Papandayan, Push to the Limit, Downhillnya Amit-amit

1 Mei 2011, Matahari masih terbit malu-malu, atau masih tertidur karena selimut tebal awan kelabu yang tersisa dari hujan deras semalam. Sendiri meluncur ke arah kota Garut yang berjarak 4 km dari rumah. Tidak jauh, karena jalanan menurun sehingga hanya memakan waktu 4 menit. Jalan Papandayan masih sepi, tembus ke Jalan Ciledug, Jalan Karacak juga masih sepi. Di depan bengkel Atep tampak 2 orang pesepeda. Yang seorang tampaknya seorang bule, dengan rambut blond (pirang) setelah didekat ternyata jelmaan “Bucheri” alias Bule dicet sendiri, karena kulitnya mah tetap hitam legam! Yang, seoran lagi bertubuh tinggi dengan helm polygon di kepala, begitupun sepeda putihnya bermerek polygon, cozmix (mirip obat batuk ya!).

Langsung saya pastikan, yang tinggi itu pasti Mang Yorris, mudah dikenali karena perawakannya yang tinggi mengingatkan pada seseorang pimpinan ormas pemuda. Setelah bersalaman langsung berdua menuju ke kampus MTB-iyah di Jalan Sumber Sari. Merupakan titik kumpul para Tua Gila sepeda. Disebut demikian, karena mereka walaupun dengan sepeda standar, jadul, frame besi baji, dengan berat 20 kiloan, band gundul, dengan rem seadanya, selalu gowes melalap dan melahap tanjakan dengan ringannya! Begitupun di saat turunan makadam, atau lumpur yang belok, mereka bisa menghajar dengan wajar. Tanpa rasa khawatir atau takut. Mereka pantas disebut para Tua Gila, orang sakti dari Sumatera gurunya Wiro Sableng, Pendekar Kapak maut Naga Geni 212.

Matahari tetap belum tersenyum, dan masih berselimut mendung. Di Titik Kumpul, Mang Yorris saya perkenalkan kepada jamaah MTB-iyyah yang lain. Setelah basa-basi dan berkenalan. Yorris mulai akrab dan mengobrol dengan Filsup Nanang, yang kepalanya mirip Galileo Galiley, alias terang benderang karena bolenang. Sebelumnya, Mang Yorris telah diinformasikan, kalau kelompok sepeda yang ini mungkin berbeda dengan kelompok sepeda umumnya. Di KGC Garut tidak ada istilah upgrade sepeda, yang ada adalah lungsuran. Jadi mereka yang mampu untuk mengganti komponen atau kelengkapan sepeda termasuk jersey atau sepatu yang lebih baik maka yang lama, diberikan kepada yang lain.

Akhirnya, pukul 08.45 WIB, 12 orang pesepeda bertolak  menyusuri jalan Garut Kota – Bayongbong yang berjarak 20 km bagi group sepeda yang lain. Mungkin dianggap gila dan nekad, karena jalan yang harus ditempuh walaupun aspal, tapi nanjak menuju arah Cikajang, tidak ada datarnya sama sekali. Kelompok pesepeda yang lain, akan lebih suka menyewa truk dan loading ke lokasi dan melakukan downhill. Tapi, itulah keunikan sepeda, boleh berbeda kesukaan dengan gaya dan caranya bersepeda. Tapi, tetap saling menghargai. Seperti kemarin, di saat kami istirahat di pinggir jalan. Tampak satu truk penuh pesepeda yang berbaju seragam oranye, menuju ke arah selatan juga. Kami memberi salam, tapi tak satupun dari mereka yang membalas hehehe….

Pukul 10.45 tepat tiba di Cisurupan yang merupakan gerbang menuju Gunung Papandayan. Berarti hampir 4 jam perjalanan ditempuh dengan menggowes penuh. Kecepatan sedang, dan santai diselingi istirahat untuk sekedar makan pisang goreng atau ngopi di warung pinggir jalan. Alhamdulillah, di sepanjang perjalanan. Matahari teramat pemalu, Langit jadi sangat ramah pada kami. Teduh, mendung tapi tidak hujan. Dari alun-alun Kecamatan Cisurupan, jalanan masih dengan kontur hotmix tapi menanjak curam dan panjang. Saya di depan, diikuti Mang Yorris, Pak Asep dan Pak Iim.  Tampaknya, Mang Yorris mulai tertular virus IPDN (Ikatan Pesepeda Doyan Nanjak). Nafasnya tidak ngos-ngosan dan cukup terlatih. Tapi, kaki Yorris sepertinya belum terbiasa dengan putaran cepat, alias ngicik di tanjakan.

Tanjakan sejauh 2 km terlampaui, dan berhenti di sebuah warung. Saya, Pak Wawan, Pak Mastur, Pak Haris, dan Pak Asep langsung mencari mesjid untuk sholat Dzuhur. Ternyata Pak Asep malah sholat di mesjid atas, dan kami berempat sholat di mesjid bawah. Karena tidak membawa sarung, akhirnya Pak Mastur meminjam sarung ke rumah yang persis di depan mesjid. Sayang, cuma diberi pinjam satu sarung. Akhirnya sholat harus bergantian. Pak Mastur, sepertinya tidak sabar menunggu. Akhirnya, dia memakai bawahan mukena milik seorang nenek. Yang kebetulan ada di mesjid itu, tak ada akar rotan pun jadi. Tak ada sarung, mukena pun jadi. Untuk bukan, tak ada rokok, sisig nini pun jadi!

Langit yang memang mendung dari pagi hari, sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan awan. Hujan pun akhirnya turun dengan derasnya. Saya mencoba telefon ke Mang Yorris, untuk menyelamatkan helm dan sarung tangan agar tidak kehujanan. Tapi tiga kali mencoba, selalu gagal. Akhirnya telefon Pak Iim, menurut Pak Iim sepeda sudah diselamatkan dari air hujan. Saat kami tiba, bahkan sadelnya pun semua ditutup dengan plastik. Sungguh kawan-kawan kami adalah pesepeda yang bukan yang congkak, bukan yang sombong, yang disenangi handai dan tolan, pesepeda yang tak pernah bohong rajin bekerja, peramah dan sopan…

Hujan, terus mengguyur seperti ditumpahkan dari langi. Saya tidak mengerti, seberapa besar teko atau panci yang dipunyai malaikat  sehingga hujan bisa sederas dan selama itu. Hampir satu jam penuh. Jalanan aspal yang telah terkikis, aspalnya makin habis pasti tergerus derasnya air hujan. Selokan pun airnya menbuncah, keruh dan limpas ke jalanan. Satu demi satu, orang-orang mulai kembali meramaikan jalanan.Para penyabit rumput yang memboncengkan 2 bahkan 3 karung hasil sabitannya. Pelan tapi pasti menuruni turunan secara perlahan. Memang harus perlahan, karena kalau tidak istri tersayang yang duduk di atas tumpukan karung itu  harus terpelanting!  Terpikir oleh saya, mungkin si penyabit itu lebih sayang rumput daripada istrinya. Bayangkan saja, sementara karung2 itu diikat dengan rapi dan kuat, sementara sang istri harus duduk di atas karung yang dibonceng di atas motor itu!!!

Sementara langit masih menangis, gerimis. Kami kembali menyusuri jalanan yang berlumpur dan banjir oleh hujan. Bahkan, jalan terpotong oleh aliran “sungai” dadakan. Mau tidak mau, harus dilewati dengan kayuhan tinggi. Bila tidak pasti kejebur.  Baju dan helem mulai basah. Tapi, untunglah saat tiba di mesjid atas hujan segera berhenti. Matahari sedikit memancarkan sinarnya. Pak Asep tampak, terduduk di lantai mesjid, menunggu kami. Ternyata beliau belum sholat karena tidak ada sarung, katanya. Akhirnya, saya nekad meminjam sarung kepada seorang pemuda yang sepertinya tinggal di situ. Diberikan dua bahkan tiga buah sarung yang langsung diberikan kepada mereka yang belum sholat.

Pohon Cemara dan Eucaliptus diselingi kebun kol dan kentang mulai marak di sepanjang perjalanan. Dua tiga orang ibu-ibu tampak asyik menyabit rumput atau menyiangi kebunnya.  Kamipun berhenti di sebuah danau kecil di tepi jalan yang airnya keruh karena tertimpa hujan. Perutpun mulai keroncongan, karena jam sudah menunjukkan jam 13.45 WIB. Sambil menunggu, anggota rombongan yang lain. Mang Yorris berputar-putar mencoba offroad di sekitar lapangan atau single trek kebun kol. Pak Iim dan Pak Nanang ngobrol ngalor ngidul. Pak Haris yang penyendiri ditemani Pak Wawan mulai berkomunikasi. Saya sendiri, lebih suka mengabadikan mereka dengan Nokiem E71 teman setia setiap saat seperti iklan parfum anti bauketek.

Dari kejauhan tampak , dua anak berjalan beriringan. Sepertinya mereka kakak beradik. Sang kakak, perempuan berusia sekitar 12 tahun berbaju lusuh dengan rambut tergerai, berjalan di depan. Sang adik, berusia sekitar 5 tahunyang juga berpakaian lusuh dan tidak beralas kaki,  berjalan cepat di belakang kakaknya. Pandangan anak laki-laki itu memancarkan keraguan, aneh berbaur rasa takut yang ditutupi dengan berjalan cepat-cepat setengah berlari mengikuti kakaknya. Persis, saat anak itu lewat di depan saya. Sayapun segera, melakukan gerakan seolah-olah akan menangkap anak laki-laki itu sambil berteriak “Howaaaaa…!!!” Kontan, anak laki-laki  berteriak kaget “Waaa…!!” , dia menangis dan berlari terbirit-birit mengejar kakak perempuannya meminta perlindungan. Semua terpingkal, pingkal…ketawa sampai berurai air mata. Sang kakakpun, tidak kuat menahan ketawanya, dan terus berlari diikuti adiknya yang akhirnya tertawa juga!!

Pak Iim menyarankan untuk makan di atas saja, karena perjalanan masih menanjak. Tapi yang lain sepakat mending makan siang dulu, karena perjalanan nanjak masih jauh sehingga butuh energi banyak.  Akhirnya, satu demi satu mengeluarkan bekal nasi bungkusnya. Saya, Pak Iim dan Pak Mastur, langsung mengeluarkan misting kecil untuk anak TK, bekal makan siang buatan istri tercinta. Saat makan terdengar tawaran dari seorang ibu, yang menawarkan kol untuk lalaban. Saya terima dan diberikan kepada Pak Haris…

Pascamakan, rehat sebentar, sambil menunggu nasi turun. Saya observasi melihat jalan yang akan di lalui. Sepertinya tanjakan agak berat. Berulang kali, saya ingatkan Mang Yoriis untuk tidak memaksakan. Kalau tidak kuat TTB aja….

Perjalananan dilanjutkan, dan…Subhanallah, baru 500 meter gowes di tempat yang landai. Kita harus langsung melewati tanjakan curam setengah makadam! Harus super hati-hati, karena tidak jarang dari arah atas motor pengangkut sayuran atau rumput dengan muatan di luar nalar. Meluncur tanpa suara! Setelah tanjakan habis, saya segera turun dan mengabadikan saat-saat seperti sekarat bagi teman-teman yang harus bersusah payah menaklukan tanjakan. Keuntungan tukan potret, bisa gowes duluan, mengabadikan sambil beristirahat….melihat penderitaan orang lain!

Tanjakan, tanjakan, dan tanjakan…! Jalan menuju puncak papandayan gak ada landainya. Kalaupun landai, itupun tetap harus pasang rem kalau berhenti. Kalau tidak tetap saja, sepeda akan tertarik oleh gravitasi bumi. Beberapa kali berpapasan dengan mobil pribadi yang baru pulang dari puncak papandayan. Mereka memandangi kami sambil tersenyum. Kamipun membalas senyum mereka, tanpa menunjukan rasa lelah. Gigi belakan dari mulai bawah, konstan berada di gigi yang paling besar. Kesabaran dan keuletan, ngicik…harus benar-benar diterapkan! Kurang-kurangnya kesiapan mental pasti akan balik kanan dan meninggalkan arena pertempuran. Nanjak, nanjak dan terus nanjak…sesekali Pak Yaya, bernyanyi dengan nafas satu-satu, lagu naik-naik ke puncak gunung!

Para petani dan penyabit rumput yang berpapasan di jalan, selalu memberikan informasi yang membuat nyali tambah ciut. Saat ditanya,”Mang, berapa kilometer lagi sampai puncak?” Jawabannya, selalu sama:”Uuuh…! masih jauh, kurang lebih 4 km lagi. Itupun tanjakannya lebih-lebih dari tanjakan yang ini!“. Wk…wk…wk….dari 12 orang peserta yang tersisa tinggal 10 orang. Tiga orang tadi langsung balik kanan saat di warung. Yang tiga orang sudah Pak Asep, Pak Wawan dan Pak Mastur sudah jauh di depan, bahkan mungkin sudah sampai di tempat. Sementara yang 7 orang termasuk saya, masih harus menghitung nafas. Berdzikir dengan memutar kayuhan pedal sepeda.

Di jalan yang agak landai, saya menunggu Mang Yorris yang tampak, sangat kelelahan, menuntuk si comix, eh, si cosmix-nya dengan sabar. Keletihan tampak dari raut muka, dan nafas yang mulai memburu. Tapi salut, dia tidak mau menyerah begitu saja. Yang laipun, ceritanya tidak jauh berbeda. TTB habis! Pak Iim yang biasanya ngicik dan super ulet menaklukkan tanjakan pun. Tampak, paling belakang…untunglah perut gendutnya tidak tertinggal di belakang! Setengah berbisik, saya titipkan beliau ke Pak Haris untuk mendampinginya. Saya, khawatir melihat raut muka dan kondisi Pak Iim, yang sepertinya akan nekad dan balik kanan!

Dengan sisa tenaga Mang Yorris mencoba, menaiki si cozmix. Ngicik, dengan sisa-sisa tenaga tuntun bike dari bawah tadi. Pak Nanang mengikuti di belakangnya dengan TTB.  Untunglah, tadi saya membeli 2 botol gatorade di alfamart, sehingga energi tidak terlalu habis. Cukup tersedia cadangan tenaga untuk sampai di puncak. Pelan, bahkan sangat pelan kayuhan sepeda tapi pasti dan berhasil menaklukan tanjakan “setan” itu.  Peluh di tanjakan sepertinya sudah berubah bentuk mejadi butiran-butiran keringat sebesar jagung. Akhirnya, dengan sangat terpaksa walapun buram, saya harus membuka kaca mata. Tidak hanya saya, semua akhirnya membuka kaca mata sepedaanya. Karena buram oleh derasnya keringat yang mengucur dari kepala.

Sambil rehat dan menunggu teman-teman lain. Kita berdiskusi sebentar apakah akan dilanjutkan sampai titik puncak Papandayan, yang hanya tinggal 2 km dari tempat kita rehat sekarang. Atau langsung mengambil trek offroad via Pangauban? Hari yang sudah terlalu sore, menunjukkan pukul 15.40. Kondisi gerimis, dan turunnya kabut yang cukup tebal sehingga jarak pandang hanya 50 meter kurang. Diputuskan untuk langsung mengambil trek offroad via Pangauban.

Sementara itu, seperti juga perilaku hewan liar yang sering menandai, mengencingi daerah teritorialnya. Pak Mastur pun tidak ketinggalan. Dia pun melakukan hal yang sama.

Setelah mengambil foto bersama sebentar. Semua kembali memakai mantel hujan. Karena trek single trek akan sangat tidak sopan, beringas dan mungkin kejam karena baru tertimpa hujan deras tadi siang.

Baru masuk 100 meter, ternyata benar. Single trek telah berubah menjadi kubangan lumpur! Hati-hati namun pasti kubangan demi kubangan, serta single trek tanah liat bercampur kapur terlewati. Perkebunan kentang dan kol tampak menghijau di kiri kanan. Sayang, cuaca tidak ramah sehingga tidak bisa mengambil gambar.  Trek sangat licin dan tidak bersahabat, sehingga sepeda tidak mungkin dinaiki. Yang ada, adalah penyiksaan para bini muda! Ban sepeda sudah seperti donat, rem cakrampun atau rem v-brake milik sepeda para tua gila sudah tidak bisa berfungsi.

Sekitar 500 meter sesudahnya trek berubah jadi tanah hitam berbentuk cekungan di bibir jurang. Saya mengayuh paling depan.  Turunan tajam dan membelok. Kabut semakin pekat, jarak pandang paling 20 meter. Saya terpaksa membuka kacamata pelindung hitam saya dan hanya menggunakan kaca minus lima saya. Jujur saja, sedikit mencekam. Karena sangat kelam, di tengah hutan sendirian, sementara teman yang lain masih di belakang sementara mata kurang awas karena kabut dan gerimis. Akhirnya si Spezy saya baringkan, dan kembali ke turunan tajam berbentuk cekungan tadi. Menunggu cukup lama lebih kurang 20 menit. Akhirnya tampak Pak Wawan di atas, segera turun dengan sepedanya dengan cepat. Tapi….blug. Tubuhnya, terjungkal ke sebelah kanan, kepalanya masuk di semak-semak. Untunglah memakai helem….untunglah saat itu bisa diabadikan dengan baik. Tentunya dengan tawa tertahan…karena suasansa hutan yang mencekam tadi.

Jalan mulai sedikit “enak” makadam dengan batu granit kasar diselingi turunan dengan kontur tanah merah dan rumput serta semak sehingga kami bisa mencumbu bini muda dengan alot. Penuh perjuangan, tapi sangat nikmat. Mata benar-benar harus awas, karena kabut yang cukup tebal. Namun, tetap saja korban berjatuahan. Dimulai Mang Yorris, yang terjungkal dan tertimpa sepeda. Dia terkena jebakan batman, disangka jalan yang tertutup rumput. Padahal lubang yang dalam. Jleb, ban depannya tertancap, tubuhnya terjungkal dan tertimpa sepeda!

Suspensi sepeda, benar-benar diuji ketahanan dan kepiawaiannya.  Ngebut di turunan tajam makadam jahanam ini, benar-benar “memanjakan” kami. Tangan kiri kanan kesemutan, pipi dan otot di seluruh tubuh seperti digetarkan oleh sebuah mesin sehingga bergetar dahsyat.  Telapak kaki yang berbalut sepatu kotor beberapa kali terlontar dari pedal saking kerasnya benturan ban dengan jalan yang tak rata. Terbersit pikiran dan pertanyaan, kapan “kemewahan” makadam ini akan berakhir.  Terbersitnya pertanyaan seperti itu tidak harus membuat mata menjadi meleng. Bila tidak. Dipastikan tubuh akan terjerembab atau terpelanting dan bercerai dengan istri ketiga kita dengan dahsyat. Tanpa penghulu, tanpa pengadilan agama…Kalau tidak memakali helm pasti fatal. Hal ini dialami Pak Asep, yang harus terpelanting dari sepedanya, terjatuh, dengan kepala “menancap” pada sebuah lubang. Sesaat tak berkutik, dengan cekikikan tertahan dan kami hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal…

Jam 16.30 makadam jahanam telah mengakhiri masa kejayaannya. Berganti dengan jalan “raya” berupa beton,yang sepertinya hasil PNPM karena hanya kiri dan kanan jalan. Sementara di tengah dibiarkan kosong. Dari sini mulailah turunan “surga”nya para downhiller. Jalan lebar sekitar 4 meter, dengan kontur beton, kerikil, atau aspal yang sudah rusak. Si Spezy, bisa meluncur dengan sangat cepat. Sayang endomondo, tadi dimatikan pas hujan deras. Sehingga tidak bisa kecepatan maksimalnya. Di tengah hujan deras, kami semua meluncur dengan sangat cepat. Sesekali berhenti bila ada persimpangan, untuk memantau kalau-kalau  ada yang salah jalan. Kemudia meluncur lagi. Sangat laju. Polisi tidur yang dipasang di tengah jalan, justru menjadikan perjalanan sangat diturunan itu jadi lebih berarti karena bisa mempraktekan lompatan kecil “bunny hop” sambil terus meluncur menikmat bonus turunan dari alam.

Turunan, turunan, dan turunan….benar-benar mengasyikan sekaligus membosankan! Kembali terbersit dalam hati, kapan turunan ini akan berhasil. Hampir 45 menit kami harus memacu sepeda dengan turunan yang sangat tajam dengan kontur, beton, kadang makadam karena aspal sudah terkikis dan aspal atau hotmix mulus. Akhirnya, tembus di persimpangan Pangauban Bayongbong. Sayang, turunan super dahsyat di Pangauban tersebut tidak terdokumentasikan karena keadaan yang tidak memungkinkan yaitu hujan deras. Sesaat berhenti di tengah hujan deras, di persimpangan dan menunggu anggota lain tiba. Saya lontarkan kalimat: Papandayan, tanjakannya tanjakan setan, downhillnya rasa ketan! Membuat kita push to the limit, hampir jadi amit-amit!

Setelah semua lengkap, kembali secara berombongoan memacu sepeda masing-masing membelah derasnya hujan. Alhamdulilah  jam 17.30 WIB, tiba di rumah dan beristirahat di rumah saya, lengkap tanpa kurang suatu apa. Tapi perjalanan ke Papandayan ini

8 thoughts on “Papandayan, Push to the Limit, Downhillnya Amit-amit”

  1. “Pukulan” terberat buat saya ketika saya sedang menuntun sepeda di tanjakan adalah sapaan Pak Yaya ketika melewati saya “Bandung.. Bandung.. Cicaheum Kang Yorris!!.. sambil gowes plus menghisap rokok.. hahaha.. memang Rombongan Aki-aki Balangor..

  2. Huwahahaha…saya juga sebenarnya mangkel, tapi karena sedang atur nafas takut tertawa. Jadi ditahan we, bari murukusunu dina hate mah hahahaha

  3. Seragam Orange ??? katingalna mah sanes Threeple C tah, da sasih mei mah teu aya acara ka Garut … he he he

    top markotop pisan tah trek sareng goweserna …
    salam Asruk-asrukan wae ti Threeple C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s