Trek Cisaruni Lereng Papandayan, Serasa Melayang

Trek yang terindah, terpanjang, tersopan yang akan membuat setiap orang dipastikan akan terpesona. Bila sudah berada ditengah perkebunan di puncak bukit di lereng Papandayan tersebut akan serasa di negeri atas awan, dengan pemandangan yang tidak terlukiskan. Itulah Cisaruni, sebuah perkebunan teh yang terletak di Gunung Papandayan sebelah selatan.

“Siapa bilang Indonesia miskin…” gumaman kalimat itu berulang kali terlontar dari mulut. Tapi sekaligus terbersir kepedihan saat melihat para pemetik teh yang berbaju kumuh, dengan tubuh rata-rata kurus dan tirus menandakan ketidakberdayaan orang-orang pinggiran. Berkubang dengan kesuburan negerinya, tapi tak pernah sedikitpun menikmatinya.

Untuk tiba di perkebunan Cisaruni bisa digowes langsung dari kota Garut yang berjarak lebih kurang 37 km, memakan waktu sekitar 4 jam full tanjakan. Atau diloading dahulu dengan truk, dengan biaya 300 ribu rupiah memakan waktu sekitar 1 jam. Cukup membuat pegal dan ngilu kaki karena berdiri.

Kami memilih untuk gowes langsung dari Garut, memang harus perlahan karena ada satu orang newbie bernama Pak Aom. Tapi tidak masalah yang penting kebersamaan dan senantiasa siap membantu dan memberi semangat kepada pendatang baru. Fisik Pak Aom, benar-benar dikuras habis. Tidak hanya oleh tanjakan yang panjang ke arah Cikajang tetapi juga karena jenis sepedanya yang sangat tidak mendukung. Sepedanya berjenis kelamin dowhill, tercanggih di tahun 1970-an. Suspensi depan full steel dengan rearshock dari pegas, yang tidak bisa dilock. Sepeda itu cukup sepuh, mungkin seusia dengan pengendaranya yaitu Pak Aom. Sehingga pada waktu digowes di tanjakan, beberapa kali harus minum oli saat melewati bengkel sepeda atau motor. Saat digowes terdengar bunyi, ngik ngok…ngik ngok…dari rearshock-nya!

Bergantian Pa Asep Tebe, Pa Dedi Ecek Lodaya, Pa Wawan dan Kang Dani Gasheba mendorong Pak Aom gowes di tanjakan. Tandem bergantian. Pak Aom dan sepedanya seolah menjadi gadis yang diperebutkan oleh keempat pemuda itu saat melahap tanjakan. Lengkap dengan bunyi ngik ngok, ngik ngok-nya! Untunglah saat tiba di Cikajang Pak Aom tidak lantas melahirkan karena beberapa kali berganti pasangan.

Rombongan berjumlah 18 orang yang berangkat dari Garut kota sekitar jam 07.40 ternyata lumayan cepat sudah tiba di Cikajang jam 11.30. Beristirahat sebentar kemudian gowes dilanjut menuju Cibuluh belok kanan dari kota Cikajang. Searah Curug Ciorok. Masih onroad dan menanjak sampai desa Cikandang. Titik start offorad dimulai di kampung ini.

Langsung memasuki perkebunan teh Cisaruni, makadam sopan. Sedikit menanjak, 1 kilo meter kemudian berubah menjadi single trek tanah di tengah perkebunan teh. Udara sangat segar dan dingin. Sehingga terik matahari tidak terlalu terasa. Satu demi satu beriringan menuju ke bukit dimana terletak sebuah Pabrik Teh sisa peninggal penjajahan Jepang.

Di tengah perkebunan inilah Pak Aom mengalami malapetaka. Nafas dan fisiknya benar-benar sudah habis. Sang pacar yang biasanya mendampingi pun jauh meninggalkan di depan dan sudah tiba di lokasi peristirahatan. Sempat beliau menelepon istrinya kalau dia “tepar” dan megap-megap kehabisan nafas. Akibat disiksa oleh istri keduanya sang “ngik ngok”! Saat-saat kritis sudah diujung tanduk. Tapi untunglah, Ansetong, segera balik kanan dan menemani Pa Aom. Meminta bantuan anak-anak yang sedang main layangan untuk membawa Si Ngik Ngok ke atas. Sementara Pa Aom sendiri segera dinaikan ke colt butut yang kebetulan lewat menuju ke atas! Alhamdulillah selamat…beliau langsung sholat dhuhur dan bersujud syukur karena masih diberikan nyawa kedua!

Saat menikmati makan siang, yang lain sangat lahap membawa bekal masing-masing. Pak Aom tampak masih kepayahan, dan mengembalikan harga diri yang dinggut oleh tanjakan dan si Ngikngoknya! Baru makan satu dua suap, beliau langsung berhenti. Nafsu makannya benar-benar hilang…Hal itu cukup membuat kami khawatir dengan kondisi fisiknya mengingat perjalanan baru sepertiganya.

Anehnya, kembali dari warung kecil. Pa Aom, kembali segar dan wajah sumringah: “Ada Desi Ratnasari di warung!” ujarnya sambil mengangkat 2 jempol. Membuat kami penasaran, dan serempak menuju warung. Benar, memang ada Desi Ratnasari, cantik khas gadis kampung, tapi perutnya Bucitreuk alias sedang hamil!

Semua anggota rombongan telah selesai melakukan sholat dhuhur, ada beberapa orang yang tidak sholat atau akan menarik ke jama takhir katanya. Tidak masalah itu urusan masing-masing. Saya sendiri lebih suka sholat dahulu, dalam kondisi apaun walaupun dalam keadaan kotor. Karena belum tentu saya diberi usia sampai Asyar nanti hehehe…

Menapaki trek selanjutnya yang berupa makadam ringan dan single trek tanah dengan kontur menurun. Sangat nikmat, dan terkadang beberapa orang kebablasan. Salah arah, dan terpaksa harus kembali ke atas bukit seperti yang dialami Asep Peuyeum dan Ade Gele Kutil (Gehu Leupeut Kulem Tilu Uihan). Plus, RD Pak Asep Tebe yang kelaparan sehingga memakan rumput dan ranting sehingga kekenyangan dan tubuhnya jadi bengkok. Cukup menghambat yang lain karena harus menunggu mereka.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 dan kita masih berada di atas bukit, perkebunan kentang dan wortel di kaki Gunung Papandayan. Kang Engkus, Dani, Ujang dan Tendi telah tiba di depan. Jauh di puncak bukit. Jam 16.05 barulah anggota rombongan lengkap semua. Tidak menunggu lama, saat personil terkahir tiba, downhill langsung dilanjut.

Entah sial atau lagi apes atau kondisi ban yang sudah tidak layak. Tiga kali saya harus tersungkur cukup telak!

Yang pertama sukses, mencium pohon pisang. Untunglah sepeda segera dilepaskan. Sehingga tidak fatal. Yang kedua, melindas batu di tanah datar, sehingga lagi-lagi harus terjungkal cukup telak! Yang ketiga lebih parah, ban tiba-tiba selip padahal di tempat datar. Tapi karena kecepatan cukup tinggi, akhirnya tubuh terbanting pula di tanah. Tubuh tidak terasa sakit. Tapi dua hari kemudian, baru terasa. Leher terasa tegang tidak bisa nengok kiri kanan, dan paha biru-biru karena dicium sadel sepeda!

Single trek Cisaruni sangat panjang, lebih kurang 40 km! Cukup menguras tenaga tapi sangat enjoy, karena single treknya ditengah hutan bambu dan kadang-kadang mengikuti aliran air irigasi.

2 thoughts on “Trek Cisaruni Lereng Papandayan, Serasa Melayang”

  1. ulasan dan trek yg bagus – saya dan teman berniat coba trak G.Papandayan – Cikajang dan tentu mohon bisa ditemani (as marshal) dr KGC MTB Garut. Jadwal sekitar 2 minggu lagi dr skr saat weekday. : T.Irmansyah
    Note : saya asal Garut juga skr tinggal di Jkt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s