Survey trek Kamojang-Ciharus-Darajat bareng KGB Indonesia

Setelah delay karena ada kegiatan ke Ciptagelar, KGB Indonesia (Komunitas Goweser Bandung) pada 12 Juni 2011, akhirnya melakukan survey untuk Trip IV KGB Indonesia yang rencananya akan dilaksanakan di seputaran Kawah Kamojang – Kawah Darajat di Gunung Kamojang. Tim surveyor yang terdiri dari 5 orang, dinakodai Andre Firmansyah meluncur ke Garut pada hari Sabtu, 11 Juni 2011. Bersiap, menyambut mereka kalau-kalau nyasar. Karena walaupun asli Garut, seorang Andre Firmansyah adalah tipe seorang petualang yang lupa akan kampungnya sendiri. Sehingga dipastikan perlu dipandu.

Kebetulan ada SMS dari Asep Tebe, seorang rekan di KGC Garut supaya gabung di acara bajiguran di Sumber Sari. Dengan mencumbu neng Heisty, meluncur jam 17.00 ke Garut kota yang berjarak 4 km dari rumah. Tiba di sana tampak, Pa Wawan, Pa Dodi, Pa Iim dan tuan rumah Pa Asep tengah menyantap bajigur dengan ubi rebus. Tapi, sayang ternyata jatah bajigur telah habis, diganti dengan Teh Gelas. Saat berbincang-riang tiba-tiba, sang Komandan KGB mengirim SMS, mengabarkan jam 19.00 tim survey baru akan merapat ke Garut. Saya pikir sudah dekat. Ternyata sampai jam 20.00 katanya terjebak di tol dan Nagreg. Heu, akhirnya saya kirim SMS balik, kalau mereka harus langsung ke Ganda Sari tanpa dipandu plus, arahan jalan yang harus dilalui.

Bukan apa-apa, karena rumah yang terletak di dalam komplek Workshop PU pada jam 20.00 gerbang sudah dikunci. Sehingga, harus memberitahukan kepada Mang jaka, penjaga gerbang, kalau jam 21-22 mohon gerbang untuk dibuka. Bila ada kendaraan akan masuk.  Akhirnya jam 22.30 telepon dari Andre Firmansyah masuk. Mengabarkan sudah sampai Garut. Dengan sedikit panduan, mereka dengan cepat tiba di depan pintu gerbang.

Jam 7 teng pagi, kami pun berenam meluncur menuju kota Garut. Pa Opi dengan mantap meluncur sambil becanda, “Lho, lihat nih, guwa kagak digowes meluncur…!” Dia gak engeh, kalau pulangnya, pasti harus gowes habis2an😛

Sambil menunggu teman-teman dari Kgc Garut yang lainnya, kami berfoto ria dengan para onthelist, yang kebetulan akan berfunbike ria hari itu. Tapi bukan satu hal kebetulan Andre ternyata nyasar, menjadikan saya harut muter2 dulu mencari si anak hilang. Sendirian, muter-muter 3 gunung yaitu Papandayan, Cikuray dan Karacak.  Tak lama kemudian, bisa Andre Gunawan (Gundul tapi Menawan) bisa bertemu dengan kembarannya, Mastur Gunawan. Sangat disayangkan mereka tidak mau berfoto bersama.

Setelah berdoa bersama di Jalan Cikuray, jam 08.20 beriringan menyusuri jalan menuju Samarang yang berjarak lebih kurang 12 km. Satu demi satu rombongan mulai tercecer. Asep Peuyeum di depan, diikuti Wendy, Spezy, Kang Memetz, kemudian Mio alias Pa Yaya. Di sebuah warung yang cukup besar, berhenti sebentar kareng ada yang membutuhkan minum. Belum mengisi water pack-nya.  Sambil beristirahat sekalian menunggu rombongan lain yang belum tiba.

Setelah semua rombongan kembali berkumpul, perjalanan di lanjutkan menuju terminal Samarang. Menjemput Gasheba-ers yang terlebih dahulu telah tiba di sana. Gasheba hanya 5 personil, tidak lengkap memang. Itu pun yang dua orang harus kembali karena fisik yang kurang fit.  Rombongan masih terus beriringan sampai pada saat tanjakan Randu Kurung, mulai tercecer satu demi satu. Empat orang terpaksa harus dievakuasi angkot.  Asep Peuyeum yang terbiasa ngebut di tanjakan pun. Hari itu, dikabarkan ngontel sebuah pick up! :p

Tanjakan Randu Kurung, adalah tanjakan Panjang Hideung Geuleuh, karena tanjakannya yang panjang dan cukup curam dan belokan tajamnya. Fisik dan energi benar-benar dikuras habis. Kurang-kurangnya kesabaran dan mental yang kuat dipastikan akan TTB alias Matador atau bahkan naik angkot!

Tanjakan demi tanjakan terlewati, dan akhirnya tiba di pintu gerbang Kamojang. Tapi itupun sebenarnya masih berjarak 2 km ke mesjid Kautsar di gerbang Pertamina. Tiba di mesjid, tampak beberapa anggota rombongan yang tepar. Dengan mimik dan kondisi yang benar-benar telah habis. Waktu menunjukkan 11.50 menit. Berarti perjalanan gowes dari Garut memakan waktu lebih kurang 3,5 jam full uphill :p

Satu demi satu, bergiliran melakukan sholat Dhuhur. Yang lain melemaskan otot kaki yang tegang, setelah 3,5 jam gowes uphill ada juga yang menikmati racun nikotin atau sekedar makan biskuit. Ada juga yang SMS dengan keluarga di rumah. Yang lucu ada salah seorang anggota KGB yang dievakuasi naik angkot di SMS istrinya: “Jiga aki-aki wae naek angkot!” (Koq, seperti jompo. Naik angkot segala!). Hal itu, cukup menjadi hiburan dan membuat semua tergelak ketawa! Atau bahkan ada yang tepar dan menghayal sedang “nyusu” seperti ini.

Perjalanan dilanjutkan dengan balik kanan, dan menyusuri jalan aspal menuju titik start offroad yang berjarak lebih kurang 1,5 km. Degan melewati pipa-pipa perak yang berdiameter lebih kurang 50 cm, serta letupan uap panas yang dikeluarkan pipa-pipa tersebut. Rombongan melewatinya, tanpa gangguan satupun. Bahkan, sempat mengambil foto keluarga ditengah areal proyek baru.

Tanjakan aspal terakhir sebelum offroad pun harus ditaklukan. Cukup panjang dan cukup curam. Tapi sesudahnya, langsung mendapat bonus turunan yang cukup panjang yang berakhir di “gerbang” start offroad. Tidak seperti waktu gowes pertama di jalur offroad ini. Ternyata, medannya sangat bersahabat dan gowesable. Single treknya, sangat rimbun oleh semak-semak dan pepohonan. Tapi konturnya menanjak, makin ke atas makin menanjak. Sampai akhirnya tidak bisa digowes yang berlangsung lebih kurang 1 km harus TTB.

Namun, saat tanjakan habis. Sepeda kembali bisa digowes dengan medan yang sangat seksi. Kurang-kurangnya mengatur keseimbangan dan keterampilan mengatur tempo gowes. Bisa dipastikan akan terjatuh atau terjerembab. Masih terus menanjak. Datar sebentar. Kemudian menanjak lagi, sampai akhirnya harus beristirahat  atau menepi beberapa kali. Harus mengalah dengan motor trail yang lewat jalur yang sama.

Tanjakan habis, dan dilanjut dengan turunan single trek yang sangat curam dan dalam. Menjadikan, adrenalin terpacu cukup tinggi. Satu demi satu dengan jarak yang dipandang aman, semua melewati “lorong” single trek di puncak Kamojang itu. Tidak ada yang mengeluh, semuanya happy dan sangat enjoy dengan trek ini. Walaupun cukup menguras tenaga🙂

Telaga Ciharus di puncak Kamojang pun, akhirnya tampak dengan kemisteriusannya. Airnya tenang, tampak dalam dan luas sekali. Dengan naungan pepohonan yang tampak sangar menjaga kelestariannya. Beberapa anak kecil dan orang tua tampak memancing di tepi telaga. Di kejauhan tampak belasa motorbiker, juga sedang beristirahat dan menikmati pemandangan telaga Ciharus. Suasananya tidak sehening dulu pada waktu tiba di sini pertama kali. Hampir 40 orang berkumpul di tepi sebuah telaga. Di puncak Kamojang, perbatasan antara Kabupaten Garut dan Bandung. Sesekali terdengar petikan gitar, yang nadanya gak karuan yang dimainkan beberapa anak ABG yang kemping di danau itu.

Karena lapar yang sudah teramat sangat. Masing-masing membuka bekal nasi bungkus, dan melahap dengan cepat. Di selingi canda dan tawa, serta tawaran sambel, lalab atau sekedar sebutir pete. Sepele memang, tapi membuat kebersamaan dan saling berbagi diantara kami makin terjalin.

Usai makan siang, satu demi satu sang fotographer Mr. Opi Riadi mengabadikan para Roki (Rombongan Aki2) dengan kamera Canonnya. Mendung mulai menutupi putihnya awan di siang itu. Cukup membuat khawatir. Sebab keindahan single trek yang asalnya surga bisa menjadi neraka. Karena dipastikan akan licin, karena konturnya berupa tanah merah dan tanah liat. Tapi, sebagian rombongan menandaskan tidak akan hujan. Karena musim kemarau telah tiba. Cukup menghibur.

Sesaat sebelum berangkat memulai perjalanan trip ke tiga untuk menikmat single trek yang sesungguhnya. Om Opi Riadi berteriak memanggil. Setelah didekati ternyata ban depan sepedanya kempes. Untung Pa Asep Tebe membawa ban cadangan dengan ukuran ban yang sama. Selamatlah Om Opi. Kang Agus, raja tanjakan Gasheba merangkap teknisi segera beraksi. Dengan lincah dan terampil, tangannya membuka ban luar. Tanpa menggunakan sendok ban. Mengeluarkan ban dalam yang kempes, dan memasukkan ban dalam baru dengan cepat. Tidak sampai 10 menit. Sepeda Om Opi kembali siap disiksa.

Single Trek Darajat diawali denga melintasi sungai kecil yang dalamnya cukup menenggelamkan setengah ban. Goweshable dan menjadi tantangan sendiri. Kurang-kurangnya keterampilan bisa dipastikan, sepatu akan basah seperti saya hehehehe…

Meter demi meter, trek ditempuh cukup sulit dan menantang. Harus hati-hati karena banyak kubangan lumpur atau bahkan harus gowes di tengah sungai kecil. Salah jalan, pasti terperosok ke dalam lumpur. Jalan terkadang masih harus uphill sedikit-sedikitlah…tapi selanjutnya downhill dengan kontur tanah yang maknyus di tengah hutan yang masih lebat. Beberapa km kemudian, vegetasi berubah menjadi hutan pinus, kemudian sayuran dan berganti lagi dengan hutan pinus. Menyebrangi jembatan kecil yang dibawahnya sungai cukup dalam, atau menyisir tebing dengan jurang yang cukup dalam.

Beberapa kali, anggota rombongan harus terjerembab dan terpental dari sepeda karena kurang seimbang pada waktu mengendalikan handle bar. Bahkan, pada sebuah turunan setan, yang berakhir di sebuah jembatan bambu. Pa Mastur harus berjumpalitan seperti Sarimin yang sedang girang karena dikasih pisang. Untung, tidak mengalami cedera apapun. Bahkan, menjadi hiburan tersendiri bagia semua🙂 Terima kasih buat Pa Mastur yang sukarela, terjatuh dan terjerembab sehingga kami bisa tertawa!

Lebih kurang 7 km singgle trek offroad di tengah hutan  Kamojang -Darajat ditempuh dalam waktu 4 jam. Mantap!

Jam 17.30 akhirnya perjalanan berakhir di desa Pasir Wangi. Seperti biasanya, langsung memesan susu panas atau kopi hitam tergantung selera. Udara pun terasa sangat dingin menggigit. Mantel hujan dan jaket mulai dikenakan. Kang Agus Gasheba yang tidak membawa mantel terpaksa harus mengganjal dadanya dengan kardus. Agar tidak terlalu dinging pada waktu downhill Pasir Wangi-Samarang….