Trek Cibeureum Bikin Merem Melek

Perjalanan gowes kali ini di Lereng Kamojang, untuk kali kedua lereng ini ditapaki dengan neng spezy. Pada perjalanan pertama, langsung gowes dari kota Garut sejauh 23 km selama 4 jam penuh. Cukup berat dan menguras tenaga, apalagi waktu itu matahari sedang di tengah ekuator karena musim kemarau (yang gak jadi karena kacaunya musim hehehe.

Mengantar Om Opik dari Kompas Gramedia Cyclers (KGC) Jakarta yang melakukan survey untuk kegiatan Jambore KGC tanggal 9 April 2011. Bersepuluh kita rencananya, akan loading dulu dengan menggunakan colt pick up dengan tikum (titik kumpul) di bengkel om Atep, Jalan Karacak.
Om Opik, yang tidak membawa sepeda. Alhamdulillah, dapat pinjaman dari om Atep pemilik bengkel, sementara helmet dari Pa Iim. Satu demi satu anggota KOKIBE (Kolot Aki2 Bedegong) berdatangan. Pa Wawan, Pa Asep, Pa Mastur, Pa Haris, Pa Yaya, Pa Dedi dan Pa Iim telah lengkap denga sepeda dan peralatan masing-masing.
Ternyata, colt pick up yang sedianya menjemput, jam 07.30 sampai jam 09.00 ternyata belum datang juga. Om Atep yang menjanjikan, sudah mencoba telepon dua kali ke penghubung mobil. Mendapat jawaban kalau sopirnya liburšŸ˜¦
Akhirnya diputuskan kita bersepuluh (dengan satu orang misterius, yang ikut, tidak tahu namanya, beliau sudah nangkring di bengkel paling awal, dan selama perjalanan pendiam, jadi kita juga bingung. Saya menyangka temannya pa Asep dkk. Setelah ditanyakan ternyata bukan :p dan identitasnya baru diketahui setelah finish di rumah usai makan liwet. Namanya Pa Dodi) menuju ke Sukapadang, tempat mangkal truk-truk omprengan.
Truk didapatkan Om Opik yang punya hajat harus merogoh Rp. 200 ribu rupiah. Kata sopir truk, biasanya 300 ribu rupiha kalau membawa pramuka ke Cibeureum. Karena ini untuk OR biarlah Rp. 200 ribu. Satu demi satu sepeda dinaikan dengan hati-hati, lanjut penggowes. Saya menawarkan Pa Asep (jago nanjak, tapi gak jagoĀ naik mobil xixixi….) untuk duduk di depan bersama Om Opik. Beliau menolak, ya akhirnya saya duduk di depan.
Selama perjalanan, biasalah ngobrol sana sini dengan sopir. Mulai dari masalah pribadi sampai gosip gak bermutu hehehe. Tidak lupa, sesekali menunukkan tempat-tempat penting ke Om Opik. Mulih ka Desa, dan Kampung sampireun…dua tempat piknik orang berduit terlewati, Saya sebut untuk orang berduit karena, untuk nginap satu malam saja harus merogoh kocek jutaan, yang bagi kami mungkin cukup untuk makan selama satu bulanšŸ™‚
Sesaat mobil berhenti di puncak pass kamojang sebelum Cibeureum, Om Opik harus mengambil view yang sangat cantik. Cikuray berselimut kabut, Papandayan sepertinya rata dengan kita, diselingi pesawahan dan perkebunan sayuran yang seksi, seperti aura kasih (heuheuheu…naha jadi inget bodinya aura kasih xixixi)
Tiba di lokasi unloading jam 10.15 WIB, jadi lebih kurang 30 menit kita berkendara truk. Sepeda satu demi satu diturunkan, taking some picture bareng-bareng dulu di depan plang Situ Cibeureum. Menurut info, mata air itu digunakan untuk orang-orang bandung!
Huph…perjalanan langsung nanjak, cukup panjang dan curam. Pelan tapi pasti semua menggowes. Namun Pa Dedi, Om Opik, Pa Haris akhirnya TTB…
Jam 11.30 akhirnya tiba di Situ Cibeureum. Sangat hening, bening, hijau dan fantastis, aura keperawanan danau itu sangat kuat. Bau pinus dan rumput yang terendam, membawa udara terhirup dalam-dalam. Subhanallah…nikmat dan segar sekali! Ā Sesaat kami, terdiam. Terpesona oleh keindahan alam yang jarang terjamah manusia ini. Belum ada sampah plastik atau semacamnya. Tampak dua sejoli sedang memadu janji di bawah gubuk tua. Hening…yang terdengar hanya gemericik suara mata air. Danau itupun kami susuri, mata air yang menurut pa asep dan pa wawan setahun lalu menggelegak keluar dari pipa berukan 50 cm sekarang tak ada lagi. Tinggal pipanya yang tertanam dan menyisakan kenangan. Entah apa yang menyebabkan mata air itu mengering.
Kami mengelilingi danau itu dan saling berkomentar tentang keindahan danau itu.
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan. Off road memasuk hutan pinus, sayuran dengan single trek yang nyaris tidak terlihat karena terhalangi pongahnya semak belukar. Tiga kali kami harus memutar jalan karena tersesat. Karena tingginya semak-semak yang menutupi jalan setapak. Beberapa kali, beberapa teman terjerembab dengan kepala nyungsep karena tidak bisa menjaga kestabilan sepeda atau tubuh.
Pa Wawan yang berada di hadapan saya, beberapa kali terjerembab dengan kepala “hilang” masuk semak belukat dengan posisi tertancapšŸ˜€
Beberapa kali harus berhati-hati mengangkat sepeda dan berjalan hati-hati karena jalan yang berada di bibir Ā jurang yang cukup curam. Bahu membahu kita saling membantu. Akhirnya tibalah di perkebunan akar wangi.
“Splash….!” kita berada di puncak bukit yang sangat terbuka. Liar, harum akar wangi, biru langit dan sapuan awan tipis yang maha karya dari Maha Kuasa. Allahu Akbar…!!!
Indah, tak terucapkan kata-kata…
Kembali kita tersihir oleh keindahan tersebut. Terdiam, dan saling berbisik. Menikmati segarnya semilir angin di perbukitan yang terbaur harum akar wangi. Mantaaaappp…kata bondan winarno mah!
Taking some pictures lagi beberapa kali. Dilanjutkan dengan gowes bebek-bebekan menyusuri jalan sempit di tengah perbukitan itu. Beuh serasa jadi Ā Laura Angles di film Little House on The Praire heuheuheu….
Habis turunan dan jalanan yang cukup ekstrim, kita bertemu dengan ibu-ibu petani tomat yang sedang menyiangi kebun-kebunnya. Mereka heboh teriak-teriak, “Ulah kadinya, teu aya jalan kadinya mah. Paur jurang bilih geubis…!” (jangan ke situ, tidak ada jalan! banyak jurang nanti bisa jatuh!).
Kami pun terhenti sejenak, lalu balik bertanya, “Tapi aya jalan teu bu? Tiasa dipanggul teu sapedahna?” (tapi ada jalan gak bu? bisa diangkat di bahu gak?”
“Tiasa!” (bisa), jawab mereka….”Owh, wios atuh bu, ari tiasa dipanggul mah. Da abdi mah resep kanu jalan awon!” (oh, biarin bu kalau begitu, kami lebih suka jalan yang jelek)
Kami pun menggerundel…karena ibu-ibu berbicara saling berebutan, jadi tidak terdengar jelas apa yang mereka katakan.
Dan, sekitar 100 meter menuruni bukit, ternyata benar. Jalan sangat kecil, tepat dibibir jurang. Sepedah terpaksa diangkat dibahu kiri, untuk mengimbangi tubuh agar tidak terjatuh ke jurang. Satu demi satu, sepeda dievakuasi, cukup memakan waktu. Menghentikan rombongan. Biar lambat asal selamat. Akhirnya tiba semua di seberang jalan.
Wuushh…semua kembali meluncur di atas jalan tanah, sesekali harus mengerem kalau tidak ingin terpelanting. Saya pun mengalaminya. Kurang-kurangnya kontrol, dan mengendalikan laju sepeda dengan pengereman. Bisa dipastikan akan terbang dan bercerai dengan neng spezy. Alhamdulillah selamat…!
Di belakan Pa Wawan kemudian Pa ASep menyusul…melaju dengan cepat. Sesekali harus merundukan badan, karena pohon bambu yang tumbang di tengah jalan.
Selanjutnya jalanan menurun dan diselingi makadam..terus menurun dengan jalan beralas batu kali bekas jalan aspal yang telah terkikis habis oleh air.
Sebuah kampung yang tahun lalu terkena bencana longsor tampak di hadapan kami…rata dengan tanah. Rumah-rumahnya tertimbun pasir dan menjadi aliran air…ada yang membuat kami terkesima. Aneh, sebuah mesjid tampak utuh tidak rusak atau tenggelam seperti rumah-rumah di sekitarnya! Allahu Akbar!
Setelah kampung itu, kembali beriringan nanjak lagi sedikit, dan terus turun sampai ke jalan raya Samarang, 300 meter menapaki jalan raya Garut Samarang, belok kanan memasuk jalan Sukagalih, Pembangunan, Sukapadang, Maktal, Belok kanan menuju rumah saya di Gandasari. Semua anggota rombongan, Alhamdulillah semua masih lengkap. Menanjak lagi sekitar 4 km sebelum tiba di rumah.
Total perjalanan adalah tiga jam dengan jarak tempuh 18,77 km…mantap.
Tiba di rumah, nasi liwet, sambil cibiuk, goreng ikan nila kering dan ayam bumbu asam manis langsung disantap…
Alhamdulillah….

2 thoughts on “Trek Cibeureum Bikin Merem Melek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s