Gobar Kgc Garut Mtb – CK (Cacing Keremi) Cyclist Bali

Matahari tersenyum cerah, mengantar embun pagi keperaduan. Selimut dingin udara kemarau memeluk setiap manusia dalam dekapan alam. Minggu pagi, sepuluh pesepeda yang sebagian besar sudah beruban mengangkat sepeda masing-masing satu demi satu dengan penuh semangat. Merapikan, menyusun isteri-isteri kedua mereka ke atas mobil pickup butut demi memenuhi harapan para pecinta sepeda teman mereka dari pulau Dewata yang ingin menjajal keperawan jalur belantara kamojang dan eloknya Telaga Ciharus.

Dua minggu berturut-turut, mengantar para pembawa berkah ke trek Ciharus yang bisa membuat tubuh serasa remek bin ringsek. Tidak menjadikan mereka untuk berkecil hati. Tak ada keluhan, yang ada adalah kepuasan batin untuk berbagi cerita, berbagi tawa. Tak ada tuntutan apapun,  kecuali harapan akan kepuasan  dan membahagiakan tamu mereka. Tak peduli dengan sepedanya yang rata-rata sudah sepuh dengan kondisi seadanya. Tapi mereka menerima apa adanya. Selalu bersyukur, selalu bahagia, selalu ada tawa di mulut mereka.  Prinsip mereka, yang penting dengkul!

Kami ada, karena kami bersepeda. Bukan, kami ada karena sepedanya.

Jam 08.00 meluncur menuju pemandian air Cipanas ke hotel tamu menginap. Ternyata, mereka sudah siap. Sepeda mereka yang rata-rata sepeda all mountain telah tersusun rapi di atas pickup daihatsu grandmax. Mobil satunya lagi avanza yang siap membawa sang empu mendaki puncak Kamojang.

Tegur sapa dan salam hangat, mengawali pertemuan dan pertemanan. Tak ada kecanggungan, tak ada keraguan, tak membedakan ras, agama atau jenis sepeda. Kami berteman apa adanya. Langsung akrab, karena telah memahami, manusia dilihat bukan dari sepedanya, tapi bagaimana melakukan  sepedaannya.

Karena mayoritas tamu, membawa istri keduanya dengan bentuk sepeda downhill, kita menghormati untuk loading sampai titik start offroad.  Padahal biasanya kita selalu digowes. Depend on situation, respect the guest is our motto. Hormati tamu dan tidak boleh egois, bahagiakan tamu dan utamakan tamu.

Tiba di pintu gerbang Puncak Kamojang yang berupa gapura Pertamina. Seluruh peserta turun. Checking sepedanya masing-masing seteah diturunkan dari truk pick up.

Setelah foto keluarga di depang gapura pertamina tersebut, dengan dipimpin Wakil komandan Gasheba, Kang Dani. Beriringingan menuju titik start offroad yang berjarak lebih kurang 2 km. Tim sweeper kali ini adalah Kang Wawan, Kang Asep Tb, dan Komandan Gasheba Kang Engkus merangkap mekanik. Walaupun baru satu kilometer langsung dihadapkan pada tanjakan yang cukup curam dan panjang. Tidak satupun peserta dari 23 orang yang tercecer.

Memasuki trek yang sebenarnya, uphill di tanah yang bercampur pasir. Kering memang, tapi sulit untuk digowes bagi yang tidak biasa. Karena trek yang menanjak, dan kadang-kadang terhalang oleh semak belukar, akar serta batang pohon yang tumbang ke tengah jalan. Satu jam lebih kurang harus berjibaku menaklukan tanjakan single trek tersebut. Sebenarnya uphill ini bisa digowes untuk yang biasa gowes ngicik. Apatah, dengan sepeda yang mumpuni. Dijamin masih tetap bisa ngacir.

Isapan demi isapan mulut perlahan menyedot air dari watter bladder. Makin ke atas terasa makin ringan. Nafas mulai ngos-ngosan. Kaki terasa menjadi berat, ditambah tangan yang harus mendorong sepeda dengan tenaga penuh. Perlahan tapi pasti, satu demi satu tiba di pos satu. Rehat sementara menunggu keringat turun.

Perjalanan dilanjut, menuju pos dua. Masih menanjak tapi cukup ramah untuk digowes. Tapi mata harus awas karena, semak-semak yang rimbung di kiri kanan jalan membentuk “terowongan”. Membuat kita harus hati-hati, dan harus merundukkan badan. Salah-salah, helm akan terkait ranting dan akan Anda akan terpelanting. Tidak terlalu lama, akhirnya semua bisa tiba di pos dua. Berupa dataran kecil dengan sebuah pohon tumbang yang sudah lapuk. Lumayan bisa dipakai untuk tempat duduk.

Menuju pos tiga, jalanan berubah drastis. Menurun tajam, bisa digowes. Tapi harus mahir mengatur tempo rem. Puncaknya, trek menurun dan menikung sangat tajam serta sangat dalam. Saking dalamnya, hanya kepala kita yang muncul di permukaan. Sementara tubuh dan sepeda “tenggelam” di dalam parit. Sekali lagi mata harus awas, karena saat trek cukup ringan dan ramah. Tiba-tiba menikung tajam dan sebuah pohon dengan diameter seukuran perut gajah rubuh. Menghalangi jalan. Sehingga kita harus merundukan badan sangat rendah dengan sepeda dimiringkan. Minggu kemarin, pohon ini masih kokoh berdiri. Walaupun setengah dari batangnya sudah keropos.

Trek yang sangat ekstrim, licing, sempit, dalam serta menikung tajam diakhiri dengan kecuraman yang mengakibat sepeda sama sekali tidak bisa digowes lebih kurang 20 meter. Lumayan, adrenalin terpompa cukup membuat jantung deg deg plas! Akhirnya, tiba di danau Ciharus. Seperti biasanya, sebelum tiba di tepi danau. Ada saja yang terjebak jebakan betmen. Kubangan lumpur yang disangka dangkal, malah membuat setengah dari ban tenggelam!

Alhamdulillah, semua peserta tiba dengan selamat. Langsung mengambil posisi enaknya masing-masing, setelah memarkir sang pacarnya. Ada yang langsung ngopi dan melahap goreng-gorengan di warung darurat dan satu-satunya di danau itu. Ada yang terduduk kelelahan sambil menikmat pemandangan danau. Ada yang potret sana-potret sini. Koh Iong tanpa henti merekam adegan demi adegan kelakuan peserta yang ikut gowes hari itu.

Rehat dilanjutkan dengan makan siang bersama dari bekalnya masing-masing. Pak Iim yang masih terserang penyakit virus E2Rb (Ee Rubak) cukup menikmati bubur sebagai santapan siangnya. Yang lain, makan lahap dengan pete, sambel cibiuk serta pepes peda, rendang, goreng ayam serundeng! Heu, makan mewah…!

Selesai makan dan rehat menunggu sang pengisi perut turung. Beberapa orang melanjutkan aksi foto-foto narsis. Sebagian ada yang menyedot racun nikotin, suka mikir, kenapa mereka gak nyedot asap tungku pemilik warung ya?

Gowes di lanjut, diawali dengan tes keberanian melewati sungai kecil lebar 5 meteran yang diawali dari bukit kecil. Yang ragu-ragu, dengan alasan takut sepatu basah. Akhirnya cukup dituntun. Yang setengah berani, dan kurang nekad, kejebur dan mogok di tengah. Yang anteng dan pengalaman cukup gowes ringan saja…

Trek berubah menjadi hutan tropis dengan kubangan lumpur cukup membuat sepatu dan ban menjadi seperti donat. Salah arah dan salah melangkah dipastikan terperosok ke dalam lumpur yang cukup dalam. Sesekali sepeda harus dipanggul tapi tidak terlalu lama. Selanjutnya gowesable walaupun sedikit menanjak. Tembus hutan pinus dengan single trek yang garing, maknyus…

Downhill dengan melewati single trek yang teduh dan ramah, membuat ingatan kembali ke tahun lampau waktu sering main di Jayagiri lembang🙂

Single trek hutan pinus, berganti dengan single trek perkebunan tomat, wortel, kentang dan kol silih berganti. Berakhir di sebuah tanjakan pamungkas sebagi bonus tambahan sebelum trek Ciharus berakhir. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menaklukan tanjakan ini🙂 saya termasuk orang yang tidak termasuk sayangnya hehehe….

2 thoughts on “Gobar Kgc Garut Mtb – CK (Cacing Keremi) Cyclist Bali”

  1. Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wished to say that I have really enjoyed surfing around your weblog posts. In any case I will be subscribing in your feed and I’m hoping you write once more very soon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s