Berangkat Menikmati Turunan Cemberut, Pulang Menikmati Tanjakan Menangis

Mungkin mayoritas teman-teman goweser sangat excited saat meluncur di sebuah turunan atau downhill. Bahkan, saking senangnya banyak yang spontan menjerit dan berteriak seperti sedang menaiki roller coaster. Sesekali tertawa, dan saling ledek dengan sesama teman yang sama sedang meluncur. Adrenalin kadangkala muncrat saat, menemukan lompatan. Tertawa dan berteriak puas.

Namun semua perasaan suka dan senang pada waktu menikmat turunan itu tidak akan terasa pada saat Anda melakukan touring dari Batu Tumpang sampai dengan Pantai Sayang Heulang Pameungpeuk. Padahal turunan tersebut sangat panjang, dan jalanan rata alias hotmix. Kita bisa ngebut sampai kecepatan 50-60 km/jam. Tapi entah kenapa.  Pada saat melewati turunan yang berjarak sekitar 63 km itu, semua peserta Touring Garut- Pameungpeuk (Pantai Sayang Heulang) rata-rata seragam.  Wajah tegang, mulut cemberut. Semua diam. Padahal mereka meluncur dengan sepedanya masing-masing dengan kecepatan sangat tinggi. Apa masalahnya? Apakah mereka sedang berduka? Atau mungkin salah satu dari mereka baru cerai dari istri? Atau mereka sedang menghormati salah seorang rekan yang sakit?

“Siap gowes to Pameungpeuk?” SMS dari pa Asep Tebe,  pada Jum’at 23 Desember 2011, Jam 19.  Alis sempat berkerut.  Karena sehari sebelumnya sudah sepakat, touring ke Pameungpeuk dibatalkan dengan alasan karena selama di sana tidak akan menikmati suasana pantai yang damai. Mengingat, bersamaan dengan libur bersama Natal 2011 selamai 3 hari. Dipastikan pantai akan penuh, berisik dan tidak nyaman.  Namun entah kenapa,  pa Asep Tebe malah mengirim SMS seperti itu.

“Siap…!” jawaban saya, walaupun masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Karena pada saat menerima SMS itu, tubuh sedang tidak fit.  Masih terasa ringsek, pegal linu dan perut yang mual mules.  Seharian hanya bisa tiduran di tempat tidur. Diinformasikan pula, oleh Pa Asep Tebe, siap-siapa yang akan ikut touring itu.

Sabtu, 24 Desember 2011. Jam menunjukkan 07.30, matahari cukup cerah pada saat kami  berangkat mengawali touring yang cukup panjang menuju Pameungpeuk. Semua yang ikut touring mengganti ban sepedanya dengan ban yang kecil. Mungkin yang paling kecil ban si Heisty yang berukuran 700 c. Kecuali, Pak H. Muchsin yang memakai sepeda Adrenalin xc-nya.

Pada saat mencapai desa Salakuray, Bayongbong. Pak Wawan, yang gowes di depan saya. Tiba-tiba gowesannya melambat.  Tampaknya dia sangat kepayahan.  Mukanya pucat.  Lalu saya anjurkan untuk balik kanan saja. Khawatir terjadi sesuatu di tengah perjalanan.  Namun, sepertinya dia tidak mau menyerah. Tetap melanjutkan perjalanan, dengan ringkih.

Pelan tapi pasti, rombongan goweser yang berjumlah 18 orang akhirnya tiba juga di pit stop pertama, Batu Tumpang. Yaitu, sebuah tempat rekreasi yang view-nya sangat indah. Dengan panorama perkebunan teh, udara segar dan sangat sejuk. Satu demi satu, berdatangan. Terakhir adalah pak Wawan yang dikawal oleh Dani Gasheba.

Setelah menikmat sarapan kedua, untuk mengganti tenaga yang cukup terkuras oleh tanjakan Garut – Cikajang sejauh 37 km.  Masing-masing goweser langsung menikmati aneka makanan ringan atau berat di rumah makan di Batu Tumpang. Sepakat untuk makan siang dan sholat dhuhur di mesjid Cihideung. Sebuah desa yang terletak 4 km sebelum Gunung Gelap. Dengan alasan, mesjidnya besar, teduh dan bisa makan siang dengan tenang.

Menikmati Turunan, Cemberut 

Satu demi satu meluncur dengan ucapan dan senyuman penuh misteri dari beberapa orang yang telah berpengalaman menikmati jalur ini.  Saya, baru memahami arti ucapan dan senyuman misteri mereka setelah meluncur sekitar 6 km. Jalannya memang hotmix, dan kita dapat meluncur dengan deras. Tapi di balik semua itu.  Kita juga, mau tidak mau harus merenungkan gowes nanjak pada waktu pulang!!!! Turunan yang tajam, dengan luncuran sepeda yang cepat. Di otak kita juga terbayang sebuah perjalanan yang pasti akan samat melelahkan pada waktu pulang!!!

Ternyata apa yang ada dalam pemikiran saya, tidak berbeda dengan pemikiran teman-teman yang lain.  Akhirnya, selama menikmat turunan itu.  Semua peserta touring bungkam. Mulut bahkan cenderung cemberut.  Mata wasapada agar tidak terjebak oleh perangkap lubang yang sesekali muncul. Atau bahakn harus menghindar dari serempetan motor dan kendaraan roda empat yang seringkali seperti binatang buas yang siap mencaplok kami😦

Turunan, turunan dan turunan yang dilewati oleh kami. Praktis dari 65 km jalur Batu Tumpang-Pameungpeuk berupa turunan tajam, tanjakan hanya lebih kurang 4 km saja pada saat akan melewati Gunung Gelap.  Lebih kurang 3 jam meluncur melewati turunan itu.  Praktis tidak ada canda tawa atau ledekan yang kerap terjadi pada waktu menikmat turunan seperti biasanya. Dalam benak masing-masing, sudah terbayang siksaan yang akan dirasakan pada waktu pulang nanti: 65 km nanjak!!!

Diganggu Setan Gak Bisa Tidur 

Alhamdulillah, tiba di Pameungpeuk sekitar puku 15.00-an sore hari. Berarti jarak Garut Pameungpeuk, digowes lebih kurang  7 jam.  Tidak seperti yang direncanakan yang akan menginap di penginapan. Ternyata harus menginap di sebuah warung, dengan bale-bale beralaskan tikar di tempat terbuka tapi teduh. Tepatnya halaman warung yang ditutup genting dengan dinding bilik setengah badan.

Sambil menunggu keringat turun, beberapa dari kami berjalan-jalan di tepi pantai yang cukup indah. Pantainya memang tidak selandai di Pangandaran. Tetapi Pantai Sayang Heulang dan Santolo cukup membuat kami tertarik untuk mengeksplorasinya.  Lumayan ada yang mendapatkan sendal jepit butut yang saling berbeda warna, ada yang dapat makanan burung, ada yang dapat umang (molusca), dan ada juga yang mendapatkan pemandangan sepasang “monyet” yang sedang memadu cinta.

Malam menjelang, kita membayangkan tidur nyenyak. Bahkan teramat nyenyak, Mengingat kelelahan mengayuh sejauh 105 km. Tentunya dengan kembang tidur mimpi yang indah.   Tapi, setan berkehendak lain.  Persis di samping “penginapan”, tiba-tiba sebuh mobil pick up yang memuat peralatan sound system untuk karaokean tiba.  Gusti! Ternyata, jangankan mimpi bahkan untuk memicinkan mata sekejap saja tidak bisa.  Suara penyanyi elektunan yang bersuara sember, dan suara bas yang membuat kaca bergetar cukup keras.  Bahkan saat, mencoba tidur terasa bale-bale bergetar juga.  Alih-alih bisa tertidur, akhirnya kami hanya bisa menerima nasib. Tidak bisa protes. Hanya merutuki dan mengutuk mereka yang berkaraokean malam itu tanpa mengindahkan perasaan tetangganya!

“Ini tidur2 ayam, mencoba merem tapi otak dan pikiran serta panca indra terus bangun gara2 setan yang karaokean”

Beberapa dari kami akhirnya keluar dari pemondokan, dengan  membawa senter. Berburu umang-umang!

Sampai pagi, tak bisa tidur sama sekali. Benar-benar orang yang karaokean itu, tetangga jahanam. Sampai pukul 4 mereka elektunan sambil karaokean. Denan mata setengah mengantuk dan badan teramat letih. Memaksakan diri untuk sekedar menghibur diri. Berkeliling dengan sepeda, di seputar pondokan. Sambil menunggu kepulangan.

Menikmati Tanjakan Sambil “Menangis” 

Tanpa sarapan pagi, serentak gowes dari pantai Sayang Heulang menuju Pameungpeuk. Beberapa rekan, berkelakar siap untuk diloading. Bila tidak kuat menanjak. Tapi dari kebiasaan yang berlaku, kami pantang untung diloading.  Mending DH alias TTB ajalah. Tiba di kota kecamatan Pameungpeuk langsung mencari rumah makan. Sarapan seadanya. Lalu melanjutkan gowes menuju Cisompet sejauh lebih kurang 30 km, fully nanjak😦

Begitulah, nanjak, nanjak dan terus menanjak tanpa ada turunan sama sekali. Diperlukan keterampilan dan pengamatan yang jeli untuk memindahkan gigi sepeda. Gearing diperlukan, agar tubuh tidak terkuras pada waktu menyantap tanjakan yang sangat panjang. 63 km kami harus menanjak tanpa henti.

Memasuk kota kecamatan Cisompet rombongan mulai tercecer. Tercecer karena ketidak kompakan dan perbedaan ketahanan fisik serta sangat variatifnya anggota rombongan. Karena yang ikut gowes touring ini terdiri dari 4 klub gowes.  Yang bertahan dalam rombongan tinggal saya, Pak Asep TB, Pa Wawan Surabi, Pak Camat Pelung,  Pak Nanang Herang, Pak Dodi Bulumata, dan  Pak Tedi Bear . Sambil beristirahat, menikmati buah pisang dan manggis di warung dimana kita rehat.

Tapi alam berkehendak lain, dan terkadang sangat kejam. Saat harus menanjak, hujan turun dengan derasnya. Rombongan berhasil regrouping di depan polsek Cisompet. Tapi itu pun hanya sekitar 2 km, karena curam dan panjangnya tanjakan. Rombongan pun kembali tercecer. Saya dan Dani ecek, tanpa sadar terus meninggalkan rombongan. Hujan semakin deras, tubuh mulai basah kuyup. Dingin menggigit. Gowes dan perasan keringat, tak mampu menahan gigilan tubuh akibat rasa dingin air hujan. Saya hampir menyerah dan akan menepi di sebuah warung kopi. Tapi Dani terus memberikan semangat dan memberikan nasihat, kalau beristirahat. Dipastikan akan keram, dan akan semakin dingin. Karena tubuh basah kuyup dan kita tidak bergerak. Setengah dipaksakan, pedal digowes. Dani mencoba menghibur dengan cerita diri dan keluarganya. Usianya memang masih muda 28 tahun, tapi harus menjadi tulang punggung keluarga yang terdiri dari 8 jiwa. Ibu-Bapak serta 6 saudaranya.

Dengan segala cara Dani terus memberikan semangat pada saya agar lupa pada tanjakan yang sedang ditempuh. Namun, karena rasa dingin, serta kelelahan ditambah tidak tidur semalaman. Tanpa menghiraukan Dani, saya menepi sendiri. Beristirahat dengan alasan lapar! Tak ada nasi di warung itu hanya makanan ringan dan mie rebus. Tanpa, bertanya harga. Saya langsung pesan mie rebus dua porsi. Tak lama kemudian Dani akhirnya berhenti juga. Mengingat hutan Gunung Gelap yang lebat yang persis harus dilewati di jalan raya itu. Sambil menggigil, mie yang masih panas tersebut. Tanpa dikunyah langsung masuk perut dengan cepat.  Seruputan teh hangat manis, lumayan sedikit menghangatkan perut.  Tubuh kembali bertenaga setelah didoping mie rebus dan segelas teh hangat. Tapi, tidak cukup untuk menghilangkan rasa dingin dan menggigilnya tubuh.  Tangan kanan saya mulai kebas, tidak bisa merasakan apa-apa. Karena saking dinginnya. Tapi masih bisa dipaksa memegang handlebar.

Saat itu tampak, Pak Camat Pelung dan Pak Dedi Ecek ngicik lewat di depan mata.  Mereka juga tak jauh berbeda nasibnya sepertinya sama kedinginan. Mencoba menghilangkan rasa dingin dengan terus menggowes. Mencoba mengejar mereka tapi tidak bisa. Tidak lama kemudian, muncul Pak Haris. Mendahului kita di tanjakan Gunung Gelap.

Saya dan Dani terus ngicik juga gowes, dengan putaran yang konstan walaupun melemah.   Hujan tidak juga berhenti, dan malah bertambah deras.  Situasi di Gunung Gelap mulai temaram, padahal waktu baru menunjukkan pukul 13.00.  Di sebuah mesjid kecil saya ingin melakukan sholat dhuhur dulu. Tapi, Dani lagi-lagi mengingatkan, bahwa keadaan tubuh akan semakin buruk. Bila berhenti gowes. Lebih baik nanti sholat di Mesjid Cihideung, sesudah hutan Gunung Gelap. Dasar Dani, setelah tiba di mesjid Cihideung, saya hanya diijinkan untuk buang air kecil. Karena, takut hari akan semakin gelap, katanya. Pak Haris yang tersusul di mesjid itu, mengiyakan.  Akhirnya bertiga melanjutkan perjalanan.

Tanjakan, tanjakan dan tanjakan. Turunan hanya kami temukan beberapa ratus meter saja di Gunung Gelap. Sisanya adalah tanjakan. Apatah, sekitar 10 km menuju Batu Tumpang. Tanjakan semakin curam dan berkelak-kelok. Hujanmasih terus setia menemani setiap kayuhan pedal. Deras dan sedikit berangin.  Ketika tengadah di kejauhan, tampak sebuah mobil di atas sana sedang turun.  Bisa gak ya, melewati tanjakan ini, batin saya berbisik.

Sesekali, batin ini terusik.   Sudah sampai manakah, teman-teman yang di belakang sana?  Saya tidak tahu cerita mereka, dan baru tahu setelah mendengar cerita dari Asep Tebe, seminggu sesudahnya pada waktu gowes ke Cibeureum.

Kolaps di Rumah Makan 

Menurut cerita Pak Asep, di belakang jauh tercecer Pak Wawan, Pak Dodi Bulumata, Pak Yaya Mio, Pak Haris  Gulawing, dan Pak Camat Pelung.  Di tengah hujan deras, Pak Asep harus berjibaku sendiri. Mengevakuasi dan mendorong semangat dan fisik rekan-rekan yang sudah teramat rapuh. Bahkan, Pak Dodi dan Pak Haris sampai “pingsan” dan ditolong oleh penjaga warung nasi, katanya.  Untunglah di belakang, ada tim sweeper yaitu Pak Agus Taher dan Koh Iong yang setia mengawal menggunakan motor.  Karena tubuh yang sudah teramat kelelahan dan kedinginan akhirnya Pak Wawan Surabi dan Pak Yaya Mio dievakuasi dengan diderek sampai Batu Tumpang.

Saya sendiri tiba di Batu Tumpang pada pukul 14.00 tepat. Saat tiba di sana, tampak Pak Dedi Ecek dan Gashebaers sedang menunggu dengan wajah pucat dan bibir membiru kedinginan.  Menunggu yang lain dari jam 12 siang, ujar mereka.  Angin yang bertiup keras serta hujan yang makin deras menambah parah kondisi kami.  Akhirnya, saya putuskan.  Semua pulang saja, karena teman yang di belakang terlalu jauh. Hal itu dilakukan karena dalam pikiran saya muncul ide.  Saat tiba di rumah, langsung akan balik kanan.  Kembali ke Batu Tumpang untuk menjemput teman-teman yang tertinggal di belakang.

Gasheba-ers, Pa Dedi Ecek dan saya akhirnya meluncur turun dari Batu Tumpang langsung menuju Garut, saat melewati sebuah rumah makan tampak pula Ansetong yang juga sedang menunggu.  Saat melihat kami, Ansetong langsung meluncur bergabung.   Tapi, saya ingatkan, yang lain masih di bawah jauh, paling baru nyampe jam 4. Jadi bagusnya ditunggu aja kasihan. Ternyata tidak jauh berbeda dengan Gashebaers, Ansetong juga sudah menggigil kedinginan, karena kehujanan dan sudah menunggu lebih kurang satu jam katanya.  Akhirnya Anseton ikut pula turun bareng.

Tapi, kenyataan berkehendak lain. Selama turun dari Batu Tumpang Cikajang – Garut yang berjarak 36 km. Hujan tidak juga berhenti bahkan ditambah angin yang menerpa semakin keras. Tubuh semakin menggigil. Terus mencoba bertahan dengan gowesan yang dipercepat dengan sisa tenaga yang ada.

Alhamdulillah, akhirnya tiba di rumah jam 16.00.  Tubuh benar-benar mengalami hipotermia. Tangan kanan kebas, tidak bisa merasakan apapun.  Seluruh pakaian dibuka, masuk kamar mandi dan membersihkan kotoran lumpur di tubuh. Ganti baju kering, tidur di atas karpet. Sambil berteriak ke anak-anak saya agar mengambilkan selimut tebal, air panas, balsam geliga dan teh hangat panas.  Seperti dikomando mereka langsung memijat tangan kanan yang kebas. Sambil telungkup yang lain menginjak-injak kaki dan tubuh agar darah kembali lancar. Sehingga tubuh kembali hangat.

Sekitar 30 menit, akhirnya tertidur.   Saat bangun, waktu menunjukkan pukul 18.30.  Ide untuk menjemput teman yang tertinggal di belakang. Terhapus oleh hipotermia.  Mencoba sms ke Pak Asep Tebe dan Pak Wawan tapi tidak ada jawaban. Tapi dalam hati saya yakin mereka pasti telah tiba dengan selamat.  Pukul 19.15 Pak Agus Taher sms, bahwa semua sudah tiba di rumah masing-masing dengan selamat :p

4 thoughts on “Berangkat Menikmati Turunan Cemberut, Pulang Menikmati Tanjakan Menangis”

  1. Hari pertama 2012 awak juga menempuh rute yang mirip: Garut – Santolo – Garut. Bedanya kita orang naik Ava*nza, temennya Xen*a (hahahaaa). Itu aja punggung meni ngilu… bagaimana naik sepeda yak??
    Salut lah!! Salam buat KGC!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s