From Nagrog to Godog With Laugh!

Walaupun fisik dalam keadaan ngedrop karena flu dan batuk berat.  Kebutuhan untuk mencumbu istri kedua, Neng Spezy tak tertahankan. Meluncur menuju kampus MTBiyah di Jalan Sumber Sari no. 19.  Dengan berlapiskan jas hujan Neng Spezy, dengan setia dan penuh kesabaran mengantarkan sampai di titik kumpul.

Saat tiba di sana, seluruh mahasiswa baru dan mahasiswa lama telah berkumpul. Total jendral, 13 orang hari ini akan gowes bareng ke Bukit Godog. Yaitu sebuah bukit di kaki Gunung Karacak yang berjarak lebih kurang 7 km dari Garut kota. Bukit tersebut pada bulan Maulid atau tiap malam jumat dan pertengahan bulan sangat ramai dipenuhi para peziarah dari seluruh Indonesia. Bukan tanpa alasan peziarah tersebut datang ke Godog.

Di puncak bukit tersebut terdapat makam Prabu Kian Santang, anak dari Prabu Siliwangi yaitu Raja Pajajaran yang ngahiang/menghilang karena tidak mau masuk Islam. Prabu Kian Santang atau yang dikenal dengan Sunan Rahmat, merupakan penyebar Islam pertama kali di Jawa Barat. Beliau adalah salah seorang dari anak Prabu Siliwangi selain Rara Santang (perempuan). Penyebaran agama Islam tersebut tidak hanya kepada rakyat Pajajaran, tetapi juga kepada ayahnya yaitu Prabu Siliwangi. Tapi, ayahnya menolak. Lebih memilih untuk ngahiang atau menghilang bersama dengan para pembantu serta istananya.

Banyak orang yang berziarah ke makam Godog, baik untuk berziarah, berdoa atau sekedar mengambil air cikahuripan yang katanya berkhasiat untuk awet muda dan obat atau untuk penglaris. Kami sendiri, seringkali datang ke sana. Tapi hanya untuk mengayuh sepeda dan tidak bertujuan apapun. Murni gowes, untuk menikmat tanjakan di Godog yang aduhai…! 8 km full, tanjakannya! Bahkan, ada yang kemiringannya sampai 45 derajat hehehe…..

Sepakat gowes kali ini mengambil start dari lapangan Nagrog yang berjarak lebih kurang 4 km dari Garut kota. Walaupun gowes kali ini didominasi oleh para Rokinal (rombongan aki-aki nakal). Neng Spezy digowes pelan-pelan saja, tapi konstant dengan gigi besar. Memaklumi diri sedang kurang sehat.

Sementara di depan para suhu dan master seperti Pak Haris, Pak Iim,  Koh Iong, Pak Dedi, Pak Budi, Pak Nanang dan Pak Ade serta mahasiswa baru Pak Asep Stro menggowes dengan laju. Melahap tanjakan demi tanjakan. Sesekali harus menutup hidup dan menahan nafas, karena berpapasan dengan motor trail jahanam. Yang tanpa kasihan, tetap ngebut di jalan yang berdebu.  Paru-paru pun serasa mau pecah, akibat flu dan harus menahan nafas padahal kontur sedang menanjak tajam. Alhamdulillah, selamat….

Tapi ditanjakan selanjutnya yang makin curam dan makin panjang, satu demi satu para Rokinal tercecer. Sebagian besar TTB dengan muka merah dan nafas tersengal-sengal. Kelelahan. Neng Spezy, tetap melaju pelan tapi pasti. Tanpa TTB, sesekali disalip oleh Pak Wawan “Oyib”, Pak Asep Tebe dan Pak Mastur para Badak yang tidak mengenal tanjakan. Saya pikir, semua jalan di depan mereka adalah datar :p

Sementara Pak Yaya ‘Mio” yang kondisi tubuhnya tidak jauh berbeda dalam keadaan flu berat. Melaju pelan, sesekali TTB. Tapi dengan sabar, dan pasti tetap menekuni tanjakan demi tanjakan.  Suara tembang Sunda yang biasa keluar dari mulutnya sama sekali tidak terdengar. Mungkin, karena fisiknya sedang tidak fit…

Tiba di puncak pass Godog, pemandangan yang super indah sangat merangsang Koh Iong untuk mengambil kamera digitalnya. Mengambil beberapa gambar. Hal itu diikuti oleh Pak Asep Stro yang mengeluarkan BB-nya dan mengambil aksi beberapa adegan ala “Jango” atau “Lone Ranger” dengan kuda the silver-nya yang sedang mengendari kuda. Sepeda, ban depannya diangkat! Kerenlah…

Perjalanan kembali dilanjut, mencumbu satu tanjakan terakhir sebelum tiba di kaki makam. Hampir semua tercecer dan melakukan TTB, kecuali para badak gila yaitu Pak Wawan dan Pak Asep yang terus menggowes! Bahkan mungkin paha tukang becak se-Garut kotapun tidak ada yang sekuat mereka.  Bayangkan, dengan sepeda hitten steel 7 speed, mereka melahap tanjakan tanpa kesulitan. Sementara, yang lain dengan didorongpun masih terengah-engah!

Tiba di kaki makam, langsung memarkirkan sepeda di warung “Gehu”. Seperti biasa langsung melahap gehu dan lontong atau minuman ringan. Di rumah kuncen (juru kunci) makam sedang ada kenduri. Yang bikin bingung, suasana keramat makam Sunan Rahmat sepertinya musnah. Suara sound system yang memekakan telinga dan mengeluarkan suara nyanyian dangdut dari biduanita dengan pakaian yang “walah” . Sepertinya telah mengikis habis daya magis dan misteri Makam Godog.

Bahkan, Pak Yaya, Pak Nanang, Pak Asep Stro, Pak Mastur dan Pak Wawan mengadakan acara joget sendiri. Setelah melahap tanjakan…Para Undangan, sekilas tampak tersenyum dan mencuri pandang, bahkan akhirnya ada yang terbawa berjoget. Pak Yaya makin menggila jogetnya. Membuat semua tertawa terpingkal-pingkal dengan kekocakannya. Bisa dibayangkan, disaat orang lain memakai batik atau baju resmi. Kami berjoget dengan pakaian dan helm sepeda!

Offroad pun dimulai jam 12.50.

Single tracknya teramat lezat dan gurih. Semriwing, dan beberapa kali ban sepeda harus ngedrift karena belokan tajam dan menurun. Tanah, teramat kering sehingga berdebu. Turunan demi turunan, drop off demi drop off  dilalap satu-satu sambil sesekali narsis untuk diabadikan oleh Koh Iong. Trek Godog memang maknyos…mantap dan pasti bikin ketagihan.

menikmati trek offroad Godog ini, harus pasang mata, pasang telinga dan waspada. Salah-salah kontrol, mungkin Akan terjerembab atau bahkan terbang. Nemplok di pohon, dan kehilangan sepeda.

Hal itu dialami Pak Yaya, yang tadi asyik goyang dangdut di tempat istirahat. Entah sial, atau belum mandi. Diapun terjerembab. Terjatuh, dan KO cukup lama. Dia baru terbangun dan tersadar setelah meraba kantong jerseynya. Ternyata kacamata sepedanya, remuk redam. Tertimpa sepedanya.

Ketika, bersiap mengambil momentum di sebuah turunan single trek yang tajam dan cukup curam. Tiba-tiba terdengar teriakan panik dari atas:

“Anying-anying…setang aing potong…!”

“Bep…!Hek….!!!”, seorang teman, yang ternyata Pak Ade. Tubuh dan wajahnya, nemplok di sebuah pohon. Persis adegan si Bernard Bear menabrak tembok! Sementara sepedanya, tampak sesaat berdiri. Setang atau handle-barnya terbalik 180 derajat. Shifter jadi berada di bawah dan mengarah ke atas!!!

Saya terkesiap, menahan nafas. Karena, sesaat tidak ada suara. Jangan-jangan, dia mati!

Namun, tak lama kemudian sambil terduduk sang korban. Tertawa tertahan, lalu terbahak-bahak. Akibatnya semua tertawa terpingkal-pingkal dan tak kuasa menahan tawa.  Dua orang bahkan sampai bergulingan, mengeluarkan air mata….menahan ketawa yang tidak bisa berhenti! Tragedi ini, sangat membekas…bahkan pada saat sholat Magrib dan Isya pun, sampai batal. Karena tiba-tiba tak kuat menahan tawa teringat pemerkosaan pohon oleh Pak Ade!

Sang Korban pun, terus tertawa, entah mentertawakan diri sendiri atau mentertawakan yang mentertawakan dirinya atau bisa juga mentertawakan setang sepedanya yang jadi terbalik!

Sayangnya adegan, nemplok ala spiderman di pohon tidak sempat terfoto. Tapi adegan dagelan, opera van nagrog sempat terekam sekilas.

Gowes from Nagrog to Godog With Laugh, mungkin judul terpantas untuk acara gowes hari ini. Karena full dengan tertawa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s