Posted by: kgcgarut-mountainbike | May 26, 2011

19 Trek Top di Garut

Garut yang dulu disebut Swiss van Java, tidak hanya kaya akan domba garut, dodol garut, jeruk garut atau jaket kulitnya. Tapi juga kaya akan trek offroad untuk para MTBers yang layak untuk dijajal.

Ada banyak trek yang bisa dicumbu untuk berbulan madu atau hanya untuk berakhir pekan. Diantaranya adalah:

1.  Ciharus. Trek ini terletak di hutan belantara Gunung Kamojang.
Vegetasinya didominasi hutan hujan tropis yang masih lebat. Tidak jarang pada waktu melewati trek ini harus sangat berhati-hati, lalai berarti siap-siap helem nyangkut di akar pohon, semak belukar atau batang pohon sehingga bisa terjatuh.
Treknya uphill 20% dengan kontur berupa tanah bercampur pasir. 80% downhil dengan tingkat kesulitan sangat ekstrim. Untuk para newbie, sangat tidak dianjurkan melalui trek ini. Panjang trek sekitar 9 km, terdiri dari single track di hutan tropis, kubangan lumpur, aliran sungai kecil, hutan pinus, pertanian dan jurang serta tebih yang curam.
Trek ini akan menjadi surga bagi para MTB-ers pada waktu musim kemarau, tapi sebaliknya akan menjadi neraka bila hujan tiba. Trek yang semula gurih dan renyah, akan terbalik 180 derajat akan sangat licin dan berbahaya!
Sangat dianjurkan memakai protektor, sarung tangan dan helem.


2. Cibeureum berada di lereng Gunung Kamojang. Konturnya cukup ekstrim di 30% awal trek yaitu berupa jalan pasir bercampur tanah,lengkap dengan rintangan berupa semak belukar, sebatas dada, pohon tumbang, jurang, dengan turunan yang cukup sulit. Tanah 30%, 30% makadam, dan 10% aspal. Bisa ditempuh dengan gowes langsung ke lokasi dari garut sejauh 18 km atau dengan kendaraan langsung ke titik start dengan menggunakan colt L300 atau pick up. Untuk Truk besar atau beus bisa juga tapi hanya sampai pinggir jalan raya. Kemudian digowes ke titik start sejauh 1 km. Jarak tempuh lebih kurang 12 km, lama waktu antara 2-3 jam. Bila digowes langsung dari Garut kota sekitar 30 km (PP) dan finish di pemandian air panas (Cipanas). Bisa langsung berenang atau sekedar berendam, atau bila menginap di hotel atau di penginapan Cipanas bisa langsung rendaman di kamar masing-masing.

Berikut adalah peta trek onroad-offroad Garut-Cibeureum-Garut

3. Cirorek berada di lereng perbatasan Garut Tasik, lebih kurang 7 km dari Garut. dapat ditempuh langsung dengan gowes langsung melewati tanjakan ngamplang sejauh 4 km dan jalan aspal hotmix sampai ke lokasi. Atau loading sampai lokasi hutan pinus Cirorek. Treknya terbagi dua arah, arah pertama single trek, dengan kontur tanah, di tengah hutan pinus. Jalur ini cukup ekstrim karena diperlukan fisik yang bagus. Harus TTB. Konturnya 30% makadam, 40% tanah single trek,20% beton pnpm, dan 10 % aspal.
Trek kedua, dari tengah-tengha single trek hutan pinus belok ke kiri.  Masih semi turunan, kemudian turunan cukup tajam siap dijajal dengan kondisi singl trek tanah. Lanjut dengan  turunan kontur makadan sejauh 2 km. Berakhir di sebuah pematang sawah, bisa digowes.  Tapi diperlukan balancing dan kontroling handlebar serta kontrol emosi yang tinggi.  Salah-sala, Anda akan tercebur di sawah.  Di akhir trek, setelah kembali mencumbu turunan aspal tipis.  Anda, disuguhi tanjakan Aura Kasih, yang cukup meliuk dengan kemiringan aduhai sejauh 500 meter.  Pendek memang, tapi hanya sedikit orang yang bisa khatam di tanjakan ini.

4. Cihanjawar-Dayeuh Manggung, berada di perbatasan Garut-Tasik searah dengan trek Cirorek. Bisa ditempuh dengan gowes dari kota Garut sekitar 7,1  km aspal jalan propinsi. Belok Kanan di Cihanjawar dan langsung makadam nanjak sejauh 5 km. Turunan makadam 1 km. Tiba di Curug Hanjawar dan masuk perkebunan teh. Jalurnya single trek variatif tanah, makadam dan kebun dengan perkebunan teh atau sayuran. 40% Makadam, 40% tanah, 20% beton. Udara sangat dingin dan bisa istirahat di masjid milik perkebunan teh Dayeuh Manggung. Panjang trek 5 km, waktu tempuh antara 3-4 jam tergantung sikon.

5. Godog, trek paling populer di Garut, karena pendek (hanya 12 km dari Garut kota). 50% nanjak dengan aspal. Tapi bila ditempuh dari Lapang Nagrog (lebih kurang 6 km dari Garut) 80% makadam! Full nanjak! Untuk offroadnya bisa ditempuh jadi 2 jalur terserah kesukaan. Mau langsung ke kota atau masuk ke Margawati dan melanjutkan ke Cilawu. Treknya sangat ekstrim. Sudah cukup banyak memakan korban. Lebih baik tidak offroad di sini bila musim hujan tiba. Trek ini cocok buat para penikmat tanjakan tingkat sedang 

Trek Godog, bisa juga ditempuh dari desa Nagrog. Konturnya lebih menantang dan lebih sexy. Tanjakannya mantap, dengan makadam jahanam. Cocok untuk latihan XC sedang.  Panjang trek 28,54 km (pp).

Berikut petanya:

6. Sagara, trek ini cukup panjang sekitar 34 km, konturnya 30% makadam nanjak dengan tingkat kesulitan biasa. 20% beton pnpm, dan selebihnya adalah tanah dengan variasi turunan dan tanjakan yang sangat sangat ekstrim. Tidak dianjurkan memakai sepeda XC biasa. Dianjurkan membawa air cukup banyak, makanan secukupnya. Diperlukan ketabahan dan kesabaran, karena sangat panjang sehingga memerlukan waktu yang cukup lama (5-6 jam). Tapi soal pemandangan, jangan tanya deh! Keren habis! Untuk tiba di trek ini, bisa ditempuh dari kota Garut sejauh 12 km dengan gowes atau loading ke Kecamatan Wanaraja.

7. Waspada, trek ini sekitar 56 km (pp). Bisa ditempuh dengan gowes langsung atau dengan loading dulu ke Cikajang. Lebih kurang 29 km dari Garut Kota.Tapi mayoritas pesepeda di Garut menggowesnya langsung ke arah Gunung Papandayan/Cikuray. Dari alun-alun Cikajang, belok kiri, dan langsung menuruni turunan sangat tajam.Sebaiknya dituntun saja. karena turunan langsung berbelok dengan jembatan bambu. Sangat bahaya. masuk jalanan kampung sejauh 300 meteran, dan tembus di jalan aspal. menuju ke perkebunan Waspada. Tanjakannya cukup curam dengan turunan yang tidak kalah curamnya. 50% tanah single trek, 20% aspal, dan 30% beton. Pemandangan sangat indah karena kita berada lebih kurang di pertengahan gunung Cikuray.

8. Satria, trek yang berada di perbatasa Cilawu Tasikmalaya-Garut, dapat ditempuh dari Garut kota dengan gowes langsung atau loading sejauh 27  (pp) km. 8 km dari garut kota belok kiri sebelum tikungan Cilawu. Treknya makadam 50%, 30% single trek perkebunan teh, 20% aspal/beton. Pemandangan dan keasriannya masih perawan!

9. Lingga Ratu,  tanjakan full 4 km, makadam sopan dan tanah. Masuk dari Jalan Raya Garut-Wanaraja, Pertigaan Desa Sindang Palay, Kampung Nangorak. Pemandangannya sangat cantik dan mempesona. Siapkan perbekalan air yang cukup, makanan dan protektor lengkap. Tidak dianjurkan untuk gowes sendiri, minimal 5 orang, karena untuk trek offroadnya sangat ekstrim. Untuk ke trek ini sebaiknya ditemani oleh orang berpengalaman dan tahu  medan Lingga Ratu dengan baik. Pssst, angker!

10. Cisaruni, trek ini cukup panjang. Terletak di Cikajang arah Pameungpeuk, lebih kurang 3 km dari kota kecamatan Cikajang, belok kanan. Merupakan areal perkebunan teh, yang sudah berubah menjadi perkebunan palawija. Treknya sangat indah, terdiri dari kontur tanah perbukitan 90%, sisanya semen atau beton di perkampungan. Jarak tempuh offroad 6 jaman.

Cisaruni adalah trek kedua terpanjang di Garut.  Paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek memanjang di sepanjang trek Cisaruni.  Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 23 km dalam waktu 6-7 jam.

11. Gunung Papandayan, digowes langsung dari kota Garut memakan waktu sekitar 3 jam. Full tanjakan, cocok buat para goweser IPDN. Jalannya hotmix karena merupakan jalan propinsi ke arah Cikajang, Pameungpeuk. Trek downhill-nya dengan kontur tanah, makadam dan perkebunan sekitar 2 km, tapi downhill di aspal tipisnya sangat memuaskan. Bahkan, bisa biki BT hehehe…lebih kurang setengah jam. Anda akan meluncur dari Puncak Papandayan yang tembus di Desa Pangauban Bayongbong.

12. Batu Tumpang, merupakan sebuah batu granit yang tingginya sekitar 60 m. View-nya sangat indah, dengan udara yang sangat sejuk dan segar. Dianjurkan untuk datang ke tempat ini sebelum jam 13.00 karena lebih dari jam itu dipastikan akan berkabut.  Terletak 7 km dari Kecamatan Cikajang. Treknya murni untuk onroad. Dari Garut kota digowes lebih kurang 3 jam. Full tanjakannya.

13. Margawati-Cilawu

Trek Margawati-Cilawu, sangat cocok untuk latihan endurance. Panjang trek 24,31 km dengan kontur tanjakan aspal panjang sekitar 8 km. Kontur makadam terdapat pada turunan dan tanjakan curam sehingga cocok untuk XC ringan. Bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam. Di sepanjang jalur banyak warung, sehingga tidak perlu membawa perbekalan. Namun, untuk tools kit, sangat dianjurkan. Karena tanjakannya sangat panjang, sehingga salah-salah mengatur shifter. Rantai bisa putus.

14. TrekGunung  Talagabodas-Sadahurip

Trek ini baru dieksplorasi lebih kurang 2 bulan yang lalu, pasca issue adanya piramida tertua di Gunung Sadahurip.  Trek ini bisa ditempuh dari tiga titik. Yaitu dari Pasar Wanaraja, Pasar Sukawening, dan Karaha (Malangbong).

Dari Pasar Wanaraja, harus diloading sampai pertigaan puncak Gunung Talaga Bodas, Karaha (Malangbong) dan Garut.  Lebih kurang 10 km dari pasar wanaraja, kita disuguhi, jalan berbatu yang super “gila” batunya segede-gede kepala orok! Sewa colt pick-up L-300 dari Garut sekitar 250 ribu- 300 ribu. Tergantung keterampilan menawar Anda. Segitu bisa terhitung murah, karena medan yang teramat berat. Jarak yang hanya 12 km, harus ditempuh selama 1,5-2 jam.  Berarti hampir sama dengan waktu untuk ke Bandung (60 km dari Garut).

Soal trek offroadnya, dijamin bakal orgasme deh.  Melewati perkebunan palawija di kaki gunung Talagabodas. Menyusuri jalan setapak di kebun, single trek yang melewati jembatan bambu dll. Trek offroad-nya sekitar 6 km.  Hati-hati, karena mayoritas berupa kebun jagung. Salah-salah jalan, Anda akan berkeliling di tempat yang sama. Seperti masuk labirin.

Titik start dari Sukawening. Treknya berupa aspal rusak, makadam dan beton PNPM sejauh 8 km. Tanjakannya sangat variatif, bisa gowesable! Tentunya bagi yang mampu :p

Tiba di kaki gunung Sadahurip, langsung offroad sekitar 2 km. Sepeda bisa dibawa sampai lebih kurang 300 meter dari puncak Sadahurip.  Selanjutnya, silakan naik ke puncak gunung Sadahurip.

Trek Offroad dari Talagabodas – Cicapar Sadahurip

15. Trek Garut-Cintamanik-Karaha-Talagabodas-Sadahurip-Garut

Trek ini cocok untuk Endurance Test, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 8-10 jam. Cukup panjang, yaitu sekitar 70,70 km.  Itupun kalau tanpa ada trouble bin halangan seperti ban pecah, keram kaki dan lain-lain. Sangat dianjurkan untuk membawa persediaan air yang cukup.  Karena kontur trek yang cenderung tanjakan.  Apatah, kalau matahari sedang “sale” dijami akan super haus.  Selain makan siang yang cukup banyak, juga makanan ringan seperti coklat, permen atau wafer bahkan gula merah akan sangat membantu di trek ini.

Sangat disarankan cek rem depan belakang dengan hati-hati mengingat tanjakan dan turunan cukup esktrim. Ban cadangan serta peralatan P3K terutama obat gosok sangat dianjurkan.

Jarak tempuh dari Garu-Sukawening-Karang Tengah yang sekitar 19 km, dapat ditempuh sekitar 2 jam.  Karena konturnya yang ramah, hotmix yang mulus dengan sedikit tanjakan pasca pasar Sukawening sekitar 3 km.  Trek selanjutnya berubah menjadi aspal tipis dan setengah rusak sekitar 3 km, dengan medan tanjakan yang sangat seksi :p.  Setelah itu berubah menjadi beton PNPM saat memasuki Desa Cintamanik. Turunan tajam sekitar 1 km, segera menyongsong setelah melewati Pasar Cintamanik.  Selanjutnya adalah Anda akan dihadang tanjakan sangat aneh.  Pondok nyongok, seperti perut ibu yang sedang hamil :p  Bedanya, yang ini terus nanjak, sangat nanjak, dan sangat-sangat nanjak dan sangat nanjak sekali :P. Tanjakan beton tersebut sekitar 4 km. Tidak ada turunan atau tanah datar sama sekali.

Beton PNPM habis, langsung dihadapkan pada trek tanah. Hutan. Tanjakan kembali dengan tingkat kesulitan yang hampir “virgin”.  Dibeberapa bagian, terdapat jalan yang cukup dalam akibat ban motor yang memakai rantai.  Memasuki hutan pinus sekitar 1,5 jam dengan kondisi medan terus tanjakan. Jalan terobosan ini, langsung menembus ke kawasan Karaha, yaitu sumur pembangkit listrik tenaga uap #2 dan #3.

Selanjutnya, turunan trek makadam cukup lebar sekitar 2 km. Batu-batuan yang lepas dengan diameter cukup membuat ketar-ketir. Bila Anda ragu-ragu lebih baik, tidak memacu sepeda di daerah ini.  Bisa-bisa terjerembab ke atas batu-batuan yang tajam.  Turunan makadam ini, berakhir di “jalan raya”.  Ke kiri adalah menuju ke Kadipaten (Tanjakan Gentong-Tasikmalaya) dan ke kanan adalah menuju Talagabodas.

Bila mengambil ke arah Talagabodas,  treknya berupa jalan eks aspal dengan kontur turun naik sepanjang lebih kurang 10 km.  Lebih kurang 400 meter dari pertigaan Garut-Tasik-Talagabodas, ambil jalan ke kanan. Yang langsung berhadapan dengan gunung Sadahurip.  Di sini, silakan pasang protektor, cek rem, turunkan sadel, dan kurangi tekanan ban.  Karena offroad segera akan memanjakan Anda.  Tapi, jangan gembira dulu karena lebih kurang 500 meter, kita akan dihajar makadam kembali dengan batu-batu yang tajam dan lepas.

Selanjutnya single trek tanah perkebunan kentang dengan pemandangan Gunung Sadahurip, Kota Garut dan Gunung Talagabodas.  Jangan lewatkan untuk menikmati pemandangan atau sekedar berfoto ria di sini.  Hati-hati saat, single trek tanah selesai.  Kembali dihadapkan turunan makadam, dengan jurang cukup dalam di sebelah kiri. Sebaiknya ambil jalan kanan.  Tiba di Kampung Cicapar, basecamp untuk naik ke Gunung Sadahurip, jalan berganti kembali menjadi beton PNPM.  Silakan meluncur dengan deras, tapi hati-hati banyak anak-anak atau motor.  Turunannya gak ada tanjakan dan langsung menuju Pasar Sukawening.

Berikut adalah petanya:

16. Trek Gunung Papandayan - Cileuleuy- Leuweung Panjang- Tumaritis- Arjuna-Sumbadra-Garut

Trek ini sangat-sangat panjang, untuk itu wajib diloading sampai Puncak Papandayan (Kawah), karena jarak dan waktu tempuh yang teramat panjang. Disarankan berangkat dari Garut kota tidak melebihi jam 7. Karena jam 8 tepat, saat tiba di tempar parkir di Papandayan yang ditempuh lebih kurang 1 jam. Kita harus langsung melakukan TTB dengan medan yang sangat curam dan  memerlukan ketabahan yang cukup tinggi. Lebih kurang 4 km melewati kawah dan hembusan uap panas serta bau belerang harus berjuang melawan rasa takut, rasa lelah dan konsentrasi jangan sampai terpeleset dan terjatuh di atas bebatuan yang berbau belerang.

Jarak 4 km tersebut ditempuh, biasanya sekitar 2 jam. Termasuk waktu yang yang dipakai untuk narsis. Foto-foto untuk oleh-oleh kepada handai taulan dan bukti kepada istri yang mereka yang termasuk anggota “Susis”.  Perjuangan yang sungguh berat diakhir perjalanan, lebi kurang satu meter dari tempat yang dikenal dengan Pintu Angin. Dikatakan berat, betapa tidak kemiringan dan kontur tanah khas gunung berapi yang licin dan cukup dalam serta curam. Memerlukan kesabaran dan keterampilan tersendiri.  Jalannya sangat sempit. Praktis kita harus mengatur langkah yang unik karena juga harus mendorong sepeda.

Tiba di Pintu Angin, saatnya beristirahat dan mengambil nafas. Melenturkan kaki, dan mengecek rem sekaligus menurunkan sadel. Jangn lupa, ban dicek, agar tidak terlalu keras. Karena medan selanjutnya adalah, makadam! Turunan panjang dengan batu-batu yang cukup bikin hati miris.  Terkadang harus berhenti sesaat karena, tangan dan pantat cukup kesemutan, dihajar makadam.  Sekalipun sepeda fullsus di trek ini tidak berlaku :p Trek makadam itu kadang menyempit, dan masuk ke single trek tapi tetap dengan makadam. Salah-salah mengatur keseimbangan, betis kita akan dihajar batu atau pedal yang terbanting.

Turunan makadam tersebut lebih kurang 3 km, selanjutnya sedikit menanjak sekitar 50 meter. Masuk ke perkebunan kentang. Dan….inilah bonus yang sangat dinantikan. Turunan, turunan, dan turunan terus tidak ada hentinya. Meliuk dan meluncur di atas single trek tanah perkebunan kentang. Sungguh sensasi tersendiri.

Trek masih juga turunan, tapi perkebunan kentang berubah menjadi perkebunan pohon Eucaliptus diselingi wortel, kental dan kubis. Masih single trek. Kita masih bisa meluncur dengan deras :D  Akhirnya single trek berakhir di perkebunan teh Cileuleuy. Single trek, masih juga menurun. Diakhiri dengan turunan yang sangat curam, tapi masih bisa gowesable.  Tapi diperlukan keberanian, dan kehati-hatian yang mumpuni.  Salah-salah, jadi jungkir balik, seperti yang dialami 3 orang teman kami :)

Trek kemudian berubah menjadi jalan makadam, khas perkebunan teh yang juga masih menurun cukup tajam. Tapi, yang pintar dan punya keberanian, silakan ambil jalan kiri. Menyusuri bahu jalan, yang juga telah berubah menjadi single trek tanah. Turun-turun dan turun terus sampai memasuk perkampungan Cileuleuy.

Tiba di Cileuleuy, Anda yang akan melanjutkan ke Pangalengan. Silakan ambil jalan kanan menuju perkebunan Santosa yang memakan waktu lebih kurang satu jam. Untuk yang belum kenyang berpetualang. Ambil jalan ke kiri dan menuju ke Garut sekitar 65 km.

Treknya, lagi-lagi makadam. Tapi praktis hampir tidak ada tanjakan. Jalannya kadang datar kadang menurun ringan.  Tapi mayoritas jalan, adalah jalan datar dengan makadam ringan. Diperlukan keterampilan dan ketahanan fisik untuk melakukan “rolling”,  mengayuh putaran crank dengan kecepatan putaran yang tetap. Hampir 4 jam kita perjalanan harus ditempuh. Melewati hutan belantara “Leuweung Panjang”, Gunung Arjuna, Gunung Tumaritis dan Sumbadra yang semuanya merupakan perkebunan teh.

Sangat disarankan membawa, toolkit, pemotong rantai, kunci 14, ban dalam cadangan, bahkan ban luar serta lampu untuk melakukan perjalanan malam atau kabut yang kadangkala muncul tiba-tiba. Sehingga jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja. Cukup tebal, dan merepotkan bagi mereka yang memakai kaca mata minus. Kadang-kadang, ada trek shortcut yang cukup panjang di single trek tanah. Sehingga kembali kita bisa meluncur offroad. Meninggalkan teman-teman kita yang memakai jalan makadam biasa :p

Petualangan berakhir di Gerbang Perkebunan Papandayan, Sumbadra, Cikajang lebih kurang 39 km dari Garut kota. Memasuk daerah ini, kita sudah mulai lega. Sepertinya sudah tiba.  Karena jalan propinsi Garut-Bungbulang yang dilewati truk, serta angkutan umum cukup banyak.  Tapi lebih baik digowes saja, karena Cikajang Garut, hanya berupa turunan jalan hotmix mulus.

Bagi yang akan mencoba trek ini, silakan dilihat petanya:

17.  Sang Hyang Taraje

Adalah sebuah air terjun yang sangat cantik, ketinggiannya kurang lebih 70 meteran.  Lokasinya terletak di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Lebih ke jalur wisata, dan lebih pantas untuk funbike.  Single track-nya sudah berganti dengan aspal dan beton :( Tapi tetap satu jalur sepeda yang layak dijajal untuk yang suka petualangan downhil-uphill dan downhar (ngadon dahar). Sebaiknya loading dulu dari Garut kota sampai di Curug Orok, kemudian meluncur turunan sejauh lebih kurang 17 km berupa aspal hotmix yang sepi kendaraan dan makadam di tengah perkebunan teh Papandayan. Di sebelah kiri jalur adalan pegunungan tempat eksplorasi emas dan batu topaz (akik). View-nya sangat keren dah!

Bila Anda penyuka uphill  jalur ini sangat tepat.  Dari Sang Hyang Taraje, kembali menuju Desa Cisandaan. Tapi mengambil shortcut, satu tahun lalu masih berupa tanah.  Tapi tanggl 29 Desember 2013 kemarin sudah berupa jadi aspal tipis, dan beton. Tanjakannya Naudzubillah! Sebenarnya bisa digowes untuk para juara total nanjak sampai Cikajang lebih kurang 27 km! Asli Nanjak! :p

1557725_10200575114975398_1725566034_n

Untuk yang membawa kendaraan pribadi bisa diloading sampai di Desa Cisandaan dan numpang parkir di rumah penduduk.  Karena, waktu pulang akan melewati desa yang sama.

Di Desa Prabumulih setelah Pos Ronda (mentok) ambil jalan ke kiri, masih terus berupa turunan sampai ke Air Terjun Sang Hyang Taraje.  Untuk tiba di air terjun, sepeda bisa digowes.  Tapi diperlukan kehati-hatian yang super :). Saat kembali menuju Cisandaan,

Peta ringkasnya:

sanghyangtaraje

18.  Gunung Darajat-Cidadali-Garut Titik start adalah di Pasir Gagak, Gunung Darajat lebih kurang 25 km dari Garut kota.  Di awal jalur kita langsung disuguhi turunan di tengah perkebunan pinus dan palawija berupa single track  yang kadang-kadang sangat curam.  Sebaiknya kalau mau gowes di sini tidak terlalu banyak, karena akan menggangu kesan turunannya yang garing.  Turunan jalur tunggal berakhir di sebuh kampung kecil, selanjut berubah menjadi tanah pasir, masih menurun.  Memasuk kampung Pasir Wangi, jalur berubah menjadi beton, yang juga tetap turunan.  Jalur terus cenderung turunan sesekali diselingi tanjakan pendek tapi curam.  Tapi pada umumnya masih bisa digowes.

Bila penyuka AM jalur ini sangat cocok, bisa digowes langsung menuju Puncak Darajat lebih kurang 1500 mdpl. Dari Garut kota lebih kurang 25 km.  Atau bisa juga melingkar melewati punggungan sebelah barat, tidak melewati jalur jalan raya.  Melewati perkampungan dan sawah, tembusnya sama di puncak Darajat.

Jalur Gunung Darajat tembus ke Kampung Cidadali dimana jalur Cibeureum juga melewati kampung ini.  Bisa langsung tembus di pemandian Cipanas Garut!

19a.  Gunung Karacak-Cilawu 

Jalur ini baru ditembuskan pada pertengahan Desember 2013, relatif masih perawan dengan vegetasi hutan pinus dan hutan tropis. Dari Garut kota hanya 6 km sampai ke titik offroad. Digowes langsung dari Garut kota hanya membutuhkan 30 menit, dengan kontur tanjakan sedang. Dua kilo meter kemudian memasuk hutan pinus, di Sukanegla. Dari sana kita harus TTB lebih kurang 15 menit.

Sesudah TTB, kita disuguhi turunan yang masih perawan.  Kadang-kadang jalur tidak terlihat karena pekatnya rumput dan semak-semak.  Tapi jalur ini masih bisa digowes sekalipun turun hujan.  Tanahnya keras, dan berada dalam kelebatan hutan pinus yang masih rapat.  Sesekali tampak monyet berloncatan dari pohon ke pohon, diselingi kicauan burung-burung hutan dan melayangnya burung elang yang  mencari mangsa.

Menurut informasi jalur ini sebenarnya bisa tembus ke Cirorek, Gunung Waspada dan Parentas, Cigalontan, Singaparna, Tasikmalaya.  Tapi baru yang tembus ke Cilawu  ini yang telah diexplorasi dan sangat rekomend untuk goweser yang suka AM.  Jarak tempuh total lebih kurang 6 jam (digowes full dari Garut kota).  Jalur ini hanya melewati dua tanjakan, selebihnya adalah turunan!

Untuk yang mau offroad-an di Garut silakan email ke dessulaeman@gmail.com atau facebook kami http://www.facebook.com/kgcgarut.mountainbike   atau kunjungi situs Komunitas Garut Cyclist (KGC Garut) via Kontak Kita.

Dengan senang hati, saya dan teman-teman akan menemani dan membatu dengan batas kmampuan yang ada hehehe :)

http://gowesgarut.blogspot.com/2014/01/bike-to-camping-ke-hutan-gunung-karacak.html

Posted by: kgcgarut-mountainbike | December 31, 2013

Exploring the 19thA Single Track Of Karacak Mount

 

22 Desember 2013

Hujan turun cukup deras di Minggu pagi ini, bahkan saat hujan berhenti pun. Mendung masih menggelayut di pelupuk cakrawal.  Jam 07.45 setengah malas2an si Spezy di gowes menuju Garut kota. Di turunan Sanding, tampak di depan 6 anggota ABG yang gowes tak berhelem.  Satu demi satu, mereka tersusul.  Memasuki alun-alun Garut, tampak 4 orang MTB-ers muda.  Lengkap dengan tas punggung mengayuh sepedanya perlahan.  Saat mendekati mereka, saya say hello.

“Mau pada gowes ke mana?”

“Ke Lingga Ratu Pak!”, jawab mereka

“Weleh, ati-ati banyak pacet!”, ujar saya mengingatkan.

“Oh kitu Pak? Hayu atuh gabung!”, ajak mereka

“Nuhun, saya mah mau ke Talagabodas!”, jawab saya menolak halus.  Padahal hari itu agendanya adalah ke Gunung Karacak.

 

Kali ketiga ke Gunung Karacak untuk membuat jalur baru. Jalur sepeda kesembilan belas. Sudah tiga kali, mencoba menembuskan jalur dari hutan di Gunung Karacak tapi belum berhasil.  Rencananya, jalur ini melingkar mengikuti punggungan Gunung Karacak tembus ke hutan Cirorek di Gunung  Satria Tasikmalaya.  Mudah-mudahan kali ketiga ini berhasil.

Tiba di rumah dinas Tebe Asep, yang dijadikan basecamp Kgc Garut Mountain bike.  Tampak sudah berkumpul raja ngicik Dedi Eceks, si Jangkung Tipis Haris Akung, dan mang Hendra. Tanpa basa-basi pisang ambon putih yang dibiarkan tergelatak tak disapa oleh mereka. Dua buah langsung masuk perut, 3 buah langsung masuk ransel saya :) untuk bekal di hutan!

 

Satu demi satu para pemirsa Kgc berdatangan.  Akhirnya bersepuluh meluncur menuju ke arah Sukadana.  Beriringan menikmat tanjakan Margawati sejauh 5 km. Tanjakan jalan itu tidak terlalu berat.  Sejuknya udara mendung pagi itu akibatkan keringat tak juga mau membasahi tubuh.  Di tengah perjalanan, Mang Haji Muksin Al Tarkal, alias Pak Camat Tarogong Kaler, Koh Iong  yang terus terang, terang terus dan Mang Ruhiyat dari Chevron akhirnya bergabung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lebih kurang 45 menit tiba di titik offroad, langsung mencicipi tanjakan leter U yang meliuk tajam. Pendek memang tapi cukup membuat mulut berulang-ulang meniup handlebar sepeda :p. Rombongan langsung memasuk padang rumput yang hijau di ketinggian 1000 mdpl. Melewati jembatan yang terbuat dari dua batang pohon pinus yang melintang di atas sungai kecil sempit 2 meteran yang cukup dalam. Satu demi satu, melintasi jembatan itu. Harus hati-hati karena jembatan itu sudah mulai lapuk dimakan usia. Menembus semak-semak dan “byar…!”  Sejauh mata memandang hijau ranau.  Seolah berada di hadapan kita Gunung Cikuray tampak anggun, tersenyum dan kabut yang menutup raut rimbun hutannya! Seandainya langit tak berkabut, mungkin pemandangan akan semakin cantik bila langit berwarna biru.


 

Sebelum perjalanan dilanjutkan menembus rimbunnya semak belukar di hutan. Kami pun mengadakan “ritual” agar tidak terserang pacet.  Semua peserta yang ikut, meraba dan mengusap tangan, kaki dan tengkuk masing-masing.  Bahkan, saya beserta beberapa orang lainnya melompat-lompat sambil terus mengusap tengkuk!

Saat mulai memasuk segarnya udara yang berbau pinus, hampir semua berkomentar.  Segar, sejuk, indah, Subhanallah dan lain-lain komentar yang terkesan dengan kondisi jalur dan udara yang dilewati.  Seringkali kami berpapasan dengan rombongan pencari kayu bakar, atau penyadap getah pinus. Sapaan akrab dan keramahan serta nasihat arif bijaksana meluncur dari mulut mereka penuh dengan senyuman.  Kearifan lokal yang nyaris tidak lagi ditemukan di kota besar.

Beberapa kali, kamipun berpapasan dengan monyet-monyet yang bergelantungan di atas pohon pinus. Sayangnya dibeberapa tempat ditemukan perangkap burung :(

Jalan makin curam, dan nyaris tidak bisa digowes.  Akhirnya aksi DH dilakukan secara berjamaah. Lebih kurang seperempat jam, memasuki Dhuhur istirahat di sebuah tempat yang cukup datar sekaligus makan siang.

Belum juga belum, nasi turun ke dalam usus.  Semua langsung mendorong kembali sepedanya masing-masing.  Saya terkaget-kaget, karena si Spezy lenyap!  Tanya sana-sini, mereka bilang tidak tahu.  Ternyata sudah digusur duluan oleh Koh Iong. Thank you!

 

 

Menemui percabangan jalan, kami kebingungan. Ke atas terus masih menanjak dan mendorong. Ke kanan, jalan mendatar dan mengecil dengan jurang lebar di sebelah kanan. Akhirnya, sepakat mengambil jalur ke kanan. Vegetasi makin rapat. Tapi sepeda masih digowes. Bahkan cenderung menurun.  Semua saling mengingatkan.

“Awas Jurang! Awas pokok Pohon! Awas Lubang!” atau sesekali berteriak sekehendak hati sambil ketawa-ketiwi.  Tapi, tiba-tiba jalan setapak hilang sama sekali.  Tertutup oleh semak belukar.  Namun di bawah, terdengar gonggongan anjing pemburu.  Menembus kerapatan semak belukar sepeda tetap di kayuh. Menuju arah datangnya suara gonggongan anjing  yang sayup-sayup terdengar.

Jalur masih tertutup rapat, namun sesekali mulati tampak jalan setapak. Akhirnya, bertemu dengan seorang penyadap getah pinus. Dia bertanya ramah,

“Mau pada kemana?”

“Ke Cirorek Pak, betul arahnya ke sini?”, tanya kami

“Walah, salah jalan! Harusnya di persimpangan di atas tadi.  Terus lurus sampai ke puncak gunung. Kalo ke sini mah ke arah Cikadu!”, jawab si Bapak Penyadap karet panjang lebar.

Kamipun, saling berpandangan mata sambil tersenyum.  Balik ke atas, dan mendorong sepeda lagi atau terus ke bawah menuju Cikadu? Mengingat waktu yang sudah terlalu sore.  Kami putuskan sementara mengambil jalur Cikadu. Karena jalur ini, sejauh yang tadi sudah dilewati sangat suitabel, cocok untuk sepeda. Sepeda terus dipacu, sesekali yang kurang nekad harus menuntun sepeda di jalur berupa tangga dari pohon pinus.

 Tapi, yang cukup berani akan tertawa puas sambil meledek yang kurang berani.  Beberapa kali melewati drop off alami.  Beberapa kali salah seorang rekan kami harus jungkir balik.  Bukan karena medannya yang berat, tapi karena seatpost hidroliknya tidak cukup rendah.  Sehingga stabilitas tubuh berkurang dengan sendirinya, tidak ada pijakan sama sekali saat menghadapi titik yang kritis.  Karena kesal, seatpost hidrolik, oleh rekan kami tersebut dicabut dan dilempar ke arah semak-semak! Kami pun terpingkal-pingkal melihat adegan akrobat yang tidak sengaja ditampilkannya!

 

Jalur terus menurun, melewat hutan pinus. Single track yang sangat sedap untuk dicoba! Sayangnya, Garmin milik Pak Camat dan Endomondo di hape saya mati.  Jadi kami tidak mengetahui berapa jarak tempuh dan waktu jalur yang dilalui.  Memasuk tepi hutan, jalan mulai ramah. Semak belukar perlahan berkurang. Jalan semakin bersih, namun tetap single track ramah, yang menembus ke tanah pertanian.  Karena rombongan tercecer.  Regrouping pun dilakukan sambil mengevaluasi jalur yang dilewati.  Jalan setapak makin menyempit dan berubah menjadi pematang sawah. Untunglah sawahnya kering, walaupun musim hujan.  Jadi kami cukup berani, menggowes di pematang sawah.  Kalaupun harus tercebut tidak akan mandi lumpur atau basah kuyup.

Pasca melewati pesawahan, jalan kembali masuk ke jalur pertanian.  Masih single track turunan. Semua mengebut, sambil sesekali tertawa terbahak-bahak saat memasuk turunan yang turun tajam dan menyudut 45 derajat.  Beberapa dari kami harus terjerumus dan jadi bahan tertawaan yang lainnya.

 

Saat memasuk perkampungan, kami kembali disambut gonggongan anjing peliharaan orang kampung.  Sesaat terhenti, membiarkan gonggongan berhenti sejenak.  Setelah cukup kondusif, gowes dilanjut.  Kembali memasuk pesawahan. Kayuhan harus kembali super konsentrasi.  Gowes di atas pematang sawah tidak mudah bagi kami.  Salah-salah malah tercebut ke sawah yang ternyata di bagian ini cukup berair dan berlumpur!

 

Jalur pematang sawah, berakhir di jalan beton  yang masih baru. Kembali langsung meluncur, mulus dan ngebut di atas beton.  Ternyata jalur beton tersebut tembus di Cikadu, atau terusan Jalur Cirorek yang berjarak lebih kurang 14 km dari Garut kota. Turunan semakin tajam. Tapi, karena sudah dibeton rapi dan rata. Di turunan ini, sepeda tidak lagi harus dituntun seperti beberapa waktu lalu saat kami melewati jalan ini yang masih belum dibeton dan dipenuhi lumut. Turunan tajam itu berakhir di sebuah lembah, dengan tanjakan curam sejauh lebih kurang 50 meter saja di dalam.  Beberapa dari kami ada yang sanggup full gowes, sebagian TTB karena fisik yang sudah habis.

 

Berhenti sejenak di warung untuk rehat dan minum kopi dan sholat.  Perjalanan di lanjut, dengan jalan masih beton yang sebagian sudah mulai dimakan oleh gerusan air.  Turunan curam dan menikung tajam berakhir di sebuah lembah tempat mushola kecil yang pancuran mata airnya digunakan oleh penduduk kampung untuk mandi. Di depan lembah ini, tanjakan curam sejauh lebih kurang 50 meter kembali menyambut akhir dari petualangan hari itu.  Tanjakan ini berujung di hotmix Jalan Raya Cilawu Tasikmalaya.  Lebih kurang 7 km dari Garut kota.

 

Walaupun tidak sesuai harapan, bisa menembuskan jalan ke jalur Cirorek, Gunung Satria, Tasikmalaya.  Namun, jalur sepeda yang “ditemukan” tidak sengaja secara umum sangat rekomen untuk teman-teman dari luar Garut yang mau gowes menjajal jiwa petualangnya :P

Kami namakan jalur sepeda ini Jalur 19A, dengan harapan dari hutan Gunung Karacak tembus ke Cirorek adalah Jalur 19B dan tembus ke Parentas (Cigalontang, Singaparna) menjadi Jalur 19C.  Karena gerbang awal jalurnya sama dari Gunung Karacak yang merupakan jalur ke-19 yang berhasil dijelajahi.

 

Berani mencoba? Let us do it!

 

 

Catatan:

- Panjang jalur 19A belum bisa ditentukan dengan pasti, karena GPS mati. Namun diperkirakan sekitar 27 km

- Lama perjalanan sekitar 3-4 jam plus istirahat dan tersesat :p

- Kontur turunan single track dengan vegetasi rapat hutan hampir 60% lengkap dengan turunan ekstrim berupa tangga pohon pinus namun layak dicumbu dengan mesra :)single track tanah pertanian/pesawahan plus pematang 20% dan selebihnya berupa turunan dan tanjakan.

 

Posted by: kgcgarut-mountainbike | November 29, 2013

Sekilas Gambaran Jalur Gunung Talagabodas

Hampir setiap goweser yang bermaksud mencicipi trek sepeda di Garut, dipastikan mempertanyakan trek mana yang paling enak? Gambaran treknya bagaimana? Berapa kilometer/lama jarak tempuh treknya?  Berikut sedikit gambaran yang mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Gunung Talagabodas adalah sebuah gunung berapi non aktif yang sebenarnya terletak di Kabupaten Tasikmalaya. Gunung tersebut terletak lebih kurang 28 km dari Garut Kota, dengan ketinggian mencapai 2201 mdpl.  Adapun ketinggian danau/kawahnya adalah 1740 mdpl. Bagi mereka yang sudah berkunjung ke Kawah Putih Ciwidey, Bandung Selatan. Bila melihat danau di Gunung Talagabodas dipastikan akan merasa seperti “de javu“. Serupa tapi tak sama.  Hanya, danau di Talagabodas lebih luas.

Kawasan ini sudah hampir 3 bulan sedang dibenahi.  Akses jalan yang dulu rusak, kini sedikit demi sedikit diperbaiki.  Bahkan, di pertengahan jalur tersebut telah diaspal hotmix lebih kurang 4 km. Sampai ke puncak jalannya aspal rata walaupun bukan hotmix.  Bagian yang berbatasan dengan kawah pun sudah dipagar besi (yang pastinya tidak akan tahan lama karena sulfur bersifat korosif).  Hal itu dilakukan karena beberapa waktu yang lalu pernah memakan korban luka bakar.

Untuk tiba di Kawah Gunung Talagabodas dapat ditempuh langsung dengan truk/pick up atau digowes langsung sejauh 13 km menuju Kecamatan Wanaraja melalui jalan hotmix mulus.  Atau bagi Anda yang berasal dari arah Bandung, dari Jalan Cagak Nagreg langsung menuju Kecamatan Limbangan.  Sekitar 2 km dari Pasar Kecamatan Limbangan, akan bertemu dengan pertigaan yang dinamakan Sasak Beusi.  Di sana ada petunjuk menuju ke arah Cibatu (Garut).  Dari Sasak Beusi ke pasar Kecamatan Cibatu kurang lebih 8 km. Terus lurus terus melewati rel kereta api jalur selatan menuju Kecamatan Wanaraja sejauh 8 km.

Dari Alun-alun Wanaraja, Gunung Talagabodas berjarak 13 km.  Untuk para pecinta uphill  jarak tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5-2,5 jam. Namun untuk para pecinta KONA (komunitas ogah nanjak) bisa langsung diloading sampai kawah Talagabodas sekitar 0,5 jam. Kondisi jalannya relatif bagus dan hanya rusak justru di 4 kilometer awal dari alun-alun Wanaraja.  Selanjutnya, jalan relatif rata bahkan hotmix sejauh 4 km setelah SD Sindang Ratu.

Lokasi wisata yang bisa dikunjungi sebenarnya tidak hanya kawah, tetapi juga ada sumber mata air panas di tiga lokasi. Khusus, untuk lokasi mata air Pancuran Tujuh hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.  Karena sepeda atau kendaraan bermotor harus parkir lebih kurang 1 km dari lokasi.  Selanjutnya berjalan kaki menembus kerimbunan hutan. Di Pancuran Tujuh, Anda bisa mandi dengan air belerang panas ditujuh sumber mata air. Sedikit berbau mistis dan tahayul, karena di tangkai-tangkai pohon bergantungan aneka pakaian dalam!  Di lokasi kawah/Curug Tujuh sarana dan prasarana cukup lengkap. Warung kecil dengan mushola yang cukup besar dan bersih telah tersedia.

Untuk Anda yang senang bersepeda cross country, setelah bernarsis ria di danau/kawah Talagabodas bisa langsung ngebut di turunan ke tengah hutan belantara Gunung Talagabodas.  Harap hati-hati karena ada beberapa jalan tikus yang cukup merepotkan bila salah jalan. Treknya relatif ringan, dengan sedikit ekstrim dibeberapa bagian (dirusak motocross, jalur “dicangkul” plus jalan air).  Namun, dengan sedikit teknik dan skill, sepeda tetap bisa “gowesable“.  Tentunya dengan catatan, bila ragu-ragu lebih baik TTB.  Hutan tropisnya relatif masih virgin akar dan besarnya pohon yang berusia puluhan dan mungkin ratusan tahun, menciptakan kanopi yang sangat rapat.  Sehingga, sinar matahari pun hanya sedikit yang bisa menembusnya.

Setelah menempuh jalur di tengah hutan sejauh 4 km yang biasanya ditempuh selama 30 menit, jalur berganti dengan turunan aspal sejauh 1 km. Kemudian tembus ke hutan pinus dan perkebunan kentang, single trek tanah sejauh 3 km. Selanjutnya, tanjakan pendek tapi curam dan tembus ke kebun palawija di bukit Gunung Sadahurip.  Jalur masih berupa single track tanah, turunan dengan sedikit tanjakan. Silih berganti di tengah kebun kentang, jagung, cabe rawit dan tomat. Untuk rehat dan narsis bisa dilakukan di kaki Gunung Sadahurip ( yang pernah dihebohkan ada pyramid lebih tua dari pyramid di Mesir) atau di atas Bukit Batu Rahong yang berupa susunan batu granit yang sangat menggoda.  Suasana pemandangan amat sangat indah, sejuk dan asri.  Sejauh mata memandang adalah birunya langit (kalau gak mendung :)) dan bukit dan lembah yang hijau.  Bila, mempunyai waktu cukup.  Silakan langsung mendaki Puncak Gunung Sadahurip,dari puncaknya Anda bisa melihat kota Garut, Tanjakan Nagreg, Situ Bagendit dan Situ Cangkuang.

Perjalanan bisa digowes lanjut dengan kondisi jalan makadam, turunan.  Lanjut single track tanah ke hutan bambu, turunan tajam.  Melewati jembatan bambu dengan jurang yang cukup dalam.  Selanjutnya sepeda TTB sejauh 100 meter, dan lanjut turunan sempit. Di kanan tebing, di kiri jurang 2-3 meteran. Tembus lagi ke hutan bambu, tentunya  dengan pemandangan yang tetap cantik. Offroad berakhir di SD Cicapar.  Langsung turunan beton sejauh 2 km, dan jalan macadam jahanam sejauh 1 km. Disambung turunan beton lagi sejauh 2 km campur aspal rusak.  Finish di Pasar Kecamatan Sukawening lebih kurang 17 km dari Garut kota.  Dari sini bisa digowes langsung ke Garut kota sekitar 1 jam atau langsung loading lagi.  Total turunan offroad dari Kawah Talagabodas sampai pasar Sukawening sekitara 13 km.

Posted by: kgcgarut-mountainbike | January 8, 2013

Trek Karaha-Talagabodas ala Aura Kasih

Gunung Talagabodas mempunyai ketinggian 2201 meter dari permukaan laut. Ketinggian 2,201 meter (7,221 ft). Gunung yang beberapa hari ini kembali ramai dikunjungi wisatawan, terletak di 13 km dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Tepatnya pada kordinat 7°12′29″S 108°04′12″E /7.208°LS 108.07°BT.

Secara geologis gunung ini termasuk jenis stratovolcano yaitu gunung berapi yang tinggi dengan lava dan abu vulkanik yang mengeras. Di pucaknya terdapat danau yang airnya berwarna putih, mungkin dari warna yang muncul inilah disebut Gunung Talagabodas (Bahasa Sunda, talagabodas=danau putih). Bagi yang pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, panorama di Talagabodas akan merasakan de ja vu.

Dua kilo meter dari danau Talagabodas, terdapat pemandian air panas seperti di kawah Darajat, Guntur atau Kamojang. Hanya saja, pemandiannya masih dikelola secara tradisional. Pemandian ini, sangat unik. Bahkan, dianggap keramat oleh sebagian orang.

Tidak aneh, pohon-pohon di sekitar pancuran air panas yang berjumlah 7. Banyak sekali (maaf), pakaian dalam bekas pengunjung yang mandi. Alasannya, mulai dari membuang sial, enteng jodoh, ingin kaya atau menyembuhkan penyakit.

Hampir 2 bulan sejak Nopember lalu, Kawah Talagabodas mulai ramai kembali dikunjungi oleh wisatawan. Memang masih didominasi wisatawan lokal, yang berkunjung menggunakan truk besar, truk pick up, minibus, atau motor.

Kembali menggeliatnya keramaian di Talagabodas terjadi, karena akses jalan yang dulu pasca reformasi hancur total. Telah diperbaiki, cukup mulus beraspal. Walaupun belum di hotmix. Namun, melihat kondisi limpasan air di sepanjang badan jalan di beberapa titik. Diprediksi, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dipastikan jalan kembali hancur total.

Mungpung, masih mulus. Kgc-ers Garut untuk kali ketiga mengayuh sepeda dari Garut kota. Jarak Garut kota- Wanaraja bisa ditempuh 20-30 menit. Karena sangat datar, bahkan cenderung turunan. Dari alun-alun Wanaraja, tepatnya di depan mesjid Jami Wanaraja. Belok kanan. Ke jalan Talagabodas. Dari kota kecamatan Wanaraja ke puncak Talagabodas kurang pebih 13 km.

Perlahan tapi pasti, kita disuguhi tanjakan demi tanjakan yang sangat menggoda selera. Pada awalnya, tanjakan enteng di kilometer 3. Selanjutnya, 3 kilometer kita menghadapi tanjakan sedang. Dibutuhkan kesabaran dan kemampuan fisik yang cukup untuk mencumbu tanjakan ini.

Kemudian, kesabaran dan ketabahan kembali diuji dengan tanjakan “superdodol” sejauh 1,3 km. Perjalanan sengaja mengambil shortcut, melewati perkebunan palawija. Memang jaraknya lebih pendek, tetapi tanjakannya cukup edun.  Bisa digowes, tapi tidak lama. Kembali harus TTB. Cuaca dan obral matahari yang lagi promo, menjadikan tengkuk dan wajah seperti dibakar.

Untuk menghilangkan penat. Sesekali, bernarsis ria di tengah bukit dengan pemandangan kota garut, pesawahan, serta palawija yang menghijau. Tentunya dengan senyuman di tengah kelelahan mendorong sepeda.

Sepeda kembali bisa dikayuh setelah tiba di pertemuan jalan shortcut via Pasir Anjing dengan jalan aspal. Jarak yang terekam di endomondo, menunjukan angka 1,8 saat tiba di basecamp bekas proyek Karaha. Jarak tersebut ditempuh selama 1 jam lebih 10 menit. Sambil, kembali rehat, maksi dan sholat dhuhur.

Kita dibuat terkesima, dan tersentil mata hati. Saat melihat 7 anak perempuan sedang membersihkan mesjid. Padahal jarak mesjid ke rumah mereka sekitar 1,6 km! Silakan klik:

http://gowesgarut.blogspot.com/2012/12/sentilan-keihlasan-dari-seorang-anak.html? zx=7d5101d9bba49310

Jarak dari basecamp, ke puncak Talagabodas tersisa lebih kurang 4 km lagi. Jalan yang tersisa 4 km, tidak akan menemukan tanjakan berat. Sehingga bisa ditempuh sekitar 1-2 jam. Terserah kesanggupan fisik.

Karena hari minggu, pengunjung yang berduyun-duyun menggunakan berbagai kendaraan, terutama motor. Menjadikan para pencinta sepeda harus sering mengalah. Menepi, bahkan turun. Jalan yang sempit, seringkali terlalu riskan terserempet truk atau minibus.

Apatah motor yang ugal-ugalan, mengebut seperti dikendarai setan. Membuat kami, mgambil keputusan putar balik. Disimpulkan tidak akan nyaman di puncak atau di kawah. Dipastikan penuh sesak, membuat kita tidak nyaman. Akhirnya di tengah perjalanan, langsung balik kanan. Membelok ke arah Karaha.

Walaupun tidak sampai ke puncak. Subhanalloh, walhamdulillah…kita disuguhi sajian single trek yang sangat lezat. Turunan, kontur tanah. Di tengah hutan pinus yang sekitarnya ditanami tomat dan cabai. Hilang sudah rasa lelah. Terbayar oleh kegurihan dari sigle trek yang sangat nikmat.
Tembus di sebuah kampung, sejauh mata memandang.

Cantik! Itulah kata yang terlontar. Kami semua berkhayal, seandainya mempunyai rumah di puncak bukit ini. Hidup akan terasa aman, nyaman, senang. “Tiis ceuli herang mata”. Bahkan, kami bercanda. Seandainya Aceng menyimpan isteri muda ABG yang dinikahi siri. Dipastikan tidak akan tercium oleh media massa. Setelah minum kopi di sebuah warung kecil di pinggir jalan makadam. Kami kudu mendorong sepeda lebih kurang 60 meter.

Setelah itu? Kembali suguhan alam yang hijau ranau, dengan single trek yang maknyos. Membuat lupa sama anak mertua. Sesekali diselingi tanjakan ringan 2-3 meter, tanda pergantian ketinggian. Tapi, tetap masih bisa digowes. Melewati parit di tengah bukit dengan jembatan bambu kecil. Membuat trek sangat memacu adrenalin, dengan turunan dan tanjakan ringan yang renyah.

Dan …. Allahu Akbar! Subhanallah! Takbir dan tasbih terucap spontan. Betapa tidak. Hamparan alam yang menghijau di bawah bukit sangat indah. Tampak, jalan yang berliku-liku. Meliuk-liuk di sekitar punggungan gunung nun jauh di bawah sana. Sawah dan perkebunan palawija serta hamparan karpet alam hutan, langsung menyejukan hati. Gunung Sadahurip yang beberapa waktu lalu dihebohkan sebagai piramida. Tampak sangat anggun. Punggungnya dibalut hijau tumbuhan palawija. Guratan, garis sengkedan tanah seperti lukisan asesoris. Mempercantik keanggunannya.

Biru langit dan ulasan gumpalan awan putih di atas sana. Sepertinya bisa kita raih, seperti iita meraih gumpalan kapas putih. Tidak puas-puasnya, dan tidak akan habis-habisnya. Melakukan aksi narsis di puncak bukit di pertengahan Talagabodas-Karaha ini. “Subhanallah, ternyata ada ya pemandangan sedahsyat ini!!!” Ujar kang Yudhi dan kang Richy yang baru pertama menginjakan kaki di sini.

Setelah cukup puas dengan pemandangan yan tiada duanya di dunia. (Meureun…da sepertinya kita mah. Jarang gowes keluar dari Garut gkgkgk…).  Mencumbu turunan, kembali dilanjut. Sepeda kesayangan betul-betul dimanjakan di trek ini. Sesekali kita mendapat hiburan, saat ada yang terpentok pohon pisang. Tertawa geli, saat melihat yang tertatih-tatih, terpaksa menuntun sepeda. Karena pematang yang seupil, menempel pada tebing, dengan jurang dangkal di sebelah kiri. Bukan, sekali dua kali, yang menjadi korban di sini.

Trek, turun, turun, turun dan terus turunan. Melewati hutan bambu, kolam, kebun palawija, serta bibir jurang dengan sungai deras di bawahnya. Sesekali, berteriak mengingatkan bila ada jalan yang membahayakan. Sehabis turunan yang jalannya teramat tipis. Turunan terus mencumbu si spezy dan kawan-kawan.

Tiba di sebuah puncak bukit kecil. Kembali, kita terhenyak dengan pemandangan yang tidak kalah eksotik dengan yang di atas tadi. Sebuah pohon meranggas di puncak bukit. Menambah kecantikan lukisan alami di tengah pegunungan. Kami namakan Pohon Kejujuran 2, sebagai pengganti Pohon Kejujuran 1 di Cisaruni yang rantingnya telah lenyap.

Kembali berfoto ria, dengan jempol dan senyum lebar tanda orgasme bersepeda yang terpuaskan selama perjalanan. MANTAP!

Pascabukit yang ciamik, kita masih disuguhi turunan tajam. Yang ragu-ragu atau kurang mahir kontrol handlebar sebaiknya turun saja. Walaupun sebenarnya, sangat disayangkan. Karena tidak bisa menikmati mucratnya adrenalin di trek super turunan di tengah hutan bambu. Dahsyat..thank you Allah. Yang telah memberikan trek baru yang begitu indah dan gurih di Karaha-Talagabodas ini.

Trek Karaha-Talagabodas ala Aura Kasih

Gunung Talagabodas mempunyai ketinggian 2201 meter dari permukaan laut. Ketinggian 2,201 meter (7,221 ft). Gunung yang beberapa hari ini kembali ramai dikunjungi wisatawan, terletak di 13 km dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut Jawa Barat. Tepatnya pada kordinat 7°12′29″S 108°04′12″E /7.208°LS 108.07°BT.

Secara geologis gunung ini termasuk jenis stratovolcano yaitu gunung berapi yang tinggi dengan lava dan abu vulkanik yang mengeras. Di pucaknya terdapat danau yang airnya berwarna putih, mungkin dari warna yang muncul inilah disebut Gunung Talagabodas (Bahasa Sunda, talagabodas=danau putih). Bagi yang pernah ke Kawah Putih di Ciwidey, panorama di Talagabodas akan merasakan de ja vu.

Dua kilo meter dari danau Talagabodas, terdapat pemandian air panas seperti di kawah Darajat, Guntur atau Kamojang. Hanya saja, pemandiannya masih dikelola secara tradisional. Pemandian ini, sangat unik. Bahkan, dianggap keramat oleh sebagian orang.

Tidak aneh, pohon-pohon di sekitar pancuran air panas yang berjumlah 7. Banyak sekali (maaf), pakaian dalam bekas pengunjung yang mandi. Alasannya, mulai dari membuang sial, enteng jodoh, ingin kaya atau menyembuhkan penyakit.

Hampir 2 bulan sejak Nopember lalu, Kawah Talagabodas mulai ramai kembali dikunjungi oleh wisatawan. Memang masih didominasi wisatawan lokal, yang berkunjung menggunakan truk besar, truk pick up, minibus, atau motor.

Kembali menggeliatnya keramaian di Talagabodas terjadi, karena akses jalan yang dulu pasca reformasi hancur total. Telah diperbaiki, cukup mulus beraspal. Walaupun belum di hotmix. Namun, melihat kondisi limpasan air di sepanjang badan jalan di beberapa titik. Diprediksi, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dipastikan jalan kembali hancur total.

Mungpung, masih mulus. Kgc-ers Garut untuk kali ketiga mengayuh sepeda dari Garut kota. Jarak Garut kota- Wanaraja bisa ditempuh 20-30 menit. Karena sangat datar, bahkan cenderung turunan. Dari alun-alun Wanaraja, tepatnya di depan mesjid Jami Wanaraja. Belok kanan. Ke jalan Talagabodas. Dari kota kecamatan Wanaraja ke puncak Talagabodas kurang pebih 13 km.

Perlahan tapi pasti, kita disuguhi tanjakan demi tanjakan yang sangat menggoda selera. Pada awalnya, tanjakan enteng di kilometer 3. Selanjutnya, 3 kilometer kita menghadapi tanjakan sedang. Dibutuhkan kesabaran dan kemampuan fisik yang cukup untuk mencumbu tanjakan ini.

Kemudian, kesabaran dan ketabahan kembali diuji dengan tanjakan “superdodol” sejauh 1,3 km. Perjalanan sengaja mengambil shortcut, melewati perkebunan palawija. Memang jaraknya lebih pendek, tetapi tanjakannya cukup edun.  Bisa digowes, tapi tidak lama. Kembali harus TTB. Cuaca dan obral matahari yang lagi promo, menjadikan tengkuk dan wajah seperti dibakar.

Untuk menghilangkan penat. Sesekali, bernarsis ria di tengah bukit dengan pemandangan kota garut, pesawahan, serta palawija yang menghijau. Tentunya dengan senyuman di tengah kelelahan mendorong sepeda.

Sepeda kembali bisa dikayuh setelah tiba di pertemuan jalan shortcut via Pasir Anjing dengan jalan aspal. Jarak yang terekam di endomondo, menunjukan angka 1,8 saat tiba di basecamp bekas proyek Karaha. Jarak tersebut ditempuh selama 1 jam lebih 10 menit. Sambil, kembali rehat, maksi dan sholat dhuhur.

Kita dibuat terkesima, dan tersentil mata hati. Saat melihat 7 anak perempuan sedang membersihkan mesjid. Padahal jarak mesjid ke rumah mereka sekitar 1,6 km! Silakan klik:

http://gowesgarut.blogspot.com/2012/12/sentilan-keihlasan-dari-seorang-anak.html? zx=7d5101d9bba49310

Jarak dari basecamp, ke puncak Talagabodas tersisa lebih kurang 4 km lagi. Jalan yang tersisa 4 km, tidak akan menemukan tanjakan berat. Sehingga bisa ditempuh sekitar 1-2 jam. Terserah kesanggupan fisik.

Karena hari minggu, pengunjung yang berduyun-duyun menggunakan berbagai kendaraan, terutama motor. Menjadikan para pencinta sepeda harus sering mengalah. Menepi, bahkan turun. Jalan yang sempit, seringkali terlalu riskan terserempet truk atau minibus.

Apatah motor yang ugal-ugalan, mengebut seperti dikendarai setan. Membuat kami, mgambil keputusan putar balik. Disimpulkan tidak akan nyaman di puncak atau di kawah. Dipastikan penuh sesak, membuat kita tidak nyaman. Akhirnya di tengah perjalanan, langsung balik kanan. Membelok ke arah Karaha.

Walaupun tidak sampai ke puncak. Subhanalloh, walhamdulillah…kita disuguhi sajian single trek yang sangat lezat. Turunan, kontur tanah. Di tengah hutan pinus yang sekitarnya ditanami tomat dan cabai. Hilang sudah rasa lelah. Terbayar oleh kegurihan dari sigle trek yang sangat nikmat.
Tembus di sebuah kampung, sejauh mata memandang.

Cantik! Itulah kata yang terlontar. Kami semua berkhayal, seandainya mempunyai rumah di puncak bukit ini. Hidup akan terasa aman, nyaman, senang. “Tiis ceuli herang mata”. Bahkan, kami bercanda. Seandainya Aceng menyimpan isteri muda ABG yang dinikahi siri. Dipastikan tidak akan tercium oleh media massa. Setelah minum kopi di sebuah warung kecil di pinggir jalan makadam. Kami kudu mendorong sepeda lebih kurang 60 meter.

Setelah itu? Kembali suguhan alam yang hijau ranau, dengan single trek yang maknyos. Membuat lupa sama anak mertua. Sesekali diselingi tanjakan ringan 2-3 meter, tanda pergantian ketinggian. Tapi, tetap masih bisa digowes. Melewati parit di tengah bukit dengan jembatan bambu kecil. Membuat trek sangat memacu adrenalin, dengan turunan dan tanjakan ringan yang renyah.

Dan …. Allahu Akbar! Subhanallah! Takbir dan tasbih terucap spontan. Betapa tidak. Hamparan alam yang menghijau di bawah bukit sangat indah. Tampak, jalan yang berliku-liku. Meliuk-liuk di sekitar punggungan gunung nun jauh di bawah sana. Sawah dan perkebunan palawija serta hamparan karpet alam hutan, langsung menyejukan hati. Gunung Sadahurip yang beberapa waktu lalu dihebohkan sebagai piramida. Tampak sangat anggun. Punggungnya dibalut hijau tumbuhan palawija. Guratan, garis sengkedan tanah seperti lukisan asesoris. Mempercantik keanggunannya.

Biru langit dan ulasan gumpalan awan putih di atas sana. Sepertinya bisa kita raih, seperti iita meraih gumpalan kapas putih. Tidak puas-puasnya, dan tidak akan habis-habisnya. Melakukan aksi narsis di puncak bukit di pertengahan Talagabodas-Karaha ini. “Subhanallah, ternyata ada ya pemandangan sedahsyat ini!!!” Ujar kang Yudhi dan kang Richy yang baru pertama menginjakan kaki di sini.

Setelah cukup puas dengan pemandangan yan tiada duanya di dunia. (Meureun…da sepertinya kita mah. Jarang gowes keluar dari Garut gkgkgk…).  Mencumbu turunan, kembali dilanjut. Sepeda kesayangan betul-betul dimanjakan di trek ini. Sesekali kita mendapat hiburan, saat ada yang terpentok pohon pisang. Tertawa geli, saat melihat yang tertatih-tatih, terpaksa menuntun sepeda. Karena pematang yang seupil, menempel pada tebing, dengan jurang dangkal di sebelah kiri. Bukan, sekali dua kali, yang menjadi korban di sini.

Trek, turun, turun, turun dan terus turunan. Melewati hutan bambu, kolam, kebun palawija, serta bibir jurang dengan sungai deras di bawahnya. Sesekali, berteriak mengingatkan bila ada jalan yang membahayakan. Sehabis turunan yang jalannya teramat tipis. Turunan terus mencumbu si spezy dan kawan-kawan.

Tiba di sebuah puncak bukit kecil. Kembali, kita terhenyak dengan pemandangan yang tidak kalah eksotik dengan yang di atas tadi. Sebuah pohon meranggas di puncak bukit. Menambah kecantikan lukisan alami di tengah pegunungan. Kami namakan Pohon Kejujuran 2, sebagai pengganti Pohon Kejujuran 1 di Cisaruni yang rantingnya telah lenyap.

Kembali berfoto ria, dengan jempol dan senyum lebar tanda orgasme bersepeda yang terpuaskan selama perjalanan. MANTAP!

Pascabukit yang ciamik, kita masih disuguhi turunan tajam. Yang ragu-ragu atau kurang mahir kontrol handlebar sebaiknya turun saja. Walaupun sebenarnya, sangat disayangkan. Karena tidak bisa menikmati mucratnya adrenalin di trek super turunan di tengah hutan bambu. Dahsyat..thank you Allah. Yang telah memberikan trek baru yang begitu indah dan gurih di Karaha-Talagabodas ini.

Posted by: kgcgarut-mountainbike | November 19, 2012

Godaan Trek Cisaruni ( @back2boseh PR unedited )

Cisaruni adalah paling menantang dan paling lengkap kontur dan sifat treknya untuk bersepeda gunung.  Tanjakan, turunan, makadam, single trek tanah yang datar memanjang di sepanjang trek Cisaruni. Perbandingannya adalah 30% tanjakan, 30% turunan dan 40% datar (single trek). Jarak yang ditempuh lebih kurang 23 km dalam waktu 6-7 jam. Letaknya di antara Gunung Cikuray dan Papandayan. Ketinggian tempat antara 1230-1640 m dpl. Suhu rata-rata antara 18 – 24 derajajat Celcius.

  

Trek sepeda Cisaruni, pertama kali dieksplorasi oleh Gasheba, para petualang sepeda asal Bayongbong yang diketuai oleh Kang Engkus Gasheba. “Waktos tahun 2007, Gasheba salami tilu sasih. Nembe tiasa nembuskeun trek Cisaruni. Lebet ti Sumbadra totos dugi ka Cisurupan” kata Kang Engkus, yang akrab dipanggil Mang Engkus oleh anak buahnya.  Tiga bulan, adalah bukan waktu waktu yang pendek.  Jalur yang berjarak lebih kurang 40 km, menyusuri tebing dan lereng di gunung Papandayan sebelah selatan denga kondisi sepeda apa adanya.

Uraian singkat trek Cisaruni tersebut sepertinya, membuat penasaran KGB Bandung mengajak anggotanya mencicipi sajian khas trek Cisaruni. Rencana awal, gowes silaturahmi, dirubah menjadi seperti “gobar” alias gowes bareng ke Cisaruni.  Diantaranya; Mtb Aquila Cianjur (9 orang), PGE Cyclist (9 orang), KGB Bandung, Jakarta, Bekasi (25 orang), serta tuan rumah Gasheba Bayongbong (3 orang) dan KGC Garut MTB (8 orang) sehingga total peserta menjadi 46 orang!

Mendung Kelabu di Awal Kayuhan

Sabtu, 3 Nopember 2012 rombongan menuju Cikandang.  Saat itu sang surya baru menapaki sepenggalan lengan. Cahayanya cukup menghangatkan semangat pesepeda, yang turun dari truk di area Curug Orok.  Disambut syahdu alam yang membiru serta kicauan burung di pagi hari. Ada isyarat tersirat. Terasa tak terlihat, ada bayang kelam dalam keheningan. Angin dingin, bertiup menyusup pada kalbu. Entahlah apa yang akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu.

 Manusia berencana Tuhan menentukan.  Saat rombongan pertama sudah tiba di pintu gerbang perkebunan Papandayan, tiba-tiba radio komunikasi memanggil untuk berhenti sementara.  Ada kecelakaan! Seorang teman asal MTB Aquilla Cianjur terjatuh dan terjerembab mencium aspal entah kenapa.  Hidungnya robek, dengan memar di sekujur tubuh.  Seperti ditohok dari belakang, semua membisu. Terdiam.  Baru ratusan meter, belum lima menit.  Ternyata mendung telah menutupi awal dari perjalanan.  Untunglah evakuasi dan pertolongan pertama, segera dilakukan dengan bantuan dari Pertamina Geothermal Energy (PGE) Cyclist yang menyediakan mobil evakuasi. Teman tersebut dievakuasi, langsung dibawa ke RS Cikajang.

 

Don’t be Afraid to Shift!

Trek Cisaruni di awali dengan tanjakan makadam khas perkebunan teh sejauh lebih kurang 1500 meter. Tanjakan ini cukup curam, dan cukup sulit ditaklukan.  Makadam tajam, cukup menambah beban, menahan laju sepeda. Ketabahan, kesabaran, kemampuaan shifting serta ketahanan fisik sangat dituntut di tanjakan ini.  Jangan malu untuk memindahkan gir depan ke gir yang paling kecil, serta menggunakan gir paling besar di roda belakang.  Selanjutnya adalah kemampuan pengendalian mental untuk menaklukan diri sendiri.

Pesona kecantikan pemandangan di areal perkebunan Papandayan, tak menghibur.  Pasangan kang Hary Aviadi- teh idew Dewi Najmi Aviadi, goweser yang saling setiap saat. Sepertinya tak sanggup untuk saling menyapa, karena beratnya tanjakan.  Masing-masing asyik masyuk sendiri. Tadabur alam, bertafakur, berdzikir menghitung detak detik, nadi yang semakin memburu. Kesegaran dan luasnya udara gunung Papandayan, sepertinya tak bermakna.  Nafas tetap tersengal-sengal, berlomba dengan waktu menghirup oksigen, yang sepertinya berkurang.

Di tanjakan ini, terbukti istilah yang penting bukan sepedanya, tapi sepedaannya. Kecanggihan groupset XTR 10 speed dan ringannya frame carbon atau alloy tak mampu menundukan tanjakan ini. Sebaliknya kekuatan X-Tu-uR (lutut) lebih mendominasi.  Para Gasheba-ers seperti Kang Engkus, Kang Dani, dan Kang Tendi; Kang Asep Tebe yang sepedanya masih hi-ten steel, dengan groupset tak bermerek 7 speed.  Ternyata di tanjakan ini, anteng-anteng wae bisa gowes sambil senyam-senyum dan bersiul ria.

Akhir tanjakan pertama adalah areal tower BTS. Sebuah dataran, dengan pemandangan yang elok. Bila beruntung, putihnya busa ombak laut di Pantai Rancabuaya dapat terlihat cukup jelas. Sambil rehat dan menunggu regrouping.  Seorang teman yang sepertinya ahli hisab. Langsung berteriak, “Stop smoking!” Dikira dia berkampanye untuk berhenti merokok. Ternyata, dia berhenti, lalu merokok!

No Pain No Gain

Tak ada kebahagiaan tanpa perjuangan. Setelah dihajar tanjakan makadam jahanam. Para goweser mulai menikmati turunan. Walaupun masih makadam, tapi cukup menghibur.  Bonus turunan dilanjutkan dengan bonus single trek khas perkebunan teh.  Tubuh tidak terasa lelah atau berkeringat karena udara yang sangat sejuk. Mungkin karena indahnya  pemandangan khas Periangan jadi penghibur diantara kayuhan.

 

Tuhan tersenyum pada saat menciptakan bumi Parahyangan.  Sejauh mata memandang, langit biru cerah berlukiskan arakan awan putih. Geulis camperenik. Bukit-bukit dialasi tebalnya hijau karpet pepohonan teh. Pun jauh di bawah sana, jalan yang berkelak kelok diselingi putihnya aliran sungai kecil.  Tak salah kami menyebut trek ini sebagai trek Desi Ratnasari karena keindahan dan kecantikan pemandangannya.

Dari titik ini, kita langsung dimanjakan oleh turunan single trek yang dialasi rumput kerbau (Paspalum conjugatum) dan Digitaria longiflora. Tebalnya rumput akibatkan mengayuh sepeda seperti di atas karpet yang empuk. Terasa berat. Berkelak-kelok di tepi tebing dangkal diantara pepohonan teh.

Trek kemudian berubah kembali menjadi makadam jinak.  Renyah untuk digowes, diselingi tanah yang memotong di tengah perkebunan yang berakhir di kompleks Perkebunan Cisaruni.  Rehat sejenak di mesjid perkebunan. Melepaskan penat, makan siang serta sholat dhuhur untuk yang beragama Islam.  Sepertinya, tidak lucu; kalau kita celaka di akherat hanya karena bersepeda kan?

Disapa Kabut, Dicumbu Rayu Bukit Neng Desi

Setelah rehat, gowes dilanjut yang langsung melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Renyahnya Turunan) terhadap “isteri kedua” alias sepeda kita.  Dihajar turunan makadam lepas serta tanjakan makadam yang diawali tikungan centil. Meliuk, menekuk tajam lebih kurang 45 derajat, kurang-kurangnya ahli dalam shifting dan controlling.  Dipastikan akan turun dari sepeda, langsung DH (Didorong Heula) sampai single trek berikutnya.

Cumbu rayu dari turunan single trek tanah di Cisaruni mampu membangkitkan selera memacu sepeda. Di akhir turunan sebuah lembah. Kita diharuskan untuk khatam di tanjakan sempit, yang walaupun pendek tapi cukup curam.  Selepas tanjakan, kembali suguhan pemandangan alam yang indah menggoda.  “Ciyuuus gitu, miapah!”, teriak, Mas Soega dari Jakarta. Kang Yogi, Kang Opi dan Kang Andre yang berperan ganda menjadi pemotret keliling  tak henti saling berlomba mengabadikan peserta gowes dalam indahnya bukit Neng Desi. Semua diam, dan menarik nafas dalam seperti tersihir saat sejuta kabut turun perlahan.  “Sangat Eksotis!” ujar kang Royan dari MTB Aquilla Cianjur.

Turunan single trek tanah di tengah perkebunan palawija dan sayuran kembali menyambut. Diselingi tanjakan pendek, yang lagi-lagi hanya sedikit goweser yang bisa menundukan diri sendiri di sini.  Mayoritas adalah jadi kelompok “matador” alias manggih tanjakan dorong.  Posisi  kaki ala banteng ketaton, hidung mendengus, mulut mangap, mata melotot, kedua tangan kukuh memegang handlebar.  Siap menyeruduk!

Buah Simalakama Menu Penutup

Sebagai menu penutup di trek Cisaruni, kita disajikan desert berupa single trek datar yang khas dodol Garut.  Single trek tanah yang teduh.  Posisinya di sebelah kiri kita adalah aliran irigasi, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang dengan kedalaman 1-3 meter.  Melewati beberapa kampung dan beberapa rumah panggung kecil yang terpencil.

Menamatkan trek Cisaruni sebagai penutup ini, diperlukan ketahanan kayuhan (cadence) pedal yang tetap. Posisi 2-3, adalah yang paling baik. Depan gir 2, belakang gir 3. Terlalu cepat tidak, terlalu pelan juga jangan. Mata dan pikiran harus awas lurus ke arah jalan dengan konsentrasi penuh. Sebab bila tidak, akan seperti makan buah si malakama, jatuh ke kiri berarti basah kuyup, jatuh ke sebelah kanan berarti terperosok ke dalam jurang.

Pada waktu melewati trek penutup ini, bisa dipastikan kita akan merasakan; ternyata jauh lebih belajar khusu gowes daripada waktu sholat.  Bahkan,jangankan berpaling atau menoleh pada saat nama kita dipanggil.  Untuk menjawab panggilan pun kita ogah.  Karena terlalu riskan kecebur diantara dua pilihan.  Sesekali, jalur penutup ini masuk ke hutan bambu yang lebat plus tanjakan yang tidak disangka-sangka.  Hampir 3 jam penuh, dipastikan gowes konvoy. Babaduyan, menyusuri trek penutup ini.

Deny Suwarja

KGC Garut Mountain Bike

Posted by: kgcgarut-mountainbike | October 16, 2012

Sulit Salut Sang Kopral Koprol

Sendiri tegak berdiri, membisu

Hitam kelam batang, kering ranting yang kerontang

tidak menjadikan sang cemara patah semangat

Di balik keringkihan, tertanam api yang tak pernah padam

…..

Saya lebih suka menyebut pohon cemara yang sudah mengering itu “Pohon Kejujuran”.  Pohon cemara, satu-satunya yang tersisa.  Tak lagi berdaun, bahkan ranting tersisa pun tinggal beberapa saja. Tampak sangat kontras, dengan hijau perkebunan teh yang tersebar di punggung gunung Papandayan sebelah selatan.

Pohon itu ibaratnya, personifikasi orang-orang yang jujur di negeri ini.  Orang jujur, disingkirkan. Disikut, diinjak, bahkan diasingkan.  Tubuhnya kurus kering, tak berteman. Apatah handai taulan.  Semuanya menjauh, karena kejujuran dianggap hal yang tabu.  Benteng kekokohan dan kekukuhan semangat mempertahankan idealisme prinsip kebenaran. Musnah tergerus tipisnya keimanan dan kehausan akan kehidupan fana.

Tak bosan, rasa ini menatap jati diri tubuh pohon cemara yang telah mengering. Setiap kali mengayuh pedal ke arah perkebunan Cisaruni.  Dipastikan saya akan berkata: “Pohon itu personifikasi orang yang jujur om!”.  Bagi orang lain, mungkin pohon itu biasa-biasa saja. Tak berarti apa-apa.  Tapi dibalik, kehampaan dan kekelaman bentuk dan warna tubuh sang cemara.  Tersimpan semangat untuk tetap mempertahankan jati diri.  Sebagai mahluk Tuhan, yang senantiasa untuk terus bertahan dan berjuang hidup.  Meskipun bagi tumbuhan lain, mungkin dia tidak dipandang sebelah mata.

13 September 2012, mengantar group GOWEL- GULAT-16 (menurut kang Mumuh, GOWEL singkatan dari Goweser Bawel. Tapi beliau tidak menyebut kepanjangan dari GULAT.  Yang jelas pasti bukan, karena mereka atlit gulat).  Bersama mereka kembali ke Perkebunan Cisaruni, afdelling Papandayan. Tiba di Desa Sumbadra sekitar jam 09.30. Nama yang unik,karena mengingatkan kita pada istri Arjuna, Dewi Sumbadra.  Di sekeliling Papandayan sebelah selatan.  Semua bukit, hutan dan desanya dinamai dengan nama-nama dari dunia pewayangan.  Pasir Tumaritis, Gunung Semar, Gunung Arjuna serta nama-nama lain dari dunia Pandawa ada di sana.  Kalau mau, itu bisa kita telusuri sekaligus sambil gowes.  Yaitu mulai dari Pintu Angin, Kawah Papandayan, tembus ke Cileuleuy. Putar balik ke Stam Platt, masih afdeling PTP VIII.  Sejauh 130 km! Mau?

Agar otot kaki tidak mengalami keram.  Berdasarkan pengalaman, maka unloading dilakukan lebih kurang 5 km sebelum pintu Sumbadra.  Sepertinya itu kurang membantu juga, karena jalannya berupa turunan dan hotmix mulus.  Jadi walaupun tidak digowes, sepeda akan melaju.  Tapi, minimal telah berusaha :p

Menapaki tanjakan awal, saya sudah wanti-wanti untuk menghemat tenaga.  “Jangan dipaksakan,  treknya masih sangat jauh.  Dorong ajalah!”, ujar saya kepada grup Gowel yang berjumlah 7 orang.  Jujur, sebagai RC.  Saya agak, degdegan.  Karena Kang Mumuh, sudah SMS bahwa salah seorang dari mereka ada yang menderita kencing manis.  Hampir 8 tahun saya juga berjibaku, mengurus almarhum Sang Bunda, yang semasa hidup juga menderita hal yang sama.  Makanya, cukup faham dengan berbagai kelainan, resiko dan gejala yang dialami bila kelebihan atau kekuranga gula darah yang dialami penderitanya.

Pada awalnya, sama sekali tidak disangka. Penderita DM itu adalah, Kang Gifnie.  Yang selama gowes, selalu berada di belakang saya. Otomatis dia selalu berada di depan teman-temannya.  Tidak ditanjakan, tidak diturunan bahkan 85% jalan datar harus rolling beliau terlihat sangat fit.  Saya baru “ngeh” setelah memberanikan diri bertanya kepada Kang Nu’man Djakartaria, eh Djakaria, yang selalu berada di belakang Kang Gifnie. Hal itu saya lakukan, karena teramat khawatir, setelah perjalanan yang cukup lama dengan jarak yang cukup panjang serta kontur medan yang turun naik.

“Kang, ari nu gaduh DM teh saha nya?”, ujar saya setengah ragu.  Karena takut salah ucap.  Tapi lebih baik salah ucap, daripada salah langkah.

“Muhun, Abdi…!”, jawabnya.  Hah??? Namun tanda tanya itu hanya tersimpan di dalam hati.  Yang timbul, malah rasa kagum yang teramat besar.  “Gila, dalam kondisi punya DM.  Tapi kondisi tubuh bisa full dan fit menjelajah trek Cisaruni.  Ternyata orang itu adalah, gegedug alias ketua suku dari Group Gowes-Gulat16.  Rasa hormat dan salut, yang tidak tergambarkan mengalir begitu saja dalam diri.  Saya ingat betul, almarhum Bunda saya akan pingsan. Bahkan mengalami comma, saat gula darahnya terlalu rendah atauh saat gula darahnya terlalu tinggi.  Tapi Kang Gifnie, bisa mengatur dan mengukur kondisi dengan tepat.  Sehingga kondisinya prima.

Beberapa kali, ritme gowesan yang biasanya cepat. Saya atur sedemikian rupa sehingga, mungkin tidak disadari oleh rekan-rekan waktu itu.  Bahwa, sesungguhnya saya mencoba mengatur jarak dan kondisi agar tidak terlalu terkuras.  Pada waktu rolling, cadence diperlambat.  Atau bila terlalu cepat, dan rombongan tertinggal saya berhenti.  Memberi komando, “regrouping” atau bila tidak sambil gowes berteriak ke belakang “rapat!”.

Cisaruni adalah medan yang unik.  Konturnya turun naik dengan permukaan makadam khas perkebunan, rumput tebal, single trek tanah.  Tanjakan dan turunan yang curam dengan segala rintangannya.  Dipastikan akan cukup membuat fisik terkuras

Terbukti.  Kang Danke alias Daboy, selama di dalam L300 yang me-loading sepeda.  Mengutarakan keraguan dan kekhawatirannya.  Sebelum berangkat, Kang Asep Sutiana dari Cilegon yang juga pernah menikmat buaian dari Desi Ratna Sari alias Cisaruni ini. Sempat bertanya, “Maneh, bener milu Dang?  Teu salah?”

Kang Danke, sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.  Mulanya, saya menyangka beliau yang punya penyakit DM.  Kepasrahan dan fostur tubuhnya yang ceking serta gowesannya, lemah gemulai.  Kemayu.  Mirip si Olga Syahputra…Oke, no problem kalau begitu.  Dipastikan dia akan di asuh oleh Kang Asep Tebe, si Tuur Kuda, sang sweeper bersertifikat dari KGC.  Keyakinan saya, bertambah saat ditanjakan awal.  Om Danke, sudah mendorong sepedanya.  Padahal yang lain masih mampu sampati setengah dari tanjakan.

Sebenarnya, melihat mental dan cara gowes group Gowel ini. Saya yakin, mereka dipastikan akan bisa menaklukkan tanjakan awal “Apanya Dong” Euis Darliah.  Demi menjaga kondisi agar tidak terkuras. Setengah melarang, selaku RC, tak segan mengingatkan,  “Jangan dipaksakan, dorong aja…perjalanan masih jauh!”, teriak saya berkali-kali.  Tapi, acungan jempol patut di berikan.  Beberapa dari mereka, berhasil mencumbu si Euis Darliah dengan digowes.  Bukan main!  Kalau, si Tuur Kuda alias Asep Tebe mah gak usah disebut hehehe…

Baca Ayat Kursi

Tiba di puncak tanjakan sekitar jam 10.30.  Hampir satu jam mencumbu tanjakan pertama.  Satud demi satu muncul dengan mulut mangap atau megap-megap kehabisan oksigen. Kang Cecep yang saya tanya, bahkan teramat sombong untuk menjawab.

Aneh, naha nya fisik jeung nafas bet beak?” Kang Gifnie, Kang Cecep, Kang Nu’man, Kang Mumuh yang juga datang belakangan saling melontarkan pertanyaan yang sama.  Mungkin karena tidak pemanasan, mungkin karena ketinggian (1300 mdpl), mungkin karena cuaca yang panas, serta berbagai analisa muncul.  Dalam hati, saya mulai menghawatirkan kondisi Kang Dadang (yang saya sangka DM), belum juga muncul.  Tapi selama ada baby sitter sekelas master Asep Tebe saya tidak khawatir.

Tidak lama, mereka berdua kemudian muncul dari balik tanjakan. Kang Dadang, dengan nafas ngos-ngosan, mulut terbuka. Mangap! Langsung ngedumel,  “Aneh euy…sapedah teh tadi asa beurat.  Ceuk Kang Asep, kudu maca Ayat Kursi bisi aya nu nangkod dina sapeda. Jadi beurat! Urang maca ayat kursi. Angger we sapedah teh beurat!!!“.  Yang punya saran, malah ketawa!

“Heueuh sarua euy…aneh sapedah urang oge asa beurat!”, kang Cecep menimpali.  Ternyata setelah dicek, rante sepedanya kering. Ya, iyalah… :p  “Engke we, di warunglah. Minta minyak jalantah!“, ujar saya.  Terserah mau dipake minyak rambut boleh, mau dipake minum juga boleh :)

Pasca tanjakan pertama, perjalanan dilanjut menuju tower “aneh”.  Disebut aneh, karena kemanapun kita gowes.  Sepertinya tower itu mengikuti dengan jarak yang tidak juga menjauh. Tanjakan ringan cukup membuat fisik kembali terkuras.  Tiba di tower Kang Gifni, tetap finish kedua. “Silakan nanti, foto2 dulu di sini Kang.  Viewnya cukup bagus!” Ujar saya. Pemandangan di Cisaruni memang keren, walaupun sedikit berkabut.  Kalau, dalam cuaca cerah, ombak pantai Ranca Buaya bisa terlihat.  Bahkan puncak Papandayan seperti bisa diraih dengan tangan.

Satu demi satu, rombongan tiba. “Kang, ini teh jalannya lurus terus?”, begitulah ucapan yang keluar dari mulut mereka.  Setiap goweser yang tiba di bawah tower. Dipastikan bertanya begitu.  Karena, tanjakan makadam, tanjakan lurus.  Sangat panjang, terbentang di depan!

“Sebenarnya bisa, tapi akan terlalu panjang waktunya.   Kita ambil pintas ke kanan.  Turunan!”, jawab saya.

Setelah beberapa kali foto keluarga dan melakukan aksi narsisme.  Perjalanan dilanjut.  Turunan, lumayan cukup menghibur.  Tapi langsung nanjak lagi, tanjakan ringanlah.  Namun, diakhir tanjakan.   Kembali, harus TTB. Karena single trek berupa tanjakan sampai di rumpun bambu.  Dari rumpun bambu, masih single trek tanjakan ringan di tengah perkebunan teh. “Anu lasut dina tanjakan ieu, Burut!

Tanjakan ringan yang sekitar 500 meter itu persis di belakang tower, dimana tadi rehat sambil foto-foto.  Kesimpulannya, tower itu selalu mengikuti :)

Akhir dari tanjakan adalah, good view.  Tampak “Pohon Kejujuran” semakin habis rantingnya.  Sepi, sendiri…diantara hijaunya perkebunan teh.  Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh.  Nun jauh di atas sana, langit biru dan arakan awan menemani sang jiwa untuk berdzikir ke hadiratnya.  Kelokan jalan raya, yang tadi terlewati mirip liukan ular.  Panjang menghitam, diantara perumahan penduduk yang masih jarang.

Koprol sang Kopral

Perjalanan dari Pohon Kejujuran menuju pit stop pertama lebih kurang akan memakan waktu 30 menit. Pit Stop tersebut adalah kampung Cisaruni, tepatnya di sebuh mesjid.  Single trek di tengah perkebunan.  Ditepi barisan bukit kecil. Turunan dan tanjakan ringan, dengan kondisi rumput tebal silih berganti.  Cukup membuat semangat para GOWEL-ers kembali terpompa. Pak Hifni yang membawa kamera, disarankan untuk mengambil gambar saat rombongan melewati single trek ini.  Karena sangat bagus untuk diabadikan. Di Tanjakan Tabah yang sebenarnya pendek.  Tapi karena ditutupi rumput yang cukup tebal.  Gowesan menjadi sangat berat. Alhamdulillah, semua GOWEL-ers menamatkan tanpa masalah.  Kembali Kang Gifnie masih finish di belakang kedua.  (Suwer, sampai di sini pun gak menyangka seujung rambut pun. Kalau yang menderita DM itu Kang Hifni! ).

Tapi bagi, kang Dadang tanjakan seperti ini pun tetap dijalani dengan penuh istiqomah melakukan Matador! alias manggih tanjakan dorong binti DH (Disurung Heula).  Istilahnya, tawadhu, berjalan sambil menunduk tanda tak sombong.  Sekaligus, tadabur alam. mensyukur kehidupan sambil berdzikir…ya katipu, ya katipu, ya katipu…ya leuleus euy!

Tiba di mesjid pukul 12.05 sedikit meleset dari perkiraan. Tapi tidak apa, cukuplah.  Untuk rehat. Makan siang dan solat dhuhur.  Di lantai mesjid. Seperti biasa, tampak sang “merebot” yang sudah udzur dengan baju lusuhnya sedang duduk.  Melihat ke arah saya.  Wajahnya yang sudah keriput, tidak jauh lusuhnya dengan kondisi bajunya.  “Assalamu’laikum…bade ngiring leleson sareng netepan Pak!”, ujar saya memberi salam.
“Muhun…mung caina garing, kedah ka lebak!” ujarnya.  Saya sudah mafhum, karena sudah hampir 6 kali sholat di mesjid ini.  Anehnya, di rumah yang dijadikan tempat berwudhu itu.  Selang air segede pohon pisang, mengalirkan air dengan derasnya.  Bahkan air jernih dari mata air itu, dibiarkan terbuang sia-sia!

Tidak lama, satu demi satu rombongan muncul.  Yang aneh, tampak seorang yang berbadan tegap dengan potongan rambut ala tentara.  Jersey putih, helm dan bagian bahunya penuh dengan tanah kering! “Tadi mah, sanes geubis. Tapi latihan koprol…!” Ujar si Kopral menceritakan alasannya melakukan koprol sehingga bajunya kotor. :P ditimpali dengan ledekan dan  ledakan tawa para Gowelers…

Medan Sulit, Salut ditaklukan…

Setelah minum kopi dan beristirahat serta foto bersama di depan pabrik teh Cisaruni.  Perjalanan dilanjut, diingatkan turunan tajam. Makadam, kemudian langsung belokan tanjakan curam makadam juga. Alhamdulillah, semuanya lulus di tanjakan ini.  Tapi, di puncak tanjakan kembali harus menunggu. Kang Danboy…alias Dadang Geboy, bersama soulmate sang pengasuh.  Setelah regrouping, langsung menghajar turunan tajam.  Single trek tanah, lebih kurang 500 meter. Belok kiri, tanjakan single trek tanah. Turunan tajam. Nanjak lagi, single trek tanah dengan debu yang tebal.  Sekuat apapun digowes, ngesot juga.

Turunan makadam, cukup panjang.  Dilahap tanpa hambatan. Kecuali, bagi Kang Cecep dan temannya yang masih menggunakan sepedah HT.  Dipastikan tangan kesemutan, karena getaran ban serta pantat yang serasa jadi daging cincang.  Tinggal diberi bumbu cabe dan kecap dipastikan jadi sarden pantat! (Kang Cecep, jangan kecil hati.  Selama langit masih biru. HT pasti akan kuat…kuat ka genjur awak!)

Diturunan makadam yang berakhir di kantor kecamatan, salah seorang nyeletuk:

Sapedah meni ledeg kieu euy!”

Enya, kudu langsung dimandian…diservis!” jawab goweler yang lain

“Pake T2M, kalau ingin bersih mah.  Gampang tinggal disemprotin.  Langsung bersih!” Ujar saya menimpali.

“Naon ari T2M teh kang?” ujar goweler lain.

Tai 2 Ember!” timpal saya, serius.  Semua tertawa…sambil nunjuk ke Kang Cecep (lagi).

Turunan dan tanjakan single trek di tengah perkebunan saling berganti.  Bahkan, tanjakan Aura Kasih 1, bisa ditaklukan oleh para gowelers dengan baik.  Seperti yang dijanjikan setelah rehat di Pit Stop 2 sebuah warung kecil.  Menu selanjutnya adalah, ketahanan mental, ketahanan putaran kaki dan keseimbangan badan. Salah satu dari ketiganya tidak lengkap.  Pasti terjatuh atau terpeleset.  Karena single trek ini, hanya sebesar pematang sawah. Di sebelah kiri irigasi, sebelah kanan jurang 2-3 meter!

Selama gowes di depan, saya selalu mengontrol kondisi Kang Gifnie. Waktu di jalur ini, sudah “ngeh” justru sang maestro yang DM.  Saat, beliau berhenti dan menyuruh Kang Numan Djakaria menggantikan posisinya ke depan.  Saya mulai khawatir.  Tapi, saat ditanyakan pada penggantinya.  Tidak masalah, Pak Giffnie cuma keder dengan kondisi medan.  Sepanjang trek ini, mata, pikiran dan gowesan kaki harus mantap.  Meleng sedikit, dipastikan terjatuh.

Pada saat berhenti, menunggu rombongan tiba. Sesekali saya menggoda, memanggil nama2 mereka.  Tapi, tak satupun yang berani menoleh.  Semuanya gowes sambil tafakur, khusu!  Coba kalau sholat, khusu seperti waktu  gowes seperti ini ya! Niscaya Inna sholata tanha, ‘anil fahsyai wal munkar, akan terbukti. Negeri ini akan gemah ripah loh jinawi…

Trek segera berakhir setelah melewati, hutan bambu. Sepeda kembali harus didorong. Tembus di sebuah jalan beton. Tanda-tandak fisik mulai melemah, tampak dari Kang Muhdi.  Yang entah kenapa, kudu terjatuh dua kali di tempat yang sama! Padahal jalan datar :P Sepertinya, dia ingin punya adik lagi hehehe…

“Masih jauh Kang?” itulah pertanyaan yang sama, yang selalu keluar di saat tiba di turunan berupa beton ini.  “Sebentar lagi, paling setengah jam lagi tiba!” kata saya.  “Alah, mun si kang Deny nu ngomong moal percaya.  Berarti tilu jaman deuilah…” celetuk mereka :p

Dibanting Aura Kasih

Tanjakan terakhir single trek adalah, berupa tanjakan pendek tetapi sangat curam dan berdebu tebal sehingga sulit untuk ditaklukkan.  Saking penasaran, setelah melihat Kang Gifnie berhasil dalam sekali kayuhan tiba di atas.  Para gowelers bergantian, dua tiga kali mencumbu tanjakan Aura Kasih itu.  Jauh dari berhasil, bahkan dua orang dibanting KO oleh Aura Kasih! Saya mah, cari aman saja…saat ngesot.  Ya dorong ajalah. Rasional…wkwkwk…!

Alhamdulillah, tidak jauh dari perkiraan. Finish di Alun-alun Cisurupan jam 16.30 tepat!  Saya dan Asep Tebe langsung pamit, untuk gowes ke Garut.  “Hah? digowes lagi?” tanya Kang Dadang.

“Iyalah, sebentar koq cuma 19 km turunan. Paling setengah jam sudah tiba di Garut!”  Setelah pamitan dan bersalaman dan bertukar nomor hape.  Langsung meluncur.  Tiba di rumah tepat jam 17.00 berarti kurang dari setengah jam! Maklum ngebut, karena langit teramat gelap. Tanda hujan lebat segera tiba!  Alhamdulillah sampai di rumah tidak hujan :)

(salam salut untuk Kang Muhammad Gifnie, yang walaupun menderita Diabetes Melitus, tapi mempunya kondisi fisik yang prima. Mengingatkan saya pada cerita ini http://travel.kompas.com/read/2012/09/25/10192030/Ayo.Bersepeda.ke.Ujung.Kulon )

Posted by: kgcgarut-mountainbike | September 25, 2012

Saat Cemen terkena Jebakan Betmen

Saat telunjuk mengarah ke atas, ke arah lereng Papandayan sebelah selatan. “Itu lokasi gowes kita di  Cisaruni “, ujar saya dari ataskepala truk. Sesaat para Cemen(ers) terdiam, mereka bisik-bisik.  Lalu, tak lama kemudian. Terdengar nyanyian Maju tak Gentar! yang dinyanyikan dengan penuh semangat dan berapi-api.  Saya dengan Asep Tebe hanya tersenyum, geli. Gak ngerti apa maksud mereka menyanyikan lagu perjuangan itu. “Mungkin mereka menenangkan hati, melihat medan Cisaruni …” kata Asep Tebe setengah berteriak, karena kerasnya suara mesin truk dan deru angin.

Tak lama kemudian, nyanyian terhenti. Salah seorang dari Cemen(ers) berteriak:” Kang Deny, truknya bisa langsung naik ke atas gak?!’

“Gak bisa!” ujar saya sambil berteriak juga, sambil memberikan isyarat memakai tangan. Tanda tak bisa. Para Cemen(ers) tertawa getir.  Lalu, mereka kembali bernyanyi Maju tak Gentar sambil berteriak!

Tiba di point start, jam 08.30 persis seperti yang direncanakan.  Setelah ngopi di warung kecil dan checking sepeda serta beberapa orang ada yang buang air kecil atau pemanasan, peregangan. Trek Cisaruni pun segera dicumbu dengan perasaan mereka yang mungkin saya fahami.  Betapa tidak, berulang-ulang mereka mengatakan,”Kita mah, goweser gak suka tanjakan!”

“Kona ya?”, Ujar saya. Maksudnya Komunitas Ogah Nanjak, suatu istilah yang dikenal dalam gowes sepeda.

“Iya…Bener Kang!” jawabnya.  Saya hanya tersenyum. Mafhum.

Sebagai RC saya harus mempertimbangkan kondisi fisik dan mental peserta.  Tidak mudah memang. Bener kata, Om Mahendra pentolan Puncak Explorer yang juga aktif di Cemen Bike.  ” Jadi road captain itu lebih cape, belum fisik yang harus prima. Pikiran juga gak bisa tenang…karena memikirkan peserta di belakang.  Belum mereka yang ngomel-ngomel akibat trek yang tidak sesuai dengan ekspetasi!”

Selama gowes uphill, tersenyum sendiri di tengah nafas yang satu-satu karena jalur makadam yang menanjak.  Gila si Om Dony , ini mah mau inisiasi para Cemen(ers) kayaknya.

Waktu survey bareng Om Mahendra, Asep Tebe dan Om Doni kebetulan sempat mampir di saung. Sempat bingung juga.  Katanya mau survey trek Cisaruni, koq pulang dari Papandayan!  Sesudah itu, Om Mahen ngaplod foto-foto di kawah Papandayan, dan Trek Papandayan yang memang 99% turunan.  Yang pastinya, orang yang melihat akan terbawa aksinya membayangkan meluncur di Papandayan.

Cisaruni adalah trek yang panjang dan semi AM. Bukan trek xc atau downhil seperti di Papandayan.

“Om, bener nih ke Cisaruni? Soalnya treknya panjang!” tanya saya, meyakinkan saat bertemu di base camp.

“Tenang aja, biar mereka tahu trek AM itu seperti apa. Kasihan!” Kata Om Mahen, saat saya menawarkan trek Darajat-Cibeureum-Garut.  Saya tertawa. “Siaplah, kalau begitu hahaha….!”

Tiba di puncak bukit pertama, peserta mulai tercecer.  Karena medan yang cukup menanjak. Bahkan sesekali harus “Bodor” alias boleh dorong.  Rehat sesaat di bawah tower.  Seorang Cemen(er) yang katanya pengantin baru.  Terpaksa kudu, melakukan ritual korek tenggorokan.  Karena perut dan kepala yang pusing.  Maklum pengantin baru.  Biasanya munt*h di malam hari, sekarang kudu munt*h siang hari.

Foto Keluarga sebelum Inisiasi

Sebenarnya 80% tanjakan Matador (Manggih Tanjakan Dorong) itu masih gowesable.  Tapi, mungkin karena terbiasa menikmat turunan dan jarang menikmat tanjakan.  Maka jadi terasa berat, bahkan sangat berat. Anehnya, kalau padahal malam hari dipastikan, para Cemen(ers) ini pasti doyan menikmati tanjakan daripada turunan xixixi…

Sambil regrouping, masih tampak keceriaan. Nafas masih satu-satu, tapi narsis sana sini tetap mode on.  Menikmati panorama perbukitan yang indah.  Ada yang peluk sepeda, ada yang tolak pinggang, ada yang berdua, bertiga dan foto keluarga. Pokoknya aneka perilaku alay bin lebay masih okeh! Bahkan ada foto ala cubi-cubi…telunjuk ke pipi sambil senyum manis ala dorce! Kata peribahasa Sunda mah, imut kanjut! :p

Pasca tanjakan kedua, di tengah perkebunan teh papandayan.  Menurut informasi Asep Tebe si sweeper bersertifikat, malah ada yang gelar tikar dan tiduran.  Kelelahan dan setengah megap-megap, seperti ikan kurang air.  Siapa ya? Hayo ngaku!

Sementara peserta yang di depan.  Asyik berfoto ria, di depan Pohon Kejujuran. Karena lama menunggu gak nyampe juga.  Akhirnya, pindah ke sebuah pohon satu-satunya di sekitar situ.   Jadinya seperti rebutan keteduhan pohon itu.  Sambil bercanda ria, dan merupakan ajang untuk berdialog sesama ahli” jamiatul hisab” alias perokok :P

Cukup lama juga, menunggu rombongan yang tercecer di belakang.  Setelah lebih kurang 20 menit.  Rombongan “De Bodor” pun muncul dari balik kerimbunan teh.  Tampak, kelima orang itu mulutnya mangap! Megap-megap cari oksigen, yang katanya hilang entah di mana.

Penuh Bodor dan Matador

Setelah rehat sejenak, mulai menikmati single trek turunan.  Tidak bisa dibilang mudah juga.  Karena walaupun turunan, tapi konturnya berupa rumput.  Jadi terasa berat juga.  Lumayanlah turunan itu cukup menghibur.  Tapi…langsung dihajar lagi dengan tanjakan ringan.  Bodor lagi deh…

Matador Bodor

Sebelum tiba di kompleks Pabrik Teh Cisaruni, semua peserta seperti mendapat energi baru.  Semua ngebut, karena makadam turunan dan sesekali menerobos perkebunan teh via single trek tanah. Tiba di mesjid pos pertama.  Salah seorang cemen(ers) seperti kesetanan, langsung memanggil anak-anak yang lagi main bola di sekitar masjid. “Heh, sini, sini…! Tolong beliin teh botol, pake es batu ya! Ntar, elo gw kasih duit.  Buruan…cepetan!”

Harapan tinggal harapan. Ternyata yang datang, cuma air aqua botol. Tapi daripada kehausan. Akhirnya, langsung ditenggak juga penuh nafsu.  Seperti, seorang pelaut yang baru pulang dari pelayaran dan berjumpa dengan istrinya! Setelah itu, makan siang ala Padang.  Hampir, tanpa kata-kata. Semua asyik melahap nasi rames ala padang tersebut.

Selesai sholat dhuhur, rehat dan minum kopi.  Perjalanan mencumbu Desi Ratnasari dilanjut. Tak terlewatkan, foto keluarga di depan pabrik teh Cisaruni.  Konon, teh ini yang terbaiknya malah dikirim ke Jepang.  Sedangkan, yang dikonsumsi di Indonesia adalah yang kurang baik :p

Sudah diwanti-wanti, di depan ada turunan tajam. Makadam.  Cukup berbahaya, bagi yang kurang berpengalaman.  Kemudian menanjak lagi.  Masih makadam. Langsung belok kiri tajam, nanjak lagi.  Sangat.  Hanya orang-orang tertentu yang bisa lulus di tanjakan ini. Konturna makadam, batu tajam. Sehingga, kurang-kurangnya kontrol. Pasti gagal.  Pasca tanjakan.  Langsung turunan single trek.  Tapi, jangan riang dulu. Karena di depan, tanjakan lekukan tubuh dari Desi Ratnasari sudah menanti.  Cukup curam, menantang untuk dicumbu.  Tapi, bagi para Cemen(ers) sepertinya, tanjakan itu adalah hal yang tabu untuk digowes.  Mending jadi “matador” (manggih tanjakan dorong) alias nemu tanjakan dorong! :) itu pun dengan penuh perjuangan.

Nanjak melulu, kapan turunannya!

Trek mulai ramah, datar. Single trek di perkebunan teh.  Kemudian, langsung single trek tanah berupa turunan. Datar lagi, nanjak sedikit.  Kemudian turunan lagi. Nanjak lagi. Dan….turunan makadam…cukup panjang.  Seperti berlomba, semua memacu sepedanya dengan cepat.  Pasca turunana makadam yang cukup panjang.  Rombongan kudu berhenti dulu.  Karena pedal sepeda salah seorang cemen(ers) ada yang lepas. Setelah diperbaiki secukupnya, sementara pastinya. Perjalanan di lanjut. Kembali turunan makadam. Single trek tanah perkebunana palawija. Langsung berbelok tajam di sebuah jembatan bambu. Kembali, tanjakan curam dari beton.  Para matador pun kembali beraksi dengan cantiknya hehehe….

Masih single trek, tapi berada di antara hutan bambu. Cukup lama dan membosankan.  Datar tapi memerlukan kesabaran dan ketahanan serta keterampilan shifting dan controling handle bar.  Salah-salah, akan keteteran. Terperosok jurang atau kepala nyangkut di ranting bambu.  Mulai terdengar teriakan kembali: Haaaahhhh….Mana warung! Tolong, ada warung gaaaakkkk!!! Gw haus banget euy!!” Teriakan kelelahan dan kehausan. Serta kebosanan, korban terus-terusan rolling dengan cadence yang cukup cepat.

Untunglah, teriakan terdengar hampir di dekat pos 2.  Yaitu warung kecil, tempat dimana biasa minum kopi dan rehat sejenak.  Tapi sialnya. Warung kopi tersebut tutup.  Akhirnya, setelah rehat sejenak. Langsung menghajar turunan makadam lepas, ditengah perkampungan.  Selanjutnya belok kiri. Sepeda kudu dituntun karena tidak mungkin digowes.  Jalan yang sempir, turunan dan sangat curam.  Tiba di bendungan irigasi.  Ketangguhan, kesabaran dan ketahanan kembali dipertaruhkan sebagai anggota Cemen(ers) yang baik.  Betapa tidak.  Di trek ini, kudu melaju dengan hati-hati. Karena di sebelah kiri selokan irigasi, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang yang cukup dalam.  Kurang-kurangnya hati-hati, dipastikan akan terperosok.  Masih mending selokannya kering, karena musim kemarau.  Kalau pas musim hujan, kita dibuat keder juga. Karena air yang mengalir dan cukup dalam.

Cadence, endurance dan kesabaran diperlukan di sini

Lebih kurang 2 jam, terus melakukan rolling di single trek tersebut. Beberapa kampung terlewati.  Beberapa orang peserta mulai protes.  “Hoiii, warung mana! Mana warung!!”.  Saya ngikik, “Bentar lagi di depan!”.  Jam 15.15 tiba di sebuah jalan kecil. Menemui warung kecil.  Langsung menyerbu mizone, aqua, teh gelas dan lain-lain.  “Kang, kalau ada mah langsung ke jalan raya ajalah! Sudah terlalu cape!” begitu kira-kira yang segera ingin selesai. Om Donny, yang punya hajat pun. Tampak wajahnya sendu, pasca mencumbu Desi Ratnasari. “Om, kira-kira truk bisa disuruh datang ke sini gak?”, ujar Om Donny.  Tampak, ada sedikit (sedikit lho!) perasaan bersalah di raut wajahnya yang mirip artis Deri Derajat!

“Bisa sih, Om…tapi kasihan truknya. Bakalan lebih lama. Soalnya jalannya jelak, dan nanjak.  Terus, kalaupun sekarang dilangsungkan ke jalan aspal.  Kasihan, malahan akan menemui tanjakan yang panjang di daerah Tapal Kuda! Udah deket koq, paling sekitar 4 km lagi!” Ujar saya.

Jebakan Betmen!

Entah, dijanjikan cuma lebih kurang 4 km lagi.  Atau karena sudah minuman berenergi.  Semua cemen(ers) kembali bersemangat.  Sesekali, saya mengajak bernyanyi Maju Tak Gentar atau Garuda di Dadaku.  Tapi, sepertinya semua sudah ‘habis”.  Bahkan, tepat di hutan bambu. Menurut informasi yang dapat dipercaya dari si sweeper bersertifikat Asep Tebe. Pssst….ada yang terkapar, terlentang di hutan bambu hehehe…orang tersebut adalah…(gak usah disebutlah, nanti jadi aib nasional.  SBY bisa-bisa langsung menegur kami, seperti waktu menegur anak2 TK tempo hari di Taman Mini. Kan Gak lucu!)

Perjalanan diakhiri di sebuah jalan beton. Langsung turunan tajam.  Jiaah…semua peserta langsung bernafsu ingin segera meghajar turunan mulus tersebut.  “Sabar, tunggu. Regrouping dulu. Masih ada 6 orang di belakang kita!”  Satu demi satu bermunculan. Seorang diantaranya tampak terpincang-pincang. “Kraaam!” katanya.  Setelah disarankan istirahat sebentar. Salah seorang dari mereka, langsung teriak:”Turunkan seatpost! Turunan tajam!”.  Saya cuma tersenyum penuh arti.  Tidak melarang tidak menegaskan.

Pak Hendro, dari RCC malah menatap saya, yang persis ada di sampingnya.  “Kang perlu diturunkan gak seatpost-nya?” tanya Pak Hendro. “Gak usah Pak! Secukupnya aja. Turunannya, soalnya langsung tanjakan!”, kata saya setengah berbisik.

Dan….wush, wush, wush. Seperti lupa pada RC.  Mereka satu demi satu langsung memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi.  Saya menyusul di belakang.  Persis seperti yang diperkirakan.  Habis turunan. Tampak di atas, para matador sedang bodor dengan langkah tertatih-tatih seperti pengantin baru habis malam pertama :P

Sekali lagi, di sini terjadi hal yang mungkin tidak akan terlupakan oleh Om Ihsan.  Menurut informasi Asep Tebe.  Setelah menuruni turunan yang cukup tajam dan mulus tersebut. Om Ihsan, langsung membanting sepedanya. Ia berguling-guling. Menahaan ketawa, sambil teriak-teriak saking gelinya:” Bwuahahaha… Bwuahahaha….Bwuhahahah….karena turunan tajam! Disuruh nurunin seatpost tahunya Jebakan Betmen menghadang! Bwuahahaha….!!!”

Atas kejadian tersebut, si sweeper bersrtifikat sampai tak kuat menahan geli. Ikut tertawa, sampai keluar air mata serta kulit perut yang sakit. Karena menahan tawa, melihat perilaku Om Ihsan, yang berbadan aduhai, ketawa ngakak sambil berguling-guling!

Jam 16.15…perjalanan mencumbu Bukit Desi Ratnasari, akhirnya kelar. Persis di belakang alun-alun masjid Cisurupan.  Semua menarik lega. Saya membaca sholawat tanda bersyukur.  Karena tidak ada kejadian apapun yang mengkhawatirkan. Zero accident.  Salut, buat all Cemen(ers) yang bisa menyelesaikan trek Cisaruni sejauh lebih kurang 23 km dengan berbagai tantangannya. Sejauh ini baru dua komunitas yang bisa lulus di trek ini.  Yaitu Rodeo Bike dari Purwakarta dan Cemen dari Jakarta.  Yang lainnya rata-rata hanya menyelesaikan 3/4-nya saja :P

Posted by: kgcgarut-mountainbike | February 22, 2012

Saat Dada Sesak Tersedak Cinta

Sesaat, seluruh rambut yang menutupi tubuh berdiri.  Keringat dingin deras keluar.  Terus mencoba bertahan untuk tidak turun dari sepeda, dan menggowes.  Nafas dihembuskan kuat-kuat ke atas handlebar, dengan harapan dapat membantu laju sepeda di tanjakan.  Namun apa daya, bendera putih segera harus dikibarkan.  Menyerah. Menyerah untuk menang bukan menyerah kalah.  Bila tidak, bisa terkapar.  Insinyur yang buat tanjakan di Kampung Cinta ini sepertinya terlalu iseng.  Sudut tanjakan teramat curam, tanpa kemampuan teknik dan tenaga yang mumpuni. Mustahil bisa melewati tanjakan yang curam, menikung, dan terus menanjak panjang, menikung lagi dengan tanjakan makin curam.  Karakter tanjakan seperti itu, terus berulang beberapa kali.  Sampai akhirnya, TTB total :(

Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu.  Lelah, kesal, haus, lapar, panas, pegal, khawatir, jenuh, kecut, takut, lucu dan geli serta perasaan tak enak lainnya berkecamuk di dalam hati. Tak bisa lagi digambarkan rasanya!  Diakui atau tidak, seumur-umur mengayuh sepedah. Baru hari Minggu kemarin, merasakan siksaan dari tanjakan Cinta. Tanjakannya, poll!

Perasaan khawatir mulai muncul saat Pa Mastur, yang dikenal raja tanjakan. Sweeper bersertifikat, mengalami kejang kaki. Disusul dengan Om Apen Bathara yang juga harus mengalam keram, kedua kakinya sampai berulang kali.  GPS yang mati, serta waktu yang memasuki magrib.  Sementara kita masih di tengah hutan Talagabodas.  Perasaan makin kecut, saat tanjakan sepertinya tidak ada akhirnya.  Yang lebih bikin pusing, saat di turunan atau jalan datar.  Pedal masih terus harus di gowes.  Entah kenapa :(

Pertama kali berangkat dari Garut kota menuju Kecamatan Sukawening, bisa sprint. Dapat dicapai lebih kurang 40 menit. Memasuki Kecamatan Karang Tengah, jalan mulai menanjak lebih kurang 3 km.  Tanjakannya, diawali dengan tanjakan ringan, cukup curam, dan curam serta menikung. Tes mental mulai di sini.  Yang tidak kuat mental, dipastikan TTB :p.  Di puncak bukit, tampak Gunung Sadahurip yang dihebohkan akan dibor pada Maret nanti, berdiri dengan anggunnya. Dari arah Karang Tengah, Gunung ini dinamai Gunung Putri atau Gunung Aseupan, mungkin karena bentuknya yang seperti payudara atau pengukus nasi tradisional (aseupan).

Memasuki kota kecamatan Karang Tengah jalan sedikit mendatar, kemudian menurun tajam, berkelak-kelok dengan kontur masih aspal mulus.  Lima ratus meter kemudian, kembali menanjak curam panjang lebih kurang 2 km.  Namun tidak terlalu terasa lelah, karena di kiri kanan penuh dengan pesawahan yang hijau ranau.  Di kejauhan tampak bukit dan Gunung Talagabodas.  Namun, pengaturan nafas dan kayuhan sangat diperlukan. Hanya segelintir orang yang bisa terus gowes diantaranya Asep Tebe si Tuur Kuda, Pak Wawan Oyib, Dedi Ecek dan Om Tedi.

Sangat dianjurkan membawa persediaan yang air yang cukup untuk menjajal trek ini.  Tentunya plus dengan makan siang, serta makanan ringan.

Memasuki percabangan jalan beton dengan gapura sederhana menuju desa Cintamanik.  Tampak beberapa orang petani sedang mengolah sawah.  Tanpa henti, sang pria terus mengayunkan cangkulnya meratakan sawah.  Sementara di sawah yang lain, para perempuan asyik menanam padi.  Sambil regrouping, kami membicarakan gunung Sadahurip yang tampak berbeda dari arah Desa Cintamanik.  Sesekali mengambil gambar pemandangan yang redup.  Mendung.  Bahkan, mulai gerimis.  Tapi, Alhamdulillah.  Sampai sore hari bahkan malam hari, tak juga hujan tidak turun.  Gak bisa dibayangkan seandainya, panas terik atau matahari obral.  Dipastikan, semuanya akan terkapar. Kepanasan.

Di kejauhan tampak, Desa Cinta dengan mesjidnya yang unik.  Kecil nampak di atas bukit.  Jalan masih aspal tapi mulai tidak mulus.  Tapi kalau tanjakannya, jangan ditanya. Siksaan dan deraan mulai meminta korban.  Beberapa orang mulai melakukan aksi TTB.  Pasrah menyerah dihajar tanjakan Cinta.  Mencoba memaksakan diri terus mengayuh dengan gir terbesar 10 speed yang baru ganti.  Tak ada pengaruh yang berarti. Bahkan dengan interval sekalipun, tetap tanjakan itu terasa berat sekali.  Akhirnya TTB juga :p

Tanjakan itu berakhir di sebuah kampung, lupa namanya.  Namun, jalan datar hanya lebih kurang 50 meter.  Selanjutnya, nanjak lagi curam, bahkan sangat curam sekali lebih kurang 2 kilometer.  Motor yang melewati kami, semuanya menggunakan gigi satu. Sementara kita yang bersepeda, walaupun dengan “gigi-tekan” alias interval dengan pantat yang melenggak lenggok seperti pantatnya Inul Daranista. Tetap saja tidak bisa melewati tanjakan itu.  Beberapa anak kampung tersebut, memperhatikan kami dengan alis berkerut.  Wajah mereka melongo, dari bibir mereka sesekali terucap: “Sapedahna alus mang euy!”

Pascatanjakan “aneh” tersebut, semuanya mengambil nafas dan rehat sejenak di sebuah warung kecil.  Anehnya, walaupun cukup jauh dari pasar/kota.  Plus bila menggunakan ojeg dari Sukawening ke warung tersebut, ongkosnya Rp.20.000,-.  Harga minuman botol, minuman gelas, dan makanan ringan bisa dibilang standar. Normal.  Lalu darimana yang empunya warung mendapatkan keuntungan?  Entahlah, yang jelas di tempat ini.  Semuanya bisa sejenak tertawa.  Mentertawakan diri sendiri yang disiksa tanjakan Cinta itu.

Setelah dirasa cukup, 20 menit kemudian.  Gowes dilanjut. Langsung nanjak lagi.  Nanjak, nanjaaak, nanjaaaaaaaakkkkkkk nuanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk…..!!!    Lebih aneh lagi, harus TTB nuanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk…di tengah hutan pinus Kaki Gunung Karaha! Lebih kurang satu jam setengah. Beberapa kali bertemu dengan para pencari kayu bakar. Iseng nanya: masih jauh ke puncak? Jawaban mereka selalu sama: “Tebih keneh atuh asep….!”

Beuh, nyesel nanya euy! Mang Apen Bathara kembali keram di sini dua kali kedua kakinya.  Tidak terlalu bisa memantau.  Karena sudah duluan di depan.

Tiba di tempat datar. Sepertinya puncak. Jalan makadam proyek Karaha sepertinya.  Kita rehat di sini sejenak.  Sambil menunggu rombongan belakang yang tertinggal cukup jauh.  Karena lama, akhirnya makan siang duluan.  Lebih kurang tigapuluh menit kemudian, rombongan belakang akhirnya tiba.  Wajah mereka lusuh, lelah seperti tentara kalah perang.  Mereka berjalan setengah tertatih letih.  Teramat letih…! Gupraks…sepeda setengah dibanting, lalu mereka terduduk serempak! Selonjoran dengan wajah pucat pasi :p

Setengah jam kemudian, setelah selesai makan siang dan membakar bungkus nasi agar tidak mengotori hutan.  Gowes dilanjut.  Downhil, makadam jahanam. Batu-batu lepas dengan ukuran diameter 10 cm-30 cm.  Bisa lewat jalan tanah di tepinya.  Tapi beresiko terjerembab ke dalam hutan. Sekitar 2 km kemudian, tiba di wellpad Karaha #2 dan #3.   Jalan makadam tersebut berakhir di jalan aspal tipis, tapi cukup mulus.  Percabangan antara Malangbong-Talagabodas.  Ke kiri menuju Kadipaten Tasikmalaya. Ke kanan, menuju Talagabodas.

Hutan belantara masih terasa suasananya.  Teduh bahkan cenderung gelap di beberapa tempat. karena rapatnya pepohonan yang berdiameter cukup besar. Kontur jalan mulai variatif, nanjak turun.  Tapi tanjakan yang tidak terlalu curam.  Beberapa kali berpapasan dengan mobil proyek Karaha.  Sepertinya pembangkit listrik tenaga uap yang dulu batal dieksplorasi akan kembali dioperasikan.  Pipa-pipa besi yang berdiameter cukup besar, tampak diperbaiki dan dilas di  beberapa bagian.  Sementara di beberapa lapangan, tampak beberapa bor yang sedang melakukan eksplorasi dengan selusinan orang yang mengoperasikannya.

Di jalan makadam ini, Om Apen Bathara yang katanya baru pertama kali dihajar tanjakan edan harus kembali mengalami keram kaki dua kali.  Bahu membahu Pak Wawan Oyib, Pak Tedi dan Pak Asep menggusur sepeda Om Apen.

“Tanggal 19 Feb 2012 adalah suatu pengalaman ngegoes yang ga bisa terlupakan. sejak 5 bulan belakangan ini ngegoes baru kali ini ngalamin yang namanya tanjakan Ekstrim di Desa Cinta, Garut. untungnya Om2 dari KGC asik2, suka ngebanyol, apalagi kl lagi cape terus Abah Yaya (maaf kl salah) suka ngahaleuang (nyanyi) dan yang pasti Om2 KGC sangat peduli kp yang junior2 (newbie ky saya) slogan “KAMI ADA KARENA BERSEPEDA” (maaf dan koreksi kl salah) itu bukan hisapan jempol belaka tapi terbukti nyata senyata nyatanya. terbukti ketika saya mengalami kram pada paha kanan dan kiri sehingga sepeda harus di tuntun ganti2an oleh Om KGC. terutama waktu saya terbang ke jurang dangkal pak Haris yang langsung benerin tulang tulang yang rasanya remuk. sekali lg saya ucapkan terimakasih yang sebesar2nya kepda Om2 KGC terutama kp Om Deny yang pertama memperkenalkan saya kp Om2 KGC. dari sini saya sadar bahwa umur dan jenis sepeda bukanlah yang utama tapi TUUR (dengkul) dan kebersamaan”.

Demikian kesan om Apen Bathara di FB-nya lengkap dengan foto penderitaan ala romusha nenek moyang kita dahulu :p

Tiba di sebuah puncak yang cukup terang dan lengang dari pepohonan.  Tampak kota tasik dengan jalan raya by-passnya. Sayang, tidak membawa kamera digital.  Kalaupun difoto dengan kamera hand-phone jaraknya terlalu jauh. Tidak akan bagus hasilnya.  Beberapa orang dari kami berdebat, kalau itu adalah kota Garut.  Tapi, dijelaskan itu adalah kota tasik. Karena itu arah Timur, kalau Garut itu ada di arah Barat Daya kalau tidak salah.  Barulah mereka mengerti.  Namun, entah karena panik karena di sms sang istri.  Beberapa orang yang dikenal “SUSIS” langsung mabur begitu menemukan turunan tajam.  Mungkin mereka berpikir, pascaturunan itu adalah Desa Cicapar :p.

Bisa dimengerti, beberapa orang dari kami (8 orang harus kabur duluan). Satu orang diteror sang istri, dengan bahasa yang super nguamuk: “Cing, eling atuh! Kalakuan jiga budak ngora wae. Sasapedahan nepi wayah kieu can balik!” (Mestinya kamu berpikir! Jangan kaya anak muda, main sepeda sampai gini hari belum pulang!

Satu orang lagi, malah mengirim SMS kepada salah seorang rekan yang mengajaknya gowes hari itu: “Gara-gara sia SMS ka aing, jadi aing disiksa milu ngagowes kadieu. Sakieu aing ripuhna!”

Sementara yang lain, pulang cepat karena alasan tugas negara menanti!

Yang pulang duluan, mungkin tidak bisa merasakan bagaimana kecutnya perasaan kami pada saat melewati trek offroad perkebunan kentang di Sadahurip.  Betapa tidak, waktu sudah menunjukkan pukul 17an. Tapi matahari sudah hampir sembunyi di peraduannya.  Plus, sport jantung. Saat om Apen Bathara, kehilangan kontrol rem waktu melewati sebuah turunan tikungan ringan.  Rem belakang sepertinya blong, jarinya kejepit. Dia kaget, malah menekanpenuh tuas rem depan. Dan…”Aduh…!” dan “Blegh…”! Bumi seperti bergoyang sesaat.  Serentak semua menghentikan sepedanya.  Saya di depan, segera membaringkan sepeda.  Pak Tedi dan Pak Asep langsung melompat ke dalam jurang.  Tubuh om Apen tampak terlentang tak bergerak di atas pesawahan huma! Lumayan tinggi, sekitar 2-3 meter! Aneh, sepedanya tetap tinggal di bibir jurang dalam posisi stang yang terbalik!

Untunglah Om Apen Bathara tidak mengalami patah tulang.  Beliau hanya mengalami kesulitan nafas sesaat.  Setelah diurut oleh Pak Haris beliau bisa berdiri kembali.  Rem sepeda Om Apen berusaha diperbaiki Pak Wawan. Ternyata kanvas remnya sepertinya kena minyak pelumas. Bisa kembali downhill di atas makadam, beberapa kali harus mengingatkan Om Apen Bathara untuk turun dari sepedanya. Mengingat di sebelah kanan adalah jurang yang sangat dalam!

Alhamdulillah, pukul 18.02 akhirnya memasuki Kampung Cicapar.  Sempat melakukan sholat Asyar yang teramat telat.  Apadaya daripada tidak!  Pukul 18.25 akhirnya tiba di jalan raya Sukawening.  Om Apen Bathara “dipaksa” dievakuasi via angkot.  Tapi beliau memilih dijemput keluarganya.  Karena belum datang, dilaju gowes sampai Wanaraja.  Mengisi perut dengan bakso Priangan! Keluarga om Apen tiba, ternyata memakai 2 sepeda motor.  Tiga orang.  Kita langsung pamit sprint dengan penerangan lampu seadanya dari si Spezy. Alhamdulillah, tiba di Sumber Sari pukul 20.10!

Posted by: kgcgarut-mountainbike | February 6, 2012

Menjenguk Kecantikan “Desi Ratnasari” di Cisaruni

Cuaca minggu pagi ini terasa teduh. Sedikit mendung.   Tidak menjanjikan hujan, tidak juga menjanjikan cuaca cerah. Rencana loading untuk gowes ke Cisaruni yang diagendakan 3 sehari sebelumnya, batal.  Karena alasan yang remang-remang.   Tahu kan remang-remang?  Itu lho, sebenarnya kita bisa melihat tapi, tidak jelas.  Entahlah, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Bersembilan orang akhirnya gowes dari Garut kota menuju Bayongbong untuk menjemput Gasheba-ers yang sudah menunggu di markasnya.  Gasheba adalah kelompok goweser dari Bayongbong yang telah berusia cukup tua. KGC yang merupakan komunitas gabungan group sepeda di Garut. Mengenal Gasheba sudah lama, selain dengan Lodaya dan Jarambah.  Usia Gasheba yang sudah tua, ibaratnya berilmu padi dan kelapa.  Maki tua makin berisi makin merunduk, makin tua makin berisi makin banyak santannya.

Terbukti.  Beberapa kali gowes bareng dengan group yang dikomandoi Kang Engkus ini, kita harus angkat jempol. Harus menjura dan menghormat kemampuan mereka dalam hal gowes.  Kecepatan dan ketapatan kayuhan pedal mereka, hanya bisa ditandingi oleh seorang Tjahja Gunawan (KGC) Jakarta atau Kang Coe waelah (Threeple C) atau Kang Dadi (GEA Geologi ITB) serta Asep Tebe (Kgc Garut).   Bedanya, Gasheba berjumlah 5-6 orang, yang menggowes kompak. Bareng baik di tanjakan atau di turunan.  Tidak ada istilah TTB bagi mereka bila menemuk tanjakan, kecuali jalan yang memang ungowesable (istilah un-gowes-able ini sedikit aneh, karena tidak ada dalam Webster atau Oxford Dictionary! Tapi lazim digunakan oleh para goweser).  Kecepatan gowes mereka, bahkan bisa mencapai 40-60 km per jam, terlihat pada waktu gowes di Cikandang, Cikajang kemarin.  Sementara, kita harus diloading. Mereka menggowes di depan truk! Padahal dari Bayongbong ke Cikandang itu full tanjakan!

Tiba di gerbang Perkebunan Papandayan pukul 11.35 WIB.  Cuaca masih teduh, namun mulai mendung. Gerimis perlahan turun tertahan.  Sambil menunggu teman-teman Gasheba menarik nafas.  Sebagian makan goreng2an di warung, sebagian checking sepeda, sebagian melihat view yang sangat indah, cantik dan segar hijau dimana-mana.  Nun jauh di sana, tampak samar-samar, putihnya deburan ombak pantai selatan, Rancabuaya! Setelah dirasa cukup, mulailah gowes.  Langsung mencumbu tanjakan jalan perkebunan Papandayan.  Udara sejuk dan segar sungguh membuat terasa paru-paru lega.  Tidak terdengar satu dengusan kecapean sedikitpun.  Jalan makin lama-makin menanjak. Berubah drastis jadi makadam tanjakan.  Hanya beberapa orang saja yang bisa menggowes. Sebagian TTB dengan sopan. Beberapa ratus meter kemudian, pemandangan makin indah. Udara makin segar, sangat sejuk. Bahkan teramat sejuk.  Keringat yang membasahi jersey tidak terasa hangat, tetap dingin.  Menandakan kelembaban yang tinggi di perkebunan itu.  Tanjakan makadam makin curam.  Gowesan makin berat, diperlukan keterampilan kontrol handlebar dan tenaga yang mumpuni. han pedal semakin semangat saat diceritakan di warung di puncak bukit telah menunggu penunggu warung kopi, wajahnya sangat cantik.   Bahkan, Desi Ratnasari pun, lewaaaaat!!!

 

Memasuki single tracktanah perkebunan, perjalanan agak tersendat oleh banyaknya serakan ranting dan dahan teh yang baru dipotong. Bahkan kita harus mendorong dengan hati-hati. Salah-salah langkah, dahan masuk ke jari-jari atau kita tergores ranting pohon teh yang baru ditebas.  Namun dengan kesabaran. Akhirnya bisa juga jalan setapak yang menanjak penuh ranjau tersebut didaki. Walaupun bagi seorang teman hal itu, adalah siksaan yang tidak terperi.  Pak Kokon dan Aki Asep yang baru pertama kali diajakn gowes di gunung, bahkan sampai “keleyengan”. Tak kuat menahan kelelahan. Akhirnya merebahkan diri tanpa memperdulikan yang lain. Disertai omelan  dari mulutnya yang menyalahkan sepeda dan jalan yang penuh makadam dan tanjakan curam :)

Jalan semakin berat dengan tumbuhnya rumput di atas jalan.  Kayuhan pedal jadi semakin berat.  Bahkan, seorang Asep Tebe pun, tampak memaksakan diri untuk menggowes dengan mengandalkan power (belakangan rantainya putus menjelang finish. Sampai diderek sampai kota garut sejauh 30 km. Untung berupa turunan dan sedikit tanjakan).  Namun, semua terobati dengan indahnya tanah air tercinta kita.  Tak terbayangkan, negeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi seperti ini adalah Indonesia.  Negeri yang dijajah oleh para bikrokrat korup dan anggota DPR yang serakah yang mengatasnamakan rakyat!  Ini masih Indonesia kan? Ujar saya kepada teman-teman… Hamparan karpet alam hijau teh menutup seluruh permukaan nu jauh di sana.  Gunung-gunung beserta anak-anaknya berselimutkan awan kelabu. Hijau menuju kebiru.  Awan putih seputih kapas tampak memayungi seantero mayapada Swiiss van Java!  Panorama yang tidak bisa diceritakan keindahannya.

Hati dan batin ini sedikit terusik, tampak sebuah pohon cemara yang telah kering kerontang. Berdiri dengan ringkih diantara hamparan menghijaunya pepohonan teh.  Tak berdaun sama sekali. Entah disambar petir, atau mati karena dimakan usia.  Mati dalam kesendirian.  Tertangkap kesan mendalam, kesunyian.  Dingin, mencekam ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Menjadikan cemara itu seperti manisfestasi kejujuran di negeri ini.  Semakin terkucil, sendiri.  Berusaha eksis diantara mayoritas, hanya akan membawa kematian bagi kejujuran.  Tapi, di mata Tuhan dan alam semesta kejujuran justru menjadi cahaya kehidupan.  Sepertinya memang tidak menandakan kehidupan.  Tapi, jauh dilubuk yang paling diam, dia adalah intan permata yang tak ternilai.  Bunga kehidupan yang akan menjadi buah kebaikan. Tak mati dimakan zaman, tak lekang dimakan kemunafikan.

Tiba di tempat yang datar dan luas, rehat untuk makan siang.  Masing-masing membuka ransum dan memindahkan semuanya ke dalam perut dalam sekejap.  Sepertinya semua dari tadi menahan lapar.  Setelah itu bersenda gurau sejenak. Namun, tak lama karena hujan mulai turun. Cukup deras.  Salut, buat mereka yang tidak membawa mantel hujan.  Mereka dengan gigih tetap mengayuh sepedah dengan tegar.  Padahal, dingin sangat menggigit.  Sekalipun sudah menggunakan wind-shielder. Didera hujan, udara dingin dan makadam yang mulai tak bersahabat.  Menanjak dan batuan lepas diserta kubangan lumpur sesekali.

Bergegas, semua mengayuh cepat menuju mesjid. Di sana, ada warung dimana si cantik Desi Ratnasari telah menunggu :) Akhirnya, tiba di mesji pukul 13.40 WIB. Langsung sholat dhuhur. Air mesjid yang biasanya kering, malah terbuang. Bak penampung tak mampu menahan luapan air yang dialirkan dari mata air.  Dulu, waktu datang ke mesjid ini di musim kemarau. Airnya sangat darurat.  Satu demi satu memarkirkan sepeda masing-masing dalam keadaan basah kuyup.  Hujan mulai mereda.

Seorang anak, mungkin anak pemetik teh. Tampak berdiri, dari matanya tersirat rasa ingin tahu. Saya menyapa anak itu, menanyakan apakah warung kopi buka? Anak itu menjawab buka.  Langsung menyuruh anak itu agar dibawakan kopi susu 13 gelas. Tapi ternyata, yang datang hanya 3 gelas! Tak mungkin untuk nongkrong dan menyambangi nyai, penunggu warung si desi ratnasari. Mengingat hujan makin deras. Akhirnya, hampir selama 45 menit diisi dengan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmat kopi, dodol cina sisa imlek dari koh iong dan tentunya sebatang rokok bagi para ahli hisab yang egos xixixixi….

Pukul 14.45 perjalanan langsung dilanjut.  Hujan masih turun dengan derasnya.  Camera dimasukan ke dalam plastik dan masuk backpack. Gak ada kemungkinan untuk mengambil momentum dalam cuaca seperti ini. Masih dihajar makadam jahanam sejauh 1 km. Langsung turunan tajam.  Licin dan kudu waspada.  Banyak jebakan batman, berupa kubangan lumpur yang dalam atau jembatan yang sudah rapuh.

Pasca turunan, makadam kembali nanjak menikung belok kiri. Curam! Terpaksa TTB lagi, sejauh 11 meter nanjak.  Gowes lagi dalam keadaan jalan licin, masih makadam. Namun lebih kurang 200 meter kemudian, jalan mulai berubah single track menurun dengan kontur tanah berumput. Meskipun hujan masih turun.  Ternyata tidak licin dan masih enak untuk dicumbu rayu. Beberapa bagian jalan, tampak menjadi kubangan yang cukup dalam oleh ban motor trail. Sehingga, kita harus super hati-hati untuk melewatinya. Single trek turunan yang mantap, gowesable. Sekalipun hujan deras. Inilah alasan utama kembali ke Cisaruni.  Ingin membuktikan bahwa Cisaruni memang gowesable sekalipun turun hujan deras.  Memang, kurang-kurang kontrol handling, shifting dan pedalling. Dipastikan akan terjerembab oleh medan yang menurun tajam dan cukup licin serta jebakan bekas ban motor yang dalam.

Beberapa orang terjatuh, termasuk saya :) sudah berusaha untuk tidak jatuh. Walaupun sudah melepaskan sepeda, pada saat sudah tidak bisa dikontrol agar tidak terjerembab. Begitu sepatu menginjak di lokasi yang licin. Akhirnya harus tersungkur juga :p Single track makin asyik dengan turunan dan sedikit tanjakan. Memang ada  yang licin di beberapa bagian. Tapi, itu wajarlah mengingat hujan yang teramat deras.

Saya duga, single track Cisaruni tidak menjadi licin karena masih tebalnya rerumputan diatas dan dipinggirnya.  Traksi ban menjadi sedikit terbantu.  Perlahan, jalan berubah kembali menjadi makadam. Turunan lebih kurang 5 km.  Memacu dengan penuh kewaspadaan, karena sebagian berupa batuan lepas. Jalan kemudian berubah single trek tanah kembali yang berada ditepi irigasi.  Sekali lagi diperlukan kewaspadaan dan ketetapan hati.  Karena di sebelah kiri jalan adalah irigasi yang cukup dalam, sementara di sebelah kanan jurang lebih kurang 2-3 meter yang berupa kebun palawija. Sesekali ucapan tasbih terucap saat melihat, hampara kebun cabe rawit yang menguning. Sebagian mulai memerah. Tapi kembali harus waspada, karena meleng sedikit pasti kecebur ke kali, atau terperosok ke jurang seperti yang dialami Pak Kokon. Hujan kembali mengguyur. Single trek yang datar, mengakibatkan kayuhan harus konstan. Rolling. Gear depan 2, belakan 2 atau 3.

Entah berapa kilometer melewati hutan bambu. Melambung mengikuti arah air.   Naik lagi mengikuti kontur jalan setapak.  Rolling, rolling dan rolling hampir 2 jam lebih.  Track yang semestinya dilalui, terpaksa dipotong. Mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 17.10. Sebagian rombongan tertinggal. Menurut informasi dari Tendi, Pak Kokon masuk jurang. jadi rombongan belakang agak terlambat.  Lebih kurang 30 menit menunggu tidak muncul juga. Akhirnya, Jajang mengontak Agus Taher. Ternyata katanya, rombongan besar sudah masuk jalan raya dan diminta tunggu di Cisurupan.  Menunggu di Cisurupan sekitar 20 menit, tak sengaja. Muncul Mang Aep yang ikut rombongan belakang. Menurut beliau, rombongan sudah dari tadi pulang ke Garut. Beueueueuh…..!!! Akhirnya berdua Kang Engkus, menuju Bayongbong, kemudian gowes sendiri menuju Garut!

Posted by: kgcgarut-mountainbike | February 1, 2012

Gowes Bareng Geolog 2: Talagabodas – Sadahurip – Bagendit

By : Budi Brahmantyo on Sunday, 29 January 2012 at 07:45

Eta teh gunung paramida. Ceuk bule aya emas di jerona,” begitulah jawab seorang anak SD di Kampung Cicapar ketika iseng saya tanya tentang nama gunung yang berdiri di sebelah timur laut kampungnya. Gunung Sadahurip yang oleh orang-orang kampung Cicapar disebut juga sebagai Gunung Putri karena bentuknya yang menyerupai dada seorang gadis, menjadi terkenal sejak sebuah kelompok mengklaim sebagai bangunan piramida yang terkubur. Kampung Cicapar, Desa Sukahurip yang berada pada jangkauan kendaraan roda empat dan  tempat terdekat ke Gunung Sadahurip menjadi ramai dikunjungi banyak orang. Geger dan heboh adanya bangunan piramida yang terkubur dengan segala tetek-bengek harta karun emas di dalamnya, rupanya telah tertanam dibenak anak kecil, walaupun salah sebut sebagai “paramida.”

Start dari Kampus Ganesa 10 pkl 06.00 (foto: Gowes Bareng Geolog)

Gunung Sadahurip menimbulkan pro-kontra sejak dicetuskan Kelompok Turangga Seta (TS) sebagai temuan orisinil mereka.  TS memulainya dari satu interpretasi di relief Candi Penataran, Blitar yang menyatakan bahwa para leluhur Nusantara merupakan bangsa unggul yang sempat menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, dari bangsa Cina, Mesir, hingga Maya. Namun kemudian peninggalan leluhur Nusantara yang adiluhung itu sengaja dikubur dan sejarahnya sengaja dihapus. Entah untuk maksud apa. Mereka menyebutnya sebagai decoy. Tadinya mereka mengklaim Gunung Lalakon di daerah Cipatik, Bandung barat daya, sebagai piramid. Tapi segera saya bantah melalui tulisan di Koran Pikiran Rakyat, 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon Sebuah Karya Alam (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1280). Rupanya mereka kemudian mengalihkan ke Gunung Sadahurip.

Lalu, kegemparan berlanjut setelah seorang geolog senior, Sujatmiko, yang mengenalkan dirinya sendiri sebagai Mang Okim di kalangan perbatu-muliaan, menulis di Koran Pikiran Rakyat, 14 Januari 2012, membantah juga bahwa Gunung Sadahurip adalah bangunan piramida (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1494). Artikelnya lengkap dengan pengungkapan latar belakang bagaimana klaim itu berasal, yang juga menyeret satu tim penelitian Katastrofik Purba di bawah Staf Khusus Presiden RI Bidang Bencana.

G. Sadahurip yg hanya berbentuk piramida dari sisi tenggara (foto: BB)

Virus G0W3S

Setelah terbilang sukses menyelenggarakan Gowes Bareng Geolog (GBG) 1 Tangkubanparahu – Sesar Lembang pada acara Temu Akbar Alumni Teknik Geologi ITB 18 Desember 2011 lalu, Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB (IAGL) kembali mencoba Gowes Bareng Geolog 2 dengan isu G. Sadahurip sebagai piramida itu pada Sabtu 28 Januari 2012. Jika GBG 1 diikuti hingga 140 pesepeda alias goweser, kali ini peserta dibatasi hingga maksimum 50. Akhirnya hanya sekitar 40 goweser yang menjalani rute dari lereng Gunung Talagabodas ke Gunung Sadahurip dan berakhir di Situ Bagendit yang menurut panitia 90% adalah turunan.

menyusuri kebun kentang di kaki Sadahurip (foto: Albar Hakim)

Ternyata jalurnya adalah turunan yang menanjak! Begitu komentar para goweser setelah start awal dari lapangan geotermal di lereng barat laut G. Talagabodas, yang langsung diuji dengan tanjakan-tanjakan pada jalan perkerasan proyek geotermal. Ke arah Situ Bagendit pun setelah turunan curam dari Desa Sukahurip, antara Wanaraja ke Situ Bagendit rupanya harus melalui lembah sungai Ci Manuk. Memang menurun ke jembatan Ci Manuk, dan pasti menanjak setelah itu. Turunan 90% harus dieveluasi kembali, komentar lanjutan peserta GBG 2.

Namun secara keseluruhan acara berjalan lancar. Dengan dipandu KGC Garut Mountain Bike, salah seorang di antaranya adalah pak Camat Tarogong Garut, rute dari lereng Talagabodas menuju kaki Sadahurip melalui turunan cukup terjal pada jalan setapak perkebunan palawija. Jalur sempit dengan tebing kebun, sungai-sungai berlembah V, bahkan jurang sedalam lebih dari 5 meter, menjadi tantangan peserta GBG2.

Tidak urung beberapa goweser terjerembab, termasuk saya sendiri. Rekor tiga kali menukik. Pertama terpaksa melocat ke kebun kentang sedalam lebih dari 1 m setelah jari-jari sepeda terkait potongan bambu. Kedua, terjerembab di jalan setapak menurun karena salah mengerem ban depan. Ketiga, ketika justru akan sampai di Kampung Cicapar saat ban depan tidak mulus melewati lubang kecil. Itu masih mending. Seorang teman bahkan terperosok ke dalam sungai kecil yang curam!

Setelah merasakan nikmatnya bergowes-gowes di GBG1, saya jadi keranjingan bersepeda. Membuka internet, akan kita dapatkan bahwa bersepeda ternyata bukan lagi kebutuhan bertransportasi, atau sekadar hobby saja, tetapi telah menjadi gaya hidup. Harga sepeda pun bervariasi dari yang ekonomis, hingga dapat mencapai Rp. 100 juta! Sepeda macam apa pula ini? Namun tidak dipungkiri, virus G0W3S telah menjangkiti terutama para penduduk kota.

Batu Rahong,  Jumpa Awang, dan Kuliah Singkat

Di jalan-jalan setapak kebun jagung di lereng tenggara Gunung Sadahurip, pemandangan ke arah timur tampak mempesona. Sebuah lembah, tepatnya ngarai, terbentang dari G. Rahong. Pada sisi selatan, sebuah gawir lava andesit membentuk dinding megah. Kekar-kekar kolom menghiasi tubuh lava andesit itu, yang batuannya tersingkap di lereng bawah.

Lembah Batu Rahong: aliran lava andesit (foto: BB)

Di sini rupanya ada Komunitas Geotrek Indonesia yang sama-sama bergeowisata ke Gunung Sadahurip. Saat kami menikmati pemandangan lembah Batu Rahong, Ferry DanLap-nya GBG berteriak dari lereng bawah bahwa ia bertemu pak Awang H. Satyana, geolog BP Migas yang didapuk jadi interpreter  Komunitas Geotrek Indonesia. Saat saya berjumpa dengannya, pak Awang sedang asyik mengamati lembah Batu Rahong. Pak Awang mencatat koordinat dengan GPS dan sempat menunjukkan contoh andesit yang didapatnya di sekitar situ. “Rahong” dalam Bahasa Sunda berarti “lembah dalam yang diapit dinding terjal” atau serupa dengan “ngarai.”

Karena jadwal terus mengejar, Ferry dan Syaiful segera mengingatkan untuk segera melanjutkan gowes. Jalan masih menurun pada jalur sempit diapit dinding terjal di kiri dan jurang di kanan membuat para goweser ekstra hati-hati. Pukul 14.00 akhirnya semua berkumpul di kampung Cicapar. Terlambat lebih dari 2 jam dari jadwal yang direncanakan. Namun semua tidak ada yang protes menyadari beratnya medan. Apalagi kotak makan siang sudah dibagikan.

Sebelum peserta beranjak pada etape terakhir Cicapar – Situ Bagendit, kuliah singkat dari Mang Okim mengulangi lagi argumen-argumen bantahan tentang bangunan piramida Gunung Sadahurip. Argumen ini diperkuat oleh arkeolog dari Balai Arkekologi Bandung, Lutfi Yondri yang menjelaskan bahwa tidak dikenal budaya membuat piramida dalam prasejarah Indonesia. Selain itu bukti-bukti artefak sangat tidak mendukung, bahkan tidak dijumpai. Maka menurutnya sangat sulit menerima  adanya budaya masyarakat pembangun piramida yang diklaim oleh TS berumur 6000 tahun sebelum Masehi. Aapalgi untuk membangun Piramida Giza yang lebih kecil dari Gunung Sadahurip saja, firaun harus mengerahkan sekitar 200.000 tenaga kerja dan selesai dalam waktu 20 tahun! Kalau betul Sadahurip adalah bangunan piramida, kemana sisa-sisa budaya masyarakat yang luas dan hebat itu? Kalau jawabannya disembunyikan, yah semua wacana akan berakhir di satu pihak!

Kuliah singkat dari arkeolog Lutfi Yondri (kiri) dan geolog senior Sujatmiko (tengah); kang Saiful bantu2 (kanan) (foto: BB)

Batu-batu andesit yang dijumpai seluruhnya bersifat alamiah, baik berupa lava, seperti dijumpai di lembah Batu Rahong, ataupun terobosan magma berupa korok seperti didata Sujatmiko di lereng atas Sadahurip pada observasi sebelumnya. Dari Peta Geologi Lembar Tasikmalaya (Budhitrisna, 1986), Gunung Sadahurip diperkirakan hanyalah sebuah gunung api parasiter yang mengeluarkan lava, bersifat efusif, dari induknya pada kompleks gunung api Talagabodas – Galunggung.

Kuliah  singkat ditutup sedikit diskusi setelah saya menjelaskan bahwa wilayah Sadahurip dan sekitarnya di Wilayah Garut, termasuk G. Guntur, G. Mandalawangi, G. Kaledong, dan G. Haruman yang terlihat jelas dari Cicapar, adalah kompleks gunung api yang luas di Pegunungan Priangan yang diperkirakan aktif selama Plistosen hingga sekarang, terutama untuk G. Guntur. Akhirnya pedalpun kembali diinjak, dan jalan beton yang menurun terjal dari Kampung Cicapar dilindas 40 goweser menuju Kota Kecamatan Wanaraja, dan berakhir di Situ Bagendit sekitar pukul empat sore.

Di akhir perjalanan, di pelataran parkir Situ Bagendit, Ferry berteriak, “2013 Kathmandu!!!” Haaaah?

Older Posts »

Categories