“Kesurupan” di Lereng Papandayan

Di Alun-alun, ternyata para jawara Banten telah siap dan baru selesai mengikuti senam manula.  “Iseng dan pemanasan“, ujar Pak Beben dan Pak Kamil. Mohon maaf atas keterlambatan tuan rumah, mohon dimaklumi biasanya kita berangkat jam 08.30an sedangkan menurut Kang Asep, di Cilegon kebiasaan jam 06.00 sudah berangkat. Tadi waktu kang Asep SMS, bahwa sudah tiba di Alun-alun. Cukup membuat perasaan gak enak. Tuan rumah koq terlambat. Akhirnya saya balas:  ” Sambil menunggu, silakan orang Cilegon menikmati hiburan di Alun-alun Garut. Boleh main momoktoran, mamasdaan atau memeksikoan sambil sewa topi sombrero…”

Jam 08.10 Kang Dani Gasheba yang mencarikan truk untuk loading ke Cikajang ditelepon, ternyata masih diperjalanan. Untuk mengurangi rasa bosan karena cukup lama di Alun-alun, rombongan diberangkatkan menuju Maktal yaitu perempatan lampu merah arah Cikajang. Karena Truk dilarang masuk kota.

Cuaca sangat cerah. Alhamdulillah. Di langit yang membiru dengan sapuan awan putih tipis. Tampak, puluhan layang-layang yang bercengkerama dengan angin musim kemarau.

Selama loading dari Garut ke Cikajang tidak mengalami hambatan yang berarti. Total 23 sepeda beserta penumpangnya bisa dinaikkan di atas truk. Tentunya dengan segala ketidaknyamanan, karena ruangan yang lebih banyak dipakai sepeda daripada pemilik sepedanya.  Sekitar 2 km dari Gerbang Curug Orok, truk sengaja diberhentikan. Mengingat, dari titik start offroad, harus langsung nanjak. Bila tidak dilakukan pemanasan dikhawatirkan akan keram.

Petualangan para Portugal alias Persatuan Orang Tua Bengal pun diawali dengan doa yang dipimpin oleh Abah dari Cilegon. Dilanjutkan checking semua komponen sepeda. Foto bersama kemudian langsung gowes menuju lereng Papandayan. Udara sangat sejutk walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10.20 pagi. Wajarlah, karena di dataran tinggi dengan rimbunan pepohonan yang cukup lebat.

“Pendakian” dimulai langsung dengan gowes di makadam sopan lebih kurang 500 meter. Selanjutnya makadam jahanam, dengan tanjakan yang hanya mungkin digowes oleh manusia-manusia tak punya rasa malu😛  karena mayoritas melakukan TTB alias DH (Didorong Habis2an)  lebih kurang 2 km nanjak berjamaah.  Bahkan, sebuah menara sebuah provider pun dari bawah hanya tampak sepertiganya, saking curamnya tanjakan. Pelan tapi pasti. Satu demi satu rombongan tiba di tempat yang agak teduh dan landai. Narsis beberapa adegan ditengah pemandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

TTB dilanjutkan, perkiraan masih 300 meteran sampai ke titik datar. Semuanya, tampak khusu dan syahdu berjalan sambil menundukkan kepala, lengan tak lepas dari lengan istri keduanya masing-masing. Seolah sedang menikmati tanjakan curam full makadam itu dengan cinta. Beuh…poho we, ka anak mertua mah.

Tiba-tiba, semua terkesiap. Tampak Ary anak Pak Budi peserta dari Cilegon, membantingkan sepedanya. Berlari kesana kemari tidak karuan. Tangannya seperti sedang menari, dikibas-kibaskan ke muka, kepala, punggung. Kakinya tak henti melompat-lompat kegelian plus ngeri tampak di wajahnya. Bahkan, terdengar teriakan panik.  Temannya yang berdampingan dengannya tidak bisa memberikan bantuan. Hanya melihat, melongo dan sesekali tampak wajah jerih juga di wajahnya.

“Kenapa tuh orang? Walah, pasti kesurupan…!” ujar Pak Haris, yang berjalan di belakang saya. Kang Engkus Gasheba di belakang tidak memberi komentar hanya tersenyum ditahan. Sayapun, berpikiran yang sama. Iya, pasti kesurupan. Mengingat bukan sekali hal itu terjadi bila sedang gowes. Dialami oleh beberapa orang yang “bisa” melihat yang gaib kemudian yang gaib tersebut melakukan aksi narsis dengan memasuki tubuhnya. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Sembuh dengan sendirinya.

Adegan tersebut, cukup lama terjadi. Kita tidak bisa langsung lari ke tempat kejadian. Mengingat nafas yang masih ngos-ngosan dan tanjakan curam harus dilewati untuk tiba di sana.

Alhamdulillah, aksi kesurupan yang dilakukan Om Ary Cilegon. Tidak berlangsung lama. Tampak dia segera sadar dan mendekati sepedanya. Sekitar satu meter lagi, saat tangan akan meraih setang sepedanya. Kembali, dia melompat-lompat dan bergidik sambil tangannya terus mengibas ke sana kemari seperti ketakutan. Walah, bener ini mah kesurupan. Ujar pak Haris lagi. Namun, ternyata tidak lama. Akhirnya, orang itu kembali mengambil sepedanya dan melanjutkan mendorong ke atas.

Sesaat kemudian, setelah hampir berkumpul dan setelah melakukan aksi foto bersama. Pak Yaya Mio (disebut mio karena tanpa gigi alias ompong) yang sedang melakukan aksi menandari daerah kekusaaan alias buang air kecil. Juga kesurupan. Tiba-tiba dia mengumpat habis-habisan dengan bahasa kebun binatang. “Anjing…goblog…nanaonan sia?’ Tangannya melakukan aksi yang sama denga orang yang kesurupan pertama tadi.

Namun, setelah mengetahui apa yang terjadi. Semua tersenyum bahkan tertawa ngakak. Bukan kesurupan yang terjadi sesungguhnya adalah serang lebah-lebah kecil yang menyerang dan menyengat kedua orang itu! Pantesan, pada heboh tangan menangkis dan mengibas dan kaki sambil melompat-lompat seperti gerakan si Tua Gila dari Andalas dalam Pendekar Naga Geni 212. Ternyata, oh ternyata…serangan lebah yang merasa terganggu karena saat akan mengisap madu di atas bunga teh  (Camelia sinensis) oleh mereka.

Keindahan pemandangan makin menjadi disaat akan mencapai puncak bukit. Hijaunya perkebunan teh, serta warna oranye dari bunga saliara (Lantana camara) serta langit biru yang tertutup awan sirrus yang putih tips menambah dahsyatnya lukisan Sang Maha Pencipta hari itu. Terik matahari pun tidak terasa, terkalahkan oleh sejuk dan dinginnya angin pegunungan. Alam masih benar-benar perawan, tidak terdengar kendaraan satupun. Sunyi senyap kecuali semilir angin serta dengus nafas dari para pencari Tuhan yang bersepeda!

Tiba di sebuah gubuk, sekalian istirahat. Bekal makan siang pun disantap. Sebagian besar jawara Cilegon dan saya lebih suka makan di saung yang cukup tinggi. Sementara yang lain makan di bawah pohon yang rindang. Tapi dimanapun tempatnya, kalau sudah makan di tengah perbukitan seperti ini. Dijamin pasti enak makan!

Si Abah, yang biasanya ceria seperti si Olga tampak agak kurang nafsu makan. Beberapa kali dia mengeluhkembung sambil memukul perutnya kembungnya.Terdengar bunyi, seperti nangka matang!

“Mungkin masuk angin dan kurang tidur Bah!” kata saya. Si Abah hanya mengiakan, dan tak banyak berkomentar. Kalau sudah kalut dan sedih begitu. Tampak jenggot dan kumis si abah jadi makin putih! Kulit wajahnya juga tampak pucat! Untunglah berdekatan dengan si Abah dalam kondisi seperti itu tidak menjadikannya “bau tanah”! Bwuahahaha…!😛 (peace Bah ah!)

Selama gowes di trek Cisaruni yang seksi seperti Aura Kasih pun, si Abah tampak kurang enjoy! Beberapa kali, sepedanya harus dibantu evakuasi. Terutama, di single trek yang cukup curam dan kiri kanan jurang sedalam 1 meteran. Dia lebih memilih menuntun kekasih gelapnya. Akibat aksinya ini,  dari belakang saya ledek:”Nanti mah Bah, jangan pake seragam tentara. Ganti pake seragam hansip we Bah!”

Si Abah tampak geram, tapi tak berdaya. “Heu, gandeng siah…mun aing sehat mah dilalab kabeh ku aing siah ah!” katanya. Mendengar kata-kata si Abah, semua yang berada di dekatnya ngakak!

Beda dengan Si Abah, Pak Kamil yang sehat wal afiat, sangat menikmati suguhan trek Cihuni. Beberapa kali, dia mengucap Alhamdulillah dan mengambil gambar untuk diabadikan. Tak segan beliau berhenti, dan mengambil foto para peserta gowes kali itu. Pas lewat di belakangnya, iseng didorong pelan punggungnya. Beliaupun ngakak sambil lompat ke kebuh cabai di bawahnya!

Alhamdulillah, sepertinya mayoritas yang ikut gowes ke Cisaruni hari itu benar-benar sangat menikmatinya. Meter demi meter, kilometer demi kilometer dilahap dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.30 dan kita masih gowes. Walaupun sudah memasuki single trek di perkampungan. Beberapa kali si Abah bertanya masih jauh gak, soalnya belum solat asyar katanya. Beberapa kali pula di jawab sudah dekat bah, paling 10 menitan lagi.

Tapi sepertinya, si Abah takut kehabisan waktu sholat. Saat melihat sebuah mesjid yang cukup besar dan bersih. Bersama Pak Kamil, beliau langsung belok kiri diikuti oleh rombongan lain. Semua menyandarkan sepedanya, beristirat yang sudah sholat. Yang belum langsung berwudhu dan solat asyar. Yang Aneh si Abah, ternyata dia malah mengikuti seorang ibu. Ternyata dia ingin setor dulu mengikuti panggilan alam. Untuk hajat besar.

Selesai buang hajat, ternyata seperti makan buah simalakama katanya. Perut kembung seperti itu, buang angin takut dengan temannya, gak dibuanga menambah kembung perutnya. Kesimpulan, belok kiri tujuan utamanya adalah untuk “menabung” dan menyimpan kenang-kenangan sekedar buang “anak” yang tidak diinginkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s