20 Trek Top di Garut

Garut yang dulu disebut Swiss van Java, tidak hanya kaya akan domba garut, dodol garut, jeruk garut atau jaket kulitnya. Tapi juga kaya akan trek offroad untuk para MTBers yang layak untuk dijajal.

Ada banyak trek yang bisa dicumbu untuk berbulan madu atau hanya untuk berakhir pekan. Diantaranya adalah:

1. Cibeureum

Berada di lereng Gunung Kamojang dan Gunung Guntur. Konturnya cukup ekstrim di 30% awal trek yaitu berupa jalan pasir bercampur tanah,lengkap dengan rintangan berupa semak belukar, sebatas dada, pohon tumbang, jurang, dengan turunan yang cukup sulit. Tanah 30%, 30% makadam, dan 10% aspal. Bisa ditempuh dengan gowes langsung ke lokasi dari garut sejauh 18 km atau dengan kendaraan langsung ke titik start dengan menggunakan colt L300 atau pick up. Untuk Truk besar atau beus bisa juga tapi hanya sampai pinggir jalan raya. Kemudian digowes ke titik start sejauh 1 km. Jarak tempuh lebih kurang 12 km, lama waktu antara 2-3 jam. Bila digowes langsung dari Garut kota sekitar 50 km (PP) dan finish di pemandian air panas (Cipanas). Bisa langsung berenang atau sekedar berendam, atau bila menginap di hotel atau di penginapan Cipanas bisa langsung rendaman di kamar masing-masing.

Berikut adalah peta trek onroad-offroad Garut-Cibeureum-Garut

2. Cisaruni,

Trek ini sangat panjang. Terletak di Cikajang arah Pameungpeuk, lebih kurang 3 km dari kota kecamatan Cikajang, belok kanan. Merupakan areal perkebunan teh, yang sudah berubah menjadi perkebunan palawija. Treknya sangat indah, terdiri dari kontur tanah perbukitan 90%, sisanya semen atau beton di perkampungan. Jarak tempuh offroad 6 jaman.

Cisaruni adalah trek kedua terpanjang di Garut.  Paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek memanjang di sepanjang trek Cisaruni.  Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 33 km dalam waktu 6-7 jam.

3.  Ciharus.

Trek ini terletak di hutan belantara Gunung Kamojang.
Vegetasinya didominasi hutan hujan tropis yang masih lebat. Tidak jarang pada waktu melewati trek ini harus sangat berhati-hati, lalai berarti siap-siap helem nyangkut di akar pohon, semak belukar atau batang pohon sehingga bisa terjatuh.
Treknya uphill 20% dengan kontur berupa tanah bercampur pasir. 80% downhil dengan tingkat kesulitan sangat ekstrim. Untuk para newbie, sangat tidak dianjurkan melalui trek ini. Panjang trek sekitar 9 km, terdiri dari single track di hutan tropis, kubangan lumpur, aliran sungai kecil, hutan pinus, pertanian dan jurang serta tebih yang curam.
Trek ini akan menjadi surga bagi para MTB-ers pada waktu musim kemarau, tapi sebaliknya akan menjadi neraka bila hujan tiba. Trek yang semula gurih dan renyah, akan terbalik 180 derajat akan sangat licin dan berbahaya!
Sangat dianjurkan memakai protektor, sarung tangan dan helem.

4. Cirorek

Berada di lereng perbatasan Garut Tasik, lebih kurang 7 km dari Garut. dapat ditempuh langsung dengan gowes langsung melewati tanjakan ngamplang sejauh 4 km dan jalan aspal hotmix sampai ke lokasi. Atau loading sampai lokasi hutan pinus Cirorek. Treknya terbagi dua arah, arah pertama single trek, dengan kontur tanah, di tengah hutan pinus. Konturnya 30% makadam, 40% tanah single trek,20% beton pnpm, dan 10 % aspal.
Trek kedua, dari tengah-tengah single trek hutan pinus belok ke kiri.  Masih semi turunan, kemudian turunan cukup tajam siap dijajal dengan kondisi singl trek tanah. Lanjut dengan  turunan kontur makadan sejauh 2 km. Berakhir di sebuah pematang sawah, bisa digowes.

Di akhir trek, setelah kembali mencumbu turunan aspal tipis.  Anda, disuguhi tanjakan Aura Kasih, yang cukup meliuk dengan kemiringan aduhai sejauh 500 meter.  Pendek memang, tapi hanya sedikit orang yang bisa khatam di tanjakan ini.

5. Cihanjawar

Perkebunan teh Dayeuh Manggung  di kaki Gunung Cikuray berada di perbatasan Garut-Tasik searah dengan trek Cirorek. Bisa ditempuh dengan gowes dari kota Garut sekitar 7,1  km aspal jalan propinsi. Belok Kanan di Cihanjawar dan langsung makadam nanjak sejauh 5 km. Turunan makadam 1 km. Tiba di Curug Hanjawar dan masuk perkebunan teh. Jalurnya single trek variatif tanah, makadam dan kebun dengan perkebunan teh atau sayuran. 40% Makadam, 40% tanah, 20% beton. Udara sangat dingin dan bisa istirahat di masjid milik perkebunan teh Dayeuh Manggung. Panjang trek 5 km, waktu tempuh antara 3-4 jam tergantung sikon.

6. Godog,

Trek paling populer di Garut, karena pendek (hanya 12 km dari Garut kota). 50% nanjak dengan aspal. Tapi bila ditempuh dari Lapang Nagrog (lebih kurang 6 km dari Garut) 80% makadam! Full nanjak! Untuk offroadnya bisa ditempuh jadi 2 jalur terserah kesukaan. Mau langsung ke kota atau masuk ke Margawati dan melanjutkan ke Cilawu. Treknya sangat ekstrim. Sudah cukup banyak memakan korban. Lebih baik tidak offroad di sini bila musim hujan tiba. Trek ini cocok buat  para penikmat tanjakan tingkat sedang

Trek Godog, bisa juga ditempuh dari desa Nagrog. Konturnya lebih menantang dan lebih sexy. Tanjakannya mantap, dengan makadam jahanam. Cocok untuk latihan XC sedang.  Panjang trek 28,54 km (pp).

Berikut petanya:

7. Sagara,

Trek ini cukup panjang sekitar 34 km, konturnya 30% makadam nanjak dengan tingkat kesulitan biasa. 20% beton pnpm, dan selebihnya adalah tanah dengan variasi turunan dan tanjakan yang sangat sangat ekstrim. Tidak dianjurkan memakai sepeda XC biasa. Dianjurkan membawa air cukup banyak, makanan secukupnya. Diperlukan ketabahan dan kesabaran, karena sangat panjang sehingga memerlukan waktu yang cukup lama (5-6 jam). Tapi soal pemandangan, jangan tanya deh! Keren habis! Untuk tiba di trek ini, bisa ditempuh dari kota Garut sejauh 12 km dengan gowes atau loading ke Kecamatan Wanaraja.

8. Waspada,

Trek ini sekitar 56 km (pp). Bisa ditempuh dengan gowes langsung atau dengan loading dulu ke Cikajang. Lebih kurang 29 km dari Garut Kota.Tapi mayoritas pesepeda di Garut menggowesnya langsung ke arah Gunung Papandayan/Cikuray. Dari alun-alun Cikajang, belok kiri, dan langsung menuruni turunan sangat tajam.Sebaiknya dituntun saja. karena turunan langsung berbelok dengan jembatan bambu. Sangat bahaya. masuk jalanan kampung sejauh 300 meteran, dan tembus di jalan aspal. menuju ke perkebunan Waspada. Tanjakannya cukup curam dengan turunan yang tidak kalah curamnya. 50% tanah single trek, 20% aspal, dan 30% beton. Pemandangan sangat indah karena kita berada lebih kurang di pertengahan gunung Cikuray.

9. Satria,

Trek yang berada di perbatasa Cilawu Tasikmalaya-Garut, dapat ditempuh dari Garut kota dengan gowes langsung atau loading sejauh 27  (pp) km. 8 km dari garut kota belok kiri sebelum tikungan Cilawu. Treknya makadam 50%, 30% single trek perkebunan teh, 20% aspal/beton. Pemandangan dan keasriannya masih perawan!

10. Lingga Ratu,

Tanjakan full 4 km, makadam sopan dan tanah. Masuk dari Jalan Raya Garut-Wanaraja, Pertigaan Desa Sindang Palay, Kampung Nangorak. Pemandangannya sangat cantik dan mempesona. Siapkan perbekalan air yang cukup, makanan dan protektor lengkap. Tidak dianjurkan untuk gowes sendiri, minimal 5 orang, karena untuk trek offroadnya sangat ekstrim. Untuk ke trek ini sebaiknya ditemani oleh orang berpengalaman dan tahu  medan Lingga Ratu dengan baik. Pssst, angker!

11. Gunung Papandayan, digowes langsung dari kota Garut memakan waktu sekitar 3 jam. Full tanjakan, cocok buat para goweser IPDN. Jalannya hotmix karena merupakan jalan propinsi ke arah Cikajang, Pameungpeuk. Trek downhill-nya dengan kontur tanah, makadam dan perkebunan sekitar 2 km, tapi downhill di aspal tipisnya sangat memuaskan. Bahkan, bisa biki BT hehehe…lebih kurang setengah jam. Anda akan meluncur dari Puncak Papandayan yang tembus di Desa Pangauban Bayongbong.

12. Batu Tumpang, merupakan sebuah batu granit yang tingginya sekitar 60 m. View-nya sangat indah, dengan udara yang sangat sejuk dan segar. Dianjurkan untuk datang ke tempat ini sebelum jam 13.00 karena lebih dari jam itu dipastikan akan berkabut.  Terletak 7 km dari Kecamatan Cikajang. Treknya murni untuk onroad. Dari Garut kota digowes lebih kurang 3 jam. Full tanjakannya.

13. Margawati-Cilawu

Trek Margawati-Cilawu, sangat cocok untuk latihan endurance. Panjang trek 24,31 km dengan kontur tanjakan aspal panjang sekitar 8 km. Kontur makadam terdapat pada turunan dan tanjakan curam sehingga cocok untuk XC ringan. Bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam. Di sepanjang jalur banyak warung, sehingga tidak perlu membawa perbekalan. Namun, untuk tools kit, sangat dianjurkan. Karena tanjakannya sangat panjang, sehingga salah-salah mengatur shifter. Rantai bisa putus.

14. TrekGunung  Talagabodas-Sadahurip

Trek ini baru dieksplorasi lebih kurang 2 bulan yang lalu, pasca issue adanya piramida tertua di Gunung Sadahurip.  Trek ini bisa ditempuh dari tiga titik. Yaitu dari Pasar Wanaraja, Pasar Sukawening, dan Karaha (Malangbong).

Dari Pasar Wanaraja, harus diloading sampai pertigaan puncak Gunung Talaga Bodas, Karaha (Malangbong) dan Garut.  Lebih kurang 10 km dari pasar wanaraja, kita disuguhi, jalan berbatu yang super “gila” batunya segede-gede kepala orok! Sewa colt pick-up L-300 dari Garut sekitar 250 ribu- 300 ribu. Tergantung keterampilan menawar Anda. Segitu bisa terhitung murah, karena medan yang teramat berat. Jarak yang hanya 12 km, harus ditempuh selama 1,5-2 jam.  Berarti hampir sama dengan waktu untuk ke Bandung (60 km dari Garut).

Soal trek offroadnya, dijamin bakal orgasme deh.  Melewati perkebunan palawija di kaki gunung Talagabodas. Menyusuri jalan setapak di kebun, single trek yang melewati jembatan bambu dll. Trek offroad-nya sekitar 6 km.  Hati-hati, karena mayoritas berupa kebun jagung. Salah-salah jalan, Anda akan berkeliling di tempat yang sama. Seperti masuk labirin.

Titik start dari Sukawening. Treknya berupa aspal rusak, makadam dan beton PNPM sejauh 8 km. Tanjakannya sangat variatif, bisa gowesable! Tentunya bagi yang mampu :p

Tiba di kaki gunung Sadahurip, langsung offroad sekitar 2 km. Sepeda bisa dibawa sampai lebih kurang 300 meter dari puncak Sadahurip.  Selanjutnya, silakan naik ke puncak gunung Sadahurip.

Trek Offroad dari Talagabodas – Cicapar Sadahurip

15. Trek Garut-Cintamanik-Karaha-Talagabodas-Sadahurip-Garut

Trek ini cocok untuk Endurance Test, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 8-10 jam. Cukup panjang, yaitu sekitar 70,70 km.  Itupun kalau tanpa ada trouble bin halangan seperti ban pecah, keram kaki dan lain-lain. Sangat dianjurkan untuk membawa persediaan air yang cukup.  Karena kontur trek yang cenderung tanjakan.  Apatah, kalau matahari sedang “sale” dijami akan super haus.  Selain makan siang yang cukup banyak, juga makanan ringan seperti coklat, permen atau wafer bahkan gula merah akan sangat membantu di trek ini.

Sangat disarankan cek rem depan belakang dengan hati-hati mengingat tanjakan dan turunan cukup esktrim. Ban cadangan serta peralatan P3K terutama obat gosok sangat dianjurkan.

Jarak tempuh dari Garu-Sukawening-Karang Tengah yang sekitar 19 km, dapat ditempuh sekitar 2 jam.  Karena konturnya yang ramah, hotmix yang mulus dengan sedikit tanjakan pasca pasar Sukawening sekitar 3 km.  Trek selanjutnya berubah menjadi aspal tipis dan setengah rusak sekitar 3 km, dengan medan tanjakan yang sangat seksi :p.  Setelah itu berubah menjadi beton PNPM saat memasuki Desa Cintamanik. Turunan tajam sekitar 1 km, segera menyongsong setelah melewati Pasar Cintamanik.  Selanjutnya adalah Anda akan dihadang tanjakan sangat aneh.  Pondok nyongok, seperti perut ibu yang sedang hamil :p  Bedanya, yang ini terus nanjak, sangat nanjak, dan sangat-sangat nanjak dan sangat nanjak sekali :P. Tanjakan beton tersebut sekitar 4 km. Tidak ada turunan atau tanah datar sama sekali.

Beton PNPM habis, langsung dihadapkan pada trek tanah. Hutan. Tanjakan kembali dengan tingkat kesulitan yang hampir “virgin”.  Dibeberapa bagian, terdapat jalan yang cukup dalam akibat ban motor yang memakai rantai.  Memasuki hutan pinus sekitar 1,5 jam dengan kondisi medan terus tanjakan. Jalan terobosan ini, langsung menembus ke kawasan Karaha, yaitu sumur pembangkit listrik tenaga uap #2 dan #3.

Selanjutnya, turunan trek makadam cukup lebar sekitar 2 km. Batu-batuan yang lepas dengan diameter cukup membuat ketar-ketir. Bila Anda ragu-ragu lebih baik, tidak memacu sepeda di daerah ini.  Bisa-bisa terjerembab ke atas batu-batuan yang tajam.  Turunan makadam ini, berakhir di “jalan raya”.  Ke kiri adalah menuju ke Kadipaten (Tanjakan Gentong-Tasikmalaya) dan ke kanan adalah menuju Talagabodas.

Bila mengambil ke arah Talagabodas,  treknya berupa jalan eks aspal dengan kontur turun naik sepanjang lebih kurang 10 km.  Lebih kurang 400 meter dari pertigaan Garut-Tasik-Talagabodas, ambil jalan ke kanan. Yang langsung berhadapan dengan gunung Sadahurip.  Di sini, silakan pasang protektor, cek rem, turunkan sadel, dan kurangi tekanan ban.  Karena offroad segera akan memanjakan Anda.  Tapi, jangan gembira dulu karena lebih kurang 500 meter, kita akan dihajar makadam kembali dengan batu-batu yang tajam dan lepas.

Selanjutnya single trek tanah perkebunan kentang dengan pemandangan Gunung Sadahurip, Kota Garut dan Gunung Talagabodas.  Jangan lewatkan untuk menikmati pemandangan atau sekedar berfoto ria di sini.  Hati-hati saat, single trek tanah selesai.  Kembali dihadapkan turunan makadam, dengan jurang cukup dalam di sebelah kiri. Sebaiknya ambil jalan kanan.  Tiba di Kampung Cicapar, basecamp untuk naik ke Gunung Sadahurip, jalan berganti kembali menjadi beton PNPM.  Silakan meluncur dengan deras, tapi hati-hati banyak anak-anak atau motor.  Turunannya gak ada tanjakan dan langsung menuju Pasar Sukawening.

Berikut adalah petanya:

16. Trek Gunung Papandayan – Cileuleuy- Leuweung Panjang- Tumaritis- Arjuna-Sumbadra-Garut

Trek ini sangat-sangat panjang, untuk itu wajib diloading sampai Puncak Papandayan (Kawah), karena jarak dan waktu tempuh yang teramat panjang. Disarankan berangkat dari Garut kota tidak melebihi jam 7. Karena jam 8 tepat, saat tiba di tempar parkir di Papandayan yang ditempuh lebih kurang 1 jam. Kita harus langsung melakukan TTB dengan medan yang sangat curam dan  memerlukan ketabahan yang cukup tinggi. Lebih kurang 4 km melewati kawah dan hembusan uap panas serta bau belerang harus berjuang melawan rasa takut, rasa lelah dan konsentrasi jangan sampai terpeleset dan terjatuh di atas bebatuan yang berbau belerang.

Jarak 4 km tersebut ditempuh, biasanya sekitar 2 jam. Termasuk waktu yang yang dipakai untuk narsis. Foto-foto untuk oleh-oleh kepada handai taulan dan bukti kepada istri yang mereka yang termasuk anggota “Susis”.  Perjuangan yang sungguh berat diakhir perjalanan, lebi kurang satu meter dari tempat yang dikenal dengan Pintu Angin. Dikatakan berat, betapa tidak kemiringan dan kontur tanah khas gunung berapi yang licin dan cukup dalam serta curam. Memerlukan kesabaran dan keterampilan tersendiri.  Jalannya sangat sempit. Praktis kita harus mengatur langkah yang unik karena juga harus mendorong sepeda.

Tiba di Pintu Angin, saatnya beristirahat dan mengambil nafas. Melenturkan kaki, dan mengecek rem sekaligus menurunkan sadel. Jangn lupa, ban dicek, agar tidak terlalu keras. Karena medan selanjutnya adalah, makadam! Turunan panjang dengan batu-batu yang cukup bikin hati miris.  Terkadang harus berhenti sesaat karena, tangan dan pantat cukup kesemutan, dihajar makadam.  Sekalipun sepeda fullsus di trek ini tidak berlaku :p Trek makadam itu kadang menyempit, dan masuk ke single trek tapi tetap dengan makadam. Salah-salah mengatur keseimbangan, betis kita akan dihajar batu atau pedal yang terbanting.

Turunan makadam tersebut lebih kurang 3 km, selanjutnya sedikit menanjak sekitar 50 meter. Masuk ke perkebunan kentang. Dan….inilah bonus yang sangat dinantikan. Turunan, turunan, dan turunan terus tidak ada hentinya. Meliuk dan meluncur di atas single trek tanah perkebunan kentang. Sungguh sensasi tersendiri.

Trek masih juga turunan, tapi perkebunan kentang berubah menjadi perkebunan pohon Eucaliptus diselingi wortel, kental dan kubis. Masih single trek. Kita masih bisa meluncur dengan deras :D  Akhirnya single trek berakhir di perkebunan teh Cileuleuy. Single trek, masih juga menurun. Diakhiri dengan turunan yang sangat curam, tapi masih bisa gowesable.  Tapi diperlukan keberanian, dan kehati-hatian yang mumpuni.  Salah-salah, jadi jungkir balik, seperti yang dialami 3 orang teman kami :)

Trek kemudian berubah menjadi jalan makadam, khas perkebunan teh yang juga masih menurun cukup tajam. Tapi, yang pintar dan punya keberanian, silakan ambil jalan kiri. Menyusuri bahu jalan, yang juga telah berubah menjadi single trek tanah. Turun-turun dan turun terus sampai memasuk perkampungan Cileuleuy.

Tiba di Cileuleuy, Anda yang akan melanjutkan ke Pangalengan. Silakan ambil jalan kanan menuju perkebunan Santosa yang memakan waktu lebih kurang satu jam. Untuk yang belum kenyang berpetualang. Ambil jalan ke kiri dan menuju ke Garut sekitar 65 km.

Treknya, lagi-lagi makadam. Tapi praktis hampir tidak ada tanjakan. Jalannya kadang datar kadang menurun ringan.  Tapi mayoritas jalan, adalah jalan datar dengan makadam ringan. Diperlukan keterampilan dan ketahanan fisik untuk melakukan “rolling”,  mengayuh putaran crank dengan kecepatan putaran yang tetap. Hampir 4 jam kita perjalanan harus ditempuh. Melewati hutan belantara “Leuweung Panjang”, Gunung Arjuna, Gunung Tumaritis dan Sumbadra yang semuanya merupakan perkebunan teh.

Sangat disarankan membawa, toolkit, pemotong rantai, kunci 14, ban dalam cadangan, bahkan ban luar serta lampu untuk melakukan perjalanan malam atau kabut yang kadangkala muncul tiba-tiba. Sehingga jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja. Cukup tebal, dan merepotkan bagi mereka yang memakai kaca mata minus. Kadang-kadang, ada trek shortcut yang cukup panjang di single trek tanah. Sehingga kembali kita bisa meluncur offroad. Meninggalkan teman-teman kita yang memakai jalan makadam biasa :p

Petualangan berakhir di Gerbang Perkebunan Papandayan, Sumbadra, Cikajang lebih kurang 39 km dari Garut kota. Memasuk daerah ini, kita sudah mulai lega. Sepertinya sudah tiba.  Karena jalan propinsi Garut-Bungbulang yang dilewati truk, serta angkutan umum cukup banyak.  Tapi lebih baik digowes saja, karena Cikajang Garut, hanya berupa turunan jalan hotmix mulus.

Bagi yang akan mencoba trek ini, silakan dilihat petanya:

17.  Sang Hyang Taraje

Adalah sebuah air terjun yang sangat cantik, ketinggiannya kurang lebih 70 meteran.  Lokasinya terletak di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Lebih ke jalur wisata, dan lebih pantas untuk funbike.  Single track-nya sudah berganti dengan aspal dan beton :( Tapi tetap satu jalur sepeda yang layak dijajal untuk yang suka petualangan downhiluphill dan downhar (ngadon dahar). Sebaiknya loading dulu dari Garut kota sampai di Curug Orok, kemudian meluncur turunan sejauh lebih kurang 17 km berupa aspal hotmix yang sepi kendaraan dan makadam di tengah perkebunan teh Papandayan. Di sebelah kiri jalur adalan pegunungan tempat eksplorasi emas dan batu topaz (akik). View-nya sangat keren dah!

Bila Anda penyuka uphill  jalur ini sangat tepat.  Dari Sang Hyang Taraje, kembali menuju Desa Cisandaan. Tapi mengambil shortcut, satu tahun lalu masih berupa tanah.  Tapi tanggl 29 Desember 2013 kemarin sudah berupa jadi aspal tipis, dan beton. Tanjakannya Naudzubillah! Sebenarnya bisa digowes untuk para juara total nanjak sampai Cikajang lebih kurang 27 km! Asli Nanjak! :p

1557725_10200575114975398_1725566034_n

Untuk yang membawa kendaraan pribadi bisa diloading sampai di Desa Cisandaan dan numpang parkir di rumah penduduk.  Karena, waktu pulang akan melewati desa yang sama.

Di Desa Prabumulih setelah Pos Ronda (mentok) ambil jalan ke kiri, masih terus berupa turunan sampai ke Air Terjun Sang Hyang Taraje.  Untuk tiba di air terjun, sepeda bisa digowes.  Tapi diperlukan kehati-hatian yang super :). Saat kembali menuju Cisandaan,

Peta ringkasnya:

sanghyangtaraje

18.  Gunung Darajat-Cidadali-Garut Titik start adalah di Pasir Gagak, Gunung Darajat lebih kurang 25 km dari Garut kota.  Di awal jalur kita langsung disuguhi turunan di tengah perkebunan pinus dan palawija berupa single track  yang kadang-kadang sangat curam.  Sebaiknya kalau mau gowes di sini tidak terlalu banyak, karena akan menggangu kesan turunannya yang garing.  Turunan jalur tunggal berakhir di sebuh kampung kecil, selanjut berubah menjadi tanah pasir, masih menurun.  Memasuk kampung Pasir Wangi, jalur berubah menjadi beton, yang juga tetap turunan.  Jalur terus cenderung turunan sesekali diselingi tanjakan pendek tapi curam.  Tapi pada umumnya masih bisa digowes.

Bila penyuka AM jalur ini sangat cocok, bisa digowes langsung menuju Puncak Darajat lebih kurang 1500 mdpl. Dari Garut kota lebih kurang 25 km.  Atau bisa juga melingkar melewati punggungan sebelah barat, tidak melewati jalur jalan raya.  Melewati perkampungan dan sawah, tembusnya sama di puncak Darajat.

Jalur Gunung Darajat tembus ke Kampung Cidadali dimana jalur Cibeureum juga melewati kampung ini.  Bisa langsung tembus di pemandian Cipanas Garut!

19.  Gunung Karacak-Cilawu 

Jalur ini baru ditembuskan pada pertengahan Desember 2013, relatif masih perawan dengan vegetasi hutan pinus dan hutan tropis. Dari Garut kota hanya 6 km sampai ke titik offroad. Digowes langsung dari Garut kota hanya membutuhkan 30 menit, dengan kontur tanjakan sedang. Dua kilo meter kemudian memasuk hutan pinus, di Sukanegla. Dari sana kita harus TTB lebih kurang 15 menit.

Sesudah TTB, kita disuguhi turunan yang masih perawan.  Kadang-kadang jalur tidak terlihat karena pekatnya rumput dan semak-semak.  Tapi jalur ini masih bisa digowes sekalipun turun hujan.  Tanahnya keras, dan berada dalam kelebatan hutan pinus yang masih rapat.  Sesekali tampak monyet berloncatan dari pohon ke pohon, diselingi kicauan burung-burung hutan dan melayangnya burung elang yang  mencari mangsa.

Menurut informasi jalur ini sebenarnya bisa tembus ke Cirorek, Gunung Waspada dan Parentas, Cigalontan, Singaparna, Tasikmalaya.  Tapi baru yang tembus ke Cilawu  ini yang telah diexplorasi dan sangat rekomend untuk goweser yang suka AM.  Jarak tempuh total lebih kurang 6 jam (digowes full dari Garut kota).  Jalur ini hanya melewati dua tanjakan, selebihnya adalah turunan!

20. Gunung Papandayan-Pangalengan-Gunung Darajat

Dari kawah Gunung Papandayan harus TTB sejauh lebih kurang 3 km sampai di Lawang Angin (gerbang Pondok Saladah). Selanjutnya silakan meluncur di atas makadam yang bikin runyam.  Lebih kurang 2 km, kemudia ambil jalan jalan setapak.  Jangan mengikuti makadam. Single trek yang kiri kanannya berupa perkebunana palawija dan perkebunan teh terasa sangat sejuk dan nyaman.  Udara bersih, pemandangan yang cantik serta trek yang renyah seringkali membuat lupa diri para goweser.  Sehingga terjatuh karena terkena jebakan batman :)

Single trek di tengah perkebunan teh Sedep berakhir di Sedep, kemudian terus meluncur sampai di perkebunan Santosa Pangalengan.  Sesekali masuk jalan raya makadam di tengah perkebunan.  Lewat perkebunan Kertasari, Danau Cisanti, lanjut menuju Cibeureum Ciparay.

Di pertigaan Cibeureum ambil arah yang ke Puncak Darajat. Masih turunan sekitar 2 km.  Selanjutnya tanjakan super duper sekitar 4 km sampai di Puncak Cae.  Dari Puncak Cae, memasuki Gunung Gagak ambil single trek menuju sumur pengeboran uap sektar 4 km turunan single trek.  Hati-hati sangat curam tapi mengasyikan :).  Selanjutnya silakan ambil jalur jalan hotmix langsung ke Garut kota sejauh 25 km.

Berikut adalah peta jalur Papandayan-Pangalengan-Darajat

papandayan12

Untuk yang mau offroad-an di Garut silakan email ke dessulaeman@gmail.com atau facebook kami http://www.facebook.com/kgcgarut.mountainbike   atau kunjungi situs Komunitas Garut Cyclist (KGC Garut) via Kontak Kita.

Dengan senang hati, saya dan teman-teman akan menemani dan membatu dengan batas kmampuan yang ada hehehe :)

Mencicipi Jambore Jelajah Sepeda Kompas

Sementara cedera lutut masih mendera. Niat tak kunjung padam, pokoknya harus ikut Jambore Jelajah Sepeda Kompas di Rancabali, Ciwidey.  Praktis, selama dua minggu terakhir tidak berani melakukan aktifitas berat lari atau gowes. Segala macam obat herbal dan ramuan obat Cina dicoba. Karena lutut ingin segera pulih.

Kamis, 26 Februari 2015 rasa ngilu dan nyeri di lutut mulai berkurang.  Tapi, batuk filek malah menyerang :(.  Perasaan makin keder, jangan-jangan gak bisa ikut.  Tubuh bener-bener gak fit!

Nekad ajalah!  Didukung anak mertua, akhirnya Jumat, 27 Februari 2015, jam 15.30 berangkat menuju Batujajar.  Rencana nginep di rumah Mang Asep, subuh baru berangkat ke titik start di Kota Bumi Parahyangan (KBP), Padalarang.  Tiba di gerbang tol Padalarang pukul 19.30 langsung ke KBP untuk registrasi dan ngambil race pack.

Saat memasuki jantung Batujajar, timbul rasa tidak jelas. Nyesak.  Sepanjang jalan yang dilewati terlihat kumuh.  Penuh dengan tenda pedagang serta kendaraan yang bak air tiada henti. Asap dari kendaraan bermotor, serta debu yang berterbangan menambah sumpek dan kumuhnya Batujajar sekarang.  Nyaris tidak ada pepohonan sama sekali :(

Badan yang gerah meminta diguyur air.  Setelah setting sepeda, langsung mandi, kemudian makan malam.  Meski lelah, ternyata tidak menjamin bisa tidur lelap.  Akibat ulah si batuk, yang tidak tahu sopan santun datang hampir tiap menit. Praktis tidak bisa tidur, bolak-balik ke kamar mandi buang reak. Saat mata bener-benar udah ngantuk berat.  Pas mau tertidur. Raungan suara kaset pengajian dari mesjid di belakang rumah langsung membuat sang kantuk kabur! Apes! Praktis jadi tidak tidur semalaman.

Bareng Mang Asep, jam 05.45 ngaboseh langsung menuju KBP yang berjarak 8 km dari Batujajar. Meski masih pagi tapi kami harus gowes dengan sangat hati-hati.  Motor dan mobil yang sudah sangat ramai seringkali mengejutkan dengan bunyi klakson atau knalpot yang memekakan telinga.

Masuk ke jalan arteri KBP masuk bike lane dan langsung menuju pelataran titik kumpul.  Para peserta sudah berdatangan, dengan berbagai aktifitasnya masing-masing. Langsung menukar kupon sarapan. Teman-teman goweser yang kenal baik mulai berdatangan. Senyum sapa pun saling terlontar dengan cair.  Seperti sudah lama sekali tak bersua. Padahal iya :p

Waktu menunjukkan pukul 09.15 setelah acara seremonial.  Rombongan gowes yang berjumlah lebih kurang 350 peserta berangkat dari KBP menuju Rancabali, Ciwidey yang berjarak lebih kurang 50 km dimana para pesepeda harus menanjak sampai pada ketinggian 1760 mdpl.

Tiba di waduk Saguling yang membatasi antara KBP di Padalarang dengan area latihan tempur Pusdikpassus Batujajar.  Para peserta antri menyebrang menggunakan perahu.  Sekali berangkat 7 sepeda plus orangnya bisa diangkut. Penyebrangan tersebut tidak lepas dari pengawalan Pusdikpassus yang menugaskan para personilnya. Menggunakan dua unit perahu karet setiap peserta diwajibkan memakai pelampung dan berangkat berdekatan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Satu demi satu, sepeda didaratkan kembali, dan langsung menikmat makadam sejauh lebih kurang 4 km menuju landasan udara Suparlan.  Menurut kabar semestinya para peserta Jelajah Sepeda bisa sekaligus menikmat latihan terjun payun yang langsung diterjunkan dari pesawat Hercules.  Sangat disayangkan, dikarenakan pemberangkatan mungkin terlalu siang. Kita tidak sempat menyaksikan penerjunan para pelajar PARA beraksi.  Tapi, lumayanlah.  Masih ada tersisa beberapa pelajar yang sedang melipat payung dan berlari-lari kecil di sekitar landasan Suparlan.  Sebagian besar berkumpul di dekat sebuah payung yang dipasang di darat seperti tenda.

Sepanjang Landasan Suparlan, beberapa pesepeda menyempatkan diri untuk bernarsis ria dengan background para pelajar komando/raider yang sepertinya sedang berlatih IMPK (Ilmu Medan dan Peta Kompas).  Hal itu tampak darikompas,  buku dan map yang mereka bawa. Beberapa kali kami pun diberi hormat kepalan tangan kanan “KOMANDO!” oleh para pelajar tersebut.  Tentunya, kita balas dengan lirikan dan senyum juga sambil teriak “KOMANDO!”.  Lumayanlah…kapan lagi bisa dihormatin tentara wkwkwkwk…!

Tiba di Lapangan Hitam dimana biasanya digunakan untuk upacara menyambut tamu khusus kamipun rehat sejenak dan menikmat snack dan minuman dari mobil logistik.  Lalu dipersilakan oleh personil Kopassus untuk berfoto ria di area Lapangan Hitam sepuasnya.  Padahal biasanya, Lapangan Hitam sangat tabu untuk dimasuki oleh masyarakat awam.  Apalagi untuk mengambil gambar atau sekedar menggunakan kamera.

Perjalanan dilanjutkan melewati Gerbang Utama Pusdikpassus yang dijaga oleh patung M. Idjon Djanbi yang asliny bernama Rokus Bernardus Visser adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama sekaligus perintis pasukan elit komando tersebut. Beberapa peserta menyempatkan diri untuk berfoto di depan patung. Begitu keluar dari gerbang utama, seluruh peserta langsung menyusuri jalan raya Batujajar.  Rombongan masih utuh dan “ramai” karena jalur masih sangat datar. Memasuki Soreang sebelum stadiun Si Jalak Harupat rombongan mulai tercecer karena mulai ada tanjakan ringan.  Mungkin bagi para mantan atlit jelajah sepeda hal itu bukan masalah.  Tapi, bagi peserta biasa hal itu luar biasa, termasuk saya.  Lutut kiri, mulai terasa kembali nyut-nyutan.  Sepanjang jalan, tidak berani mengoper gear depan ke gigi dua.  Akhirnya, cuma bisa ngicik.

Regrouping lengkap, pukul 11.30 dari Stadiun Si Jalak Harupat rombongan langsung bergerak menuju ibu kota Soreang. Patut diacungi jempol kesigapan para polisi lalu lintas dan marshall yang tidak lelah menjaga setiap pertigaan atau persilangan jalan sehingga seluruh rombongan diutamakan daripada mobil atau motor. Praktis sepanjang perjalanan, sepertinya sepeda menjadi pengguna jalan yang istimewa.  Setelah persimpangan terakhir dari kota kecamatan Soreang.  Jalan mulai menanjak panjang tapi ringan namun ada beberapa peserta mulai keteteran.

Tiba di rumah makan La Ega berjarak lebih kurang  2 km dari kota kecamatan Soreang.  Seluruh peserta jambore rehat untuk makan siang dan sholat Dhuhur bagi yang beragama Islam sekaligus regrouping.  Menu makan siangnya cukup “wah”.  Masakan Sunda lengkap dengan lalab dan sambel yang menurut saya “aneh” bentuknya.  Gak berani mencicipi.  Ngeliat bentuknya aja udah bikin merinding! Didominasi butiran cabe rawit warna merah, hijau dan kuning  yang pastinya super pedas! Udah bisa dibayangkan dalam keadaan cuaca panas, badan panas, makan sambal pedas terus minum air panas pula!

Entah mungkin mendengar bisik-bisik dari peserta lain, atau sudah memprediksi dari kontur tanjakan yang dialami sebelum rumah makan.  Terlihat rasa enggan dan “dropped” mentalnya melihat tanjakan yang akan dijelang. Seorang peserta yang ada di hadapan saya berbisik kepada “driver” mobil evakuasi.  Bisikan tersebut membuat alis mata si “driver” berkerut. “Hah? Mau dievak Om?”.  Si sopir mungkin kaget karena fisik orang itu masih segar gak keliatan lelah. Tapi mungkin sakit kali ya?  Tapi, sebelum dia minta dievak tadi terdengar teman-temannya saling bisik. Kita masih harus nanjak 29 km lagi!

Udara panas, membuat wajah seperti ditampar dari atas dan dari bawah. Dari atas matahari sedang obral, dari bawah aspal super hot membuat muka menjadi merah meriah.  Cuaca yang seperti itu membuat para goweser sepertinya harus menaklukan 4 musuh sekaligus. Sinar matahari, aspal panas, tanjakan panjang serta mental/fisik yang meminta otak dan perasaan untuk berhenti saat melihat pohon atau warung untuk sekedar berteduh.  Dua botol air 500 ml liter habis hanya untuk jarak 5 km.

Untunglah panitia dan marshall sangat bijak, meminta kami untuk segera beristirahat di sebuah mesjid.  Mengambil minuman, buah-buahan sepuasnya. Tapi sepertinya dahaga tidak hilang juga, karena cuaca yang teramat panas. Lutut kiri yang cedera semakin terasa nyut-nyutan. Wajarlah, sekuat apapun gaya ngicik, bila dilakukan untuk tanjakan yang panjang. Pasti membuat lutut dan paha keteteran :p

Bener juga ternyata di kilometer 18 di tanjakan yang sedang.  Lutut dan kaki hilang koordinasi, disertai rasa nyeri yang sangat. Gejala kram!  Saya segera berhenti, turun dari sepeda.  Cak Kris dan Mang Asep yang menjadi teman setia selama perjalanan pun berhenti. Thanks Cak!

Perlahan otot-otot tungkai diistirahatkan sejenak.  Lanjut stretching dengan menopang pada frame. Lima menit kemudian kembali gowes.  Semakin pelan, tapi dikuatkan tekad dan berdoa terus: JANGAN SAMPAI DIEVAK!

Hujan pun turun dengan derasnya, berhenti di sebuah warung dimana Abah sedang rehat juga. Kita bertiga ikut berhenti untuk melemaskan otot yang terasa tegang tadi.  Kaki diselonjorkan dan digerak-gerakan untuk pelemasan.  Abah menawarkan untuk evakuasi.  Tapi ditolak halus.  Padahal lutut sebenarnya “nyut-nyut”an. Yakin masih bisa, walaupun pelan. Yang penting tidak TTB dan finish sampai akhir!

Tanjakan makin dekat ke tujuan makin curam.  Kemiringannya membuat motor atau mobil melaju dengan gigi satu atau dua.  Bahkan, di beberapa belokan membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Saking curam dan tajamnya tikungan.

Di sebuah mesjid yang terletak di tikungan yang sangat tajam.  Menyempatkan diri sholat asyar. Sambil menunggu Cak Kris yang ternyata tertinggal di belakang.  Dipikir beliau ikut terus mengawal di belakang.  Hujan semakin deras.  Banyak peserta yang mulai TTB berjamaah. Bahkan, dievakuasi oleh mobil panitia, atau oleh kendaraan yang mengawal merekan.  Ada yang terang-terangan, ada yang diam-diam. Liat kiri kanan dulu, sambil pura-pura benerin rantai atau ban seolah-olah bermasalah.

Salut untuk para peserta yang berfederal, bersurli atau berseli ria dengan buntelan segede-gede perut kebo yang masih bisa melaju di tengah hujan deras. Tidak TTB dan anti evakuasi!

Istirahat ketiga kali di sebuah warung kecil.  Cukup minum susu jahe untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan tertimpa air hujan yang serasa air es.  Kemudian perjalanan dilanjut. Masih dengan gowesan pelan. Hampir konstan (belakangan dicek di endomondo hampir 5 km/jam hehehehe).

Saat menikmat tanjakan dengan kayuhan pelan.  Sambil ngebut, tiba-tiba Abah yang bersurli ria. Nyalip sambil bernyanyi ala Ebiet G Ade: “Kau tampak tua dan lelah…” sambil cekikikan! Asem! Kalo lutut gak nyut-nyut an atau sama-sama pake Surli kata Cak Kris mah diajak balaplah! Gkgkgk…

Waktu menunjukan pukul 16.40 saat mendekati kilometer 2 ke titik finish.  Tapi hari sudah sangat terasa gelap.  Karena berada di antara pepohonan yang lebat.  Alhamdulillah, akhirnya tiba di Bumi Perkemahan Rancabali pukul 17.10 dalam keadaan basah kuyup. Plus gelap gulita.  Langsung nyari tenda yang telah ditentukan panitia.  Sempat kelimpungan karena posisi nomor tenda yang tidak berurutan.

Di dalam tenda, sudah ada penghuni yang sudah santai. Dengan kondisi segar. Tiduran sambil bertelepon ria.  Sementara kita berdua masih menggigil, dengan badan basah kuyup!  Langsung menuju toilet untuk mandi. Ternyata antri (Belum tahu kalau di belakang tenda itu ada pemandian dan kolam renang air hangat! Nyesal waktu tahu hal ini pagi-pagi waktu mau mandi pagi).  Air di toilet yang keluar dari keran lebih mirip ekor tikus! Plus keruh! Tapi apa boleh buat. Daripada kedinginan!

Setelah sholat magrib, rebahan di atas terpal dibalut sleeping bag.  Hujan semakin deras. Sempat terpejam tapi kemudian bangun terperanjat! Ternyata, di dalam tenda banjir! Sleeping bag basah! Bahkan celana yang dipakai juga basah.  Untung jaket waterproof jadi baju gak basah. Gak bakalan beres ini mah! Langsung ke luar dari tenda.  Menuju panggung dan nonton dangdutan diselingi menikmat daging kambing guling dan ketupat plus rebus jagung, kacang, bajigur dan bandrek!

Mungkin karena kelelahan penonton dangdutan hanya segelintir saja.  Jadi terkesan “dingin” sang artis dangdut yang berjumlah 4 orang dan sudah berdandan “sataker kebek” habis-habisan tak mampu mengundang para peserta jambore untuk berjoget. Yang ikut berjoget dan menikmati dangdutan bisa dihitung dengan jari.

Kemeriahan acara justru terasa setelah sarapan pagi yang dilanjutkan dengan dancerobik! Hampir semua peserta ikut senam dengan riang dan berkeringat mengikuti arahan dari pemandu di panggung! Hampir satu jam beraerobik ria, dilanjut dengan pengundian door prize untuk jelajah sepeda Kalimantan dan Papua. Peserta dipersilakan mencicipi test drive Collosus N8 dari Polygon atau gowes “ringan” ke situ Patengan di pandu si Master Bersertifikat Kang Coe Waelah!

Karacak

22 Desember 2013

Hujan turun cukup deras di Minggu pagi ini, bahkan saat hujan berhenti pun. Mendung masih menggelayut di pelupuk cakrawal.  Jam 07.45 setengah malas2an si Spezy di gowes menuju Garut kota. Di turunan Sanding, tampak di depan 6 anggota ABG yang gowes tak berhelem.  Satu demi satu, mereka tersusul.  Memasuki alun-alun Garut, tampak 4 orang MTB-ers muda.  Lengkap dengan tas punggung mengayuh sepedanya perlahan.  Saat mendekati mereka, saya say hello.

“Mau pada gowes ke mana?”

“Ke Lingga Ratu Pak!”, jawab mereka

“Weleh, ati-ati banyak pacet!”, ujar saya mengingatkan.

“Oh kitu Pak? Hayu atuh gabung!”, ajak mereka

“Nuhun, saya mah mau ke Talagabodas!”, jawab saya menolak halus.  Padahal hari itu agendanya adalah ke Gunung Karacak.

Kali ketiga ke Gunung Karacak untuk membuat jalur baru. Jalur sepeda kesembilan belas. Sudah tiga kali, mencoba menembuskan jalur dari hutan di Gunung Karacak tapi belum berhasil.  Rencananya, jalur ini melingkar mengikuti punggungan Gunung Karacak tembus ke hutan Cirorek di Gunung  Satria Tasikmalaya.  Mudah-mudahan kali ketiga ini berhasil.

Tiba di rumah dinas Tebe Asep, yang dijadikan basecamp Kgc Garut Mountain bike.  Tampak sudah berkumpul raja ngicik Dedi Eceks, si Jangkung Tipis Haris Akung, dan mang Hendra. Tanpa basa-basi pisang ambon putih yang dibiarkan tergelatak tak disapa oleh mereka. Dua buah langsung masuk perut, 3 buah langsung masuk ransel saya :) untuk bekal di hutan!

Satu demi satu para pemirsa Kgc berdatangan.  Akhirnya bersepuluh meluncur menuju ke arah Sukadana.  Beriringan menikmat tanjakan Margawati sejauh 5 km. Tanjakan jalan itu tidak terlalu berat.  Sejuknya udara mendung pagi itu akibatkan keringat tak juga mau membasahi tubuh.  Di tengah perjalanan, Mang Haji Muksin Al Tarkal, alias Pak Camat Tarogong Kaler, Koh Iong  yang terus terang, terang terus dan Mang Ruhiyat dari Chevron akhirnya bergabung.

Lebih kurang 45 menit tiba di titik offroad, langsung mencicipi tanjakan leter U yang meliuk tajam. Pendek memang tapi cukup membuat mulut berulang-ulang meniup handlebar sepeda :p. Rombongan langsung memasuk padang rumput yang hijau di ketinggian 1000 mdpl. Melewati jembatan yang terbuat dari dua batang pohon pinus yang melintang di atas sungai kecil sempit 2 meteran yang cukup dalam. Satu demi satu, melintasi jembatan itu. Harus hati-hati karena jembatan itu sudah mulai lapuk dimakan usia. Menembus semak-semak dan “byar…!”  Sejauh mata memandang hijau ranau.  Seolah berada di hadapan kita Gunung Cikuray tampak anggun, tersenyum dan kabut yang menutup raut rimbun hutannya! Seandainya langit tak berkabut, mungkin pemandangan akan semakin cantik bila langit berwarna biru.


Sebelum perjalanan dilanjutkan menembus rimbunnya semak belukar di hutan. Kami pun mengadakan “ritual” agar tidak terserang pacet.  Semua peserta yang ikut, meraba dan mengusap tangan, kaki dan tengkuk masing-masing.  Bahkan, saya beserta beberapa orang lainnya melompat-lompat sambil terus mengusap tengkuk!

Saat mulai memasuk segarnya udara yang berbau pinus, hampir semua berkomentar.  Segar, sejuk, indah, Subhanallah dan lain-lain komentar yang terkesan dengan kondisi jalur dan udara yang dilewati.  Seringkali kami berpapasan dengan rombongan pencari kayu bakar, atau penyadap getah pinus. Sapaan akrab dan keramahan serta nasihat arif bijaksana meluncur dari mulut mereka penuh dengan senyuman.  Kearifan lokal yang nyaris tidak lagi ditemukan di kota besar.

Beberapa kali, kamipun berpapasan dengan monyet-monyet yang bergelantungan di atas pohon pinus. Sayangnya dibeberapa tempat ditemukan perangkap burung :(

Jalan makin curam, dan nyaris tidak bisa digowes.  Akhirnya aksi DH dilakukan secara berjamaah. Lebih kurang seperempat jam, memasuki Dhuhur istirahat di sebuah tempat yang cukup datar sekaligus makan siang.

Belum juga belum, nasi turun ke dalam usus.  Semua langsung mendorong kembali sepedanya masing-masing.  Saya terkaget-kaget, karena si Spezy lenyap!  Tanya sana-sini, mereka bilang tidak tahu.  Ternyata sudah digusur duluan oleh Koh Iong. Thank you!

Menemui percabangan jalan, kami kebingungan. Ke atas terus masih menanjak dan mendorong. Ke kanan, jalan mendatar dan mengecil dengan jurang lebar di sebelah kanan. Akhirnya, sepakat mengambil jalur ke kanan. Vegetasi makin rapat. Tapi sepeda masih digowes. Bahkan cenderung menurun.  Semua saling mengingatkan.

“Awas Jurang! Awas pokok Pohon! Awas Lubang!” atau sesekali berteriak sekehendak hati sambil ketawa-ketiwi.  Tapi, tiba-tiba jalan setapak hilang sama sekali.  Tertutup oleh semak belukar.  Namun di bawah, terdengar gonggongan anjing pemburu.  Menembus kerapatan semak belukar sepeda tetap di kayuh. Menuju arah datangnya suara gonggongan anjing  yang sayup-sayup terdengar.

Jalur masih tertutup rapat, namun sesekali mulati tampak jalan setapak. Akhirnya, bertemu dengan seorang penyadap getah pinus. Dia bertanya ramah,

“Mau pada kemana?”

“Ke Cirorek Pak, betul arahnya ke sini?”, tanya kami

“Walah, salah jalan! Harusnya di persimpangan di atas tadi.  Terus lurus sampai ke puncak gunung. Kalo ke sini mah ke arah Cikadu!”, jawab si Bapak Penyadap karet panjang lebar.

Kamipun, saling berpandangan mata sambil tersenyum.  Balik ke atas, dan mendorong sepeda lagi atau terus ke bawah menuju Cikadu? Mengingat waktu yang sudah terlalu sore.  Kami putuskan sementara mengambil jalur Cikadu. Karena jalur ini, sejauh yang tadi sudah dilewati sangat suitabel, cocok untuk sepeda. Sepeda terus dipacu, sesekali yang kurang nekad harus menuntun sepeda di jalur berupa tangga dari pohon pinus.

Tapi, yang cukup berani akan tertawa puas sambil meledek yang kurang berani.  Beberapa kali melewati drop off alami.  Beberapa kali salah seorang rekan kami harus jungkir balik.  Bukan karena medannya yang berat, tapi karena seatpost hidroliknya tidak cukup rendah.  Sehingga stabilitas tubuh berkurang dengan sendirinya, tidak ada pijakan sama sekali saat menghadapi titik yang kritis.  Karena kesal, seatpost hidrolik, oleh rekan kami tersebut dicabut dan dilempar ke arah semak-semak! Kami pun terpingkal-pingkal melihat adegan akrobat yang tidak sengaja ditampilkannya!

Jalur terus menurun, melewat hutan pinus. Single track yang sangat sedap untuk dicoba! Sayangnya, Garmin milik Pak Camat dan Endomondo di hape saya mati.  Jadi kami tidak mengetahui berapa jarak tempuh dan waktu jalur yang dilalui.  Memasuk tepi hutan, jalan mulai ramah. Semak belukar perlahan berkurang. Jalan semakin bersih, namun tetap single track ramah, yang menembus ke tanah pertanian.  Karena rombongan tercecer.  Regrouping pun dilakukan sambil mengevaluasi jalur yang dilewati.  Jalan setapak makin menyempit dan berubah menjadi pematang sawah. Untunglah sawahnya kering, walaupun musim hujan.  Jadi kami cukup berani, menggowes di pematang sawah.  Kalaupun harus tercebut tidak akan mandi lumpur atau basah kuyup.

Pasca melewati pesawahan, jalan kembali masuk ke jalur pertanian.  Masih single track turunan. Semua mengebut, sambil sesekali tertawa terbahak-bahak saat memasuk turunan yang turun tajam dan menyudut 45 derajat.  Beberapa dari kami harus terjerumus dan jadi bahan tertawaan yang lainnya.

Saat memasuk perkampungan, kami kembali disambut gonggongan anjing peliharaan orang kampung.  Sesaat terhenti, membiarkan gonggongan berhenti sejenak.  Setelah cukup kondusif, gowes dilanjut.  Kembali memasuk pesawahan. Kayuhan harus kembali super konsentrasi.  Gowes di atas pematang sawah tidak mudah bagi kami.  Salah-salah malah tercebut ke sawah yang ternyata di bagian ini cukup berair dan berlumpur!

Jalur pematang sawah, berakhir di jalan beton  yang masih baru. Kembali langsung meluncur, mulus dan ngebut di atas beton.  Ternyata jalur beton tersebut tembus di Cikadu, atau terusan Jalur Cirorek yang berjarak lebih kurang 14 km dari Garut kota. Turunan semakin tajam. Tapi, karena sudah dibeton rapi dan rata. Di turunan ini, sepeda tidak lagi harus dituntun seperti beberapa waktu lalu saat kami melewati jalan ini yang masih belum dibeton dan dipenuhi lumut. Turunan tajam itu berakhir di sebuah lembah, dengan tanjakan curam sejauh lebih kurang 50 meter saja di dalam.  Beberapa dari kami ada yang sanggup full gowes, sebagian TTB karena fisik yang sudah habis.

Berhenti sejenak di warung untuk rehat dan minum kopi dan sholat.  Perjalanan di lanjut, dengan jalan masih beton yang sebagian sudah mulai dimakan oleh gerusan air.  Turunan curam dan menikung tajam berakhir di sebuah lembah tempat mushola kecil yang pancuran mata airnya digunakan oleh penduduk kampung untuk mandi. Di depan lembah ini, tanjakan curam sejauh lebih kurang 50 meter kembali menyambut akhir dari petualangan hari itu.  Tanjakan ini berujung di hotmix Jalan Raya Cilawu Tasikmalaya.  Lebih kurang 7 km dari Garut kota.

Walaupun tidak sesuai harapan, bisa menembuskan jalan ke jalur Cirorek, Gunung Satria, Tasikmalaya.  Namun, jalur sepeda yang “ditemukan” tidak sengaja secara umum sangat rekomen untuk teman-teman dari luar Garut yang mau gowes menjajal jiwa petualangnya :P

Kami namakan jalur sepeda ini Jalur 19A, dengan harapan dari hutan Gunung Karacak tembus ke Cirorek adalah Jalur 19B dan tembus ke Parentas (Cigalontang, Singaparna) menjadi Jalur 19C.  Karena gerbang awal jalurnya sama dari Gunung Karacak yang merupakan jalur ke-19 yang berhasil dijelajahi.

Berani mencoba? Let us do it!

Catatan:

– Panjang jalur 19A belum bisa ditentukan dengan pasti, karena GPS mati. Namun diperkirakan sekitar 27 km

– Lama perjalanan sekitar 3-4 jam plus istirahat dan tersesat :p

– Kontur turunan single track dengan vegetasi rapat hutan hampir 60% lengkap dengan turunan ekstrim berupa tangga pohon pinus namun layak dicumbu dengan mesra :)single track tanah pertanian/pesawahan plus pematang 20% dan selebihnya berupa turunan dan tanjakan.

Sekilas Gambaran Jalur Gunung Talagabodas

Hampir setiap goweser yang bermaksud mencicipi trek sepeda di Garut, dipastikan mempertanyakan trek mana yang paling enak? Gambaran treknya bagaimana? Berapa kilometer/lama jarak tempuh treknya?  Berikut sedikit gambaran yang mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Gunung Talagabodas adalah sebuah gunung berapi non aktif yang sebenarnya terletak di Kabupaten Tasikmalaya. Gunung tersebut terletak lebih kurang 28 km dari Garut Kota, dengan ketinggian mencapai 2201 mdpl.  Adapun ketinggian danau/kawahnya adalah 1740 mdpl. Bagi mereka yang sudah berkunjung ke Kawah Putih Ciwidey, Bandung Selatan. Bila melihat danau di Gunung Talagabodas dipastikan akan merasa seperti “de javu“. Serupa tapi tak sama.  Hanya, danau di Talagabodas lebih luas.

Kawasan ini sudah hampir 3 bulan sedang dibenahi.  Akses jalan yang dulu rusak, kini sedikit demi sedikit diperbaiki.  Bahkan, di pertengahan jalur tersebut telah diaspal hotmix lebih kurang 4 km. Sampai ke puncak jalannya aspal rata walaupun bukan hotmix.  Bagian yang berbatasan dengan kawah pun sudah dipagar besi (yang pastinya tidak akan tahan lama karena sulfur bersifat korosif).  Hal itu dilakukan karena beberapa waktu yang lalu pernah memakan korban luka bakar.

Untuk tiba di Kawah Gunung Talagabodas dapat ditempuh langsung dengan truk/pick up atau digowes langsung sejauh 13 km menuju Kecamatan Wanaraja melalui jalan hotmix mulus.  Atau bagi Anda yang berasal dari arah Bandung, dari Jalan Cagak Nagreg langsung menuju Kecamatan Limbangan.  Sekitar 2 km dari Pasar Kecamatan Limbangan, akan bertemu dengan pertigaan yang dinamakan Sasak Beusi.  Di sana ada petunjuk menuju ke arah Cibatu (Garut).  Dari Sasak Beusi ke pasar Kecamatan Cibatu kurang lebih 8 km. Terus lurus terus melewati rel kereta api jalur selatan menuju Kecamatan Wanaraja sejauh 8 km.

Dari Alun-alun Wanaraja, Gunung Talagabodas berjarak 13 km.  Untuk para pecinta uphill  jarak tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5-2,5 jam. Namun untuk para pecinta KONA (komunitas ogah nanjak) bisa langsung diloading sampai kawah Talagabodas sekitar 0,5 jam. Kondisi jalannya relatif bagus dan hanya rusak justru di 4 kilometer awal dari alun-alun Wanaraja.  Selanjutnya, jalan relatif rata bahkan hotmix sejauh 4 km setelah SD Sindang Ratu.

Lokasi wisata yang bisa dikunjungi sebenarnya tidak hanya kawah, tetapi juga ada sumber mata air panas di tiga lokasi. Khusus, untuk lokasi mata air Pancuran Tujuh hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.  Karena sepeda atau kendaraan bermotor harus parkir lebih kurang 1 km dari lokasi.  Selanjutnya berjalan kaki menembus kerimbunan hutan. Di Pancuran Tujuh, Anda bisa mandi dengan air belerang panas ditujuh sumber mata air. Sedikit berbau mistis dan tahayul, karena di tangkai-tangkai pohon bergantungan aneka pakaian dalam!  Di lokasi kawah/Curug Tujuh sarana dan prasarana cukup lengkap. Warung kecil dengan mushola yang cukup besar dan bersih telah tersedia.

Untuk Anda yang senang bersepeda cross country, setelah bernarsis ria di danau/kawah Talagabodas bisa langsung ngebut di turunan ke tengah hutan belantara Gunung Talagabodas.  Harap hati-hati karena ada beberapa jalan tikus yang cukup merepotkan bila salah jalan. Treknya relatif ringan, dengan sedikit ekstrim dibeberapa bagian (dirusak motocross, jalur “dicangkul” plus jalan air).  Namun, dengan sedikit teknik dan skill, sepeda tetap bisa “gowesable“.  Tentunya dengan catatan, bila ragu-ragu lebih baik TTB.  Hutan tropisnya relatif masih virgin akar dan besarnya pohon yang berusia puluhan dan mungkin ratusan tahun, menciptakan kanopi yang sangat rapat.  Sehingga, sinar matahari pun hanya sedikit yang bisa menembusnya.

Setelah menempuh jalur di tengah hutan sejauh 4 km yang biasanya ditempuh selama 30 menit, jalur berganti dengan turunan aspal sejauh 1 km. Kemudian tembus ke hutan pinus dan perkebunan kentang, single trek tanah sejauh 3 km. Selanjutnya, tanjakan pendek tapi curam dan tembus ke kebun palawija di bukit Gunung Sadahurip.  Jalur masih berupa single track tanah, turunan dengan sedikit tanjakan. Silih berganti di tengah kebun kentang, jagung, cabe rawit dan tomat. Untuk rehat dan narsis bisa dilakukan di kaki Gunung Sadahurip ( yang pernah dihebohkan ada pyramid lebih tua dari pyramid di Mesir) atau di atas Bukit Batu Rahong yang berupa susunan batu granit yang sangat menggoda.  Suasana pemandangan amat sangat indah, sejuk dan asri.  Sejauh mata memandang adalah birunya langit (kalau gak mendung :)) dan bukit dan lembah yang hijau.  Bila, mempunyai waktu cukup.  Silakan langsung mendaki Puncak Gunung Sadahurip,dari puncaknya Anda bisa melihat kota Garut, Tanjakan Nagreg, Situ Bagendit dan Situ Cangkuang.

Perjalanan bisa digowes lanjut dengan kondisi jalan makadam, turunan.  Lanjut single track tanah ke hutan bambu, turunan tajam.  Melewati jembatan bambu dengan jurang yang cukup dalam.  Selanjutnya sepeda TTB sejauh 100 meter, dan lanjut turunan sempit. Di kanan tebing, di kiri jurang 2-3 meteran. Tembus lagi ke hutan bambu, tentunya  dengan pemandangan yang tetap cantik. Offroad berakhir di SD Cicapar.  Langsung turunan beton sejauh 2 km, dan jalan macadam jahanam sejauh 1 km. Disambung turunan beton lagi sejauh 2 km campur aspal rusak.  Finish di Pasar Kecamatan Sukawening lebih kurang 17 km dari Garut kota.  Dari sini bisa digowes langsung ke Garut kota sekitar 1 jam atau langsung loading lagi.  Total turunan offroad dari Kawah Talagabodas sampai pasar Sukawening sekitara 13 km.

Trek Karaha-Talagabodas ala Aura Kasih

Gunung Talagabodas mempunyai ketinggian 2201 meter dari permukaan laut. Ketinggian 2,201 meter (7,221 ft). Gunung yang beberapa hari ini kembali ramai dikunjungi wisatawan, terletak di 13 km dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Tepatnya pada kordinat 7°12′29″S 108°04′12″E /7.208°LS 108.07°BT.

Secara geologis gunung ini termasuk jenis stratovolcano yaitu gunung berapi yang tinggi dengan lava dan abu vulkanik yang mengeras. Di pucaknya terdapat danau yang airnya berwarna putih, mungkin dari warna yang muncul inilah disebut Gunung Talagabodas (Bahasa Sunda, talagabodas=danau putih). Bagi yang pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, panorama di Talagabodas akan merasakan de ja vu.

Dua kilo meter dari danau Talagabodas, terdapat pemandian air panas seperti di kawah Darajat, Guntur atau Kamojang. Hanya saja, pemandiannya masih dikelola secara tradisional. Pemandian ini, sangat unik. Bahkan, dianggap keramat oleh sebagian orang.

Tidak aneh, pohon-pohon di sekitar pancuran air panas yang berjumlah 7. Banyak sekali (maaf), pakaian dalam bekas pengunjung yang mandi. Alasannya, mulai dari membuang sial, enteng jodoh, ingin kaya atau menyembuhkan penyakit.

Hampir 2 bulan sejak Nopember lalu, Kawah Talagabodas mulai ramai kembali dikunjungi oleh wisatawan. Memang masih didominasi wisatawan lokal, yang berkunjung menggunakan truk besar, truk pick up, minibus, atau motor.

Kembali menggeliatnya keramaian di Talagabodas terjadi, karena akses jalan yang dulu pasca reformasi hancur total. Telah diperbaiki, cukup mulus beraspal. Walaupun belum di hotmix. Namun, melihat kondisi limpasan air di sepanjang badan jalan di beberapa titik. Diprediksi, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dipastikan jalan kembali hancur total.

Mungpung, masih mulus. Kgc-ers Garut untuk kali ketiga mengayuh sepeda dari Garut kota. Jarak Garut kota- Wanaraja bisa ditempuh 20-30 menit. Karena sangat datar, bahkan cenderung turunan. Dari alun-alun Wanaraja, tepatnya di depan mesjid Jami Wanaraja. Belok kanan. Ke jalan Talagabodas. Dari kota kecamatan Wanaraja ke puncak Talagabodas kurang pebih 13 km.

Perlahan tapi pasti, kita disuguhi tanjakan demi tanjakan yang sangat menggoda selera. Pada awalnya, tanjakan enteng di kilometer 3. Selanjutnya, 3 kilometer kita menghadapi tanjakan sedang. Dibutuhkan kesabaran dan kemampuan fisik yang cukup untuk mencumbu tanjakan ini.

Kemudian, kesabaran dan ketabahan kembali diuji dengan tanjakan “superdodol” sejauh 1,3 km. Perjalanan sengaja mengambil shortcut, melewati perkebunan palawija. Memang jaraknya lebih pendek, tetapi tanjakannya cukup edun.  Bisa digowes, tapi tidak lama. Kembali harus TTB. Cuaca dan obral matahari yang lagi promo, menjadikan tengkuk dan wajah seperti dibakar.

Untuk menghilangkan penat. Sesekali, bernarsis ria di tengah bukit dengan pemandangan kota garut, pesawahan, serta palawija yang menghijau. Tentunya dengan senyuman di tengah kelelahan mendorong sepeda.

Sepeda kembali bisa dikayuh setelah tiba di pertemuan jalan shortcut via Pasir Anjing dengan jalan aspal. Jarak yang terekam di endomondo, menunjukan angka 1,8 saat tiba di basecamp bekas proyek Karaha. Jarak tersebut ditempuh selama 1 jam lebih 10 menit. Sambil, kembali rehat, maksi dan sholat dhuhur.

Kita dibuat terkesima, dan tersentil mata hati. Saat melihat 7 anak perempuan sedang membersihkan mesjid. Padahal jarak mesjid ke rumah mereka sekitar 1,6 km! Silakan klik:

http://gowesgarut.blogspot.com/2012/12/sentilan-keihlasan-dari-seorang-anak.html? zx=7d5101d9bba49310

Jarak dari basecamp, ke puncak Talagabodas tersisa lebih kurang 4 km lagi. Jalan yang tersisa 4 km, tidak akan menemukan tanjakan berat. Sehingga bisa ditempuh sekitar 1-2 jam. Terserah kesanggupan fisik.

Karena hari minggu, pengunjung yang berduyun-duyun menggunakan berbagai kendaraan, terutama motor. Menjadikan para pencinta sepeda harus sering mengalah. Menepi, bahkan turun. Jalan yang sempit, seringkali terlalu riskan terserempet truk atau minibus.

Apatah motor yang ugal-ugalan, mengebut seperti dikendarai setan. Membuat kami, mgambil keputusan putar balik. Disimpulkan tidak akan nyaman di puncak atau di kawah. Dipastikan penuh sesak, membuat kita tidak nyaman. Akhirnya di tengah perjalanan, langsung balik kanan. Membelok ke arah Karaha.

Walaupun tidak sampai ke puncak. Subhanalloh, walhamdulillah…kita disuguhi sajian single trek yang sangat lezat. Turunan, kontur tanah. Di tengah hutan pinus yang sekitarnya ditanami tomat dan cabai. Hilang sudah rasa lelah. Terbayar oleh kegurihan dari sigle trek yang sangat nikmat.
Tembus di sebuah kampung, sejauh mata memandang.

Cantik! Itulah kata yang terlontar. Kami semua berkhayal, seandainya mempunyai rumah di puncak bukit ini. Hidup akan terasa aman, nyaman, senang. “Tiis ceuli herang mata”. Bahkan, kami bercanda. Seandainya Aceng menyimpan isteri muda ABG yang dinikahi siri. Dipastikan tidak akan tercium oleh media massa. Setelah minum kopi di sebuah warung kecil di pinggir jalan makadam. Kami kudu mendorong sepeda lebih kurang 60 meter.

Setelah itu? Kembali suguhan alam yang hijau ranau, dengan single trek yang maknyos. Membuat lupa sama anak mertua. Sesekali diselingi tanjakan ringan 2-3 meter, tanda pergantian ketinggian. Tapi, tetap masih bisa digowes. Melewati parit di tengah bukit dengan jembatan bambu kecil. Membuat trek sangat memacu adrenalin, dengan turunan dan tanjakan ringan yang renyah.

Dan …. Allahu Akbar! Subhanallah! Takbir dan tasbih terucap spontan. Betapa tidak. Hamparan alam yang menghijau di bawah bukit sangat indah. Tampak, jalan yang berliku-liku. Meliuk-liuk di sekitar punggungan gunung nun jauh di bawah sana. Sawah dan perkebunan palawija serta hamparan karpet alam hutan, langsung menyejukan hati. Gunung Sadahurip yang beberapa waktu lalu dihebohkan sebagai piramida. Tampak sangat anggun. Punggungnya dibalut hijau tumbuhan palawija. Guratan, garis sengkedan tanah seperti lukisan asesoris. Mempercantik keanggunannya.

Biru langit dan ulasan gumpalan awan putih di atas sana. Sepertinya bisa kita raih, seperti iita meraih gumpalan kapas putih. Tidak puas-puasnya, dan tidak akan habis-habisnya. Melakukan aksi narsis di puncak bukit di pertengahan Talagabodas-Karaha ini. “Subhanallah, ternyata ada ya pemandangan sedahsyat ini!!!” Ujar kang Yudhi dan kang Richy yang baru pertama menginjakan kaki di sini.

Setelah cukup puas dengan pemandangan yan tiada duanya di dunia. (Meureun…da sepertinya kita mah. Jarang gowes keluar dari Garut gkgkgk…).  Mencumbu turunan, kembali dilanjut. Sepeda kesayangan betul-betul dimanjakan di trek ini. Sesekali kita mendapat hiburan, saat ada yang terpentok pohon pisang. Tertawa geli, saat melihat yang tertatih-tatih, terpaksa menuntun sepeda. Karena pematang yang seupil, menempel pada tebing, dengan jurang dangkal di sebelah kiri. Bukan, sekali dua kali, yang menjadi korban di sini.

Trek, turun, turun, turun dan terus turunan. Melewati hutan bambu, kolam, kebun palawija, serta bibir jurang dengan sungai deras di bawahnya. Sesekali, berteriak mengingatkan bila ada jalan yang membahayakan. Sehabis turunan yang jalannya teramat tipis. Turunan terus mencumbu si spezy dan kawan-kawan.

Tiba di sebuah puncak bukit kecil. Kembali, kita terhenyak dengan pemandangan yang tidak kalah eksotik dengan yang di atas tadi. Sebuah pohon meranggas di puncak bukit. Menambah kecantikan lukisan alami di tengah pegunungan. Kami namakan Pohon Kejujuran 2, sebagai pengganti Pohon Kejujuran 1 di Cisaruni yang rantingnya telah lenyap.

Kembali berfoto ria, dengan jempol dan senyum lebar tanda orgasme bersepeda yang terpuaskan selama perjalanan. MANTAP!

Pascabukit yang ciamik, kita masih disuguhi turunan tajam. Yang ragu-ragu atau kurang mahir kontrol handlebar sebaiknya turun saja. Walaupun sebenarnya, sangat disayangkan. Karena tidak bisa menikmati mucratnya adrenalin di trek super turunan di tengah hutan bambu. Dahsyat..thank you Allah. Yang telah memberikan trek baru yang begitu indah dan gurih di Karaha-Talagabodas ini.

Trek Karaha-Talagabodas ala Aura Kasih

Gunung Talagabodas mempunyai ketinggian 2201 meter dari permukaan laut. Ketinggian 2,201 meter (7,221 ft). Gunung yang beberapa hari ini kembali ramai dikunjungi wisatawan, terletak di 13 km dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Tepatnya pada kordinat 7°12′29″S 108°04′12″E /7.208°LS 108.07°BT.

Secara geologis gunung ini termasuk jenis stratovolcano yaitu gunung berapi yang tinggi dengan lava dan abu vulkanik yang mengeras. Di pucaknya terdapat danau yang airnya berwarna putih, mungkin dari warna yang muncul inilah disebut Gunung Talagabodas (Bahasa Sunda, talagabodas=danau putih). Bagi yang pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, panorama di Talagabodas akan merasakan de ja vu.

Dua kilo meter dari danau Talagabodas, terdapat pemandian air panas seperti di kawah Darajat, Guntur atau Kamojang. Hanya saja, pemandiannya masih dikelola secara tradisional. Pemandian ini, sangat unik. Bahkan, dianggap keramat oleh sebagian orang.

Tidak aneh, pohon-pohon di sekitar pancuran air panas yang berjumlah 7. Banyak sekali (maaf), pakaian dalam bekas pengunjung yang mandi. Alasannya, mulai dari membuang sial, enteng jodoh, ingin kaya atau menyembuhkan penyakit.

Hampir 2 bulan sejak Nopember lalu, Kawah Talagabodas mulai ramai kembali dikunjungi oleh wisatawan. Memang masih didominasi wisatawan lokal, yang berkunjung menggunakan truk besar, truk pick up, minibus, atau motor.

Kembali menggeliatnya keramaian di Talagabodas terjadi, karena akses jalan yang dulu pasca reformasi hancur total. Telah diperbaiki, cukup mulus beraspal. Walaupun belum di hotmix. Namun, melihat kondisi limpasan air di sepanjang badan jalan di beberapa titik. Diprediksi, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dipastikan jalan kembali hancur total.

Mungpung, masih mulus. Kgc-ers Garut untuk kali ketiga mengayuh sepeda dari Garut kota. Jarak Garut kota- Wanaraja bisa ditempuh 20-30 menit. Karena sangat datar, bahkan cenderung turunan. Dari alun-alun Wanaraja, tepatnya di depan mesjid Jami Wanaraja. Belok kanan. Ke jalan Talagabodas. Dari kota kecamatan Wanaraja ke puncak Talagabodas kurang pebih 13 km.

Perlahan tapi pasti, kita disuguhi tanjakan demi tanjakan yang sangat menggoda selera. Pada awalnya, tanjakan enteng di kilometer 3. Selanjutnya, 3 kilometer kita menghadapi tanjakan sedang. Dibutuhkan kesabaran dan kemampuan fisik yang cukup untuk mencumbu tanjakan ini.

Kemudian, kesabaran dan ketabahan kembali diuji dengan tanjakan “superdodol” sejauh 1,3 km. Perjalanan sengaja mengambil shortcut, melewati perkebunan palawija. Memang jaraknya lebih pendek, tetapi tanjakannya cukup edun.  Bisa digowes, tapi tidak lama. Kembali harus TTB. Cuaca dan obral matahari yang lagi promo, menjadikan tengkuk dan wajah seperti dibakar.

Untuk menghilangkan penat. Sesekali, bernarsis ria di tengah bukit dengan pemandangan kota garut, pesawahan, serta palawija yang menghijau. Tentunya dengan senyuman di tengah kelelahan mendorong sepeda.

Sepeda kembali bisa dikayuh setelah tiba di pertemuan jalan shortcut via Pasir Anjing dengan jalan aspal. Jarak yang terekam di endomondo, menunjukan angka 1,8 saat tiba di basecamp bekas proyek Karaha. Jarak tersebut ditempuh selama 1 jam lebih 10 menit. Sambil, kembali rehat, maksi dan sholat dhuhur.

Kita dibuat terkesima, dan tersentil mata hati. Saat melihat 7 anak perempuan sedang membersihkan mesjid. Padahal jarak mesjid ke rumah mereka sekitar 1,6 km! Silakan klik:

http://gowesgarut.blogspot.com/2012/12/sentilan-keihlasan-dari-seorang-anak.html? zx=7d5101d9bba49310

Jarak dari basecamp, ke puncak Talagabodas tersisa lebih kurang 4 km lagi. Jalan yang tersisa 4 km, tidak akan menemukan tanjakan berat. Sehingga bisa ditempuh sekitar 1-2 jam. Terserah kesanggupan fisik.

Karena hari minggu, pengunjung yang berduyun-duyun menggunakan berbagai kendaraan, terutama motor. Menjadikan para pencinta sepeda harus sering mengalah. Menepi, bahkan turun. Jalan yang sempit, seringkali terlalu riskan terserempet truk atau minibus.

Apatah motor yang ugal-ugalan, mengebut seperti dikendarai setan. Membuat kami, mgambil keputusan putar balik. Disimpulkan tidak akan nyaman di puncak atau di kawah. Dipastikan penuh sesak, membuat kita tidak nyaman. Akhirnya di tengah perjalanan, langsung balik kanan. Membelok ke arah Karaha.

Walaupun tidak sampai ke puncak. Subhanalloh, walhamdulillah…kita disuguhi sajian single trek yang sangat lezat. Turunan, kontur tanah. Di tengah hutan pinus yang sekitarnya ditanami tomat dan cabai. Hilang sudah rasa lelah. Terbayar oleh kegurihan dari sigle trek yang sangat nikmat.
Tembus di sebuah kampung, sejauh mata memandang.

Cantik! Itulah kata yang terlontar. Kami semua berkhayal, seandainya mempunyai rumah di puncak bukit ini. Hidup akan terasa aman, nyaman, senang. “Tiis ceuli herang mata”. Bahkan, kami bercanda. Seandainya Aceng menyimpan isteri muda ABG yang dinikahi siri. Dipastikan tidak akan tercium oleh media massa. Setelah minum kopi di sebuah warung kecil di pinggir jalan makadam. Kami kudu mendorong sepeda lebih kurang 60 meter.

Setelah itu? Kembali suguhan alam yang hijau ranau, dengan single trek yang maknyos. Membuat lupa sama anak mertua. Sesekali diselingi tanjakan ringan 2-3 meter, tanda pergantian ketinggian. Tapi, tetap masih bisa digowes. Melewati parit di tengah bukit dengan jembatan bambu kecil. Membuat trek sangat memacu adrenalin, dengan turunan dan tanjakan ringan yang renyah.

Dan …. Allahu Akbar! Subhanallah! Takbir dan tasbih terucap spontan. Betapa tidak. Hamparan alam yang menghijau di bawah bukit sangat indah. Tampak, jalan yang berliku-liku. Meliuk-liuk di sekitar punggungan gunung nun jauh di bawah sana. Sawah dan perkebunan palawija serta hamparan karpet alam hutan, langsung menyejukan hati. Gunung Sadahurip yang beberapa waktu lalu dihebohkan sebagai piramida. Tampak sangat anggun. Punggungnya dibalut hijau tumbuhan palawija. Guratan, garis sengkedan tanah seperti lukisan asesoris. Mempercantik keanggunannya.

Biru langit dan ulasan gumpalan awan putih di atas sana. Sepertinya bisa kita raih, seperti iita meraih gumpalan kapas putih. Tidak puas-puasnya, dan tidak akan habis-habisnya. Melakukan aksi narsis di puncak bukit di pertengahan Talagabodas-Karaha ini. “Subhanallah, ternyata ada ya pemandangan sedahsyat ini!!!” Ujar kang Yudhi dan kang Richy yang baru pertama menginjakan kaki di sini.

Setelah cukup puas dengan pemandangan yan tiada duanya di dunia. (Meureun…da sepertinya kita mah. Jarang gowes keluar dari Garut gkgkgk…).  Mencumbu turunan, kembali dilanjut. Sepeda kesayangan betul-betul dimanjakan di trek ini. Sesekali kita mendapat hiburan, saat ada yang terpentok pohon pisang. Tertawa geli, saat melihat yang tertatih-tatih, terpaksa menuntun sepeda. Karena pematang yang seupil, menempel pada tebing, dengan jurang dangkal di sebelah kiri. Bukan, sekali dua kali, yang menjadi korban di sini.

Trek, turun, turun, turun dan terus turunan. Melewati hutan bambu, kolam, kebun palawija, serta bibir jurang dengan sungai deras di bawahnya. Sesekali, berteriak mengingatkan bila ada jalan yang membahayakan. Sehabis turunan yang jalannya teramat tipis. Turunan terus mencumbu si spezy dan kawan-kawan.

Tiba di sebuah puncak bukit kecil. Kembali, kita terhenyak dengan pemandangan yang tidak kalah eksotik dengan yang di atas tadi. Sebuah pohon meranggas di puncak bukit. Menambah kecantikan lukisan alami di tengah pegunungan. Kami namakan Pohon Kejujuran 2, sebagai pengganti Pohon Kejujuran 1 di Cisaruni yang rantingnya telah lenyap.

Kembali berfoto ria, dengan jempol dan senyum lebar tanda orgasme bersepeda yang terpuaskan selama perjalanan. MANTAP!

Pascabukit yang ciamik, kita masih disuguhi turunan tajam. Yang ragu-ragu atau kurang mahir kontrol handlebar sebaiknya turun saja. Walaupun sebenarnya, sangat disayangkan. Karena tidak bisa menikmati mucratnya adrenalin di trek super turunan di tengah hutan bambu. Dahsyat..thank you Allah. Yang telah memberikan trek baru yang begitu indah dan gurih di Karaha-Talagabodas ini.

Godaan Trek Cisaruni ( @back2boseh PR unedited )

Cisaruni adalah paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek tanah yang datar memanjang di sepanjang trek Cisaruni. Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 23 km dalam waktu 6-7 jam. Letaknya di antara Gunung Cikuray dan Papandayan. Ketinggian tempat antara 1230-1640 m dpl. Suhu rata-rata antara 18 – 24 derajajat Celcius.

  

Trek sepeda Cisaruni, pertama kali dieksplorasi oleh Gasheba, para petualang sepeda asal Bayongbong yang diketuai oleh Kang Engkus Gasheba. “Waktos tahun 2007, Gasheba salami tilu sasih. Nembe tiasa nembuskeun trek Cisaruni. Lebet ti Sumbadra totos dugi ka Cisurupan” kata Kang Engkus, yang akrab dipanggil Mang Engkus oleh anak buahnya.  Tiga bulan, adalah bukan waktu waktu yang pendek.  Jalur yang berjarak lebih kurang 40 km, menyusuri tebing dan lereng di gunung Papandayan sebelah selatan denga kondisi sepeda apa adanya.

Uraian singkat trek Cisaruni tersebut sepertinya, membuat penasaran KGB Bandung mengajak anggotanya mencicipi sajian khas trek Cisaruni. Rencana awal, gowes silaturahmi, dirubah menjadi seperti “gobar” alias gowes bareng ke Cisaruni.  Diantaranya; Mtb Aquila Cianjur (9 orang), PGE Cyclist (9 orang), KGB Bandung, Jakarta, Bekasi (25 orang), serta tuan rumah Gasheba Bayongbong (3 orang) dan KGC Garut MTB (8 orang) sehingga total peserta menjadi 46 orang!

Mendung Kelabu di Awal Kayuhan

Sabtu, 3 Nopember 2012 rombongan menuju Cikandang.  Saat itu sang surya baru menapaki sepenggalan lengan. Cahayanya cukup menghangatkan semangat pesepeda, yang turun dari truk di area Curug Orok.  Disambut syahdu alam yang membiru serta kicauan burung di pagi hari. Ada isyarat tersirat. Terasa tak terlihat, ada bayang kelam dalam keheningan. Angin dingin, bertiup menyusup pada kalbu. Entahlah apa yang akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu.

 Manusia berencana Tuhan menentukan.  Saat rombongan pertama sudah tiba di pintu gerbang perkebunan Papandayan, tiba-tiba radio komunikasi memanggil untuk berhenti sementara.  Ada kecelakaan! Seorang teman asal MTB Aquilla Cianjur terjatuh dan terjerembab mencium aspal entah kenapa.  Hidungnya robek, dengan memar di sekujur tubuh.  Seperti ditohok dari belakang, semua membisu. Terdiam.  Baru ratusan meter, belum lima menit.  Ternyata mendung telah menutupi awal dari perjalanan.  Untunglah evakuasi dan pertolongan pertama, segera dilakukan dengan bantuan dari Pertamina Geothermal Energy (PGE) Cyclist yang menyediakan mobil evakuasi. Teman tersebut dievakuasi, langsung dibawa ke RS Cikajang.

 

Don’t be Afraid to Shift!

Trek Cisaruni di awali dengan tanjakan makadam khas perkebunan teh sejauh lebih kurang 1500 meter. Tanjakan ini cukup curam, dan cukup sulit ditaklukan.  Makadam tajam, cukup menambah beban, menahan laju sepeda. Ketabahan, kesabaran, kemampuaan shifting serta ketahanan fisik sangat dituntut di tanjakan ini.  Jangan malu untuk memindahkan gir depan ke gir yang paling kecil, serta menggunakan gir paling besar di roda belakang.  Selanjutnya adalah kemampuan pengendalian mental untuk menaklukan diri sendiri.

Pesona kecantikan pemandangan di areal perkebunan Papandayan, tak menghibur.  Pasangan kang Hary Aviadi- teh idew Dewi Najmi Aviadi, goweser yang saling setiap saat. Sepertinya tak sanggup untuk saling menyapa, karena beratnya tanjakan.  Masing-masing asyik masyuk sendiri. Tadabur alam, bertafakur, berdzikir menghitung detak detik, nadi yang semakin memburu. Kesegaran dan luasnya udara gunung Papandayan, sepertinya tak bermakna.  Nafas tetap tersengal-sengal, berlomba dengan waktu menghirup oksigen, yang sepertinya berkurang.

Di tanjakan ini, terbukti istilah yang penting bukan sepedanya, tapi sepedaannya. Kecanggihan groupset XTR 10 speed dan ringannya frame carbon atau alloy tak mampu menundukan tanjakan ini. Sebaliknya kekuatan X-Tu-uR (lutut) lebih mendominasi.  Para Gasheba-ers seperti Kang Engkus, Kang Dani, dan Kang Tendi; Kang Asep Tebe yang sepedanya masih hi-ten steel, dengan groupset tak bermerek 7 speed.  Ternyata di tanjakan ini, anteng-anteng wae bisa gowes sambil senyam-senyum dan bersiul ria.

Akhir tanjakan pertama adalah areal tower BTS. Sebuah dataran, dengan pemandangan yang elok. Bila beruntung, putihnya busa ombak laut di Pantai Rancabuaya dapat terlihat cukup jelas. Sambil rehat dan menunggu regrouping.  Seorang teman yang sepertinya ahli hisab. Langsung berteriak, “Stop smoking!” Dikira dia berkampanye untuk berhenti merokok. Ternyata, dia berhenti, lalu merokok!

No Pain No Gain

Tak ada kebahagiaan tanpa perjuangan. Setelah dihajar tanjakan makadam jahanam. Para goweser mulai menikmati turunan. Walaupun masih makadam, tapi cukup menghibur.  Bonus turunan dilanjutkan dengan bonus single trek khas perkebunan teh.  Tubuh tidak terasa lelah atau berkeringat karena udara yang sangat sejuk. Mungkin karena indahnya  pemandangan khas Periangan jadi penghibur diantara kayuhan.

 

Tuhan tersenyum pada saat menciptakan bumi Parahyangan.  Sejauh mata memandang, langit biru cerah berlukiskan arakan awan putih. Geulis camperenik. Bukit-bukit dialasi tebalnya hijau karpet pepohonan teh. Pun jauh di bawah sana, jalan yang berkelak kelok diselingi putihnya aliran sungai kecil.  Tak salah kami menyebut trek ini sebagai trek Desi Ratnasari karena keindahan dan kecantikan pemandangannya.

Dari titik ini, kita langsung dimanjakan oleh turunan single trek yang dialasi rumput kerbau (Paspalum conjugatum) dan Digitaria longiflora. Tebalnya rumput akibatkan mengayuh sepeda seperti di atas karpet yang empuk. Terasa berat. Berkelak-kelok di tepi tebing dangkal diantara pepohonan teh.

Trek kemudian berubah kembali menjadi makadam jinak.  Renyah untuk digowes, diselingi tanah yang memotong di tengah perkebunan yang berakhir di kompleks Perkebunan Cisaruni.  Rehat sejenak di mesjid perkebunan. Melepaskan penat, makan siang serta sholat dhuhur untuk yang beragama Islam.  Sepertinya, tidak lucu; kalau kita celaka di akherat hanya karena bersepeda kan?

Disapa Kabut, Dicumbu Rayu Bukit Neng Desi

Setelah rehat, gowes dilanjut yang langsung melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Renyahnya Turunan) terhadap “isteri kedua” alias sepeda kita.  Dihajar turunan makadam lepas serta tanjakan makadam yang diawali tikungan centil. Meliuk, menekuk tajam lebih kurang 45 derajat, kurang-kurangnya ahli dalam shifting dan controlling.  Dipastikan akan turun dari sepeda, langsung DH (Didorong Heula) sampai single trek berikutnya.

Cumbu rayu dari turunan single trek tanah di Cisaruni mampu membangkitkan selera memacu sepeda. Di akhir turunan sebuah lembah. Kita diharuskan untuk khatam di tanjakan sempit, yang walaupun pendek tapi cukup curam.  Selepas tanjakan, kembali suguhan pemandangan alam yang indah menggoda.  “Ciyuuus gitu, miapah!”, teriak, Mas Soega dari Jakarta. Kang Yogi, Kang Opi dan Kang Andre yang berperan ganda menjadi pemotret keliling  tak henti saling berlomba mengabadikan peserta gowes dalam indahnya bukit Neng Desi. Semua diam, dan menarik nafas dalam seperti tersihir saat sejuta kabut turun perlahan.  “Sangat Eksotis!” ujar kang Royan dari MTB Aquilla Cianjur.

Turunan single trek tanah di tengah perkebunan palawija dan sayuran kembali menyambut. Diselingi tanjakan pendek, yang lagi-lagi hanya sedikit goweser yang bisa menundukan diri sendiri di sini.  Mayoritas adalah jadi kelompok “matador” alias manggih tanjakan dorong.  Posisi  kaki ala banteng ketaton, hidung mendengus, mulut mangap, mata melotot, kedua tangan kukuh memegang handlebar.  Siap menyeruduk!

Buah Simalakama Menu Penutup

Sebagai menu penutup di trek Cisaruni, kita disajikan desert berupa single trek datar yang khas dodol Garut.  Single trek tanah yang teduh.  Posisinya di sebelah kiri kita adalah aliran irigasi, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang dengan kedalaman 1-3 meter.  Melewati beberapa kampung dan beberapa rumah panggung kecil yang terpencil.

Menamatkan trek Cisaruni sebagai penutup ini, diperlukan ketahanan kayuhan (cadence) pedal yang tetap. Posisi 2-3, adalah yang paling baik. Depan gir 2, belakang gir 3. Terlalu cepat tidak, terlalu pelan juga jangan. Mata dan pikiran harus awas lurus ke arah jalan dengan konsentrasi penuh. Sebab bila tidak, akan seperti makan buah si malakama, jatuh ke kiri berarti basah kuyup, jatuh ke sebelah kanan berarti terperosok ke dalam jurang.

Pada waktu melewati trek penutup ini, bisa dipastikan kita akan merasakan; ternyata jauh lebih belajar khusu gowes daripada waktu sholat.  Bahkan,jangankan berpaling atau menoleh pada saat nama kita dipanggil.  Untuk menjawab panggilan pun kita ogah.  Karena terlalu riskan kecebur diantara dua pilihan.  Sesekali, jalur penutup ini masuk ke hutan bambu yang lebat plus tanjakan yang tidak disangka-sangka.  Hampir 3 jam penuh, dipastikan gowes konvoy. Babaduyan, menyusuri trek penutup ini.

Deny Suwarja

KGC Garut Mountain Bike

Sulit Salut Sang Kopral Koprol

Sendiri tegak berdiri, membisu

Hitam kelam batang, kering ranting yang kerontang

tidak menjadikan sang cemara patah semangat

Di balik keringkihan, tertanam api yang tak pernah padam

…..

Saya lebih suka menyebut pohon cemara yang sudah mengering itu “Pohon Kejujuran”.  Pohon cemara, satu-satunya yang tersisa.  Tak lagi berdaun, bahkan ranting tersisa pun tinggal beberapa saja. Tampak sangat kontras, dengan hijau perkebunan teh yang tersebar di punggung gunung Papandayan sebelah selatan.

Pohon itu ibaratnya, personifikasi orang-orang yang jujur di negeri ini.  Orang jujur, disingkirkan. Disikut, diinjak, bahkan diasingkan.  Tubuhnya kurus kering, tak berteman. Apatah handai taulan.  Semuanya menjauh, karena kejujuran dianggap hal yang tabu.  Benteng kekokohan dan kekukuhan semangat mempertahankan idealisme prinsip kebenaran. Musnah tergerus tipisnya keimanan dan kehausan akan kehidupan fana.

Tak bosan, rasa ini menatap jati diri tubuh pohon cemara yang telah mengering. Setiap kali mengayuh pedal ke arah perkebunan Cisaruni.  Dipastikan saya akan berkata: “Pohon itu personifikasi orang yang jujur om!”.  Bagi orang lain, mungkin pohon itu biasa-biasa saja. Tak berarti apa-apa.  Tapi dibalik, kehampaan dan kekelaman bentuk dan warna tubuh sang cemara.  Tersimpan semangat untuk tetap mempertahankan jati diri.  Sebagai mahluk Tuhan, yang senantiasa untuk terus bertahan dan berjuang hidup.  Meskipun bagi tumbuhan lain, mungkin dia tidak dipandang sebelah mata.

13 September 2012, mengantar group GOWEL- GULAT-16 (menurut kang Mumuh, GOWEL singkatan dari Goweser Bawel. Tapi beliau tidak menyebut kepanjangan dari GULAT.  Yang jelas pasti bukan, karena mereka atlit gulat).  Bersama mereka kembali ke Perkebunan Cisaruni, afdelling Papandayan. Tiba di Desa Sumbadra sekitar jam 09.30. Nama yang unik,karena mengingatkan kita pada istri Arjuna, Dewi Sumbadra.  Di sekeliling Papandayan sebelah selatan.  Semua bukit, hutan dan desanya dinamai dengan nama-nama dari dunia pewayangan.  Pasir Tumaritis, Gunung Semar, Gunung Arjuna serta nama-nama lain dari dunia Pandawa ada di sana.  Kalau mau, itu bisa kita telusuri sekaligus sambil gowes.  Yaitu mulai dari Pintu Angin, Kawah Papandayan, tembus ke Cileuleuy. Putar balik ke Stam Platt, masih afdeling PTP VIII.  Sejauh 130 km! Mau?

Agar otot kaki tidak mengalami keram.  Berdasarkan pengalaman, maka unloading dilakukan lebih kurang 5 km sebelum pintu Sumbadra.  Sepertinya itu kurang membantu juga, karena jalannya berupa turunan dan hotmix mulus.  Jadi walaupun tidak digowes, sepeda akan melaju.  Tapi, minimal telah berusaha :p

Menapaki tanjakan awal, saya sudah wanti-wanti untuk menghemat tenaga.  “Jangan dipaksakan,  treknya masih sangat jauh.  Dorong ajalah!”, ujar saya kepada grup Gowel yang berjumlah 7 orang.  Jujur, sebagai RC.  Saya agak, degdegan.  Karena Kang Mumuh, sudah SMS bahwa salah seorang dari mereka ada yang menderita kencing manis.  Hampir 8 tahun saya juga berjibaku, mengurus almarhum Sang Bunda, yang semasa hidup juga menderita hal yang sama.  Makanya, cukup faham dengan berbagai kelainan, resiko dan gejala yang dialami bila kelebihan atau kekuranga gula darah yang dialami penderitanya.

Pada awalnya, sama sekali tidak disangka. Penderita DM itu adalah, Kang Gifnie.  Yang selama gowes, selalu berada di belakang saya. Otomatis dia selalu berada di depan teman-temannya.  Tidak ditanjakan, tidak diturunan bahkan 85% jalan datar harus rolling beliau terlihat sangat fit.  Saya baru “ngeh” setelah memberanikan diri bertanya kepada Kang Nu’man Djakartaria, eh Djakaria, yang selalu berada di belakang Kang Gifnie. Hal itu saya lakukan, karena teramat khawatir, setelah perjalanan yang cukup lama dengan jarak yang cukup panjang serta kontur medan yang turun naik.

“Kang, ari nu gaduh DM teh saha nya?”, ujar saya setengah ragu.  Karena takut salah ucap.  Tapi lebih baik salah ucap, daripada salah langkah.

“Muhun, Abdi…!”, jawabnya.  Hah??? Namun tanda tanya itu hanya tersimpan di dalam hati.  Yang timbul, malah rasa kagum yang teramat besar.  “Gila, dalam kondisi punya DM.  Tapi kondisi tubuh bisa full dan fit menjelajah trek Cisaruni.  Ternyata orang itu adalah, gegedug alias ketua suku dari Group Gowes-Gulat16.  Rasa hormat dan salut, yang tidak tergambarkan mengalir begitu saja dalam diri.  Saya ingat betul, almarhum Bunda saya akan pingsan. Bahkan mengalami comma, saat gula darahnya terlalu rendah atauh saat gula darahnya terlalu tinggi.  Tapi Kang Gifnie, bisa mengatur dan mengukur kondisi dengan tepat.  Sehingga kondisinya prima.

Beberapa kali, ritme gowesan yang biasanya cepat. Saya atur sedemikian rupa sehingga, mungkin tidak disadari oleh rekan-rekan waktu itu.  Bahwa, sesungguhnya saya mencoba mengatur jarak dan kondisi agar tidak terlalu terkuras.  Pada waktu rolling, cadence diperlambat.  Atau bila terlalu cepat, dan rombongan tertinggal saya berhenti.  Memberi komando, “regrouping” atau bila tidak sambil gowes berteriak ke belakang “rapat!”.

Cisaruni adalah medan yang unik.  Konturnya turun naik dengan permukaan makadam khas perkebunan, rumput tebal, single trek tanah.  Tanjakan dan turunan yang curam dengan segala rintangannya.  Dipastikan akan cukup membuat fisik terkuras

Terbukti.  Kang Danke alias Daboy, selama di dalam L300 yang me-loading sepeda.  Mengutarakan keraguan dan kekhawatirannya.  Sebelum berangkat, Kang Asep Sutiana dari Cilegon yang juga pernah menikmat buaian dari Desi Ratna Sari alias Cisaruni ini. Sempat bertanya, “Maneh, bener milu Dang?  Teu salah?”

Kang Danke, sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.  Mulanya, saya menyangka beliau yang punya penyakit DM.  Kepasrahan dan fostur tubuhnya yang ceking serta gowesannya, lemah gemulai.  Kemayu.  Mirip si Olga Syahputra…Oke, no problem kalau begitu.  Dipastikan dia akan di asuh oleh Kang Asep Tebe, si Tuur Kuda, sang sweeper bersertifikat dari KGC.  Keyakinan saya, bertambah saat ditanjakan awal.  Om Danke, sudah mendorong sepedanya.  Padahal yang lain masih mampu sampati setengah dari tanjakan.

Sebenarnya, melihat mental dan cara gowes group Gowel ini. Saya yakin, mereka dipastikan akan bisa menaklukkan tanjakan awal “Apanya Dong” Euis Darliah.  Demi menjaga kondisi agar tidak terkuras. Setengah melarang, selaku RC, tak segan mengingatkan,  “Jangan dipaksakan, dorong aja…perjalanan masih jauh!”, teriak saya berkali-kali.  Tapi, acungan jempol patut di berikan.  Beberapa dari mereka, berhasil mencumbu si Euis Darliah dengan digowes.  Bukan main!  Kalau, si Tuur Kuda alias Asep Tebe mah gak usah disebut hehehe…

Baca Ayat Kursi

Tiba di puncak tanjakan sekitar jam 10.30.  Hampir satu jam mencumbu tanjakan pertama.  Satud demi satu muncul dengan mulut mangap atau megap-megap kehabisan oksigen. Kang Cecep yang saya tanya, bahkan teramat sombong untuk menjawab.

Aneh, naha nya fisik jeung nafas bet beak?” Kang Gifnie, Kang Cecep, Kang Nu’man, Kang Mumuh yang juga datang belakangan saling melontarkan pertanyaan yang sama.  Mungkin karena tidak pemanasan, mungkin karena ketinggian (1300 mdpl), mungkin karena cuaca yang panas, serta berbagai analisa muncul.  Dalam hati, saya mulai menghawatirkan kondisi Kang Dadang (yang saya sangka DM), belum juga muncul.  Tapi selama ada baby sitter sekelas master Asep Tebe saya tidak khawatir.

Tidak lama, mereka berdua kemudian muncul dari balik tanjakan. Kang Dadang, dengan nafas ngos-ngosan, mulut terbuka. Mangap! Langsung ngedumel,  “Aneh euy…sapedah teh tadi asa beurat.  Ceuk Kang Asep, kudu maca Ayat Kursi bisi aya nu nangkod dina sapeda. Jadi beurat! Urang maca ayat kursi. Angger we sapedah teh beurat!!!“.  Yang punya saran, malah ketawa!

“Heueuh sarua euy…aneh sapedah urang oge asa beurat!”, kang Cecep menimpali.  Ternyata setelah dicek, rante sepedanya kering. Ya, iyalah… :p  “Engke we, di warunglah. Minta minyak jalantah!“, ujar saya.  Terserah mau dipake minyak rambut boleh, mau dipake minum juga boleh :)

Pasca tanjakan pertama, perjalanan dilanjut menuju tower “aneh”.  Disebut aneh, karena kemanapun kita gowes.  Sepertinya tower itu mengikuti dengan jarak yang tidak juga menjauh. Tanjakan ringan cukup membuat fisik kembali terkuras.  Tiba di tower Kang Gifni, tetap finish kedua. “Silakan nanti, foto2 dulu di sini Kang.  Viewnya cukup bagus!” Ujar saya. Pemandangan di Cisaruni memang keren, walaupun sedikit berkabut.  Kalau, dalam cuaca cerah, ombak pantai Ranca Buaya bisa terlihat.  Bahkan puncak Papandayan seperti bisa diraih dengan tangan.

Satu demi satu, rombongan tiba. “Kang, ini teh jalannya lurus terus?”, begitulah ucapan yang keluar dari mulut mereka.  Setiap goweser yang tiba di bawah tower. Dipastikan bertanya begitu.  Karena, tanjakan makadam, tanjakan lurus.  Sangat panjang, terbentang di depan!

“Sebenarnya bisa, tapi akan terlalu panjang waktunya.   Kita ambil pintas ke kanan.  Turunan!”, jawab saya.

Setelah beberapa kali foto keluarga dan melakukan aksi narsisme.  Perjalanan dilanjut.  Turunan, lumayan cukup menghibur.  Tapi langsung nanjak lagi, tanjakan ringanlah.  Namun, diakhir tanjakan.   Kembali, harus TTB. Karena single trek berupa tanjakan sampai di rumpun bambu.  Dari rumpun bambu, masih single trek tanjakan ringan di tengah perkebunan teh. “Anu lasut dina tanjakan ieu, Burut!

Tanjakan ringan yang sekitar 500 meter itu persis di belakang tower, dimana tadi rehat sambil foto-foto.  Kesimpulannya, tower itu selalu mengikuti :)

Akhir dari tanjakan adalah, good view.  Tampak “Pohon Kejujuran” semakin habis rantingnya.  Sepi, sendiri…diantara hijaunya perkebunan teh.  Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh.  Nun jauh di atas sana, langit biru dan arakan awan menemani sang jiwa untuk berdzikir ke hadiratnya.  Kelokan jalan raya, yang tadi terlewati mirip liukan ular.  Panjang menghitam, diantara perumahan penduduk yang masih jarang.

Koprol sang Kopral

Perjalanan dari Pohon Kejujuran menuju pit stop pertama lebih kurang akan memakan waktu 30 menit. Pit Stop tersebut adalah kampung Cisaruni, tepatnya di sebuh mesjid.  Single trek di tengah perkebunan.  Ditepi barisan bukit kecil. Turunan dan tanjakan ringan, dengan kondisi rumput tebal silih berganti.  Cukup membuat semangat para GOWEL-ers kembali terpompa. Pak Hifni yang membawa kamera, disarankan untuk mengambil gambar saat rombongan melewati single trek ini.  Karena sangat bagus untuk diabadikan. Di Tanjakan Tabah yang sebenarnya pendek.  Tapi karena ditutupi rumput yang cukup tebal.  Gowesan menjadi sangat berat. Alhamdulillah, semua GOWEL-ers menamatkan tanpa masalah.  Kembali Kang Gifnie masih finish di belakang kedua.  (Suwer, sampai di sini pun gak menyangka seujung rambut pun. Kalau yang menderita DM itu Kang Hifni! ).

Tapi bagi, kang Dadang tanjakan seperti ini pun tetap dijalani dengan penuh istiqomah melakukan Matador! alias manggih tanjakan dorong binti DH (Disurung Heula).  Istilahnya, tawadhu, berjalan sambil menunduk tanda tak sombong.  Sekaligus, tadabur alam. mensyukur kehidupan sambil berdzikir…ya katipu, ya katipu, ya katipu…ya leuleus euy!

Tiba di mesjid pukul 12.05 sedikit meleset dari perkiraan. Tapi tidak apa, cukuplah.  Untuk rehat. Makan siang dan solat dhuhur.  Di lantai mesjid. Seperti biasa, tampak sang “merebot” yang sudah udzur dengan baju lusuhnya sedang duduk.  Melihat ke arah saya.  Wajahnya yang sudah keriput, tidak jauh lusuhnya dengan kondisi bajunya.  “Assalamu’laikum…bade ngiring leleson sareng netepan Pak!”, ujar saya memberi salam.
“Muhun…mung caina garing, kedah ka lebak!” ujarnya.  Saya sudah mafhum, karena sudah hampir 6 kali sholat di mesjid ini.  Anehnya, di rumah yang dijadikan tempat berwudhu itu.  Selang air segede pohon pisang, mengalirkan air dengan derasnya.  Bahkan air jernih dari mata air itu, dibiarkan terbuang sia-sia!

Tidak lama, satu demi satu rombongan muncul.  Yang aneh, tampak seorang yang berbadan tegap dengan potongan rambut ala tentara.  Jersey putih, helm dan bagian bahunya penuh dengan tanah kering! “Tadi mah, sanes geubis. Tapi latihan koprol…!” Ujar si Kopral menceritakan alasannya melakukan koprol sehingga bajunya kotor. :P ditimpali dengan ledekan dan  ledakan tawa para Gowelers…

Medan Sulit, Salut ditaklukan…

Setelah minum kopi dan beristirahat serta foto bersama di depan pabrik teh Cisaruni.  Perjalanan dilanjut, diingatkan turunan tajam. Makadam, kemudian langsung belokan tanjakan curam makadam juga. Alhamdulillah, semuanya lulus di tanjakan ini.  Tapi, di puncak tanjakan kembali harus menunggu. Kang Danboy…alias Dadang Geboy, bersama soulmate sang pengasuh.  Setelah regrouping, langsung menghajar turunan tajam.  Single trek tanah, lebih kurang 500 meter. Belok kiri, tanjakan single trek tanah. Turunan tajam. Nanjak lagi, single trek tanah dengan debu yang tebal.  Sekuat apapun digowes, ngesot juga.

Turunan makadam, cukup panjang.  Dilahap tanpa hambatan. Kecuali, bagi Kang Cecep dan temannya yang masih menggunakan sepedah HT.  Dipastikan tangan kesemutan, karena getaran ban serta pantat yang serasa jadi daging cincang.  Tinggal diberi bumbu cabe dan kecap dipastikan jadi sarden pantat! (Kang Cecep, jangan kecil hati.  Selama langit masih biru. HT pasti akan kuat…kuat ka genjur awak!)

Diturunan makadam yang berakhir di kantor kecamatan, salah seorang nyeletuk:

Sapedah meni ledeg kieu euy!”

Enya, kudu langsung dimandian…diservis!” jawab goweler yang lain

“Pake T2M, kalau ingin bersih mah.  Gampang tinggal disemprotin.  Langsung bersih!” Ujar saya menimpali.

“Naon ari T2M teh kang?” ujar goweler lain.

Tai 2 Ember!” timpal saya, serius.  Semua tertawa…sambil nunjuk ke Kang Cecep (lagi).

Turunan dan tanjakan single trek di tengah perkebunan saling berganti.  Bahkan, tanjakan Aura Kasih 1, bisa ditaklukan oleh para gowelers dengan baik.  Seperti yang dijanjikan setelah rehat di Pit Stop 2 sebuah warung kecil.  Menu selanjutnya adalah, ketahanan mental, ketahanan putaran kaki dan keseimbangan badan. Salah satu dari ketiganya tidak lengkap.  Pasti terjatuh atau terpeleset.  Karena single trek ini, hanya sebesar pematang sawah. Di sebelah kiri irigasi, sebelah kanan jurang 2-3 meter!

Selama gowes di depan, saya selalu mengontrol kondisi Kang Gifnie. Waktu di jalur ini, sudah “ngeh” justru sang maestro yang DM.  Saat, beliau berhenti dan menyuruh Kang Numan Djakaria menggantikan posisinya ke depan.  Saya mulai khawatir.  Tapi, saat ditanyakan pada penggantinya.  Tidak masalah, Pak Giffnie cuma keder dengan kondisi medan.  Sepanjang trek ini, mata, pikiran dan gowesan kaki harus mantap.  Meleng sedikit, dipastikan terjatuh.

Pada saat berhenti, menunggu rombongan tiba. Sesekali saya menggoda, memanggil nama2 mereka.  Tapi, tak satupun yang berani menoleh.  Semuanya gowes sambil tafakur, khusu!  Coba kalau sholat, khusu seperti waktu  gowes seperti ini ya! Niscaya Inna sholata tanha, ‘anil fahsyai wal munkar, akan terbukti. Negeri ini akan gemah ripah loh jinawi…

Trek segera berakhir setelah melewati, hutan bambu. Sepeda kembali harus didorong. Tembus di sebuah jalan beton. Tanda-tandak fisik mulai melemah, tampak dari Kang Muhdi.  Yang entah kenapa, kudu terjatuh dua kali di tempat yang sama! Padahal jalan datar :P Sepertinya, dia ingin punya adik lagi hehehe…

“Masih jauh Kang?” itulah pertanyaan yang sama, yang selalu keluar di saat tiba di turunan berupa beton ini.  “Sebentar lagi, paling setengah jam lagi tiba!” kata saya.  “Alah, mun si kang Deny nu ngomong moal percaya.  Berarti tilu jaman deuilah…” celetuk mereka :p

Dibanting Aura Kasih

Tanjakan terakhir single trek adalah, berupa tanjakan pendek tetapi sangat curam dan berdebu tebal sehingga sulit untuk ditaklukkan.  Saking penasaran, setelah melihat Kang Gifnie berhasil dalam sekali kayuhan tiba di atas.  Para gowelers bergantian, dua tiga kali mencumbu tanjakan Aura Kasih itu.  Jauh dari berhasil, bahkan dua orang dibanting KO oleh Aura Kasih! Saya mah, cari aman saja…saat ngesot.  Ya dorong ajalah. Rasional…wkwkwk…!

Alhamdulillah, tidak jauh dari perkiraan. Finish di Alun-alun Cisurupan jam 16.30 tepat!  Saya dan Asep Tebe langsung pamit, untuk gowes ke Garut.  “Hah? digowes lagi?” tanya Kang Dadang.

“Iyalah, sebentar koq cuma 19 km turunan. Paling setengah jam sudah tiba di Garut!”  Setelah pamitan dan bersalaman dan bertukar nomor hape.  Langsung meluncur.  Tiba di rumah tepat jam 17.00 berarti kurang dari setengah jam! Maklum ngebut, karena langit teramat gelap. Tanda hujan lebat segera tiba!  Alhamdulillah sampai di rumah tidak hujan :)

(salam salut untuk Kang Muhammad Gifnie, yang walaupun menderita Diabetes Melitus, tapi mempunya kondisi fisik yang prima. Mengingatkan saya pada cerita ini http://travel.kompas.com/read/2012/09/25/10192030/Ayo.Bersepeda.ke.Ujung.Kulon )

Yang Penting Sepedaannya, bukan sepedanya