Dimana Ada Kemauan, Disana Ada Jalan

Alah bisa, karena biasa. Biasa karena dipaksa atau terpaksa…

Peribahasa itu berlaku dalam mengayuh sepeda. Sepanjang atau securam apapun tanjakan, kita pasti bisa melaluinya bila terpaksa dan terbiasa menjalaninya dengan kemauan yang kuat. Kemauan karena kemaluan yang besar…eh, bukan kemaluan kali ya. Rasa malu yang besar karena teman-teman kita mampu melewati tanjakan itu, atau kemauan yang muncul dari diri sendiri karena tekad, kesabaran dan ketabahan yang telah bersemayam dalam jiwa kita.

Diawali dengan tanjakan ringan di daerah Sanding dan Cireungit, sebelas orang bersamaan mengayuh sepeda dari Garut kota menuju Cikajang. Cikajang adalah satu kecamatan yang terletak di kaki gunung Cikuray dan gunung Papandayan. Dengan ketinggian 1246 meter dpl, sementara Garut kota pada posisi 717 meter dpl. Dengan kondisi perbedaan ketinggian yang cukup relevan inilah, mengakibatkan Garut-Cikajang dijadikan trek yang paling disukai oleh para penikmat jalan nanjak di Garut. Baik onroad atau offroad. Jaraknya yang mencapai 29 km, cukup untuk memenuhi kepuasan mengeluarkan keringat.

Bagi para pemula, trek Garut-Cikajang walaupun onroad dengan kontur aspal hotmix mulus. Namun bagi goweser pemula merupakan neraka tersendiri. Tanjakan panjang, curam dengan jalan datar yang se-emprit, cukup membuat nafas terengah-engah dengan degupan jantung yang cepat. Plus, kaki dan depan yang kurang-kurangnya mengatur tempo. Dipastikan keram.

Satu demi satu dari kesebelas orang yang asalnya mengayuh bareng. Meninggalkan jauh atau tertinggal jauh oleh mereka yang terbiasa melewati dan menikmati tanjakan itu. Tapi, tetap dikawal oleh para senior dan marshal yang bertanggung jawab. Pa Asep Stroberi, yang kali kedua bergabung dengan kami gowes di hari minggu. Membuat cerita tersendiri.

Di tengah perjalanan, para Gasheba-ers yang dipimpin Pa Agus bergabung. “Tadinya mau menjemput!” , teriaknya. Kamipun saling tertawa. Walaupun baru dua kali gowes bareng, tapi kami langsung akrab. Senang sekali, bisa gowes bareng dengan Gasheba-ers, selain jago tanjakan. Pa Agus juga adalah seorang teknisi sepeda yang mumpuni. Maklum, dia punya sebuah toko sepeda.  Para Gasheba-ers tidak segan, mereka mengangkut dan memanggul para Kgc-ers yang keteteran di tanjakan. Yang harus meninggalkan sepedanya di bawah. Untuk diangkat dan diangkut oleh Gasheba-ers…Mantap!

Kesamaan idealisme dan ciri kolektif yang mengutamakan kebersamaan, saling menghargai, berbagi cerita, berbagi ceria dan berbagi tawa. Menjadikan Gasheba-ers dan Kgc-ers langsung akrab dan bersahabat. Prinsip tidak mau naik truk atau pick up, karena tanjakan adalah bagian dari bersepeda yang harus dijalani. Karena tanpa tanjakan, bersepeda bukan bersepeda namanya. Namun, prinsip kami tersebut seringkali fleksibel karena menghargai tamu dari luar. Yang mungkin tidak terbiasa dan hanya ingin mengambil jalur downhill offroad. Jadi kami, ikut bergabung naik pick up atau truk sekalipun harus berkorban jadi pusing alias mabok perjalanan. Karena tidak terbiasa :p

Diperhatikan, sebenarnya mungkin Pak Asep ingin beristirahat sesaat ketika di tengah perjalanan. Berkali-kali dia bertanya kapan istirahat?   Tapi, untuk meningkatkan ketahanan fisiknya. Kami berkali-kali membujuknya untuk beristirahat di tempat biasa. Yaitu di sebuah warung kecil setelah kecamatan Bayongbong yang berjarak lebih kurang 16 km dari Garut kota. Pelan tapi pasti. Akhirnya tiba juga di warung tadi. Sementara yang lain langsung melahap lontong, bala-bala dan makanan atau minuman ringan lainnya. Pak Asep malah terduduk, memijit-mijit paha dan lututnya. Sepertinya kakinya mengalamai fatigue. Mungkin karena kurang pemanasan, atau belum terbiasa gowes non stop sejauh 16 km, full tanjakan.

Pa Haris alias Eyang Gulawing, saya minta untuk memijat kakinya. Pa Asep Tebe, tanpa diminta langsung memberikan balsam geliga. Sementara Pa Asep Stroberi, yang lagi-lagi berubah namanya menjadi Pa Asep Stressnyeri mengeluarkan kayu putih. Membuka sepatu dan kaos kakinya yang tampak masih “cling” mulus dan putih bersih. Sementara itu Pak Wawan tampak kedua pipinya menggembung mirip pipi “Sarimin” yang suka pergi ke pasar. Pa Yaya, yang sering disebut Mio karena matic alias mulut tanpa gigi. Tampak lucu, karena berusaha mengunyah lontong atau bala-bala, tapi karena giginya sudah habis. “Reseplah ningali Pa Yaya nuju tuang teh. Ampul-ampulan…!” kata saya, sambil menatap mulut Pa Yaya yang pada saat mengunyah, malah seperti mengucapkan “mulya, mulya….”. Jadi tersenyum sendiri, karena teringat waktu kecil. Sering iseng, menangkap ayam. Yang pada saat pantatnya ditiup, langsung bereaksi: seperti mulut Pa Yaya, mengatakan “mulya, mulya, mulya….!”

Setelah dipijat kaki dan diberikan doa oleh Eyang Gulawing, yang spesialis tukan pijat. Pa Asep Stresnyeri, telah kembali menjadi Pa Asep Stresseuri. Setelah memakai kembali kaos kaki dan sepatunya. Beliau langsung ke warung dan minum minuman ringan. “Tadi pagi, hanya sarapat ketupat! Jadi lemes”, katanya. Lain kali mah, sepertinya Pa Asep Stroberi harus mandi pake aci, alias tepung tapioka, jadi keras!😛

Perjalanan dilanjutkan menyusuri tanjakan dan sedikit turunan setelah Bayongbong. Kembali terdengar teriakan dan jeritan bersahutan saat menikmat sedikit turunan sebelum tiba di Kecamatan Cisurupan. Tapi keceriaan kembali terhenti, saat menapaki tanjakan sebelum Cisurupan. Masing-masing, asik menggenjot sepedanya dengan gir yang kecil. Berombongon tidak terpecah menuju tempat rehat kedua yaitu Rumah Makan Lamping Sari lebih kurang 3 km dari Cisurupan. Untuk memesan nasi bungkus beserta ayam kampung atau sate serta lalab dan sambelnya. Sementara Gasheba-ers langsung meluncur ke Cisurupan.

Entah karena terlalu lelah atau disengaja. Saat tiba di tempat parkir Rumah Makan tersebut. Neng Evi, begitu saja digeletakan oleh suaminya di atas tanah. Sementara, yang lain menyandarkan di tempat yang aman. Pa Yaya, langsung mengamankan Neng Evi. Pa Agus, mengkritik kalau Neng Evi itu terlalu kompleks untuk pemula. Seharusnya, untuk pemula cukup sepeda XC, sambil menunjuk ke Neng Spezy. Karena, Neng Evi itu digunakan  untuk AM yang sangat mumpuni disiksa, dicumbu rayu diberbagai medan. Tapi, bagi seorang pemula, justru akan berbalik. Malah Neng Evi, yang akan menyiksa majikannya. Sayapun mencoba, Neng Evi. Tapi, ternyata malah terasa enak. Memang liar, tapi enak dipake. Plus, enak dibawa tentunya. Karena, Body Neng Evi tampak bahenol, cantik dengan tubuh yang gemulai. Demplonlah, pokoknya. Tapi dari segi BB (Berat Badan)- nya, Neng Evi lebih berat daripada Neng Spezy.

Akhirnya, saya cobain mencumbu Neng Evi sementara Pak Asep mencumbu Neng Spezy. Langsung dihajar tanjakan sejauh 3 km, sepertinya Pak Asep lebih nyaman mengendarai Neng Spezy. Tapi yang aneh, Neng Evi, sepertinya gak ada kekurangannya. Bahkan, di tanjakan yang menikung tajam sebelum Cisurupan. Neng Spezy terbiasa ngecek, menggunakan gigi besar. Untuk Neng Evi, dengan gigi kecil bahkan gir depan di shifting ke gir paling besar, tetap maknyus. Bahkan, saya keteteran minta tambah. Tanjakan jadi seperti jalan datar! Dalam hati langsung: http://www.ngiler.com alias http://www.mupeng.com (muka kepingin).

Tiba di sebuah mesjid tepat adzan Duhur. Tampak Ghaseba dan Pak Iim telah menunggu di sana. Mereka tersenyum saat melihat Neng Evi malah dicumbu saya. Sedangkan sang majikan malah mencumbu Neng Spezy. Rehat dan sholat duhur. Enaknya, gowes dengan “Roki”, alias rombongan aki-2  tidak pernah melewatkan sholat. Mungkin karena para roki mah, selalu mawas diri karena sudah berbau tanah. Bahkan, sarungpun selalu setia di dalam water bag mereka. Tapi, kalaupun tidak membawa sarung, bisa meminjam ke DKM mesjid walaupun harus menggunakan bawahan mukena atau sarung untuk anak khitan seperti yang dilakukan Pa Yaya!

Karena perjalanan mulai menurun dengan hanya dua tanjakan di depan. Neng Evi kembali ke majikannya. Saya pun kembali mencumbu neng Spezy dengan kegaharannya. Saat akan menghajar tanjakan Cidatar sebelum tapal kuda. Saya minta ke Pa Agus untuk “menderek” Pa ASep Stroberi, tapi sepertinya para Gasheba-ers lainnya sudah mafhum, tanpa diperintah. Nendi, yang tubuhnya tinggi besar dengan cadence yang mantap. Segera menyalip kami, langsung mendorong pinggang Pak Asep dan “wuuushh…!”  Neng Evi yang asalnya ngicik dan tampak kedodoran. Melesat akibat dorongan dari energi Neng Uni.

Tanjakan lunas di bayar kontan. Setelah tanjakan Tapal Kuda, belok kiri. Kontur aspal langsung  berubah menjadi single trek. Kebun sayuran kentang dan jagung. Jalannya teramat sempit. Sampai-sampai, harus jadi Mbah Surip. Tak gendong, sepedanya kemana-mana!

Tiba di bendungan Cibaranang yang viewnya, cukup bikin merem melek. Rehat, makan siang dengan membuka bekal masing-masing. Pak Nanang menyerahkan nasi kuning, yang dijanjikannya minggu lalu. Nikmat banget, padahal cuma dengan taburan irisan bawang dan telur goreng. Cukup menghentikan nyanyian keroncong sang perut yang tadi bernyanyi. Sambil beristirahat, ambil foto keluarga. Makan dengan lahap, bahkan mata harus awas. Melotot tajam, seperti mata kucing yang sedang makan ikan. Takut ikannya direbut oleh temannya! Contohnya, anak yatim yang kelaparan seperti di bawah ini.

Single trek tanah, di tepi irigasi mulai dijajaki. Treknya cantik, sayang datar dan sangat mudah. Tapi tetap harus berhati-hati. Sedikit meleng. Dipastikan akan terjungkal seperti yang dialami Pa Yaya. Walaupun tidak tercebur ke dalam aliran air irigasi. Cukup membuat Pa Yaya, sangat terkejut. Derai tawa pun, menggema di lembah yang saat itu ditempa panas matahari.

Sesekali, turun dari sepeda masing-masing. Karena jalanan terlalu sempit. Tapi tetap datar, dan tidak menantang. Perjalanan terasa membosankan. Panas terik matahari membakar muka dan tubuh. Tenggorokan jadi cepat kering. Jatah air 1,5 liter dalam water pack dan 600 ml dari bottle cage. Ludes!

Jam 14.30 akhirnya perjalanan berakhir di persimpangan jalan raya dan single trek.  Diputuskan untuk langsung pulang via jalan raya. Agar tidak terlalu sore pulang ke rumah. Maklum, minggu kemarin pulang jam 19, jangan sampai terulang kembali. Tidak masalah bagi kami, tapi bagi yang lain mungkin akan jadi masalah. Salah-salah dilabrak istri pertama, karena terlalu  lama “kilir” mencumbu istri kedua

Perjalanan diakhiri di pertigaan Ciburuy-Bayongbong, ditandai dengan pamit, dan terima kasih serta salam kepada para Gasheba-ers. Berpesan, jangan sampai kapok, dan minggu depan mungkin bisa gowes bareng lagi. Dengan syarat sesama pesepeda dilarang saling mendahului apalagi sampai harus tidur dua kali, makan lontong 4 biji karena menunggu yang lain🙂

2 thoughts on “Dimana Ada Kemauan, Disana Ada Jalan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s