Jambore KGC, Garut 9-10 April 2011

9 April 2011, Jambore Kompas Gramedia Cyclist (KGC) yang diselenggarakan di Garut selama 2 hari sampai 10 April 2011. Membuat tubuh bener exhausted. Selaku tuan rumah, merangkap “setengah panitia” itu terjadi karena kita merangkap tim survey, sie konsumsi dan marshal sekaligus hehehe… Untunglah sang istri tercinta, terbiasa masak. Jadi sangat terbantu.

Setelah mengantarkan Kang Gun, yang akan gowes langsung bareng teman-teman KaGC (Komunitas Garut Cyclist) ke lokasi start di madrasah MTB-iyah Jalan Sumber Sari. Selaku jemaah MTB-iyah Lulusan IPDN (Ikatan Pesepeda Doyan Nanjak). Pa Asep, Pa Wawan, Pa Yaya, Pa Budi, Pa Kokon dan Kang Gun akan gowes langsung ke Gunung Kamojang yang memakan waktu lebih kurang 2 jam.

Selaku dosen wali Pa Asep yang baik hati, peramah dan sopan, saya diantarkan kembali ke rumah. Membantu anak mertua, menyelesaikan membuat timbel untuk 80 orang. Untunglah om Niko dan Pak Dodi membantu jadi gak terlalu keteteran. Karena saat itu. Kata Kang Joy, rombongan KGC sudah sampai di Rancaekek. Berati hanya sekitar 1 jam lagi nyampe. Padahal timbel baru selesai 42 bungkus. Hampir lupa, si Jalu, yang baru 4 tahun pun. Ikut sibuk membantu meletakkan makanan pada kotak nasi. Hebatnya, dia bisa tepat menempatkan mana yang belum mana yang sudah lengkap makanannya.

Alhamdulillah, jam 08.50 akhirnya selesai dan di loading ke colt L300 yang telah nongkrong depan rumah. Langsung menjemput Pak Iim, Pa Dedi, dan Pak Dadang. Kang Joy dan si “Giant” Niko langsung ganti baju dan setup sepeda. Seperempat jam kemudian kita sudah meluncur menuju Kamojang. Rencananya memang, KGC hanya downhill offroad dari Cibeureum langsung menuju ke Cipanas lebih kurang 13 km.

Sepanjang perjalanan, komunikasi dengan pesawat 2 meteran terus berlangsung. Monitoring tim pendahulu (Kang Gun dkk. yang gila pisan, mereka hanya 45 menit sudah tiba di lokasi!!!), tim akomodasi (kita) dan Bus Rombongan (yang ternyata sudah memasuki daerah Hampor, lebih kurang 10 km dari lokasi). Tiba di titik pertemuan, yaitu mesjid di daerah Tanjung Karya. Tim pendahulu sudah bersiap berangkat kembali. Mereka menyarankan untuk istirahat dan parkir langsung di lokasi offloading. Yaitu di arboretum Cibeureum Kamojang.

Gerimis menangis, yang berubah menjadi hujan lebat menyambut kami 15 menit kemudian. Bahkan teramat deras. Sehingga harus berteduh di sebuah warung kopi kecil di tepi jalan. Pa Asep dan Pa Wawan mencoba masuk ke arboretum, untuk meminjam tempat dan mesjid. Tidak bertemu seorangpun. Tapi seseorang menyarankan, silakan saja langsung masuk dan pakai aula dan mesjidnya. Akhirnya saat rombongan tiba, mereka langsung parkir di arboretum. Makan siang, solat dan istirahat sambil menunggu truk box besar yang membawa sepeda datang.

Truk box sepeda datang, langsung melakukan persiapan. Briefing, dan pembagian bingkisan untuk anak-anak di kampong yang terlewati oleh rombongan. Jadinya, setiap peserta Jambore ransel water pack, handlebar-nya penuh dengan kantung plastik berisi bingkisan. Dalam briefing disampaikan, yang onroad. RC nya Pak Dedi Paul, dan sweepernya Pak Iim. Total yang onroad ada 21 orang termasuk yang gowes langsung dari Bandung via Majalaya-Talun-Paseh-Monteng-Kamojang-Cibeureum. Sementara peserta offroad 48 orang (satua orang Srikandi, Intan dari Warta Kota dengan polygon pingkinya) termasuk marshal Garut 7 orang. Yaitu Saya, Pak Asep, Pak Wawan, Pa Yaya, Pak Dodi, Pak Dadang, dan Pak Ade yang menyusul kemudian.
Setelah berdoa yang dipimpin Abah Ush, semua rombongan bersiap. Rombongan offroad segera berangkat. Rombongan onroad harus menunggu dahulu rombongan Gus Sur dkk. yang gowes langsung dari Bandung tadi.

Sesuai skenario yang tidak diberitahukan kepada peserta, mereka harus melakukan pemanasan dengan nanjak. Pada awalnya semua masih semangat. Wush…wush…wush…ngarebut euy! Selama gowes 5 menit pertama, mereka saling ledek. “Mana tanjakannya, koq gak kelihatan!”. Kita mah senyam senyum aja

Ternyata ngebut hanya beberapa menit saja, 10 menit kemudian. Mulai terdengar, rame shifting yang gak smooth. Drek…drek…Drek…drek, drek… drek… dan…. hekh! Kirain shifting teh, mau gowes terus. Eh, malah turun dan….akhirnya pada TTB (Tungtun Bike Semua). Saya segera ngebut, untuk mengabadikan acara TTB berjamaah dalam pengajian MTB-iyah KGC ini. Dengan nafas yang juga ngos-ngosan, mereka terlewati. Di puncak tanjakan, segera langsung turun. Dengan telinga berdengin, dan nafas memburu. Nokia E71 segera beraksi, mengambil satu demi satu moment “matador” (manggih tanjakan dorong) berjamaah tersebut.

Setelah tanjakan pertama habis, sedikit datar. Peserta mulai menggowes lagi. Baru beberapa puluh meter. Tanjakan kedua segera menghajar mereka. Untunglah, tadi hujan deras, dan cuaca mendung. Sinar matahari tidak ikut membakar dari atas. Tapi saya tetap saja merasa simpati, kepada mereka yang memakai sepeda fullsus untuk downhill. Sepertinya, mereka menginginkan dunia ini terbalik. Tanjakan jadi turunan, Fullsus jadi Hardtail. Sambil gowes santai di tanjakan tersebut. Waktu melewati mereka yang memakai sepeda fullsus dan helm fullface, saya semangati mereka. “Ayo, semangat. Pelan-pelan aja…lain kali ganti sepeda paka hardtail aja ya!”. Mereka cuma bisa, mendelik dan melotot sambil nafas ngos-ngosan. Heu…heu…heu….

Tepat di persimpangan ke jalur offroad yang konturnya datar, kembali saya menegaskan ke Kang Opik. Mau ke danau dulu atau langsung offroad. Dengan mantap dan penuh senyum misterius, si Bayi Montok mirip bayi ajaib ini bilang. “Ya, kita ke danau dulu…!” Tanpa bisa menolak. Tanjakan ketiga segera menghajar para peserta jambore KGC ini. Acara “meniup” handlebar dan “makan cabe rawit” kembali terulang. Sepertinya, para peserta berandai-andai, di handlebar-nya dipasang layar, cukup lebar. Sehingga bisa tertiup oleh angin yang dihembuskan dari nafas mereka yang memburu. Yang sepedanya fullsus, kembali disemangati saya. “Ayo maju terus, yang semangat ya. Lain kali mah, ganti pakai hardtail aja sepedanya. Jadi gak berat di tanjakan. Efek bobbingnya terasa banget ya?”, ujar saya sambil tetap gowes mensejajari mereka.

Sebelum tiba di danau, kontur jalan berubah menjadi pasir hitam, menurun dan cukup dinikmati para peserta. Bisa menggeber sepedanya dengan mantap. Kang Gun, dengan Specialized merah putihnya, ngebut! Mungkin mereka tidak pernah kepikiran sama sekali, turunan itu nanti menjadi tanjakan hehehe…

Tiba di danau, istirahat sebentar dan tidak lama. Hanya foto-foto sebentar. Banyak peserta yang kecewa, karena danau yang dibayangkan tidak seperti apa yang ditampilkan dalam foto2 di FB. Danaunya Cuma seemprit dengan kondisi kurang terawat. Ada dua peserta yang malah akan melanjutka gowes naik ke jalan di atas danau. Padahal jalan itu buntu. Akhirnya mereka balik lagi. Saya hanya bisa tersenyum simpul hehehe…

Banyak peserta yang, kembali ber “hah” karena ternyata pemanasan harus diteruskan dengan balik kanan dan mencumbu tanjakan yang tadinya turunan dari arah datang. Banyak yang menyesal dan menggerutu. “Tahu, mau balik lagi. Gw, mending nunggu di pertigaan deh!” Saya dan teman-teman marshal hanya bisa ngakak. Rencana Kang Opik dan saya, memberikan surprise, berhasil membuat mereka ngedumel. Namun, mau tidak mau. Kembali harus mengikuti upacara, peniupan handlebar dengan seksama.

Saya, segera kembali ke atas, takutnya peserta tunjuk hidung saya heheh…. Berhenti di puncak tanjakan. Untuk mengambil momen upacara peniupan handlebar itu dengan khidmat. Neng Spezy langsung disandarkan di semak-semak, pinggir jalan. Nokiem E71 kembali, mengabadikan saat-saat yang mungkin bagi para pemula (kata kang opik) merupakan saat yang paling mengharubirukan perasaan mereka. Satu demi satu mereka diabadikan. Sikapnya pada saat tanjakan yang menikung itu, beraneka rupa rasanya. Ada yang mesem, cemberut, mangap, serius, merem melek bahkan ada yang joget “chaiya, chaiya” ala Briptu Norman karena tiba-tiba sepedanya lepas kendali :p


Tiba dipertigaan ke jalur offroad, Pak Asep selaku RC kapten kembali menjalankan aksinya. “Jalur atas atau yang bawah?”. Sambil berisitirahat, mengambil nafas. Setelah menanjak sekitar 200 meter yang berupa macadam ringan ala hutan pinus. Pak Asep memang senang memberikan harapan. Saya menimpali setelah “berdiskusi” dengan Pak Wawan. “Ya, ambil ke kanan aja Pak Asep!”

Dan, “mulailah” offroad dengan menuruni single trek cukup lebar di tengah hutan pinus. Saya gowes di belakang setelah Pak Wawan, Pa Yaya dan Pak Budi. Peserta mulai teriak-teriak “hihaaa!” tiba-tiba rombongan terhenti. Saya, ketawa dalam hati. Tanpa ribut…balik kanan dan gusur sepeda ke atas. Balik nanjak. Beberapa peserta kembali mengomel dan menggerundel serta menggumam membaca mantera…entah mantera apa yang mereka baca. Hahaha…Beberapa diantara mereka, bahkan nekad tidak mau mendorong sepedanya, tapi digowes kembali ke atas. Saya hanya tersenyum dan membiarkan mereka lewat. Sedikit lagi tiba di pertigaan, di tempat Pak Asep nanya tadi. Mereka saya susul kembali. Kembali paling dulu nyampe di puncak tanjakan, sandarkan neng spezy. Duduk, menunggu mereka kembali untuk diabadikan si Nokiem :p

Satu demi satu atau berdua bahkan bertiga, para peserta jambore ketigakalinya harus mengikuti upacara peniupan bendera, eh, peniupan handlebar. Pemanasan sebelum offroad itu sepertinya sudah cukup. Terlihat dari muka-muka merah dan emosi yang sudah sampai pada titik optimal. Tapi yang sudah berpengalaman seperti Abah, Kang Gun, Kang Joy, Om Niko, Om Yusril, Opik,Yana dll. mah, tetap tenang dan tidak menunjukkan kekesalan atau apapun. Tetap mantap poll!

Akhirnya tiba di lokasi sebenarnya. Kontur trek yang langsung berubah jadi tanah dan kebun jagung sepertinya menjadi suntikan adrenalin. Para peserta kembali antusias, dan berteriak-teriak histeris. Tepat di titik pemberangkatan. Harus diberangkatkan satu-satu. Harus antri, karena treknya single. Full semak-semak dengan ilalang setinggi dada. Terdengar teriak-teriakan excited dari mereka yang telah meluncur duluan. Kita tidak bisa melihat karena treknya benar-benar tertutup semak belukar. Jadi yang terdengar hanya teriakan-teriakan mereka. Satu orang (Ketua Panitia Jambore?) yang belum tahu harus antri, sambil bercanda dia teriak-teriak:”awas, awas…rem blok…!” Tapi, tiba-tiba…bles, ban depan sepedanya masuk lubang di sebelah kiri jalan, dia terpelanting. Korban nyungsep pertama. Semuanya tertawa ngakak, terpingkal-pingkal. Sementara sang korban hanya bisa terduduk sambil tertawa malu!


Salah satu dewan syuro KGC, Abah, dapat giliran, si Perak yang menjadi tunggangannya tiba-tiba ngadat. Tidak terkendali, menjadi liar. Untunglah si Abah, tidak terjerembab seperti yang tadi. Tapi cukup membuat bahan ledekan peserta lain. Kang Yana, sepertinya mengabadikan momen, ngadatnya si Perak dan hampir terjerembabnya si Abah (?).

Akhirnya, setelah Kang Gun, giliran saya…percayalah kalo sama Koboy Subang yang satu ini mah. Ditanjakan aja jago, apalagi di turunan. Neng Specy milik kang gun sangat mumpuni. Mengingat suspensinya yang fullsus dan rem hydrolic yang mantap. Sesaat Kang Gun berhenti mengambil gambar dengan headcam-nya. Om, Niko yang berada di depan saya. Dua kali harus dibuat terkejut. Karena lintangan dua buah pohon pinus di tengah trek yang menurun. “Bunny hop” aja om…dia ngakak. Mengingat badannya yang super tinggi besar. Tidak memunggkin untuk aksi seperti itu.

Tiba di padang mahsyar, eh padang “usar” yaitu padang akar wangi yang sangat indah dengan bau harum khasnya. Bukit-bukit yang mengelilingi padang usar itu sangat hijau, langit membiru, serta latar belakang gunung Papandayan dan Cikuray nun jauh. Mengingatkan pada film, masa kecil “Little House on the Praire” yang dibintangi Michael Landon dan Melisa Gilbert.

Semua peserta terhenti. Terkesima oleh keindahannya. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan bernarsis ria. Mulai dari jari membentuk V, metal, ngepal, sampai lidah ngelel, senyum dikulum sampai cheese! Lengkap dilakukan…

Single trek kontur tanah yang datar dan sedikit licin, sisa kucuran hujan tengah hari tadi membuat ban sepeda sangat kegirangan. Melesat, sesekali meloncat. Terus menapaki kebun tomat, kubis, dan jagung. Belok kiri, kembali saya berteriak. “Hati-hati jurang sebelah kiri. Licin, jalannya sempit!” Pak Dodi mengontak Pa Wawan via pesawat HT. Butuh porter bantuan, untuk mengestafetkan sepeda di bibir jurang. Di sini sempat bertemu dengan Abah, dan lapor. Kalo kakinya harus menghajar crank karena terseruduk Pak Asep yang juga terjerembab.

Belakangan, ternyata ada beberapa orang yang terjerembab dan bahkan terjatuh ke dalam jurang yang tidak curam. Tapi, mungkin cukup membuat nyali kabur 2 kilogram hehehe…Kang Opik, menurut Pak Asep, jatuh terjerembab karena trek yang licin dan tidak control. Hasilnya adalah handlebar si Uni, cukup keras menampar t*t*t nya. Bahkan, Kang Opik, biji salaknya takut hancur, katanya. Korban lainnya, Om Niko serta 3 peserta lainnya berpartisipasi ikut merasakan kemesraan, sempit dan licinnya jalan di tepi jurang tersebut. Tapi, Alhamdulillah semuanya selamat melewati jalur yang cukup ekstrim tersebut.

Trek pascajurang masih tanah yang sempit dan licin. Harus super hati-hati. Kalau tidak mahir sebaiknya dituntun. Persis di depan, sepertinya peserta masih pemula. Terlihat dari kesalah penggunaan rem dan shifting serta tangan yang gemetaran. Entah takut ketinggian atau takut terjatuh. Harus sabar berada di belakangnya. Karena untuk jalan yang cukup layak digowes pun, dia sepertinya cukup kesulitan. Akhirnya saya putuskan, untuk membiarkan dulu peserta itu cukup jauh. Setelah itu meluncur menyusul.

Regrouping peserta di Kampung Dadali. Sambil beristirahat dan berkumpul kembali. Saya putuskan untuk ke depan. Karena di situ ada Kang Opik yang sudah kenal medan. Pak Asep, Pak Dodi, Pak Wawan, Pak Yaya, Pak Dadang, dan Om Niko ada di belakang. Kontur trek, adalah macadam jahanam sesekali tanah. Cak Kris mengikuti di belakang. Yang akhirnya melaju duluan. Sementara saya menunggu di turunan hutan bambu yang full tanah licin, dan karakas daun bambu. Cukup lama menunggu. Akhirnya muncul Pak Asep, Pak Wawan dan peserta lainnya.

Tiba di tempat Kampung Longsor, tampak para KGC-ers sedang mencuci sepedanya di sungai kecil yang membelah “kampung” yang sudah menjadi tanah. Neng Specy, juga sedikit dibersihkan agar tidak terlalu berat di gowes. Setelah regrouping lengkap.

Jam 15.45, offroad dilanjut. Masih macadam sopan, sedikit menanjak. Namun, macadam sopan tersebut satu kilometer kemudian berubah menjadi macadam jahanam. Batu-batunya segede-gede kepala bayi “moshe dayan” si Zionis mata satu yang membantai bayi-bayi Palestina. Batu2 gede dengan permukaan tajam mengakibatkan trek kontur tidak lagi bisa dibilang kasar. Tapi lebih dari kasar. Diperparah dengan kondisi yang menurun dan air mengali di beberapa tempat.

Di sini sempat memberikan kuliah cara menggowes di turunan macadam kepada Tante Intan, yang merupakan peserta tercantik dari 48 offroader yang ikut. Namun, hanya sesaat. Karena kalau dilama-lama gowes di “macadam jahanam moshe dayan” seperti itu akan membuat tangan super kesemutan. Jadi? Mending dihajar seperti yang diajarkan oleh Dosen MTB: Pak Asep dan Pak Wawan. Lengkap dengan teriakan : “Walanda Kabuuuuur…!!!”

Beberapa peserta tersusul di macadam itu. Bukannya, sok atau belagu, tapi memang di jalanan seperti itu mending dihajar jangan takut-takut. Salah-salah kalau terlalu hati-hati malah ban selip, handlebar tidak bisa dikendalikan karena tangan kesemutan dan tubuh terlempar seperti yang dialami Pak Kokon beberapa waktu lalu. Jadi, mohon maaf kepada KGC-ers yang waktu itu tersusul. Sekarang mah, sudah jelas ya hehehe….

Perjalanan melewati macadam tersebut lancar. Tidak ada yang terjatuh atau kejadian yang tidak diinginkan. Selamat sampai di jalan aspal. Lanjut, menuju Rancabango, untuk regrouping dengan peserta onroad dibawah pimpinan Dewan Faqih MTB-iyah Pak Iim dan Pak Dedi Paul. Duo Dumbo yang selalu bersaing untuk maju perut pantat mundur hehehe…maklum, mereka termasuk kategori kelas berat untuk berat badannya.

Alhamdulillah, tepat waktu, sekitar jam 17.30 sesuai dengan rencana akhirnya rombongan offroad dan onroad peserta Jambore KGC 2011 tiba dengan selamat di Hotel tempat menginap (Gak akan disebut nama hotelnya, karena gak bayar untuk promosi di sini :p )

Satu hal yang harus dicatat baik-baik ya anak-anak…Selama perjalanan dengan penuh keihlasan seluruh peserta membawa bingkisan berupa alat tulis untuk anak-anak di kampung yang terlewati oleh rombongan. Satu demi satu, bingkisan tersebut dibagikan kepada penduduk yang mempunyai anak sekola atau langsung ke anak-anaknya. Seperti kita juga waktu kecil, banyak mungkin nakal. Sudah dibagi bingkisan dibilang belum. Jadinya dapat dua. Tapi itu kejadian itu relatif sedikit. Yang jelas, anak-anak yang tinggal di kampung yang lebih di bawah sayang tidak terbagi. Karena keburu habis di kampung di atasnya.

Selain, bingkisan kecil berupa alat tulis, Jambore KGC juga menyerahkan tumpukan buku, majalah dan buku-buku bacaan untuk anak-anak yatim piatu di Kota Garut dan TK duafa di Cibatu. Bahkan, saat salah seorang teman kami Pak Haris, yang istrinya dirawat di RSU, KGC menyerahkan bantuan untuk Pak Haris.

Angkat jempol buat Abah, Cak Kris, Kang Gun, Kang Opik serta seluruh panitia yang tidak melupakan mereka, anak-anak yang terpinggrikan. Walaupun kecil, semoga bermanfaat dunia aherat. Amien…

Terima kasih buat KGC-ers semoga bisa gowes bareng dan dikerjain lagi denga layak…amien!

2 thoughts on “Jambore KGC, Garut 9-10 April 2011”

  1. Semoga Kita Bisa Senantiasa Berbagi dalam Setiap Kegiatan yang digelar KGC ataupun yang lainnya, pokonya Jambore GARUT mangstab pisan…hatur nuhun ka sadaya marshall Garut yang membantu suksesnya acara ini,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s