Posted by: kgcgarut-mountainbike | June 14, 2011

Track De Kamojang

Wilayah ini terdapat di antara perbatasan Kota Garut dan Kota Bandung, terletak 25 km sebelah timur Kota Garut atau 95 km dari Kota Bandung. Namun lebih mudah dijangkau dari kota Garut. Yang unik dari tempat ini adalah nyanyian harmonis dari perut bumi berupa uap panas yang saling bersahutan. (dicatatan perjalanan ini, lebih menekankan kepada jalur lintasan sepeda, bukan info WISATAnya)…

Kali ini kami (‘kami’ kalimat pengganti dari ‘team SURVEYOR) memilih Kawah Kamojang, Jawa Barat, yang kabarnya memiliki ‘Treck sepeda EXTREM’… (begitu info yg kami terima dari sobat gowes de Garut ‘Pak Deny Suwarja (Komunitas Garut Cyclist’, disingkat KGC)….. Setelah sempat tertunda hingga 1 minggu (memenuhi undangan GOBAR ‘Gowest Bareng’ ESIA Community Jakarta, Treck Kasepuhan Ciptagelar), Alhamdulilah kami bisa mengeksekusi rencana gowes kali ini. Semula rencana gowes tour de GARUT ini direncanakan hari sabtu (11 Juni ’11) namun dikarenakan adat dan istiadat yang berbeda (jadwal gowes kami dengan sobat KGC), mereka (KGC) terbiasa gowes ‘XC’ disetiap hari minggunya… Maka untuk kedua kalinya gowes di kota Sejuta dodol & Domba Pejuang pun, kembali ditunda hingga kesokan harinya (Minggu, 12/6/11) …..

SURVEY de GARUT dengan total jarak tempuh 63 KM, ini direncakan dibagi menjadi tiga etape, diantaranya : Trip 1. Bayongbong (Start Camp KGC) – Kamojang, 29 KM (Full On Road full +Uphill) Trip 2. Kamojang – Danau ciharus, 5 KM (Of Road Makadam & single trek) Trip 3. Danau Ciharus – kawah derajat – Garut Kota – Bayongbong, 29 KM (Off/On Road) maksudnya off road single track to kawah derajat, dan kembali jalan aspal hingga kembali ke Camp KGC) Trip 1….. Jalur sulit mulai terasa selepas Kota Garut, tepatnya di tanjakan Jalan aspal menuju Kamojang… yang menembus hutan membuat kami meraung memeras tenaga. satu persatu anggota team tercecer hingga ujung tanjakan. (Acungan Jempol untuk all GOWES’er Garut, khususnya team sweeper, dengan penuh kesabaran, mereka setia menunggui anggota team yang tercecer, walau sebelumnya kami belum pernah GOBAR)…

Ayo siapa nich yg tercecer ??? hem…. (Smangat Bung) Medan semakin sulit ketika pandangan mata tertuju ke seberang jalan…. Luar biasa treck de KAMOJANG ini, Mungkin kah ini yang dinamakan dengan EXTRIM itu? ujar salah seorang anggota team SURVEYOR…. ”Yaa kami mau tidak mau harus mencoba lintasan ini, mengingat kami dituntut untuk memperhitungkan segala kondisi dari Lintasan yang awalnya kami diberi tau sobat gowes’er setempat hanya 53 KM saja”….!!!…..

Nice Uphill…. dan sesungguhnya kegiatan SURVEY ini direncakan untuk program GOBAR KGB-Ind. Trip 4 (rencana sementara tgl 3 Juli 2011, dan saat ini sedang disusun kajian SOP ‘standard operating procedure’ baku program GOBAR KGB. >>> ERP ‘emergency response plan’ & ERT ‘emergency response team’). seberapa EXTREM kah treck nya (Trip 2 & 3). untuk sementara bisa dilihat dari foto2 yg tlah di posting sblmnya (gambar berbicara) ??? — to be continued bro… — (hari larut malam, dan KOPI HITAM pun menyisakan ampasnya saja…. hem). Say Thank to : 1. Allah SWT, Atas perlindungan kepada semua team SURVEYOR KGB+++ (+KGC). Hingga kami kembali pulang kerumah masing-masing dengan keadaan selamat. 2.All Team SURVEYOR KGB-Ind. (Pak Opi Riady, Kang Memetz Riady, Kang Yayat & Om Rahmat) 3. Kang Deny Suwarja (Tuan Rumah KGC), Hatur nuhun Kang Deny telah berbagi info Trek Asyik di Garut, apalagi trek tersebut masih terbilang ”perawan” !!! terlebih sblmnya sempat ikut bermalam dirumah…. Mohon sampaikan salam hormat kami kepada keluarga dirumah…. (Nice place in happy family). 4.All sobat gowes’er Sa-Garut. Sungguh Petualangan Asyik, bareng bocah2 tua nakal ‘cupetonk’. hehe…. ”ini sich mungkin lebih lebih tepatnya Gathering BIKER sa-GARUT” – KGC ‘Komunitas Garut Cyclist – GASHEBA ‘Gabungan sepeda bayongbong – Lodaya – Jarambah Garut – PSHG (Onthelis Garut) ***Jempol untuk solidaritas BIKER Lintas klub di Garut….. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi, kebersamaan ”All Sobat Go-west’er ‘de Track Garut’. Dan dengan segala kerendahan hati, saya haturkan permohonan maaf atas segala kekurangan yg ada. Sukses untuk kita semua… Salam Komunitas Gowest’er BERSATU – Indonesia. Cu Next GOBAR trip 4 KGB-Ind. notes : *ERP & ERT segera menyusul…..

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 30, 2011

Dimana Ada Kemauan, Disana Ada Jalan

Alah bisa, karena biasa. Biasa karena dipaksa atau terpaksa…

Peribahasa itu berlaku dalam mengayuh sepeda. Sepanjang atau securam apapun tanjakan, kita pasti bisa melaluinya bila terpaksa dan terbiasa menjalaninya dengan kemauan yang kuat. Kemauan karena kemaluan yang besar…eh, bukan kemaluan kali ya. Rasa malu yang besar karena teman-teman kita mampu melewati tanjakan itu, atau kemauan yang muncul dari diri sendiri karena tekad, kesabaran dan ketabahan yang telah bersemayam dalam jiwa kita.

Diawali dengan tanjakan ringan di daerah Sanding dan Cireungit, sebelas orang bersamaan mengayuh sepeda dari Garut kota menuju Cikajang. Cikajang adalah satu kecamatan yang terletak di kaki gunung Cikuray dan gunung Papandayan. Dengan ketinggian 1246 meter dpl, sementara Garut kota pada posisi 717 meter dpl. Dengan kondisi perbedaan ketinggian yang cukup relevan inilah, mengakibatkan Garut-Cikajang dijadikan trek yang paling disukai oleh para penikmat jalan nanjak di Garut. Baik onroad atau offroad. Jaraknya yang mencapai 29 km, cukup untuk memenuhi kepuasan mengeluarkan keringat.

Bagi para pemula, trek Garut-Cikajang walaupun onroad dengan kontur aspal hotmix mulus. Namun bagi goweser pemula merupakan neraka tersendiri. Tanjakan panjang, curam dengan jalan datar yang se-emprit, cukup membuat nafas terengah-engah dengan degupan jantung yang cepat. Plus, kaki dan depan yang kurang-kurangnya mengatur tempo. Dipastikan keram.

Satu demi satu dari kesebelas orang yang asalnya mengayuh bareng. Meninggalkan jauh atau tertinggal jauh oleh mereka yang terbiasa melewati dan menikmati tanjakan itu. Tapi, tetap dikawal oleh para senior dan marshal yang bertanggung jawab. Pa Asep Stroberi, yang kali kedua bergabung dengan kami gowes di hari minggu. Membuat cerita tersendiri.

Di tengah perjalanan, para Gasheba-ers yang dipimpin Pa Agus bergabung. “Tadinya mau menjemput!” , teriaknya. Kamipun saling tertawa. Walaupun baru dua kali gowes bareng, tapi kami langsung akrab. Senang sekali, bisa gowes bareng dengan Gasheba-ers, selain jago tanjakan. Pa Agus juga adalah seorang teknisi sepeda yang mumpuni. Maklum, dia punya sebuah toko sepeda.  Para Gasheba-ers tidak segan, mereka mengangkut dan memanggul para Kgc-ers yang keteteran di tanjakan. Yang harus meninggalkan sepedanya di bawah. Untuk diangkat dan diangkut oleh Gasheba-ers…Mantap!

Kesamaan idealisme dan ciri kolektif yang mengutamakan kebersamaan, saling menghargai, berbagi cerita, berbagi ceria dan berbagi tawa. Menjadikan Gasheba-ers dan Kgc-ers langsung akrab dan bersahabat. Prinsip tidak mau naik truk atau pick up, karena tanjakan adalah bagian dari bersepeda yang harus dijalani. Karena tanpa tanjakan, bersepeda bukan bersepeda namanya. Namun, prinsip kami tersebut seringkali fleksibel karena menghargai tamu dari luar. Yang mungkin tidak terbiasa dan hanya ingin mengambil jalur downhill offroad. Jadi kami, ikut bergabung naik pick up atau truk sekalipun harus berkorban jadi pusing alias mabok perjalanan. Karena tidak terbiasa :p

Diperhatikan, sebenarnya mungkin Pak Asep ingin beristirahat sesaat ketika di tengah perjalanan. Berkali-kali dia bertanya kapan istirahat?   Tapi, untuk meningkatkan ketahanan fisiknya. Kami berkali-kali membujuknya untuk beristirahat di tempat biasa. Yaitu di sebuah warung kecil setelah kecamatan Bayongbong yang berjarak lebih kurang 16 km dari Garut kota. Pelan tapi pasti. Akhirnya tiba juga di warung tadi. Sementara yang lain langsung melahap lontong, bala-bala dan makanan atau minuman ringan lainnya. Pak Asep malah terduduk, memijit-mijit paha dan lututnya. Sepertinya kakinya mengalamai fatigue. Mungkin karena kurang pemanasan, atau belum terbiasa gowes non stop sejauh 16 km, full tanjakan.

Pa Haris alias Eyang Gulawing, saya minta untuk memijat kakinya. Pa Asep Tebe, tanpa diminta langsung memberikan balsam geliga. Sementara Pa Asep Stroberi, yang lagi-lagi berubah namanya menjadi Pa Asep Stressnyeri mengeluarkan kayu putih. Membuka sepatu dan kaos kakinya yang tampak masih “cling” mulus dan putih bersih. Sementara itu Pak Wawan tampak kedua pipinya menggembung mirip pipi “Sarimin” yang suka pergi ke pasar. Pa Yaya, yang sering disebut Mio karena matic alias mulut tanpa gigi. Tampak lucu, karena berusaha mengunyah lontong atau bala-bala, tapi karena giginya sudah habis. “Reseplah ningali Pa Yaya nuju tuang teh. Ampul-ampulan…!” kata saya, sambil menatap mulut Pa Yaya yang pada saat mengunyah, malah seperti mengucapkan “mulya, mulya….”. Jadi tersenyum sendiri, karena teringat waktu kecil. Sering iseng, menangkap ayam. Yang pada saat pantatnya ditiup, langsung bereaksi: seperti mulut Pa Yaya, mengatakan “mulya, mulya, mulya….!”

Setelah dipijat kaki dan diberikan doa oleh Eyang Gulawing, yang spesialis tukan pijat. Pa Asep Stresnyeri, telah kembali menjadi Pa Asep Stresseuri. Setelah memakai kembali kaos kaki dan sepatunya. Beliau langsung ke warung dan minum minuman ringan. “Tadi pagi, hanya sarapat ketupat! Jadi lemes”, katanya. Lain kali mah, sepertinya Pa Asep Stroberi harus mandi pake aci, alias tepung tapioka, jadi keras! :P

Perjalanan dilanjutkan menyusuri tanjakan dan sedikit turunan setelah Bayongbong. Kembali terdengar teriakan dan jeritan bersahutan saat menikmat sedikit turunan sebelum tiba di Kecamatan Cisurupan. Tapi keceriaan kembali terhenti, saat menapaki tanjakan sebelum Cisurupan. Masing-masing, asik menggenjot sepedanya dengan gir yang kecil. Berombongon tidak terpecah menuju tempat rehat kedua yaitu Rumah Makan Lamping Sari lebih kurang 3 km dari Cisurupan. Untuk memesan nasi bungkus beserta ayam kampung atau sate serta lalab dan sambelnya. Sementara Gasheba-ers langsung meluncur ke Cisurupan.

Entah karena terlalu lelah atau disengaja. Saat tiba di tempat parkir Rumah Makan tersebut. Neng Evi, begitu saja digeletakan oleh suaminya di atas tanah. Sementara, yang lain menyandarkan di tempat yang aman. Pa Yaya, langsung mengamankan Neng Evi. Pa Agus, mengkritik kalau Neng Evi itu terlalu kompleks untuk pemula. Seharusnya, untuk pemula cukup sepeda XC, sambil menunjuk ke Neng Spezy. Karena, Neng Evi itu digunakan  untuk AM yang sangat mumpuni disiksa, dicumbu rayu diberbagai medan. Tapi, bagi seorang pemula, justru akan berbalik. Malah Neng Evi, yang akan menyiksa majikannya. Sayapun mencoba, Neng Evi. Tapi, ternyata malah terasa enak. Memang liar, tapi enak dipake. Plus, enak dibawa tentunya. Karena, Body Neng Evi tampak bahenol, cantik dengan tubuh yang gemulai. Demplonlah, pokoknya. Tapi dari segi BB (Berat Badan)- nya, Neng Evi lebih berat daripada Neng Spezy.

Akhirnya, saya cobain mencumbu Neng Evi sementara Pak Asep mencumbu Neng Spezy. Langsung dihajar tanjakan sejauh 3 km, sepertinya Pak Asep lebih nyaman mengendarai Neng Spezy. Tapi yang aneh, Neng Evi, sepertinya gak ada kekurangannya. Bahkan, di tanjakan yang menikung tajam sebelum Cisurupan. Neng Spezy terbiasa ngecek, menggunakan gigi besar. Untuk Neng Evi, dengan gigi kecil bahkan gir depan di shifting ke gir paling besar, tetap maknyus. Bahkan, saya keteteran minta tambah. Tanjakan jadi seperti jalan datar! Dalam hati langsung: http://www.ngiler.com alias http://www.mupeng.com (muka kepingin).

Tiba di sebuah mesjid tepat adzan Duhur. Tampak Ghaseba dan Pak Iim telah menunggu di sana. Mereka tersenyum saat melihat Neng Evi malah dicumbu saya. Sedangkan sang majikan malah mencumbu Neng Spezy. Rehat dan sholat duhur. Enaknya, gowes dengan “Roki”, alias rombongan aki-2  tidak pernah melewatkan sholat. Mungkin karena para roki mah, selalu mawas diri karena sudah berbau tanah. Bahkan, sarungpun selalu setia di dalam water bag mereka. Tapi, kalaupun tidak membawa sarung, bisa meminjam ke DKM mesjid walaupun harus menggunakan bawahan mukena atau sarung untuk anak khitan seperti yang dilakukan Pa Yaya!

Karena perjalanan mulai menurun dengan hanya dua tanjakan di depan. Neng Evi kembali ke majikannya. Saya pun kembali mencumbu neng Spezy dengan kegaharannya. Saat akan menghajar tanjakan Cidatar sebelum tapal kuda. Saya minta ke Pa Agus untuk “menderek” Pa ASep Stroberi, tapi sepertinya para Gasheba-ers lainnya sudah mafhum, tanpa diperintah. Nendi, yang tubuhnya tinggi besar dengan cadence yang mantap. Segera menyalip kami, langsung mendorong pinggang Pak Asep dan “wuuushh…!”  Neng Evi yang asalnya ngicik dan tampak kedodoran. Melesat akibat dorongan dari energi Neng Uni.

Tanjakan lunas di bayar kontan. Setelah tanjakan Tapal Kuda, belok kiri. Kontur aspal langsung  berubah menjadi single trek. Kebun sayuran kentang dan jagung. Jalannya teramat sempit. Sampai-sampai, harus jadi Mbah Surip. Tak gendong, sepedanya kemana-mana!

Tiba di bendungan Cibaranang yang viewnya, cukup bikin merem melek. Rehat, makan siang dengan membuka bekal masing-masing. Pak Nanang menyerahkan nasi kuning, yang dijanjikannya minggu lalu. Nikmat banget, padahal cuma dengan taburan irisan bawang dan telur goreng. Cukup menghentikan nyanyian keroncong sang perut yang tadi bernyanyi. Sambil beristirahat, ambil foto keluarga. Makan dengan lahap, bahkan mata harus awas. Melotot tajam, seperti mata kucing yang sedang makan ikan. Takut ikannya direbut oleh temannya! Contohnya, anak yatim yang kelaparan seperti di bawah ini.

Single trek tanah, di tepi irigasi mulai dijajaki. Treknya cantik, sayang datar dan sangat mudah. Tapi tetap harus berhati-hati. Sedikit meleng. Dipastikan akan terjungkal seperti yang dialami Pa Yaya. Walaupun tidak tercebur ke dalam aliran air irigasi. Cukup membuat Pa Yaya, sangat terkejut. Derai tawa pun, menggema di lembah yang saat itu ditempa panas matahari.

Sesekali, turun dari sepeda masing-masing. Karena jalanan terlalu sempit. Tapi tetap datar, dan tidak menantang. Perjalanan terasa membosankan. Panas terik matahari membakar muka dan tubuh. Tenggorokan jadi cepat kering. Jatah air 1,5 liter dalam water pack dan 600 ml dari bottle cage. Ludes!

Jam 14.30 akhirnya perjalanan berakhir di persimpangan jalan raya dan single trek.  Diputuskan untuk langsung pulang via jalan raya. Agar tidak terlalu sore pulang ke rumah. Maklum, minggu kemarin pulang jam 19, jangan sampai terulang kembali. Tidak masalah bagi kami, tapi bagi yang lain mungkin akan jadi masalah. Salah-salah dilabrak istri pertama, karena terlalu  lama “kilir” mencumbu istri kedua

Perjalanan diakhiri di pertigaan Ciburuy-Bayongbong, ditandai dengan pamit, dan terima kasih serta salam kepada para Gasheba-ers. Berpesan, jangan sampai kapok, dan minggu depan mungkin bisa gowes bareng lagi. Dengan syarat sesama pesepeda dilarang saling mendahului apalagi sampai harus tidur dua kali, makan lontong 4 biji karena menunggu yang lain :)

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 26, 2011

19 Trek Top di Garut

Garut yang dulu disebut Swiss van Java, tidak hanya kaya akan domba garut, dodol garut, jeruk garut atau jaket kulitnya. Tapi juga kaya akan trek offroad untuk para MTBers yang layak untuk dijajal.

Ada banyak trek yang bisa dicumbu untuk berbulan madu atau hanya untuk berakhir pekan. Diantaranya adalah:

1.  Ciharus. Trek ini terletak di hutan belantara Gunung Kamojang.
Vegetasinya didominasi hutan hujan tropis yang masih lebat. Tidak jarang pada waktu melewati trek ini harus sangat berhati-hati, lalai berarti siap-siap helem nyangkut di akar pohon, semak belukar atau batang pohon sehingga bisa terjatuh.
Treknya uphill 20% dengan kontur berupa tanah bercampur pasir. 80% downhil dengan tingkat kesulitan sangat ekstrim. Untuk para newbie, sangat tidak dianjurkan melalui trek ini. Panjang trek sekitar 9 km, terdiri dari single track di hutan tropis, kubangan lumpur, aliran sungai kecil, hutan pinus, pertanian dan jurang serta tebih yang curam.
Trek ini akan menjadi surga bagi para MTB-ers pada waktu musim kemarau, tapi sebaliknya akan menjadi neraka bila hujan tiba. Trek yang semula gurih dan renyah, akan terbalik 180 derajat akan sangat licin dan berbahaya!
Sangat dianjurkan memakai protektor, sarung tangan dan helem.


2. Cibeureum berada di lereng Gunung Kamojang. Konturnya cukup ekstrim di 30% awal trek yaitu berupa jalan pasir bercampur tanah,lengkap dengan rintangan berupa semak belukar, sebatas dada, pohon tumbang, jurang, dengan turunan yang cukup sulit. Tanah 30%, 30% makadam, dan 10% aspal. Bisa ditempuh dengan gowes langsung ke lokasi dari garut sejauh 18 km atau dengan kendaraan langsung ke titik start dengan menggunakan colt L300 atau pick up. Untuk Truk besar atau beus bisa juga tapi hanya sampai pinggir jalan raya. Kemudian digowes ke titik start sejauh 1 km. Jarak tempuh lebih kurang 12 km, lama waktu antara 2-3 jam. Bila digowes langsung dari Garut kota sekitar 30 km (PP) dan finish di pemandian air panas (Cipanas). Bisa langsung berenang atau sekedar berendam, atau bila menginap di hotel atau di penginapan Cipanas bisa langsung rendaman di kamar masing-masing.

Berikut adalah peta trek onroad-offroad Garut-Cibeureum-Garut

3. Cirorek berada di lereng perbatasan Garut Tasik, lebih kurang 7 km dari Garut. dapat ditempuh langsung dengan gowes langsung melewati tanjakan ngamplang sejauh 4 km dan jalan aspal hotmix sampai ke lokasi. Atau loading sampai lokasi hutan pinus Cirorek. Treknya terbagi dua arah, arah pertama single trek, dengan kontur tanah, di tengah hutan pinus. Jalur ini cukup ekstrim karena diperlukan fisik yang bagus. Harus TTB. Konturnya 30% makadam, 40% tanah single trek,20% beton pnpm, dan 10 % aspal.
Trek kedua, dari tengah-tengha single trek hutan pinus belok ke kiri.  Masih semi turunan, kemudian turunan cukup tajam siap dijajal dengan kondisi singl trek tanah. Lanjut dengan  turunan kontur makadan sejauh 2 km. Berakhir di sebuah pematang sawah, bisa digowes.  Tapi diperlukan balancing dan kontroling handlebar serta kontrol emosi yang tinggi.  Salah-sala, Anda akan tercebur di sawah.  Di akhir trek, setelah kembali mencumbu turunan aspal tipis.  Anda, disuguhi tanjakan Aura Kasih, yang cukup meliuk dengan kemiringan aduhai sejauh 500 meter.  Pendek memang, tapi hanya sedikit orang yang bisa khatam di tanjakan ini.

4. Cihanjawar-Dayeuh Manggung, berada di perbatasan Garut-Tasik searah dengan trek Cirorek. Bisa ditempuh dengan gowes dari kota Garut sekitar 7,1  km aspal jalan propinsi. Belok Kanan di Cihanjawar dan langsung makadam nanjak sejauh 5 km. Turunan makadam 1 km. Tiba di Curug Hanjawar dan masuk perkebunan teh. Jalurnya single trek variatif tanah, makadam dan kebun dengan perkebunan teh atau sayuran. 40% Makadam, 40% tanah, 20% beton. Udara sangat dingin dan bisa istirahat di masjid milik perkebunan teh Dayeuh Manggung. Panjang trek 5 km, waktu tempuh antara 3-4 jam tergantung sikon.

5. Godog, trek paling populer di Garut, karena pendek (hanya 12 km dari Garut kota). 50% nanjak dengan aspal. Tapi bila ditempuh dari Lapang Nagrog (lebih kurang 6 km dari Garut) 80% makadam! Full nanjak! Untuk offroadnya bisa ditempuh jadi 2 jalur terserah kesukaan. Mau langsung ke kota atau masuk ke Margawati dan melanjutkan ke Cilawu. Treknya sangat ekstrim. Sudah cukup banyak memakan korban. Lebih baik tidak offroad di sini bila musim hujan tiba. Trek ini cocok buat para penikmat tanjakan tingkat sedang 

Trek Godog, bisa juga ditempuh dari desa Nagrog. Konturnya lebih menantang dan lebih sexy. Tanjakannya mantap, dengan makadam jahanam. Cocok untuk latihan XC sedang.  Panjang trek 28,54 km (pp).

Berikut petanya:

6. Sagara, trek ini cukup panjang sekitar 34 km, konturnya 30% makadam nanjak dengan tingkat kesulitan biasa. 20% beton pnpm, dan selebihnya adalah tanah dengan variasi turunan dan tanjakan yang sangat sangat ekstrim. Tidak dianjurkan memakai sepeda XC biasa. Dianjurkan membawa air cukup banyak, makanan secukupnya. Diperlukan ketabahan dan kesabaran, karena sangat panjang sehingga memerlukan waktu yang cukup lama (5-6 jam). Tapi soal pemandangan, jangan tanya deh! Keren habis! Untuk tiba di trek ini, bisa ditempuh dari kota Garut sejauh 12 km dengan gowes atau loading ke Kecamatan Wanaraja.

7. Waspada, trek ini sekitar 56 km (pp). Bisa ditempuh dengan gowes langsung atau dengan loading dulu ke Cikajang. Lebih kurang 29 km dari Garut Kota.Tapi mayoritas pesepeda di Garut menggowesnya langsung ke arah Gunung Papandayan/Cikuray. Dari alun-alun Cikajang, belok kiri, dan langsung menuruni turunan sangat tajam.Sebaiknya dituntun saja. karena turunan langsung berbelok dengan jembatan bambu. Sangat bahaya. masuk jalanan kampung sejauh 300 meteran, dan tembus di jalan aspal. menuju ke perkebunan Waspada. Tanjakannya cukup curam dengan turunan yang tidak kalah curamnya. 50% tanah single trek, 20% aspal, dan 30% beton. Pemandangan sangat indah karena kita berada lebih kurang di pertengahan gunung Cikuray.

8. Satria, trek yang berada di perbatasa Cilawu Tasikmalaya-Garut, dapat ditempuh dari Garut kota dengan gowes langsung atau loading sejauh 27  (pp) km. 8 km dari garut kota belok kiri sebelum tikungan Cilawu. Treknya makadam 50%, 30% single trek perkebunan teh, 20% aspal/beton. Pemandangan dan keasriannya masih perawan!

9. Lingga Ratu,  tanjakan full 4 km, makadam sopan dan tanah. Masuk dari Jalan Raya Garut-Wanaraja, Pertigaan Desa Sindang Palay, Kampung Nangorak. Pemandangannya sangat cantik dan mempesona. Siapkan perbekalan air yang cukup, makanan dan protektor lengkap. Tidak dianjurkan untuk gowes sendiri, minimal 5 orang, karena untuk trek offroadnya sangat ekstrim. Untuk ke trek ini sebaiknya ditemani oleh orang berpengalaman dan tahu  medan Lingga Ratu dengan baik. Pssst, angker!

10. Cisaruni, trek ini cukup panjang. Terletak di Cikajang arah Pameungpeuk, lebih kurang 3 km dari kota kecamatan Cikajang, belok kanan. Merupakan areal perkebunan teh, yang sudah berubah menjadi perkebunan palawija. Treknya sangat indah, terdiri dari kontur tanah perbukitan 90%, sisanya semen atau beton di perkampungan. Jarak tempuh offroad 6 jaman.

Cisaruni adalah trek kedua terpanjang di Garut.  Paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek memanjang di sepanjang trek Cisaruni.  Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 23 km dalam waktu 6-7 jam.

11. Gunung Papandayan, digowes langsung dari kota Garut memakan waktu sekitar 3 jam. Full tanjakan, cocok buat para goweser IPDN. Jalannya hotmix karena merupakan jalan propinsi ke arah Cikajang, Pameungpeuk. Trek downhill-nya dengan kontur tanah, makadam dan perkebunan sekitar 2 km, tapi downhill di aspal tipisnya sangat memuaskan. Bahkan, bisa biki BT hehehe…lebih kurang setengah jam. Anda akan meluncur dari Puncak Papandayan yang tembus di Desa Pangauban Bayongbong.

12. Batu Tumpang, merupakan sebuah batu granit yang tingginya sekitar 60 m. View-nya sangat indah, dengan udara yang sangat sejuk dan segar. Dianjurkan untuk datang ke tempat ini sebelum jam 13.00 karena lebih dari jam itu dipastikan akan berkabut.  Terletak 7 km dari Kecamatan Cikajang. Treknya murni untuk onroad. Dari Garut kota digowes lebih kurang 3 jam. Full tanjakannya.

13. Margawati-Cilawu

Trek Margawati-Cilawu, sangat cocok untuk latihan endurance. Panjang trek 24,31 km dengan kontur tanjakan aspal panjang sekitar 8 km. Kontur makadam terdapat pada turunan dan tanjakan curam sehingga cocok untuk XC ringan. Bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam. Di sepanjang jalur banyak warung, sehingga tidak perlu membawa perbekalan. Namun, untuk tools kit, sangat dianjurkan. Karena tanjakannya sangat panjang, sehingga salah-salah mengatur shifter. Rantai bisa putus.

14. TrekGunung  Talagabodas-Sadahurip

Trek ini baru dieksplorasi lebih kurang 2 bulan yang lalu, pasca issue adanya piramida tertua di Gunung Sadahurip.  Trek ini bisa ditempuh dari tiga titik. Yaitu dari Pasar Wanaraja, Pasar Sukawening, dan Karaha (Malangbong).

Dari Pasar Wanaraja, harus diloading sampai pertigaan puncak Gunung Talaga Bodas, Karaha (Malangbong) dan Garut.  Lebih kurang 10 km dari pasar wanaraja, kita disuguhi, jalan berbatu yang super “gila” batunya segede-gede kepala orok! Sewa colt pick-up L-300 dari Garut sekitar 250 ribu- 300 ribu. Tergantung keterampilan menawar Anda. Segitu bisa terhitung murah, karena medan yang teramat berat. Jarak yang hanya 12 km, harus ditempuh selama 1,5-2 jam.  Berarti hampir sama dengan waktu untuk ke Bandung (60 km dari Garut).

Soal trek offroadnya, dijamin bakal orgasme deh.  Melewati perkebunan palawija di kaki gunung Talagabodas. Menyusuri jalan setapak di kebun, single trek yang melewati jembatan bambu dll. Trek offroad-nya sekitar 6 km.  Hati-hati, karena mayoritas berupa kebun jagung. Salah-salah jalan, Anda akan berkeliling di tempat yang sama. Seperti masuk labirin.

Titik start dari Sukawening. Treknya berupa aspal rusak, makadam dan beton PNPM sejauh 8 km. Tanjakannya sangat variatif, bisa gowesable! Tentunya bagi yang mampu :p

Tiba di kaki gunung Sadahurip, langsung offroad sekitar 2 km. Sepeda bisa dibawa sampai lebih kurang 300 meter dari puncak Sadahurip.  Selanjutnya, silakan naik ke puncak gunung Sadahurip.

Trek Offroad dari Talagabodas – Cicapar Sadahurip

15. Trek Garut-Cintamanik-Karaha-Talagabodas-Sadahurip-Garut

Trek ini cocok untuk Endurance Test, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 8-10 jam. Cukup panjang, yaitu sekitar 70,70 km.  Itupun kalau tanpa ada trouble bin halangan seperti ban pecah, keram kaki dan lain-lain. Sangat dianjurkan untuk membawa persediaan air yang cukup.  Karena kontur trek yang cenderung tanjakan.  Apatah, kalau matahari sedang “sale” dijami akan super haus.  Selain makan siang yang cukup banyak, juga makanan ringan seperti coklat, permen atau wafer bahkan gula merah akan sangat membantu di trek ini.

Sangat disarankan cek rem depan belakang dengan hati-hati mengingat tanjakan dan turunan cukup esktrim. Ban cadangan serta peralatan P3K terutama obat gosok sangat dianjurkan.

Jarak tempuh dari Garu-Sukawening-Karang Tengah yang sekitar 19 km, dapat ditempuh sekitar 2 jam.  Karena konturnya yang ramah, hotmix yang mulus dengan sedikit tanjakan pasca pasar Sukawening sekitar 3 km.  Trek selanjutnya berubah menjadi aspal tipis dan setengah rusak sekitar 3 km, dengan medan tanjakan yang sangat seksi :p.  Setelah itu berubah menjadi beton PNPM saat memasuki Desa Cintamanik. Turunan tajam sekitar 1 km, segera menyongsong setelah melewati Pasar Cintamanik.  Selanjutnya adalah Anda akan dihadang tanjakan sangat aneh.  Pondok nyongok, seperti perut ibu yang sedang hamil :p  Bedanya, yang ini terus nanjak, sangat nanjak, dan sangat-sangat nanjak dan sangat nanjak sekali :P. Tanjakan beton tersebut sekitar 4 km. Tidak ada turunan atau tanah datar sama sekali.

Beton PNPM habis, langsung dihadapkan pada trek tanah. Hutan. Tanjakan kembali dengan tingkat kesulitan yang hampir “virgin”.  Dibeberapa bagian, terdapat jalan yang cukup dalam akibat ban motor yang memakai rantai.  Memasuki hutan pinus sekitar 1,5 jam dengan kondisi medan terus tanjakan. Jalan terobosan ini, langsung menembus ke kawasan Karaha, yaitu sumur pembangkit listrik tenaga uap #2 dan #3.

Selanjutnya, turunan trek makadam cukup lebar sekitar 2 km. Batu-batuan yang lepas dengan diameter cukup membuat ketar-ketir. Bila Anda ragu-ragu lebih baik, tidak memacu sepeda di daerah ini.  Bisa-bisa terjerembab ke atas batu-batuan yang tajam.  Turunan makadam ini, berakhir di “jalan raya”.  Ke kiri adalah menuju ke Kadipaten (Tanjakan Gentong-Tasikmalaya) dan ke kanan adalah menuju Talagabodas.

Bila mengambil ke arah Talagabodas,  treknya berupa jalan eks aspal dengan kontur turun naik sepanjang lebih kurang 10 km.  Lebih kurang 400 meter dari pertigaan Garut-Tasik-Talagabodas, ambil jalan ke kanan. Yang langsung berhadapan dengan gunung Sadahurip.  Di sini, silakan pasang protektor, cek rem, turunkan sadel, dan kurangi tekanan ban.  Karena offroad segera akan memanjakan Anda.  Tapi, jangan gembira dulu karena lebih kurang 500 meter, kita akan dihajar makadam kembali dengan batu-batu yang tajam dan lepas.

Selanjutnya single trek tanah perkebunan kentang dengan pemandangan Gunung Sadahurip, Kota Garut dan Gunung Talagabodas.  Jangan lewatkan untuk menikmati pemandangan atau sekedar berfoto ria di sini.  Hati-hati saat, single trek tanah selesai.  Kembali dihadapkan turunan makadam, dengan jurang cukup dalam di sebelah kiri. Sebaiknya ambil jalan kanan.  Tiba di Kampung Cicapar, basecamp untuk naik ke Gunung Sadahurip, jalan berganti kembali menjadi beton PNPM.  Silakan meluncur dengan deras, tapi hati-hati banyak anak-anak atau motor.  Turunannya gak ada tanjakan dan langsung menuju Pasar Sukawening.

Berikut adalah petanya:

16. Trek Gunung Papandayan - Cileuleuy- Leuweung Panjang- Tumaritis- Arjuna-Sumbadra-Garut

Trek ini sangat-sangat panjang, untuk itu wajib diloading sampai Puncak Papandayan (Kawah), karena jarak dan waktu tempuh yang teramat panjang. Disarankan berangkat dari Garut kota tidak melebihi jam 7. Karena jam 8 tepat, saat tiba di tempar parkir di Papandayan yang ditempuh lebih kurang 1 jam. Kita harus langsung melakukan TTB dengan medan yang sangat curam dan  memerlukan ketabahan yang cukup tinggi. Lebih kurang 4 km melewati kawah dan hembusan uap panas serta bau belerang harus berjuang melawan rasa takut, rasa lelah dan konsentrasi jangan sampai terpeleset dan terjatuh di atas bebatuan yang berbau belerang.

Jarak 4 km tersebut ditempuh, biasanya sekitar 2 jam. Termasuk waktu yang yang dipakai untuk narsis. Foto-foto untuk oleh-oleh kepada handai taulan dan bukti kepada istri yang mereka yang termasuk anggota “Susis”.  Perjuangan yang sungguh berat diakhir perjalanan, lebi kurang satu meter dari tempat yang dikenal dengan Pintu Angin. Dikatakan berat, betapa tidak kemiringan dan kontur tanah khas gunung berapi yang licin dan cukup dalam serta curam. Memerlukan kesabaran dan keterampilan tersendiri.  Jalannya sangat sempit. Praktis kita harus mengatur langkah yang unik karena juga harus mendorong sepeda.

Tiba di Pintu Angin, saatnya beristirahat dan mengambil nafas. Melenturkan kaki, dan mengecek rem sekaligus menurunkan sadel. Jangn lupa, ban dicek, agar tidak terlalu keras. Karena medan selanjutnya adalah, makadam! Turunan panjang dengan batu-batu yang cukup bikin hati miris.  Terkadang harus berhenti sesaat karena, tangan dan pantat cukup kesemutan, dihajar makadam.  Sekalipun sepeda fullsus di trek ini tidak berlaku :p Trek makadam itu kadang menyempit, dan masuk ke single trek tapi tetap dengan makadam. Salah-salah mengatur keseimbangan, betis kita akan dihajar batu atau pedal yang terbanting.

Turunan makadam tersebut lebih kurang 3 km, selanjutnya sedikit menanjak sekitar 50 meter. Masuk ke perkebunan kentang. Dan….inilah bonus yang sangat dinantikan. Turunan, turunan, dan turunan terus tidak ada hentinya. Meliuk dan meluncur di atas single trek tanah perkebunan kentang. Sungguh sensasi tersendiri.

Trek masih juga turunan, tapi perkebunan kentang berubah menjadi perkebunan pohon Eucaliptus diselingi wortel, kental dan kubis. Masih single trek. Kita masih bisa meluncur dengan deras :D  Akhirnya single trek berakhir di perkebunan teh Cileuleuy. Single trek, masih juga menurun. Diakhiri dengan turunan yang sangat curam, tapi masih bisa gowesable.  Tapi diperlukan keberanian, dan kehati-hatian yang mumpuni.  Salah-salah, jadi jungkir balik, seperti yang dialami 3 orang teman kami :)

Trek kemudian berubah menjadi jalan makadam, khas perkebunan teh yang juga masih menurun cukup tajam. Tapi, yang pintar dan punya keberanian, silakan ambil jalan kiri. Menyusuri bahu jalan, yang juga telah berubah menjadi single trek tanah. Turun-turun dan turun terus sampai memasuk perkampungan Cileuleuy.

Tiba di Cileuleuy, Anda yang akan melanjutkan ke Pangalengan. Silakan ambil jalan kanan menuju perkebunan Santosa yang memakan waktu lebih kurang satu jam. Untuk yang belum kenyang berpetualang. Ambil jalan ke kiri dan menuju ke Garut sekitar 65 km.

Treknya, lagi-lagi makadam. Tapi praktis hampir tidak ada tanjakan. Jalannya kadang datar kadang menurun ringan.  Tapi mayoritas jalan, adalah jalan datar dengan makadam ringan. Diperlukan keterampilan dan ketahanan fisik untuk melakukan “rolling”,  mengayuh putaran crank dengan kecepatan putaran yang tetap. Hampir 4 jam kita perjalanan harus ditempuh. Melewati hutan belantara “Leuweung Panjang”, Gunung Arjuna, Gunung Tumaritis dan Sumbadra yang semuanya merupakan perkebunan teh.

Sangat disarankan membawa, toolkit, pemotong rantai, kunci 14, ban dalam cadangan, bahkan ban luar serta lampu untuk melakukan perjalanan malam atau kabut yang kadangkala muncul tiba-tiba. Sehingga jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja. Cukup tebal, dan merepotkan bagi mereka yang memakai kaca mata minus. Kadang-kadang, ada trek shortcut yang cukup panjang di single trek tanah. Sehingga kembali kita bisa meluncur offroad. Meninggalkan teman-teman kita yang memakai jalan makadam biasa :p

Petualangan berakhir di Gerbang Perkebunan Papandayan, Sumbadra, Cikajang lebih kurang 39 km dari Garut kota. Memasuk daerah ini, kita sudah mulai lega. Sepertinya sudah tiba.  Karena jalan propinsi Garut-Bungbulang yang dilewati truk, serta angkutan umum cukup banyak.  Tapi lebih baik digowes saja, karena Cikajang Garut, hanya berupa turunan jalan hotmix mulus.

Bagi yang akan mencoba trek ini, silakan dilihat petanya:

17.  Sang Hyang Taraje

Adalah sebuah air terjun yang sangat cantik, ketinggiannya kurang lebih 70 meteran.  Lokasinya terletak di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Lebih ke jalur wisata, dan lebih pantas untuk funbike.  Single track-nya sudah berganti dengan aspal dan beton :( Tapi tetap satu jalur sepeda yang layak dijajal untuk yang suka petualangan downhil-uphill dan downhar (ngadon dahar). Sebaiknya loading dulu dari Garut kota sampai di Curug Orok, kemudian meluncur turunan sejauh lebih kurang 17 km berupa aspal hotmix yang sepi kendaraan dan makadam di tengah perkebunan teh Papandayan. Di sebelah kiri jalur adalan pegunungan tempat eksplorasi emas dan batu topaz (akik). View-nya sangat keren dah!

Bila Anda penyuka uphill  jalur ini sangat tepat.  Dari Sang Hyang Taraje, kembali menuju Desa Cisandaan. Tapi mengambil shortcut, satu tahun lalu masih berupa tanah.  Tapi tanggl 29 Desember 2013 kemarin sudah berupa jadi aspal tipis, dan beton. Tanjakannya Naudzubillah! Sebenarnya bisa digowes untuk para juara total nanjak sampai Cikajang lebih kurang 27 km! Asli Nanjak! :p

1557725_10200575114975398_1725566034_n

Untuk yang membawa kendaraan pribadi bisa diloading sampai di Desa Cisandaan dan numpang parkir di rumah penduduk.  Karena, waktu pulang akan melewati desa yang sama.

Di Desa Prabumulih setelah Pos Ronda (mentok) ambil jalan ke kiri, masih terus berupa turunan sampai ke Air Terjun Sang Hyang Taraje.  Untuk tiba di air terjun, sepeda bisa digowes.  Tapi diperlukan kehati-hatian yang super :). Saat kembali menuju Cisandaan,

Peta ringkasnya:

sanghyangtaraje

18.  Gunung Darajat-Cidadali-Garut Titik start adalah di Pasir Gagak, Gunung Darajat lebih kurang 25 km dari Garut kota.  Di awal jalur kita langsung disuguhi turunan di tengah perkebunan pinus dan palawija berupa single track  yang kadang-kadang sangat curam.  Sebaiknya kalau mau gowes di sini tidak terlalu banyak, karena akan menggangu kesan turunannya yang garing.  Turunan jalur tunggal berakhir di sebuh kampung kecil, selanjut berubah menjadi tanah pasir, masih menurun.  Memasuk kampung Pasir Wangi, jalur berubah menjadi beton, yang juga tetap turunan.  Jalur terus cenderung turunan sesekali diselingi tanjakan pendek tapi curam.  Tapi pada umumnya masih bisa digowes.

Bila penyuka AM jalur ini sangat cocok, bisa digowes langsung menuju Puncak Darajat lebih kurang 1500 mdpl. Dari Garut kota lebih kurang 25 km.  Atau bisa juga melingkar melewati punggungan sebelah barat, tidak melewati jalur jalan raya.  Melewati perkampungan dan sawah, tembusnya sama di puncak Darajat.

Jalur Gunung Darajat tembus ke Kampung Cidadali dimana jalur Cibeureum juga melewati kampung ini.  Bisa langsung tembus di pemandian Cipanas Garut!

19a.  Gunung Karacak-Cilawu 

Jalur ini baru ditembuskan pada pertengahan Desember 2013, relatif masih perawan dengan vegetasi hutan pinus dan hutan tropis. Dari Garut kota hanya 6 km sampai ke titik offroad. Digowes langsung dari Garut kota hanya membutuhkan 30 menit, dengan kontur tanjakan sedang. Dua kilo meter kemudian memasuk hutan pinus, di Sukanegla. Dari sana kita harus TTB lebih kurang 15 menit.

Sesudah TTB, kita disuguhi turunan yang masih perawan.  Kadang-kadang jalur tidak terlihat karena pekatnya rumput dan semak-semak.  Tapi jalur ini masih bisa digowes sekalipun turun hujan.  Tanahnya keras, dan berada dalam kelebatan hutan pinus yang masih rapat.  Sesekali tampak monyet berloncatan dari pohon ke pohon, diselingi kicauan burung-burung hutan dan melayangnya burung elang yang  mencari mangsa.

Menurut informasi jalur ini sebenarnya bisa tembus ke Cirorek, Gunung Waspada dan Parentas, Cigalontan, Singaparna, Tasikmalaya.  Tapi baru yang tembus ke Cilawu  ini yang telah diexplorasi dan sangat rekomend untuk goweser yang suka AM.  Jarak tempuh total lebih kurang 6 jam (digowes full dari Garut kota).  Jalur ini hanya melewati dua tanjakan, selebihnya adalah turunan!

Untuk yang mau offroad-an di Garut silakan email ke dessulaeman@gmail.com atau facebook kami http://www.facebook.com/kgcgarut.mountainbike   atau kunjungi situs Komunitas Garut Cyclist (KGC Garut) via Kontak Kita.

Dengan senang hati, saya dan teman-teman akan menemani dan membatu dengan batas kmampuan yang ada hehehe :)

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 23, 2011

10 Jam Bercumbu dengan Lebatnya Hutan Kamojang-Darajat

Trek yang akan kami lalui, menurut informasi belum pernah diketahui keberadaan treknya. Bahkan, salah seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia offroad mengatakan, bahwa jalur dari Puncak Kamojang ke Kawah Darajat tidak ada jalurnya. Bahkan, mereka tidak mengetahui bahwa kalau di salah satu puncak Kamojang terdapat sebuah Danau yang masih perawan. Terletak antara Kabupatan Majalaya dan Garut. Mereka baru terdiam, kalau kami akan gowes offroad bareng dengan Gasheba alias Group Sapedah Bayongbong yang sering ngetrek ke sana.

Jam 08.30 semua anggota rombongan plus dua peserta newbie menyusuri aspal hotmix Jalan Papandayan-Sukapadang-Pembangunan-Samarang yang makin lama makin menanjak. Diselesaikan tanpa halangan sedikit pun.  Di sebuah warung nasi, seperti biasa membeli nasi bungkus alakadarnya. Setelah regrouping dan lengkap. Perjalanan dilanjutkan dan bergabung dengan group Gasheba yang telah menunggu di terminal Samarang. Tidak seperti kami yang berpakaian campur sari, dana apa adanya. Gasheba berpakaian seragam jersey telor asin. Mantel biru tua, yang juga bertuliskan Gasheba.  Setelah saling memperkenalkan diri, kami pun segera akrab dan menyusuri tanjakan Samarang-Puncak Kamojang.

Tanjakan Randu Kurung

Saat di tanjakan Randu Kurung, sebagian anggota mulai berguguran. TTB karena tanjakan yang curam dan panjang. Karena di belakang tidak ada tim penyapu, akhirnya saya menunggu mereka yang tertinggal. Tak lama kemudian,  Mr. Ngicik alias Pak Iim dengan diiringkan grup Gasheba lewat dengan neng Patty-nya. Pak Dedi, Pa Asep Stroberi dan Pak Nanang jauh tertinggal di belakang. Bisa dimaklumi, mungkin Pak Nanang dan Pak Dedi menemani Pa Asep Stroberi dengan Neng Evi (Evolution AM)-nya yang keteteran. Maklum newbie, langsung dihajar tanjakan Randu Kurung mah julukan Asep Stroberi berubah jadi Asep Stresseuri. Kumis dan janggut Pak Asep, yang pada waktu berangkat tampak gagah mirip kumis dan janggut Sashee Kapoor. Di tanjakan itu mah, berubah menjadi kuyu dan layu, mirip Pence Sumendap hehehe…

Untunglah, dalam penderitaan tanpa akhir tersebut. Dari jauh tampak, Mr. Philip, yang terus terang terang terus. Segera balik kanan dan menjemput Neng Evi (Evolution AM), sementara “sang suami” Pak Haji Asep Stroberry ditinggalkan dan dibiarkan berjalan ditemani Pak Dedi dan Pak Nanang. Mr. Philip mengatakan, kalau Pa Asep Tebe, yang saya yakini sedang sakit tipes. Malah, sedang menyusul katanya. Gelo, orang ini bener-bener gila. Disuruh bedrest, malah nyusul belakangan. Nekad!

Regrouping kedua di sebuah warung masjid pertengahan Kamojang. Semua rehat, dan menyantap gehu dan bala-bala. Sambil menunggu Pa Asep Tebe, yang sprint dari Garut kota. Dan memang tak lama kemudian, ternyata dia sudah tiba dengan KHS nya! Edan. Bener-bener edan. Sedang sakit  (tipes?) saja mampu, melahap tanjakan Randu Kurung dalam waktu yang singkat. Bahkan, dengan sumringah dia memperlihatkan kaos jersey dan seluruh tubuhnya yang mandi keringat. Basah kuyup seperti baru diceburkan ke dalam sungai.

Jegerna (Jelema Gering Nekadna Aneh)

Sementara beristirahat, para Gasheba-ers sudah meluncur lebih kurang setengah jam lalu. Mereka, sangat kompak. Beriringan baik di tanjakan atau di turunan. Mungkin karena kemampuan mereka sudah sangat mapan. Sehingga tidak ada kesulitan untuk selalu bersama.

Gasheba, nanjak mudun selalu bareng

Dirasa cukup beristirahat dan mendinginkan keringat. Semua akhirnya kembali gowes menuju puncak Kamojang. Arboretum Cimanuk terlewati, jalanan sedikit menurun tapi  hanya sebentar. Kemudian menanjak lagi dan membelok tajam dan panjang. Rombongan kembali mulai tercerai berai. Pa Asep Tebe mengawal Pa Asep Stressberry, eh Stroberry. Dua orang bernama sama: Asep, tapi beda nasib. Yang satu Asep TB profesinya sesuai dengan namanya Tukang Boseh, sementara Asep yang satunya sama juga sesuai dengan namanya, Tukang Stroberry!

Akhirnya, tiba juga di Pintu Gerbang Puncak Kamojang yang merupakan Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Bumi yang dikelola oleh Pertamina. Sebentar mengambil kesempatan untuk membuat foto keluarga, walaupun tidak lengkap. Kembali gowes dan tiba di masjid besar, untuk sholat dhuhur. Di halaman mesjid tampak sedang mengobrol santai para Gasheba-ers dengan teman-teman dari KGC Garut. Sebagian sedang sholat dhuhur.

Gerbang Kamojang

Setelah selesai semua sholat dhuhur, perjalanan dilanjutkan melewati pipa-pipa putih mengkilat yang sesekali cerobong di  setiap sisinya mengeluarkan uap panas. Wush…berbau belerang cukup kuat. Lebih kurang 2 km, mengikuti alur pipa putih mengkilap dengan semburan uap panas tersebut. Berbelok kiri. Mengambil jalur offroad. Disini kembali foto keluarga bergabung dengan Gashebar-ers.

Ternyata, trek yang dilalui tidak seperti yang dibayangkan. Jalannya, menanjak sangat tajam. Dengan lubang memanjang di tengahnya. Praktis, kita harus mendorong sepeda dengan posisi yang sangat sulit. Mendorong ke atas, tetapi kaki juga harus meregang. Praktis tenaga kita tidak bisa terpusat. Tapi terbagi, antara kaki dan lengan serta kestabilan badan. Salah sedikit, bisa dipastikan, tubuh atau sepedah akan kembali meluncur ke bawah. Beberapa kali, terdengar teriakan-teriakan histeris, karena stress. Maklum, tanjakan sepertinya tidak akan berakhir. Terdengar pula sesekali suara keras; “Hoi, masih jauuuuuhh???”

Bisa dipastikan, kurang-kurang mental dan kemauan kuat. Akan balik kanan. Tapi kalaupun balik kanan, mau pulang dengan siapa? Di tengah hutan dengan vegetasi khas hutan tropis basah? Dengan kondis jalan yang licin dan berlumpur? Ban sepeda, praktis semuanya sudah berbalut dengan tanah merah bercampur pasir hitam. Mirip donat! Hal itu menambah berat sepeda dan menambah tenaga yang harus dipakai untuk mendorong sepeda.

Yang lebih menyulitkan, saat harus mendorong sepeda, sekaligus kita harus mendorong sepeda di bawah semak-belukar yang mirip terowongan! Tidak jarang, dagu sampai harus menempel pada setang sepeda, mata harus tetap awas. Salah-salah, helm akan terkait oleh ranting atau rotan.  Tubuh, benar-benar basah sudah dibasuh dengan keringat yang mengalir deras. Nafas pun memburu satu-satu. Degupan jantung sepertinya sudah berpindah ke telinga dan terdengar jelas. Sehingga telinga jadi berdenging!

Hampir satu jam, perjuangan menaklukan tanjakan dengan istri masing-masing berlangsung sebelum tiba di tempat yang “datar” (dalam tanda kutip). Tetap saja, kita harus menekan handle rem. Karen bila tidak, pasti sepeda mundur lagi. Akhirnya sepeda bisa dinaiki, dengan cara kaki tetap teregang. Menginjak tanah karena jalan yang tidak mungkin di gowes. Lubang dalam akibat sepeda motor trail, mengakibatkan ban sepeda hanya terlihat tiga perempatnya. Bisa dinaiki, tapi tidak bisa digowes. Perjalanan makin sulit, karena sekarang jalanan memang menurun. Tapi kondisinya tidak jauh lebih baik pada waktu tadi naik. Sama buruknya. Sesekali bisa laju, tapi bukannya digowes, tetapi karena menggelosor. Akibat ban belakang yang direm penuh. Sedangkan posisi tanah menurun tajam.  Bahkan, sesekali sudah licin, berlumpur, jalan menikung dengan tajam.

Setelah hampir satu jam, bergulat dengan diri sendiri ditengah hutan lebat dengann tangan yang tidak boleh lepas dari istri kedua.  Turunan Edan, tersebut akhirnya habis dan baru berakhir setelah kita tiba di sebuah danau yang sangat, sangat, sangat…. Allahu Akbar! Subhanallah…!!! begitulah kami berteriak-teriak mengumandangka takbir dan tasbih melihat kemolekan danau Ciharus. Ainya jernih. Dikeliling hutan lebat dan naungan awan putih sore hari. Sunyi. Luas, saking luasnya tampak ombak kecil yang tercipta dari pergerakan udara dari tengah danau. Sesaat kami terdiam. Terkesiap, takjub oleh keindahan lukisan Sang Maha Pencipta yang sulit dilukiskan dengan kata-kata…

Tidak bisa dibayangkan jauh di puncak gunung, dan hutan lebat. Terdapat danau yang sangat luas. Tampak, 3 orang pemancing, seorang sedang memasak air dan nasi di sebuah tenda darurat dari plastik. Dua orang lagi sedang asyik memancing. Tanpa menghiraukan kedatangan kami.

Jam menunjukkan pukul 15.10. Total perjalanan dari jalan raya menembus hutan lebat berupa tanjakan dan turunan tadi sekitar 2 jam. Untuk para pemula, sangat tidak dianjurkan melalui jalur ini hehehe…salah-salah akan menangis!

Karena terlalu lapar, makan siang pun sangat tidak terasa. Hanya untuk mengganti energi yang tadi terkuras. Asal makan. Entah terpengaruh kondisi yang terlalu lelah. Saat makan semur ikan, yang dibeli dengan ragu-ragu dari warung nasi di terminal Samarang tadi. Akhirnya, digantikan oleh telur dari Pak Wawan. Air minum dari dalam botol dan hydropack, total 2,7 liter habis. Kering. Sedikit ragu, memberanikan diri. Meminta air dari teko yang dipanaskan dalam tenda oleh pemancing. Sangat panas, sehingga tidak bisa langsung diminum. Akhirnya, harus bersabar karena nasi keras dari warung tadi sepertinya tersangkut di tenggorokan.

Dikarenakan waktu yang sudah terlalu sore, dan mendung makin gelap. Selesai makan, perjalanan harus dilanjutkan. Surprise! Ternyata awal perjalanan, harus melewati sungai kecil dengan lebar lebih kurang 10 meter. Kecil memang, tapi cukup dalam. Pilihan hanya dua, digowes atau digowes! Kurang-kurangnya terampil, dipastikan akan terjungkal dan jatuh ke dalam air. Cukup dalam. Setengah ban :)

Perjalanan berlanjut dengan melewati kubangan-kubangan lumpur bercampur pasir. Sepatu, kaos kaki, sarung tangan dan pakaian penuh dengan lumpur. Seru dan menegangkan. Karena sesekali harus melewati jembatan bambu, dengan jurang di bawahnya. Beberapa kali, kembali sepeda harus dituntun karena tanjakan yang sangat tidak mungkin. Bahkan, untuk pertama kalinya selama gowes. Neng Spezy harus digendong oleh orang lain.

Salut untuk para Gasheba-ers yang fisiknya sepertinya tidak ada capenya. Bahkan, air di dalam botol mereka masih ada yang utuh. Berkali-kali, sepeda para KGC-ers harus dipangku dan digendong serta diselamatkan dari alam yang sangat tidak bersahabat. Bahkan, neng Patty dan neng Evi…harus mengalami KDRT untuk pertama kalinya. Sang suami, Pa Iim dan Pa Asep sudah sangat tidak berdaya. Harus merelakan isteri mereka dicumbu dan digendong oleh orang lain….

Jalur ini, sebenarnya akan sangat mengasyikan bila tidak ditimpa hujan. Single trek, di hutan pinusnya sangat menggairahkan. Sayang ditimpa hujan, dan sebagian treknya hancur oleh ban motor trail. Jadi tidak bisa dilewati sepeda.

Kurang lebih satu jam setengah, akhirnya perjalanan berakhir di sebuah kebun sayuran. Saat ditanyakan pada seorang pemuda yang berdiri di tengah ladang. Daerah itu bernama Pada Awas, Kecamatan Pasir Wangi area Kawah Darajat. Disebuah warung, berhenti sejenak dan menikmati segelas susu hangat. Sementara yang lain, menikmati segelas kopi dan beberapa batang rokok.

Jam 17.45 perjalanan dilanjutkan dengan meluncur. Meluncur karena jalanan cukup rata. Meluncur makin deras saat melalui jalan hotmix Kawah Darajat-Samarang. Terjadi balapan antara para Gasheba dengan KGC-ers, di tengah hari yang mulai gelap. Mata dan pikiran harus awas, karena kendaraan cukup ramai. Susul menyusul terjadi, bahkan sesekali harus menyalip motor atau roda empat. Kecepatan menurut om endomondo.com mencapai 56,3 km/jam :P

Akhirnya di perempatan Samarang dan Bayongbong, Gasheba-ers dan KGC-ers berpisah. Karena perjalanan berbeda arah. Setelah basi-basi agar tidak kapok. Kami pun harus berpacu melawan waktu. Karena tidak membawa lampu, sedangkan malam telah gelap gulita. Meluncur sesekali harus terbatuk karena masuknya serangga ke dalam mulut saat mengambil nafas.  Jalanan yang menurun di tengah persawahan yang gelap gulita, benar-benar menguras konsentrasi.  Sesekali terantuk lubang atau karena tidak terlihat. Harus turun dari sepeda, karena ternyata jalanan menanjak cukup tajam. Sedangkan di awal tidak mengambil awahan padahal gear dalam posisi gear kecil!

Jam 18.30 memasuki kota Garut, regrouping. Dan untuk terakhir kalinya, langsung harus gowes kembali ke rumah.Tiba di rumah jam 19.05. Lebih kurang 10 jam bercumbu dengan lebatnya hutan Kamojang Darajat! Memuaskan, dan kapan-kapan pasti kembali ke daerah itu.

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 11, 2011

Panduan Membeli Sepeda Gunung

Memiliki sepeda gunung atau mountain bike pertama Anda mungkin adalah hal yang paling menarik yang diinginkan. Tapi masalahnya adalah, Anda tidak tahu sepeda gunung apa dan yang bagaimana yang sesuai untuk Anda. Teman-teman Anda mungkin menyarankan untuk membeli merek tertentu, sementara toko sepeda mengatakan sebaliknya. Caranya adalah untuk duduk, bersantai, dan mencari tahu apa yang Anda butuhkan. Ini Caranya adalah untuk duduk, bersantai, dan mencari tahu apa yang Anda butuhkan. Trik agar tidak bingung, sebaiknya duduk rileks dan mencari tahu sepeda apa yang Anda butuhkan.  Berikut adalah panduan sederhana, untuk membeli sepeda gunung.

1. Sesuaikan Budget, Tujuan Penggunaan dan Upgrade yang Diinginkan

Hal pertama yang harus Anda lakukan sebelum membeli sepeda adalah mengatur budget Anda. Entry-level sepeda low-end akan mengharuskan Anda menyediakan budget sekitar Rp. 1,2 juta – 2,5 juta . Tentu saja,  sepeda gunung high-end bisa menghabiskan di atas itu atau bahkan puluhan juta.

Mempersempit kisaran anggaran dengan menentukan jenis sepeda apa yang diinginkan, benar-benar akan sangat membantu. Anda tidak membutuhkan sepeda gunung dengan dobel suspensi bila hanya untuk pergi ke toko atau ke kantor. Tentukan tujuan penggunaan sepeda gunung yang diinginkan, akan membantu jumlah anggaran dan mendapatkan sepeda yang tepat. Tidak usah membeli sepeda gunung untuk aktifitas downhill sementara yang Anda lakukan hanya XC atau cross country.

2. Tentukan Komponen Sepeda Gunung yang Diinginkan.

Bila saatnya tiba Anda bisa meng-upgrade satu per satu atau sebagai suatu groupset. Jika Anda seorang pemula dan menginginkan sepeda gunung yang terlihat bagus dan bisa dipergunakan untuk gowes jarak jauh, sepeda kelas menengah sekitar Rp. 1,5 juta sampai 3 juta sudah cukup. Dengan budget segitu, Anda bisa mendapatkan sepeda gunung yang cukup baik dengan suspensi depan dan groupset yang cukup pula. Sambil meningkatkan keterampilan,  Anda dapat meningkatkan atau up-grade komponen sepeda dengan yang lebih baik dan lebih mumpuni.

Tetapi, bila budget bukan merupakan satu masalah bagi Anda. Lebih baik membeli sepeda yang paling baik dan sesuai dengan tujuan dan keinginan. Sehingga, kelak tidak menyesal.

3. Tentukan Ukuran Frame Sepeda Gunung yang Diinginkan

Ukuran frame, adalah hal yang paling pentig saat Anda akan membeli sebuah sepeda gunung. Ukuran frame sepeda gunung pada umumnya 7,62 cm lebih kecil daripada ukuran sepeda yang dipergunakan untuk onroad.

Cara yang paling mudah adalah dengan meletakkan sepeda di antara kaki Anda. Biarkan ujung sadel menyentuh bagian bawah punggung Anda. Angkat roda depan hingga “top tube” menyentuh selangkangan. Roda depan diangkat sekitar 7-13 cm dari atas tanah. Frame merupakan bagian yang paling penting karena kenyamanan dan kemampuan bersepeda secara optimal ditentukan oleh bagian ini. Mungkin bisa ada penyesuaian kecil  dengan memenyesuaikan panjang batang, tinggi dan sudut sadel dll.  Jangan lupa untuk memeriksa adanya penyok atau cacat pada frame sepeda. Tentunya kita tidak ingin, mendapat sepeda baru yang ternyata cacat atau ternyata malah di repaint.

4. Kenyamanan Sadel Sepeda Gung

Pesepeda gunung harus mempertimbangkan jenis sadel sepedanya. Hal ini sangat penting karena sadel itu akan Anda duduki selama kurang lebih 2 jam. Baik digunakan di jalur off-road atau on-road. Jenis sadel sepeda yang akan akan Anda beli dijadikan pertimbangan yang penting juga. Apakah sadel itu terasa enak dan nyaman dipakai? Jika tidak, lebih baik diganti dengan sadel  yang lebih baik. Jangan berkompromi dengan sadel sepeda Anda. Untuk perempuan, pastikan untuk memiliki sadel yang dibuat khusus untuk perempuan. Sadel perempuan dibua lebih lebar dan dibuat untuk lebih nyaman.

5. Pastikan Shifter dalam Keadaan Baik

Sebelum keluar dari toko dan mengendarai sepeda gunung Anda, sebaiknya cek dan pastikan secara komprehensi shifter (pemindah gigi) dalam keadaan yang baik. Jalankan atau putarkan roda belakang, dan lihat apakah perpindahan dan pergeseran RD dan FD halus atau tidak. Tidak tersendat atau loncat-loncat. Amati baik-baik, apakah ujung kabel sudah ditutup atau belum. Walaupun sepele, terkadang ujung kawat yang terbuka bisa melukai kaki.Terakhir, sebaiknya Anda perhatikan apakah, RD telah sesuai dengan shifternya. Karena RD bagian yang lebih penting daripada FD dalam hal pemindahan gigi (gearing). Jangan ragu, untuk meminta teknisi toko menyetel RD dan FD agar perpindahan gigi benar-benar smooth.

6. Rem
Periksa rem apakah bekerja dengan baik atau tidak. Anda harus dapat mengunci roda dengan menggunakan dua jari. Jika jenis v-brake yang dipasang, periksa apakah sejajar dan luruh atau tidak.  Kedua brake-pad apakah menyentuh pelek atau tidak saat berputar. Periksa juga apakah pad (bantalan) rem jarakanya sama dari RIM.

7. Roda
Putarkan roda saat Anda akan membeli sepeda gunung pertama Anda dan lihat secara seksama putaran ban diantara bantalan rem atau salah satu sisi garpu. Lihat apakah jarak antara kedua tetap konstan. Jika tidak, maka tidak selaras. Mintalah teknisi toko, untuk menyelaraskan dengan menyetel jari-jari atau membetulkan ban yang mungkin kurang presisinya. Periksa ban juga. Mereka seharusnya benar-benar baru dan belum ada penampakan bahwa belum pernah dipakai.

8. Suspensi

Suspensi depan adalah bagian garpu dari sepeda gunung. Pada dasarnya berfungsi sebagai suspensi depan. Ada pula suspensi belakang (rear shock) yang terdapat pada sepeda full suspension (fulsus), yang menempel pada garpu belakang dengan maksud mengurangi atau meredam getaran yang terjadi saat melaju di jalan off-road. Sangat penting untuk menentukan pilihan, apakah akan membeli sepeda hard-tail (HT) dengan hanya suspensi depan atau sepeda fulsus dengan suspensi depan belakang. Berikut adalah hal yang patut diingat, saat menentukan jenis sepeda yang diinginkan.

- Panjang travel dari suspensi depan. Biasanya berkisar antara 1-4 inches (2,5 – 10 cm) tergantung dari jenis sepeda gunung yang akan Anda beli

- Perancangan sistem suspensi belakang – terdapat perbedaa desain  pada suspensi belakang dengan karakteristik yang berbeda pada waktu dikendarai. Pastikan untuk menguji menaiki sepeda yang akan dibeli sehingga Anda tahu bagaimana rasanya.
– Adjustment,  Ini akan menyenangkan untuk memiliki sistem suspensi adjustable (bisa disesuaikan). Dengan cara ini, Anda dan sepeda Anda akan dapat menyesuaikan travel yang sesuai dengan berbagai jenis medan.

Demikianlah hal-hal yang perlu Anda pertimbangkan tentang apa dan bagaimana seharusnya dipertimbangkan pada waktu akan membeli sepeda.  Ingatlah hal-hal di atas untuk membantu Anda dalam memilih sendiri Mountain Bike. Selalu ingat bahwa kinerja dan kualitas adalah sangat penting.

Sumber :

http://www.abc-of-mountainbiking.com/mountain-bike/mountain-bike-buying-guide.asp

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 11, 2011

Teknik Dasar Bersepeda Gunung

Bagian ini mencakup teknik singkat namun sangat mendasar dan diperlukan ketika Anda mulai bersepeda gunung. Untuk beberapa orang, daftar ini mungkin sudah biasa. Tetapi untuk sebagian orang mungkin masih berguna. Adapun teknik dasar yang harus Anda ketahui diantaranya:

1. Selalu berkomitmen untuk tetap pada tujuan atau pada trek yang dituju.  Jika Anda ragu, misalnya karena Anda takut hambatan atau rintangan yang berbahaya, lebih baik diurungkan.   Seringkali karena  rasa takut atau keragu-raguan yang berlebihan pada saat bersepeda gunung.  Mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, sehingga Anda mengalami hal yang tidak diinginkan.

2.  Pikiran Anda harus jauh 2-3 langkah bergerak ke depan. Jangan terjebak oleh beratnya kondisi trek yang dilalui. Berpikirlah dan selalu menyadari hal berikutnya yang harus Anda lakukan bila menemui kontur trek yang berbeda.

3. Pandangan Anda jangan terpaku pada pesepeda di depan Anda.  Sebab salah-salah Anda menggilas  sepotong batu atau lubang yang justru dihindari oleh pesepeda di depan Anda . Arahkan pandangan Anda pada kontur trek  1-2 meter di depan Anda. Jangan fokus pada roda depan atau roda belakang pengendara di depan Anda.

4.  Shifting pada gear yang renda bila melewati kontur berpasir, air atau lumpur. Pindahkan berat Anda lebih ke roda belakang dengan sedikit mengangkat paha. Jangan mempergunakan rem ini hanya akan menyebabkan Anda kehilangan traksi  yang sudah yang anda miliki sedikit. Tetap tenang dan hanya “spin” mengayuh dengan pelan tapi pasti. Hal ini akan memungkinkan ban depan Anda untuk berputar dan melindas medan “lembut”.

5. Turunkan sadel sepeda Anda saat Anda akan menuruni turunan curam. Hal ini akan memungkinkan lebih banyak waktu untuk bereaksi terhadap hambatan yang tidak terduga. Selain itu, lebih mudah untuk jatuh dari bagian belakang sepeda daripada terbang di atas setang saat Anda lepas kontrol.

6. Jangan berpegangan terlalu kuat pada setang (handlebar).  Pada saat menanjak. ini akan membuat tubuh bagian atas tegang dan  ban Anda berputar lebih cepat. Melonggarkan tetapi, tidak longgar.

7. Jangan letakkan ibu jari Anda di atas stang (handlebar).  Ini akan membuat lebih mudah bagi Anda  kehilangan pegangan jika menabrak sesuatu yang tidak terduga.

8. Sedikit tekuk siku dan longgarkan bahu Anda, tapi tidak berarti membungkuk. Hal ini akan membantu dalam menyerap guncangan yang mungkin Anda alami di trek yang kasar

Disarikan dari: http://www.abc-of-mountainbiking.com/mountain-biking-techniques/very-basics.asp

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 11, 2011

Cara Memilih Ban Sepeda

by: Budi Prakoso

Memilih ban sepeda gunung susah susah gampang. Produsen lebih terkonsentrasi membuat ban khusus untuk satu medan saja. Setelah pameran Interbike, produsen ban kembali mengembangkan produk ban mereka. Agar  ada kombinasi antar medan, khususnya bagi pemakaian sehari hari. Kali ini pendapat versi Vellonews, ada 3 yang diberikan referensi dengan medan dan pemakaian sehari hari. Produk dari Michelin, WTB dan Kenda.

Velonews  memberikan informasi ada 3 ban cantik saat ini.
Dari kiri kekanan : Kenda Small Block, Michelin Mud 2, WTB Cross Wolf

Ban memang banyak sekali modelnya. Seperti khusus untuk lumpur, batu, ataupun medan ringan. Sebenarnya tidak terlalu sulit memilih ban. Lihat saja saran dari pabrikan, sudah ada ketentuan apakah ban sangat baik digunakan untuk medan lumpur atau berbatu.
Kesulitannya, banyak yang membutuhkan kombinasi ban antara nyaman dan bisa disegala medan. Hal ini memang sulit.

Kenda Small Block.
Berat hanya 335 gram, tebal knob 2mm dengan ukuran 31.5mm lebar.
Ban ini cocok untuk medan kering dan mampu berlari kencang. Knob dari ban dibuat lebih rapat. Knob dibagian tengah di disain lebih rapat.
Saran untuk ban ini diperuntukan

// //

bagi medan kering dan mampu bergulir dengan cepat. Karena knob yang kecil dan kerapatan dari jarak knob ban membuat ban ini lebih bebas hambatan.

Michelin Mud 2
Ukuran 30mm, berat 326g, ketinggian knob 2mm ditengah dan 2.5mm disamping.
Ban ini mampu melewati medan campuran sampai lumpur. Dikatakan juga ban Michelin Mud 2 bukanlah secara penuh menaklukan lumpur, tetapi menjembatani antara kebutuhan medan crosscountry dengan pemakaian sehari hari. Ban ini juga ringan dan mampu mengelinding lebih cepat dalam medan kering. Knob center yang membentuk garis lurus. Mirip kemampuan ban Kenda Small Block, hanya si Michelin Mud 2 bisa beradaptasi diantara 2 medan berbeda.

Cross WTB Wolf
Berat 355g, ukuran 32mm, knob 3mm tengah dan 4mm sisi samping.
Ban ini cocok untuk lumpur. Ketika dicoba untuk medan biasa, ban ini juga mantap. Karena ringan dan sisi knob tengah ban yang rapat.

3 saran dari pilihan diatas, bisa dijadikan referensi untuk anda. Mungkin saja pilihan 3 pabrikan ban diatas menghasilkan perbedaan pendapat. Setidaknya dapat dijadikan referensi, seperti apa kira kira ban idaman bagi sepeda gunung anda.

Sumber:  http://www.goesbike.com/articles/279/1/Memilih-ban-sepeda-ada-yang-cantik/Page1.html

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 9, 2011

Batu Tumpang, Numpang Nampang Doang

Heisty sudah siap dengan segenap keanggunannya. Walaupun, kaki depannya kadang-kadang suka cedera. Sehingga harus diberi dosis khusus 3×1 seminggu, atau setiap kali diajak onroad, selalu minta diberi layanan khusus. Dipompa dulu ban depannya.

Jam 9 tepat, para ABG alias Anak-na Baroga Gendongan dengan wajah cerah, secerah minggu pagi ini, merekah senyum menyambut neng heisty. Pak Wawan, langsung nyeletuk sambil tertawa: “Heu, licik euy!”
Maklum, untuk onroad; Si Heisty mah ngacir. Kakinya yang jenjang dengan ukuran 27 x 35 cm sangat lincah menapaki jalanan aspal. Berbeda dengan madunya yang kedua, Si Spezy, yang bongsor, dengan kaki yang besar dan lebar.

11 ABG kemudian saling berbagi cerita sambil mencumbu istri mudanya masing-masing. Matahari pun tersenyum, mengedipkan sebelah matanya di tengah langit biru berhiaskan awan putih cirrus sepert sapuan halus di atas kanvas biru. Cerahnya cuaca pagi ini, ternyata menjadi jebakan karena tidak jadi membawa jas hujan. Yang menjadi siksa kemudian.

Beriringan, menyapa angin, menerpa cuaca yang cerah pagi itu. Pak Iim selaku tetua beneran, mengingatkan manusia harus berpegang pada 3 prinsip. Yaitu: Harus punya Pandangan Hidup, Pegangan Hidup dan Perjuangan Hidup.

Pandangan Hidup, artinya manusia itu “kepunyaannya” akan hidup saat melihat pemandangan yang segar, putih dan cantik. Hal ini dimiliki oleh manusia yang berdarah muda, seperti Pak Deny.

Pegangan Hidup, adalah pegangan yang dimilik oleh usia dewasa 50 tahun ke atas. Prinsip yang pertama tidak berlaku bagi manusia seumuran mereka. Jadi, “kepunyaannya” baru hidup bila dipegang terlebih dahulu.

Perjuangan Hidup, adalah prinsip yang dimiliki orang seperti Pak Yaya yang berusia 60 tahun ke atas.  Dari mulutnya yang seperti motor matic alias tanpa gigi. Sudah tampak kalau prinsi pertama dan kedua sudah tidak berlaku baginya. Jadi “kepunyaannya” akan hidup setelah perjuangan yang lama!

Tidak terasa, tiba juga di pit stop pertama. Sebuah warung dengan makanan goreng-gorengan seperti gehu, bala-bala, keripik, cireng dan lontong. Lontongnya tersisa tinggal satu biji, akhirnya langsung dilahap Pak Wawan yang belum sarapan, katanya. Sambil mulut penuh, mirip, saudaranya, “tenyom”  di derenten Bandung! Yang pipinya jadi berbentuk aneh saat mulutnya penuh dengan makanan.

Saat rehat, Neng Patty, istri kedua yang baru dinikahi Pak Iim belum seminggu. Sempat saya cicipi, keseksiaannya. Body-nya yang bahenol nerkom, bener-bener maknyus dan enak untuk dicumbu rayu di tanjakan atau turunan. Tapi, entahlah apakah Neng Patty, akan langgeng dengan suaminya ini atau tidak. Mengingat faktor usia dan bongsornya tubuh suaminya, bisa dipastikan libido Pak Iim untuk mencumbu akan sangat minim. Kasihan, Neng Patty, sepertinya tidak akan mencapai orgasme atau puncak kenikmatannya.

Perjalanan dilanjutkan, menyusuri tanjakan yang semakin panjang dan curam sebelum mencapai Cisurupan. Tepat, sehabis tanjakan, di persimpangan alternatif ke alun-alun Cisurupan sempat terlintas mengambil jalan pintas. Potong kompas. Urung, takutnya yang lain khawatir. Tapi ternyata, Pak Asep dengan Kahaes-nya malah mengambil jalan itu. Ujung-ujungnya, di Cikajang, para ABG saling menyangka kalau beliau berada di depan atau di belakang mereka.

Saat tiba di warung nasi kecil tapi cukup bersih, tampak Pak Asep telah nongkrong di situ. Sambil tersenyum. Ternyata bener, dia mengambil jalan pintas di Cisurupan tadi. Warung nasi tersebut, cukup murah meriah. Sembilan ribu perak sudah dapat nasi, ayam goreng dan sayur, ujar Pak Asep, berbisik. Sayapun hanya pesan sepotong ayam goreng. Lima rebu perak! Karena, anak mertua telah membekali dengan nasi, tempe bacem dan dua potong asin jambal roti.

Mendung menyambut kedatangan kami di pasar Cikajang. Bahkan, akhirnya langit pun menangis. Gerimis. Yang makin lama makin deras. Sesaat tiba di sebuah mesjid besar dengan arsitektur berbau timur tengah. Pak Budi, Pak Mamat, Heisty, Pak Dedi dan Pak Iim membelokkan isteri masing-masing dan memasuki pelataran mesjid.

Pak Dedi sepertinya, kurang sehat, mungkin saya akan kembali dan hanya sampai sini, ujarnya. Pak Iim mengamini, Iyalah, kan kita mah mencari sehat. Asal berkeringat, kata pak Iim lagi: Saya terdiam, dalam hati, saya berbisiksepertinya saya harus terus. Mayoritas teman ada di depan. Tidak mungkin harus kembali hanya karena hujan. Tidak terbiasa makan tulang kawan. Dare to share, dare to care…

Hujan, berhenti, namun gerimis halus berbalut selimut mendung awan hitam. Saya, sepertinya akan lanjut, dan sholat di mesjid bawah dimana rombongan beristirahat. Karena sms Pak Asep, mengatakan mesjid ini mah milik NII, saya mah takut dihipnotis; kata saya sambil langsung naik si Heisty. Tanpa banyak cingcong Pak Iim dan Pak Dedi langsung ngibrit juga mengikuti dari belakang. Rupanya takut diculik oleh NII!

Ternyata rekomendasi Pak Asep, tidak rekomended. Sesaat masuk halaman mesjid, hati kecil mengatakan. Mesjid ini kotor. Ternyata benar. Kamar kecil kotor sekali. Saat akan wudhu, airnya berbau karat. Tajam menyengat. Bahkan, menempel di seluruh anggota wudhu. Tangan, lengan dan muka jadi Bau t*i :(
Sholatpun jadi gak khusu euy…karena bau yang menempel dari air tersebut.

Hujan makin deras, seperti ditumpahkan dari langit. Karena lapar, akhirnya makan siangpun dilahap di teras sebuah SD di depan mesjid tersebut. Usai makan, ternyata hujan berhenti dan berganti dengan gerimis. Si Kahaes, diikuti Heisty melaju, memburu Batu Tumpang yang tinggal 3 km lagi. Tanjakan panjang silih berganti dengan jalan landai. Akhirnya tiba di sebuah pondok. Tampak Pak Budi menyendiri, menunggu dengan setia. Seperti seekor angsa yang menunggu pasangannya. Dia pikir, kita belum makan jadi diapun menunggu dengan perut lapar. Tubuhnya kuyup dan mengigil. Karena mungkin ingin makan bareng. Kasihan, Pak Budi…jadi inget lagu Iwan Fals, Sore tugu Pancoran:

Si Budi kecil, kuyup menggigil,
menahan dingin, tanpa jas hujan
di simpang jalan, tugu pancoran,
tunggu pembeli jajakan, koran…

Akhirnya, Pak Budi gowes bareng menuju pit stop terakhir. Batu Tumpang. Sayang kabut teramat tebal. Jarak pandang hanya 20 meteran. Tiba di lokasi pun kabut tetap tebal. Keangkuhan batu tumpang pun, diselimuti kabut tebal. Sesaat tampak, itupun remang-remang karena menipisnya kabut. Sempat diabadikan Nokiem tapi gambarnya kurang bagus.

Batu Tumpang, Bukit Granit hitam, tingginya sekitar 60 meter. Konturnya, sangat menjanjikan untuk panjat tebing. Tingkat kesulitan saya perkirakan mendekati grade 3 atau 4. Rekahan-rekahan dan patahan serta celah granit yang retak cukup baik untuk sisipan jari-jari tangan dan pijakan kaki. Tidak salah, di situ terpampang plang kecil bertuliskan tangan dengan cat warna putih: tempat latihan panjat tebit batalyon 303!

Karena kabut tidak juga lenyap. Akhirnya, diputuskan segera balik kanan. Ternyata, pulang pun kembali harus didera hujan deras. Pacuan Heisty sekencang apapun, malah penderitaan makin parah. Kulit muka, seperti dicambuki air hujan.

Karena kedua di depan setelah Pak Nanang. Diputuskan untuk menunggu yang lain di pertigaan Ciorok, Cikajang. Tak lama Pa Asep dan Pak Haris tampak. Dipanggil tak menyahut.Nunggu yang lain di belakang. Tampak Pak Wawan. Ayooo, sekalian hujan2an,katanya. Si Heisty langsung melompat dan melaju mengikuti Pak Wawan di belakang. Ternyata, semburan dari ban belakang malah menambah perih dan kotornya muka. Pak Wan, perih euy…ujar saya sambil menyalip Pak Wawan dan terus melaju di tengah hujan yang sangat deras….

Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 2, 2011

Detail PetaTrek Uphill/Downhill Gunung Papandayan

Trek Papandayan dapat ditempuh dengan tiga cara:
- Cara pertama gowes langsung dari Garut kota ke Kecamatan Cisurupan, sejauh 20,80 kilometer. Memakan waktu
  Tidak sampai 2 jam.
- Cara kedua dapat ditempuh dengan loading dulu sampai Alun-alun Cisurupan, sejauh 9 km dari lokasi downhill
_ Cara ketiga dapat ditempuh dengan langsung loading ke lokasi downhill.

Berikut detail perjalanan yang digowes dari Garut Kota:

1. Dari Garut ke Pertigaan G. Papandayan 			20,80	KM
2. Pertigaan G. Papandayan ke tempat mulai Downhill		6,50	KM
3. Track Downhill tanah						2,90	KM
4. Track Jalan Pedesaan						6,60	KM
5. Pertigaan keluar downhill ke Garut Kota		        15,00	KM
Jarak Tempuh Total						51,80	KM

Petanya:


Trek dijamin memuaskan dengan variasi, tanah, kubangan lumpur, batu, makadam, beton dan aspal!
Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 2, 2011

Papandayan, Push to the Limit, Downhillnya Amit-amit

1 Mei 2011, Matahari masih terbit malu-malu, atau masih tertidur karena selimut tebal awan kelabu yang tersisa dari hujan deras semalam. Sendiri meluncur ke arah kota Garut yang berjarak 4 km dari rumah. Tidak jauh, karena jalanan menurun sehingga hanya memakan waktu 4 menit. Jalan Papandayan masih sepi, tembus ke Jalan Ciledug, Jalan Karacak juga masih sepi. Di depan bengkel Atep tampak 2 orang pesepeda. Yang seorang tampaknya seorang bule, dengan rambut blond (pirang) setelah didekat ternyata jelmaan “Bucheri” alias Bule dicet sendiri, karena kulitnya mah tetap hitam legam! Yang, seoran lagi bertubuh tinggi dengan helm polygon di kepala, begitupun sepeda putihnya bermerek polygon, cozmix (mirip obat batuk ya!).

Langsung saya pastikan, yang tinggi itu pasti Mang Yorris, mudah dikenali karena perawakannya yang tinggi mengingatkan pada seseorang pimpinan ormas pemuda. Setelah bersalaman langsung berdua menuju ke kampus MTB-iyah di Jalan Sumber Sari. Merupakan titik kumpul para Tua Gila sepeda. Disebut demikian, karena mereka walaupun dengan sepeda standar, jadul, frame besi baji, dengan berat 20 kiloan, band gundul, dengan rem seadanya, selalu gowes melalap dan melahap tanjakan dengan ringannya! Begitupun di saat turunan makadam, atau lumpur yang belok, mereka bisa menghajar dengan wajar. Tanpa rasa khawatir atau takut. Mereka pantas disebut para Tua Gila, orang sakti dari Sumatera gurunya Wiro Sableng, Pendekar Kapak maut Naga Geni 212.

Matahari tetap belum tersenyum, dan masih berselimut mendung. Di Titik Kumpul, Mang Yorris saya perkenalkan kepada jamaah MTB-iyyah yang lain. Setelah basa-basi dan berkenalan. Yorris mulai akrab dan mengobrol dengan Filsup Nanang, yang kepalanya mirip Galileo Galiley, alias terang benderang karena bolenang. Sebelumnya, Mang Yorris telah diinformasikan, kalau kelompok sepeda yang ini mungkin berbeda dengan kelompok sepeda umumnya. Di KGC Garut tidak ada istilah upgrade sepeda, yang ada adalah lungsuran. Jadi mereka yang mampu untuk mengganti komponen atau kelengkapan sepeda termasuk jersey atau sepatu yang lebih baik maka yang lama, diberikan kepada yang lain.

Akhirnya, pukul 08.45 WIB, 12 orang pesepeda bertolak  menyusuri jalan Garut Kota – Bayongbong yang berjarak 20 km bagi group sepeda yang lain. Mungkin dianggap gila dan nekad, karena jalan yang harus ditempuh walaupun aspal, tapi nanjak menuju arah Cikajang, tidak ada datarnya sama sekali. Kelompok pesepeda yang lain, akan lebih suka menyewa truk dan loading ke lokasi dan melakukan downhill. Tapi, itulah keunikan sepeda, boleh berbeda kesukaan dengan gaya dan caranya bersepeda. Tapi, tetap saling menghargai. Seperti kemarin, di saat kami istirahat di pinggir jalan. Tampak satu truk penuh pesepeda yang berbaju seragam oranye, menuju ke arah selatan juga. Kami memberi salam, tapi tak satupun dari mereka yang membalas hehehe….

Pukul 10.45 tepat tiba di Cisurupan yang merupakan gerbang menuju Gunung Papandayan. Berarti hampir 4 jam perjalanan ditempuh dengan menggowes penuh. Kecepatan sedang, dan santai diselingi istirahat untuk sekedar makan pisang goreng atau ngopi di warung pinggir jalan. Alhamdulillah, di sepanjang perjalanan. Matahari teramat pemalu, Langit jadi sangat ramah pada kami. Teduh, mendung tapi tidak hujan. Dari alun-alun Kecamatan Cisurupan, jalanan masih dengan kontur hotmix tapi menanjak curam dan panjang. Saya di depan, diikuti Mang Yorris, Pak Asep dan Pak Iim.  Tampaknya, Mang Yorris mulai tertular virus IPDN (Ikatan Pesepeda Doyan Nanjak). Nafasnya tidak ngos-ngosan dan cukup terlatih. Tapi, kaki Yorris sepertinya belum terbiasa dengan putaran cepat, alias ngicik di tanjakan.

Tanjakan sejauh 2 km terlampaui, dan berhenti di sebuah warung. Saya, Pak Wawan, Pak Mastur, Pak Haris, dan Pak Asep langsung mencari mesjid untuk sholat Dzuhur. Ternyata Pak Asep malah sholat di mesjid atas, dan kami berempat sholat di mesjid bawah. Karena tidak membawa sarung, akhirnya Pak Mastur meminjam sarung ke rumah yang persis di depan mesjid. Sayang, cuma diberi pinjam satu sarung. Akhirnya sholat harus bergantian. Pak Mastur, sepertinya tidak sabar menunggu. Akhirnya, dia memakai bawahan mukena milik seorang nenek. Yang kebetulan ada di mesjid itu, tak ada akar rotan pun jadi. Tak ada sarung, mukena pun jadi. Untuk bukan, tak ada rokok, sisig nini pun jadi!

Langit yang memang mendung dari pagi hari, sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan awan. Hujan pun akhirnya turun dengan derasnya. Saya mencoba telefon ke Mang Yorris, untuk menyelamatkan helm dan sarung tangan agar tidak kehujanan. Tapi tiga kali mencoba, selalu gagal. Akhirnya telefon Pak Iim, menurut Pak Iim sepeda sudah diselamatkan dari air hujan. Saat kami tiba, bahkan sadelnya pun semua ditutup dengan plastik. Sungguh kawan-kawan kami adalah pesepeda yang bukan yang congkak, bukan yang sombong, yang disenangi handai dan tolan, pesepeda yang tak pernah bohong rajin bekerja, peramah dan sopan…

Hujan, terus mengguyur seperti ditumpahkan dari langi. Saya tidak mengerti, seberapa besar teko atau panci yang dipunyai malaikat  sehingga hujan bisa sederas dan selama itu. Hampir satu jam penuh. Jalanan aspal yang telah terkikis, aspalnya makin habis pasti tergerus derasnya air hujan. Selokan pun airnya menbuncah, keruh dan limpas ke jalanan. Satu demi satu, orang-orang mulai kembali meramaikan jalanan.Para penyabit rumput yang memboncengkan 2 bahkan 3 karung hasil sabitannya. Pelan tapi pasti menuruni turunan secara perlahan. Memang harus perlahan, karena kalau tidak istri tersayang yang duduk di atas tumpukan karung itu  harus terpelanting!  Terpikir oleh saya, mungkin si penyabit itu lebih sayang rumput daripada istrinya. Bayangkan saja, sementara karung2 itu diikat dengan rapi dan kuat, sementara sang istri harus duduk di atas karung yang dibonceng di atas motor itu!!!

Sementara langit masih menangis, gerimis. Kami kembali menyusuri jalanan yang berlumpur dan banjir oleh hujan. Bahkan, jalan terpotong oleh aliran “sungai” dadakan. Mau tidak mau, harus dilewati dengan kayuhan tinggi. Bila tidak pasti kejebur.  Baju dan helem mulai basah. Tapi, untunglah saat tiba di mesjid atas hujan segera berhenti. Matahari sedikit memancarkan sinarnya. Pak Asep tampak, terduduk di lantai mesjid, menunggu kami. Ternyata beliau belum sholat karena tidak ada sarung, katanya. Akhirnya, saya nekad meminjam sarung kepada seorang pemuda yang sepertinya tinggal di situ. Diberikan dua bahkan tiga buah sarung yang langsung diberikan kepada mereka yang belum sholat.

Pohon Cemara dan Eucaliptus diselingi kebun kol dan kentang mulai marak di sepanjang perjalanan. Dua tiga orang ibu-ibu tampak asyik menyabit rumput atau menyiangi kebunnya.  Kamipun berhenti di sebuah danau kecil di tepi jalan yang airnya keruh karena tertimpa hujan. Perutpun mulai keroncongan, karena jam sudah menunjukkan jam 13.45 WIB. Sambil menunggu, anggota rombongan yang lain. Mang Yorris berputar-putar mencoba offroad di sekitar lapangan atau single trek kebun kol. Pak Iim dan Pak Nanang ngobrol ngalor ngidul. Pak Haris yang penyendiri ditemani Pak Wawan mulai berkomunikasi. Saya sendiri, lebih suka mengabadikan mereka dengan Nokiem E71 teman setia setiap saat seperti iklan parfum anti bauketek.

Dari kejauhan tampak , dua anak berjalan beriringan. Sepertinya mereka kakak beradik. Sang kakak, perempuan berusia sekitar 12 tahun berbaju lusuh dengan rambut tergerai, berjalan di depan. Sang adik, berusia sekitar 5 tahunyang juga berpakaian lusuh dan tidak beralas kaki,  berjalan cepat di belakang kakaknya. Pandangan anak laki-laki itu memancarkan keraguan, aneh berbaur rasa takut yang ditutupi dengan berjalan cepat-cepat setengah berlari mengikuti kakaknya. Persis, saat anak itu lewat di depan saya. Sayapun segera, melakukan gerakan seolah-olah akan menangkap anak laki-laki itu sambil berteriak “Howaaaaa…!!!” Kontan, anak laki-laki  berteriak kaget “Waaa…!!” , dia menangis dan berlari terbirit-birit mengejar kakak perempuannya meminta perlindungan. Semua terpingkal, pingkal…ketawa sampai berurai air mata. Sang kakakpun, tidak kuat menahan ketawanya, dan terus berlari diikuti adiknya yang akhirnya tertawa juga!!

Pak Iim menyarankan untuk makan di atas saja, karena perjalanan masih menanjak. Tapi yang lain sepakat mending makan siang dulu, karena perjalanan nanjak masih jauh sehingga butuh energi banyak.  Akhirnya, satu demi satu mengeluarkan bekal nasi bungkusnya. Saya, Pak Iim dan Pak Mastur, langsung mengeluarkan misting kecil untuk anak TK, bekal makan siang buatan istri tercinta. Saat makan terdengar tawaran dari seorang ibu, yang menawarkan kol untuk lalaban. Saya terima dan diberikan kepada Pak Haris…

Pascamakan, rehat sebentar, sambil menunggu nasi turun. Saya observasi melihat jalan yang akan di lalui. Sepertinya tanjakan agak berat. Berulang kali, saya ingatkan Mang Yoriis untuk tidak memaksakan. Kalau tidak kuat TTB aja….

Perjalananan dilanjutkan, dan…Subhanallah, baru 500 meter gowes di tempat yang landai. Kita harus langsung melewati tanjakan curam setengah makadam! Harus super hati-hati, karena tidak jarang dari arah atas motor pengangkut sayuran atau rumput dengan muatan di luar nalar. Meluncur tanpa suara! Setelah tanjakan habis, saya segera turun dan mengabadikan saat-saat seperti sekarat bagi teman-teman yang harus bersusah payah menaklukan tanjakan. Keuntungan tukan potret, bisa gowes duluan, mengabadikan sambil beristirahat….melihat penderitaan orang lain!

Tanjakan, tanjakan, dan tanjakan…! Jalan menuju puncak papandayan gak ada landainya. Kalaupun landai, itupun tetap harus pasang rem kalau berhenti. Kalau tidak tetap saja, sepeda akan tertarik oleh gravitasi bumi. Beberapa kali berpapasan dengan mobil pribadi yang baru pulang dari puncak papandayan. Mereka memandangi kami sambil tersenyum. Kamipun membalas senyum mereka, tanpa menunjukan rasa lelah. Gigi belakan dari mulai bawah, konstan berada di gigi yang paling besar. Kesabaran dan keuletan, ngicik…harus benar-benar diterapkan! Kurang-kurangnya kesiapan mental pasti akan balik kanan dan meninggalkan arena pertempuran. Nanjak, nanjak dan terus nanjak…sesekali Pak Yaya, bernyanyi dengan nafas satu-satu, lagu naik-naik ke puncak gunung!

Para petani dan penyabit rumput yang berpapasan di jalan, selalu memberikan informasi yang membuat nyali tambah ciut. Saat ditanya,”Mang, berapa kilometer lagi sampai puncak?” Jawabannya, selalu sama:”Uuuh…! masih jauh, kurang lebih 4 km lagi. Itupun tanjakannya lebih-lebih dari tanjakan yang ini!“. Wk…wk…wk….dari 12 orang peserta yang tersisa tinggal 10 orang. Tiga orang tadi langsung balik kanan saat di warung. Yang tiga orang sudah Pak Asep, Pak Wawan dan Pak Mastur sudah jauh di depan, bahkan mungkin sudah sampai di tempat. Sementara yang 7 orang termasuk saya, masih harus menghitung nafas. Berdzikir dengan memutar kayuhan pedal sepeda.

Di jalan yang agak landai, saya menunggu Mang Yorris yang tampak, sangat kelelahan, menuntuk si comix, eh, si cosmix-nya dengan sabar. Keletihan tampak dari raut muka, dan nafas yang mulai memburu. Tapi salut, dia tidak mau menyerah begitu saja. Yang laipun, ceritanya tidak jauh berbeda. TTB habis! Pak Iim yang biasanya ngicik dan super ulet menaklukkan tanjakan pun. Tampak, paling belakang…untunglah perut gendutnya tidak tertinggal di belakang! Setengah berbisik, saya titipkan beliau ke Pak Haris untuk mendampinginya. Saya, khawatir melihat raut muka dan kondisi Pak Iim, yang sepertinya akan nekad dan balik kanan!

Dengan sisa tenaga Mang Yorris mencoba, menaiki si cozmix. Ngicik, dengan sisa-sisa tenaga tuntun bike dari bawah tadi. Pak Nanang mengikuti di belakangnya dengan TTB.  Untunglah, tadi saya membeli 2 botol gatorade di alfamart, sehingga energi tidak terlalu habis. Cukup tersedia cadangan tenaga untuk sampai di puncak. Pelan, bahkan sangat pelan kayuhan sepeda tapi pasti dan berhasil menaklukan tanjakan “setan” itu.  Peluh di tanjakan sepertinya sudah berubah bentuk mejadi butiran-butiran keringat sebesar jagung. Akhirnya, dengan sangat terpaksa walapun buram, saya harus membuka kaca mata. Tidak hanya saya, semua akhirnya membuka kaca mata sepedaanya. Karena buram oleh derasnya keringat yang mengucur dari kepala.

Sambil rehat dan menunggu teman-teman lain. Kita berdiskusi sebentar apakah akan dilanjutkan sampai titik puncak Papandayan, yang hanya tinggal 2 km dari tempat kita rehat sekarang. Atau langsung mengambil trek offroad via Pangauban? Hari yang sudah terlalu sore, menunjukkan pukul 15.40. Kondisi gerimis, dan turunnya kabut yang cukup tebal sehingga jarak pandang hanya 50 meter kurang. Diputuskan untuk langsung mengambil trek offroad via Pangauban.

Sementara itu, seperti juga perilaku hewan liar yang sering menandai, mengencingi daerah teritorialnya. Pak Mastur pun tidak ketinggalan. Dia pun melakukan hal yang sama.

Setelah mengambil foto bersama sebentar. Semua kembali memakai mantel hujan. Karena trek single trek akan sangat tidak sopan, beringas dan mungkin kejam karena baru tertimpa hujan deras tadi siang.

Baru masuk 100 meter, ternyata benar. Single trek telah berubah menjadi kubangan lumpur! Hati-hati namun pasti kubangan demi kubangan, serta single trek tanah liat bercampur kapur terlewati. Perkebunan kentang dan kol tampak menghijau di kiri kanan. Sayang, cuaca tidak ramah sehingga tidak bisa mengambil gambar.  Trek sangat licin dan tidak bersahabat, sehingga sepeda tidak mungkin dinaiki. Yang ada, adalah penyiksaan para bini muda! Ban sepeda sudah seperti donat, rem cakrampun atau rem v-brake milik sepeda para tua gila sudah tidak bisa berfungsi.

Sekitar 500 meter sesudahnya trek berubah jadi tanah hitam berbentuk cekungan di bibir jurang. Saya mengayuh paling depan.  Turunan tajam dan membelok. Kabut semakin pekat, jarak pandang paling 20 meter. Saya terpaksa membuka kacamata pelindung hitam saya dan hanya menggunakan kaca minus lima saya. Jujur saja, sedikit mencekam. Karena sangat kelam, di tengah hutan sendirian, sementara teman yang lain masih di belakang sementara mata kurang awas karena kabut dan gerimis. Akhirnya si Spezy saya baringkan, dan kembali ke turunan tajam berbentuk cekungan tadi. Menunggu cukup lama lebih kurang 20 menit. Akhirnya tampak Pak Wawan di atas, segera turun dengan sepedanya dengan cepat. Tapi….blug. Tubuhnya, terjungkal ke sebelah kanan, kepalanya masuk di semak-semak. Untunglah memakai helem….untunglah saat itu bisa diabadikan dengan baik. Tentunya dengan tawa tertahan…karena suasansa hutan yang mencekam tadi.

Jalan mulai sedikit “enak” makadam dengan batu granit kasar diselingi turunan dengan kontur tanah merah dan rumput serta semak sehingga kami bisa mencumbu bini muda dengan alot. Penuh perjuangan, tapi sangat nikmat. Mata benar-benar harus awas, karena kabut yang cukup tebal. Namun, tetap saja korban berjatuahan. Dimulai Mang Yorris, yang terjungkal dan tertimpa sepeda. Dia terkena jebakan batman, disangka jalan yang tertutup rumput. Padahal lubang yang dalam. Jleb, ban depannya tertancap, tubuhnya terjungkal dan tertimpa sepeda!

Suspensi sepeda, benar-benar diuji ketahanan dan kepiawaiannya.  Ngebut di turunan tajam makadam jahanam ini, benar-benar “memanjakan” kami. Tangan kiri kanan kesemutan, pipi dan otot di seluruh tubuh seperti digetarkan oleh sebuah mesin sehingga bergetar dahsyat.  Telapak kaki yang berbalut sepatu kotor beberapa kali terlontar dari pedal saking kerasnya benturan ban dengan jalan yang tak rata. Terbersit pikiran dan pertanyaan, kapan “kemewahan” makadam ini akan berakhir.  Terbersitnya pertanyaan seperti itu tidak harus membuat mata menjadi meleng. Bila tidak. Dipastikan tubuh akan terjerembab atau terpelanting dan bercerai dengan istri ketiga kita dengan dahsyat. Tanpa penghulu, tanpa pengadilan agama…Kalau tidak memakali helm pasti fatal. Hal ini dialami Pak Asep, yang harus terpelanting dari sepedanya, terjatuh, dengan kepala “menancap” pada sebuah lubang. Sesaat tak berkutik, dengan cekikikan tertahan dan kami hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal…

Jam 16.30 makadam jahanam telah mengakhiri masa kejayaannya. Berganti dengan jalan “raya” berupa beton,yang sepertinya hasil PNPM karena hanya kiri dan kanan jalan. Sementara di tengah dibiarkan kosong. Dari sini mulailah turunan “surga”nya para downhiller. Jalan lebar sekitar 4 meter, dengan kontur beton, kerikil, atau aspal yang sudah rusak. Si Spezy, bisa meluncur dengan sangat cepat. Sayang endomondo, tadi dimatikan pas hujan deras. Sehingga tidak bisa kecepatan maksimalnya. Di tengah hujan deras, kami semua meluncur dengan sangat cepat. Sesekali berhenti bila ada persimpangan, untuk memantau kalau-kalau  ada yang salah jalan. Kemudia meluncur lagi. Sangat laju. Polisi tidur yang dipasang di tengah jalan, justru menjadikan perjalanan sangat diturunan itu jadi lebih berarti karena bisa mempraktekan lompatan kecil “bunny hop” sambil terus meluncur menikmat bonus turunan dari alam.

Turunan, turunan, dan turunan….benar-benar mengasyikan sekaligus membosankan! Kembali terbersit dalam hati, kapan turunan ini akan berhasil. Hampir 45 menit kami harus memacu sepeda dengan turunan yang sangat tajam dengan kontur, beton, kadang makadam karena aspal sudah terkikis dan aspal atau hotmix mulus. Akhirnya, tembus di persimpangan Pangauban Bayongbong. Sayang, turunan super dahsyat di Pangauban tersebut tidak terdokumentasikan karena keadaan yang tidak memungkinkan yaitu hujan deras. Sesaat berhenti di tengah hujan deras, di persimpangan dan menunggu anggota lain tiba. Saya lontarkan kalimat: Papandayan, tanjakannya tanjakan setan, downhillnya rasa ketan! Membuat kita push to the limit, hampir jadi amit-amit!

Setelah semua lengkap, kembali secara berombongoan memacu sepeda masing-masing membelah derasnya hujan. Alhamdulilah  jam 17.30 WIB, tiba di rumah dan beristirahat di rumah saya, lengkap tanpa kurang suatu apa. Tapi perjalanan ke Papandayan ini

« Newer Posts - Older Posts »

Categories