Jambore II KGC Menebar Virus Jujur, Baik Hati dan Tidak Sombong

Mata anak-anak itu berbinar, saat menerima bingkisan kecil dari para pesepeda. Bukan barang mahal memang, Cuma seperangkat alat tulis saja. Beberapa anak berbaju lusuh di Kampung Cidadali, kaki Gunung Kamojang itu berteriak-teriak menyemangati kami. “Ayo ! Balap motor, balap motor !!”

Suasana serupa terjadi di sepanjang perjalanan.

Yup ! Itulah sebagian terekam sepanjang trek off road sepeda dari Kamojang menuju Cipanas Garut, Sabtu (9/4) dan Minggu lalu.  Jambore II KGC kali ini, diwarnai dengan aksi sosial, walaupun nilai tidak seberapa. Sekitar 46 pesepeda dari Kompas Gramedia Cyclist (KGC) akhir pekan  yang diguyur hujan itu menyelesaikan trek kombinasi hutan pinus, kebun sayur dan savana dengan variasi jalan berpasir, lumpur hingga makadam sepanjang 20-an km. Udara  hutan pinus maupun bau humus di udara sejuk seusai hujan menyegarkan paru-paru kami yang selama ini terpapar polusi Jakarta. Tidak panjang memang, tetapi lumayan menguras tenaga terutama buat Rockie alias Rombongan Aki-aki KGC. Apalagi ada trek yang sepertinya tertukar dengan trek hiking karena seluruh sepeda praktis enggak bisa digowes alias kudu TTB (tuntun bike). Belum lagi ada acara nyasar segala—apa sengaja disasarkan ya?—KGCers memasuki turunan mengasyikan sepanjang 2 km. Eh, ternyata salah arah. Terpaksa deh balik lagi. Mana nanjak euy!

Satu rombongan lainnya, sekitar 21 KGCers menikmati gowes cantik jalur onroad beraspal mulus. Tidak perlu menggowes karena jalur on road dari Kamojang menuju Cipanas Garut adalah turunan. “Baru kali ini, bisa melaju di atas sepeda di atas 60 km per jam,” ujar seorang KGCers bungah. Kedua rombongan itu menggowes dengan leluasa dengan kawalan tim marshal pengowes dari Garut, yang kita sebut KGC juga, Komunitas Garut Cyclist he..he

KGC memang penuh warna-warni. Di samping rombongan yang bobok nyenyak di antar ke titik start di Kamojang  Garut dengan bus wisata, ada pula rombongan odong-odong. Rombongan ini berangkat dari Jakarta, sejak Jumat malam dan menginap di Bandung. Nah, delapan orang tim odong-odong inilah menggowes dari Bandung ke Kamojang via Majalaya. Menurut kabar, mereka lumayan kelelahan menuntun sepedanya di tanjakan.  Selain mereka, tiga orang lainnya malah langsung ke Garut menggunakan kendaraan pribadi dan bergabung Sabtu subuh. Begitu juga jenis sepedanya bervariasi, dari sepeda downhill yang nekat dipakai uphill sampai sepeda fixie  atau seli yang nekad melalap turunan Kamojang-Cipanas.

Selepas tengah hari dan menikmati makan siang, baru Mas Ari saja dari rombongan odong-odong yang tiba di Kamojang. “Yang lainnya sedang mencumbu tanjakan,” katanya. Sedianya, tim off road maupun tim on road akan memulai start perjalanan setelah menunggu tim odong-odong tiba. Kedua tim itu dirancang bertemu di satu tikum (titik kumpul) untuk bersama-sama menuju tempat penginapan di Hotel Tirtagangga, kawasan wisata air panas Garut. Namun akhirnya, tim offroad berangkat lebih dahulu karena hari semakin larut setelah hujan mengguyur kota asri yang disebut Swiss from Java itu.

Malam hari suasana lebih meriah lagi. Sekitar 60-an orang KGC menikmati makan malam, ditemani dangdutan dari dua orang penyanyi kenes organ tunggal. Lumayan seru,  walaupun panitia lumayan kudu kerja keras karena sejumlah peserta lebih mirip peserta raker alias rapat kerja. Padahal MC senior Cak Kris sudah habis gaya—dari gaya Choky Sihotang sampai gaya Olga Syahputra, Umumnya peserta lebih suka nonton daripada ikut menikmati joget. Boleh jadi, itu cuma jaim aja, mengingat sebagian peserta sebenarnya adalah jago-jago nyawer dangdutan di kampungnya.  Joget bersama baru berlangsung pas acara mau berakhir.

Paling asyik pas acara dooprize. Boleh dibilang inilah doorprize paling dinanti semua peserta jambore. Seru sudah pasti. Lha, gimana enggak ditunggu semua peserta pasti mendapat hadiah. Barangnya mungkin tidak mahal, tetapi semua benda tetap dinanti dari bel sepeda, sarung tangan, kunci hingga frame sepeda menanti disalurkan ke peserta. Soal siapa menang apa, sudah tentu tergantung amalannya masing-masing… he..he

Acara Jambore II KGC kali ini pun terasa lebih bermakna. Malam itu KGC menyerahkan sedikit tanda simpati untuk isteri seorang anggota penggowes Garut, yang sedang sakit. Jambore disertai dengan sedikit aksi sosial  berupa membagikan alat-alat tulis untuk anak-anak di kampung yang dilewati, walaupun tidak seberapa. KGCers urunan atau saweran seadanya untuk membeli bingkisan alakadarnya. Mudah-mudahan untuk jambore berikutnya bisa lebih baik lagi. Siapa tahu misalnya bisa bekerja sama dengan Dompet Keamanan Kompas (DKK), misalnya.

Cerita Sabtu malam memang belum selesai. Rasanya belum pas jika menginap di Cipanas tidak berendam di air panas. Sejumlah KGCers  merendamkan diri di kolam air hangat dan panas Hotel Tirtagangga itu. Lainnya, sekedar mengobrol di pinggir kolam..

Enggak Ikut Nyesel

Jambore KGC merupakan acara tahunan paling dinanti KGCers. Tahun lalu, jambore serupa dilaksanakan di Bandung dengan trek pilihan offroad Tangkubanparahu-Jayagiri-Lembang-Bandung serta onroad Tangkubanparahu-Lembang-Pagerwangi Bandung,

“Tahun depan mudah-mudahan kuota peserta lebih banyak lagi. Soal tempat bisa di Jogyakarta atau kalau perlu Bali,” kata Ketua KGC Mas Agung Hartanta. Peserta Jambore memang dibatasi hanya 60 orang. Mereka yang bisa ikut bersyukur banget. Setidaknya itu bisa dilihat dari ungkapan gembira dan terima kasih mereka di milis maupun Facebook. Yang enggak ikut, ya nyeselah pastinya!

Di antara komunitas yang ada di lingkungan Kompas Gramedia, KGC memang terbilang komunitas unik. Komunitas  peraih penghargaan dari majalah SWA sebagai salah satu komunitas yang mampu memberi inspirasi kepada perusahaan atau The Inspirer Community pada kegiatan Indonesia Consuminity 2010 ini boleh dibilang “independen”. Komunitas ini membiayai dirinya sendiri dari anggotanya dalam melaksanakan kegiatannya.  Namun demikian, KGC tidak pernah absen dalam berbagai kegiatan Kompas Gramedia terutama menyangkut kampanye lingkungan atau kampanye hidup sehat bersepeda, seperti berbagai fun bike.

Motto “jujur, baik hati dan tidak sombong” sepenuhnya harus dipegang dan dilaksanakan di kehidupan sehari-hari. Maunya virus “jujur, baik hati dan tidak sombong” ini terus menyebar. Tidak melulu di lingkungan KG, tetapi juga menjalar ke masyarakat. Komunitas lintas unit dan divisi ini benar-benar berhasil mengharmonikan setiap anggotanya, tidak melulu dalam menjalankan hobby tetapi juga dalam pekerjaan sehari-hari di lingkungan KG. (abah)

3 thoughts on “Jambore II KGC Menebar Virus Jujur, Baik Hati dan Tidak Sombong”

  1. Belum lagi ada acara nyasar segala—apa sengaja disasarkan ya?—KGCers memasuki turunan mengasyikan sepanjang 2 km. Eh, ternyata salah arah. Terpaksa deh balik lagi. Mana nanjak euy!

    (HAHAHA…ceritanya mah, biar otot2 pemanasan dulu sebelum downhill. Jadi gak ada yang keram kan bah :p )

    1. Sok atuh…biar rame dan bikin kejutan di Garut kota. Pasca Jambore, heboh di Garut, rombongan sapedah timana eta? Jadi weh, booming…pada beli sepeda hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s