21 Trek di Garut (Updated)

Garut yang dulu disebut Swiss van Java, tidak hanya kaya akan domba garut, dodol garut, jeruk garut atau jaket kulitnya. Tapi juga kaya akan trek offroad untuk para MTBers yang layak untuk dijajal.

Ada banyak trek yang bisa dicumbu untuk berbulan madu atau hanya untuk berakhir pekan. Diantaranya adalah:

1. Cibeureum

Berada di lereng Gunung Kamojang dan Gunung Guntur. Konturnya cukup ekstrim di 30% awal trek yaitu berupa jalan pasir bercampur tanah,lengkap dengan rintangan berupa semak belukar, sebatas dada, pohon tumbang, jurang, dengan turunan yang cukup sulit. Tanah 30%, 30% makadam, dan 10% aspal. Bisa ditempuh dengan gowes langsung ke lokasi dari garut sejauh 18 km atau dengan kendaraan langsung ke titik start dengan menggunakan colt L300 atau pick up. Untuk Truk besar atau beus bisa juga tapi hanya sampai pinggir jalan raya. Kemudian digowes ke titik start sejauh 1 km. Jarak tempuh lebih kurang 12 km, lama waktu antara 2-3 jam. Bila digowes langsung dari Garut kota sekitar 50 km (PP) dan finish di pemandian air panas (Cipanas). Bisa langsung berenang atau sekedar berendam, atau bila menginap di hotel atau di penginapan Cipanas bisa langsung rendaman di kamar masing-masing.

Berikut adalah peta trek onroad-offroad Garut-Cibeureum-Garut

2. Cisaruni,

Trek ini sangat panjang. Terletak di Cikajang arah Pameungpeuk, lebih kurang 3 km dari kota kecamatan Cikajang, belok kanan. Merupakan areal perkebunan teh, yang sudah berubah menjadi perkebunan palawija. Treknya sangat indah, terdiri dari kontur tanah perbukitan 90%, sisanya semen atau beton di perkampungan. Jarak tempuh offroad 6 jaman.

Cisaruni adalah trek kedua terpanjang di Garut.  Paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek memanjang di sepanjang trek Cisaruni.  Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 33 km dalam waktu 6-7 jam.

3. Cikuray

Trek sepanjang lebih kurang 40 km (PP dari Garut Kota) yang layak dicoba. Bisa digowes langsung dari Garut Kota menuju ke titik start Turunan yang berjarak lebih kurang 22 km. Tentunya dengan menu tanjakan yang variatif dari 750 mdpl ke 1550 mdpl. Tapi untuk yang suka turunan only, bisa diloading sampai ke Pamalayan Kulon yang berjarak sekitar 4 km dari titik start turunan. Kemudian TTB sampai ke titik start turunan yang merupakan POS 1 Jalur Pendakian ke Gunung Cikuray yang berada pada ketinggian 1543 mdpl.  Sekitar 200 meter dari POS single track bisa dinikmati melewati perkebunan palawija, hutan pinus dan makadam dengan melewati jalur kecil dengan jurang yang cukup dalam. Pada beberapa titik, harus dilewati dengan TTB karena medan yang sangat sulit ( tidak gowesable).  Diperlukan keterampilan dan keberanian yang lebih untuk melewati jalur yang di kiri atau kanannya berupa jurang. Karena turunan seringkali sangat tajam.  Sebaiknya tuntun saja sepeda, bila tidak yakin.  Daripada membahayakan diri sendiri.

Berikut peta Trek Cikuray

cikuraymap

Untuk review silakan klik link berikut : http://adventures.garmin.com/en-US/by/dess2015/trek-garut-cigedug-ciburuy-negla-cikuray/#overview.

4.  Ciharus.

Trek ini terletak di hutan belantara Gunung Kamojang.
Vegetasinya didominasi hutan hujan tropis yang masih lebat. Tidak jarang pada waktu melewati trek ini harus sangat berhati-hati, lalai berarti siap-siap helem nyangkut di akar pohon, semak belukar atau batang pohon sehingga bisa terjatuh.
Treknya uphill 20% dengan kontur berupa tanah bercampur pasir. 80% downhil dengan tingkat kesulitan sangat ekstrim. Untuk para newbie, sangat tidak dianjurkan melalui trek ini. Panjang trek sekitar 9 km, terdiri dari single track di hutan tropis, kubangan lumpur, aliran sungai kecil, hutan pinus, pertanian dan jurang serta tebih yang curam.
Trek ini akan menjadi surga bagi para MTB-ers pada waktu musim kemarau, tapi sebaliknya akan menjadi neraka bila hujan tiba. Trek yang semula gurih dan renyah, akan terbalik 180 derajat akan sangat licin dan berbahaya!
Sangat dianjurkan memakai protektor, sarung tangan dan helem.

5. Cirorek

Berada di lereng perbatasan Garut Tasik, lebih kurang 7 km dari Garut. dapat ditempuh langsung dengan gowes langsung melewati tanjakan ngamplang sejauh 4 km dan jalan aspal hotmix sampai ke lokasi. Atau loading sampai lokasi hutan pinus Cirorek. Treknya terbagi dua arah, arah pertama single trek, dengan kontur tanah, di tengah hutan pinus. Konturnya 30% makadam, 40% tanah single trek,20% beton pnpm, dan 10 % aspal.
Trek kedua, dari tengah-tengah single trek hutan pinus belok ke kiri.  Masih semi turunan, kemudian turunan cukup tajam siap dijajal dengan kondisi singl trek tanah. Lanjut dengan  turunan kontur makadan sejauh 2 km. Berakhir di sebuah pematang sawah, bisa digowes.

Di akhir trek, setelah kembali mencumbu turunan aspal tipis.  Anda, disuguhi tanjakan Aura Kasih, yang cukup meliuk dengan kemiringan aduhai sejauh 500 meter.  Pendek memang, tapi hanya sedikit orang yang bisa khatam di tanjakan ini.

6. Cihanjawar

Perkebunan teh Dayeuh Manggung  di kaki Gunung Cikuray berada di perbatasan Garut-Tasik searah dengan trek Cirorek. Bisa ditempuh dengan gowes dari kota Garut sekitar 7,1  km aspal jalan propinsi. Belok Kanan di Cihanjawar dan langsung makadam nanjak sejauh 5 km. Turunan makadam 1 km. Tiba di Curug Hanjawar dan masuk perkebunan teh. Jalurnya single trek variatif tanah, makadam dan kebun dengan perkebunan teh atau sayuran. 40% Makadam, 40% tanah, 20% beton. Udara sangat dingin dan bisa istirahat di masjid milik perkebunan teh Dayeuh Manggung. Panjang trek 5 km, waktu tempuh antara 3-4 jam tergantung sikon.

7. Godog,

Trek paling populer di Garut, karena pendek (hanya 12 km dari Garut kota). 50% nanjak dengan aspal. Tapi bila ditempuh dari Lapang Nagrog (lebih kurang 6 km dari Garut) 80% makadam! Full nanjak! Untuk offroadnya bisa ditempuh jadi 2 jalur terserah kesukaan. Mau langsung ke kota atau masuk ke Margawati dan melanjutkan ke Cilawu. Treknya sangat ekstrim. Sudah cukup banyak memakan korban. Lebih baik tidak offroad di sini bila musim hujan tiba. Trek ini cocok buat  para penikmat tanjakan tingkat sedang

Trek Godog, bisa juga ditempuh dari desa Nagrog. Konturnya lebih menantang dan lebih sexy. Tanjakannya mantap, dengan makadam jahanam. Cocok untuk latihan XC sedang.  Panjang trek 28,54 km (pp).

Berikut petanya:

8. Sagara,

Trek ini cukup panjang sekitar 34 km, konturnya 30% makadam nanjak dengan tingkat kesulitan biasa. 20% beton pnpm, dan selebihnya adalah tanah dengan variasi turunan dan tanjakan yang sangat sangat ekstrim. Tidak dianjurkan memakai sepeda XC biasa. Dianjurkan membawa air cukup banyak, makanan secukupnya. Diperlukan ketabahan dan kesabaran, karena sangat panjang sehingga memerlukan waktu yang cukup lama (5-6 jam). Tapi soal pemandangan, jangan tanya deh! Keren habis! Untuk tiba di trek ini, bisa ditempuh dari kota Garut sejauh 12 km dengan gowes atau loading ke Kecamatan Wanaraja.

9. Waspada,

Trek ini sekitar 56 km (pp). Bisa ditempuh dengan gowes langsung atau dengan loading dulu ke Cikajang. Lebih kurang 29 km dari Garut Kota.Tapi mayoritas pesepeda di Garut menggowesnya langsung ke arah Gunung Papandayan/Cikuray. Dari alun-alun Cikajang, belok kiri, dan langsung menuruni turunan sangat tajam.Sebaiknya dituntun saja. karena turunan langsung berbelok dengan jembatan bambu. Sangat bahaya. masuk jalanan kampung sejauh 300 meteran, dan tembus di jalan aspal. menuju ke perkebunan Waspada. Tanjakannya cukup curam dengan turunan yang tidak kalah curamnya. 50% tanah single trek, 20% aspal, dan 30% beton. Pemandangan sangat indah karena kita berada lebih kurang di pertengahan gunung Cikuray.

10. Satria,

Trek yang berada di perbatasa Cilawu Tasikmalaya-Garut, dapat ditempuh dari Garut kota dengan gowes langsung atau loading sejauh 27  (pp) km. 8 km dari garut kota belok kiri sebelum tikungan Cilawu. Treknya makadam 50%, 30% single trek perkebunan teh, 20% aspal/beton. Pemandangan dan keasriannya masih perawan!

11Lingga Ratu,

Tanjakan full 4 km, makadam sopan dan tanah. Masuk dari Jalan Raya Garut-Wanaraja, Pertigaan Desa Sindang Palay, Kampung Nangorak. Pemandangannya sangat cantik dan mempesona. Siapkan perbekalan air yang cukup, makanan dan protektor lengkap. Tidak dianjurkan untuk gowes sendiri, minimal 5 orang, karena untuk trek offroadnya sangat ekstrim. Untuk ke trek ini sebaiknya ditemani oleh orang berpengalaman dan tahu  medan Lingga Ratu dengan baik. Pssst, angker!

12. Gunung Papandayan, digowes langsung dari kota Garut memakan waktu sekitar 3 jam. Full tanjakan, cocok buat para goweser IPDN. Jalannya hotmix karena merupakan jalan propinsi ke arah Cikajang, Pameungpeuk. Trek downhill-nya dengan kontur tanah, makadam dan perkebunan sekitar 2 km, tapi downhill di aspal tipisnya sangat memuaskan. Bahkan, bisa biki BT hehehe…lebih kurang setengah jam. Anda akan meluncur dari Puncak Papandayan yang tembus di Desa Pangauban Bayongbong.  CATATAN! Hati-hati tidak rekomen untuk mereka yang membawa bisa 3/4 atau kendaraan besar.

13. Batu Tumpang, merupakan sebuah batu granit yang tingginya sekitar 60 m. View-nya sangat indah, dengan udara yang sangat sejuk dan segar. Dianjurkan untuk datang ke tempat ini sebelum jam 13.00 karena lebih dari jam itu dipastikan akan berkabut.  Terletak 7 km dari Kecamatan Cikajang. Treknya murni untuk onroad. Dari Garut kota digowes lebih kurang 3 jam. Full tanjakannya.

14. Margawati-Cilawu

Trek Margawati-Cilawu, sangat cocok untuk latihan endurance. Panjang trek 24,31 km dengan kontur tanjakan aspal panjang sekitar 8 km. Kontur makadam terdapat pada turunan dan tanjakan curam sehingga cocok untuk XC ringan. Bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam. Di sepanjang jalur banyak warung, sehingga tidak perlu membawa perbekalan. Namun, untuk tools kit, sangat dianjurkan. Karena tanjakannya sangat panjang, sehingga salah-salah mengatur shifter. Rantai bisa putus.

15. TrekGunung  Talagabodas-Sadahurip

Trek ini baru dieksplorasi lebih kurang 2 bulan yang lalu, pasca issue adanya piramida tertua di Gunung Sadahurip.  Trek ini bisa ditempuh dari tiga titik. Yaitu dari Pasar Wanaraja, Pasar Sukawening, dan Karaha (Malangbong).

Dari Pasar Wanaraja, harus diloading sampai pertigaan puncak Gunung Talaga Bodas, Karaha (Malangbong) dan Garut.  Lebih kurang 10 km dari pasar wanaraja, kita disuguhi, jalan berbatu yang super “gila” batunya segede-gede kepala orok! Sewa colt pick-up L-300 dari Garut sekitar 250 ribu- 300 ribu. Tergantung keterampilan menawar Anda. Segitu bisa terhitung murah, karena medan yang teramat berat. Jarak yang hanya 12 km, harus ditempuh selama 1,5-2 jam.  Berarti hampir sama dengan waktu untuk ke Bandung (60 km dari Garut).

Soal trek offroadnya, dijamin bakal orgasme deh.  Melewati perkebunan palawija di kaki gunung Talagabodas. Menyusuri jalan setapak di kebun, single trek yang melewati jembatan bambu dll. Trek offroad-nya sekitar 6 km.  Hati-hati, karena mayoritas berupa kebun jagung. Salah-salah jalan, Anda akan berkeliling di tempat yang sama. Seperti masuk labirin.

Titik start dari Sukawening. Treknya berupa aspal rusak, makadam dan beton PNPM sejauh 8 km. Tanjakannya sangat variatif, bisa gowesable! Tentunya bagi yang mampu :p

Tiba di kaki gunung Sadahurip, langsung offroad sekitar 2 km. Sepeda bisa dibawa sampai lebih kurang 300 meter dari puncak Sadahurip.  Selanjutnya, silakan naik ke puncak gunung Sadahurip.

Trek Offroad dari Talagabodas – Cicapar Sadahurip

16. Trek Garut-Cintamanik-Karaha-Talagabodas-Sadahurip-Garut

Trek ini cocok untuk Endurance Test, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 8-10 jam. Cukup panjang, yaitu sekitar 70,70 km.  Itupun kalau tanpa ada trouble bin halangan seperti ban pecah, keram kaki dan lain-lain. Sangat dianjurkan untuk membawa persediaan air yang cukup.  Karena kontur trek yang cenderung tanjakan.  Apatah, kalau matahari sedang “sale” dijami akan super haus.  Selain makan siang yang cukup banyak, juga makanan ringan seperti coklat, permen atau wafer bahkan gula merah akan sangat membantu di trek ini.

Sangat disarankan cek rem depan belakang dengan hati-hati mengingat tanjakan dan turunan cukup esktrim. Ban cadangan serta peralatan P3K terutama obat gosok sangat dianjurkan.

Jarak tempuh dari Garu-Sukawening-Karang Tengah yang sekitar 19 km, dapat ditempuh sekitar 2 jam.  Karena konturnya yang ramah, hotmix yang mulus dengan sedikit tanjakan pasca pasar Sukawening sekitar 3 km.  Trek selanjutnya berubah menjadi aspal tipis dan setengah rusak sekitar 3 km, dengan medan tanjakan yang sangat seksi :p.  Setelah itu berubah menjadi beton PNPM saat memasuki Desa Cintamanik. Turunan tajam sekitar 1 km, segera menyongsong setelah melewati Pasar Cintamanik.  Selanjutnya adalah Anda akan dihadang tanjakan sangat aneh.  Pondok nyongok, seperti perut ibu yang sedang hamil :p  Bedanya, yang ini terus nanjak, sangat nanjak, dan sangat-sangat nanjak dan sangat nanjak sekali :P. Tanjakan beton tersebut sekitar 4 km. Tidak ada turunan atau tanah datar sama sekali.

Beton PNPM habis, langsung dihadapkan pada trek tanah. Hutan. Tanjakan kembali dengan tingkat kesulitan yang hampir “virgin”.  Dibeberapa bagian, terdapat jalan yang cukup dalam akibat ban motor yang memakai rantai.  Memasuki hutan pinus sekitar 1,5 jam dengan kondisi medan terus tanjakan. Jalan terobosan ini, langsung menembus ke kawasan Karaha, yaitu sumur pembangkit listrik tenaga uap #2 dan #3.

Selanjutnya, turunan trek makadam cukup lebar sekitar 2 km. Batu-batuan yang lepas dengan diameter cukup membuat ketar-ketir. Bila Anda ragu-ragu lebih baik, tidak memacu sepeda di daerah ini.  Bisa-bisa terjerembab ke atas batu-batuan yang tajam.  Turunan makadam ini, berakhir di “jalan raya”.  Ke kiri adalah menuju ke Kadipaten (Tanjakan Gentong-Tasikmalaya) dan ke kanan adalah menuju Talagabodas.

Bila mengambil ke arah Talagabodas,  treknya berupa jalan eks aspal dengan kontur turun naik sepanjang lebih kurang 10 km.  Lebih kurang 400 meter dari pertigaan Garut-Tasik-Talagabodas, ambil jalan ke kanan. Yang langsung berhadapan dengan gunung Sadahurip.  Di sini, silakan pasang protektor, cek rem, turunkan sadel, dan kurangi tekanan ban.  Karena offroad segera akan memanjakan Anda.  Tapi, jangan gembira dulu karena lebih kurang 500 meter, kita akan dihajar makadam kembali dengan batu-batu yang tajam dan lepas.

Selanjutnya single trek tanah perkebunan kentang dengan pemandangan Gunung Sadahurip, Kota Garut dan Gunung Talagabodas.  Jangan lewatkan untuk menikmati pemandangan atau sekedar berfoto ria di sini.  Hati-hati saat, single trek tanah selesai.  Kembali dihadapkan turunan makadam, dengan jurang cukup dalam di sebelah kiri. Sebaiknya ambil jalan kanan.  Tiba di Kampung Cicapar, basecamp untuk naik ke Gunung Sadahurip, jalan berganti kembali menjadi beton PNPM.  Silakan meluncur dengan deras, tapi hati-hati banyak anak-anak atau motor.  Turunannya gak ada tanjakan dan langsung menuju Pasar Sukawening.

Berikut adalah petanya:

17. Trek Gunung Papandayan – Cileuleuy- Leuweung Panjang- Tumaritis- Arjuna-Sumbadra-Garut

Trek ini sangat-sangat panjang, untuk itu wajib diloading sampai Puncak Papandayan (Kawah), karena jarak dan waktu tempuh yang teramat panjang. Disarankan berangkat dari Garut kota tidak melebihi jam 7. Karena jam 8 tepat, saat tiba di tempar parkir di Papandayan yang ditempuh lebih kurang 1 jam. Kita harus langsung melakukan TTB dengan medan yang sangat curam dan  memerlukan ketabahan yang cukup tinggi. Lebih kurang 4 km melewati kawah dan hembusan uap panas serta bau belerang harus berjuang melawan rasa takut, rasa lelah dan konsentrasi jangan sampai terpeleset dan terjatuh di atas bebatuan yang berbau belerang.

Jarak 4 km tersebut ditempuh, biasanya sekitar 2 jam. Termasuk waktu yang yang dipakai untuk narsis. Foto-foto untuk oleh-oleh kepada handai taulan dan bukti kepada istri yang mereka yang termasuk anggota “Susis”.  Perjuangan yang sungguh berat diakhir perjalanan, lebi kurang satu meter dari tempat yang dikenal dengan Pintu Angin. Dikatakan berat, betapa tidak kemiringan dan kontur tanah khas gunung berapi yang licin dan cukup dalam serta curam. Memerlukan kesabaran dan keterampilan tersendiri.  Jalannya sangat sempit. Praktis kita harus mengatur langkah yang unik karena juga harus mendorong sepeda.

Tiba di Pintu Angin, saatnya beristirahat dan mengambil nafas. Melenturkan kaki, dan mengecek rem sekaligus menurunkan sadel. Jangn lupa, ban dicek, agar tidak terlalu keras. Karena medan selanjutnya adalah, makadam! Turunan panjang dengan batu-batu yang cukup bikin hati miris.  Terkadang harus berhenti sesaat karena, tangan dan pantat cukup kesemutan, dihajar makadam.  Sekalipun sepeda fullsus di trek ini tidak berlaku :p Trek makadam itu kadang menyempit, dan masuk ke single trek tapi tetap dengan makadam. Salah-salah mengatur keseimbangan, betis kita akan dihajar batu atau pedal yang terbanting.

Turunan makadam tersebut lebih kurang 3 km, selanjutnya sedikit menanjak sekitar 50 meter. Masuk ke perkebunan kentang. Dan….inilah bonus yang sangat dinantikan. Turunan, turunan, dan turunan terus tidak ada hentinya. Meliuk dan meluncur di atas single trek tanah perkebunan kentang. Sungguh sensasi tersendiri.

Trek masih juga turunan, tapi perkebunan kentang berubah menjadi perkebunan pohon Eucaliptus diselingi wortel, kental dan kubis. Masih single trek. Kita masih bisa meluncur dengan deras :D  Akhirnya single trek berakhir di perkebunan teh Cileuleuy. Single trek, masih juga menurun. Diakhiri dengan turunan yang sangat curam, tapi masih bisa gowesable.  Tapi diperlukan keberanian, dan kehati-hatian yang mumpuni.  Salah-salah, jadi jungkir balik, seperti yang dialami 3 orang teman kami :)

Trek kemudian berubah menjadi jalan makadam, khas perkebunan teh yang juga masih menurun cukup tajam. Tapi, yang pintar dan punya keberanian, silakan ambil jalan kiri. Menyusuri bahu jalan, yang juga telah berubah menjadi single trek tanah. Turun-turun dan turun terus sampai memasuk perkampungan Cileuleuy.

Tiba di Cileuleuy, Anda yang akan melanjutkan ke Pangalengan. Silakan ambil jalan kanan menuju perkebunan Santosa yang memakan waktu lebih kurang satu jam. Untuk yang belum kenyang berpetualang. Ambil jalan ke kiri dan menuju ke Garut sekitar 65 km.

Treknya, lagi-lagi makadam. Tapi praktis hampir tidak ada tanjakan. Jalannya kadang datar kadang menurun ringan.  Tapi mayoritas jalan, adalah jalan datar dengan makadam ringan. Diperlukan keterampilan dan ketahanan fisik untuk melakukan “rolling”,  mengayuh putaran crank dengan kecepatan putaran yang tetap. Hampir 4 jam kita perjalanan harus ditempuh. Melewati hutan belantara “Leuweung Panjang”, Gunung Arjuna, Gunung Tumaritis dan Sumbadra yang semuanya merupakan perkebunan teh.

Sangat disarankan membawa, toolkit, pemotong rantai, kunci 14, ban dalam cadangan, bahkan ban luar serta lampu untuk melakukan perjalanan malam atau kabut yang kadangkala muncul tiba-tiba. Sehingga jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja. Cukup tebal, dan merepotkan bagi mereka yang memakai kaca mata minus. Kadang-kadang, ada trek shortcut yang cukup panjang di single trek tanah. Sehingga kembali kita bisa meluncur offroad. Meninggalkan teman-teman kita yang memakai jalan makadam biasa :p

Petualangan berakhir di Gerbang Perkebunan Papandayan, Sumbadra, Cikajang lebih kurang 39 km dari Garut kota. Memasuk daerah ini, kita sudah mulai lega. Sepertinya sudah tiba.  Karena jalan propinsi Garut-Bungbulang yang dilewati truk, serta angkutan umum cukup banyak.  Tapi lebih baik digowes saja, karena Cikajang Garut, hanya berupa turunan jalan hotmix mulus.

Bagi yang akan mencoba trek ini, silakan dilihat petanya:

18.  Sang Hyang Taraje

Adalah sebuah air terjun yang sangat cantik, ketinggiannya kurang lebih 70 meteran.  Lokasinya terletak di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Lebih ke jalur wisata, dan lebih pantas untuk funbike.  Single track-nya sudah berganti dengan aspal dan beton :( Tapi tetap satu jalur sepeda yang layak dijajal untuk yang suka petualangan downhiluphill dan downhar (ngadon dahar). Sebaiknya loading dulu dari Garut kota sampai di Curug Orok, kemudian meluncur turunan sejauh lebih kurang 17 km berupa aspal hotmix yang sepi kendaraan dan makadam di tengah perkebunan teh Papandayan. Di sebelah kiri jalur adalan pegunungan tempat eksplorasi emas dan batu topaz (akik). View-nya sangat keren dah!

Bila Anda penyuka uphill  jalur ini sangat tepat.  Dari Sang Hyang Taraje, kembali menuju Desa Cisandaan. Tapi mengambil shortcut, satu tahun lalu masih berupa tanah.  Tapi tanggl 29 Desember 2013 kemarin sudah berupa jadi aspal tipis, dan beton. Tanjakannya Naudzubillah! Sebenarnya bisa digowes untuk para juara total nanjak sampai Cikajang lebih kurang 27 km! Asli Nanjak! :p

1557725_10200575114975398_1725566034_n

Untuk yang membawa kendaraan pribadi bisa diloading sampai di Desa Cisandaan dan numpang parkir di rumah penduduk.  Karena, waktu pulang akan melewati desa yang sama.

Di Desa Prabumulih setelah Pos Ronda (mentok) ambil jalan ke kiri, masih terus berupa turunan sampai ke Air Terjun Sang Hyang Taraje.  Untuk tiba di air terjun, sepeda bisa digowes.  Tapi diperlukan kehati-hatian yang super :). Saat kembali menuju Cisandaan,

Peta ringkasnya:

sanghyangtaraje

19.  Gunung Darajat-Cidadali-Garut 

Titik start adalah di Pasir Gagak, Gunung Darajat lebih kurang 25 km dari Garut kota.  Di awal jalur kita langsung disuguhi turunan di tengah perkebunan pinus dan palawija berupa single track  yang kadang-kadang sangat curam.  Sebaiknya kalau mau gowes di sini tidak terlalu banyak, karena akan menggangu kesan turunannya yang garing.  Turunan jalur tunggal berakhir di sebuh kampung kecil, selanjut berubah menjadi tanah pasir, masih menurun.  Memasuk kampung Pasir Wangi, jalur berubah menjadi beton, yang juga tetap turunan.  Jalur terus cenderung turunan sesekali diselingi tanjakan pendek tapi curam.  Tapi pada umumnya masih bisa digowes.

Bila penyuka AM jalur ini sangat cocok, bisa digowes langsung menuju Puncak Darajat lebih kurang 1500 mdpl. Dari Garut kota lebih kurang 25 km.  Atau bisa juga melingkar melewati punggungan sebelah barat, tidak melewati jalur jalan raya.  Melewati perkampungan dan sawah, tembusnya sama di puncak Darajat.

Jalur Gunung Darajat tembus ke Kampung Cidadali dimana jalur Cibeureum juga melewati kampung ini.  Bisa langsung tembus di pemandian Cipanas Garut!

20.  Gunung Karacak-Cilawu 

Jalur ini baru ditembuskan pada pertengahan Desember 2013, relatif masih perawan dengan vegetasi hutan pinus dan hutan tropis. Dari Garut kota hanya 6 km sampai ke titik offroad. Digowes langsung dari Garut kota hanya membutuhkan 30 menit, dengan kontur tanjakan sedang. Dua kilo meter kemudian memasuk hutan pinus, di Sukanegla. Dari sana kita harus TTB lebih kurang 15 menit.

Sesudah TTB, kita disuguhi turunan yang masih perawan.  Kadang-kadang jalur tidak terlihat karena pekatnya rumput dan semak-semak.  Tapi jalur ini masih bisa digowes sekalipun turun hujan.  Tanahnya keras, dan berada dalam kelebatan hutan pinus yang masih rapat.  Sesekali tampak monyet berloncatan dari pohon ke pohon, diselingi kicauan burung-burung hutan dan melayangnya burung elang yang  mencari mangsa.

Menurut informasi jalur ini sebenarnya bisa tembus ke Cirorek, Gunung Waspada dan Parentas, Cigalontan, Singaparna, Tasikmalaya.  Tapi baru yang tembus ke Cilawu  ini yang telah diexplorasi dan sangat rekomend untuk goweser yang suka AM.  Jarak tempuh total lebih kurang 6 jam (digowes full dari Garut kota).  Jalur ini hanya melewati dua tanjakan, selebihnya adalah turunan!

21. Gunung Papandayan-Pangalengan-Gunung Darajat

Dari kawah Gunung Papandayan harus TTB sejauh lebih kurang 3 km sampai di Lawang Angin (gerbang Pondok Saladah). Selanjutnya silakan meluncur di atas makadam yang bikin runyam.  Lebih kurang 2 km, kemudia ambil jalan jalan setapak.  Jangan mengikuti makadam. Single trek yang kiri kanannya berupa perkebunana palawija dan perkebunan teh terasa sangat sejuk dan nyaman.  Udara bersih, pemandangan yang cantik serta trek yang renyah seringkali membuat lupa diri para goweser.  Sehingga terjatuh karena terkena jebakan batman :)

Single trek di tengah perkebunan teh Sedep berakhir di Sedep, kemudian terus meluncur sampai di perkebunan Santosa Pangalengan.  Sesekali masuk jalan raya makadam di tengah perkebunan.  Lewat perkebunan Kertasari, Danau Cisanti, lanjut menuju Cibeureum Ciparay.

Di pertigaan Cibeureum ambil arah yang ke Puncak Darajat. Masih turunan sekitar 2 km.  Selanjutnya tanjakan super duper sekitar 4 km sampai di Puncak Cae.  Dari Puncak Cae, memasuki Gunung Gagak ambil single trek menuju sumur pengeboran uap sektar 4 km turunan single trek.  Hati-hati sangat curam tapi mengasyikan :).  Selanjutnya silakan ambil jalur jalan hotmix langsung ke Garut kota sejauh 25 km.

Berikut adalah peta jalur Papandayan-Pangalengan-Darajat

papandayan12

Untuk yang mau offroad-an di Garut silakan email ke dessulaeman@gmail.com atau facebook kami http://www.facebook.com/kgcgarut.mountainbike   atau kunjungi situs Komunitas Garut Cyclist (KGC Garut) via Kontak Kita.

Dengan senang hati, saya dan teman-teman akan menemani dan membatu dengan batas kmampuan yang ada hehehe :)

Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 6)

Memasuki  etape keenam atau etape terakhir Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan,  pada Sabtu (9/5/2015) atmosfernya tidak terasa seperti akan menjalani etape.  Mungkin karena pada etape ini jarak tempuh hanya 35 kilometer. Dari Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, menuju Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.  Etape keenam sepertinya Cuma funbike atau touring bike.  Tapi walaupun begitu kita tetap berangkat awal karena harus naik ferry menyeberangi Teluk Balikpapan, yang dalam waktu normal memakan waktu satu jam. Mendung bahkan hujan gerimis, mengiringi kepergian “orang gila” dari Penajam.

“Orang gila” itulah celetukan yang terdengar dari para penduduk lokal yang saling berbisik diantara mereka pada saat kami lewat atau beristirahat di warung, SPBU atau jongko batu akik.  Mungkin menurut mereka, sungguh kelakuan yang gak waras naik sepeda dari Banjarmasin sampai Balikpapan dengan sepeda. Udah panas membara, jalan hancur, naik – turun, yang total menempuh lebih dari 642 km.  Naik mobil atau motor aja, bikin pantat pegel.  Apalagi dengan mengayuh roda duda, eh dua.

Jam menunjukkan 06.30 WITA, cuaca sejuk bahkan cenderung mendung saat peserta mulai mengayuh pedal, dengan kalbu rindu mencumbu jalan yang cenderung mendatar dari Hotel Ika di Petung, Penajam Paser Utara.  Tiba Kantor Bupati Penajam Paser Utara di Penajam pada pukul 7.15, langsung memasuki area kantor bupati dan disambut Bupati Penajam Paser Utara beserta Muspida setempat.  Dilanjutkan dengan sarapan bersama dengan menu nasi kuning dan ketupat Penajam.

Pssst… ternyata di sini terjadi salah komunikasi.  Ada yang menyebut kalau Bupati Penajam itu bernama Budiman sama dengan Pimpinan Redaksi Kompas Budiman Tanurejo dan salah seorang peserta jelajah yang  juga bernama Budiman Setiono hehehe…

Rombongan jelajah langsung memacu sepeda setelah bendera start diayunkan oleh bupati tepat pukul 08.00. Seolah berburu dengan waktu peserta menggowes 15 kilometer menuju Pelabuhan Kariangau, Balikpapan. Entah karena jalan yang rata dan atmosfer “finish” sudah terasa.  Euphoria kemenangan begitu terasa.  Jalan yang kata Abah Agus Hermawan mestinya ada atanjakan malah tidak terasa sama sekali.  Bahkan, sempat terjadi perdebatan kalau rombongan bahkan tidak melewati hotel tempat sebagian peserta menginap semalam.  Karena tidak terasa ada tanjakan!  Jalur sejauh 15 km dilahap tak lebih dari setengah jam!  Gerimis menangis kembali menyambut saat tiba penyebrangan Teluk Balikpapan.  Langsung menaiki kapal feri untuk menikmati perjalanan laut sekitar 1 jam.

Dokter Monic yang Unik

Sesaat setelah berada di dalam kapal ferry, dokter Monica seperti biasa langsung “menjajakan” dagangannya yang dibagikan gratis kepada para peserta.  Dokter “kecil” yang tubuh mungilnya dibalut cardigan abu-abu.  Rambutnya panjang hitam legam, mengkilap sebahu.  Bentuk mukanya mendaun sirih tampak bersahaja tanpa make up.  Cantik.   Dari mulutnya, senyum simpul tak lepas menyapa calon pasiennya selama jelajah.  Kaki jenjangnya berbalut celana jeans lincah lari ke sana kemari mengajak jari jemari lentiknya menari-nari membagikan vitamin c, multivitamin, tolak angin, oralit, obat gosok, antimo dan obat-obatan lainnya.

Bahkan, tidak segan-segan dokter camperenik ini dibonceng sepeda motor agar bisa melihat kondisi fisik dan kesehatan peserta jelajah secara langsung di lapangan.   Tidak lupa, jari lentiknya yang mungil dengan wajah tertutup kain syal lincah mengabadikan setiap moment jelajah menggunakan I-phone miliknya atau kamera milik para peserta yang dititipkan kepadanya.  Mulut imutnya, tak henti berteriak: “Ayo-ayo siapa yang mau oralit! Oralit-oralit! Obat gosok, vitamin, neurobiron!”.  Saat berada di dalam ferry, ia terus berputar, berkeliling kapal sambil teriak-teriak:”Antimo, antimo… ada yang butuh antimo?!”  Tapi, sepertinya dia tak berdaya, saat ada peserta yang bertanya:” Dok ada kantung plastik… Kang Coe mabuk laut nih!”

Dihadang Tanjakan Edan

Mendarat di Pelabuhan Kariangau sekitar pukul 10.00 WITA rombongan disambut sejumlah goweser dari Penajam dan Balikpapan yang  ikut mengiringi sampai Balikpapan.  Rombongan beristirahat sebentar di sebuah warung, dan menikmati teh panas manis, bolu pasar dan kacang garing yang tidak garing lagi. Om Pipin, dengan toanya tak henti “berdoa” teriak-teriak perihal teknis pemberangkatan dan memanggil setiap peserta berdasarkan nomor.  Untuk kepentingan foto dokumentasi di sertifikat katanya.

Dengan kawalan patroli pengawal petugas dari Polres Balikpapan peserta segera melahap tanjakan curam selepas dari pelabuhan.  Tidak panjang paling Cuma 100 meteran.  Tapi lumayan, memerlukan teknik untuk melahapnya.  Ternyata jalan menuju kota Balikpapan dari pelabuhan cukup membuat fisik lelah juga, karena  walaupun pendek-pendek tanjakan yang dilewati tapi jumlahnya lumayan.  Tanjakan pendek kalau banyak mah yang tetep aja ditotal mah jadi tanjakan panjang juga!  Konon hal itu sangat wajar karena 70 persen wilayah Balikpapan berupa perbukitan.

Beberapa kali di sini “ngepur” tante Indah, yang “dikasih” nyusul tapi langsung ditempel sambil teriak-teriak “Ayoooo Indaaaah! Ayoooo Indaaaahhh!…” akhirnya, ketinggalan lagi.  Dikasih nyusul lagi, ditempel lagi, sambil kembali teriak-teriak; “Ayooooo Indaaaahhh!!!”, sambil ngikik! Karena sebel. Tante Indah langsung teriak ngedumel:”Waaaa, sialaaannn! Jangan ngepur gitu dong! Mati gue!”  Omelan disusul dengan ngakak berdua.

Setelah  lebih kurang  12 kilometer dari pelabuhan menikmati tanjakan demi tanjakan, peserta sampai ke protocol menyusuri jalan Rapak, kemudian menyusuri Jalan Minyak. Rombongan kompak dan utuh dalam barisan. Menikmati suasana jalan raya di Balikpapan.  Di hutan kota milik Pertamina, tepatnya di Jalan Minyak, rombongan ditahan oleh Om Pipin untuk sesi pemotretan, katanya! Sambil nunggu giliran atau rombongan lain, peserta yang sudah difoto menyempatkan diri berfoto ria.

Akhirnya peserta jelajah tiba di Pantai Melawai, Balikpapan, rombongan berfoto sejenak. Sebagian para penggila batu akik, kembali berburu batu akik dipantai.  Sebagian ahli hisap melepas lelah sambil mengurangi nyawa dengan asap rokok.  Ada yang sibuk sendiri dengan tongsis senyam senyum sendiri, moto sendiri.   Setelah rehat sejenak rombongan kemudian, melanjutkan perjalanan ke lokasi finish di Hotel Blue Sky.  Ternyata kembali ke jalan tadi kita datang.  Judulnya, kembali nanjak!

Setengah mengebut karena ingin cepat-cepat finish. Rombongan mengayuh sepeda setengah kesetanan, yang setengah lagi masih normal manusia yang butuh minum.  Rombongan jelajah tiba di hotel Blue Sky pukul 12.45.  Melihat baligo dan umbul-umbul biru bertuliskan KOMPAS di halaman hotel itu.  Seluruh peserta langsung berteriak “HOREEEEE!!!”.  Diarahkan menuju basement untuk memarkir sepeda.  Saat tiba di parkiran, semua meluapkan kegembiraan.  Saling menjabat tangan dan berpelukan.  Mengacungkan tangan dan mengepalkan tangan.   Juga menyiram air ke teman-teman mereka sembari tertawa-tawa penuh kebahagiaan.  Ibaratnya seperti “bucat bisul” (pecah bisul).

Perjuangan selama 6 hari, 6 etap, 600 km lebih selesai sudah.  Titik air mata, membuncah di pelupuk mata. Tak sampai jatuh, tapi cukup membuat haru biru.  Sambil terus berteriak-teriak bersama-sama: “Orang gilaaaa! Orang gilaaaaa! Orang gilaaaa! Orang gila!!!”. Tawa suka dan tepuk tangan membahana diruang parkir.

(foto-foto: Agus Hermawan, Dimas Basudewo, Zoe Monica)

Etape Kelima (123 km) : Grogot – Waru

Direncanakan etape kelima akan menempuh rute terpanjang yaitu 123 km.  Menempuh rute dari Tana Paser, Kabupaten Paser, menuju Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur akan start pada pukul 05.30. Sarapan yang biasanya pukul 05.30 pagi ini dimajukan pukul 04.30.  Walaupun badan lemes karena kurang tidur, serta paha dan betis yang mulai terasa pegal-pegal.  Tapi semua peserta masih bersemangat.  Bercanda ria dan bersenda gurau, bertukar ledekan atau berfoto bersama selama sarapan.  Senyum dan kelakar, serta say hello yang full senyuman tetap menghiasi edisi sarapan etape kelima ini.

Setelah sarapan, langsung checking sepeda.  Merupakan “aktipitas” rutin (pe-nya pinjam lidah Kang Coe sang RC yang selama jelajah selalu berteriak “Pormasi dua-dua! Ingat ya lidah saya lidah Sunda! Jadi itu harusnya pake “ep”!). Checking rem, kekerasan ban, shifter dan pastinya checking baud hanger RD pinjaman dari Om Rokhmat yang hanya menempel doang.  Alhamdulillah semuanya masih OK!  Walaupun ada sepeda cadangan milik sponsor.  Panitia sangat tegas terhadap peserta.  Sebelum sepeda yang dibawa peserta benar-benar tidak bisa dipakai dan kerusakan masih bisa diperbaiki.  Peserta tidak diijinkan untuk memakai sepeda cadangan yang disediakan sponsor.  Makanya, setiap peserta kudu checking sepedanya sebelum berangkat.

Pukul 06.15 setelah peregangan dan berdoa di halaman depan Hotel Grand Sadurengas, tempat menginap. bendera start dikibarkan oleh perwakilan pemda setempat. Rute yang ditempuh cukup panjang serta mengejar waktu shalat Jumat.  Walaupun rute yang akan ditempuh merupakan rute terpanjang tetapi peserta jelajah akan beristirahat cukup lama.  Mengikuti waktu yang menunaikan sholat jumat.

Sekitar satu kilo meter selepas start, rombongan jelajah berbelok ke arah Tugu Gentung Temiang (Telaga Ungu), sebuah tugu berbentuk monument jam besar, mungkin ikon Tana Paser. Bernarsis ria dengan berbagai pose.  Sendiri-sendiri, berdua, bertiga, beregu dan berombongan.  Setelah polisi pengawal perjalanan tiba. Pukul 06.40, peserta melanjutkan perjalanan. Disiram hangatnya sinar mentari pagi di Tana Paser.  Rombongan sepeda melaju melahap tanjakan dan turunan yang silih berganti. Namun, badan jalan tidak semulus seperti di daerah Kalimantan Selatan.   Begitu meninggalkan Tana Paser, jalan rusak parah dan aspal berlubang telah menghadang.  Bersahutan saling mengingatkan: “Awas lubang!” atau dengan isyarat tangan menunjuk lubang yang banyak menganga di atas jalan.

Di simpang Kuaro, sekitar 12 kilometer dari titik start, beristirahat mengingat banyak peserta yang tertinggal cukup jauh dari rombongan depan.  Jalan dari titik awal yang didominasi tanjakan, menjadikan banyak yang tertinggal dari rombongan.  Sambil melahap buah-buahan, kurma dan  minuman yang disediakan tim feeding.  Beberapa peserta menyempatkan diri buang air kecil, menumpang di sebuah warung bakso Solo.  Si Mas Bakso cerita kalo dia sudah 12 tahun mengembara dari Solo ke Simpang Kuaro.  Setahun bisa pulang 3 kali, berkah jualan bakso di Kalimantan.

Jalan aspal berlubang masih kudu dilewati oleh peserta jelajah sekitar 10 km. Kudu super hati-hati saat menghindari jalan berlubang, karena banyak mobil dan truk yang melaju kencang dari kedua arah. Jalanan masih didominasi dengan tanjakan dan turunan. Di kiri dan kanan jalan terlihat hamparan kebun kelapa sawit. Sesekali tercium bau busuk dari getah karet.  Kang Aris yang membuka angin dengan Om Ismet dengan dikapteni Kang Coe menggusur rombongan antara 28 – 32 km/jam.  Padahal lutut Kang Aris masih bengkak dan dibalut dengan kain mitela akibat terjatuh di perbatasan Kalsel-Kaltim waktu bernarsis ria.  Rombongan terus melaju bersama, kompak kelima puluh peserta yang berpakaian hitam dengan motif dayak melahap tanjakan demi tanjakan.

Neraka Bocor Ujian Mental

Perjalanan terasa lebih berat dari etape ketiga dan keempat yang didominasi tanjakan, karena cuaca yang teramat sangat panas terik. Suhu udara mencapai lebih 36 derajat celsius. Walaupun belum memasuki tengah hari tapi kulit tangan dan wajah yang sudah dibaluri sunblock, manset, dan buff tidak mampu meredam bara panasnya cuaca di Borneo. “Alllahu Akbar… ya Allah, tolong dinginkan, sejukan!” hati berbisik dalam harap yang teramat sangat.  Dalam kayuhan yang tetap konstan, jersey hitam telah basah kuyup oleh keringat.  Motoris yang bertugas mengisi vidon, cukup kewalahan mengisi ulang vidon para peserta yang terus bergantian mengacungkan vidon kosong. Rasa haus dan lelah, benar-benar menguras fisik seluruh peserta jelajah.

“Sepertinya neraka bocor! Panasnya minta ampun!” seorang peserta berteriak.  Cuaca panasnya hampir tak tertahankan oleh para peserta jelajah.  Namun, semangat dan ketahanan fisik serta mental benar-benar diuji di etape kelima ini.  Walaupun, fisik bagus tapi mentalnya lemah.  Bisa dipastikan minta dievak dengan berbagai alasan.  Sebaliknya, bila mental kuat walaupun fisik lemah.  Dalam keletihan seperti apapun dalam bersepeda bila mentalnya kuat akan menguji dalam kesabaran, ketabahan, kesetiakawanan dan mengendalikan ego seseorang.

Bersepeda itu olah raga yang sebenarnya melatih mental daripada fisik.  Seringkali pada waktu melihat tanjakan yang curam.  Beberapa peserta melambatkan kayuhan dan mengacungkan tangan minta didorong.  Bahkan, ada yang langsung minta dievak. Tidak baik memang, tapi itulah uniknya bersepeda bisa menggambarkan mental dan sifat seseorang.  Bukan tinggi rendahnya jabatan,pangkat atau keudukan; bukan mahal murahnya sepeda; bukan kaya miskinnya seseorang; bukan warna kulit yang dihargai dan dihormati sesama goweser.  Tetapi jiwa besar, kesabaran, ketabahan dan kesetiakawanannya!

Dalam kelelahannya beberapa orang yang masih mempunyai cadangan lebih, ikhlas membantu marshal mendorong para srikandi yang kendor gowesannya.  Beberapa kali Tante Intan dari KGC Jakarta yang terlihat mulai lusuh letih, lemah, dan lunglai,ibarat cucian yang kusut. Saat menghadapi tanjakan, dibantu bergantian oleh Om Rokhmat, Om Mega, Om Fami, Om Priyo, Om Imam, Om Dimas dan dewan penasehat Abah Ush. Supaya tetap dalam rombongan dan kebersamaan group KGC.

Tim marshal terus berusaha beberapa kali mendorong peserta agar kuat menanjak dan mempertahankan laju di 28-32 km/jam demi mengejar waktu sholat jumat.  Karena jarak antara satu kampung dengan kampung tidak seperti jawa yang rapat dan berdekatan.  Di jalur lintas Borneo ini, jangankan jarak antara satu kecamatan dengan kecamatan lain.  Jarak antara satu atau dua rumah yang dilewati di tengah perjalan, jaraknya bisa belasan kilo bahkan puluhan kilometer.  Untuk membakar semangat, yang mulai redup karena fisik yang dihajar habis-habisan oleh cuaca yang  sangat panas.  Sesekali terdengar Kang Coe berteriak: “Mana Suaranyaaaa!!!” yang dijawab dengan sorakan yang nyaris tidak terdengar dan tidak kompak lagi!

Jumatan Berpakaian Basah Kuyup.

Jarak sekitar 60 km yang telah ditempuh dari total sejauh 122,76 kilometer beberapa kali terdengar teriakan minta rehat dari para peserta saat menemui masjid yang cukup besar. Walaupun memang waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 WITA. Tapi sepertinya bukan jumatan yang menjadi alasan utama.  Tapi rasa penat dan lelah dari fisik akibat cuaca panas dan tenaga yang terkuras akibat digeber sejak dari awal! Bahkan, Kang Aris yang membuka angin di depan hampir kebablasan mengangkat dan mengepalkan tangan tanda rombongan harus istirahat.  Untunglah Kang Coe yang berada tidak jauh dari Kang Haris berteriak: “Bukan di sini! Sebentar lagi masih di depan tempat istirahat mah! Nanti juga ada yang patwal yang mencegat!”.

Harapan untuk sedikit menarik nafas legapun sirna.  Rombongan yang perlahan sudah mengurangi kecepatan pun kembali melaju, ditarik perlahan pada kecepatan 28 km/jam.  “Edan! Gak pada punya udel apa?!” , teriak Amel, peserta wanita yang paling muda!  Ternyata kalimat “sebentar lagi” hanya PHP (Pemberi Harapan Palsu).  Kondisi fisik dan mental sepertinya sudah pada puncak kelelahan.  Kayuhan kaki hampir gak sinkron lagi.  Kontroling handlebar jadi gak lurus lagi, di tanjakan yang derajat kemiringannya aduhai dan panjang membuat perjalanan akhir ke tempat jumatan terasa sagat lama sekali.  Padahal jarak yang ditempuh tidak lebih dari 6-7 km saja.

Alhamdulillah, akhirnya terlihat dua orang petugas patwal yang member isyarat agar rombongan menepi dan berhenti di masjid Nurul Ijtihad, Desa Long Kali Kabupaten Paser, Kaltim.  Yang terletak di depan sebuah pasar yang cukup ramai dan perumahan penduduk yang cukup padat.  Waktu menunjukan pukul 11.15. Menyandarkan sepeda di tembok pagar mesjid, buka kacamata, buka helem, buka buff dan jersey yang basah kuyup oleh keringat, buka sepatu dan kaos kaki.  Hampir seluruh peserta mencari tempat yang menurut pikiraan masing-masing nyaman dan teduh untuk beristirahat. Lagi-lagi hanya mimpi dan pemberian harapan palsu semata, ternyata mesjid, warung kecil dan rumah-rumah atau bangunan madrasah sekitar mesjid. Ternyata beratapkan seng! Kepala udah “tuwing-tuwing” bin “kleyengan” saking panasnya.

Sudah Digarang Masuk Oven pula

Bayangkan, sudah gowes sekitar 70 km dalam keadaan panas terik membaranya sang raja cahaya.  Dalam keadaan letih dan baju basah kuyup oleh keringat, saat ingin beristirahat dalam keteduhan.  Ternyata yang ditemukan atap-atap seng.  Setelah digarang habis-habisan, kudu masuk “oven” pula!  Saat makan siang, mungkin karena jarak yang sangat jauh serta cuaca panas.  Nasi yang ada pada kotak yang dibagikan, hampir dua kali lipat dari biasanya!  Buwanyaaaak banget! Tapi keras! Lengkaplah sudah ujian dan cobaan hari ini.

Dua kali jersey yang dicuci dan dipakai basah-basah di tubuh kering hanya dalam waktu hitungan menit .  Pada waktu jumatan pun jersey kembali dicelupkan ke dalam air, diperas dan langsung dipakai.  Untuk mengurangi panas saat di dalam mesjid. Kering hanya dalam waktu sesaat! Luar biasa.  Terpikir juga kenapa ya koq ada orang yang bisa hidup dan bertahan di daerah panas seperti ini.  Sambil menunggu sholat jumat mengobrol dengan anak-anak setempat yang berkumpul dan mendekati malu-malu.  Setelah dibagi beng-beng, fitbar dan buah peer perlahan mereka berani ngobrol.   Saat ditanya, memang setiap hari sepanjang tahun cuacanya panas begini?  Mereka serempak menjawab, iya!  Kadang-kadang hujan juga, tapi tetap aja “hareudang” bin panas, kata mereka lagi.

Molor Waktu, Molor!

Panitia dan tim marshal sepertinya memaklumi cuaca yang teramat panas.  Rencana start kembali pukul 13.00 diundur menjadi pukul 14.00.  Molornya waktu terebut digunakan sebaik-baiknya oleh para peserta untuk molor.  Bergelimpanganlah hampir semua peserta di berbagai sudut mejid dan madrasah.  Untuk mengembalikan kesegaran fisik yang masih harus menempuh sekitar 52 km lagi menuju kota Waru.   Semua sudah memahami betul kondisi fisik dan mental yang letih mengharuskan mereka lebih berhati-hati saat mengayuh pedal.  Salah satu recovery yang terbaik adalah tidur sekejap tapi berkualitas.  Lelap. Walaupun sesaat.  Tubuh akan kembali segar.

“Priiiit, Priiiiit….!!!” Terdengar bunyi peluit tanda persiapan.  Pukul 13.45. Walaupun hanya sekejap, terasa nikmat .  Semua bersiap-siap. Tak ada umpatan atau omelan.  Kembali bersiap dan saling mengingatkan kalau-kalau ada barang ketinggalan.  Om Nuzul goweser Tana Paser yang rencananya akan mengantar rombongan sampai Balikpapan, menawarkan obat gosok berupa cream agar kaki tidak keram.  Lumayan, paha dan betis yang asalnya terasa pegal-pegal berkurang.  “Ini obat gosok asli dari Kalimantan Kang.  Panasnya sekitar 20 sampai 30 menit, tapi bagian tubuh yang diolesi akan enakan!, kata Om Nuzul yang entah kenapa disebut Nuzul Edan karena selama perjalanan tidak menunjukan gejala-gejala edannya hehehe….

“Tinggal 50 km, ayo semangat Yah! Semoga cuacanya didinginkan dan diteduhkan!”, itulah pesan WA anak-anak dan anak mertua saya.  Yang selama perjalanan berkomunikasi melalui WA. Plus kirim-kirim foto untuk mengurangi rasa rindu akan rumah.

Perjalanan dilanjut dalam cuaca yang tidak berubah, sekalipun sudah memasuki sore hari.  Tanjakan dan turunan bergantian menyambut rombongan yang sudah mulai gowes “goyang dumang”.  Di kiri kanan jalan masih dipenuhi perkebunan kelapa sawit dan karet.  Jalurnya masih lurus hampir tidak ada belokan kiri atau kanan.  Rolling, rolling, dan rolling 50 pasang kaki mengayuh bersamaan dan kompak menciptakan lagu kecepatan antara 28-32 km/jam (belakangan Kang Aris berbisik, di speedo saya malah sampai 35 km/jam!).

Om Martha Mufreni sang pelatih, yang berada di belakang rombongan.  Tiba-tiba menyusul dan berpindah rombongan.  Sepeda single gear-nya mengharuskan dia melakukan interval saat menghadapi tanjakan.  Tapi karena mungkin sudah letih, Kang Haris yang berada di depan menyangka Om Martha sengaja menarik kecepatan rombongan yang memang mulai melambat. Dan… terjadilan hiruk pikuk dan teriakan “huuuuu…!”, “Hihaaa…!”, “Hajaaar…!” dan teriakan lainnya, yang diikuti meluncurnya para peserta yang menghajar tanjakan dengan powernya! Ngebut semua dah! Rombongan pun jadi cerai berai tak karuan!

Finish!

“Masih jauh gak Pak?”, Tanya saya kepada polisi patwal.

“Ya, sekitar 7 km lagilah!”, jawab polisi yang berbadan cukup tambun itu enteng.

“Ealah…Bapak mah PHP doang, dari tadi tempat kita istirahat dibilangnya tinggal 10 km lagi! Udah hampir 23 km koq gak nyampe-nyampe!”, timpal saya.

“Hehehe… kan biar semangat Pak!” ucapnya lagi.

Tampaknya ucapan polisi patwal itu kali ini tidak PHP lagi, saat Kang Idham yang pernah gowes touring di jalur ini mengatakan hal yang sama.  Paling 7 km lagi, saat keliatan kantor polisi berarti sudah nyampe di Waru! Kata Kang Idham.  Ternyata benar, setelah rehat dan menunggu rombongan lengkap. Baru gowes sekitar 3 km.  Suasana kota mulai terasa.  Lalu lintas mulai ramai, lampu kiri kanan terang benderang.  Perumahan penduduk tidak lagi didominasi atap seng.  Berganti dengan gedung-gedung dan rumah permanen.  Kecepatan rombongan terasa makin bertambah seiring dengan makin dekatnya tempat finish.

Tepat, pukul 17.45 WITA saat rombongan melihat umbul-umbul dan baligo berwarna biru bertuliskan KOMPAS di sebuah hotel. Rombongan pun serentak berteriak, “Horeeee…!!!”.  Semuanya langsung masuk ke halaman hotel.  Tepuk tangan, high five dan saling salaman serta pelukan kebahagiaan bercampur baur dengan senyuman, tawa lebar dan mata yang berkaca-kaca! Etape kelima adalah perjalanan yang sangat super melelahkan. Kegembiraan tak henti, dibarengi dengan foto-foto bersama.  Tangan saling bergandengan, salam komando, dan tawa lebar menghiasi foto-foto sore menjelang malam hari itu.

Di tempat parkir telah disiapkan sop es buah dan aneka makanan khas.  Seperti kesetanan, semuanya serempak berebutan menyerbu sop es buah.  Idaman yang dibayangkan dicumbu selama perjalanan yang panas membara selama siang ini. Menikmati, dingin dan manisnya sop buah yang saat melewati tenggorokan seperti terpenuhinya rasa rindu pada kekasih hati!

(foto2: dokter Monica dan om Dimas Basudewo)

Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 4)

Etape Keempat (70 ( km) : Batu Kajang – Grogot

Memasuki etape keempat akan menempuh lebih kurang 70 km antara Batu Kajang menuju Tana Paser, ibu kota Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (ternyata mencapai 90 km karena plus funbike). Menurut informasi dari Om Nuzul goweser setempat yang ikut rombongan jelajah, peserta masih menghadapi jalan di perbukitan yang menguras tenaga.  Walaupun, tidak seberat medan tanjakan kemarin.  Sudah menanjak, puwanas pula! Om Nuzul, mengatakan tanjakan di Gunung Rambutan lebih ramah, karena tidak curam dan teduh oleh pepohonan.  Sehingga tanjakan tersebut pasti dapat dilalui dengan cukup mudah oleh para peserta.

Dari Hotel Permata, tempat 50 peserta menginap sekaligus menjadi titik start etape keempat Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan.  Walaupun di etape ketiga, dihajar medan yang cukup lumayan berat (menyenangkan tapi melelahkan), teman-teman jelajah tampak masih sangat bersemangat melahap etape keempat.  Setelah sarapan pagi, langsung melakukan ritual pemanasan berupa peregangan yang kali ini dipimpin oleh Om Ismet, marshal yang bertubuh gempal, berpipi gemil seperti pipi balita!

Saat baru peregangan pada paha, tiba-tiba Om Ismet menahan ketawa ngikik.  Sambil menunjukkan tangan ke arah belakang.  Semua peserta, serenta mengikuti arah telunjuknya.  Akhirnya, semua juga jadi tertawa tertahan.  Ternyata di belakang barisan.  Om Rein, si bungsu yang bertubuh kecil mungil. Malah terbengong-bengong.  Diam seperti patung dengan tatapan kosong. Kedua jemari tangan dimasukan ke dalam saku celananya. Entah melamun, atau memang lowbat!  Sepersekian detik, Om Rein belum juga “ngeh” kalau semua mata tertuju dan mentertawakan kelakuan bengongnya!  Setelah dipanggil beberapa kali.  Baru dia tersadar! Peregangan pagi itu makin lengkap setelah tertawa melihat “lawakan” si bungsu Rein.

Rein yang pada awal-awal perkenalan dibayangkan oleh teman-teman JSBB di dalam group WA itu berperawakan tinggi besar, bertubuh tegap, berdada bidang.  Wajahnya berewokan tapi tak berkumis.  Eh, pas ketemu langsung orangnya.  Semua pada senyum dikulum.  Ternyata Om Rein ini berpenampilan sebaliknya. Tubuhnya kecil mungil, badannya kurus pendek, celana dan bajunya terlihat terlalu kebesaran.  Begitupun sepeda dan sandal sepatunya.  Di rak sepedanya, selalu terselip kantung kecil yang entah apa isinya.  Kalo menurut Om Baron itu sepertinya jimat!

Rein, adalah nama yang paling rame mengomentari di groups JSBB.  Panitia memang memfasilistasi di dalam Whatsapp untuk saling memperkenalkan diri dan saling menggali informasi dari sesama teman-teman peserta jelajah.  Bagi, yang awam pada awalnya dianggap serius.  Sehingga informasi yang masuk dianggap “beneran”.  Banyak peserta mengaku-ngaku “newbie” mohon nasihat dari para suhu atau para senior.  Ada newbie, yang pura-pura tidak bisa cara setting sepeda saat nanti sepeda harus dibongkar.Hal guyonan itu ditanggapi dengan serius oleh yang awam dan menawarkan diri dengan penuh percaya diri untuk membantunya.  Om Marta Mufreni, lebih gila lagi.  Dia menawarkan jersey JSBB dengan syarat utama, baru bisa dibeli kalau pembeli sudah bisa mencapai 500 km.  Eh, ada yang percaya juga! Menurut Om Marta, sampai beberapa orang kirim private massge dia pesan sekian buah jersey.  Setelah saling mengenal lebih jauh, dalam group JSBB kemarin.  Baru pada “ngeh” kalau anggota group JSBB itu orang “gila” semua! :D

Dikasih Uang Jajan

Peserta jelajah mulai menyusuri jalan raya Batu Kajang-Gerogot dengan semangat tinggi.  Tanjakan demi tanjakan yang dibilang flat oleh goweser Borneo.  Satu persatu dilalui.  Tak jarang selama perjalanan anak-anak SD bersorak dan bertepuk tangan sambil berteriak dengan aksen seperti Upin dan Ipin: “Duh, banyaknyaaaaa!!!” atau “Wuih, ramainyaaaa!!!”

Saat melewati sebuah tanjakan, tiba-tiba sebuah mobil MPV sang sopir yang menurut Om Sugeng seorang wanita cantik berjilbab.  Melambatkan dan mendekati rombongan sambil berteriak dan memberi acungan jempol. “Salut, saya kagum dengan kalian! Nih buat beli kopi dan minuman ya!” , teriak sopir itu sambil menyerahkan uang 100 ribu rupiah yang diterima oleh Om Sugeng peserta jelajah yang penampilannya sudah “sepuh”.  Padahal, di dalam rombongan Om Sugeng justru selalu berada di barisan kedua atau ketiga!

Om Sugeng mempunyai ciri khas selama jelajah, yaitu di belakan sepedanya ditandai dengan bendera kecil yang dipasang pada sebuah bambu kecil.  Pada hari pertama bendera yang dipasang, satu.  Hari kedua, dua bendera. Jumlah bendera menandakan jumlah etape yang telah berhasil diselesaikan.

Menikmati Tanjakan Gunung Rambutan

Belum sampai 5 kilometer dari Batu Kajang, peserta langsung menemui tanjakan namun tanjakan tersebut tidak terlalu menyiksa karena tidak terlalu curam plus aspal jalannya mulus.  Peserta jelajah masih bisa gowes bareng berombongan dengan “Pormasi dua-dua!”.  Kelima Marshal dan RC pun tampak tidak terlalu tersiksa karena tidak harus mengatur dan mendorong peserta yang kedodoran.  Udah masih teduh dan cukup mendukung untuk menggowes sepeda.  Selain karena pepohonan di Gunung Rambutan yang cukup rapat.  Juga cuaca yang sedikit mendung.

Setelah mencumbu rayu tanjakan dengan mengayuh sepeda lebih kurang dua jam,  akhirnya sampai di Air Terjun Gunung Rambutan, Desa Sungai Terik, Kecamatan Batu Sopang. Air terjunnya tidak terlalu tinggi hanya sekitar 20 meter.  Tapi airnya yang jernih cukup mengundang para peserta jelajah untuk rehat sejenak berfoto. Konon di kolam air terjun tersebut ada seekor buaya muara. Lebih memilih untuk tidak rehat, melanjutkan gowes menuju puncak gunung rambutan bersama dengan Kang Idham dan Tante Intan, sesekali bernyanyi-nyanyi sambil menikmat kayuhan.  Makin mendekati puncak, tanjakan makin curam.  Masih bisa bercanda dan bernyanyi ria. Tapi tidak securam tanjakan di Garut atau Bandung, yang jangankan bercanda atau bernyanyi. Bahkan, kepala harus khusu tertunduk lesu!

Para peserta jelajah akhirnya tiba di lokasi tertinggi Pegunungan Meratus. Ditandai dengan sebuah pohon yang sangat eksotis.  Cabang dan rantingnya membulat.  Nun jauh di bawah sana, pemandangan menghijau ranau.  Awan putih pun sepertinya mencoba menggoda agar para peserta berfoto ria mengabadikan pemandangan tersebut.  Setelah puas bernarsis ria.  Rombongan jelajah masih mencumbu turunan dan tanjakan yang silih berganti yang juga berkelok-kelok sesudah Gunung Rambutan.  Aspal yang melapisi jalan relative masih mulus. Jalan berlubang baru dijumpai setelah tiba persimpangan Kuaro, 25 km dari Tana Paser, ibu kota Kabupaten Paser.

Hujan gerimis sempat turun saat peserta melintasi daerah pegunungan itu hingga ke simpang Kuaro. Memasuki tengah hari peserta jelajah sudah masuk Tana Paser, yang lebih dikenal dengan nama Tanah Grogot.  Saat memasuki kota Grogot tampak satu monument berupa jam besar yang berupa ungu.  Ternyata makin memasuk perkotaan, semua bangunan, pagar, menara mesjid, tembok bangunan didominasi warna ungu.  Mungkin ungu menjadi ciri khas dari kota Grogot.

Rombongan langsung menuju masjid Grogot yang jugan berwarna ungu.  Arsitekturnya tampak sangat indah.  Lapangan parkir dan halamannya masih dalam penyelesaian.  Di dalam mesjid pun warna tembok masih ungu.  Lukisan kaligrafi yang sangat indah pun terpampang pada tembok dalam mesjid dan kubah mesjid.  Lampu Kristal menambah kecantikan dan keanggunan kaligrafi dan interior masjid itu.

Setelah menunaikan sholat dhuhur dan makan siang, rombongan jelajah bersama-sama dengan goweser Tana Paser, Grogot dan Kapolres-nya funbike keliling kota.  Mengunjungi musim kesultanan setempat, ambil foto keluarga dan kembali gowes menuju Hotel Grand Sadurengas tempat menginap yang juga berwarna ungu.

Ganti Kamar 4 Kali

Hotel Grand Sadurengas yang menurut Mbah Google berstatus bintang empat, diresmikan pada tahun 2012 sebagai hotel milik pemda setempat.  Saat memasuki kamar di lantai satu hotel termewah di Tana Paser itu, ternyata pendingin ruangan tidak jalan.  Komplain ke teknisi, kemudian melihat dan mendekatkan lengannya ke ventilasi AC.  Menurut teknisi itu, AC-nya rusak.  Jadi pindah kamar lain.  Karena sudah teramat penat akibat gowes hampir 90 km lebih. Tas pakaian dibawain oleh bell boy menuju ke kamar pengganti.  Weleh, ternyata saat digesekan kartu kamarnya.  Pintu gak bisa dibuka! Macet! Programnya Rusak! Kata bell boy itu yang melalui HT meminta kamar pengganti yang baru.  Di pindah ke kamar penggati lain.  Bisa dibuka.  Ternyata AC-nya rusak juga!  Asem!!!

Karena sudah terlalu lelah, bersama Kang Dede sementara tiduran dan menunggu teknisi membetulkan AC.  Ternyata tidak datang.  Waktu sudah menunjukkan pukul 22 tapi gak bisa tidur.  Karena ruangan yang panas.  Kang Dede yang kesal, menghubungi petugas hotel. Sepuluh menit kemudian, malah bell boy yang tadi yang datang.  Memohon maaf, supaya kita pindah lagi.  Ke kamar single bed, dengan bed tambahan!  Mendengar itu, Kang Dede sudah habis kesabarannya.  “Panggil manajernya ke sini.  Lucu banget, sudah dipindah kamar tiga kali dengan kondisi tidak nyaman.  Malah mau dipindah ke kamar lebih kecil!  Dimana-mana juga kalau kompensasi itu harus ke yang lebih baik! Bukan dipindah ke kamar yang lebih jelek!”.  Pelayan kamar ngeloyor pergi sambil berkomunikasi dengan manajernya.

Setelah menunggu lebih kurang setengah jam.  Pelayan itu balik lagi ke kamar. “Pak mohon maaf atas ketidaknyamanannya.  Kata manajer, Bapak berdua silakan pindah ke Deluxe Suite Room di lantai tiga”.  Setengah mengantuk, tas dan pakaian dibawakan oleh pelayan hotel yang berulang-ulang minta maaf!  Di dalam kamar setelah mandi dan siap untuk tidur,

Kang Dede berucap:” Lamun teu kieu mah iraha deui urang bisa sare di Kamar Deluxe Suite Room hahahaha….!”

Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 3)

Etape Ketiga (113 km) : Tanjung – Batu Kajang

Kang Dede Supriatna, my roommate, yang pinter tidur.  Telah siap untuk melahap tanjakan pegunungan Meratus atau Gunung Halat.  Jam 05.00 sudah membereskan pakaian dan merapikan ke dalam 2 tasnya. Satu tas travel bag, satu lagi tas kardus dari Kompas (dietape berikutnya, jadi kantong plastik. Karena tas kardus jebol).  Setelah tiga hari, mengenal Kang Dede, jadi tahu kalo beliau tidak hanya jago tanjakan.  Tapi juga jagoan tidur.  Dalam kondisi apapun.  Duduk atau terbaring, telentang atau tengkurap. Pegang hape atau Koran.  Bahkan sedang ngobrol.  Sering dibuat mangkel.  Ternyata, saat asyik ngobrol.  Saat ditanya.  Dia terdiam.  Ternyata dia sudah tertidur pulas! Selain “jatan” jago tanjakan, ternyata Kang Dede juga “jahe” jago hees (tidur).

Saat masuk ke ruang makan di hotel Jelita, Tanjung.  Pukul 05.30 ternyata teman-teman senasib sepenanggungan sudah banyak yang sarapan. Senyum sapa saling terlontar dari mulut para peserta.  Wajah-wajah mereka memancarkan semangat membara mencumbu tanjakan dietape ketiga. Sambil mencicipi sarapan dan minuman beraneka ragam.

Para peserta, saat sarapan disuguhi seni tradisional setempat. Entah seni apa namanya, tampak seorang penabuh gendang, pemetik sampek (alat musik berdawai), bedug kecil, biola, serta gong.  Semua pemain musik itu memakai pakaian tradisional melayu bernuansa warna kuning.  Vokalisnya seorang gadis muda.  Usianya sekitar 19 tahunan. Berkebaya ala melayu yang juga berpakaian serba kuning bahan kain sepertinya dari satin, mengkilap. Tubuh penyanyi itu langsing. Kulitnya kuning langsat.  Wajahnya cantik, hidung mancung, matanya berbinar dagunya mendaun sirih, dengan pipi merah merona. Rambutnya yang hitam legam dikonde, ditutupi sejenis topi kecil yang dibalut kerudung hijau yang turun sampai menutup lengan dan dadanya.  Tampak ramah, bibirnya yang merah tipis, tak henti melontarkan senyum, saat beberapa orang ingin berfoto ria dengannya.  Suaranya merdu mendayu-dayu, mengingatkan pada pacar yang pasti sama sekali pasti tidak pernah merasa punya pacar seperti saya yaitu: Siti Nurhaliza!

Sesudah sarapan sekitar pukul 07.00 WITA, beriringan menuju pendopo kabupaten Tabalong yang letaknya tidak jauh dengan penginapan.  Pada acara pelepasan Bupati Tabalong  mengatakan, “Tadi malam katanya ada yang tidak kebagian mencicipi soto ayam bapukah ya? Karena kehabisan?  Andai kawan-kawan di sini sampai siang, kita bisa menikmati nasi paliat, kuliner khas Tabalong,” ujarnya.  Beberapa peserta langsung berteriak, “Betul Pak banyak yang gak kebagian makan!.  Kalo begitu nanti kirim aja ke Batu Kajang Pak!”

Dihajar Tanjakan

Sebelum melahap etape ketiga ini, dibisikin Kang Coe Waelah sang maestro alias RC dan Abah Ush.  “Nanti, dietape ketiga dinikmati aja. Tanjakannya cukup panjang.  Jangan terpancing oleh yang lain.  Ikuti saja ritmik dan cadence kita aja!”.

Ternyata benar, sekitar 15 km selepas Tanjung, langsung dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan bergantian dengan jalan yang menurun, di gugusan Pegunungan Meratus.  Tanjakan dan turunan sambung-menyambung.   Medan itu pun cukup menguras stamina pesepeda, ditambah lagi dengan cuaca cukup terik dengan suhu udara menembus 30 derajat celsius.  Banyak peserta yang mengandalkan power terjebak dengan tanjakan yang panjang dan cukup curam.  Mereka sambil berteriak-teriak, “Awas wanita-wanita! Kasih jalan!” sambil menyalip para peserta yang gowesannya dinilai lambat dan menghalangi lajunya.  Saya yang gowes berdampingan dengan Intan Ungaling sambil tersenyum hanya bisa berkata “Mangga, silakan…duluan!”, sambil tetap ngicik pelan.  Saya camkan nasihat Abah Ush dan Kang Coe Waelah, yang juga sudah melaju di depan menuruti kemauan para peserta yang bernafsu melahap tanjakan.

Untuk mereka yang mempunyai fisik yang baik dan terlatih mungkin tanjakan-tanjakan tersebut bukan hal yang sulit.  Tapi bagi mereka, yang fisiknya kurang baik, dan tidak terlatih.  Bila terpancing dengan mereka yang mempunyai kemampuan fisik mumpuni, justru akan terjebak dan menyiksa diri sendiri.  Belum sepertiga tanjakan yang harus dilahap.  Mereka sudah harus TTB (Tungtun Bike) berjamaah, dengan langkah yang gontai mendorong sepeda. Saya yang ngicik pelan bareng Intan akhirnya bisa mendahului mereka.  Saat mendahului mereka yang dituntun di tanjakan yang tidak terlalu curam, tapi panjang.  Saya bernyanyi lagu Ebit G Ade:  “Kau tampak tua dan lelah…!” sambil ngikik dan terus ngicik.

Di etapi ketiga ini para goweser tidak lagi dalam satu rombongan penuh. Sudah tercerai berai!  Para motoris dan mobil evakuasi sangat sibuk, mendorong mereka yang keteteran.  Kondisi jalan yang menanjak membuat para goweser harus lebih mengerahkan tidak hanya kekuatan fisiknya agar tetap berada bersama rombongan.  Tapi juga teknik gowes dengan putaran kecil tapi cepat dan tetap.  Yang kurang terlatih pasti paha akan panas! Kalau masih menggunakan tenaga fisik, pasti tidak sampai 50 meter langsung TTB lagi. Para marshall tetap setia menggiring para goweser yang berada di bagian belakang rombongan.  Tak kenal lelah dan fisik yang patut diacungi dua jempol.   Mereka bergantian saling mendorong peserta yang kedodoran.  Terutama peserta wanita.  Melewati punggung gunung Halat yang menjadi perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur ini. Medan yang dilewati cenderung bergelombang naik dan turun.

Memasuki tengah hari tim jelajah tiba di perbatasan Kalsel-Kaltim.  Peserta beristirahat untuk makan siang.  Perjalanan yang ditempuh sudah mencapai 72 km kemungkinan sebelum Matahari tenggelam di ufuk barat rombongan sudah masuk penginapan.

Menu makan siang kali ini adalah bebek goreng kaliyo yang dibungkus  dalam kotak. Seumur-umur, jujur saya belum pernah mencicipi daging bebek.  Namun daripada lapar, sedangkan tanjakan masih panjang.  Akhirnya bebek goreng berwarna hitam itu dilahap dibarengi minum teh manis dingin.  Satu suap nasi dan daging bebek, langsung ditelan, didorong dengan air teh.  Perasaan mual karena tidak terbiasa makan daging bebek.  Sebisa mungkin ditahan.  Alhamdulillah, akhirnya tandas juga.   Panitia biasanya menyiapkan makan siang yang sangat berselera.  Biasanya menyiapkan dua pilihan.   Lauknya berupa ikan atau daging.  Mungkin karena daerah perbatasan sangat jauh dari perkotaan sehingga tidak ada rumah makan yang representatif. Alhasil, peserta makan di warung yang ada di perbatasan dengan menu yang ada.

Saat tengah makan, melihat Kang Coe Waelah baru tiba.  Wajahnya yang terbakar matahari, berkeringat. Terlihat sangat lelah.  Ia langsung membuka sepatu cleatnya.  Lalu berkata dengan menggunakan bahasa isyarat.  Sepertinya untuk berbicara pun dia sudah tak sanggup karena penat yang sangat.  Yang punya warung, langsung bisa membaca bahasa isyarat Kang Coe.  Ia berteriak pada anaknya, ada yang mau ikut tidur, dan meminta untuk diberikan bantal.  Kang Coe langsung masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya.Tidur!  Pantas saja, Kang Coe akan sangat terkuras fisiknya.  Beberapa kali dia bolak-balik mendorong tema-teman yang keteteran agar tidak tertinggal rombongan.  Memang ada motoris yang membantu, tapi jumlah tidak cukup banyak.  Sehingga teman-teman marshall harus bekerja keras.

Saat akan sholat Dhuhur, di samping pintu mushola.Tidak jauh dengan keadaan Kang Coe yang kelelahan.  Di sini Om Mega sedang makan siang sambil selonjoran.  Sepertinya dia juga lelah sangat. Disampin Om Mega terbaring Kang Dede yang walaupun bukan marshall mendorong para peserta yang keteteran. “Leungeun kuring asa sengklek euy…!” (Tangan saya seperti patah!) katanya.  Walaupun dia warga keturunan, tapi perilaku dan gaya bicaranya sudah sangat nyunda. Ia bahkan sepertinya sudah sangat sulit untuk berbicara bahasa Indonesia, kalaupun bisa.  Tapi sangat nyunda sekali gaya bahasanya.  Kalau menurut saya, ini gunung salah nama.  Bagi para goweser gunung ini lebih cocok diberi gunung Lahat!  Mengingat tanjakan yang silih berganti dengan turunan.  Nyaris tak ada ujungnya.  Konon saat memasuki Kaltim, jalur tidak jauh berbeda sampai memasuk kota Batu Kajang!

Panasnya sinar matahari yang sedang obral, menjadikan ujian semakin lengkap. Dua kilometer menjelang pintu perbatasan saat makan siang dan regrouping.  Beberapa peserta yang “ngebut” di tanjakan akhirnya dievakuasi. Yaitu Om Rauyani dari B2W Pontianak dan Om Lukman dari Sulawesi.  Banyaknya peserta yang dievak memunculkan celetukan seorang peserta. “Di jalan datar mereka ngebut-ngebut, pecicilan. Eh, pas nanjak langsung keteteran. Ada yang didorong, ada yang kemudian dievak.”  Karakter seseorang terlihat ketika ujian dan kesulitan menimpanya.

Pada waktu berfoto bersama di depan gapura perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur terjadi hal yang tidak diinginkan.  Om Aris, salah seorang marshal yang ganten dan tukang narik rombongan sampai 35 km/jam.  Tiba-tiba melompat ke atas untuk beraksi.  Tidak menyadari, aspal di bawahnya tidak rata. Kaki om Aris mendarat tidak sempurna.  Dia terjatuh.  Lututnya menghantam aspal cukup keras!  Ia terduduk.  Merasakan rasa sakit.  Langsung dirawat oleh dokter.

Salah Oper Gear!

Sebelum memasuki daerah Kalimantan Timur, polisi patwa dan marshall mengingatkan jalan tidak akan semulus seperti di Kalimantan Selatan. Rusak berat.  Selain banyak truk besar yang mengangkut barang.  Seluruh peserta diminta berhati-hati dan diminta untuk beriringan satu-satu.  Setelah gapura, jalanan akan menurun tajam.  Dimohon hati-hati karena jalanan rusak.  Pada awal-awal menikmati turunan rombongan masih menurut. Beriringan satu-satu, dengan menahan kecepatan.  Tapi, mungkin karena kesal dan jalan tidak serusak yang dikatakan.  Akhirnya, mereka yang libas juga jalan yang rusak tersebut.  Pada ngebut, saling salip.  Saya sendiri cukup mawas diri.  Mengingat tanjakan masih sangat panjang, dan baud RD yang bermasalah.  Tetap menjaga kecepatan. Yang penting selamat.  Buat apa jauh-jauh dari Jawa ke Kalimantan untuk gowes tapi hanya untuk dievak dan TTB begitu saya bisikin Intan dan Indah, dua goweser wanita yang tangguh.

Tanjakan demi tanjakan, turunan demi turunan.  Rombongan makin tercecer. Walaupun pelan, karena ngicik.  Berhasil menyusul mereka yang tadi kebut-kebutan di tanjakan.  Saya, bertiga bareng tante Indah dan tante Yunengsih terus menikmati kesunyian dan sesekali teriakan primate di tengah hutan pegunungan Meratus itu.  Tante Yunengsih yang gowes di depan saya, kalau melihat tanjakan yang curam sepertinya gak PD.  Langsung melambat. Untuk dibantu oleh rekan-rekan motoris.  Padahal kalau PD saya yakin dia mampu melewati tanjakan itu.  Memang di jalur ini setiap motoris, bergantian standby di puncak tanjakan.  Untuk mendorong di titik kritis tanjakan, saat goweser mencapai titik kelelahan.  Mereka menawarkan untuk mendorong pesepeda.  Sah-sah saja dalam jelajah seperti ini.  Mengingat jalur masih panjang, dan menguras tenaga.  Saya lebih memilih untuk menolak halus, karena yakin bisa melewati dan tenaga masih mampu.  Tante Indah ikut-ikutan akhirnya menolak didorong juga, setelah dibisikin:”Sayang, udah digowes dari bawah.  Masa hanya tinggal 2-3 meter harus ditamatin dengan bantuan orang lain!”

Saat melahap turunan, dan di depan ada tanjakan yang sangat curam.  Gear belakang dipindah ke gigi paling kecil depan langsung ke tengah. Berharap menggowes sedikit, kemudian mendapatkan momentum agar bisa mendapatkan tenaga dan melewati tanjakan tanpa gowesan.  Tante Yunengsih sudah di depan, dia tidak mengoper gigi sepertinya.  Hanya mengikuti turunan apa adanya.  Jadi saat tenaga dorongan dari sisa turunan habis dia tidak usah over gigi lagi. Saya yang sudah kadung over gigi, ternyata gaya dorong sama saja dengan Tante Yunengsih akibat curamnya tanjakan. Hanya beda sedikit. Paling 2 meter saja di belakang Tante Yun.  Terkejut!  Kalau over gigi pasti akan merusak gigir, dan tidak akan mendapat momentum untuk over gigi yang halus. Akhirnya, terpaksa interval sambil berteriak: “Tante Yuuuuuuuunnnn! Tolong, aku salah over gigi!”  Tante Yun, Cuma bisa ngikik.  Nahan ketawa, karena dia sedang nanjak berat! Alhamdulillah, walaupun paha seperti mau pecah! Tanjakan itu bisa dilewati juga.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 hari mulai gelap. Suara binatang malam mulai ramai. Timbul rasa takut juga.  Tapi karena selama gowes sudah puluhan yang terlewati dan yakin di belakang masih banyak peserta. Kita bertiga terus gowes pelan-pelan. Kang Idham, Kang Baron dan Om Toton tersusul, lalu di depan juga ada Abah Ush yang menunggu rombongan belakang.  Cerita punya cerita, ternyata mereka yang tertinggal di belakang itu sudah dievak semuanya.  Yang tersisa tinggal kita berenam (kalo tidak salah).  Keadaan sudah gelap gulita.  Om Toton menyalakan “petromaks” lampu sepedanya yang terang benderang.  Beriringan menghabiskan sisa trek yang katanya tinggal 5 km saja.

Setelah regrouping peserta jelajah kembali dalam rombongan yang utuh.  Kecuali, Pak Heru sang Kolonel, yang keteteran di tanjakan katanya nebeng ke sebuah mobil pick up pengangkut kayu bakar harus nyasar sampai lebih kurang 35 km!  Saat tiba di hotel, langsung makan malam. Di tengah acara makan malam Amel yang berulang tahun dikerjain oleh panitia.  Yang meminta polisi untuk seolah-olah menginterogasinya.  Saat Amel akan menangis, semua berteriak Happy Birthday! Air teh, sisa makanan, jus, kecap, sambal dan segala jenis sisa minuman mendarat di kepala Amel!

Selesai makan malam, setelah check in tubuh benar-benar habis.  Untuk mengangkat tas saja sampai digusur.  Dokter Monica, yang berjalan tidak jauh menawarkan diri untuk membawakan salah satu tas itu.  Tapi karena sudah dekat kamar, ditolak halus!

Etape tiga, etape yang paling mengesankan.  Karena begitu banyak tanjakan, Alhamdulillah bisa lulus sampai tujuan!

Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 2)

Etape Kedua (119 km) : Rantau – Tanjung


Walaupun badan kurang segar karena kurang tidur akibat, AC kamar yang rusak.  Jam 04.00 pagi terbangun dan langsung mandi. Sepintas memegang pakaian yang kemarin dicuci. Tidak kering memang tapi cukup untuk dimasukan tas sehingga tidak berbau. Pukul 05.00 sarapan sudah disiapkan berupa nasi bungkus berisi nasi kuning.  Lengkap dengan telur rebus bumbu rendang dan tempe goreng bumbu pedas.  Mengingat perjalanan yang masih jauh.  Tidak berani memakan makanan yang pedas.  Telur rebus hanya dimakan bagian dalamnya saja yang tidak pedas.  Sedangkan tempe gorengnya yang super pedas, tidak disentuh sedikitpun.

Pukul 06.00 rombongan yang menginap di wisma Mecca harus kembali ke jalur kedatangan kemarin sejauh 3 km.  Menjemput rombongan yang menginap di wisma lain. Setelah peregangan dan berdoa bersama.  Kelima puluh goweser bersemangat menuju ke tempat Bupati, Kalimantan Selatan, Arifin Arpan. Tempat dimana kemarin salah tempat finish!

Sambutan Bupati Tapin sangat luar biasa, tidak hanya memasang spanduk selamat datang terhadap para peserta jelajah. Tetapi para goweser dipersilakan untuk sarapan dengan mencicipi makanan khas Tapin. Sangat senang sekali saat tiba di titik start disuguhi sarapan berupa kuliner khas Banjar yaitu Lontong, nasi kuning, pundut nasi dan bubur ayam serta telur jaruk.

Setelah acara seremonial.  Tim jelajah dengan ditemani lebih dari 20 pesepeda dari beberapa komunitas pesepeda di Tapin kembali melaju menuju perbatasan kabupaten. Hawa pagi itu terasa sejuk membuat tim jelajah sangat nyaman melaju di jalan Trans-Kalimantan yang beraspal hotmix mulus. Di depan masih Om Aris ditemani Om Ismet menjadi pembuka angin. Diikuti para Srikandi Teh Gia, Indah, Amel, Endi, Yunengsih, Tika serta goweser pria mengayuh dengan putaran tetap. Kecepatan masih sekitar 28-32 km/jam.  Diantara para Srikandi, tentunya Teh Gia yang paling senior selalu di depan.  Mengingat jam terbangnya jauh di atas Srikandi lainnya! Kalo kata Indah yang orang betawi. Teh Gia mah kan udah Bangkotan!

Sebenarnya pemandangan di sepanjang jalan cukup menyejukan karena berupa hamparan sawah. Tapi karena konsentrasi penuh pada putaran kaki dan kecepatan yang tetap. Sepertinya tidak semua bisa menikmati pemandangan tersebut. Di Kandangan, ibu kota Hulu Sungai Selatan, peserta jelajah rehat sejenak.  Untuk mencicipi dodol asli Kandangan, penganan khas daerah setempat  yang terbuat dari ketan.  Rasanya terlalu amat sangat manis. Jadi kurang suka.

Saat sedang gowes asyik masyuk di jalan mendatar dengan kayuhan yang pasti.  Om Imam sepertinya mulai kelelahan.  Terpaksa disalip, sambil pamit: “Om Imam, aku duluan ya!”.  Tak sampai 30 detik saya menyusul Om Imam tadi.  Tiba-tiba teman di belakang saya. Entah siapa. Berteriak. Ada yang jatuh! Tadinya mau berhenti.  Tapi yang lain berteriak lanjut saja.  Biarkan ada tim medis di belakang! Tim jelajah terus melaju. Perasaan harap-harap cemas, dan tidak nyaman. Menghantui tim jelajah.  Semua terdiam.  Tidak ada celetukan apapun. Khawatir terjadi sesuatu dengan teman yang jatuh tadi.  Menurut informasi yang jatuh Om Imam yang coba didorong oleh Om Putra Daulay.  Entah bagaimana kejadiannya mereka berdua jadi terjatuh.

Sebenarnya di etape kedua ini rombongan sempat dibarengi Bupati dan Wakil Bupati Tapin serta komunitas hingga di perbatasan Kota Tapin. Tapi keikutsertaan Bupadi dan Wakil Bupati justru membuat kecepatan tim jelajah jadi bawah kecepatan rata-rata jelajah  yaitu 25-35 km/jam.  Tuan rumah mengantarkan rombongan hingga km 15. Rombongan lalu rehat sejenak di SPBU untuk member kesempatan buang air kecil, setelah itu perjalaman pun dilanjutkan di tengah udara yang tidak terlalu panas dan jalan yang cukup rata.

Di km 70, Om Heru dan Om Santa menyerah dan masuk mobil evakuasi.  Mungkin karena kelelahan karena kecepatan ditarik oleh Om Aris sampai 32 km/jam (Om Aris bilang bahkan di pedometernya sampai 35 km/jam!). Biar tidak membosankan, ujar Om Aris dan Om Marta lagi. Untuk goweser yang tak terbiasa dengan kecepatan tinggi dan tidak menggunakan cadence atau malah menggunakan power justru akan membuat napas ngos-ngosan. Mangap!

Untuk menghibur dan supaya tidak membosankan di jalur rolling dan flat seperti itu.  Om Marta Mufreni sang pelatih.  Dengan sepeda single gear-nya beberapa kali melakukan aksi akrobat.  Jumping dan interval sambil melakukan aksi bunny hop di samping kiri jalan yang tidak rata dan banyak lubangnya. Aksi Om Marta cukup menghibur, dan membuat tim jelajah bersorak ceria!  Sempat terpikir aksi Sarimin yang pergi ke pasar naik sepeda sambil bawa payung.  Untunglah Om Marta melakukan aksinya tidak sambil bawa payung juga! :p

Cuaca siang yang mendung sangat membantu peserta dalam melahap rolling di sisa rute sebelum makan siang di Wong Solo, Balangan.  Rumah makan yang katanya di Jakarta sudah banyak yang tutup karena diboikot oleh ibu-ibu yang anti poligami tersebut pelayanannya kurang sreg.  Saat tiba, air mati, listrik mati juga.  Bahkan, untuk sholat di mushola tidak ada sarung! Padahal sudah meminta kepada pelayan rumah makan sampai 4 kali!  Untunglah Om Endang, bawa sarung.  Jadi bisa ngerental untuk sholat dhuhur.  Walaupun harus antri cukup panjang.  Untuk wudhu, karena air tidak  mengalir.  Om Endang dengan ikhlas mengangkat botol gallon aqua yang berisi air refill agar yang lain bisa berwudhu.

Setelah melahap menu makan siang, sempat menemui Om Putra yang terjatuh tadi di luar sisi kiri rumah makan.  Om Abeng, sedang menasihati Om Putra agar dioperasi saja, karena menurut hasil rontgen bahu kanan Om Putra patah.  Hanya bisa mengucapkan turut prihatin, dan berdoa semoga lekas sembuh. Om Putra tampak sangat terpukul, mata dan mukanya tampak bengkak. Ada luka gores di matanya.  Bertelanjang, tangan kanannya digendong dengan holder kain biru.  Sepertinya dia menahan rasa sakit.

Setelah menemui Om Putra, langsung menemui Om Imam. Kondisinya tidak jauh berbeda, walaupun tidak separah Om Putra.  Sepertinya Om Imam juga sangat terpukul dengan kejadian tabrakan tadi.  Dadanya dibalut plester. “Sakit di dada”, kata Om Imam.  Sekali lagi hanya bisa berdoa dan memberikan semangat!

Dalam dua hari tiga rute jalur Kabupaten sudah dilewati oleh tim jelajah mulai dari Tapin, Kandangan dan Balangan.  Saat memasuk Balangan, mulai menikmati gowesan karena jalur yang menanjak.  Tetap dengan kayuhan ngicik.  Tidak menggunakan power.  Banyak juga yang ngebut dan menyalib di tanjakan tersebut.  Tapi tidak terpancing, tetap dengan gowesan bawaan dari Garut. Ngicik.  Sesuai saran dan tauziah sang Road Captain Kang Coe dan Abah Ush.  Jangan terpancing di tanjakan! Tetap dalam putaran gaya sendiri.  Alhamdulillah, gak ada masalah.  Cedera lutut yang menghantui dietape pertama. Perlahan mulai hilang. Mulai percaya diri.  Tapi tetap tidak berani mengumbar tenaga.  Harus tahu diri, selain karena lulut pernah cedera juga baud hanger RD yang cuma nempel doang!

Jalur masih menanjak saat tim jelajah menyelesaikan etape dua ini.  Tanjakannya tidak terlalu curam cenderung landai dan tidak terlalu curam seperti di Bandung atau Garut.  Tanjakannya masih relatif mudah bagi tim jelajah yang mayoritas sudah kenyang makan asam garam. Mulusnya jalan mengakibatkan tim jelajah dapat melewati tanjakan itu tanpa mengalami kesulitan sedikitpun. Kecuali untuk beberapa srikandi dan yang berat badannya terlalu maxi mereka kudu didorong oleh para Marshal yang lumayan cukup kerepotan mendorong mereka.  Di etape ini yang dievakuasi tetap dua orang tapi dengan orang yang berbeda. Karena Om Santa kembali gowes selepas makan siang. Digantikan oleh tante Endi yang harus evakuasi karena lecet ….

Setelah hampir 9 jam lebih mengayuh pedal dari Kabupaten Tapin.  Akhirnya kelima puluh tim jelajah tiba di kabupaten terujung Kalsel.  Diiringi goweser dari Barabai dan beberapa goweser dari Tabalong yang menyambut di perbatasan kabupaten. Rombongan tiba di Tabalong sekitar pukul 14.25 wita dan langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tim jelajah mengakhiri etape kedua di Hotel Jelita, Tanjung, Kalimantan Selatan. Tanjung adalah kabupaten perbatasan dengan Kalimantan Timur.

Karena konon malam ini akan ada malam ramah tamah dengan jajaran Pemkab Tabalong, KONI Tabalong, komunitas sepeda Tabalong dan pers. Setelah mencuci jersey dan pakaian dalam.  Setelah sholat Isya.  Kelima puluh orang anggota tim jelajah plus tim pendukung menuju pendopo untuk makan malam dan audisi dengan Bupati Tabalong.

Makan Malam jadi Makan Angin

Sambil menunggu makan malam, saling kirim pesan via SMS dan WA.  Isinya, pokoknya saling PHP kalo malam ini akan makan besar.  Karena akan dijamu bupati.  Pasti disediakan buah-buah lokal, seperti langsat, buah duren, buah lai dan lain-lain.  Pasti ada makanan tradisional yang tentunya akan memuaskan lidah dan perut kita.

Tiba di pendopo ternyata Bupati belum datang, yang hadir baru staf dan ketua KONI (katanya).  Bupati tidak dapat hadir karena harus menghadiri acara yang tidak dapat ditinggalkan, kata stafnya.  Rombongan pun dipersilakan makan malam.  Karena sudah amat sangat lapar.  Tanpa diminta dua kali. Langsung menuju meja parasmanan.  Menunya nasi putih satu termos, soto banjar, dan sate serta buah melon dan semangka. Semua makan dengan lahap dan pasti dengan porsi yang cukup besar.  Tak menyangka seorang pun. Kalau makanan yang ada di meja makan itu adalah yang pertama dan terakhir.  Tidak akan ada tambahan makanan.  Akibatnya, saat peserta yang makan baru sekitar 20an orang. Makanan di atas meja sudah tandas.  Peserta yang belum makan terpaksa makan angin.  Untunglah tim Kompas sangat tanggap.  Dengan berbisik, takut menyinggung tuan rumah.  Yang belum makan, nanti dikirim nasi kotak di hotel ya!

Karena mata sangat mengantuk dan bupati dipastikan tidak akan hadir.  Saat disajikan video profil kabupaten Tabalong.  Mengajak Om Baron dan Tante Endi untuk pulang duluan.  Tapi di pintu dicegat oleh Om Janes. “Mau kemana? Kan acara belum selesai?”.  Om Baron dan Tante Endi, spontan menjawab; “Lapar Om, gak kebagian makanan!”.  Om Janes sepertinya maklum; “Ya, sudah silakan pulang ke hotel.  Nanti di hotel ada nasi kotak ya!” Padahal mah rasa kantuk yang luar biasa yang gak bisa diajak kompromi bukan karena lapar!

Cerita Dibalik Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan 4-10 Mei 2015 (Day 1)

Etape Pertama (118,14 km) : Banjarmasin – Rantau

Mungkin karena tubuh masih penyesuaian waktu, tidur di hotel tidak menjadikan lelap juga.  Jam 03.00 sudah terbangun.  Satu jam sebelum morning call.  Sementara my roommate kang Dede Supriatna masih pulas.  Lengkap dengan desisan dan dengkuran halusnya mengingatkan dengkuran kucing tetangga yang tertidur di kursi depan.  Berdoa semoga besok mendung, berawan atau hujan. Minta doa juga sama handai taulan di WA agar diteduhkan, didinginkan cuaca sehingga gowes tidak kepanasan.  Mengingat cuaca kemarin yang super panas.

Jam 05.30 turun loby hotel Aston untuk sarapan.  Tas pakaian dan tas pakaian kotor sekalian dibawa biar gak usah bolak balik ke kamar.  Ruang lobby ternyata sudah dipenuhi oleh peserta yang juga sudah bersiap dengan etape pertama.  Konon menurut bocoran, etape pertama relatif flat.  Tidak ada tanjakan dengan permukaan sangat mulus dihotmix.  Pukul 06.30 menuju tempat penyimpanan sepeda yaitu sebuah aula yang terpisah di depan hotel sejauh 100 meteran. Di depan aula tampak truk pengangkut tas dan kardus sepeda.  Tidak beranjak dari tempatnya parkir kemarin sore.

Teringat kemarin sore salah seorang panitia, teriak-teriak melarang para peserta yang mencoba menurunkan barang-barang pribadi yang tersimpan di dalam tas atau kardus sepedanya masing-masing.  Untuk menjaga agar tas atau dus tidak berantakan lagi karena sudah disusun rapi.  Tapi, seorang peserta ngotot untuk tetap membongkar kardus sepedanya.  Panitia itu tetap melarang. Tapi saat peserta itu (belakangan baru ngeh kalo dia Pak Heru) tetap ngotot juga. Tapi saat Pak Heru bilag, itu di dalam kardus saya ada pistolnya! Si panitia langsung bilang. Weleh…ya udah, turunkan, cepat turunkan! Jangan sampai hilang. Bahaya kalau sampai hilang! :p

Checking si spez sekali lagi, terutama baud RD yang kemarin patah. Setelah yakin aman.  Menuju halaman depan hotel.  Cuaca mendung, bahkan akhirnya hujan sekitar pukul 07.00 WITA. Menunggu Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar, Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo yang rencana akan melepas peserta JSBB pada pukul 08.00 WITA. Hujan gerimis dan awan yang hitam menyertai keberangkatan peserta.  Beberapa peserta memakai wind shielder atau jas hujan.  Tapi, mayoritas tidak memakainya.  Alasan mereka, gerah nanti juga kalaupun basah pasti kering dengan sendirinya di badan.

Tepat pukul 08.00, setelah berdoa bersama ke-50 peserta jelajah sepeda beserta 20-an goweser lokal Banjarmasin bergerak saat bendera start dikibaskan.  Di depan mobil patwal diserta raungan sirinenya bergerak menuju  kota Rantau. Perjalan menuju Martapura full hujan gerimis bahkan sesekali ditempa hujan deras.  Tapi justru hal itu menjadi berkah tersendiri.  Karena cuaca dan suhu jadi tidak terasa panas.  Rombongan dipimpin marshal Om Mega dan Om Aris menuntun rombongan untuk menyamakan putaran kaki dan kecepatan agar berkisar antara 25-30 km/jam.  Di Martapura, sekitar 40 kilometer dari Banjarmasin, rombongan menarik nafas dan beristirahat sekitar 30  menit. Martapura adalah kota intan dan terkenal dengan batu akiknya di Kalimantan. Saat rehat di Martapura tersebut, beberapa pesepeda penggila batu akik langsung berburu batu akik di pusat jual beli batu permata di Pertokoan Cahaya Bumi Selamat.  Sebagian kecil justru berfoto ria di alun-alun Zalekha, Martapura.

Antusiasme perburuan batu akik makin meningkat saat seorang peserta mengatakan, kalo membeli batu akik jangan beli satu-satu.  Tapi harus milih 6-7 butir baru bayar sekian puluh ribu rupiah. Ternyata selain yang berjualan di toko-toko, ada juga penjual batu akik yang ditengteng.  Jenis batunya tidak jauh berbeda dengan yang ditawarkan di toko.  Untuk jenis green atau red Borneo, ditawarkan antara 80 ribu sampai 90 ribu per 7 butir. Setelah ditawar diberikan dengan harga cukup 60 sampai 70 ribu rupiah.

Ada cerita menggelitik tersendiri dari seorang srikandi yang ikut JSBB. Srikandi itu membeli batu akik mentahan berupa sebongkah batu dengan harga 250 ribu rupiah. Saat ia berjalan ke luar toko, dia ditawari batu sejenis dengan bongkahan yang juga tidak jauh berbeda cukup dengan 50 ribu saja. Lha, melongolah sang Srikandi itu. Karena merasa sudah diapusi.  Ia kembali ke toko semula yang menjual batu seharga 250 ribu itu. “Pak, koq harga batu mentahan dengan jenis yang sama dan besarnya sama  koq harganya murah banget?”, protesnya.  Tapi, dasar penjual dia beralasan kalau batu yang dijual di tokonya jauh lebih bagus, lebih tua, tembus dan alasan lain-lain yang masuk akal. Terpaksa deh Srikandi itu mengalah, karena dia terburu-buru membayar batu itu tanpa melihat ke toko lain dulu.

Ternyata benar perjalanan etape pertama hingga melewati Martapura relatif cepat. Kecepatan bisa antara 20-28 km per jam. Karena jalannya selain mulus juga datar. Nyaris tidak ada tanjakan sama sekali.  Dikawal raungan sirine polisi PJR di depan yang selama perjalanan rombongan juga dikawal para motoris Banjarmasin.  Yang membantu peserta JSBB yang membutuhkan pertolongan, pengisian air minum atau mendorong pesepeda yang tidak kuat bila menemukan tanjakan yang sangat ekstrim.

Ketemu Tahu Sumedang

Tiba di km 70 pukul 11.40 ke 50 peserta JSBB berisitirahat di sebuah rumah makan, untuk makan siang dan melakukan sholat dhuhur bagi yang beragama Islam. Jauh-jauh dari pulau Jawa, eh…ternyata rumah makan itu rumah makan Sunda!  Tulisan besar tampak di depannya: Rumah Makan Tahu Sumedang!  Di atas meja makan, sudah disiapkan piring yang sudah berisi nasi putih, ikan goreng atau ayam goreng dengan bumbu serundeng.  Lengkap dengan lalab sambel bahkan tahu Sumedangnya! Jadi para peserta tidak usah bingung-bingung memilih menu.  Karena menunya pasti sama.

Langsung mengambil segelas teh manis dingin! Rasanya nikmat banget! Pada saat menyantap nasi putih.  Sudah dibayangkan akan sama dengan nasi putih di rumah.  Ternyata, nasi putihnya amat keras!  Kang Budiman yang makan bareng juga mengatakan hal yang sama.  Mungkin karena tanah di sini rata-rata gambut. Mengakibatkan nasi yang dihasilkan amat keras! Namun, apa boleh buat.  Perjalanan masih 50 km di depan.  Kalau tidak dilahap pasti kelaparan. Akhirnya, nasi keras itu pun tandas! :p

Setelah makan, Kang Budiman ngajak minum kopi.  Saya mengiyakan, tapi minta kopi susu aja.  Karena kebiasaan di Garut kalau sedang gowes, sesudah makan siang, di warung pasti pesan kopi susu.  Bayangan saya kopi susu di sini akan sama dengan yang di Garut.  Yaitu kopi susu sachet merek A** dalam 250 cc.  Begitu kopi susu yang dipesan, datang.  Melihatnya aja langsung kenyang.  Ternyata kopi susu di sini adalah kopi bubuk biasa diberi gula lalu dicampur susu kental manis yang dihidangkan segelas besar penuh! Tidak menyangka seupil pun kalau kopi susu khas rumah makan tahu Sumedang ini menjadi malapetaka untuk jam tidur malamnya.

Setelah finish dan rehat untuk tidur.  Di akhir etape pertama ini, malamnya tidak bisa tidur sekejap pun. Gedebak gedebuk, pindah posisi.  Mencoba memejamkan mata. Otot kelopak mata malah pegal! Karena memang tidak mau dipejamkan sampai subuh! Praktis malam kedua di Borneo tidak tidur sekejap pun! Padahal esoknya Etape 2 sejauh 113 km menanti untuk dilahap!

Pada waktu melakukan sholat Dzuhur sedikit ada keraguan.  Om Dimas dan seorang peserta yang makmum di belakang saya yakin dengan waktu sholat Dzuhur sudah tiba.  Sementara saya lebih cenderung meyakini pendapat goweser setempat.  Yang menyatakan Dzuhur belum tiba.  Jadinya, saya mengulang sholat Dzuhur :)

Selesai makan siang, dan menunaikan sholat Dzuhur rombongan kembali bergerak pada pukul 13.30. Cuaca masih berawan.  Cukup teduh. Tidak terlalu menyengat.  Rombongan masih lengkap. Beriringan.  Kang Coe sang Road Captain, bolak balik dari depan ke belakang, dari belakang ke depan.  Sesekali mendorong peserta wanita ke depan barisan.  Tak henti, mulutnya berteriak mengingatkan: “Pormasi dua-dua…!” bila ada peserta yang menyalip atau bergerak diluar barisan!

Perjalanan ke kota Rantau yang merupakan ibukota Kabupaten Tapin finish sekitar jam 16.15 WITA atau pukul 15.15 WIB. Kalo ngeliat kelakuan Kang Coe si RC yang bolak balik kaya setrikaan mengontrol pasukan.  Jadi inget tukang angon bebek di sawah depan rumah, yang menggiring ke sana kemari barisan bebek. Sambil membawa tongkat kecil, untuk menggiring bebek yang nakal keluar dari barisan!

Terjadi kejadian lucu sekaligus bikin mangkel.  Ceritanya saat mobil patroli memasuki sebuah bangunan yang bertuliskan selamat datang peserta jelaja sepeda Banjarmasin Balikpapan.  Seluruh peserta pun meluapkan kegembiraan dengan saling bersalaman.  Saling high five plus foto-foto narsis!  Eh, tahunya Pak Polisinya miskomunikasi ternyata tempat finish masih jauh. Masih sekitar 3 km dari tempat finish tadi.  Sambil, bertanya-tanya karena ketidaktahuan karena harus gowes lagi padahal sudah lelah.  Sambil tersenyum kecut terpaksa gowes lagi!

Ketika sampai di penginapan ternyata rombongan kudu dibagi dua karena kamar penginapan tidak mencukupi untuk seluruh rombongan. Rombongan kedua kudu gowes lagi sejauh 2 km menuju Mecca guesthouse! Sebuah penginapan kecil, dua bed.  Kembali sekamar dengan Kang Dede Supriatna.  Tidur tidak bisa nyenyak karena AC mati plus minum kopi tadi siang! :(

(foto: pedalku.com, kompas)

Mencicipi Jambore Jelajah Sepeda Kompas di Ranca Upas

Sementara cedera lutut masih mendera. Niat tak kunjung padam, pokoknya harus ikut Jambore Jelajah Sepeda Kompas di Rancabali, Ciwidey.  Praktis, selama dua minggu terakhir tidak berani melakukan aktifitas berat lari atau gowes. Segala macam obat herbal dan ramuan obat Cina dicoba. Karena lutut ingin segera pulih.

Kamis, 26 Februari 2015 rasa ngilu dan nyeri di lutut mulai berkurang.  Tapi, batuk filek malah menyerang :(.  Perasaan makin keder, jangan-jangan gak bisa ikut.  Tubuh bener-bener gak fit!

Nekad ajalah!  Didukung anak mertua, akhirnya Jumat, 27 Februari 2015, jam 15.30 berangkat menuju Batujajar.  Rencana nginep di rumah Mang Asep, subuh baru berangkat ke titik start di Kota Bumi Parahyangan (KBP), Padalarang.  Tiba di gerbang tol Padalarang pukul 19.30 langsung ke KBP untuk registrasi dan ngambil race pack.

Saat memasuki jantung Batujajar, timbul rasa tidak jelas. Nyesak.  Sepanjang jalan yang dilewati terlihat kumuh.  Penuh dengan tenda pedagang serta kendaraan yang bak air tiada henti. Asap dari kendaraan bermotor, serta debu yang berterbangan menambah sumpek dan kumuhnya Batujajar sekarang.  Nyaris tidak ada pepohonan sama sekali :(

Badan yang gerah meminta diguyur air.  Setelah setting sepeda, langsung mandi, kemudian makan malam.  Meski lelah, ternyata tidak menjamin bisa tidur lelap.  Akibat ulah si batuk, yang tidak tahu sopan santun datang hampir tiap menit. Praktis tidak bisa tidur, bolak-balik ke kamar mandi buang reak. Saat mata bener-benar udah ngantuk berat.  Pas mau tertidur. Raungan suara kaset pengajian dari mesjid di belakang rumah langsung membuat sang kantuk kabur! Apes! Praktis jadi tidak tidur semalaman.

Bareng Mang Asep, jam 05.45 ngaboseh langsung menuju KBP yang berjarak 8 km dari Batujajar. Meski masih pagi tapi kami harus gowes dengan sangat hati-hati.  Motor dan mobil yang sudah sangat ramai seringkali mengejutkan dengan bunyi klakson atau knalpot yang memekakan telinga.

Masuk ke jalan arteri KBP masuk bike lane dan langsung menuju pelataran titik kumpul.  Para peserta sudah berdatangan, dengan berbagai aktifitasnya masing-masing. Langsung menukar kupon sarapan. Teman-teman goweser yang kenal baik mulai berdatangan. Senyum sapa pun saling terlontar dengan cair.  Seperti sudah lama sekali tak bersua. Padahal iya :p

Waktu menunjukkan pukul 09.15 setelah acara seremonial.  Rombongan gowes yang berjumlah lebih kurang 350 peserta berangkat dari KBP menuju Rancabali, Ciwidey yang berjarak lebih kurang 50 km dimana para pesepeda harus menanjak sampai pada ketinggian 1760 mdpl.

Tiba di waduk Saguling yang membatasi antara KBP di Padalarang dengan area latihan tempur Pusdikpassus Batujajar.  Para peserta antri menyebrang menggunakan perahu.  Sekali berangkat 7 sepeda plus orangnya bisa diangkut. Penyebrangan tersebut tidak lepas dari pengawalan Pusdikpassus yang menugaskan para personilnya. Menggunakan dua unit perahu karet setiap peserta diwajibkan memakai pelampung dan berangkat berdekatan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Satu demi satu, sepeda didaratkan kembali, dan langsung menikmat makadam sejauh lebih kurang 4 km menuju landasan udara Suparlan.  Menurut kabar semestinya para peserta Jelajah Sepeda bisa sekaligus menikmat latihan terjun payun yang langsung diterjunkan dari pesawat Hercules.  Sangat disayangkan, dikarenakan pemberangkatan mungkin terlalu siang. Kita tidak sempat menyaksikan penerjunan para pelajar PARA beraksi.  Tapi, lumayanlah.  Masih ada tersisa beberapa pelajar yang sedang melipat payung dan berlari-lari kecil di sekitar landasan Suparlan.  Sebagian besar berkumpul di dekat sebuah payung yang dipasang di darat seperti tenda.

Sepanjang Landasan Suparlan, beberapa pesepeda menyempatkan diri untuk bernarsis ria dengan background para pelajar komando/raider yang sepertinya sedang berlatih IMPK (Ilmu Medan dan Peta Kompas).  Hal itu tampak darikompas,  buku dan map yang mereka bawa. Beberapa kali kami pun diberi hormat kepalan tangan kanan “KOMANDO!” oleh para pelajar tersebut.  Tentunya, kita balas dengan lirikan dan senyum juga sambil teriak “KOMANDO!”.  Lumayanlah…kapan lagi bisa dihormatin tentara wkwkwkwk…!

Tiba di Lapangan Hitam dimana biasanya digunakan untuk upacara menyambut tamu khusus kamipun rehat sejenak dan menikmat snack dan minuman dari mobil logistik.  Lalu dipersilakan oleh personil Kopassus untuk berfoto ria di area Lapangan Hitam sepuasnya.  Padahal biasanya, Lapangan Hitam sangat tabu untuk dimasuki oleh masyarakat awam.  Apalagi untuk mengambil gambar atau sekedar menggunakan kamera.

Perjalanan dilanjutkan melewati Gerbang Utama Pusdikpassus yang dijaga oleh patung M. Idjon Djanbi yang asliny bernama Rokus Bernardus Visser adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan komandan Kopassus pertama sekaligus perintis pasukan elit komando tersebut. Beberapa peserta menyempatkan diri untuk berfoto di depan patung. Begitu keluar dari gerbang utama, seluruh peserta langsung menyusuri jalan raya Batujajar.  Rombongan masih utuh dan “ramai” karena jalur masih sangat datar. Memasuki Soreang sebelum stadiun Si Jalak Harupat rombongan mulai tercecer karena mulai ada tanjakan ringan.  Mungkin bagi para mantan atlit jelajah sepeda hal itu bukan masalah.  Tapi, bagi peserta biasa hal itu luar biasa, termasuk saya.  Lutut kiri, mulai terasa kembali nyut-nyutan.  Sepanjang jalan, tidak berani mengoper gear depan ke gigi dua.  Akhirnya, cuma bisa ngicik.

Regrouping lengkap, pukul 11.30 dari Stadiun Si Jalak Harupat rombongan langsung bergerak menuju ibu kota Soreang. Patut diacungi jempol kesigapan para polisi lalu lintas dan marshall yang tidak lelah menjaga setiap pertigaan atau persilangan jalan sehingga seluruh rombongan diutamakan daripada mobil atau motor. Praktis sepanjang perjalanan, sepertinya sepeda menjadi pengguna jalan yang istimewa.  Setelah persimpangan terakhir dari kota kecamatan Soreang.  Jalan mulai menanjak panjang tapi ringan namun ada beberapa peserta mulai keteteran.

Tiba di rumah makan La Ega berjarak lebih kurang  2 km dari kota kecamatan Soreang.  Seluruh peserta jambore rehat untuk makan siang dan sholat Dhuhur bagi yang beragama Islam sekaligus regrouping.  Menu makan siangnya cukup “wah”.  Masakan Sunda lengkap dengan lalab dan sambel yang menurut saya “aneh” bentuknya.  Gak berani mencicipi.  Ngeliat bentuknya aja udah bikin merinding! Didominasi butiran cabe rawit warna merah, hijau dan kuning  yang pastinya super pedas! Udah bisa dibayangkan dalam keadaan cuaca panas, badan panas, makan sambal pedas terus minum air panas pula!

Entah mungkin mendengar bisik-bisik dari peserta lain, atau sudah memprediksi dari kontur tanjakan yang dialami sebelum rumah makan.  Terlihat rasa enggan dan “dropped” mentalnya melihat tanjakan yang akan dijelang. Seorang peserta yang ada di hadapan saya berbisik kepada “driver” mobil evakuasi.  Bisikan tersebut membuat alis mata si “driver” berkerut. “Hah? Mau dievak Om?”.  Si sopir mungkin kaget karena fisik orang itu masih segar gak keliatan lelah. Tapi mungkin sakit kali ya?  Tapi, sebelum dia minta dievak tadi terdengar teman-temannya saling bisik. Kita masih harus nanjak 29 km lagi!

Udara panas, membuat wajah seperti ditampar dari atas dan dari bawah. Dari atas matahari sedang obral, dari bawah aspal super hot membuat muka menjadi merah meriah.  Cuaca yang seperti itu membuat para goweser sepertinya harus menaklukan 4 musuh sekaligus. Sinar matahari, aspal panas, tanjakan panjang serta mental/fisik yang meminta otak dan perasaan untuk berhenti saat melihat pohon atau warung untuk sekedar berteduh.  Dua botol air 500 ml liter habis hanya untuk jarak 5 km.

Untunglah panitia dan marshall sangat bijak, meminta kami untuk segera beristirahat di sebuah mesjid.  Mengambil minuman, buah-buahan sepuasnya. Tapi sepertinya dahaga tidak hilang juga, karena cuaca yang teramat panas. Lutut kiri yang cedera semakin terasa nyut-nyutan. Wajarlah, sekuat apapun gaya ngicik, bila dilakukan untuk tanjakan yang panjang. Pasti membuat lutut dan paha keteteran :p

Bener juga ternyata di kilometer 18 di tanjakan yang sedang.  Lutut dan kaki hilang koordinasi, disertai rasa nyeri yang sangat. Gejala kram!  Saya segera berhenti, turun dari sepeda.  Cak Kris dan Mang Asep yang menjadi teman setia selama perjalanan pun berhenti. Thanks Cak!

Perlahan otot-otot tungkai diistirahatkan sejenak.  Lanjut stretching dengan menopang pada frame. Lima menit kemudian kembali gowes.  Semakin pelan, tapi dikuatkan tekad dan berdoa terus: JANGAN SAMPAI DIEVAK!

Hujan pun turun dengan derasnya, berhenti di sebuah warung dimana Abah sedang rehat juga. Kita bertiga ikut berhenti untuk melemaskan otot yang terasa tegang tadi.  Kaki diselonjorkan dan digerak-gerakan untuk pelemasan.  Abah menawarkan untuk evakuasi.  Tapi ditolak halus.  Padahal lutut sebenarnya “nyut-nyut”an. Yakin masih bisa, walaupun pelan. Yang penting tidak TTB dan finish sampai akhir!

Tanjakan makin dekat ke tujuan makin curam.  Kemiringannya membuat motor atau mobil melaju dengan gigi satu atau dua.  Bahkan, di beberapa belokan membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Saking curam dan tajamnya tikungan.

Di sebuah mesjid yang terletak di tikungan yang sangat tajam.  Menyempatkan diri sholat asyar. Sambil menunggu Cak Kris yang ternyata tertinggal di belakang.  Dipikir beliau ikut terus mengawal di belakang.  Hujan semakin deras.  Banyak peserta yang mulai TTB berjamaah. Bahkan, dievakuasi oleh mobil panitia, atau oleh kendaraan yang mengawal merekan.  Ada yang terang-terangan, ada yang diam-diam. Liat kiri kanan dulu, sambil pura-pura benerin rantai atau ban seolah-olah bermasalah.

Salut untuk para peserta yang berfederal, bersurli atau berseli ria dengan buntelan segede-gede perut kebo yang masih bisa melaju di tengah hujan deras. Tidak TTB dan anti evakuasi!

Istirahat ketiga kali di sebuah warung kecil.  Cukup minum susu jahe untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan tertimpa air hujan yang serasa air es.  Kemudian perjalanan dilanjut. Masih dengan gowesan pelan. Hampir konstan (belakangan dicek di endomondo hampir 5 km/jam hehehehe).

Saat menikmat tanjakan dengan kayuhan pelan.  Sambil ngebut, tiba-tiba Abah yang bersurli ria. Nyalip sambil bernyanyi ala Ebiet G Ade: “Kau tampak tua dan lelah…” sambil cekikikan! Asem! Kalo lutut gak nyut-nyut an atau sama-sama pake Surli kata Cak Kris mah diajak balaplah! Gkgkgk…

Waktu menunjukan pukul 16.40 saat mendekati kilometer 2 ke titik finish.  Tapi hari sudah sangat terasa gelap.  Karena berada di antara pepohonan yang lebat.  Alhamdulillah, akhirnya tiba di Bumi Perkemahan Rancabali pukul 17.10 dalam keadaan basah kuyup. Plus gelap gulita.  Langsung nyari tenda yang telah ditentukan panitia.  Sempat kelimpungan karena posisi nomor tenda yang tidak berurutan.

Di dalam tenda, sudah ada penghuni yang sudah santai. Dengan kondisi segar. Tiduran sambil bertelepon ria.  Sementara kita berdua masih menggigil, dengan badan basah kuyup!  Langsung menuju toilet untuk mandi. Ternyata antri (Belum tahu kalau di belakang tenda itu ada pemandian dan kolam renang air hangat! Nyesal waktu tahu hal ini pagi-pagi waktu mau mandi pagi).  Air di toilet yang keluar dari keran lebih mirip ekor tikus! Plus keruh! Tapi apa boleh buat. Daripada kedinginan!

Setelah sholat magrib, rebahan di atas terpal dibalut sleeping bag.  Hujan semakin deras. Sempat terpejam tapi kemudian bangun terperanjat! Ternyata, di dalam tenda banjir! Sleeping bag basah! Bahkan celana yang dipakai juga basah.  Untung jaket waterproof jadi baju gak basah. Gak bakalan beres ini mah! Langsung ke luar dari tenda.  Menuju panggung dan nonton dangdutan diselingi menikmat daging kambing guling dan ketupat plus rebus jagung, kacang, bajigur dan bandrek!

Mungkin karena kelelahan penonton dangdutan hanya segelintir saja.  Jadi terkesan “dingin” sang artis dangdut yang berjumlah 4 orang dan sudah berdandan “sataker kebek” habis-habisan tak mampu mengundang para peserta jambore untuk berjoget. Yang ikut berjoget dan menikmati dangdutan bisa dihitung dengan jari.

Kemeriahan acara justru terasa setelah sarapan pagi yang dilanjutkan dengan dancerobik! Hampir semua peserta ikut senam dengan riang dan berkeringat mengikuti arahan dari pemandu di panggung! Hampir satu jam beraerobik ria, dilanjut dengan pengundian door prize untuk jelajah sepeda Kalimantan dan Papua. Peserta dipersilakan mencicipi test drive Collosus N8 dari Polygon atau gowes “ringan” ke situ Patengan di pandu si Master Bersertifikat Kang Coe Waelah!

Yang Penting Sepedaannya, bukan sepedanya