Batu Tumpang, Numpang Nampang Doang

Heisty sudah siap dengan segenap keanggunannya. Walaupun, kaki depannya kadang-kadang suka cedera. Sehingga harus diberi dosis khusus 3×1 seminggu, atau setiap kali diajak onroad, selalu minta diberi layanan khusus. Dipompa dulu ban depannya.

Jam 9 tepat, para ABG alias Anak-na Baroga Gendongan dengan wajah cerah, secerah minggu pagi ini, merekah senyum menyambut neng heisty. Pak Wawan, langsung nyeletuk sambil tertawa: “Heu, licik euy!”
Maklum, untuk onroad; Si Heisty mah ngacir. Kakinya yang jenjang dengan ukuran 27 x 35 cm sangat lincah menapaki jalanan aspal. Berbeda dengan madunya yang kedua, Si Spezy, yang bongsor, dengan kaki yang besar dan lebar.

11 ABG kemudian saling berbagi cerita sambil mencumbu istri mudanya masing-masing. Matahari pun tersenyum, mengedipkan sebelah matanya di tengah langit biru berhiaskan awan putih cirrus sepert sapuan halus di atas kanvas biru. Cerahnya cuaca pagi ini, ternyata menjadi jebakan karena tidak jadi membawa jas hujan. Yang menjadi siksa kemudian.

Beriringan, menyapa angin, menerpa cuaca yang cerah pagi itu. Pak Iim selaku tetua beneran, mengingatkan manusia harus berpegang pada 3 prinsip. Yaitu: Harus punya Pandangan Hidup, Pegangan Hidup dan Perjuangan Hidup.

Pandangan Hidup, artinya manusia itu “kepunyaannya” akan hidup saat melihat pemandangan yang segar, putih dan cantik. Hal ini dimiliki oleh manusia yang berdarah muda, seperti Pak Deny.

Pegangan Hidup, adalah pegangan yang dimilik oleh usia dewasa 50 tahun ke atas. Prinsip yang pertama tidak berlaku bagi manusia seumuran mereka. Jadi, “kepunyaannya” baru hidup bila dipegang terlebih dahulu.

Perjuangan Hidup, adalah prinsip yang dimiliki orang seperti Pak Yaya yang berusia 60 tahun ke atas.  Dari mulutnya yang seperti motor matic alias tanpa gigi. Sudah tampak kalau prinsi pertama dan kedua sudah tidak berlaku baginya. Jadi “kepunyaannya” akan hidup setelah perjuangan yang lama!

Tidak terasa, tiba juga di pit stop pertama. Sebuah warung dengan makanan goreng-gorengan seperti gehu, bala-bala, keripik, cireng dan lontong. Lontongnya tersisa tinggal satu biji, akhirnya langsung dilahap Pak Wawan yang belum sarapan, katanya. Sambil mulut penuh, mirip, saudaranya, “tenyom”  di derenten Bandung! Yang pipinya jadi berbentuk aneh saat mulutnya penuh dengan makanan.

Saat rehat, Neng Patty, istri kedua yang baru dinikahi Pak Iim belum seminggu. Sempat saya cicipi, keseksiaannya. Body-nya yang bahenol nerkom, bener-bener maknyus dan enak untuk dicumbu rayu di tanjakan atau turunan. Tapi, entahlah apakah Neng Patty, akan langgeng dengan suaminya ini atau tidak. Mengingat faktor usia dan bongsornya tubuh suaminya, bisa dipastikan libido Pak Iim untuk mencumbu akan sangat minim. Kasihan, Neng Patty, sepertinya tidak akan mencapai orgasme atau puncak kenikmatannya.

Perjalanan dilanjutkan, menyusuri tanjakan yang semakin panjang dan curam sebelum mencapai Cisurupan. Tepat, sehabis tanjakan, di persimpangan alternatif ke alun-alun Cisurupan sempat terlintas mengambil jalan pintas. Potong kompas. Urung, takutnya yang lain khawatir. Tapi ternyata, Pak Asep dengan Kahaes-nya malah mengambil jalan itu. Ujung-ujungnya, di Cikajang, para ABG saling menyangka kalau beliau berada di depan atau di belakang mereka.

Saat tiba di warung nasi kecil tapi cukup bersih, tampak Pak Asep telah nongkrong di situ. Sambil tersenyum. Ternyata bener, dia mengambil jalan pintas di Cisurupan tadi. Warung nasi tersebut, cukup murah meriah. Sembilan ribu perak sudah dapat nasi, ayam goreng dan sayur, ujar Pak Asep, berbisik. Sayapun hanya pesan sepotong ayam goreng. Lima rebu perak! Karena, anak mertua telah membekali dengan nasi, tempe bacem dan dua potong asin jambal roti.

Mendung menyambut kedatangan kami di pasar Cikajang. Bahkan, akhirnya langit pun menangis. Gerimis. Yang makin lama makin deras. Sesaat tiba di sebuah mesjid besar dengan arsitektur berbau timur tengah. Pak Budi, Pak Mamat, Heisty, Pak Dedi dan Pak Iim membelokkan isteri masing-masing dan memasuki pelataran mesjid.

Pak Dedi sepertinya, kurang sehat, mungkin saya akan kembali dan hanya sampai sini, ujarnya. Pak Iim mengamini, Iyalah, kan kita mah mencari sehat. Asal berkeringat, kata pak Iim lagi: Saya terdiam, dalam hati, saya berbisiksepertinya saya harus terus. Mayoritas teman ada di depan. Tidak mungkin harus kembali hanya karena hujan. Tidak terbiasa makan tulang kawan. Dare to share, dare to care…

Hujan, berhenti, namun gerimis halus berbalut selimut mendung awan hitam. Saya, sepertinya akan lanjut, dan sholat di mesjid bawah dimana rombongan beristirahat. Karena sms Pak Asep, mengatakan mesjid ini mah milik NII, saya mah takut dihipnotis; kata saya sambil langsung naik si Heisty. Tanpa banyak cingcong Pak Iim dan Pak Dedi langsung ngibrit juga mengikuti dari belakang. Rupanya takut diculik oleh NII!

Ternyata rekomendasi Pak Asep, tidak rekomended. Sesaat masuk halaman mesjid, hati kecil mengatakan. Mesjid ini kotor. Ternyata benar. Kamar kecil kotor sekali. Saat akan wudhu, airnya berbau karat. Tajam menyengat. Bahkan, menempel di seluruh anggota wudhu. Tangan, lengan dan muka jadi Bau t*i😦
Sholatpun jadi gak khusu euy…karena bau yang menempel dari air tersebut.

Hujan makin deras, seperti ditumpahkan dari langit. Karena lapar, akhirnya makan siangpun dilahap di teras sebuah SD di depan mesjid tersebut. Usai makan, ternyata hujan berhenti dan berganti dengan gerimis. Si Kahaes, diikuti Heisty melaju, memburu Batu Tumpang yang tinggal 3 km lagi. Tanjakan panjang silih berganti dengan jalan landai. Akhirnya tiba di sebuah pondok. Tampak Pak Budi menyendiri, menunggu dengan setia. Seperti seekor angsa yang menunggu pasangannya. Dia pikir, kita belum makan jadi diapun menunggu dengan perut lapar. Tubuhnya kuyup dan mengigil. Karena mungkin ingin makan bareng. Kasihan, Pak Budi…jadi inget lagu Iwan Fals, Sore tugu Pancoran:

Si Budi kecil, kuyup menggigil,
menahan dingin, tanpa jas hujan
di simpang jalan, tugu pancoran,
tunggu pembeli jajakan, koran…

Akhirnya, Pak Budi gowes bareng menuju pit stop terakhir. Batu Tumpang. Sayang kabut teramat tebal. Jarak pandang hanya 20 meteran. Tiba di lokasi pun kabut tetap tebal. Keangkuhan batu tumpang pun, diselimuti kabut tebal. Sesaat tampak, itupun remang-remang karena menipisnya kabut. Sempat diabadikan Nokiem tapi gambarnya kurang bagus.

Batu Tumpang, Bukit Granit hitam, tingginya sekitar 60 meter. Konturnya, sangat menjanjikan untuk panjat tebing. Tingkat kesulitan saya perkirakan mendekati grade 3 atau 4. Rekahan-rekahan dan patahan serta celah granit yang retak cukup baik untuk sisipan jari-jari tangan dan pijakan kaki. Tidak salah, di situ terpampang plang kecil bertuliskan tangan dengan cat warna putih: tempat latihan panjat tebit batalyon 303!

Karena kabut tidak juga lenyap. Akhirnya, diputuskan segera balik kanan. Ternyata, pulang pun kembali harus didera hujan deras. Pacuan Heisty sekencang apapun, malah penderitaan makin parah. Kulit muka, seperti dicambuki air hujan.

Karena kedua di depan setelah Pak Nanang. Diputuskan untuk menunggu yang lain di pertigaan Ciorok, Cikajang. Tak lama Pa Asep dan Pak Haris tampak. Dipanggil tak menyahut.Nunggu yang lain di belakang. Tampak Pak Wawan. Ayooo, sekalian hujan2an,katanya. Si Heisty langsung melompat dan melaju mengikuti Pak Wawan di belakang. Ternyata, semburan dari ban belakang malah menambah perih dan kotornya muka. Pak Wan, perih euy…ujar saya sambil menyalip Pak Wawan dan terus melaju di tengah hujan yang sangat deras….

2 thoughts on “Batu Tumpang, Numpang Nampang Doang”

  1. Pandangan Hidup, artinya manusia itu “kepunyaannya” akan hidup saat melihat pemandangan yang segar, putih dan cantik. Hal ini dimiliki oleh manusia yang berdarah muda, seperti Pak Deny.

    Hahahahahah….. absolutely YESSS…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s