Back to Cirorek Track

Setelah lama tidak melakuan offroad di Perkebunan Pinus Cirorek, Cilawu. Akhirnya, Minggu, 31 Oktober 2011 back to Cirorek.  Perjanjian dengan teman-teman akan bertemu jam 8 di warung nasi seperti biasa. Tetapi, ternyata mengalami keterlambatan akibat ada beberapa rekan dari Group SPBU yang belum selesai bekerja. Jadi harus menunda keberangkatan.

Berangkat dari rumah, langsung potong kompas, tidak turun dulu ke kota Garut kemudian melambung ke Bukit Ngamplang. Tapi, langsung  menuju Pasir Cimaung yang berjarak lebih kurang 7 km. Tanjakan Cimaung cukup dikenal oleh para goweser di Garut. Karena cukup curam, ada  tanjakan di sana yang biasa dipake untuk latihan nanjak yang berakhir di lapangan golf  Ngamplang. Selama Nanjak krincingan kuda di Neng Spezy cukup menemani selama ngos-ngosan.  Sesekali, disalip motor yang bolor karena kita harus selalu mengalah menepi. Sebuah delman terdengar pula di belakang, seolah-olah ingin mengejar. Tanjakan demi tanjakan dapat dilalui dengan ngicik. Alon-alon asal kelakon dan tidak TTB itu yang penting🙂

Tiba di pertigaan Genteng-Cilawu-Garut, langsung belok kanan. Menuju rumah makan yang biasa dijadikan tempat rehat pertama, sekalian beli nasi bungkus untuk makan siang. Ternyata, kawan-kawan yang ditunggu. Lama tidak muncul juga. Untuk membuang rasa kesal, gowes perlahan menuju Cirorek. Mata dan telinga harus tetap awas. Karena jalur ini adalah jalur alternatif Bandung-Tasik. Kendaraan besar, bis, truk, dan elf serta angkot cukup ramai. Beberapa kali harus menahan diri, karena kendaraan yang menyalip seenak udel tanpa memperhitungkan sepeda. Terpaksa harus menepi. Ingin rasanya meludahi, muka pengemudi kendaraan itu😦

Pertigaan Cirorek, kembali berhenti menanti para gembala sepeda yang juga belum tiba. Sekitar 15 menit tidak juga muncul. Gowes dilanjut perlahan, dan berhenti beberapa kali supaya bisa nanjak dan memasuki hutan Cirorek bersama-sama. Tetapi ternyata tidak ada juga. Terpikir, udah gowes sendiri sampai ke tengah hutan atau pondok penyadap getah pinus. Ada kejutan! Ternyata jalan, yang dulu hancur dengan batu-batu sebesar kepala bayi dan teramat sempit oleh tumbuhan liar di pinggir jalan. Sekarang, jalannya cukup rata, kiri kanan jalan  sangat bersih. Tampak masih baru. Sebuah stoomwals tampak diparkir di pinggir jalan di tengah hutan.

Gowes sendirian di tengah hutan, ternyata lebih khusu. Menikmati tanjakan demi tanjakan, dengan iringan gemerincing bel delman di handlebar serta nyanyian burung-burung hutan ternyata terasa lebih bermakna. Dikarenakan jalan tidak terlalu parah seperti dulu, nafas pun tidak terlalu memburu. Sesekali berhenti untuk menikmat udara segar hutan pinus. Deru halus angin serta bergeseknya daun-daun pinus menambah kenikmat tersendiri. Para penyadap getah pinus dan para peladang membalas salam dan senyuman. Seorang nenek, dengan simpatik menyapa. Menanyakan kenapa gowes sendiri, padahal di atas banyak goweser yang sudah tiba.

Tanjakan yang dulu terasa cukup berat, ternyata pasca jalan diratakan dan dibersihkan menjadi tidak terasa. Bahkan, sempat terkejut. Karena, tidak terasa sudah tiba di tempat yang biasanya dijadikan tempat istirahat kedua! Neng Spezy langsung disandarkan di dinding bambu pondok penyadap. Ransel Deuter, sarung tangan, helm dan protektor serta kaca mata di buka. Berputar-putar, berkeliling sendirian di tengah hutan. Beberapa kali berpapasan dengan para penyabit rumput, pengambil kayu bakar dan penyadap getah pinus.

Beberapa saat ngobrol dengan penyadap getah pinus. Penyadap itu bercerita kalau dia hanya pekerja lepas harian, getah pinus yang disadapnya, dijemput setiap satu minggu sekali dengan upah 2 ribu rupiah per kilo gram saja! Padahal hutan pinus yang harus disadapnya, hektaran! Dia juga bercerita sudah jarang anak muda yang mau menyadap getah pinus. Jadi dia harus bekerja sendirian. Tapi lumayan, upahnya jadi cukup besar, katanya.

Tak lama kemudian, rombongan para penggembala sepeda tiba. Tampak Asep Peuyeum diikuti Wendi Ireng. Kemudian Pak Ubas, Pak Wawan, Pak Yaya, Ansetong dan Pak Asep serta Pak Haris. Serta dua OB (orang baru) yang ikut gabung di jalan yaitu Asep dan Yayan yang adik kakak. Banyak yang absen, kata Pak Wawan.

Setelah beristirahat sejenak. Mulailah menyantap single trek Cirorek. Langsung meluncur, lancar. Beberapa kali jumping karena trek yang cukup tinggi. Tiga jemari kiri yang memegang grip dan dua grip yang memegang handle brake, terasa cukup kesemutan. Mengingat medan yang curam dan licin. Kontrol dan konsentrasi tinggi sangat diperlukan. Salah-salah, malah terpeleset dan masuk semak-semak. Semuanya sangat menikmat single trek, di hutan pinus dengan suasana yang teramat teduh dan sejuk. Bahkan, keringatpun tidak terasa karena dinginnya udara waktu itu.  Tiba di sebuah dataran. Semua setuju, makan siang. Makan berjamaah dengan lauk pauk seadanya. Saling berbagi dan saling ledek. Kadang sesekali menjahili. Lagi-lagi Pak Haris harus ngomel-ngomel, karena mie yang dimakannya alot. Setelah dicek, ternyata karet gelang! Semua tertawa dan kembali membahas peristiwa saat di rumahnya Andi, selamatan 4 bulan bayinya. Pak Haris waktu itu, harus melotot dengan mata berair dan mulut ternganga, karena dia menguah sambal terasi yang disangkanya bumbu sate!

Selesai makan, kembali ngebut menyantap single trek yang menurun dan menikung sesekali cukup tajam. Namun, harus dihentikan oleh dua buah pohon pinus yang tumbang dan menghalangi jalan😦. Tapi,  justru hal itu menjadi satu keuntungan, karena bisa menunggu teman sambil duduk-duduk di atas batang pohon itu. Cukup lama menunggu yang lain  tiba. Setelah kembali lengkap. Perjalanan dilanjut. Kontrol rem dan konsentrasi harus semakin tinggi. Jalanan teramat curam dan licin.

Bahkan, di sebuah turunan akhirnya harus menggelosor …sambil ngakak. Karena licinnya jalan yang dilewati! Pak Asep yang mengikuti dari belakang,  juga harus terpeleset dan menggelosor. Rem sama sekali tidak berfungsi karena licinnya medan. Sangat berbahaya kalau sepeda dinaiki di sini, selain licin, curam di sebelah kanannya jurang cukup dalam menanti. Akhirnya, TTB. Bisa dinaiki sedikit, tak lama kemudian harus dikejutkan dengan jalan yang tiba-tiba turun tajam dengan ujung jurang dalam. Untung rem berfungsi baik. Tapi efeknya, Pak Ubas yang ada di belakang ikut2an mengerem dan harus terlentang tertimpa sepedanya!😛

Habis sudah turunan dan single trek yang cukup memacu adrenalin. Saatnya untuk “berjualan es” secara berjamaah.  Tanjakan curam dan permukaan tanah merah. Tidak gowesable. Teramat curam tanjakan itu, terik matahari memperparah siksaan di bukit itu! Tanjakan sekitar 500 meter ditempuh dalam waktu 40 menitan, karena sangat susah mendorong sepeda sambil melahap tanjakan seperti itu. Jam 13.10 akhirnya tiba di perkampungan. Sebuah warung telah menanti dipesankan kopi bagi mereka yang ngopi. Yang lain, bergeletakan di lantai warung dari keramik yang bersih. Sebagian, sholat Dzuhur di mushola kecil di belakang warung tersebut. Sesaat beristirahat, menurunkan keringat dan normalisasi nafas setelah melahap tanjakan di bukit tadi.

Perjalanan di lanjut, jalanan makadam di Kecamatan Margawati itu masih gowesable. Namun tetap dengan tanjakan yang tidak masuk akal. Terpikir, orang yang membuat jalan dengan tanjakan seperti itu pasti orangnya iseng! Hanya Asep Tebe yang mampu gowes sampai ke atas, yang lain terpaksa kembali berjualan es. TTB alias DH (didorong heula).

Sehabis tanjakan terakhir, jalanan berubah menjadi aspal mulus dan dapat dipacu. Tidak lebih dari 20 menit sudah tiba di Garut kota!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s