Saat Dada Sesak Tersedak Cinta

Sesaat, seluruh rambut yang menutupi tubuh berdiri.  Keringat dingin deras keluar.  Terus mencoba bertahan untuk tidak turun dari sepeda, dan menggowes.  Nafas dihembuskan kuat-kuat ke atas handlebar, dengan harapan dapat membantu laju sepeda di tanjakan.  Namun apa daya, bendera putih segera harus dikibarkan.  Menyerah. Menyerah untuk menang bukan menyerah kalah.  Bila tidak, bisa terkapar.  Insinyur yang buat tanjakan di Kampung Cinta ini sepertinya terlalu iseng.  Sudut tanjakan teramat curam, tanpa kemampuan teknik dan tenaga yang mumpuni. Mustahil bisa melewati tanjakan yang curam, menikung, dan terus menanjak panjang, menikung lagi dengan tanjakan makin curam.  Karakter tanjakan seperti itu, terus berulang beberapa kali.  Sampai akhirnya, TTB total😦

Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu.  Lelah, kesal, haus, lapar, panas, pegal, khawatir, jenuh, kecut, takut, lucu dan geli serta perasaan tak enak lainnya berkecamuk di dalam hati. Tak bisa lagi digambarkan rasanya!  Diakui atau tidak, seumur-umur mengayuh sepedah. Baru hari Minggu kemarin, merasakan siksaan dari tanjakan Cinta. Tanjakannya, poll!

Perasaan khawatir mulai muncul saat Pa Mastur, yang dikenal raja tanjakan. Sweeper bersertifikat, mengalami kejang kaki. Disusul dengan Om Apen Bathara yang juga harus mengalam keram, kedua kakinya sampai berulang kali.  GPS yang mati, serta waktu yang memasuki magrib.  Sementara kita masih di tengah hutan Talagabodas.  Perasaan makin kecut, saat tanjakan sepertinya tidak ada akhirnya.  Yang lebih bikin pusing, saat di turunan atau jalan datar.  Pedal masih terus harus di gowes.  Entah kenapa😦

Pertama kali berangkat dari Garut kota menuju Kecamatan Sukawening, bisa sprint. Dapat dicapai lebih kurang 40 menit. Memasuki Kecamatan Karang Tengah, jalan mulai menanjak lebih kurang 3 km.  Tanjakannya, diawali dengan tanjakan ringan, cukup curam, dan curam serta menikung. Tes mental mulai di sini.  Yang tidak kuat mental, dipastikan TTB :p.  Di puncak bukit, tampak Gunung Sadahurip yang dihebohkan akan dibor pada Maret nanti, berdiri dengan anggunnya. Dari arah Karang Tengah, Gunung ini dinamai Gunung Putri atau Gunung Aseupan, mungkin karena bentuknya yang seperti payudara atau pengukus nasi tradisional (aseupan).

Memasuki kota kecamatan Karang Tengah jalan sedikit mendatar, kemudian menurun tajam, berkelak-kelok dengan kontur masih aspal mulus.  Lima ratus meter kemudian, kembali menanjak curam panjang lebih kurang 2 km.  Namun tidak terlalu terasa lelah, karena di kiri kanan penuh dengan pesawahan yang hijau ranau.  Di kejauhan tampak bukit dan Gunung Talagabodas.  Namun, pengaturan nafas dan kayuhan sangat diperlukan. Hanya segelintir orang yang bisa terus gowes diantaranya Asep Tebe si Tuur Kuda, Pak Wawan Oyib, Dedi Ecek dan Om Tedi.

Sangat dianjurkan membawa persediaan yang air yang cukup untuk menjajal trek ini.  Tentunya plus dengan makan siang, serta makanan ringan.

Memasuki percabangan jalan beton dengan gapura sederhana menuju desa Cintamanik.  Tampak beberapa orang petani sedang mengolah sawah.  Tanpa henti, sang pria terus mengayunkan cangkulnya meratakan sawah.  Sementara di sawah yang lain, para perempuan asyik menanam padi.  Sambil regrouping, kami membicarakan gunung Sadahurip yang tampak berbeda dari arah Desa Cintamanik.  Sesekali mengambil gambar pemandangan yang redup.  Mendung.  Bahkan, mulai gerimis.  Tapi, Alhamdulillah.  Sampai sore hari bahkan malam hari, tak juga hujan tidak turun.  Gak bisa dibayangkan seandainya, panas terik atau matahari obral.  Dipastikan, semuanya akan terkapar. Kepanasan.

Di kejauhan tampak, Desa Cinta dengan mesjidnya yang unik.  Kecil nampak di atas bukit.  Jalan masih aspal tapi mulai tidak mulus.  Tapi kalau tanjakannya, jangan ditanya. Siksaan dan deraan mulai meminta korban.  Beberapa orang mulai melakukan aksi TTB.  Pasrah menyerah dihajar tanjakan Cinta.  Mencoba memaksakan diri terus mengayuh dengan gir terbesar 10 speed yang baru ganti.  Tak ada pengaruh yang berarti. Bahkan dengan interval sekalipun, tetap tanjakan itu terasa berat sekali.  Akhirnya TTB juga :p

Tanjakan itu berakhir di sebuah kampung, lupa namanya.  Namun, jalan datar hanya lebih kurang 50 meter.  Selanjutnya, nanjak lagi curam, bahkan sangat curam sekali lebih kurang 2 kilometer.  Motor yang melewati kami, semuanya menggunakan gigi satu. Sementara kita yang bersepeda, walaupun dengan “gigi-tekan” alias interval dengan pantat yang melenggak lenggok seperti pantatnya Inul Daranista. Tetap saja tidak bisa melewati tanjakan itu.  Beberapa anak kampung tersebut, memperhatikan kami dengan alis berkerut.  Wajah mereka melongo, dari bibir mereka sesekali terucap: “Sapedahna alus mang euy!”

Pascatanjakan “aneh” tersebut, semuanya mengambil nafas dan rehat sejenak di sebuah warung kecil.  Anehnya, walaupun cukup jauh dari pasar/kota.  Plus bila menggunakan ojeg dari Sukawening ke warung tersebut, ongkosnya Rp.20.000,-.  Harga minuman botol, minuman gelas, dan makanan ringan bisa dibilang standar. Normal.  Lalu darimana yang empunya warung mendapatkan keuntungan?  Entahlah, yang jelas di tempat ini.  Semuanya bisa sejenak tertawa.  Mentertawakan diri sendiri yang disiksa tanjakan Cinta itu.

Setelah dirasa cukup, 20 menit kemudian.  Gowes dilanjut. Langsung nanjak lagi.  Nanjak, nanjaaak, nanjaaaaaaaakkkkkkk nuanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk…..!!!    Lebih aneh lagi, harus TTB nuanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk…di tengah hutan pinus Kaki Gunung Karaha! Lebih kurang satu jam setengah. Beberapa kali bertemu dengan para pencari kayu bakar. Iseng nanya: masih jauh ke puncak? Jawaban mereka selalu sama: “Tebih keneh atuh asep….!”

Beuh, nyesel nanya euy! Mang Apen Bathara kembali keram di sini dua kali kedua kakinya.  Tidak terlalu bisa memantau.  Karena sudah duluan di depan.

Tiba di tempat datar. Sepertinya puncak. Jalan makadam proyek Karaha sepertinya.  Kita rehat di sini sejenak.  Sambil menunggu rombongan belakang yang tertinggal cukup jauh.  Karena lama, akhirnya makan siang duluan.  Lebih kurang tigapuluh menit kemudian, rombongan belakang akhirnya tiba.  Wajah mereka lusuh, lelah seperti tentara kalah perang.  Mereka berjalan setengah tertatih letih.  Teramat letih…! Gupraks…sepeda setengah dibanting, lalu mereka terduduk serempak! Selonjoran dengan wajah pucat pasi :p

Setengah jam kemudian, setelah selesai makan siang dan membakar bungkus nasi agar tidak mengotori hutan.  Gowes dilanjut.  Downhil, makadam jahanam. Batu-batu lepas dengan ukuran diameter 10 cm-30 cm.  Bisa lewat jalan tanah di tepinya.  Tapi beresiko terjerembab ke dalam hutan. Sekitar 2 km kemudian, tiba di wellpad Karaha #2 dan #3.   Jalan makadam tersebut berakhir di jalan aspal tipis, tapi cukup mulus.  Percabangan antara Malangbong-Talagabodas.  Ke kiri menuju Kadipaten Tasikmalaya. Ke kanan, menuju Talagabodas.

Hutan belantara masih terasa suasananya.  Teduh bahkan cenderung gelap di beberapa tempat. karena rapatnya pepohonan yang berdiameter cukup besar. Kontur jalan mulai variatif, nanjak turun.  Tapi tanjakan yang tidak terlalu curam.  Beberapa kali berpapasan dengan mobil proyek Karaha.  Sepertinya pembangkit listrik tenaga uap yang dulu batal dieksplorasi akan kembali dioperasikan.  Pipa-pipa besi yang berdiameter cukup besar, tampak diperbaiki dan dilas di  beberapa bagian.  Sementara di beberapa lapangan, tampak beberapa bor yang sedang melakukan eksplorasi dengan selusinan orang yang mengoperasikannya.

Di jalan makadam ini, Om Apen Bathara yang katanya baru pertama kali dihajar tanjakan edan harus kembali mengalami keram kaki dua kali.  Bahu membahu Pak Wawan Oyib, Pak Tedi dan Pak Asep menggusur sepeda Om Apen.

“Tanggal 19 Feb 2012 adalah suatu pengalaman ngegoes yang ga bisa terlupakan. sejak 5 bulan belakangan ini ngegoes baru kali ini ngalamin yang namanya tanjakan Ekstrim di Desa Cinta, Garut. untungnya Om2 dari KGC asik2, suka ngebanyol, apalagi kl lagi cape terus Abah Yaya (maaf kl salah) suka ngahaleuang (nyanyi) dan yang pasti Om2 KGC sangat peduli kp yang junior2 (newbie ky saya) slogan “KAMI ADA KARENA BERSEPEDA” (maaf dan koreksi kl salah) itu bukan hisapan jempol belaka tapi terbukti nyata senyata nyatanya. terbukti ketika saya mengalami kram pada paha kanan dan kiri sehingga sepeda harus di tuntun ganti2an oleh Om KGC. terutama waktu saya terbang ke jurang dangkal pak Haris yang langsung benerin tulang tulang yang rasanya remuk. sekali lg saya ucapkan terimakasih yang sebesar2nya kepda Om2 KGC terutama kp Om Deny yang pertama memperkenalkan saya kp Om2 KGC. dari sini saya sadar bahwa umur dan jenis sepeda bukanlah yang utama tapi TUUR (dengkul) dan kebersamaan”.

Demikian kesan om Apen Bathara di FB-nya lengkap dengan foto penderitaan ala romusha nenek moyang kita dahulu :p

Tiba di sebuah puncak yang cukup terang dan lengang dari pepohonan.  Tampak kota tasik dengan jalan raya by-passnya. Sayang, tidak membawa kamera digital.  Kalaupun difoto dengan kamera hand-phone jaraknya terlalu jauh. Tidak akan bagus hasilnya.  Beberapa orang dari kami berdebat, kalau itu adalah kota Garut.  Tapi, dijelaskan itu adalah kota tasik. Karena itu arah Timur, kalau Garut itu ada di arah Barat Daya kalau tidak salah.  Barulah mereka mengerti.  Namun, entah karena panik karena di sms sang istri.  Beberapa orang yang dikenal “SUSIS” langsung mabur begitu menemukan turunan tajam.  Mungkin mereka berpikir, pascaturunan itu adalah Desa Cicapar :p.

Bisa dimengerti, beberapa orang dari kami (8 orang harus kabur duluan). Satu orang diteror sang istri, dengan bahasa yang super nguamuk: “Cing, eling atuh! Kalakuan jiga budak ngora wae. Sasapedahan nepi wayah kieu can balik!” (Mestinya kamu berpikir! Jangan kaya anak muda, main sepeda sampai gini hari belum pulang!

Satu orang lagi, malah mengirim SMS kepada salah seorang rekan yang mengajaknya gowes hari itu: “Gara-gara sia SMS ka aing, jadi aing disiksa milu ngagowes kadieu. Sakieu aing ripuhna!”

Sementara yang lain, pulang cepat karena alasan tugas negara menanti!

Yang pulang duluan, mungkin tidak bisa merasakan bagaimana kecutnya perasaan kami pada saat melewati trek offroad perkebunan kentang di Sadahurip.  Betapa tidak, waktu sudah menunjukkan pukul 17an. Tapi matahari sudah hampir sembunyi di peraduannya.  Plus, sport jantung. Saat om Apen Bathara, kehilangan kontrol rem waktu melewati sebuah turunan tikungan ringan.  Rem belakang sepertinya blong, jarinya kejepit. Dia kaget, malah menekanpenuh tuas rem depan. Dan…”Aduh…!” dan “Blegh…”! Bumi seperti bergoyang sesaat.  Serentak semua menghentikan sepedanya.  Saya di depan, segera membaringkan sepeda.  Pak Tedi dan Pak Asep langsung melompat ke dalam jurang.  Tubuh om Apen tampak terlentang tak bergerak di atas pesawahan huma! Lumayan tinggi, sekitar 2-3 meter! Aneh, sepedanya tetap tinggal di bibir jurang dalam posisi stang yang terbalik!

Untunglah Om Apen Bathara tidak mengalami patah tulang.  Beliau hanya mengalami kesulitan nafas sesaat.  Setelah diurut oleh Pak Haris beliau bisa berdiri kembali.  Rem sepeda Om Apen berusaha diperbaiki Pak Wawan. Ternyata kanvas remnya sepertinya kena minyak pelumas. Bisa kembali downhill di atas makadam, beberapa kali harus mengingatkan Om Apen Bathara untuk turun dari sepedanya. Mengingat di sebelah kanan adalah jurang yang sangat dalam!

Alhamdulillah, pukul 18.02 akhirnya memasuki Kampung Cicapar.  Sempat melakukan sholat Asyar yang teramat telat.  Apadaya daripada tidak!  Pukul 18.25 akhirnya tiba di jalan raya Sukawening.  Om Apen Bathara “dipaksa” dievakuasi via angkot.  Tapi beliau memilih dijemput keluarganya.  Karena belum datang, dilaju gowes sampai Wanaraja.  Mengisi perut dengan bakso Priangan! Keluarga om Apen tiba, ternyata memakai 2 sepeda motor.  Tiga orang.  Kita langsung pamit sprint dengan penerangan lampu seadanya dari si Spezy. Alhamdulillah, tiba di Sumber Sari pukul 20.10!

10 thoughts on “Saat Dada Sesak Tersedak Cinta”

  1. “Gara-gara sia SMS ka aing, jadi aing disiksa milu ngagowes kadieu. Sakieu aing ripuhna!”

    Mantab kang ….kangen tah bahasa eta lamun ada teman ikut pertama kali …
    hi hi …mantab tanjakanya uy …
    cihuy …….asoy ……..

  2. sekali lagi makasih kepada para punggawa KGC yg sudah menemani dan membimbing saya. banyak pelajaran yang patut untuk di petik dari pengalaman tersebut. “KAMI ADA KARENA BERSEPEDA” slogan yang menggetarkan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s