Trek Curug Hanjawar

Di awali SMS yang mengajak gowes ke curug Hanjawar, sehari sebelumnya. Sesuai dengan kesepakatan  akan  bertemu di bengkel Atep sebagai titik kumpul. Satu demi satu para penggowes berdatangan. Saya belum mengenal mereka satupun. Uluran tangan dan penyebutan nama sendiri, menjadikan saya mengenal orang perorang nama masing-masing.

Tanpa memakan waktu lama, akhirnya  delapan orang mulai gowes menyusuri jalan raya Garut Tasikmalaya. Sepanjang tanjakan tersebut beberapa kali berpapasan sesama penggowes, atau yang searah tapi menyusul rombongan kita.Pelan tapi pasti, tanjakan Ngamplang sejauh 3 kilometer, ditempuh dalam waktu 20 menitan.

Dua orang yang saya kenal kemudian, Pak Asep dan Pak Wawan terlihat sangat mantap cadencenya. Tanjakan Ngamplang sepertinya tidak memberikan kesulitan yang berarti buat mereka. Saya sangat penasaran dengan kemampuan mereka. Saya coba ikuti, dan intip jurus gowes mereka. Namun tetap tidak mampu mengikuti irama gowesan mereka. Sehingga, mulai di persimpangan Kampung Hanjawar  di tanjakan menuju Curug sejauh kurang lebih 3 kilometer, saya mulai tertinggal jauh.

Saya terus mencoba untuk tidak tertinggal terlalu jauh, tapi tetap saja tertinggal. Pak Wawan baru dapat tersusul, setelah persimpangan. Itupun karena rantainya lepas, sehingga harus turun dan tersusul. Tapi setelah, rantainya dibetulkan. Kembali saya tertinggal jauh. Akhirnya malah tidak dapat melihat bayangan mereka berdua. Dalam hati saya bertanya, apa rahasianya mereka dapat gowes dengan tanjakan yang cukup panjang tapi sepertinya tidak kelelahan. Berusaha tidak menyerah, dan terus menggowes dengan sisa tenaga yang ada. Tapi, pada tanjakan yang terakhir yang sepertinya tanjakan pamungkas. Akhirnya, menyerah. TTB juga…Saya pikir jauh tertinggal, nyatanya TTB tidak lebih dari 2 menitan. Tampak Pak Wawan dan Pak Asep sedang beristirahat pula.

Ternyata teman-teman juga tidak terlalu jauh tertinggal. Tidak lama kemudian muncul Pak Haris dengan nafas satu-satu. “Hah….seuhah, bala-bala mah dibalangkeun. Di dahar cengekna wungkul we…!”. Teriak Pak Haris, maksudnya, saking beratnya tanjakan. Sehingga nafas pun seperti makan laba-laba, eh…bala-bala. Tetapi bala-balanya dibuang sehingga yang dimakan hanya cabe rawitnya. Akhirnya, mulut mangap kepedasan.

Pak Haris, langsung terduduk. Sementara saya memakan biskuat yang diberikan Pak Wawan. Pak Asep hanya berdiri dan terus melemas-lemaskan otot kakinya. Tidak berapa lama kemudian Pak Iim dan Pak Dedi serta Pak Yaya tiba. Ternyata hanya bertujuh yang tiba. Satu orang lagi, Pak Agus ternyata balik kanan. Tidak ikut gowes, kata Pak Dedi hanya sampai di Ngamplang lalu balik lagi.

Setelah beristirahat sebentar, gowes di lanjutkan ke Curug Hanjawar. Jalannya berupa turunan macadam yang cukup curam. Pak Dedi yang memakai sepeda fullsus Giant, meluncur dengan cepat. Disusul Pak Iim dan Pak Asep. Sementara saya mengikuti dari belakang. Jalannya benar-benar tidak bisa dibilang ramah. Bahkan terkesan runyam. Karena menanjak, full makadam.

Dua kilo meter kemudian, tampaklah Air Terjun, yang disebut Curug Hanjawar. Tingginya sedang-sedang saja. Paling 10 meteran. Tapi airnya jernih. Tampak banyak anak-anak remaja yang mandi atau sekedar duduk-duduk di bawah air terjun.

Pak Iim mengambil foto beberapa kali, begitupun dengan saya. Menggunakan kamera di E71 keindahan dan kejernihan air terjun Hanjawar terekam pula. Sementara saya mengambil foto-foto, yang lain langsung gowes ke atas. Melewati Curug Hanjawar, menuju ke perkebunan teh. Beberapa kali harus mengalah karena dari atas, berpapasan dengan motor. Entah dari kampung mana mereka berasal.

Jalanan menanjak, dengan kontur tanah. Diselingi batu-batuan serta menyempitnya jalan. Beberapa kali harus turun dan menuntun sepeda. Beriringan dengan Pak Iim, Pak Dedi akhirnya kita berhasil bertemu dengan rekan tadi yang jalan lebih dulu. Pemandangan sangat indah dan sejuk. Perkebunan teh Dayeuh Manggung. Semua menyandarkan sepeda, dan langsung membuka bekal masing-masing.

Makan siang, dengan lauk pauk seadanya yang dibeli dari warung nasi di pinggir jalan. Nikmat. Di tengah tiupan angin yang semilir serta hijau ranau kebun teh, dengan lapar yang teramat sangat. Makan siang dilahap dengan cepat. Nyaris tak terdengar suara. Masing-masing asyik dengan kunyahannya masing-masing.

Sesaat setelah makan, tampak rombongan anak-anak remaja putri yang memakai kerudung dan kain kebaya. Saya langsung menebak, pasti santri dari pesantren di sekitar situ. Ternyata benar, mereka menuju Curug Hanjawar sebagai hiburan saat mengaji di pesantrennya libur. Ditilik dari pakaian dan perilaku mereka, tampak mereka sangat polos.

Saya pikir, jalur akan terus dilanjut ke atas menembus perkebunan teh. Ternyata tidak. Kita harus kembali turun, menuju Curug Hanjawar. Pak Iim beberapa kali , kembali mengabadikan dengan kamera digitalnya. Beristirahat di curug sebentar. Kemudian dilanjut. Tetapi, beberapa saat kemudian. Harus kembali berhenti. Karena rem sepeda Pak Yaya, rusak. Untunglah, ada sejumlah tukang yang sedang membangun bangunan untuk tempat peristirahatan yang mempunyai tang. Tidak memakan waktu lama, sepeda Pak Yaya kembali bisa digowes. Tapi karena ban sepedanya kecil dan bukan untuk offoroad. Beberapa kali Pak Yaya, ban sepeda Pak Yaya selip dan terjatuh.

Jalur untuk seterusnya berupa tanjakan macadam, berselang seling dengan tanah becek. Jalurnya single trek, dengan vegetasi bambu dan pepohonan yang cukup lebat. Sampai matahari, sinarnya tidak bisa menembus.

Anak-anak BMX yang mengikuti kita dari belakang dengan berani dan semangatnya menyusul rombongan. Padahal sepeda mereka, single gear. Salut!  Beberapa kali dibuat terkejut oleh mereka. Karena beberapa kali ditinggalkan di belakang. Ternyata saat kita tiba di depan, mereka sudah nangkring di depan kita pula. Usut punya usut, ternyata daerah tanjakan dan perkebunan itu sudah menjadi lalapan mereka sehari-hari. Jadi mereka sudah hapal betul jalan pintas atau terobosan. Okelah kalo begitu, kita terima keperkasaan mereka.

Setelah melintasi single trek di tengah perkebunan teh dan hutan bambu, maka kita memasuki daerah perkebunan palawija. Tidak terlalu lama, kembali berubah menjadi perkebunan teh dengan kontur aspal yang sudah rusak. Tetapi itupun tidak lama. Karena aspal licin telah menyambut dengan ramah. Tampak bangunan-bangunan dan rumah tua khas perkebunan. Sebuah tulisan di papan terpampang gede di depan sebuah bangunan paling besar, Perkebunan Dayeuh Manggung.  Oh, ternyata tembusnya ke perkebunan teh Dayeuh Manggung.

Di atas lapangan yang cukup luas, tampak sebuah mesjid yang sangat besar. Kitapun beristirahat di sana untuk solat Dhuhur. Saat berwudhu, airnya serasa air es. Dingin! Namun, dinginya air tersebut cukup menghilangkan penat dan lelah. Tubuh terasa segar. Namun udara yang juga dingin, sepertinya membangkitkan kembali rasa lapar :p

Usai sholat dhuhur, langsung cabut. Gowes lagi, melahap turunan yang tajam. Macadam memang, tapi lumayanlah untuk bonus. Sekitar dua kilo meter kemudian. Jalur berubah menjadi beton. Terus menurun dengan tajam. Tapi kewaspadaan harus tetap terjaga. Karena dari arah bawah seringkali tiba-tiba muncul motor atau mobil pickup yang akan membawa sayuran. Jalur beton, tersebut tembus ke Jalan Raya Garut Tasikmalaya. Kitapun belok kiri, dan langsung kembali menuju kota Garut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s