Pohon Berbuah Ajaib di Talaga Bodas

Seperti telah direncanakan, jam 08.05 WIB semua peserta gowes kali ini yang terdiri dari 19 orang peserta telah berkumpul di Sumber Sari 19 Garut. Beriringan menuju Kecamatan Wanaraja Garut yang berjarak lebih kurang 20 km. Yang ditempuh cukup cepat 30 menit saja. Beristirahat sejenak, sambil menunggu teman yang belum membeli nasi bungkus.

Perjalanan di lanjut, menyusuri jalan aspal hotmix. Gowes dengan tanjakan panjang sejauh 7 km. Tanpa turunan sama sekali. Meskipun masih pagi sekitar jam 9, tapi cuaca teramat sangat panas. Matahari dari atas seperti membakar kami dengan ganas. Ditambah pantulan aspal yang juga tertimpa matahari membuat kami seperti ditampar dari atas bawah sekaligus. Setelah aspal hotmix mulus, sejahu 7 km. Jalan berubah drastis menjadi makadam jahanam ringan. Masih gowesable, tapi itu hanya sekitar 500 meter. Karena jalan selanjutnya tidak mungkin dilalui, saking rusaknya. Akhirnya, potong kompas. Mengambil jalan beton hasil PNPM melalui beberapa rumah penduduk. Kondisinya, sangat-sangat menanjak. Tidak mungkin digowes. Ditambah cuaca yang teramat panas. Membuat semua rombongan melakukan TTB berjamaah. Sesekali berhenti, sambil regrouping di sebuah pohon kapas yang besar di tengah persawahan. Kejam! Satu kata untuk cuaca hari itu. Panas, bibir sampai pecah. Terasa perih, namun berupaya untuk tetap minum. Agar tidak terjadi dehidrasi. Baru mencapai setengah perjalanan, botol air telah diisi 4 kali yang artinya lebih kurang 2 liter. Plus, air di waterbag yang 1,5 liter yang entah telah berkurang berapa liter. Tanjakan berakhir beton berakhir di sebuah warung. Waktu menunjukkan pukul 11.35 WIB. Rombongan semuanya beristirahat. Sambil minum kopi, makan camilan warung kampung yang full pewarna pakaian, pengawet mayat, dan gula biang. Tak satupun dari kami yang menyentuh makanan ringan tersebut. Sebotol “aqua” 500 ml dengan merek yang terasa asing di telinga, empat ribu rupiah. Wajarlah, mengingat tempat yang terpencil.  Tak apalah, yang penting bisa minum dan airnya cukup bening :p

Diperkirakan telah masuk waktu dhuhur, maka kompak. Satu keputusan. Sholat dhuhur di mesjid di depan warung yang dijadikan tempat istirahat tersebut. Air yang ditampung di bak sederhana masjid tersebut berasal dari gunung, yang dialirkan melalui selang. Karena jarang dibersihkan baknya. Air tampak jadi kotor. Tapi apa daya. Tetap harus berwudhu dan sholat sekaligus melanjutkan istirahat menghilangkan sedikit rasa penat pasca terbakar oleh matahari tadi. Di lokasi ini dua orang peserta Ecet Pull dan Asep Peuyeum, harus kembali turun dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Karena harus bertugas nyangkul di SPBU. Rombongan tersisa tinggal 17 orang.

Perjalanan di lanjut, tetap dengan posisi TTB berjamaah. Trek yang dilalui sangat tidak gowesable. Impossible to ride. Makadam, dengan batu granit sebesar kepala bayi hampir merata menutupi seluruh permukaaan jalan. Beberapa orang mencoba untuk gowes, tapi harus terpeleset. Akhirnya TTB juga. Lebih kurang 1,5 km dari mesjid tadi, tiba di bekas mess proyek Karaha Talaga Bodas. Karena tempatnya sangat terpencil dengan fasilitas lumayan lengkap. MCK, Kamar yang dibangun dari peti kontener, serta mesjid yang cukup besar. Waktu menunjukkan puku 13.10 WIB, saatnya makan siang. Tak ada tempat teduh sama sekali. Akhirnya posisi makan berpencar. Ada yang di dalam pos penjagaan yang sudah tidak terawat. Saya bersama 5 orang teman lebih suka memilih makan di bawah bayangan sebuh pohon pinus yang cukup teduh. Makanpun dihabiskan dengan sangat lahap dan cepat. Saking laparnya.

Kembali, melanjutkan TTB bin DH karena makadam, dengan batu-batu segede-gede semangka. Terasa makin berat, karena disamping menanjak terus, juga medan makadam yang sangat jahanam😦 Kurang-kurangnya mental kuat, dipastikan akan balik kanan seperti yang dialami Pak Budi. Perut yang baru diisi tadi, walaupun TTB sejauh 3 km terasa kembali meraung-raung minta diisi. Pak Dodi, tampak tidak jauh berbeda. Langkah kakinya setengah diseret. Posisi mendorong sepeda sudah seperti mendorong mobil! Setengah bungkuk. Sementara panas matahari, membakar semua orang tanpa belas kasihan. Jarak 3 km tersebut ditempuh lebih kurang 45 menit.

Untuk menghilangkan rasa penat yang terasa sangat. Sesekali, iseng membuat kaget anak-anak pramuka yang baru pulang dari Telaga Talagabodas. Mereka berteriak kaget dan ketakutan, saat saya kagetkan dengan cara berteriak dan bersikap akan menerkam mereka. Namun, akhirnya mereka tertawa sendiri, mengingat kekagetan mereka yang tidak disangka-sangkat. Kami, yang kelelahan. Sedikit terhibur melihat reaksi anak-anak yang ketakutan tersebut.

Tiba di pertigaan Karaha, Talagabodas dan Garut. Tubuh sudah tidak tertahankan lelahnya. Akhirnya semua berbaring di atas semak-semak, yang cukup empuk. Merasakan panasnya matahari. Wajah ditutup memakai penutup kepala, sekedar mengurangi panas. Tapi tak cukup membantu.

“Paling sekitar jam 4 sore Pak, nyampe di telaga”, begitulah setiap orang yang ditanya, berapa jauh lagi ke lokasi. Untunglah, sedikit terhibur dengan jalan yang mulai mulus berpasir. Bisa digowes namun tanjakan tidak terlalu curam. Lebih kurang setengah jam, akhirnya tiba di pertigaan antara telagabodas dan pemandian sumber air panas. Semua sepakat, untuk menghilangkan pegal-pegal dan penat yang teramat sangat. Menuju ke pemandian sumber air panas. Kembali, jalanan berupa makadam jahanam! Karena sudah terlalu lelah. Jalan makadam yang batunya sebesar semangka itu, dihajar. Terpaksa berdiri, ajrut2an. Tangan bergetar keras. Kesemutan. Tibalah di sebuah dataran, tiga buah bangunan sederhana, setengah gubuk. Dua buah berupa penginapan. Satu buah berupa warung kecil. Kepala sakit sebelah alias migrain. Sudah hampir 2 tahun gak pernah migrain. Karena tersengat panas matahari sambil TTB tadi, akhirnya terserang migrain juga. Langsung pesan kopi susu…untuk mempercepat peredaran darah untuk membawa oksigen ke kepala yang sakit sebelah. Alhamdulillah, migrainnya hilang.

Karena sepeda tidak diperbolehkan di bawa ke lokasi pemandian, akhirnya dititipkan ke tukang warung. Semua beriringan menuju ke pemandian air panas. Waktu menunjukan pukul 15.45 WIB. Lebih kurang 10 menit berjalan kaki, melalui jalanan tanah yang teduh dan hutan yang masih sangat lebat dengan vegetasi khas hutan tropis. Pohon pakis mendominasi hutan itu, pertanda ketinggian sekitar 1300 – 1500 meter dpl.

Tiba di pemandian, suasana sangat sepi. Hening. Berbau magis. Sebuah gubuk bambu yang tampak tua dan kurang terawat berdiri di samping pancuran yang berjumlah 5 buah. Yang aneh, di pepohonan banyak sekali celana dalam aneka warna yang disangkutkan oleh pemiliknya. Konon untuk membuang sial, membuang penyakit, dan mendekatkan jodohnya.  Kolam yang menjadi sumber air panas kelima pancuran itu tampak bening, di dalam kolam tersebut tampak jelas. Beberapa koin yang mungkin dilemparkan oleh pengunjung. Atau dilemparkan seseorang untuk memancing pengunjung, ikut2an membuang koin ke kolam tersebut demi kepentingan pribadi. Di sekitar kolam dan pemandian cukup bersih, dan terawat rapih. Sayang, sampah celana dalam  sangat mengganggu suasana hening dan magis tersebut.

Kami semua, membuka baju dan mandi bergantian di pancuran tersebut. Ketika mencoba berkumur dengan air panas tersebut. Rasanya teramat sangat asam!!!! Berbau belerang. Menandakan air tersebut bersifat asam. Saya tidak berani membasuh muka, sambil menggosokan tangan ke muka atau ke permukaan kulit. Dipastikan akan melepuh dan lecet2. Beberapa rekan, tampak asyik membasuh miliknya masing-masing…mungkin dengan harapan akan menjadi perkasa (kembali wkwkwkwkwk…..)

Hampir satu jam kita bermandi-mandi di situ. Mengambil foto keluarga dahulu, baru kemudian pulang. Tiba kembali di warung. Langsung membayar minuman dan makanan yang sempat tadi dimakan sekalian memberi tips kepada penjaga warung yang merawat pemandian air panas tersebut.

Jam 17.05 hari masih terasa terang. Diperkirakan akan tiba di Cicapar, kampung terdekat jam 18-an. Tapi, cerita berkehendak lain. Melalui handy talky, seorang rekan meminta agar kami yang di depan menunggu karena salah seorang rekan mengalami patah RD yang terhantam makadam. Hampir setengah jam, barulah rombongan belakang tersebut tiba. Perjalanan dilanjut, langit mulai temaram. Jalan makadam masih berlanjut lebih kurang 2 km dari pertigaan Karaha, Talagabodas dan Garut. Langsung masuk ke perkebunan sayuran, trek berubah menjadi tanah kering. Akibatnya, kami harus berjuang dua kali untuk melihat. Melawan mulai gelapnya hari dan debu pekat yang diterbangkan oleh rekan yang gowes di depan.

Terasa asyik…di tengah temaramnya senja dan pekatnya debu. Lampu dinyalakan. Ngebut beramai-ramai, sambil mata dan feeling harus tetap awas. Karena salah-salah akan menabrak teman yang di depan atau terperosok jurang. Beberapa kali harus regrouping, karena tidak semua dari rekan menggunakan sepeda MTB. Ada diantaranya yang menggunakan ban kecil. Sehingga, kami harus saling menunggu agar tetap bersama. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Adzan Magrib terdengar sayup-sayup dari Kampung Cicapar yang mulai dimasuk oleh kami. Seolah berlomba dengan waktu, semua memacu dengan tujuan mesjid di Cicapat. Tetapi, kembali harus dihadapkan pada cerita yang tidak diinginkan. Fadil, yang baru pertama kali ikut. Bannya menghajar batu dan tertusuk bambu. Mungkin, dia lupa untuk sedikit mengempeskan ban pada waktu di turunan. Di samping, bannya Maxis Mark Cross-nya tidak cocok untuk lapangan makadam! Robek, bahkan ban dalamnya tidak bisa ditambal sama sekali. Saat diganti ban cadangan, yang dibawanya.  Ternyata, ban yang digunakan menggunakan pentil fresta. Sedangkan ban cadangan menggunakan pentil besar. Untunglah lokasi kejadian tidak jauh dari tukan tambal ban, yang justru akan tutup.

Untunglah tukan tambal ban, berbaik hati. Meminjamkan alat-alat dan, kompresor bahkan bor untuk memperbesar lubang pentil. Akhirnya, ban terpasang. Tapi…saat dipompa. Ban kembali bocor!!! Dibongkar kembali, saat di cek ban luarnya. Ternyata, kawat dari ban Maxis itu sendiri yang “memakan” ban dalamnya. Kawat halus yang putus akibat terhantam batu, mencuat dan membocori ban dalam cadangan yang baru dipasang. Untung Pak Wawan membawa ban cadangan. Segera dipasang di ban Fadil. Akhirnya perjalanan di lanjut. Namun, baru berjalan lebih kurang 500 meter kembali ban Fadil bocor.

Untunglah ada mushola kecil yang cukup terang sambil melakukan sholat magrib. Membongkar ban dan mencek kenapa bisa bocor. Saat dicek, ban luar tidak ada masalah. Saya terpikir, pasti bocornya di sekitar “bunglon” dan betul. Ternyata, kebocoran diakibatkan oleh permukaan bekas bor untuk membesarkan diameter lubang pentil! Untunglah, Pak Wawan sang mekanik, membawa obeng, dan bisa dipergunakan untuk menghaluskan permukaan kasar dari lubang itu.

Ban cadangan saya giliran dipakai, tapi baru dipasang sebentar. Kembali bocor! What???? Akhirnya, diputuskan memakai ban cadangan milik Fadil yang tadi tertusuk kawat. Ditambal memakai tensoplas yang dibeli dari warung sebelah. Ide kreatif, Pak Asep, Pak Wawan, dan Pak Agus patut diacungi jempol! Jadi HARUS DIINGAT, SELALU MEMBAWA TENSOPLAST ATAU SALONPAS bila gowes ke gunung! Dalam keadaan darurat, bisa dipakai untuk menambal ban. Buktinya, sampai ke Garut yang berjarak lebih kurang 30 km, ban bisa bertahan dengan mulus!

Kembali melanjutkan perjalanan, harus perlahan. Karena sangat gelap. Mengandalkan lampu, dengan kondisi makadam berganti-ganti dengan beton. Salah-salah akan terpeleset. Setelah perjalanan lebih kurang 30 menit. Alhamdulillah, akhirnya tiba di Kecamatan Sukawening. Lampu pun bisa dimatikan, karena lampu dari Jalan Raya Sukawening Garut. Teman-teman yang lain, masih menunggu di sebuah warung goreng2-an. Karena teramat lapar, semua langsung menyerbu bala-bala dan gehu (toge tahu). Yang lain malah, nekad langsung memesan “mie kuah”. Saya tidak berani memesan, melihat bentuk mie dan toge dan kuah yang sedikit aneh. Ternyata benar. Pak Wawan, Pak Asep, dan Pak Dadang yang memesan makanan tersebut. Baru tiga suap, mulutnya langsung terbuka! Matanya berair! Ternyata itu makanan tradisional “seblak” atau “leor” yaitu semacam kerupuk mentah yang dikuah sambal super pedas!  Selamat ….!

Perjalanan selanjutnya, lancar. Karena jalanan Su