Garut Oprod

Oleh: Sam Agung (RCC Jakarta)

Matahari malas menyeruak. Langit biru diselimuti awan putih pekat. Sembilan orang RCC—Rekayasa Cycling Community, khusyuk berdoa. Satu orang mengabadikan dengan kamera. Kau tahu, 10 orang anggota RCC bersiap mencari kesenangan. Kami menyebutnya kesenangan. Kesenangan yang kami dapatkan dengan bermodalkan dua kaki. Gowes. Itu istilah yang lebih ringkas. Hari itu Sabtu, 14 Januari 2012, kota Garut berawan.

Angka di jarum jam belum juga menunjukkan angka tujuh. Kami sudah siap dengan atribut lengkap bersepeda. Sarapan nasi bakar juga sudah terselesaikan. Sebuah awal yang cukup bagus mengingat kami baru saja melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Garut sejauh lebih dari 212 km pada malam harinya. Semalam kami baru tidur tengah malam. Syukurlah, kami beristirahat dengan sempurna di villa yang sangat nyaman. Lebih terasa nyaman juga di kantong karena kami diijinkan menginap tanpa dipungut biaya. Berkat budi baik pemilik villa tentu saja. Terbukti, simpul tali silaturahmi membuka pintu rejeki.

Oprot—bukan offroad, tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang Sunda, kali perdana di awal tahun ini mengambil venue di lereng gunung Papandayan, Garut. Kontak kami di kota dodol adalah KGC—Komunitas Garut Cyclist. Tak peduli dengan campur aduknya bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia, KGC memang lebih mengutamakan bagaimana mereka bisa menemani om dan tante bersepeda. Jika kita lihat profil KGC di website mereka, kalimat pertama yang muncul adalah “kami ada karena bersepeda”. Kawan, nanti kau akan sadar bahwa slogan itu bukanlah omong kosong belaka. Di punghujung oprot, kata-kata itu tidak akan mudah dilupakan.

Pukul delapan pagi. RCC dan KGC telah berkumpul di alun-alun kota Garut. Kami berkenalan ala kadarnya. Masih terkesan canggung. Ada empat punggawa KGC yang ikut oprot kali ini: Om Camat sebagai kontak utama, Om Haji Iim dengan betis dan perutnya yang aduhai, Om Kokon dengan celana balap ala F1, dan Om Asep Stroberi dengan pernak-pernik sepeda serba warna merah buah.

Ada 13 trek sepeda di Garut yang sering disambangi oleh KGC. Trek yang akan kami lalui kali ini terkenal dengan sebutan trek Cisaruni. Dari mana asal mula penamaan trek itu, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu, trek itu ada di daerah Cikajang, 30 km di sebelah barat daya kota Garut, di ketinggian sekitar 1300 mdpl. Cikajang diapit oleh gunung Cikurai di sebelah timur dan gunung Papandayan di sebelah barat. Dalam kondisi lalu lintas yang normal, dapat ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan darat.

Untuk menuju ke titik start, kami menempuh perjalanan darat dengan menggunakan mobil sedangkan sepeda diangkut di mobil pikep. Pikep, kawan! Bukan pikef, dan sebaiknya kau tengok kiri-kanan dahulu sebelum tertawa. Pastikan tidak ada orang yang tersinggung. Hampir seluruh jalan raya yang kami lalui berkontur miring ke belakang alias tanjakan! Boros bensin tapi jelas irit tenaga. Kami harus menghemat tenaga untuk gowes nantinya. Lagipula sebagian besar dari kami kurang tertarik dengan tanjakan onroad.

Sebelum gowes, taklupa kami mampir di warung makan Lamping Sari untuk loading amunisi perut dengan nasi bungkus, untuk bekal makan siang nantinya karena telik sandi menginformasikan bahwa warung tidak dapat kita jumpai di sepanjang trek oprot. Ikan goreng, daging semur, dikombinasikan dengan sambal. Mantap. Jengkol menjadi pelengkap. Sempurna!

Perlu waktu lebih dari satu jam untuk menjangkau titik start, yaitu di depan SDN Margamulya 1&3, di lereng sebelah timur gunung Papandayan. Alamatnya sederhana, jalan raya Cikandang, Cikajang, Garut. Di sini kami disambut oleh tuan rumah: komunitas sepeda Gasheba. Ada 5 orang pentolan Gasheba. Om Engkus—kontak utama, Om Idrus, Om Tendy, Kang Aep, dan Om Samin. Yang disebut terakhir lebih cocok dipanggil kakek sebenarnya. Usia 67 tahun. Skill di tanjakan masih layak disejajarkan dengan Om Julio Jiminez, King of Mountain di Tour de France yang di tahun 1967 meraih gelarnya untuk kali ketiga secara berturut-turut. Atas rujukan dari KGC, Gasheba kami minta sebagai penunjuk jalan. Kebetulan personel KGC yang ikut kali ini tidak satupun yang mengetahui trek.

Sejatinya titik start awal yang dipilih adalah Curug Orok. Om Camat KGC menyebutnya Baby Waterfall. Semula, curug ini bernama air terjun Prabu Sanghiyang Gebur Cahaya. Asal mula penamaan ini konon berasal dari cerita masyarakat setempat. Seorang wanita muda membuang bayinya dari puncak air terjun di penghujung taun 60-an. Air terjun tersebut dikelilingi oleh tujuh sumber mata air Cikahuripan yang konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Di lokasi yang sama terdapat juga Curug Kembar, terdiri dari 3 air terjun yang terkenal dengan sebutan Air Terjun Patilasan Prabu Angling Darma. Terlepas dari sejarahnya yang berbau horor, curug dengan tinggi sekitar 45 meter itu kini menjelma menjadi obyek wisata yang sangat menarik di Garut. Curug Orok hanya berjarak tak lebih dari 2 km dari kampung Cikandang. Di sinilah kami memulai perjalanan, beberapa kilometer saja dari lokasi wisata air terjun.

Pukul 10. Kurang satu menit lebih tepatnya. Kami bersepeda menuju kebun Papandayan. Trek awal yang kami lalui adalah turunan aspal kasar sepanjang 5 km, dengan 2 tanjakan kecil dan satu tanjakan sedang sepanjang 300 meter yang cocok jadikan sebagai pemanasan. Dua orang newbie, Very dan Anggik nampak mulai tercecer. Bisa dimaklumi. Berat badan total keduanya lebih dari bilangan 2 kuintal! Personel KGC dan Gasheba dengan sabar terus menemani dan memompakan semangat. Jargon “kami ada karena bersepeda” mulai jelas terlihat nyata.

Di sepanjang jalan, kebun teh yang embunnya mulai menguap menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan. Venue Curug Orok kami lalui begitu saja tanpa sempat berfoto ria. Sayang sekali kami tidak sempat mengabadikan diri di sana. Kami terlalu asyik dengan jalanan miring ke depan. Namun, turunan panjang kali ini bagiku terasa aneh. Serasa ada yang berbeda.

Dan perasaanku terbukti benar. Lepas dari turunan ini kami langsung masuk ke area kebun Papandayan, berhadapan dengan tanjakan makadam super berat sepanjang 2 km. Kemiringan jalur ini sangat curam. Bebatuan tak teratur sangat menguras tenaga. Kami harus berjuang melawan tanjakan, sekaligus mengontrol setang untuk menghindari bebatuan. Irama pedal tak lagi teratur. Satu persatu goweser bertumbangan.

Di sini muncullah istilah baru. MTB, mountain tuntun bike! Bahkan, pecinta hardtail—yang digdaya di tanjakan, kali ini kedodoran. Justru sepeda full suspension yang berjaya. Meski relatif berat, adanya suspensi belakang memungkinkan roda menapak sempurna mengikuti kontur batuan, memberikan grip yang lebih baik antara ban dan jalan. Walaupun hal itu bukan juga suatu jaminan. Tetap saja dibutuhkan ketrampilan mengontrol kinerja radiator alias pernapasan. Tanpa latihan, dipastikan radiator akan jebol. MTB menjadi satu-satunya jalan keluar.

Lalu bagaimana dengan newbie kelas super berat? Tidak perlu lah kami sebut siapa namanya. Jangan salah, kawan! Pelan tapi pasti, mereka akhirnya berhasil juga meski harus menanggung malu yang tak tertanggungkan karena menjadi bahan ledekan sepanjang jalan. Bagi kami para goweser, ledekan hanyalah salah satu cara unik untuk memompa semangat. Olah kaki, canda tawa, ledekan, pemandangan alam, semangat dan kebersamaan adalah satu paket komplit touring oprot.

Selalu ada turunan selepas tanjakan. Jargon jadi-jadian itu ternyata belum memihak kepada kami. Masih ada tanjakan bebatuan sepanjang 1 km lagi di depan. Beruntung, pemandangan yang eksotis menjawab semua keluh kesah. Dengan cuaca yang cerah kali ini, di kejauhan—30 km ke arah selatan, kami bisa melihat garis pantai laut selatan. Semburat putih ombak memperjelas kalau itu laut selatan. Mungkin ratu pantai sedang mandi di sana. Dengan mata telanjang tentu saja kami tak bisa menjangkaunya. Perlu metafisika khusus untuk mengintipnya. Untuk yang ini, aku tidak tertarik.

Odometer menunjukkan angka sekitar 9 km. Sekarang saatnya menikmati bonus. Bonus di sini maksudnya adalah bukan turunan, tapi jalanan tanah, yang membelah kebuh teh, dengan kontur yang naik turun tapi relatif datar sepanjang hampir 6 km. Sepeda kami betot habis-habisan. Kubangan lumpur tidak kami hindari. Justru kami libas, sambil ketawa-ketiwi tentunya. Eh, ketiwi itu bahasa mana ya? Untuk yang ini, aku juga tidak tertarik membahasnya. Lebih asyik membual ke teman-teman, menceritakan kesenangan yang kami dapatkan kali ini. Tentang derasnya hujan yang mengguyur sepanjang jalan. Tentang asyiknya mengarungi jalan setapak yang berubah menjadi lintasan arung jeram. Tentang pemandangan Garut yang indah bukan buatan. Oprot, man! Oprot..!!! Kami senang bukan kepalang!

Lepas dari kilometer ke-14 adalah turunan. Kali ini jargon yang disebut sebelumnya benar-benar terbukti. Turunan single track panjang menjadi santapan. Jenis tanah basah yang bercampur sedikit pasir vulkanis sangatlah nyaman untuk melaju cepat. Sebagian besar trek kali ini adalah jalan setapak membelah ladang perkebunan. Hujan mengguyur deras, menjadi pemanis. Kegiatan masih bisa diabadikan berkat adanya kamera waterproof buatan Jepang.

Beberapa tanjakan tak mampu lagi kami lalui dengan sisa kalori yang makin menipis. Mental pun ternyata sudah mulai payah. Lelah dan lapar. Hujan tak juga berhenti. Kredit sholat belum ditunaikan. Target kami berikutnya adalah mencari tempat yang layak untuk beribadah. Setelah melewati asrama militer batalyon infantri 303/SSM, di suatu kampung yang aku tidak tahu namanya, akhirnya sholat kami bayar lunas. Mental kembali bersahabat. Kami tak lagi diburu waktu, meski jam hampir menunjukkan pukul 5 sore.

Perjalanan dilanjutkan, masih melalui jalan aspal sepanjang 4,5 km dengan kontur yang cenderung datar menuju Cisurupan. Cisurupan adalah suatu daerah yang menjadi titik temu antara jalan menuju gunung Papandayan dan kota Garut.ghujung etape kami melintas jalan perkampungan yang rusak berat, sebelum akhirnya tiba kembali di jalan raya Cikandang. Jalan bebatuan lepas aku lalui tanpa menarik pedal rem. Betot habis! Mohon maaf buat ¬hardtailers, demi keselamatan—dan juga “masa depan”, sebaiknya Anda pelan-pelan. Odometer kini di angka 24 km. Oprot yang sangat menyenangkan.

Trek berikutnya, jalan aspal yang tidak bisa diidentifikasi klasifikasinya. Kelas III mungkin. Beberapa tanjakan tak mampu lagi kami lalui dengan sisa kalori yang makin menipis. Mental pun ternyata sudah mulai payah. Lelah dan lapar. Hujan tak juga berhenti. Kredit sholat belum ditunaikan. Target kami berikutnya adalah mencari tempat yang layak untuk beribadah. Setelah melewati asrama militer batalyon infantri 303/SSM, di suatu kampung yang aku tidak tahu namanya, akhirnya sholat kami bayar lunas. Mental kembali bersahabat. Kami tak lagi diburu waktu, meski jam hampir menunjukkan pukul 5 sore. Perjalanan dilanjutkan, masih melalui jalan aspal sepanjang 4,5 km dengan kontur yang cenderung datar menuju Cisurupan. Cisurupan adalah suatu daerah yang menjadi titik temu antara jalan menuju gunung Papandayan dan kota Garut.

Dari arah Cikajang, arah ke kiri adalah tanjakan akses menuju ke puncak gunung, sedangkan ke kanan menuju kota Garut. Tentu saja kami pilih kanan, turunan menuju villa tempat kami menginap. Etape turunan aspal kami lalui tanpa rintangan yang signifikan. Tenaga yang makin menipis bukanlah masalah. Masih cukup lah untuk mengarungi turunan sepanjang hampir 27 km. Hati-hati dan selalu waspada, itu saja kuncinya. Lampu sepeda tidak lupa kami nyalakan untuk keselamatan.

Di Cisurupan kami harus berpisah dengan tim Gasheba. Ajakan kami untuk sekedar beramah tamah di warung bakso ditolaknya dengan sangat berbudaya. Bukan karena tidak mau, tapi karena waktu sudah menjelang petang. Banyak sekali kesan yang sangat mendalam tentang Gasheba—dan KGC pastinya. Di hampir sepanjang perjalanan, takhenti-hentinya mereka terus menemani, menyemangati, bahkan tidak sungkan membantu menuntun. Di beberapa ruas trek tak jarang memang kami harus bahu-membahu memanggul sepeda. Ya, memanggul sepeda juga menjadi bagian dari petualangan kali ini. Sst…tadi sempat nyasar! Tapi justru di situlah kami seperti disadarkan kembali bahwa memang sudah seharusnya komunitas itu ada karena bersepeda, bukan karena sepedanya.

Gotong royong, tenggang rasa, silaturahmi, tidak pandang kasta, serta semangat dan kebersamaan. Itulah paket komplit yang kami dapatkan saat berpetualang dengan sepeda. Jika dulu aku hanya bisa mempelajarinya dengan membaca butir-butir Pancasila, sekarang aku bersyukur bisa melihat contoh nyata, langsung menirukannya, dan sekaligus mempraktekkannya. Sepeda—bukan bersepeda, is now a part of the past. Nah, kalau yang ini bahasa inggris, man!

Sesampainya di kota Garut, tak lupa kami menyantap bakso panas untuk menghangatkan tubuh yang kuyup sepanjang jalan. Selanjutnya, gowes lagi menyusuri jalanan kota yang relatif gelap dan basah. Menjelang pukul delapan malam, kami tiba di villa penginapan. Perlu usaha yang ekstra untuk menuju ke villa yang berada sedikit di atas kota Garut. Air meluap membanjiri jalan menuju ke sana. Malam gelap. Bakso bulat seperti bola pingpong langsung terkonversi menjadi energi gowes di etape terakhir sepanjang lebih dari 6 km. Tanjakan terakhir akhirnya kami tunaikan.

Penutup. Mandi air hangat dong! Tanpa jeda yang terlalu lama, kami bersicepat mengemas pakaian ganti untuk berendam di kawasan pemandian air panas Cipanas. Hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke sana dengan mobil. Kini saatnya melemaskan serabut otot yang tegang seharian. Melebur penat setelah mengayuh sepeda tak kurang dari 55 km. Luntur sudah semua derita. [jahagung]

6 thoughts on “Garut Oprod”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s