Trek Mistis, Magis di Lingga Ratu

24 April 2011, 08.00 Cuaca sejuk dan teduh…menyusuri jalan Baratayudha, beriringan mengikuti Road Captain Pak Iim menuju warung nasi di persimpangan Barata Yudha. Tidak semua membeli bekal nasi, karena setengah dari rombongan sudah menyiapkan dari rumah. Baik yang disiapkan oleh anak, besan, mertua, istri atau neneknya… Langsung menuju ke Linggaratu dengan menyusuri jalan Garut – Wanaraja sejauh 7 km ke arah Timur. Sekitar 30 menit kemudian tiba di pertigaan menuju ke Linggaratu dengan sebuah plang kecil yang tampaknya masih baru.

Di pertigaan Pa Asep dan Pa Wawan bertemu dengan Koh Iyong, mereka mengobrol sejenak. Sayang,  Pak Asep atau Pak Wawan tidak memperkenalkan saya dengan Koh Iyong. Nanti kalo, selonong boy. Kata Pak Asep, Koh Iyong itu juga dulu sering bareng gowes… Dibilang sok akrab hehehe….Jadinya sambil menunggu mereka mengobrol, si Nokiem e71 pun mengabadikan plang Situs Linggaratu tersebut. Dari plang ini, langsut harus membesut tanjakan Sindang Palay sejauh 4 km. Gak ada datar apalagi menurun. Harus nanjak dengan makadam ringan. Disarankan yang akan genjot di sini, mendingan ngicik aja deh. Soalnya seringkali, sedang asyik-asyik gowes. Tiba-tiba di depan ada tanjakan yang “tuing”! Harus shifting dari awal kalo tidak kasihan lutut dan gearnya. Pemandangan sepanjang perjalanan sangatmenakjubkan. Serasa berada di negeri awan

Jalan berganti dengan tanah, potong kompas lewat pabrik pembuatan bata merah.  Sedikit rata, tapi tak lama kemudian kembali harus menggejot paha dengan kekuatan penuh. Kalau tidak kuat ya TTB aja, soalnya banyak tikungan yang sangat tajam dengan kondisi menanjak. Jadi untuk amannya nafas, jantung dan sepeda mending TTB aja :p Tapi, rasa lelah, pegal, letih serta nafas yang ngos-ngosan…segera lenyap. Berganti dengan rasa syukur tak terhingga. Pemandangan di puncak Linggaratu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Puluhan kali saya mengambil gambar dengan si Nokiem tidak terpuaskan

.

Ingin rasanya, tetap di situ merasakan kebesaran Tuhan. Awan putih seputih kapas, berarak. Bergumpal-gumpal seperti arumani, dengan pemandangan hutan, sawah, gunung dan bukit yang menghijau. Mata air gemericik dengan udara yang teramat segar. Tubuh dan jiwa pun seperti diupgrade  dengan kondisi keindahan alam yang tak terlukiskan.

Namun, keasyikan tersebut harus segera diakhiri. Karena, perjalanan berikutnya akan sangat memakan waktu dan menguras tenaga. Alang-alang menenggelamkan sepeda dan para pemiliknya. Saling berteriak dan menyahut adalah kunci agar tidak tersesat. Keadaan benar-benar sangat memompa adrenali. Sesekali terdengar suitan dan nyayian burung di kejauhan. Sementara, seekor elang tampak melayang – layang di angkasa mencari mangsa.

Sepuluh orang manusia bersepeda terus menembus lebatnya ilalang. Terkadang harus berhenti beberapa saat, karena sang Pioneer harus yakin bahwa jalan yang diambil adalah jalan yang benar. Bila tidak, akan tersasar ke Gunung Galunggung.

Bahkan saking, rapatnya semak belukar dan tumbuhan mengharuskan kami bukan lagi TTB tapi menggusur sepeda dan memanggulnya.  Mata harus benar-benar awas terhadap tumbuhan yang berduri. Salah-salah, tidak hanya jersey atau sarung tangan yang robek  tapi mungkin kulit kita juga.  Fisik dan energi, benar-benar dikuras habis. Yang tersisa hanya mental, ingin secepatnya menemukan single trek yang tanpa semak belukar yang garang.

Saking ekstrimnya jalur yang dilalui bahkan kami harus tiarap, ngesot sambil membawa sepeda di bawah pohon yang tumbang. Di sini muncul keanehan, saat diambil adegan ngesot di bawah pohon sambil menyeret sepeda gambarnya jelas. Tidak ada masalah. Tapi, saat dibuka di laptop untuk diedit. Semua gambarnya jadi blur dengan munculnya cahaya putih di atas pohon yang tumbang tersebut. Masih logis, kalau blur-nya secara keseluruhan. Berarti kamera hapenya yang goyang atau bisa pula karena cahaya matahari. Yang jadi pertanyaaan, kenapa bisa blur padahal arah matahari tidak berlawanan dengan arah kamera?

Belakangan hal ini saya informasikan kepada Pak Asep, ternyata menangkap fenomena yang sama. Bahkan, pada beberapa foto muncul gambar-gambar yang membuat tanda tanya besar. Untuk beberapa sudut tertentu, ternyata blur padahal sudut lainnya netral dan jelas banget. Mistis atau misterius? Entahlah, yang jelas mayoritas dari sepuluh orang yang digigit dan disedot darah oleh lintah yang paling sering becanda di hutan tersebut. Sementara yang tidak becanda, tidak mengalami apapun.

Di tengah perjalanan sering ada kejutan yang tidak diduga. Saat sedang meniti pinggir jurang dan menggandeng neng Spezy. Tiba-tiba…Sreeeeeet….Blugh….gedebut….heeeeek…! Pak Mastur, yang berjalan di depan saya terpeleset! Saya tidak kuat menahan tawa. Cepat mengabadikan momen yang langka itu. Pak Mastur sempat ngomel-ngomel, karena dua kali terjatuh, dua kali pula diabadikan dengan sukses. Saking malunya, bahkan jatuh ketiga kalinya yang cukup telak. Tanpa menghiraukan rasa sakit akibat terpelanting ke tanah dan tertimpa sepeda. Dia langsung bangkit lagi setengah melompat sambil teriak:”Embung difoto deui, aing mah era….!”.  Saya tak kuasa ngakak…..sampai keluar air mata.

Pascaterjatuhnya Pak Mastur, tidak lebih dari 100 meter. Saya pun terpeleset dan terjatuh cukup telak. Untunglah tidak sempat diabadikan. Hanya Pak Yaya Kapoor di belakang saya yang terpingkal-pingkal. Kemudian tidak lama kemudian Dosen Wali, Tebe Asep mengalami hal yang sama harus terjungkal. Bahkan, yang cukup menghawatirkan. Titit beliau dihajar pokok batang pohon!!! Untunglah buah pelirnya masih nempel dengan manisnya!

Lagi-lagi saya terpingkal-pingkal sambil terus mengabadikan momen jatuhnya beliau.

Hal yang cukup mengejutkan lainnya adalah saat tiba-tiba di tengah jalan singgle trek, tergeletak bangkai seekor babi hutan yang cukup segar. Belum tercium bau. Jadi sepertinya masih baru. Bahkan menurut Pak Nanang, karena kaget sempat ditendang, sehingga posisinya jadi di tengah jalan pas kita lewati. Pak Mastur, dengan sedikit ragu antara maju terus atau balik lagi. Tidak mungkin memutar. Karena di sebelah kanan jurang dalam, di sebelah kiri tebih terjal. Akhirnya, dengan gemetaran dan penuh bayangan kalau babi hutan itu tiba-tiba hidup lagi. Dia melangkah hati-hati dengan mengangkat sepedanya. Kemudia diikuti saya dan yang lainnya.

Akhirnya perjalanan tiba juga di single trek hutan pinus, kontur tanah diselingi ranting kering yang cukup tebal, menanjak. Jalan berujung di sebuah sungai kecil, yang cukup jernih (gak nyangka di situ banyak pacet/lintah kecil). Semua sepeda dicuci, kecuali neng spezy, karena pikir saya ngapain dicuci toh nanti juga akan kotor lagi.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuru pematang sawah. Terama kecil, sehingga harus hati-hati, salah melangkah sedikit pasti terjun ke sawah. Tiba di sebuah dataran, kebun yang sudah tidak terawat. Tampak sebuah mesjid dan rumah yang juga tidak terawat. Entahlah, kenapa sampai ditinggalkan pemiliknya. Padahal bangunannya permanen dan sangat besar.

Akhirnya bertemu dengan jalan beton dan langsung meluncur dengan cepat. Tembus di kampung Godog dimana semalam terjadi longsor yang memakan jiwa 1 keluarga yang terdiri dari suami isteri dan 3 anaknya. Saat tiba di lokasi longsor, masih banyak orang yang ingin melihat atau menyaksikan. Suasananya masih sangat menyedihkan sekaligus mencekam.  Semua berbicara bisik-bisik.  Sambil menatap longsoran.  Rumah yang terkena longsor lenyap tertimbun tanah. Yang tersisa hanya, lemari berisi alat-alat makan seperti cangkir, piring, sendok dan lain-lain serta sebuah MCK khas kampung.

Perjalanan dan petualangan hari itu diakhiri disebuah warung kopi di pinggir jalan Gerbang Situs Godog yang merupakan tempat Maqom Sunan Rahman, atau Kian Santang anak dari Prabu Siliwangi. Tiba-tiba, Pa Asep sesaat setelah membuka protektornya tampak kaget. Tampak pacet/lintah kecil dengan badan yang sudah sangat gemuk karena menyedot darah cukup banyak. Menempel di betisnya. Semua jadi kaget dan gelisah, saya pun ikut cek sana-sini. Pak Wawan bahkan dua pacet menempel di kakinya. Pa Mastur di betisnya juga satu ekor.

Sepertinya saya selamat dari sedotan darah para lintah tersebut. Tapi sesaat setelah tiba di rumah Pa Asep, saat membuka sarung tangan. Tampak darah segar mengucur dari punggung telapak tangan. Bahkan saat membuka kaos kaki juga tampak darah segar. Ternyata, dua ekor lintah ikut juga menjadikan darah saya sebagai santapan mereka!

Heu, lumayanlah…buat kenang2an…dengan bintik hitam di keesokan harinya!

2 thoughts on “Trek Mistis, Magis di Lingga Ratu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s