Gunung Sadahurip, Piramid Tertua yang Terpendam (?)

Gunung Sadahurip, minggu-minggu ini ramai jadi pemberitaan di media massa cetak dan elektronik. Menurut informasi, gunung tersebut sebenarnya adalah piramida yang terpendam. Usianya lebih tua daripada piramida mesir. Sebenarnya sudah sering melewati gunung tersebut. Setiap kali melewati atau mendekat gunung tersebut, tersembul pertanyaan aneh. Kenapa koq bentukanya aneh, dan terpisah dari gunung yang lain. Tidak seperti gunung-gunung lainnya, selalu tersambung dengan gunung di sebelahnya.  Pertanyaan tersebut sedikit terjawab saat ada pemberitaan tentang bentuk sebenarnya dari gunung Sadahurip tersebut.

Tapi disarankan di negara kita, yang pemerintahnya cenderung dengan percaya dengan wangsit alias gosip dari leluhur maka JANGAN PERCAYA dulu deh sebelum terbukti.  Masih ingat kasus kecelenya Presiden Megawati, oleh Menteri Agamannya dengan kasus harta karus Soekarno di Rancamaya Bogor? Atau kasus Blu Energy Presiden SBY yang tidak tahu kasus kelanjutannya sampai sekarang? hehehe….

Minggu 4 Desember 2011, dengan rekan-rekan KGC yang berjumlah 20 orang. Kami gowes dari kota Garut, menuju Sukawening yang berjarak sekitar 20 km. Jarak tersebut dapat ditempuh lebih kurang 30 menit. Tidak ada halangan yang berarti selama perjalanan. Trek yang menanjak curam. Memang terkadang sedikit mempersulit rekan-rekan yang kondisi tubuh atau kondisi sepedanya kurang sehat.

Mendekati desa Cicapar, tanjakan semakin lama semakin curam. Bahkan, kendaraan bermotor seperti sepeda motor atau mobil truk dan pick up praktis hanya bisa menggunakan gigi satu. Rata-rata kendaraan tersebut harus menginjak gas maksimal. Sehingga, terdengar raungan  yang cukup memekakan telinga.

Beberapa kali berpapasan dengan para pengendara motor dan rombongan, yang sepertinya juga akan melihat piramida. Sepasang suami istri, merelakan diri. Untuk naik kendaraan bermotor. Menanyakan pada penulis letak tepatnya gunung Sadahurip, yang katanya piramida. Suami istri tersebut, datang ke lokasi setelah menonton berita di trans dan rcti yang memberitakan pagi harinya. Penulis memberikan arahan, cukup ikuti jalan beton ke Desa Cicapar.

Tanjakan demi tanjakan yang berupa aspal rusak, atau beton berhasil terlewati. Koh Iong, Pak Tarom, Pak Haris dan Pak Yaya tampak sangat tersiksa oleh kondisi tanjakan yang sangat curam tersebut. Membuat kelima orang tersebut praktis harus melakukan aksi DHDM alias Didorong Heula Dengan Termehek-mehek…

Tiba di puncak pas Cidatar, semua peserta gowes menikmati makan siang di sebuah saung di tengah sawah. Sekaligus, beristirahat setelah lebih kurang 2 jam harus berjuang dengan paha yang sangat panas. Karena harus menaklukan tanjakan demi tanjakan. Kalori di tubuh masing-masing benar-benar seperti dibakar habis. Baju jersey, manset, serta kaos kaki…basa oleh keringat.  Bahkan, Pak Dedi lauk sampai terheran-heran, karena saat membuka helm sepeda. Dari talinya menetes keringat! Saking basahnya tali tersebut oleh keringat.  Untunglah cuaca tidak begitu terik. Mendung, berawan tapi tidak hujan. Tidak terbayangkan, seandainya gowes menanjak seperti itu, di tengah matahari yang terik.

Selesai melahap makan siang. Kami kemudian harus cuci mulut, kembali harus melahap tanjakan yang “naudzubillah”! Hanya beberapa orang yang sanggup untuk melewati tanjakan itu dengan cara digowes. Selebihnya harus TTB alias Tungtun Bike :p

Sambil melaksanakan sholat dhuhur di sebuah mesjid yang cukup besar, yang terletak persih di puncak tanjakan itu. Seluruh peserta gowes, kembali harus rehat! Karena, setelah mesjid itu. Jalanan beton yang masih menanjak kembali harus dilahap! Gusti!

Perjalanan dilanjut, masih tetap tentunya…nanjak .  Jalan beton mulai berganti menjadi makadam ringan. Di sebuah pertigaan kecil, langsung belok kiri. Trek langsung berubah menjadi tanah.

Protektor pun dipasang, mengantisipasi keadaan. Trek hanya muat untuk satu orang pejalan kaki, karena berupa pematang sawah. Ketinggian antara pematang dengan sawah di bawah bervariasi antara 1-2 meter. Cukup lumayan kalau terjatuh.

Jalan di tengah pematang sawah yang kecil, dengan ketinggian yang lumayan tersebut. Menuntut kehati-hatian dan keterampilan serta kontrol diri yang tinggi.  Salah-salah, bisa terjun bebas ke sawah. Yang walaupun kering, tapi bila terjatuh akan sangat riskan untuk cedera. Korban pertama tidak lama kemudian jatuh. Persis di depan saya Pak Tarom, harus melompat ke bawah. Melepaskan sepedanya tetap di atas pematang, sedangkan dirinya harus terjun ke sawah kering.  Semua, bersorak dan cepat-cepat mengambil kamera atau hape masing-masing untuk mengabadikan.

Ketinggian yang lumayan, antara pematang dengan sawah. Mengakibatkan Pak Tarom harus mencoba berulang kali untuk kembali naik ke atas. Baru berhasil naik, setelah dibantu oleh salah seorang rekan. Untunglah tidak terjadi cedera apapun tampaknya. Belakangan, setelah tiba di rumah. Konon, Pak Tarom harus dibawa ke tukan urut karena lehernya tertarik!

Gunung Sadahurip, tampak semakin dekat. Seperti ada panggilan yang menjadikan kami tidak merasa lelah. Istirahat sebentar kemudian mendorong sepeda lagi ke atas. Karena kondisi pematang yang benar-benar sempit dan curam.  Sempat merasakan terjungkal. Untung masih kontrol, sehingga tidak menjadi bahan tertawaan yang lain.  Anehnya, Pak Muksin alias Pak Camat, nekad untuk gowes melewati jalan sempit dan sudah terambil oleh si Spezy. Dia gowes terus, pantang mundur. Akibatnya, diapun terguling. Tubuhnya terimpit antara si Spezy dengan sepedanya. Mencoba beberapa kali berdiri gagal. Akhirnya, dibantu oleh Dede Gasheba dan Saya. Baru berhasil. Ternyata paha Pak Muksin tertindih oleh sepeda!

Menurut kabar dari teman-teman lain. Ternyata korban terus berjatuhan Pak Yaya, Pak Haris, Dedi Lauk, dan Pak Tarom harus berkali-kali tersungkur. Dimaklumi, selain newbie. Medan yang sulit dan baru dikenal…

Tergiur oleh kecantikan pemandangan Gunung Sadahurip yang semakin dekat. Kamipun mengambil foto bersama beberapa kali. Narsis berulang-ulang, dari mulai jari tangan mengepal, membentuk hurup V sampai tangan terangkat keduanya!

Saat mendorong sepeda di pematang yang sempit, tidak jarang harus mengalah oleh para petani yang baru kembali dari kebun. Salah satu harus mengalah. Mereka atau kami :p

Tiba di puncak, pemandangan sangat indah. Tebing atau Batu Rahong yang terdapat persis di lembah Sadahurip sesaat mengingatkan kenangan tebing granit di Bolzano, Italia beberapa tahun 2004 lalu. Udara yang sejuk dan view yang teramat indah mengakibatkan tangan tidak mau menyia-nyiakannya. Terus mengambil gambar dengan kamera saku.

Si Spezy saya simpan, kemudian sendirian menuju ke tengah Gunung Sadahurip. Tampak di puncak, tigak orang sedang turun. Kalau tidak ingat hari sudah terlalu sore. Saya pasti naik sendiri ke puncak Gunung itu.

Tak lamaa Pak Asep Tebe tiba dan memberitahukan bahwa trek untuk turun itu di bawah. Jadi kami harus kembali turun. Padahal menurut petani yang bertemu tadi, katanya dari Batu Rahong bisa langsung turun ke Sukawening.  Tapi, karena Pak Asep Tebe lebih yakin. Akhirnya kami turun kembali.

Single trek offroad yang baru pertama kali rasakan di Gunung Sadahurip. Maknyos…! Mantap…single trek tanah, yang masih perawan. Sepertinya hanya dipergunakan oleh para petani untuk pulang atau pergi ke ladang. Sangat teduh, karena berupa hutan bambu dan ladang palawija yang meenghijau. Di punggung bukit, keinginan untuk memacu si Spezy, terkalahkan keinginan untuk mengambil gambar pemandangan yang sangat cantik!

Single treknya sangat renyah, garing dengan sedikit tikungan dan jembatan bambu. Rem dan kontrol handling sangat dituntut di medan ini. Ragu-ragu lebih baik turun dan selamatkan diri sendiri. Bila tidak, menurut ceirta teman-teman beberapa orang ternyata menjadi korban keperawanan single trek Sadahurip ini. Pak Dedi lauk, tulang keringnya mengucurkan darah yang tidak sedikit :p. Matanya sampai merah, entah karena lelah atau tensi yang meningkat tinggi. Atau menurut saya, mungkin beliau sudah lama tidak memakan daging manusia whuakakakak…..

Bonus single trek Sadahurip, ternyata berakhir di tanjakan tercuram yang tadi siang kami lewati. Tepatnya di dekat kantor desa Cicapar! Di situ untuk beberapa saat rehat kembali, sambil regrouping. Minum kopi yang diberikan atas keramahan penduduk setempat. Bercanda dan saling mengingatkan untuk checking rem karena jalanan dipastikan akan turun tajam tanpa tikungan!

Setelah dirasa cukup, perjalanan pulang dilanjut langsung menuju kecamatan Sukawening yang berupa beton dan makadam. Silakan, di trek ini sepeda bisa dipacu secepat mungkin. Tergantung keberanian Anda :p namun jangan sampai lengah, makadam yang tidak seberapa batu-batunya sangat tajam. Ban luar dan ban dalam atau rim/pelek bisa-bisa robek!

Tiba di Sukawening sekitar pukul 15.30 sore. Selanjutnya langsung balik kanan, kembali menuju garut melalui jalan aspal hotmix. Gashebaers, yang terkenal tukang ngicik. Sepertinya sudah ingin cepat sampai di Garut. Mereka, langsung mengambil jalur patas berombongan! Saya mencoba mengikuti kecepatan ngicik mereka. Tapi haya bertahan sampai Sadang. Akhirnya jauh tertinggal :p

Seperti juga pada waktu berangkat, jarak 20 km hanya dilahap dalam waktu 40 menit !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s