Gobar KGB-KGC Garut MTB

Garut masih berselimut kabut saat Spezy menembus embun di pagi hari. Maklum, baru jam 05.40. Burung-burung pun masih enggan bernyanyi. Apatah matahari masih tersipu malu untuk tersenyum. Tiba di titik kumpul seperti yang direncanakan ternyata baru ada si Bungsu alias Kang Dodi. Yang tengah sibuk telepon sana sini, karena anggota yang lain belum pada hadir. Jam 06.20 rombongan lengkap sudah 19 orang. Sepeda semua telah diloading ke atas truk. Tidak seperti biasanya, hari ini harus loading dulu ke puncak Kamojang. Padahal biasanya digowes dari bawah (Garut) yang berjarak 24 km full tanjakan panjang hideung geuleuh di Randu Kurung!

Loading dilakukan, mengingat waktu start yang teramat pagi yaitu jam 07.00. Jadi kalau digowes seperti biasa, bisa dipastikan jam 8 atau jam 9 baru tiba di puncak Kamojang. Sebagai tuan rumah tentunya, kita tidak ingin mengecewakan tamu. Yaitu para goweser dari Jakarta, Bekasi, Cimahi dan Bandung yang menurut registrasi terakhir mencapai 45 orang. Di tengah perjalanan, tampak para Gasheba-ers mengayuh sepedanya dengan mantap. Mereka pun tersalip oleh rombongan, dan dengan setengah terpaksa (maklum mereka tidak biasa diloading) mereka naik ke atas truk.

Tiba di gerbang Pertamina di perbatasan kabupaten Garut – Bandung, truk dihentikan. Seluruh peserta turun dan segera melakukan checking sepeda dan warming up. Setelah itu semua meluncur ke arah Mess Pertamina yang berjarak lebih kurang 1 km dari Gapura.  Tiba di base camp Pertamina, tampak sepeda telah diparkir. Ternyata dari 45 peserta yang terdaftar, ternyata yang hadir kuran dari setengahnya saja yaitu 23 orang. Tentunya dengan berbagai alasan yang rasional, bukan karena takut buruknya cuaca yang menerpa Garut tiga hari terakhir.

Setelah briefing dan pembagian tugas yang diberikan oleh komandan KGB (kata Pak Budhi Pertamina mah: Kelompok Gondrong Belakangnya), Andre “Gunawan” (Gundul Tapi Menawan). Seluruh peserta Gobar Trip 4 KGB Indonesia ini segera meluncur dengan kawalan penuh dari pihak Pertamina baik berupa ambulan, mobil evakuasi dan kawalan satpam di gerbang. Menyusuri pipa-pipa uap panas bumi. Semua meluncur menuju hutan Kamojang. Tanjakan awal di km 2, dapat dilahap oleh para peserta tanpa ada yang tercecer.

Track offroad pun segera tiba. Berupa single trek, kontur pasir campur tanah merah. Menanjak tapi gowesable. Selanjutnya terserah pada kemampuan dengkul masing-masing. Bagi sebagian orang mungkin masih gowesable dan terus menanjak tanpa memperdulikan jalan yang teramat curam. Tapi bagi sebagian yang lain mungkin harus melakukan TTB (Tungtun Bike) atau DH (Ditungtun Heula) karena terbatasnya kemampuan dengkul😛

Sekitar 1 jam peserta gobar harus menanjak, menembus rimbunnya hutan perawan di Kamojang. Sesekali bisa digowes tapi mata harus awas. Karena, salah-salah kepala pasti terbentur di akar atau cabang pohon yang menjorok ke jalan. Di lain waktu kita harus merundukan tubuh dan menundukan kepala,karena memasuki terowongan yang terbentuk dari kanopi semak-semak!

Tiba di pos satu yang berupa dataran kecil yang tidak terlalu luas. Regrouping, sekaligus menunggu keringat turun. Beberapa orang sudah tidak sanggup melakukan TTB dan membiarkan tim sweeper menjadi porter sepeda mereka. Dimaklum dan sudah menjadi kewajiban sesuai dengan tugasnya. Tanpa pamrih dan penuh tanggung jawab Kang Wawan, Kang Asep, Kang Dani, Kang Tendi, Kang Andre komandan KGB, Kang Jaep, Kang Rully; bolak-balik melakukan tugasnya. Tanpa mengeluh. Dua Jempol buat mereka, mungkin ini yang disebut hidup yang barokah dan bermanfaat buat sesama!

Bahkan, Pak Toni yang baru pertama kali xc menjadi asuhan Kang Wawan yang baik. Penurut dan tidak nakal serta sabar mengikuti instruksi sang pengawal.

Perjalanan dilanjutkan, masih single trek menanjak tapi gowesable (bagi yang mampu). Bagi yang dengkulnya masih manja, ya TTB atau DH ajalah. Bukan sesuatu yang haram melakukan TTB atau DH di trek ini. Maklum, treknya cukup berat. Apalagi di trek pasca pos 2. Single treknya menurun curam dan terkadang menikung sangat tajam. Sangat diharamkan memakai rem depan! Karena selain licin, menurun. Single treknya cukup dalam, bahkan kepala kita seperti tenggelam di parit yang kering. Tapi, bagi sebagian orang masih gowesable koq :p dengan catatan terampil, tetap menjaga stabilitas dan konsentrasi penuh serta mental yang kuat. Kalau ragu-ragu…tungtun sajalah dengan resiko lebih sulit karena jalan sempit. Resiko terjatuh pun semakin besar bila kurang hati-hati. Tidak percaya? Tanya pada Kang Budi, bagaimana nikmatnya terpeleset, berjumpalitan sambil tertimpa sepeda!

Single trek yang berupa turunan curam dan tikungan tajam tersebut. Berakir di single trek yang cukup datar. Sesekali melewati tanah berlumpur, kembali harus nanjak sedikit. Selanjutnya turunan dan belokan-belokan kecil di tengah hutan itu. Kubangan air dan lumpur harus dilalui dengan kemampuan analisa kontur dan teknis yang mumpuni. Salah-salah, disangka air atau lumpurnya dangkal, ternyata pas dilahap cukup dalam. Sampai-sampai ban sepeda tenggelam setengahnya dan sepatupun harus mandi lumpur dengan manisnya :p

Akhirnya, semua rombongan utuh, 45 orang tiba di Telaga Ciharus yang panoramanya sangat indah. Sejuk, sepi dan menjanjikan keheningan tidak terhingga. Langit di atas sanapun sepertinya memberikan warna biru cerah dengan sapuan tipis awan putih. Di tengah danau tampak burung-burung walet yang minum air atau menangkap mangsanya. Beberapa pemancing tampak menunggui kekasihnya dengan setia menunggu tipuannya dilahap ikan.

Sepeda langsung diparkir, sang pemilik pun rebahan di rerumputan. Atau sekedar duduk-duduk di atas tanah sambil mendidihkan air untuk membuat kopi. Yang lain sibuk, bernarsis ria foto sana-sini dengan mimik yang ciamik. Ada yang angkat jempol satu, angkat jempol dua, ada yang mengangkat sepeda, ada yang tersenyum simpul memamerkan gigi ompongnya, ada yang malu-malu, ada juga yang difot ala ABG dengan lidah menjulur, mata dikedipkan atau mulut dimonyongkan dengan jari menunjuk ke pipi!🙂 dengan background yang sama yaitu Telaga Ciharus.

Pa Opi, sang photographer dari KGB Indonesia merangkap anggota PBK2P (Pasukan Bawa Kulkas Dua Pintu) segera mengeluarkan kamera Canon-nya yang segede Dajal! Semua peserta berbaris rapi, ada yang duduk santai, ada yang sedang posisi disholatkan, ada yang tersenyum genit, ada yang cemberut mirip biji kurma, ada juga yang berusaha untuk memelototkan matanya karena sipit seperti Koh Iong. Karena tidak ingin ketinggalan momen, Pa Opi memasang tripod dan membiarkan kameranya mengambil momen itu secara otomatis.

Tapi kalau difoto oleh Pa Opi jangan berharap banyak, sudah actions begini-begitu dengan segala posisi dan raut muka atau berbagai gaya. Karena dipastikan Anda tidak akan melihat hasilnya. Maklum, Pa Opi kan kerja di sebuah bank pemerintah. Segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan keuntungan bunga berbunga demi keuntungan bersama hehehe…

Setelah dirasa puas dan cukup menikmati Telaga Ciharus. Gowes dilanjut dengan semangat baru. Trek selanjutnya adalah trek idaman. Turunan, single trek, sesekali kubangan lumpur, mengikuti alur sungai kecil,  meluncur ngebut di tengah hutan pinus serta menyapa kebun palawija milik para petani yang tetap sengsara di negeri tercinta😦

Pada musim kemarau trek di Ciharus ini bisa dibilang surganya para penggowes, tapi bila hujan mendadak. Bisa menjadi neraka jahanam. Sangati licin, dan berubah menjadi sangat ekstrim. Apalagi di trek terakhir. Single track terdapat di antara jurang yang sangat dalam dan tebing. Sangat tidak dianjurkan untuk digowes kalau ragu-ragu. Bahkan, untuk menuntun sepedapun sangat sulit. Adrenalin akan terpacu dengan hebat, saat melihat ke sebelah kiri. Jurangnya dalam Bro! hehehe….

Sepanjang trek terakhir ini, 99% bonus turunan single trek yang harus ditempuh dengan keterampilan mengendalikan handle bar yang mumpuni. Tentunya harus diimbangi dengan keterampilan menyeimbangkan sepeda serta teknik yang cukup. Bila tidak bisa, bersiap-siaplah berguru pada Kang Toni yang telah memberikan contoh jatuh yang baik. Berjumpalitan salto tiga ronde tanpa cedera yang berarti. Tapi, kalau traumanya jangan ditanya ya kang? Matak muringkak bulu taeun…(berdiri rambut kemaluan…saking terjalnya kontur yang menjadi medan pertempuran)

Akhirnya, tiba di pos terakhir atau pos 4. Sebuah warung di samping mesjid. Beristirahat, sholat dan makan. Biasanya kita makan di tengah hutan pinus. Berhubung peserta, ransumnya di drop pertamina di desa Pasir wangi ini. Solidaritas mengharuskan Kgc Garut dan Gasheba juga makan di sini. Tidak Kang Agus dan Kang Dani membawa pete, ludes.  Begitupun sambel cibiuk dan sambel tomat buatan mantan pacar. Laris manis…apatah pepes peda. Tinggal daunnya doang tersisa. Diembat cepat oleh Kang Agen Rewog Setiawan.

Selesai makan, dimulailah acara “You Raise Me Up” yaitu membagikan buku dan alat-alat tulis kepada anak-anak kampung di situ. Anak-anak yang berpakaian seadanya dan mungkin sudah tidak layak pakai menurut ukuran orang kota. Berbaris rapi, usia mereka sekitar 3-6 tahun. Menerima satu paket alat tulis dan buku. Sedikit dan kecil memang tapi akan sangat berarti buat mereka.

Namun, tiba-tiba terjadi kegegeran dan ledak “bom” tertawa di depan mesjid. Mas Agus Imam Santoso, dengan sukarela menjadi pelawak dengan tiba-tiba tenggelam di kolam depan mesjid! Dia terpeleset saat mencuci lengan. Tenggelam dalam arti sebenarnya. Basah kuyup, dan bekakakan plus malu serta kaget tak terhingga. Setengah panik, dia mengeluarkan Black Berry dari dalam sakunya. Seorang teman langsung mengambil, dan mengeluarkan baterenya. Alhamdulillah, terima kasih buat Mas Agus yang menjadi relawan untuk bahan tertawaan seluruh peserta gowes trip 4 kali ini! Bravo Mas Agus, Bravo Kelelep!

Tidak lupa juga Bravo Kang Toni! Bravo Tibeubeut, Bravo Tato Dadakan di Sikut, Bravo Buligir!

10 thoughts on “Gobar KGB-KGC Garut MTB”

  1. Wah manaruh hormat dengan ulasan cerita perjalanannya…. Rasanya sekelas wartawan perangpun belum tentu mampu dan mau membangun sebuah cerita, yg mampu mendorong pembacanya tetap setia di layar kecil hp….. Sekali lg jempol dgn gaya penulisannya….. Bravo KGC, salut untuk penulis……

    Salam,
    Admin KGB’er

  2. Manztab surantab…

    Acara remedial ke Garut harus dilaksanaken secepatnya neh…

    Secara keseluruhan: acara gowes, solidaritas, silaturrahmi, sambal cibiuk plus patay, canda-tawa, “safety-healthy-fun”-nya hingga laporan pandangan mata dan reportasi-nya… semuanya… MANZTAB!!!

    Thanks berat buat KGC

    Agoes Soega

  3. Salut buat KGC dan KGB, terutama buat kang Andre dan kang Deny yang berhasil menkoordinir acara dengan baik. Sayang saya belum bisa ikutan. Insya Allah trip selanjutnya. Bravo KGC & KGB.

    Budhi Satriyo (PGE-Kamojang)

    1. Terima kasih, Pa Budhi…semoga lain waktu bisa ikut gowes bareng KGC dan KGB.
      Hatur Nuhun, atas segala dukungan dan keramahtamahan dan kerendah-hatian Pak Budhi dan teman-teman di Pertamina Kamojang.
      Tanpa dukunga segenap jajaran Pertamina kamojang, acara tidak akan berhasil🙂
      Semoga dalam HUT Pertamina ada acara gowes bareng, sekaligus acara penghijauan atau bakti sosial ya!
      Salam buat semua Pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s