Cirorek Seksinya Melebihi Aura Kasih

26 Maret 2011, jam 08.05-14.30
Hari Minggu yang cerah, Neng Spezy langsung dicumbu menuju Cirorek. Daerah perbukitan yang terletak di Kecamatan Cilawu.
Setelah berkumpul di kampus Universitas MTB, dosen wali Pa Asep Tb, Pa Wawan dan Pa Iim serta para mahasiswa yang terdiri dari dari Pa Nanang, Pa Yaya, Pa Haris dan Pa Dodi rombongan melaju pelan tapi pasti “menuruni” tanjakan ngamplang.
Neng Endomondo (www.endomondo.com), yang menjadi asisten perjalanan dalam perjalanan ngagowes hampir lupa diaktivasi. Baru teringat di daerah km 2 ke arah Lapangan Golf Ngamplang. Walaupun tidak digaji, Neng Endo mah setia mengingatkan dan memberi petunjuk arah. Pa Nanang, dengan bimbingan Dosen MTB pa Iim seperti biasa, meluncur paling depan. Diikuti Pa Asep, Pa Wawan, Pa Dodi, Pa Yaya, Pa Haris, dan bontot saya paling belakang. Biasa fotograper mah :p
Tanjakan Ngamplang sejauh 4 km, adalah jalan raya Garut-Tasikmalaya via Singaparna. Jalanannya hotmix mulus. Tidak terlalu curam tapi membuat badan langsung basah kuyup oleh keringat. Posisi gear tetap masih stabil 2-2 (gigi depan 2 belakang 2). Kami harus tetap waspada karena banyaknya kendaraan Elf , Bis yang menuju Tasik dan angkot Cilawu.
Setelah “sarapan” dengan menu tanjakan Ngamplang, jalanan akhirnya menurun. Semua melaju dengan cepat bahkan mencapai 30-40 km/jam. Sekitar 5 menit kemudian tiba di warung nasi “Bu Haji Cepel” alias Centil tapi Pelit! Untunglah sebelum berangkat tadi anak mertua telah membekali nasi timbel, bala-bala jagung dan sayur brokoli dan wortel. Jadi di warung itu cukup membeli ikan tongkol sebiji doang.
“Sabarahaeun Bu Haji?”, tanya saya.
“Dua satengah!”, jawab Bu Haji.
Diserahkan uang 5 rebu perak. Eh, dasar haji Cepel. Kembaliannya cuma 2000, dengan ringan dia berujar. “Entos we, cekap nya!”
Setelah semua selesai “mungkus”, perjalanan dilanjut menuju Cilawu. Karena menurun, tanpa menemui hambatan berarti. Tiba di pertigaan Cirorek jam 09.30. Saya dan dosen Pa Asep Tb, menunggu rombongan di pertigaan. Satu demi satu, mereka muncul dari jalan raya.
Jalan aspal berganti dengan jalan beton, hasil proyek PNPM. Cukup menguras tenaga.
Gak ada turunan sama sekali. Sejauh 2 km terus nanjak. Semuanya masih menggowes, belum ada yang TTB. Kampung Cirorek terlewati. Jalan beton, berganti dengan makadam dengan batu yang cukup tajam dan segede-gede kepala bayi (kelinci :p).
Di sini harus waspada dan konsentrasi penuh, selain makadam sialan, juga tanjakannya yang aduhai. Sekitar 500 meter tanjakannya sangat curam. Dada pun terasa seperti mau pecah!!!
Akhirnya, tanpa diperintah. Semua berhenti dan rehat untuk mengambil nafas.
Udara sangat segar, berbaur dengan bau pinus. Keringan yang membasahi tubuh, seperti penyegar ketika tertiup angin. Tubuh terasa bugar. Alhamdulillah…
Nanjak kembali dilanjutkan, Pa Nanang, Pa Haris, Pa Yaya dan Dosen MTB Pa IIm mulai menuntun sepedanya. Bisa dimaklumi, karena kondisi sepeda yang sudah ujur dan teramat standar, juga kondisi fisik mereka yang rata-rata sudah sama ujur dengan sepedanya. Sementara Dosen Badak alias Pa Asep Tb dan Pa Wawan (saya panggil badak, karena kedua orang ini tidak mengenal securam apapun tanjakan atau turunan, tidak ada istilah turun dari sepeda). Mahasiswa baru Pa Dodi, mengikuti dari belakang dan saya mengikuti dari belakangnya.
Di sebuah pondok penjaga hutan, kami kembali melepaskan lelah. Tanjakan makadam tadi cukup menguras keringat dan membuat kepala cenat cenut! Jam menunjukkan 11.15. Berarti hampir 3 jam untuk mencapai Trek Sexy Cirorek ini. Diselingi obrolan nyocol, dan saling cela. Karena sinar matahari yang jatuh langsung ke pondok dan tidak diteduhi hutan pinus. Rencana makan di pondok itu diundur ke tempat yang lebih lapang dan teduh. Perjalanan dilanjutkan jam 11.30, kembali sekitar 100 meter. Belok kanan, dan langsung memasuki single trek di tengah hutan pinus Cirorek.
Single Treknya bener-bener maknyos. Tanah dan rimbun oleh hutan pinus. Mantap banget. Bisa meluncur tanpa hambatan. Downhill yang penuh sensasi. Sesekali bisa bunny hop menghindari lubang atau undakan tanah, sesekali harus “ngajegang” karena treknya rusak oleh motor trail. Bahkan, sesekali juga harus turun dari sepeda dan melangkah hati-hati. Menjajari bini muda masing-masing. Kalau tidak, akan terperosok dan menggelosor.
Bergantian posisi, siapa yang di depan, siapa yang dibelakang tanpa diperintah, dan mengerti sendiri. Bergantian menjadi road captain atau sweeper. Setelah sekitar 45 menit tibalah di tempat yang lapang dengan kerimbunan hutan pinus yang teramat teduh. Akhirnya,: “Berhubung kepala sudah nyut-nyutan dan perut lapar kita makan di sini …!”
Setelah rehat menunggu nasi turun. Perjalanan dilanjutkan dengan downhill menuruni turunan yang diselingi kebun dan pesawahan. Bahkan, terkadang sepeda harus didorong karena tanjakan yang sangat curam dengan undakan.
Bahkan saking curamnya jalan, dan tidak mungkin akhirnya harus begini mencumbu si neng spezi
Akhirnya habis tanjakan curam tersebut, jalan tembus ke jalan kampung. Kembali beton, hasil PNPM dan nembus di Kecamatan Cilawu, Jalan Raya Garut_Tasikmalaya lagi. Sebelumnya, kembali harus gagal untuk menaklukkan tanjakan Aura Kasih yang aduhai seperti ini.
Tanjakannya pendek, paling 500 meter, tapi udah curam membelok tajam lagi. Tapi untuk Dosen MTB Badak alias Pa Wawan dan Pa Asep tanjakan itu sudah seperti jalan rata. Mereka dapat menapakinya tanpa sambil bersiul dan bercanda.
Sebenarnya pasca maksi itu kepala sudah cenat cenut, migrain yang kanan. Sepertinya ikan tongkol yang dilahap tadi kurang bagus pengolahannya. Sedikit keracunan sepertinya tubuh. Tapi saya tidak bilang ke mahasiswa dan dosen, karena malah membuat mereka khawatir. Bahkan, pada saat berbaring di gerbang Lapangan Golf Ngamplang, sakitnya gak tertahankanšŸ˜¦
Jam 14.08. Tiba di rumah Cibelik, ya rumah Pa Nanang, Pa Haris dan Pa Yaya…Pantangan sebenarnya bagi pesepeda untuk minum kopi sebelum tiba di rumah. Karena kopi dapat memacu adrenalin dan membuat jantung berdebar. Bisa berakibat fatal kalo gowes lagi…Tapi Alhamdulilah, jam 14.50 tiba di rumah dengan dipaksakan dan berdoa sepanjang 4 km menanjak menuju rumah. Karena mendung teramat gelap , agar tidak kehujanan di jalan.
Catatan: Cirorek treknya 50% single trek dengan tana, Ā 30% tanjakan makadam, 20% tanah selebihnya beton di jalan perkampungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s