Berburu Bulan Purnama di Malam Ramadhan

Puasa siang yang terik hari Sabtu 13 Agustus 2011, benar-benar menguras fisik. Betapa tidak, dua kali harus bolak-balik naik turun bukit di desa Karoya, Cibatu Garut. Karena, harus menyaksikan pengukuran tanah kebun yang terkena proyek bendungan. Lumayan,  kerongkongan dan bibir benar-benar kering. Apalagi, naik dan turun bukit dilakukan pada saat terik matahari. Saking lelahnya, pada saat tiba di gubuk yang beralaskan bambu. Langsung tertidur!

Pada saat berbuka puasa hal pertama yang dilakukan adalah minum teh manis 2 gelas. Air putih 2 gelas. Fisikpun mulai kembali pulih. Dilanjutkan dengan makan berat, tapi tidak terlalu banyak. Teringat, malam Minggu ini akan Nite Ride ke Godog. Sebenarnya, NR malam itu sangat ragu-ragu. Betapa tidak. Sampai jam 17 sore itu. Kita masih dalam perjalanan. Baru tiba di rumah jam 17.15. Secara logika, fisik dipastikan kelelahan.

“Janten, NR teh?”, SMS dari Asep Tebe memastikan.

“Beuh, gak tahu euy…tepar. Kelelahan baru pulang dari gunung di Cibatu!”, jawab saya!

“Walah, GATOT dong… banyak teman yang sudah datang mau ikut!” balas sms Asep Tebe.

“Besok ajalah…”, balas saya lagi, dengan pikiran, bulan purnama atau tanggal 14 Ramadhan itu hari Minggu. Padahal hari Sabtu ini.

“Pa, Jadi NR teh?”, SMS dari Oyib juga masuk.

“Heu, gak jadi Pak…kecapean, baru pulang dari Gunung. Besok ajalah!” Ujar saya lagi dengan sms.

Jam menunjukkan pukul 19.10. Setelah sholat Isya, terawih bersama di rumah seperti biasa langsung dilaksanakan. Biasanya 23 rakaat, karena takut ketinggal NR didiskon jadi 11 rakaat. Si Keriting, anak ketiga langsung mengucap Alhamdulillah! Bacaan sholat, sengaja yang pendek. Biar cepat selesai hehehe….

Setelah menutup sholat terawih dengan doa dan niat, yang dilanjutkan dengan ciuman tangan dari anak istri. Tubuh yang masih letih inipun. langsung menuruni tangga. Menyiapkan jersey, sarung tangan, ikat kepala, helem, kaos kaki, sepatu, watter bladder, wind shielder, kamera digital dan lampu sepeda hadiah dari Ronin Bike Apparel. Dilanjutkan dengan checking rem, shifter dan ban si Spezy.

“Pake training yah, dingin…kan mau ke Gunung”, istri saya menyarankan. Tapi, saya lebih suka memakai celana padding.

Jam 19.50 langsung berangkat, dan meminta si sulung menutup “pintu gerbang”. Sesaat gowes baru lebih kurang 200 meter, jari jemari terasa dingin. Ternyata, sarung tangan lupa gak dipakai. Ketinggalan! Terpaksa balik lagi😦

“Pintu Angin” itulah sebutan untuk daerah dimana tinggal sekarang. Disebut demikian, karena angin malam atau siangnya teramat kencang. Bahkan jemuran, dari besi pun bisa berjumpalitan kalau pas anginnya sedang di puncak kemarau seperti sekarang. Tubuh, yang hanya memakai baju jersey dan kaos tangan panjang dengan balutan warmer langsung menggigil. Menyesal, wind shielder tadi malah dimasukkan di ransel. Dengan pemikiran, akan dipakai nanti pada saat di gunung. Untuk mengurangi rasa dingin yang menggigit. Si Spezy dipacu dengan perlahan. Sesekali harus menepi, menghindari para pengendara motor yang ugal-ugalan😦

Nite Ride diikuti 6 orang, yaitu Asep Tebe, Wawan Oyib, Dodi Bungsu, Budi Handuk, Agus Taher dan saya sendiri. Tadi sempat mampir di toko Koh Iong, ada Pak Haris juga. Mereka tidak ikut gabung, karena kembung perut, kata Koh Iong. Sedangkan Pak Haris, tidak punya lampu sepeda.

Beriringan, lampu sepeda belum dinyalakan. Karena situasi jalan yang masih terang sepanjang jalan raya Garut kota- Karangpawitan sekaligun untuk menghemat energi. Ditakutkan batere akan habis sebelum tiba di puncak Godog. Pak Budi, di depan menjadi leader. Walaupun badannya tinggi besar, tapi kalau dalam hal gowes. Jangan ditanya. Dia pasti akan meluncur di tanjakan paling dulu. Si Bungsu Pak Dodi, mengikuti dari belakangnya.

Belok kanan di Karangpawitan, langsung dihajar tanjakan. Nanjak, nanjak…dan terus nanjak. Tidak ada turunan atau jalan datar sama sekali. Bahkan, satu tanjakan teramat curam, mengharuskan TTB (Tungtun Bike) dan DH (Didorong Heula) berjamaah. Dibandingkan dengan trek onroad yang lainnya, trek melalui Oma Indah adalah yang paling curam tanjakannya.  Tapi, syukurlah karena digowes pada malam hari. Tanjakan jadi tidak terlalu terasa. Maksudnya tidak terlalu terasa nyaman :p

Nafas pun memburu, karena sesekali harus memacu agar bisa tiba lebih dulu dibanding rombongan, untuk mengambil gambar. Beberapa kali pengambilan gambar degnan kamera saku harus diulang. Karena pantulan cahaya dari lampu helm dan lampu di handle bar. Atau bahkan terlalu buram karena minimnya cahaya. Bulan purnama yang diharapkan muncul dan menemani sepanjang pendakian. Ternyata lebih memilih bersembunyi di belakan awan kelabu.

Saat tiba di dua pertiga tanjakan ke arah Godog, di sebuah tanjakan yang tidak terlalu curam. Bahkan bisa dibilang landai. Tiba-tiba terdengar suara sangat keras gemeretak dari sepedanya Agus Taher. “Trek, trek, trek….!”  Semuanya berteriak serempak. “Walah, apaan tuh Gus?”

Agus Taher pun, turun dari sepedanya. Dengan head lamp yang semuanya disorotkan ke ban belakangnya Agus. Tampak, RD sepeda Agus patah! Semua serempak, menyandarkan sepedanya. Pak Wawan Oyib dengan Si Bungsu, langsung duduk. Mengambil kesempat beristirahat sambil merokok. Sementara si Bungsu, langsung merogoh ransel. Mengambil keripik singkong. Pa Asep Tebe dan Pak Budi dibantu sang pemilik sepeda,Agus Taher langsung berusaha memperbaiki RD. “Tidak mungkin diperbaiki”, kata Pak Budi Handuk!

“Potong aja rantainya…lalu buang sepedanya!”, kata saya. Membuat yang lain tergelak! Untunglah, saya membawa toolkits, lengkap denga pemotong rante. Pak Budi langsung memotong rante, dan menyetel ulang gear agar bisa dikendarai sebisanya.

Bulan purnama masih belum tampak. Membuat cuaca muram, cahaya rembulan hanya samar-samar. Dingin, tiupan angin membuat malam semakin kelam.

Perjalanan dilanjut  lebih pelan, daripada waktu menanjak tadi. Gowes malam hari, lebih berbahaya di turunan daripada di tanjakan. Ditambah sepeda Kang Agus Taher yang bermasalah. Akhirnya, tiba juga di Puncak Pass Godog. Yaitu sebuah Mushola di samping SD yang dibangun di Puncak Bukit. Pelan-pelan, satu demi satu. Menurunkan sepeda ke lembah dimana mushola berdiri. Nun jauh, di bawah sana. Tampak, kerlipan cahaya lampu dari arah kota Garut. Bulan mulai menampakkan dirinya. Rasa lelah yang tadi mendera, segera lenyap. Berganti dengan suasana ceria.

Sambil menunggu air mendidih yang direbus Pak Wawan, semua menikmati cahaya kunang-kunang yang kerlap kerlip jauh di bawah sana. Sesekali terdengar derai tawa, atau saling cela. Iwan Fals, terdengar perlahan menyenandungkan sore tugu pancoran dan petikan gitar akustik dari Nokiem saya.

Nikmat, sungguh teramat syahdu. Sesekali terdengar bunyi gemeletak api yang melahap bambu basah sisa pembuatan pagar mushola yang mungkin dibangun anak-anak SD siang tadi. Semilir angin di puncak bukit Godog, membuat kami sedikit menggigil dan mendekatkan diri pada tungku darurat.  Indah! Pada saat seperti ini, kita akan sangat bersyukur sekali menjadi manusia yang masih bisa menikmat alam apa adanya!

Kita mungkin tidak bisa menjadi mereka-mereka yang bergelimang harta, berkendaraan mobil mewah, dan berpesta pora atau disiapkan makanan enak-enak oleh para pembantunya. Tapi di sini, kita masih bisa merasakan keheningan dan kebeningan malam dan menemukan rasa syukur sebagai manusia apa adanya. Walaupun hanya sebuah sepeda yang kami miliki, yang mengantarkan ke bukit terpencil ini. Satu hal yang pasti, kami masih mempunyai harga diri. Tidak kaya, tetapi masih berusaha untuk berbagi. Tidak punya makanan enak, tapi makan selalu enak, bahkan hanya sekedar minum susu jahe dari potongan botol aquapun terasa sangat nikmat! Alhamdulillah….

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sejam lagi waktu sahur tiba. Kamipun segera bersiap untuk turun dan menyusur kesunyian dari manusia yang sedang lelap. Sesekali berpapasan dengan kerlingan dan tatap kaget para peronda di gardu. Melihat rombongan sepeda denga lampu di kepala!

Turun, turun….dan terus turun. Tidak ada tanjakan sama sekali. Melewati beberapa kampung yang senyap. Melewati makadam di tengah hutan bambu. Dengan bertemankan lampu di handle bar atau di kepala, semua khusu menikmati turunan. Langsung menuju kota Garut.

Masuk Jalan Ahmad Yani yang merupakan pusat kota, tampak beberapa pedagang masih buka menjajakan dagangannya. Tukang bandrek, bajigur, bubur kacang item/hijau, tukang gulai kambing/sate kambil, dan tukang buah-buahan tampak sedang terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Tampak pula, dua sejoli, di dalam sebuah mobil avanza saling tatap di depan tukang sate! Si gadis, yang duduk di depan sebelah kiri. Matanya tampak sayu. Kelelahan menatap sang kekasih dibelakang stir. Terbersit di dalam hati, sebuah doa. Mudah-mudahan anak saya tidak melakukan begadang semalaman seperti itu!

Alun-alun Garut, tampak tidak terlalu sepi. Masih ramai oleh pedagang, dan para tukan beca yang sedang bermain kartu. Bahkan, di depan sebuah warnet, tampak belasan motor terparkir dengan rapi. Bersyukur, saya mempunyai teman-teman gowes yang baik. Dengan ikhlas mereka mengantarkan saya kembali “mendaki” menuju  “Pintu Angin” yang berjarak 4 km dari Garut kota. Sepertinya mereka sangat khawatir, dengan makin merebaknya geng motor di kota yang katanya kota santri ini. Pak Asep Tebe dan Pak Wawan serta Pak Budi mengantarkan sampai di depan pintu gerbang. Sementara Pak Dodi yang bermasalah dengan paha, serta Agus Taher dengan sepedanya jauh tertinggal di belakang. Sepertinya mereka menunggu di bawah dan tidak ikut “naik”

Tepat jam 02.00 tiba di rumah, langsung minum segelas besar susu dan melahap mie rebus! Mandi air hangat, sambi menunggu saat sahur tiba🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s