Berteman dengan “Teman” Tanjakan Sadahurip

“Don’t walk in front of me, I may not follow.
Don’t walk behind me, I may not lead.
Walk beside me and be my friend.”
(Albert Camus)

Mungkin kalimat-kalimat seperti itu yang senantiasa keluar dari “hati sanubari sebuah tanjakan” bila kita mengayuh pedal di atas “tubuh” sebuah tanjakan.  Mayoritas dari kita, mungkin akan langsung terperangah dan mengeluh serta menari nafas tertahan saat melihat sebuah tanjakan.   Apalagi bila tanjakan yang akan dilalui itu, sangat curam kemiringan dan panjangnya.  Sifat dan bentuk dari sebuah tanjakan, seringkali kita memberikan julukan yang aneh-aneh, dan lucu terhadap “teman” kita itu. Misalnya : Tanjakan Setan, Tanjakan Jahanam, Tanjakan Beureum Beungeut (Merah Muka) , Tanjakan Panjang Geuleuh (menjijikan), Tanjakan Aura Kasih dan lain-lain.

Julukan tersebut diberikan sesuai dengan karakteristik tanjakan, menurut perasaan hati nurani  si pemberi istilah. Yang tentunya para pecinta sepeda dan pecinta tanjakan alias uphiller.  Tingkat kecuraman, mulus tidaknya kontur, panjang pendeknya tanjakan serta bentuknya yang menikung.  Memunculkan aneka julukan seperti itu. Tanjakan Randu Kurung di Gunung Kamojang, sering disebut Tanjakan Panjang Hideung Geuleuh yang berasosiasi dengan anu.  Kontus aspal hotmix, tikungan dan tanjakan yang curam dan panjang mengakibatkan munculnya istilah itu. Di Gunung Waspada, kaki gunung Cikuray sebelah selatan ada tanjakan “Beureum Beungeut”, tanjakan yang mungkin hanya bisa dicumbu oleh segelintir orang. Tanjakan Toblong di kaki Gunung Darajat, disebut Tanjakan Pasir Anjing; mengingatkan bentuknya pada bentuk leher kepala seekor anjing.

Pada, Sabtu 14 Januari 2012 bersama dengan THCC-ers (Tahu Cocol Cyclist)  Pamulang dan KGC-ers (Kompas Gramedia Cyclist), Kgc Garut-ers melakukan “pendakian” bersepeda ria dari Garut kota ke Gunung Sadahurip.  Gunung yang sedang dihebohkan karena kemungkinan adanya sebuah bangunan bentuk piramida di bawahnya.  Bukan tanpa alasan, memang bentuknya sangat mirip piramid, dengan kontur tanah seperti “kosong”, serta tidak ada pepohonan besar yang lebat.  Anehnya, tidak longsor.

Rombongan gowes yang berjumlah total 27 orang, berangkat dari Garut kota sekitar pukul 08.20 WIB.  Onroad menyusuri aspal hotmix, menuju kecamatan Sukawening yang berjarak 14 km.  Perjalanan sedikit terhambat karena ada salah seorang peserta newbie  yang bermasalah dengan gearing sepedanya.  Tidak memakan waktu lama, sekitar 45 menit telah tiba di Pesanggrahan, Kecamatan Sukawening.

Aspal hotmix, berubah langsung dengan aspal tipis setengah rusak.  Pelan tapi pasti mulai menanjak. Menanjak dan Menanjak.  Untuk beberapa peserta tanjakan sepertinya itu tidak masalah, karena mereka biasa “berteman” dengan tanjakan.  Tapi bagi beberapa orang hal itu adalah “musuh” yang harus ditaklukan dengan susah payah.  Bagi yang sudah beberapa kali bercumbu dengan tanjakan itu, akan mengambil jalan bijak.  Gowes pelan tapi pasti, dengan mengatur tempo kayuhan.  Tanjakan ke Gunung Sadahurip tidak terlalu panjang, sampai ke kakinya hanya 8 km. Tepatnya sebuah desa yang disebut Cicapar, Sukahurip.

Kontur tanjakan berupa aspal, makadam, beton PNPM dan tanah. Sekitar 3 km memasuk desa Cicapar, tanjakan mulai curam. Bahkan sangat curam dengan kontur beton.  Diperlukan ketabahan, kesabaran dan ketekunan serta kekuatan untuk menaklukkan diri sendiri. Tidak salah tanjakan ini kemudian disebut “Tanjakan Ajaib”oleh beberapa peserta THCC dan KGC Jakarta.  Bahkan, sempat terlontar sebutan “Tanjakan Baling-baling Bambu” karena selama mencumbu tanjakan itu, pikiran kita akan berkhayal mempunyai baling-baling di kepala kita seperti Dora Emon dan Nobita. Sehingga bisa terbang melewati tanjakan itu.

Tanjakan yang “hanya” 8 km itu bisa ditempuh sekitar 2,5 jam.  Itupun dengan kondisi peserta gowes yang tercecer dan harus regrouping.  Tiga orang peserta dievakuasi menggunakan ojeg dan sebuah mobil.  Satu orang dievakuasi ojeg mulai dari pasar Sukawening dengan ongkos 15 ribu rupiah. Satu orang, nekad. Mencegat sebuah mio amatir alias bukan tukang ojeg sungguhan.  Tapi pengendara motor yang sedang lewat, mungkin karena menyerah. Si peserta nekad berhenti di tengah jalan dan meminta si pengemudi membawanya ke atas. Sepedanya sendiri, ditinggalkan dan dibawa oleh rekan dari sweeper.  Salut buat pa Asep Tebe, Pa Dodi, Pa Wawan, Pa Agus dan Pak Tedi yang dengan murah hati, tanpa mengeluh dan penuh senyuman (pahit :p).  Bergantian mereka membawa sepeda yang ditinggalkan suaminya!

Pada pukul 12.10 rombongan telah tiba di SD Sukahurip.  Langsung membuka ransum masing-masing.  Tidak sampai 30 menit, sesudah makan siang. Tiga orang peserta dari Pamulang, dengan diwakili Pak Edi. Memberi salam takjim. Menjura, menempelkan lengannya di dada ala pendekar Wong Fei Hung sambil berkata: “Mohon diijinkan untuk kembali Suhu! Karena kami tidak kuat lagi, dan menyerah kalah…untuk kembali ke kota Garut sekarang juga!”

Langsung, melaju lagi di atas makadam jahanam.  Hanya bisa digowes beberapa meter, kemudian kita semua menjadi anggota kelompok jamaah TTB-iyah alias Matador (Manggih Tanjakan Dorong). Hal itu pantas dilakukan, karena kontur jalan berbatu lepas. Sehingga ban tidak mungkin melakukan traksi untuk melaju.  Lebih kurang 300 meter, semua peserta harus menguras energi dari makan sian yang mungkin belum dibentuk energi oleh mitokondria di dalam sel tubuhnya :p

Peluh mengucur deras, dengan omelah dan mulut ngedumel, serta pertanyaan seragam dari beberapa peserta. Kapan nyampenya, masih jauh gak? Gak salah jalan nih? Mau tidak mau, mereka terus mendorong sepedanya :p

Tiba di sebuah pertigaan, rombongan berbelok kiri. Menyusuri jalan tanah/kebun palawija.  Bagi beberapa orang single trek itu cukup menyulitkan.  Sempit, terkadang menurun, terkadang menanjak. Dengan bibir jurang atau jembatan bambu yang membelah sungai kecil. Tidak salah, tiga orang peserta harus akrobat mencium tanah.  Bahkan,  Om Niko, Si Giant dari Papua sakin cintanya pada bumi pertiwi. Sampai 5 kali sujud dan mencium tanah dengan posisi jungkir balik!

Suasana, single trek di Sadahurip jauh berbeda dengan dua minggu lalu.  Saat itu terkesan masih tandus, karena tanaman padi ladang (huma) dan jagung belum setinggi sekarang.  Sehingga, salah-salah seperti masuk ke dalam labirin. Berputar-putar di tengah ladang jagung!  Untunglah tidak terlalu lama kemudia semua bisa berkumpul lebih kurang 200 meter dari puncak gunung Sadahurip.

Sepeda diparkir di bawah, pemiliknya sebagian besar naik ke puncaknya. Sebagian lagi menjaga sepeda sambil beristirahat.  Kabut mulai turun, jarak pandang mungkin hanya 2 meteran.  Sedikit khawatir dengan teman-teman yang masih di puncak Sadahurip.  Soalnya, kalau hujan, bisa dipastikan akan sangat sulit untuk turun.  Karena jalan turuna yang bisa 60-70 derajat sehingga harus merayap.  Jangankan bila tanahnya ditimpa hujan, pada masa kering pun sangat sulit didaki/dituruni. Tapi, Alhamdulillah, 14.30 semua sudah kemb ali memegang sepedanya masing-masing dan bersiap untuk kembali.

Single trek dengan turuan cukup tajam kontur tanah, jembatan, jurang dan sawah.  Cukup membuat sebagian besar peserta gowes kerepotan.  Syukurlah, tidak ada kejadian yang parah. Jatuh, terjatuh ke kebun jagun atau sawah. Itu mah biasalah hehehe…

10 thoughts on “Berteman dengan “Teman” Tanjakan Sadahurip”

  1. luar biasa …treknya takkan terlupakan hung fei hung belum pernah menyerah..baru kali ini…ternyata diatas langit ada langit…hahahahah….harus banyak latihan lagi…siap di ulang kembali…nanti akan diatur jadwalnya….salut buat semua rekan kgc…alias kanjut gede tapi cuilik….wkakakak….than kang deni, cs….!!!! salam semangat goeeeseer….

  2. Rasa cape setelah gowes tanjakan terjal Sadahurip langsung sirna setelah melahap pete, semur jengkol, ikan peda, ayam goreng, dan Sambel Hejo Cibiuk yg maknyuuuusss. Terima kasih kang Deny, Teteh, dan KGC Garut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s