Gowes di Hutan Cirorek Bikin Merem Melek

Untuk kali kedua gowes di hutan Cirorek ini, makin meninggalkan kesan, kalau trek ini memang benar-benar bikin merem melek. Perjalanan dapat ditempuh dari Garut kota sekitar 45 menit ke arah Cilawu.  Melewati jalur padang golf Ngamplang, mengharuskan kaki senam pemanasan sejauh 3 km full tanjakan. Gak begitu curam, tapi tanjakan tersebut cukup panjang dan bisa dibilang gak ada datarnya.

Tanjakan Ngamplang
Harus sabar menapaki tanjakan ini...

Melewati Ngamplang, jalan menurun dan berkelok-kelok. Seperti biasa, beristirahat sebentar di Warung Bu Haji “Cepel”. Alias Centil tapi Pelit. Udah mahal, sedikit nasinya dan kecil lagi lauk pauknya. Heu, tapi kemungkinan ini kunjugan kita yang terakhir ke warung itu. Kapok…bener-kapok dah!

Setelah cukup rehat, gowes dilanjut ke arah Cirorek. Lebih kurang 20 menit kemudian. Tiba di pertigaan Cirorek. Di warung pertigaan, tampak seorang ibu dengan pakain lusuh dan seorang bayi sedang terduduk menunggui warungnya. Saya mohon ijin, beristirahat menunggu teman-teman yang tertinggal di belakang. Setelah semua lengkap, kami bersembilan mulai menanjak dan menggowes ke hutan cirorek lebih kurang 1500 meter dari jalan raya Garut-Singaparna.

Bercermin dari pengalaman gowes yang pertaman, gowes langsung ngicik. Semua langsung oper gigi gede. Semua melaju pelan tapi pasti. Dosen Wali, Pak Asep Tb, masih bisa saya layani dan meninggalkan teman-teman di belakang. Kami berdua terus melaju. Nafas saya suudah diatur sedemikian rupa agar tidak ngos-ngosan. Tapi tetap saja, terdengar menderu berbaur dengan suara deru angin di hutan cemara.

Menggowes jadi semakin berat dan makin sulit karena jalan yang semula beton berubah menjadi makadam jahanam. Sampai sekitar tiga perempat dari titik puncak. Akhirnya, ban selip. Memaksa saya turun dari sepeda dan melakukan TTB. Dengan alasan, ingin memoto dulu teman-teman yang jauh di belakang. Pak Asep saya lepas, gowes sendiri. Seperti biasanya, haram bagi dia mah untuk turun dari sepeda. Dengan tanjakan securam apapun :p

Sambil menunggu teman-teman, hampir seperempat botol saya reguk.  Tanjakan makadam yang sulit, apalagi untuk pemula. Sayup-sayup terdengar gemeretak batang pinus yang tertiup angin kencang. Terdengar deru biru sang pinus yang membawa bau khas aroma pinus. Segar dan membuat udara yang pengap karena gowes tadi sejenak seperti dilegakan

Sayang, suasana sunyi dan syahdu dari hutan pinus tersebut terganggu sejenak oleh rombongan motor trail yang mungkin akan juga melakukan offroad di hutan Cirorek ini.  Mentang-mentang naek motor, gak permisi atau apapun mereka lewat saja tanpa basa basi atau sopan santun. Heu, tapi biarinlah itu kan hak mereka…

Tak lama kemudian, tampak Pak Dodi yang gowes sambil memamah biak. Mulutnya penuh dengan makanan goreng-gorengan: “Tadi belum sarapan…!” ujarnya lagi. Padahal saya gak nanya apa-apa…kegeeran kali karena di stang sepedanya sekantong plastik hitam makanan tergantung. Teman-teman yang lain menyusul di belakang pak Dodi. Semuanya tampak TTB kecuali Pak Wawan. Tanjakan ini bagi sebagian besar orang mungkin adalah tanjakan TTB.

Sepanjang tanjakan ke titik kumpul adalah makadam. Cukup sulit untuk menaklukan tanjakan ini. Karena kelelahan atau untuk menghilangkan rasa jenuh serta rasa cape. Terdengar teriakan-teriakan yang menggema di hutan pinus tersebut. Termasuk saya berteriak sepuas-puasnya menghilangkan rasa stress selama menapaki tanjakan tersebut.

Akhirnya tiba di gubuk penjaga hutan Cirorek, tempatnya datar dan cukup luas untuk beristirahat. Sepeda disandarkan, dibaringkan, bahkan si Spezy saya balikkan. Di sini istirahat kembali sekitar 15 menit. Sesekali Pak Dedi Paul mengajak ngobrol para biker trail yang juga beristirahat, sambil menunggu rekannya satu orang tertinggal katanya.

Setelah cukup mengumpulkan tenaga, waktu menunjukkan pukul 11.30 perjalanan langsung dilanjut melahap single trek hutan Cirorek yang sangat seksi…mantap, bener-bner mantap. Lihat sendiri keseksian trek ini:

Sesekali kita harus super waspada, karena tiba-tiba jalanan berubah ekstrim. Bahkan beberapa orang terjungkal, terjatuh. Tak berdaya, termasuk saya hehehe….

Tapi jangan dilewatkan pemandangan yang sangat hijau, lembah dan ngarai nan indah dengan udara segar dan sejuk, diteduhi daun-daun cemara, yang sesekali berteriak berderak tertiup angin…

Selepas tanjakan jalanan terus menurun, masih single trek dengan tingkat kemiringan yang tidak terbayangkan. Pak Mastur pun, terjun bebas di sini, saking curamnya tak bisa berdiri kembali. Baru bisa bangkit setelah dibantu oleh Pak Dodi.

Setelah habis turunan ini, kontur hutan berubah menjadi kebun cabai dan palawija lainnya. Mulai datar sehingga bisa dilahap dengan cepat.

Pascaturunan ini, semua sepakat untuk beristirahat dan makan siang dengan lahap, ditemani semut-semut yang benar-benar meyemut dan mengganggu kenyamanan kita makan.

Anak yatim, yang terpaksa makan sambil jongkok karena harus bersaing dengan semut!

Makan siang jadi asal makan, dua orang terpaksa makan sambil berdiri karena banyaknya semut. Wrong position for lunch! Bad lunch jadinya deh…Pak Dodi terpaksa harus jongkok makannya karena tubuh dan  pantat selalu dikerubuti semut-semut yang mungkin menyangka tubuh Pak Dodi yang kecil mungil sebagai permen lolipop!

Yang patut diperhatikan di trek ini adalah kelengkapan protektor dan kaos kaki, usahakan lengkap. Dialami saya dan Pak Dodi, tiba-tiba betis dan tulang kering terasa gatal bahkan sangat gatal. Dugaan terkena tumbuhan daun pulus atau tereptep yang gatalnya minta ampun. Walaupun sudah diolesi dan dibalur dengan balsam, gatalnya tidak hilang; Bahkan tambah gatal. Akhirnya sebelum makan, orang lain sibuk membuka bekal nasi. Terpaksa saya malah harus mengeluarkan pisau lipat, dan mengerik daerah tulang kering yang gatal tersebut. Hasilnya? Rasa gatal memang berkurang sedikit, tapi yang lebih parah bulu kaki malah jadi botak. Mengkilat seperti kepala Pak Nanang dan Pak Mastur yang terus terang lebih terang terus ala iklan lampu di tivi..

Foto di atas adalah teknik Jungle survival yang diperlihatkan Pak Nanang dengan mengunya semut dan keong racun sebagai teman nasinya. “Rasanya segar dan sedikit pedas…!” Kata Pak Nanang…(Pak Nanang, ulah protes da ieu mah dongeng!)

Jam 12.30 langsung balik kanan, turun dan terus turun. Aspalnya masih cukup mulus dan tembus kembali di Jalan raya Garut – Singaparna.  Belok kanan, dan langsung menderu, susul menyusul dengan kecepatan penuh. Di pertigaan Genteng saya belok kiri dan pamit langsung pulang. Karena kalau saya ikut lagi ke Garut kota, berarti baliknya harus nanjak kembali sejauh 3 km ke rumah.

2 thoughts on “Gowes di Hutan Cirorek Bikin Merem Melek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s