10 Jam Bercumbu dengan Lebatnya Hutan Kamojang-Darajat

Trek yang akan kami lalui, menurut informasi belum pernah diketahui keberadaan treknya. Bahkan, salah seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia offroad mengatakan, bahwa jalur dari Puncak Kamojang ke Kawah Darajat tidak ada jalurnya. Bahkan, mereka tidak mengetahui bahwa kalau di salah satu puncak Kamojang terdapat sebuah Danau yang masih perawan. Terletak antara Kabupatan Majalaya dan Garut. Mereka baru terdiam, kalau kami akan gowes offroad bareng dengan Gasheba alias Group Sapedah Bayongbong yang sering ngetrek ke sana.

Jam 08.30 semua anggota rombongan plus dua peserta newbie menyusuri aspal hotmix Jalan Papandayan-Sukapadang-Pembangunan-Samarang yang makin lama makin menanjak. Diselesaikan tanpa halangan sedikit pun.  Di sebuah warung nasi, seperti biasa membeli nasi bungkus alakadarnya. Setelah regrouping dan lengkap. Perjalanan dilanjutkan dan bergabung dengan group Gasheba yang telah menunggu di terminal Samarang. Tidak seperti kami yang berpakaian campur sari, dana apa adanya. Gasheba berpakaian seragam jersey telor asin. Mantel biru tua, yang juga bertuliskan Gasheba.  Setelah saling memperkenalkan diri, kami pun segera akrab dan menyusuri tanjakan Samarang-Puncak Kamojang.

Tanjakan Randu Kurung

Saat di tanjakan Randu Kurung, sebagian anggota mulai berguguran. TTB karena tanjakan yang curam dan panjang. Karena di belakang tidak ada tim penyapu, akhirnya saya menunggu mereka yang tertinggal. Tak lama kemudian,  Mr. Ngicik alias Pak Iim dengan diiringkan grup Gasheba lewat dengan neng Patty-nya. Pak Dedi, Pa Asep Stroberi dan Pak Nanang jauh tertinggal di belakang. Bisa dimaklumi, mungkin Pak Nanang dan Pak Dedi menemani Pa Asep Stroberi dengan Neng Evi (Evolution AM)-nya yang keteteran. Maklum newbie, langsung dihajar tanjakan Randu Kurung mah julukan Asep Stroberi berubah jadi Asep Stresseuri. Kumis dan janggut Pak Asep, yang pada waktu berangkat tampak gagah mirip kumis dan janggut Sashee Kapoor. Di tanjakan itu mah, berubah menjadi kuyu dan layu, mirip Pence Sumendap hehehe…

Untunglah, dalam penderitaan tanpa akhir tersebut. Dari jauh tampak, Mr. Philip, yang terus terang terang terus. Segera balik kanan dan menjemput Neng Evi (Evolution AM), sementara “sang suami” Pak Haji Asep Stroberry ditinggalkan dan dibiarkan berjalan ditemani Pak Dedi dan Pak Nanang. Mr. Philip mengatakan, kalau Pa Asep Tebe, yang saya yakini sedang sakit tipes. Malah, sedang menyusul katanya. Gelo, orang ini bener-bener gila. Disuruh bedrest, malah nyusul belakangan. Nekad!

Regrouping kedua di sebuah warung masjid pertengahan Kamojang. Semua rehat, dan menyantap gehu dan bala-bala. Sambil menunggu Pa Asep Tebe, yang sprint dari Garut kota. Dan memang tak lama kemudian, ternyata dia sudah tiba dengan KHS nya! Edan. Bener-bener edan. Sedang sakit  (tipes?) saja mampu, melahap tanjakan Randu Kurung dalam waktu yang singkat. Bahkan, dengan sumringah dia memperlihatkan kaos jersey dan seluruh tubuhnya yang mandi keringat. Basah kuyup seperti baru diceburkan ke dalam sungai.

Jegerna (Jelema Gering Nekadna Aneh)

Sementara beristirahat, para Gasheba-ers sudah meluncur lebih kurang setengah jam lalu. Mereka, sangat kompak. Beriringan baik di tanjakan atau di turunan. Mungkin karena kemampuan mereka sudah sangat mapan. Sehingga tidak ada kesulitan untuk selalu bersama.

Gasheba, nanjak mudun selalu bareng

Dirasa cukup beristirahat dan mendinginkan keringat. Semua akhirnya kembali gowes menuju puncak Kamojang. Arboretum Cimanuk terlewati, jalanan sedikit menurun tapi  hanya sebentar. Kemudian menanjak lagi dan membelok tajam dan panjang. Rombongan kembali mulai tercerai berai. Pa Asep Tebe mengawal Pa Asep Stressberry, eh Stroberry. Dua orang bernama sama: Asep, tapi beda nasib. Yang satu Asep TB profesinya sesuai dengan namanya Tukang Boseh, sementara Asep yang satunya sama juga sesuai dengan namanya, Tukang Stroberry!

Akhirnya, tiba juga di Pintu Gerbang Puncak Kamojang yang merupakan Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Bumi yang dikelola oleh Pertamina. Sebentar mengambil kesempatan untuk membuat foto keluarga, walaupun tidak lengkap. Kembali gowes dan tiba di masjid besar, untuk sholat dhuhur. Di halaman mesjid tampak sedang mengobrol santai para Gasheba-ers dengan teman-teman dari KGC Garut. Sebagian sedang sholat dhuhur.

Gerbang Kamojang

Setelah selesai semua sholat dhuhur, perjalanan dilanjutkan melewati pipa-pipa putih mengkilat yang sesekali cerobong di  setiap sisinya mengeluarkan uap panas. Wush…berbau belerang cukup kuat. Lebih kurang 2 km, mengikuti alur pipa putih mengkilap dengan semburan uap panas tersebut. Berbelok kiri. Mengambil jalur offroad. Disini kembali foto keluarga bergabung dengan Gashebar-ers.

Ternyata, trek yang dilalui tidak seperti yang dibayangkan. Jalannya, menanjak sangat tajam. Dengan lubang memanjang di tengahnya. Praktis, kita harus mendorong sepeda dengan posisi yang sangat sulit. Mendorong ke atas, tetapi kaki juga harus meregang. Praktis tenaga kita tidak bisa terpusat. Tapi terbagi, antara kaki dan lengan serta kestabilan badan. Salah sedikit, bisa dipastikan, tubuh atau sepedah akan kembali meluncur ke bawah. Beberapa kali, terdengar teriakan-teriakan histeris, karena stress. Maklum, tanjakan sepertinya tidak akan berakhir. Terdengar pula sesekali suara keras; “Hoi, masih jauuuuuhh???”

Bisa dipastikan, kurang-kurang mental dan kemauan kuat. Akan balik kanan. Tapi kalaupun balik kanan, mau pulang dengan siapa? Di tengah hutan dengan vegetasi khas hutan tropis basah? Dengan kondis jalan yang licin dan berlumpur? Ban sepeda, praktis semuanya sudah berbalut dengan tanah merah bercampur pasir hitam. Mirip donat! Hal itu menambah berat sepeda dan menambah tenaga yang harus dipakai untuk mendorong sepeda.

Yang lebih menyulitkan, saat harus mendorong sepeda, sekaligus kita harus mendorong sepeda di bawah semak-belukar yang mirip terowongan! Tidak jarang, dagu sampai harus menempel pada setang sepeda, mata harus tetap awas. Salah-salah, helm akan terkait oleh ranting atau rotan.  Tubuh, benar-benar basah sudah dibasuh dengan keringat yang mengalir deras. Nafas pun memburu satu-satu. Degupan jantung sepertinya sudah berpindah ke telinga dan terdengar jelas. Sehingga telinga jadi berdenging!

Hampir satu jam, perjuangan menaklukan tanjakan dengan istri masing-masing berlangsung sebelum tiba di tempat yang “datar” (dalam tanda kutip). Tetap saja, kita harus menekan handle rem. Karen bila tidak, pasti sepeda mundur lagi. Akhirnya sepeda bisa dinaiki, dengan cara kaki tetap teregang. Menginjak tanah karena jalan yang tidak mungkin di gowes. Lubang dalam akibat sepeda motor trail, mengakibatkan ban sepeda hanya terlihat tiga perempatnya. Bisa dinaiki, tapi tidak bisa digowes. Perjalanan makin sulit, karena sekarang jalanan memang menurun. Tapi kondisinya tidak jauh lebih baik pada waktu tadi naik. Sama buruknya. Sesekali bisa laju, tapi bukannya digowes, tetapi karena menggelosor. Akibat ban belakang yang direm penuh. Sedangkan posisi tanah menurun tajam.  Bahkan, sesekali sudah licin, berlumpur, jalan menikung dengan tajam.

Setelah hampir satu jam, bergulat dengan diri sendiri ditengah hutan lebat dengann tangan yang tidak boleh lepas dari istri kedua.  Turunan Edan, tersebut akhirnya habis dan baru berakhir setelah kita tiba di sebuah danau yang sangat, sangat, sangat…. Allahu Akbar! Subhanallah…!!! begitulah kami berteriak-teriak mengumandangka takbir dan tasbih melihat kemolekan danau Ciharus. Ainya jernih. Dikeliling hutan lebat dan naungan awan putih sore hari. Sunyi. Luas, saking luasnya tampak ombak kecil yang tercipta dari pergerakan udara dari tengah danau. Sesaat kami terdiam. Terkesiap, takjub oleh keindahan lukisan Sang Maha Pencipta yang sulit dilukiskan dengan kata-kata…

Tidak bisa dibayangkan jauh di puncak gunung, dan hutan lebat. Terdapat danau yang sangat luas. Tampak, 3 orang pemancing, seorang sedang memasak air dan nasi di sebuah tenda darurat dari plastik. Dua orang lagi sedang asyik memancing. Tanpa menghiraukan kedatangan kami.

Jam menunjukkan pukul 15.10. Total perjalanan dari jalan raya menembus hutan lebat berupa tanjakan dan turunan tadi sekitar 2 jam. Untuk para pemula, sangat tidak dianjurkan melalui jalur ini hehehe…salah-salah akan menangis!

Karena terlalu lapar, makan siang pun sangat tidak terasa. Hanya untuk mengganti energi yang tadi terkuras. Asal makan. Entah terpengaruh kondisi yang terlalu lelah. Saat makan semur ikan, yang dibeli dengan ragu-ragu dari warung nasi di terminal Samarang tadi. Akhirnya, digantikan oleh telur dari Pak Wawan. Air minum dari dalam botol dan hydropack, total 2,7 liter habis. Kering. Sedikit ragu, memberanikan diri. Meminta air dari teko yang dipanaskan dalam tenda oleh pemancing. Sangat panas, sehingga tidak bisa langsung diminum. Akhirnya, harus bersabar karena nasi keras dari warung tadi sepertinya tersangkut di tenggorokan.

Dikarenakan waktu yang sudah terlalu sore, dan mendung makin gelap. Selesai makan, perjalanan harus dilanjutkan. Surprise! Ternyata awal perjalanan, harus melewati sungai kecil dengan lebar lebih kurang 10 meter. Kecil memang, tapi cukup dalam. Pilihan hanya dua, digowes atau digowes! Kurang-kurangnya terampil, dipastikan akan terjungkal dan jatuh ke dalam air. Cukup dalam. Setengah ban🙂

Perjalanan berlanjut dengan melewati kubangan-kubangan lumpur bercampur pasir. Sepatu, kaos kaki, sarung tangan dan pakaian penuh dengan lumpur. Seru dan menegangkan. Karena sesekali harus melewati jembatan bambu, dengan jurang di bawahnya. Beberapa kali, kembali sepeda harus dituntun karena tanjakan yang sangat tidak mungkin. Bahkan, untuk pertama kalinya selama gowes. Neng Spezy harus digendong oleh orang lain.

Salut untuk para Gasheba-ers yang fisiknya sepertinya tidak ada capenya. Bahkan, air di dalam botol mereka masih ada yang utuh. Berkali-kali, sepeda para KGC-ers harus dipangku dan digendong serta diselamatkan dari alam yang sangat tidak bersahabat. Bahkan, neng Patty dan neng Evi…harus mengalami KDRT untuk pertama kalinya. Sang suami, Pa Iim dan Pa Asep sudah sangat tidak berdaya. Harus merelakan isteri mereka dicumbu dan digendong oleh orang lain….

Jalur ini, sebenarnya akan sangat mengasyikan bila tidak ditimpa hujan. Single trek, di hutan pinusnya sangat menggairahkan. Sayang ditimpa hujan, dan sebagian treknya hancur oleh ban motor trail. Jadi tidak bisa dilewati sepeda.

Kurang lebih satu jam setengah, akhirnya perjalanan berakhir di sebuah kebun sayuran. Saat ditanyakan pada seorang pemuda yang berdiri di tengah ladang. Daerah itu bernama Pada Awas, Kecamatan Pasir Wangi area Kawah Darajat. Disebuah warung, berhenti sejenak dan menikmati segelas susu hangat. Sementara yang lain, menikmati segelas kopi dan beberapa batang rokok.

Jam 17.45 perjalanan dilanjutkan dengan meluncur. Meluncur karena jalanan cukup rata. Meluncur makin deras saat melalui jalan hotmix Kawah Darajat-Samarang. Terjadi balapan antara para Gasheba dengan KGC-ers, di tengah hari yang mulai gelap. Mata dan pikiran harus awas, karena kendaraan cukup ramai. Susul menyusul terjadi, bahkan sesekali harus menyalip motor atau roda empat. Kecepatan menurut om endomondo.com mencapai 56,3 km/jam😛

Akhirnya di perempatan Samarang dan Bayongbong, Gasheba-ers dan KGC-ers berpisah. Karena perjalanan berbeda arah. Setelah basi-basi agar tidak kapok. Kami pun harus berpacu melawan waktu. Karena tidak membawa lampu, sedangkan malam telah gelap gulita. Meluncur sesekali harus terbatuk karena masuknya serangga ke dalam mulut saat mengambil nafas.  Jalanan yang menurun di tengah persawahan yang gelap gulita, benar-benar menguras konsentrasi.  Sesekali terantuk lubang atau karena tidak terlihat. Harus turun dari sepeda, karena ternyata jalanan menanjak cukup tajam. Sedangkan di awal tidak mengambil awahan padahal gear dalam posisi gear kecil!

Jam 18.30 memasuki kota Garut, regrouping. Dan untuk terakhir kalinya, langsung harus gowes kembali ke rumah.Tiba di rumah jam 19.05. Lebih kurang 10 jam bercumbu dengan lebatnya hutan Kamojang Darajat! Memuaskan, dan kapan-kapan pasti kembali ke daerah itu.

6 thoughts on “10 Jam Bercumbu dengan Lebatnya Hutan Kamojang-Darajat”

  1. wah asyik kayaknya, rencananya sy mau nyoba pulkam ke Singaparna via Ibun -Kamojang, tulisan ini sangat membantu menggambarkan kondisi, tapi ada pernah nge-track via Wanaraja-Pareuntas – Cidugaleun? sy pingin nyoba kesana juga, hatur nuhun.

    1. Alhamdulillah, semoga barokah dan bermanfaat Abahna Bike-bike saja….untuk pulang via Ibun-Singaparna sebaiknya jangan sendiri om. Maklum sepi, dan tanjakan Monteng bisa bikin jantung ke telinga!
      Ngetrack via Wanaraja-Pareuntas-Cidugaleun….belum pernah, mungkin ke depan Insya Allah.
      Wilujeng mudik!

    1. Dua minggu lalu saya baru dari Monteng, jalannya sudah hotmix dan lebar, memang ada beberapa bagian jalan yang rusak. Beberapa teman yang melalui jalur tersebut, berterima kasih karena waktu tempuh lebih sedikit daripada via nagreg. Bahkan, kata mereka lebih cepat 1 jam daripada jalur nagreg. Beberapa teman kemarin menggunakan avanza, kijang, altis bahkan Carry dan motor.
      Memang tanjakan Monteng sangat curam, harap hati-hati. Mohon tidak melalui jalur ini bila kondisi kendaraan kurang sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s