek Cisaruni sejauh lebih kurang 23 km dengan berbagai tantangannya. Sejauh ini baru dua komunitas yang bisa lulus di trek ini.  Yaitu Rodeo Bike dari Purwakarta dan Cemen dari Jakarta.  Yang lainnya rata-rata hanya menyelesaikan 3/4-nya saja😛

10 thoughts on “Saat Cemen terkena Jebakan Betmen”

  1. Kang deny, terimakasih banyak yah,… Cisaruninya top markotop,… Nanti saya mau buka warung di setiap tower yg ada,.. Wªªĸªªĸªªĸªªĸªªĸªª=D=)):p

  2. manstab kang deny…..kangen mau sekali lagi trek Cisaruni…….yang penting “…..Maju ta gentaaar….”. terima kasih ya kang deny…jangan kapok bawa grup Cemen….

  3. mantebbppss kang ulasannya….haturnuhun utk guide nya kemarin yg benar2 membuat para cemen(ers) maju tak gentar melahap cisaruni

  4. TERIMA KASIH BANYAK KANG DENY DAN KANG ASEP TEBE………..usul aja kang ….lain kali jangan terlalu banyak istirahat…..kaki jadi kerammmmm…..kapan kita ulang lagi kang….saya siappppp….?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s