Jawara Murung, Merenungi Randu Kurung

“Kita acara dua hari Kang, Sabtu dan Minggu. Sabtunya kita ingin yang gowes seharian penuh, Minggunya setengah hari aja jadi puas!”, begitulah SMS dari Kang Asep Cilegon masuk ke HP saya. Semua sudah dikondisikan para jawara gowes dari Cilegon ini akan dipandu ke Cisaruni, Lereng Papandayan. Tapi, alam berkehendak lain. Ternyata hampir semalaman, hujan turun dengan lebat. Bisa dipastikan, sabtu pagi atau siangnya, trek Cisaruni akan jadi ajang neraka siksaan bagi mereka.

Segera, jam 5 pagi diambil keputusan trek dialihkan ke Cibeureum. Walaupun semi ekstrim, tapi Cibeureum adalah trek yang sopan dan bersahabat sekalipun didera hujan lebat. Alasan kedua, adalah memikirkan kondisi tamu yang pasti kelelahan dan kurang tidur karena baru tiba jam 1 malam, berarti tidur baru sekitar jam 2 pagi. Semua sepakat demi keselamatan dan kenyamanan tamu trek dialihkan.

Jam 08.00, tiba di titik kumpul Alun-alun Garut ternyata belum ada satupun yang muncul. Dua puluh menit kemudian Pak Dodi tampak dengan si Putih. Celingukan mencari yang lain. Setelah dipanggil, dia tersenyum lega. Tak lama kemudian muncul rombongan jawara dari Cilegon, total 12 orang. Perkenalan pun dilakukan, tanpa basi-basi atau kaku. Kita langsung berusaha untuk akrab sesuai dengan kodratnya manusia yang tinggal di kota yang terkenal dengan domba dan dodolnya. Mulut domba yang selalu tersenyum lebar, dan dodol yang manis legit. Menjadikan pembawaan orang garut seperti domba yang selalu tersenyum, dan manis seperti dodol.

Sesuai kesepakatan, akhirnya gowes dimulai dari Alun-alun Garut kota. Tentunya didahului dengan ritual berdoa dan berfoto bersama di depan mesjid. Satu demi satu, antri mirip urang baduy. Hanya yang ini bersepeda. Menuju Kecamatan Samarang, tanjakan mulai menjamu para tamu di Melayu. Dengan gagah perkasa, mereka melibas tanjakan demi tanjakan. Salut buat si Abah  dan Pak Kamil yang walaupun usia sudah menginjak 60 tahun lebih tapi masih kuat. Mantap melahap tanjakan.

Tiba di Pasar Samarang, seperti biasa. Mincul alias membeli nasi bungkus untuk santapan siang di hutan. Pak Agung mengalami trouble di rearshock FOX-nya tampak oli berlepotan. Bocor! Tapi masih bisa di lock. Fungsi normal. Jadi masih bisa digowes. Pak Budi, terpaksa harus kembali karena hub-nya ngeloss dan gak bisa digowes. Sementara Pak Wawan mengalami masalah dengan pedal sepedanya, tapi bisa diperbaiki. Bukan, sepeda urang Garut kalau tidak bermasalah mah hehehe…

Di pertigaan menuju ke puncak Kamojang, rombongan Gasheba Bayongbong bergabung. Jadi total 23 orang yang ikut gowes ke Cibeureum kali ini. Para jawara segera melanjutkan, di depan. Si Abah, dengan tenaga dieselnya, mantap mengayuh pedal. Pelan tapi pasti. Tak terdengar nafas memburu. Begitu pasti dan tidak ada keluhan apapun.

Tanjakan Randu Kurung, segera membuat murung para jawara. Kecuali, si Abah, Kang Beben, Pak Kamil dan sang putra Deni. Yang lain mulai keteteran. Radio HT terdengar nafas ngos-ngosan dari Pak Wawan yang meminta bantuan porter untuk turun. Menjemput sepeda yang harus ditinggalkan sang pemiliknya.

Setelah menunggu cukup lama di pertengahan tanjakan Randu Kurung, tampak Pak Asep Tebe menggusur dua sepeda, Pak Wawan dua sepeda. Karena, terlihat sudah keletihan, sepeda milik Pak Asep Stroberi di tangannya saya ambil alih. Didorong sampai warung di puncak tanjakan pertama. Sang pemilik, Asep Stroberi dan Pak Pri tampak sangat kelelahan. Bahkan, Pak Pri memutuskan untuk balik kanan, dengan alasan bahu kanan dan lengannya sudah teramat sakit. Pak Agung, juga terlihat kuyu. Lesu, Lemah, Lunglai, Leuleus, Lieur pokokna semua L ada sepertinya.

Tanjakan Randu Kurung masih sangat panjang, dengan kebersamaan dan saling mensupport. Sisa tenaga yang ada, membuat semua bisa melanjutkan perjalanan. Perlahan, dengan langkah tertatih letih mereka yang kepayahan mendorong sepedanya. Berkali-kali mencoba meminta bantuan porter yang di atas agar turun menjemput. Ternyata, saat akan tiba di pos 1 Warung Pulus, semuanya mengalami kelelahan yang sama. Tanjakan Randu Kurung memang edun!

Pesta minuman Gula Asem pun dimulai, sampai-sampai gelas di warung habis. Saya sendiri lebih memilih minum air putih. Mengingat gelas dan asam di warung sudah habis.  Dua tiga orang tampak beristirahat di emperan mesjid. Rebahan, menikmati sisa siksaan tanjakan Randu Kurung. Cukup lama beristirahat di warung sambil menikmati, lontong, kerupuk, keripik, dan bala-bala.

10.30 perjalanan dilanjut, masih tanjakan curam dan menikung cukup tajam.  Beberapa kali, harus memberikan aba-aba kepada kendaraan yang melaju dari atas. Salah-salah pasti terjadi kecelakaan, karena jalan sempit, menurun dan menikung dengan kondisi pesepeda yang cenderung mengambil jalan kanan untuk mengurangi friksi tanjakan.

Tanjakan terakhir di Cibeureum merupakan gempuran terakhir, walaupun pendek hanya sekitar satu kilometer cukup membuat peserta gowes kali ini  tercecer. Bahkan, si Putih harus diderek ke atas, sementara sang pemilik. Tersenyum pahit, dengan kaki telanjang berkalungkan sepatu dan sarung tangan!

Salut buat Pak Dodi, yang pantang menyerah. Lebih mandi keringat dan menahan rasa sakit yang sangat daripada meninggalkan para tamu! Sekalipun dengan tertatih-tatih karena paha keseleo, tidak menjadikan harus mundur atau balik kanan. Dua jempol buat si Bungsu! Hidup Bungsu! Hidup Nyeker! Hidup Nyengir!

Acara “nyasar” tadinya akan dijadikan ritual wajib untuk trek Cibeureum ini. Tapi urung, mengingat kondisi peserta yang tidak menguntungkan. Akhirnya langsung dilanjut ke trek offroad. Untunglah cuaca sangat mendukung, mendung tapi tidak menangis. Sebentar terjadi hujan, saat akan makan siang. Itupun  urung.

Single trek pun, langsung disantap pasca santap siang itu. Satu demi satu, peserta menjaga jarak. Treknya kering, tapi seperti biasa agak tertutup oleh semak belukar. Tapi hal itu tak mengganggu acara downhill. Sesekali terdengar teriakan exciting dari mereka. Pak Agung, sepertinya kurang doyan makan single trek xc seperti Cibeureum, berkali-kali terkaget-kaget. Berhenti mendadak dan maju perlahan. Tidak berani berjibaku seperti yang lainnya. Harus dimaklumi, mungkin beliau terlalu hati-hati atua memang tidak suka treknya.

Saat tiba di padang usar alias perkebunan akar wangi, tiba-tiba paha seperti ditarik. Sakit dan kejang. Kram! Berusaha tidak panik. Sadar kalau diberdirikan otot makin tertarik dan sakit. Jongkok adalah pemecahan masalahnya. Sebelum makin masif, saat jongkok segera kepalan tangan memukul mukul paha bagian belakang! Alhamdulillah, otot kembali berelaksasi. Sambil menunggu rombongan lain, dan mengambil foto. Paha segera dihangatkan dengan gel geliga.

Menurut informasi di daerah inilah, Kang Asep Cilegon, harus merelakan speedometernya dilahap hutan. Hilang entah dimana. Rombongan terus meluncur, sesekali harus antri, dan estafet mutasi sepeda di sebuah jurang yang cukup terjal dan sempit. Trek terus berlanjut di perkebunan, hutan bambu dan masuk makadam, hutan bambu lagi, tanah, akhirnya makadam lagi dan berakhir di aspal tipis ke arah Cipanas. Kecepatan mencapai 58 km/jam!

Di pertigaan Cipanas-Tarogong, Kang Engkus, Tendi dan Ujang memisahkan diri dan langsung pulang ke Bayongbong. Sementara rombongan meneruskan gowes ke pemandian Cipanas, untuk cuci daki dan merebus telur dan sosis berjamaah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s