Menjenguk Kecantikan “Desi Ratnasari” di Cisaruni

Cuaca minggu pagi ini terasa teduh. Sedikit mendung.   Tidak menjanjikan hujan, tidak juga menjanjikan cuaca cerah. Rencana loading untuk gowes ke Cisaruni yang diagendakan 3 sehari sebelumnya, batal.  Karena alasan yang remang-remang.   Tahu kan remang-remang?  Itu lho, sebenarnya kita bisa melihat tapi, tidak jelas.  Entahlah, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Bersembilan orang akhirnya gowes dari Garut kota menuju Bayongbong untuk menjemput Gasheba-ers yang sudah menunggu di markasnya.  Gasheba adalah kelompok goweser dari Bayongbong yang telah berusia cukup tua. KGC yang merupakan komunitas gabungan group sepeda di Garut. Mengenal Gasheba sudah lama, selain dengan Lodaya dan Jarambah.  Usia Gasheba yang sudah tua, ibaratnya berilmu padi dan kelapa.  Maki tua makin berisi makin merunduk, makin tua makin berisi makin banyak santannya.

Terbukti.  Beberapa kali gowes bareng dengan group yang dikomandoi Kang Engkus ini, kita harus angkat jempol. Harus menjura dan menghormat kemampuan mereka dalam hal gowes.  Kecepatan dan ketapatan kayuhan pedal mereka, hanya bisa ditandingi oleh seorang Tjahja Gunawan (KGC) Jakarta atau Kang Coe waelah (Threeple C) atau Kang Dadi (GEA Geologi ITB) serta Asep Tebe (Kgc Garut).   Bedanya, Gasheba berjumlah 5-6 orang, yang menggowes kompak. Bareng baik di tanjakan atau di turunan.  Tidak ada istilah TTB bagi mereka bila menemuk tanjakan, kecuali jalan yang memang ungowesable (istilah un-gowes-able ini sedikit aneh, karena tidak ada dalam Webster atau Oxford Dictionary! Tapi lazim digunakan oleh para goweser).  Kecepatan gowes mereka, bahkan bisa mencapai 40-60 km per jam, terlihat pada waktu gowes di Cikandang, Cikajang kemarin.  Sementara, kita harus diloading. Mereka menggowes di depan truk! Padahal dari Bayongbong ke Cikandang itu full tanjakan!

Tiba di gerbang Perkebunan Papandayan pukul 11.35 WIB.  Cuaca masih teduh, namun mulai mendung. Gerimis perlahan turun tertahan.  Sambil menunggu teman-teman Gasheba menarik nafas.  Sebagian makan goreng2an di warung, sebagian checking sepeda, sebagian melihat view yang sangat indah, cantik dan segar hijau dimana-mana.  Nun jauh di sana, tampak samar-samar, putihnya deburan ombak pantai selatan, Rancabuaya! Setelah dirasa cukup, mulailah gowes.  Langsung mencumbu tanjakan jalan perkebunan Papandayan.  Udara sejuk dan segar sungguh membuat terasa paru-paru lega.  Tidak terdengar satu dengusan kecapean sedikitpun.  Jalan makin lama-makin menanjak. Berubah drastis jadi makadam tanjakan.  Hanya beberapa orang saja yang bisa menggowes. Sebagian TTB dengan sopan. Beberapa ratus meter kemudian, pemandangan makin indah. Udara makin segar, sangat sejuk. Bahkan teramat sejuk.  Keringat yang membasahi jersey tidak terasa hangat, tetap dingin.  Menandakan kelembaban yang tinggi di perkebunan itu.  Tanjakan makadam makin curam.  Gowesan makin berat, diperlukan keterampilan kontrol handlebar dan tenaga yang mumpuni. han pedal semakin semangat saat diceritakan di warung di puncak bukit telah menunggu penunggu warung kopi, wajahnya sangat cantik.   Bahkan, Desi Ratnasari pun, lewaaaaat!!!

 

Memasuki single tracktanah perkebunan, perjalanan agak tersendat oleh banyaknya serakan ranting dan dahan teh yang baru dipotong. Bahkan kita harus mendorong dengan hati-hati. Salah-salah langkah, dahan masuk ke jari-jari atau kita tergores ranting pohon teh yang baru ditebas.  Namun dengan kesabaran. Akhirnya bisa juga jalan setapak yang menanjak penuh ranjau tersebut didaki. Walaupun bagi seorang teman hal itu, adalah siksaan yang tidak terperi.  Pak Kokon dan Aki Asep yang baru pertama kali diajakn gowes di gunung, bahkan sampai “keleyengan”. Tak kuat menahan kelelahan. Akhirnya merebahkan diri tanpa memperdulikan yang lain. Disertai omelan  dari mulutnya yang menyalahkan sepeda dan jalan yang penuh makadam dan tanjakan curam🙂

Jalan semakin berat dengan tumbuhnya rumput di atas jalan.  Kayuhan pedal jadi semakin berat.  Bahkan, seorang Asep Tebe pun, tampak memaksakan diri untuk menggowes dengan mengandalkan power (belakangan rantainya putus menjelang finish. Sampai diderek sampai kota garut sejauh 30 km. Untung berupa turunan dan sedikit tanjakan).  Namun, semua terobati dengan indahnya tanah air tercinta kita.  Tak terbayangkan, negeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi seperti ini adalah Indonesia.  Negeri yang dijajah oleh para bikrokrat korup dan anggota DPR yang serakah yang mengatasnamakan rakyat!  Ini masih Indonesia kan? Ujar saya kepada teman-teman… Hamparan karpet alam hijau teh menutup seluruh permukaan nu jauh di sana.  Gunung-gunung beserta anak-anaknya berselimutkan awan kelabu. Hijau menuju kebiru.  Awan putih seputih kapas tampak memayungi seantero mayapada Swiiss van Java!  Panorama yang tidak bisa diceritakan keindahannya.

Hati dan batin ini sedikit terusik, tampak sebuah pohon cemara yang telah kering kerontang. Berdiri dengan ringkih diantara hamparan menghijaunya pepohonan teh.  Tak berdaun sama sekali. Entah disambar petir, atau mati karena dimakan usia.  Mati dalam kesendirian.  Tertangkap kesan mendalam, kesunyian.  Dingin, mencekam ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Menjadikan cemara itu seperti manisfestasi kejujuran di negeri ini.  Semakin terkucil, sendiri.  Berusaha eksis diantara mayoritas, hanya akan membawa kematian bagi kejujuran.  Tapi, di mata Tuhan dan alam semesta kejujuran justru menjadi cahaya kehidupan.  Sepertinya memang tidak menandakan kehidupan.  Tapi, jauh dilubuk yang paling diam, dia adalah intan permata yang tak ternilai.  Bunga kehidupan yang akan menjadi buah kebaikan. Tak mati dimakan zaman, tak lekang dimakan kemunafikan.

Tiba di tempat yang datar dan luas, rehat untuk makan siang.  Masing-masing membuka ransum dan memindahkan semuanya ke dalam perut dalam sekejap.  Sepertinya semua dari tadi menahan lapar.  Setelah itu bersenda gurau sejenak. Namun, tak lama karena hujan mulai turun. Cukup deras.  Salut, buat mereka yang tidak membawa mantel hujan.  Mereka dengan gigih tetap mengayuh sepedah dengan tegar.  Padahal, dingin sangat menggigit.  Sekalipun sudah menggunakan wind-shielder. Didera hujan, udara dingin dan makadam yang mulai tak bersahabat.  Menanjak dan batuan lepas diserta kubangan lumpur sesekali.

Bergegas, semua mengayuh cepat menuju mesjid. Di sana, ada warung dimana si cantik Desi Ratnasari telah menunggu🙂 Akhirnya, tiba di mesji pukul 13.40 WIB. Langsung sholat dhuhur. Air mesjid yang biasanya kering, malah terbuang. Bak penampung tak mampu menahan luapan air yang dialirkan dari mata air.  Dulu, waktu datang ke mesjid ini di musim kemarau. Airnya sangat darurat.  Satu demi satu memarkirkan sepeda masing-masing dalam keadaan basah kuyup.  Hujan mulai mereda.

Seorang anak, mungkin anak pemetik teh. Tampak berdiri, dari matanya tersirat rasa ingin tahu. Saya menyapa anak itu, menanyakan apakah warung kopi buka? Anak itu menjawab buka.  Langsung menyuruh anak itu agar dibawakan kopi susu 13 gelas. Tapi ternyata, yang datang hanya 3 gelas! Tak mungkin untuk nongkrong dan menyambangi nyai, penunggu warung si desi ratnasari. Mengingat hujan makin deras. Akhirnya, hampir selama 45 menit diisi dengan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmat kopi, dodol cina sisa imlek dari koh iong dan tentunya sebatang rokok bagi para ahli hisab yang egos xixixixi….

Pukul 14.45 perjalanan langsung dilanjut.  Hujan masih turun dengan derasnya.  Camera dimasukan ke dalam plastik dan masuk backpack. Gak ada kemungkinan untuk mengambil momentum dalam cuaca seperti ini. Masih dihajar makadam jahanam sejauh 1 km. Langsung turunan tajam.  Licin dan kudu waspada.  Banyak jebakan batman, berupa kubangan lumpur yang dalam atau jembatan yang sudah rapuh.

Pasca turunan, makadam kembali nanjak menikung belok kiri. Curam! Terpaksa TTB lagi, sejauh 11 meter nanjak.  Gowes lagi dalam keadaan jalan licin, masih makadam. Namun lebih kurang 200 meter kemudian, jalan mulai berubah single track menurun dengan kontur tanah berumput. Meskipun hujan masih turun.  Ternyata tidak licin dan masih enak untuk dicumbu rayu. Beberapa bagian jalan, tampak menjadi kubangan yang cukup dalam oleh ban motor trail. Sehingga, kita harus super hati-hati untuk melewatinya. Single trek turunan yang mantap, gowesable. Sekalipun hujan deras. Inilah alasan utama kembali ke Cisaruni.  Ingin membuktikan bahwa Cisaruni memang gowesable sekalipun turun hujan deras.  Memang, kurang-kurang kontrol handling, shifting dan pedalling. Dipastikan akan terjerembab oleh medan yang menurun tajam dan cukup licin serta jebakan bekas ban motor yang dalam.

Beberapa orang terjatuh, termasuk saya🙂 sudah berusaha untuk tidak jatuh. Walaupun sudah melepaskan sepeda, pada saat sudah tidak bisa dikontrol agar tidak terjerembab. Begitu sepatu menginjak di lokasi yang licin. Akhirnya harus tersungkur juga :p Single track makin asyik dengan turunan dan sedikit tanjakan. Memang ada  yang licin di beberapa bagian. Tapi, itu wajarlah mengingat hujan yang teramat deras.

Saya duga, single track Cisaruni tidak menjadi licin karena masih tebalnya rerumputan diatas dan dipinggirnya.  Traksi ban menjadi sedikit terbantu.  Perlahan, jalan berubah kembali menjadi makadam. Turunan lebih kurang 5 km.  Memacu dengan penuh kewaspadaan, karena sebagian berupa batuan lepas. Jalan kemudian berubah single trek tanah kembali yang berada ditepi irigasi.  Sekali lagi diperlukan kewaspadaan dan ketetapan hati.  Karena di sebelah kiri jalan adalah irigasi yang cukup dalam, sementara di sebelah kanan jurang lebih kurang 2-3 meter yang berupa kebun palawija. Sesekali ucapan tasbih terucap saat melihat, hampara kebun cabe rawit yang menguning. Sebagian mulai memerah. Tapi kembali harus waspada, karena meleng sedikit pasti kecebur ke kali, atau terperosok ke jurang seperti yang dialami Pak Kokon. Hujan kembali mengguyur. Single trek yang datar, mengakibatkan kayuhan harus konstan. Rolling. Gear depan 2, belakan 2 atau 3.

Entah berapa kilometer melewati hutan bambu. Melambung mengikuti arah air.   Naik lagi mengikuti kontur jalan setapak.  Rolling, rolling dan rolling hampir 2 jam lebih.  Track yang semestinya dilalui, terpaksa dipotong. Mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 17.10. Sebagian rombongan tertinggal. Menurut informasi dari Tendi, Pak Kokon masuk jurang. jadi rombongan belakang agak terlambat.  Lebih kurang 30 menit menunggu tidak muncul juga. Akhirnya, Jajang mengontak Agus Taher. Ternyata katanya, rombongan besar sudah masuk jalan raya dan diminta tunggu di Cisurupan.  Menunggu di Cisurupan sekitar 20 menit, tak sengaja. Muncul Mang Aep yang ikut rombongan belakang. Menurut beliau, rombongan sudah dari tadi pulang ke Garut. Beueueueuh…..!!! Akhirnya berdua Kang Engkus, menuju Bayongbong, kemudian gowes sendiri menuju Garut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s